Saturday, April 29, 2017

Masjid Agung Babussalam Sabang, Masjid Agung Paling Barat Indonesia

Secara geografis, Masjid Agung Babussalam di Kota Sabang ini dapat disebut sebagai Masjid Agung Paling Barat di Indonesia.

Kota Sabang, begitu terkenal di telinga kita sejak masih duduk dibangku sekolah, namanya muncul dalam salah satu lagu nasional. Kota Sabang berada di Pulau Weh di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, juga dikenal sebagai kota paling barat Indonesia dan ditandai dengan tugu Nol Kilometer di atas sebuah bukit di kota ini.

Meskipun sebenarnya pulau Weh dan kota Sabangnya bukanlah pulau paling barat Indonesia, masih ada Pulau Rondo yang terpencil sendirian di barat laut pulau Sumatera berbatasan laut langsung dengan gugus kepulauan Andaman & Nicobar milik India. Namun karena pulau Rondo muka buminya berupa pulau karang berdinding terjal dan tak berpenghuni, pemerintah Republik Indonesia kemudian menempatkan titik nol Indonesia di Pulau Weh tepatnya di kota Sabang. Pulau Rondo sendiri senantiasa dipantau oleh armada TNI Angkatan Laut.

Masjid Agung Babussalam
Jl Teungku Chik Ditiro, Kota Sabang
Prov. Nangroe  Aceh Darussalam, Indonesia
Koordinat: 5° 53′ 37.59″ N 95° 19′ 27.03″ E


Kota Sabang dan Pulau Weh sempat menikmati masa jaya, manakala kota ini ditetapkan sebagai pelabuhan laut internasional, namun kejayaan maritim tersebut memudar seiring dengan terjadinya perubahan kebijakan pemerintah. Kota Sabang sejak lama sudah memiliki sebuah Masjid Agung yang bernama Masjid Agung Babussalam, letaknya berada di pusat kota Sabang berdekatan dengan sebuah Gereja. 

Masjid ini pada awalnya hanyalah sebuah Masjid kecil yang terletak di kota Sabang. Namun, seiring dengan pertumbuhan kebutuhan masyarakat terhadap masjid dan keinginan muslim disana memiliki tempat ibadah yang suci dan indah, maka dibangunlah Masjid Agung Sabang ini dengan arsitektur yang begitu megah seperti saat ini. Mesjid Agung Babussalam sering menggelar aktivitas keagamaan setiap tahunya, seperti acara Maulid Nabi, Musabaqah dan berbagai kegiatan bernuansa Islam lainnya.

Arsitektur Masjid Agung Babussalam Kota Sabang.

Masjid Agung Babussalam Kota Sabang ini dibangun dengan sentuhan Arsitektur Usmaniyah (Turki) yang kental. Bangunannya tinggi besar dengan dinding tembok yang massif. Empat menara kekar berdiri di keempat penjuru masjid, dan satu kubah besar bertengger di atap masjid. Masjid ini juga dilengkapi dengan halaman atau pelataran yang luas yang seluruh permukaannya ditutup dengan keramik lantai berpola bintang yang sangat indah. 

Sepintas lalu anda akan menemukan kemiripan antara masjid Agung Kota Sabang ini dengan beberapa masjid terkenal Indonesia lainnya seperti Masjid Agung At-Tien di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur ataupun Masjid di Kompleks Islamic Center Jakarta, di Jakarta Utara, ataupun Masjid Al-Markaz Al-Islami di Kota Makasar, Sulawesi Selatan.

Keindahan masjid ini menambah pesona pulau Weh yang kaya dengan biota lautnya. Kehadiran masjid ini juga menjadi salah satu penanda kota tersebut. Pulau Weh juga memiliki panorama dan objek wisata yang cukup lengkap selain pesona alam bawah laut, juga memiliki objek wisata air terjun, pantai dengan pasir yang putih, pulau-pulau dengan lautan yang jernih, gunung berapi, kolam air panas, wisata religi dimana peninggalan-peninggalan asarama haji dan makam 44 aulia di Kota Sabang.***

Referensi


Sunday, April 23, 2017

Masjid Baitul Musyahadah Banda Aceh

Masjid dengan kubah ini di kota Banda Aceh ini dikenal dengan nama Masjid Teuku Umar karena bentuk kubahnya yang dirancang seperti Kopiah Khas Aceh yang biasa dipakai oleh Pahlawan Nasional dari Aceh, Teuku Umar.

