Showing posts with label Masjid di Banten. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Banten. Show all posts

Saturday, June 21, 2025

Masjid Kuno Al Hikmah Dusun Soyog kota Serang

Masjid Al-Hikmah Dusung (Lingkungan) Soyog, desa Taktakan, Kota Serang, Banten.
 
Masjid Kuno Al Hikmah adalah sebuah masjid kuno di dusun Soyog Desa Taktakan kecamatan Taktakan kota Serang provinsi Banten. Masjid tua dengan arsitektur unik yang masih dipertahankan bentuknya hingga kini sejak renovasi terahir ditahun 1950.
 
Meskipun warga setempat tidak mengetahui dengan pasti sejak kapan masjid ini dibangun, situs admin.taqmir.com menyebutkan bahwa Masjid Al-Hikmah Dusun Soyog ini dibangun pada tahun 1963 dengan status tanah Wakaf.
 
Masjid Al Hikmah Dusun Soyog
Lingkungan Soyog Desa Taktakan kecamatan Taktakan
kota Serang provinsi Banten
https://maps.app.goo.gl/5mTRSifpmmvqWG3U6
 

 
Arsitektur Masjid Kuno Al Hikmah Dusun Soyog
 
Atap bertingkat masjid ini menjadi daya tarik utama, atap masjid ini berupa atap limas bersusun empat dipuncak atap dilengkapi dengan mastaka. Pintu pintu dan jendela masjid ini dibuat menggunakan daun pintu dan jendela berkisi kisi kayu yang kini sudah jarang ditemui pada bangunan bangunan baru, di sisi bagian atasnya dibuat berlengkung.
 
Bangunan masjid ini terdiri dari tiga bagian, bagian paling tua berada disisi paling barat dan menjadi ruang sholat utama tempat dimana mihrab dan mimbar ditempatkan. Dibagian dalam bangunan pertama ini terdapat tembok pemisah dengan bukaan beton berlengkung yang sejatinya merupakan area paling awal dari bangunan masjid ini sebelum diperluas tanpa merobohkan bangunan awalnya.
 
Baru dan Lama. Bangunan sebelah kiri adalah bangunan baru yang dibangun kemudian dengan bentuk yang serupa dengan bangunan asli. Sebelah kanan bagian dari bangunan lama.

Seluruh ruangan utama ini ditutup dengan karpet sajadah. Menurut keterangan tokoh masyarakat setempat lantai pada bagian ini dibangun dari campuran pasir dan tanah liat, tidak menggunakan semen atau perekat lainnya.
 
Dibelakang bangunan utarama telah berdiri bangunan masjid baru berukuran hampir sama dengan bangunan awal  dengan atap yang dibuat senada meski fasad atau dinding, jendela dan pintunya berbeda bentuk.

Dan diantara kedua bangunan tersebut terdapat bangunan yang menjadi penghubung antara kedua bangunan tersebut dengan gaya bangunan sama persis dengan bangunan utama. atapnya terdiri dari dua atap tumpang. Dulunya bagian ini adalah area kolam wudhu yang kemudian diubah menjadi area sholat tambahan untuk jemaah perempuan.
 
atas : Fasad bangunan asli Masjid Al-Hikmah. Kiri bawah: mastaka di puncak atap masjid. Kanan Bawah : Mihrab Masjid.

Tradisi Masjid Kuno Al Hikmah Dusun Soyog
 
Masjid ini memiliki tradisi khusus yang hanya hadir di bulan Ramadan bernama tradisi Dalailan. Tradisi ini merupakan membaca kitab karangan Imam Al Jazuli yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Biasanya tradisi ini dilakukan full selama 30 hari bulan Ramadan.
 
Tradisi ini dimulai pukul 16:00 WIB, dan diawali dengan membaca hadrah dan selawat dipimpin oleh ustaz dengan menggunakan pengeras suara. Setelah itu dilanjutkan dengan membaca kitab Dalailan.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga Masjid di Banten Lainnya
 
Masjid "Kubah Pelangi" Al Furqon Bandara Soeta
Masjid Agung Al-A’raf Rangkasbitung, Lebak
Masjid Agung Al-Amjad Tangerang
Masjid Raya Al-A'zhom Tangerang
Masjid Agung Nurul Ikhlas di Cilegon
 
Rujukan
 
https://admin.taqmir.com/dkm/40194/masjid-al-hikmah-taktakan-kota-serang.html
https://www.merdeka.com/jabar/melihat-arsitektur-unik-masjid-kuno-al-hikmah-di-serang-pertahankan-bangunan-asli-sejak-renovasi-1950-98409-mvk.html?page=4
https://banten.tribunnews.com/2021/04/22/masjid-al-hikmah-di-kampung-soyog-taktakan-rutin-gelar-dalailan-selama-ramadan-sebelum-buka-puasa?page=all#goog_rewarded.
 