Masjid Baitul Musyahadah adalah salah satu masjid yang berada di kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh. Lokasinya berada di Jalan Teuku Umar, Desa Geuceu Kayee Jato, kota Banda Aceh, sekitar 3 km dari masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, dapat dicapai dengan mudah menggunakan moda angkutan kota yang di Banda Aceh terkenal dengan sebutan Labi Labi.

Masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Teuku Umar/ Masjid Kupiah Meukeutop dikarenakan bentuk kubahnya yang mirip dengan “Kupiah Meukuetop”, Kopiah atau peci tradisional Aceh yang kerap digunakan oleh pahlawan nasional Teuku Umar sewaktu memimpin perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Dengan arsitektur yang unik ini tak mengherankan jika masjid ini menjadi salah satu daya tarik dari kota Banda Aceh.

Masjid Baitul Musyahadah
Jl. Teuku Umar, Geuceu Kayee Jato
Banda Raya, Kota Banda Aceh
Aceh 23232 Indonesia


Meskipun terletak di samping pusat perbelanjaan Suzuya Mall, tak membuat pesona etnik dari masjid ini memudar. Kupiah meukotop sendiri memiliki arti filosofi yang cukup mendalam bagi masyarakat Aceh. Terutama dalam melambangkan reusam (aturan adat), adat istiadat, hukum Islam, dan juga qanun (peraturan daerah). Selain itu, masjid ini juga dipilih masyarakat setempat dalam melambangkan kegigihan perjuangan pahlawan asal Tanah Rencong, Teuku Umar.

Berawal Sebagai Masjid Al-ikhlas

Masjid Baitul Musyahadah pada awalnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat muslim setempat dengan nama Masjid Al Ikhlas pada tahun 1989. Kemudian diubah namanya menjadi Masjid Baitul Musyahadah pada tahun 1993. Rancangan masjid ini ditangani oleh seorang cendekiawan terkemuka di Aceh, Ali Hasjmy.

Beliau merancang masjid ini berdenah segi lima sebagai gambaran dari rukun Islam yang harus diamalkan oleh seluruh jemaah masjid. Bentuk segilima juga tentu saja merupakan perlambang dari Pancasila, dasar Negara Republik Indonesia. Bentuk dasar segi lima masjid ini terlihat dengan jelas bila dilihat dari udara.

Nuansa tradisional Aceh bertaburan di masjid ini, dari bagian luar, kubah berbentuk kopiyah Meukuetop di atap masjid ini memang dibangun dan diberi ornamen sesuai dengan hiasan pada kopiyah asli tradisional masyarakat Aceh tersebut. Kubah yang sama berukuran kecil juga ditempatkan di dalam masjid di bagian atas mimbar.

Sisi Mihrab di dalam Masjid Baitul Musyahadah

Dari segi arsitektur Masjid Baitul Musyahadah dibangun dua lantai yang ditopang dengan puluhan tiang besar dan kokoh. Bila dilihat dari luar, masjid yang berdiri di lahan sekitar 3 Ha ini memiliki beberapa fasilitas. Seperti tempat whuduk laki-laki dan perempuan yang representatif dan lahan parkir yang luas. Ornamen-ornamen khas Aceh banyak dipajang di dinding depan Masjid Baitul Musyahadah.

Selain itu, masjid ini juga memiliki pintu unik yang terbuat dari besi. Ada empat buah pintu Aceh (Pintoe Aceh) dalam ukuaran besar. Dua di samping kiri mihrab dan dua lainnya di samping kanan. Empat Pintoe Aceh yang melambangkan adat keacehan posisinya kontras terpajang di dinding utama masjid dalam balutan kuningan.

Sesaat menjejakkan kaki di depan pintu masuk, langsung merasakan suasana berbeda. Adem, nyaman dan syahdu. Lantainya yang beralaskan marmer berkualitas tinggi, memberi rasa dingin dan segar di kulit. Di bagian mihrab latar belakangnnya di cat warna hijau. Ada tulisan “Allah” dalam bahasa Arab berukuran besar di sisi dalam mihrab. Tak jauh dari mirab ada satu mimbar, meski tampak tak terlalu besar, namun warna dan ukirannya sangat indah. Ada juga dua buah “jam berdiri” di sisi kanan dan kiri mihrab.