Sunday, January 21, 2018

Masjid "Kubah Pelangi" Al Furqon Bandara Soekarno-Hatta

Masjid Al-Furqon di terminal Cargo Bandara Internasional Soekarno Hatta

Bangunan Masjid ini kental dengan nuansa Eropa Timur klasik yang berbalut warna-warna cerah. Masjid Al-Furqon memiliki kubah dengan bentuk yang unik, yakni menyerupai kubah Katedral Santo Basil yang ada di Lapangan merah Moskow, Rusia. Warnanya yang mengerucut dan berwarna-warni menjadi ciri khas dari masjid ini, masjid ini dirancang oleh Haji Buyung dan memang terinspirasi oleh bangunan di lapangan merah Kremlin tersebut dan dibangun tahun 1989.

Masjid ini juga memiliki 4 buah kubah lain berbentuk menara berwarna kuning dan hijau cerah yang mencuat di sela rerindangan pohon di sekelilingnya. Bentuk kubah dan menara masjid ini yang warna warni mirip dengan permen lollipop, ada juga yang menyebutnya masjid Aladin karena bangunannya mirip bangunan bangunan negeri dongeng 1001 malam.

Masjid Al Furqon
Jl. Raya Bandara Soekarno-Hatta, Pajang, Tangerang, Kota Tangerang, Banten 15126
Terletak di: Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta
bandarasoekarnohatta.com



Masjid ini adalah Masjid Al-Furqon yang dibangun di dekat area terminal kargo Bandara Soekarno Hatta. Masjid Al-Furqon Bandara Soekarno Hatta berukuran 32 x 36 m dan dibangun dengan 2 lantai yang dikelilingi oleh taman-taman indah. Bagian depan bangunan utama dan setiap tiang penyangganya dipenuhi kaligrafi besar.

Sebenarnya masjid ini bukan satu- satunya yang ada di kawasan bandara. Masih ada tujuh masjid lainnya. Namun, entah disengaja atau tidak, Masjid Al- Furqan yang berarti pembeda-yaitu Islam dan Al-Quran merupakan pembeda dari ajaran dan kitab-kitab sebelumnya-menjadi sangat pas dengan kondisi masjid yang benar-benar berbeda dengan masjid lainnya di sana.

Interior Masjid Al-Furqon Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Arsitek masjid ini juga menyisipkan ciri khas Minang lewat kehadiran empat menara, jendela, dan pintu kecil ala melayu. Masuk ke dalam bangunan utama masjid, di beberapa bagian dinding tampak kaligrafi surat-surat Al-Quran. Bahkan, bentuk kaligrafi di lekukan dalam kubah menyerupai kitab suci Al- Quran.

Ada delapan buah kaligrafi kitab suci, masing-masing berukuran 3 x 4 m, bertuliskan surat Yaasiin. Sementara di bagian langit- langitnya terbentang lukisan awan, membuat kesan luas. Jamaah pun dibuat nyaman dan khusuk menjalankan ibadah. Masjid Al- Furqon bisa menampung 2500 jamaah. Keberadaannya menjadi penyejuk di tengah hiruk pikuk bandara. Juga menjadi wahana spiritual bagi orang- orang yang akan pergi atau baru tiba di gerbang ibukota Jakarta.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, December 2, 2017

Masjid Agung Al-A’raf Rangkasbitung, Lebak, Banten

Masjid Agung Al-A'raf Rangkasbitung, kabupaten Lebak, Banten.

Pernah baca atau nonton film Max Havelar karya Multatuli ?. Adalah Adipati Natanegara, salah satu lakon antagonis yang muncul dalam novel sejarah tersebut, makamnya ada di komplek pemakaman para Adipati Lebak di belakang komplek Masjid Agung Al-A’raaf Rangkasbitung ini. Rangkasbitung merupakan ibukota Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. dan Adipati Natanegara menjabat sebagai Bupati Lebak pada tahun 1830-1865.

Masjid Agung Al Araaf
Jl. Kaum, Rangkasbitung Barat, Rangkasbitung
Kabupaten Lebak, Banten 42312



Makamnya yang terletak di belakang Masjid Agung Lebak—tepat di sisi barat alun-alun—tampak sangat sederhana. Dalam novel Max Havelaar, dia dikisahkan sebagai seorang feodalistis yang kerap menindas rakyat. Makam ini masih sering diziarahi, apalagi oleh para keturunan dari Adipati sendiri.
.
Masjid Agung Al-A’raaf atau Masjid Agung Rangkasbitung atau Masjid Agung Alun Alun Rangkasbitung adalah Masjid Agung bagi Kabupaten Lebak, Pertama kali dibangun pada tahun 1928 di atas tanah wakaf seluas 3.264 m2. Sejak didirikan sudah mengalami beberapa kali perubahan, baik fisik maupun penambahan luas bangunan.
.
Aerial view Masjid Agung Al-A'raf Rangkasbitung, Lebak (foto dari IG | @indrawardhana)

Perombakan pertama dilakukan tahun 1988 diresmikan tahun 2002 dengan biaya Rp. 2.953.334.180, pada masa kepemimpinan Bupati Drs. H. Yasa'a Mulyadi. sedangkan bangunan masjid saat ini merupakan hasil pembangunan tahun 2004 dan selesai pada tahun 2009 dengan biaya Rp. 17.500.000.000,- dimasa kepemimpinan Bupati H. Mulyadi Jayabaya.
.
Uniknya di masjd Agung Al-A’raf ini masih tersimpan sebuah meriam, yang biasanya dipakai dibulan Ramadhan, untuk memberikan tanda bahwa waktu berbuka puasa sudah tiba bagi masyarakat Kabupaten Lebak serta mengakhiri makan sahur selama bulan suci Ramadhan. 

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, September 2, 2017

Masjid Agung Al-Amjad

Masjid Agung Al-Amjad Kabupaten Tangerang (foto: indra.wardana)

Masjid Agung Al-Amjad adalah Masjid Agung Kabupaten Tangerang, lokasinya berada di dalam Komplek Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang di Tigaraksa. Diresmikan tahun 2005 oleh Wakil Presiden RI, Bapak Drs. HM. Jusuf Kalla. Berdiri di atas tanah seluas lahan seluas 24.003 meter persegi dengan luas bangunan 5.604 meter persegi dan berdaya tampung jemaah 6.000 orang.

Masjid yang terletak di belakang Gedung Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang ini, dibangun dengan konsep meminimalisasikan penggunaan cahaya lampu pada siang hari dan mengurangi penggunaan pengatur suhu udara didalamnya. Cahaya matahari yang masuk diberi filter yang cukup menarik juga, yaitu dengan pemberian material precast krawang, sehingga tidak terlalu tersorot secara langsung ke arah dalam.

Masjid Agung Al-Amjad
Kadu Agung, Tigaraksa, Tangerang, Banten 15720



Masjid Agung Al-Amjad ini dilengkapi dengan menara yang dibangun terpisah dari bangunan utama masjid, Menara ini cukup tinggi menjulang setinggi 66,66 meter, memiliki makna jumlah ayat yang ada pada Al Qur’an, menara ini berdenag segi delapan, dan makin keatas makin mengecil.

Masjid Agung Al-Amjad ini juga dilengkapi dengan ruang belajar TPA atau madrasah, aula serba guna, perpustakaan, taman, dan areal parkir yang luas. Selama Ramadan, Masjid Agung Al-Amjad ini ramai dikunjungi jamaah baik dari Tangerang maupun dari luar daerah seperti Bogor dan Serang untuk beritikaf dan beribadah.

Interior Masjid Agung Al-Amjad

Interior Masjid ini terasa lebih lapang dengan ketiadaan tiang tiang penyanggah atap di tengah ruang utama. tiang tiang penyanggahnya berada di sisi luar ruang utama. tampak benar bahwa tiang tiang tersebut hanya menjagi penopang atap dantidak menjadi sandaran bagi struktur beton lantai duanya. Ruang utama masjid ini terhubung langsung dengan pelataran masjid yang cukup luas dan juga menjadi area sholat di luar ruangan.

Secara keseluruhan bentuk tampilan, keseimbangan bangunan dan skala ruang yang tercipta, direncanakan dengan cukup baik, dan dilengkapi dengan halaman yang cukup luasi. Semua sudut bangunan dari mulai gerbang pintu masuk sampai dengan masuk kedalam bangunan, dibuat dengan sangat detail dan teliti.

Referensi


Saturday, January 7, 2017

Masjid Raya Al-A'zhom Tangerang

Empat menara lancip dan ramping menjulang mengapit kubah besar di atap masjid merupakan ciri utama masjid masjid dari era kejayaan Emperium Usmaniyah yang berpusat di Istambul, Turki. Rancangan klasik dinasti ke-khalifahan Islam terahir tersebut di aplikasikan dengan apik dalam sentuhan moderan di masjid Raya Al-A'zom Tangerang, Provinsi Banten ini.

Masjid Raya Al-A’zom dalah masjid yang berada di komplek perkantoran Pemerintah Kota Tangerang, provinsi Banten. Kubah bersusun berukuran besar dengan empat menara yang menjulang merupakan fitur utama tampilan Masjid Raya Al-A’zom ini. Kubah masjid ini terlihat benar benar mendominasi keseluruhan bangunan masjid. Empat menara masjid ini masing masing memiliki tingi 55 meter, dengan ujung berebentuk panjang meruncing, sangat khas bangunan masjid era emperium Usmaniyah yang berpusat di Istambul Turki. Gaya bangunan seperti ini memang ciri khas dari bangunan masjid dari era tersebut.

Masjid Raya Al-A’zom dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan ruangan yang luas di dalam masjid dengan memanfaatkan keunggulan bahan bangunan modern dan keunggulan struktur bangunan kubah semi monokok menghasilkan area luas di bawah kubah tanpa tiang penyanggah. Kolom kolom penopang besar ditempatkan disekililing lingkar luar susunan kubah sekaligus sebagai penyanggah kubah yang juga sebagai atap masjid. Sisi dalam kubah juga memberikan ruang luas dibawah nya, menghasilkan efek sejuk alami dari sirkulasi udara yang baik dan penggunaan batu batu alam sebagai material bangunannya. Nuansa tradisional terasa sekali pada bagian interior, dengan sejumlah perangkat dan ornamen yang memunculkan nuansa tradisional itu.





Masjid Al-A’zom dibangun dengan satu kubah utama berdiameter 32,782 meter di bagian tengah ditopang oleh empat bangun semi kubah di empat sisi, masing masing bangun semi kubah ini berdiameter 32,782 meter, sehingga luas keseluruhannya mencapai 3.142 meter persegi, seluas itu pula luasan tanpa tiang yang ada dibawah tumpukan lima kubah ini. Berat keseluruhan lima kubah ini mencapai 300 ton. Seberat itu pula beban yang ditanggung oleh jejeran tiang tiang besar penopang struktur kubah ini yang menjadi unsur dekoratif tersendiri di masjid ini. Tiang tiang ini berketinggian rata rata tujuh meter dari permukaan lantai.

Sisi luar kubah ini di dominasi dengan warna hijau putih sedangkan sisi dalamnya di dominasi dengan warna ke-emasan. Kaligrafi Al-Qur’an menjadi pilihan ornamen di bagian dalam kubah. Kubah sisi barat, dihias kaligrafi Surah an-Nur ayat 35, Al-Baqarah 255 dan 285. Kubah sisi selatan, kaligrafi Surah at-Taubah 105, Ali Imran 112, dan Al-An’am 132-133. kubah sisi timur dihias dengan Kaligrafi Surah Al Bayyinah ayat 5 dan Ar-Ruum 30-33, sedangkan, kubah sisi utara dihias kaligrafi Surah al-Anbiyaa 107, al-Fath 29, dan Luqman 17-18.

Masjdi Raya Al-A’zom Tangerang ini dirancang oleh arsitek Slamet Wirasonjaya. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 7 Juli 1997 dan diresmikan pada 28 Februari 2003 oleh Menteri Agama Said Agil Husin al-Munawar, Berdiri di atas lahan seluas 20.810m2 Masjid Raya Al-A’zom terdiri dari dua lantai. Lantai dasar seluas 4.790 meter persegi, sementara luas lantai dua mencapai 909,92 meter persegi. Masjid Raya ini dilengkapi dengan perpustakaan dan perkantoran bagi lembaga lembaga Islam di kota Tangerang.

Pekarangan masjid ini cukup luas terdiri dari lahan parkir dan taman yang dihijaukan dengan aneka tanaman termasuk pohon kurma yang ditanam disisi jalan utama menuju ke pintu masuk masjid, serta tanaman tanaman lokal lainnya seperti palem, lengkeng, sawo kecil, kecapi, mangga, hingga jambu air. Di masjid ini juga dilengkapi dengan sebuah keran yang airnya dapat langsung diminum, berada di sisi kanan pintu masuk dan sebuah beduk besar berdiameter 185 cm.

Pada monumen peresmian yang berdiri di halaman depan masjid tertera bahwa peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan pada 7 Juli 1997 oleh Walikota Tangerang saat itu yaitu H Djakaria Machmud dengan Ketua Panitia Pembangunannya HMA Thahiruddin. Pembangunan pun selesai pada 28 Pebruari 2003 dan diresmikan oleh Menteri Agama RI saat itu yaitu Said Agil Husin Al Munawar. Sementara seremonial peresmiannya juga dilakukan pada 23 April 2003 oleh Walikota Tangerang saat itu H Moch Thamrin.***


Saturday, December 31, 2016

Masjid Agung Nurul Ikhlas di Cilegon

Empat menara setinggi 55 meter ditambah dengan kubah hijaunya.menjulang diantara pertokoan dan pusat perniagaan di pusat kota Cilegon merupakan fitur utama dari Masjid Agung Nurul Ikhlas ini. 

Masjid Agung Nurul Ikhlas adalah masjid agung bagi kota Cilegon provinsi Banten. Lokasi masjid ini berada di sisi ruas jalan Sultan Ageng Tirtayasa 2 di pusat kota Cilegon berseberangan dengan rumah dinas walikota Cilegon, diantara jejeran pertokoan pusat perniagaan di kota yang wilayahnya membentang hingga ke pelabuhan penyeberang Merak yang merupakan gerbang utama pulau Jawa dari arah laut dari arah pulau Sumatera. Empat menaranya yang unik dan menjulang plus kubah hijau ala masjid Nabawi nya itu menjadi fitur utama bangunan masjid agung Kota Cilegon ini.

Masjid Agung Nurul Ikhlas Cilegon berdiri di atas lahan seluas 3600 m2. Menurut beberapa sumber masjid ini sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda dengan bentuk yang tak semegah, sebesar dan seindah saat ini. Kala itu masjid ini sudah memiliki menara namun tak setinggi menaranya saat ini, kemudian dilakukan perombakan, menara tunggalnya dibuat lebih tinggi dalam perombakan kedua bangunannya.




Pembangunan ulang masjid ini dilakukan oleh Pemkot Cilegon dimulai pada tanggal 2 Februari 2006, dengan masa pembangunan selama hampir tiga tahun menghabiskan dana sekitar 23 milyar Rupiah bangunan Masjid Agung Nurul Ikhlas berubah total dari bentuknya semula ke bentuknya saat ini, daya tamping Jemaahpun meningkat hingga mampu menampung 2000 jemaah sekaligus. Peresmian masjid ini dilakukan pada tanggal 27 Maret 2009 oleh Agama RI H. Maftuh Basuni dan Walikota Cilegon H. Tb. Aat Syafa’at.

Masjid Agung Nurul Ikhlas terdiri dari tiga lantai, lantai basemen (1.175 m2), lantai dasar (1.372) dan lantai satu (1.073 m2). Lantai basemen merupakan area pendukung tempat wudlu dan toilet berada di lantai ini. Ruang sholat utama berada di lantai dasar. Sementara lantai satu digunakan untuk ruang sholat wanita atau tambahan ketika sholat jumat atau Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan. Dari pintu gerbang, kita bisa langsung bisa melihat pintu utama masuk ke dalam masjid.

Tangga, jembatan dan jalan akses langsung menuju ke lantai satu masjid ini disediakan di bagian luar masjid mengarah ke empat buah pintu besar yang langsung terhubung ke ruang sholat utama. Area parkir masjid ini tidak terlalu luas sehingga daya tampung kendaraanpun juga terbatas pula.Pemilihan material untuk masjid ini memang cukup apik. Interior dan ekterior masjid ini di dominasi oleh marmer bewarna putih hitam abu abu hingga ke ruang dalamnya menghadirkan suasana yang sejuk ditengah kota Cilegon yang panas. Masjid ini memang dirancang sebagai sebuah bangunan modern sesuai dengan kondiri kota Cilegon yang bergerak sebagai sebuah kota modern.***