Masjid Baitul Musyahadah dari samping.

Sebagai sarana publik, Masjid Baitul Musyahadah punya fungsi sosial kemasyarakatan. Masjid ini sering juga dipakai sebagai tempat melangsungkan pernikahan, kegiatan Isra’ Mikraj, kenduri sampai menjadi tempat persinggahan jamaah tabligh. Bahkan di beberapa sudut pintu keluar, kerap terlihat beberapa pria bersorban dengan pakaian gamis menajajakan berbagai barang dagangannya.

Dalam kesehariannya, masjid ini juga dipakai untuk mendirikan shalat jamaah lima waktu. Untuk mendukung kegiatan itu, pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) telah menetapkan jadwal imam dan muazin. Salah satu imam yang juga kerap memimpin shalat jamaah adalah Ustaz Zamhuri Al Hafiz, yang merupakan imam Masjid Raya Baiturrahman.

Masing masing ada sekitar tujuh orang imam dan muazin yang menjalankan tugasnya secara bergantian Masjid Baitul Musyahadah juga menjalankan beberapa kegiatan berwawasan keislaman seperti pengajian. Misalkan ada pengajian fiqih, yang digelar pada Senin malam. Pengajian ini diasuh Ustaz Thamlica Hasan Lc. Pengajian yang sama untuk ilmu tauhid juga dilakukan pada Kamis malam di bawah asuhan Ustaz Samsul Bahri M Ag.

Selain program wawasan keislaman, juga ada beberapa kegiatan keorganisaian lainnya yang berada di bawah BKM. Seperti taman kanak-kanak alquran (TKQ), taman pendidikan alquran (TPQ) dan ta’limul qur’an lil-aulad (TQA) serta baitul mal. Semua oraganisasi ini bermarkas di Masjid Baitul Musyahadah.***

Referensi




Saturday, April 22, 2017

Masjid Tengku Di Pucok Krueng Pidie Jaya

Masjid Kembar, demikian masjid ini seringkali disebut oleh masyarakat muslim setempat karena ada dua masjid yang bersebelahan, aslinya masjid tua yang sebelah kiri foto di atas adalah Masjid Tengku Dipucok Krueng.

Masjid satu ini memang terlihat tak biasa, ada dua bangunan masjid yang berdiri bersebelahan dan masing masing berdiri kokoh dengan gayanya masing masing. Satu bangunan masjid tradisional Nusantara dari bahan kayu dan terlihat sudah berusia cukup tua dan satu lagi bangunan masjid dengan bahan beton berlanggam modern. Masjid di kabupaten Pidie Jaya, ini adalah Masjid Tengku Di Pucok Krueng atau juga dikenal dengan nama masjid kembar.

Sepintar lalu tak ada yang istimewa dengan masjid ini, namun keunggulan arsitektur Nusantara pada masjid ini teruji manakala gempa gumi 7 Desember 2016 berkekuatan 6,5 Skala Richter menghantam Kabupaten Pidie Jaya, menyebabkan banyak bangunan yang roboh ataupun rudak parah, termasuk bangunan masjid modern yang dibangun bersebelahan dengan masjid kuno ini pun turut mengalami kerusakan parah, namun tidak dengan Masjid Tua Tengku Di Pucok Krueng ini yang mampu berdiri tegar tanpa kerusakan berarti.

Masjid Tgk Dipucok Krueng
Jl. Raya lintas Banda Aceh-Medan, Simpang Beuracan
Kemukiman Beuracan, Gampong Kuta Trieng
Kecamatan Meureudu, Kab, Pidie Jaya
Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia


Mesjid Teungku Dipucok Krueng

Masjid itu dinamakan sebagai Masjid Tengku Dipucok Krueng yang merupakan nama gelaran kepada pembangunnya Tengku Muhammad Salim, adapula yang menyebutnya Tengku Abdussalam atau Abdussalim, yang semasa hidupnya dikenal luas dengan nama Tengku Dipucok Krueng, karena beliau tinggal di “hulu sungai” Pucok Krueng, sehingga dikenal luas dengan nama Tengku Dipucok Krueng.

Beliau merupakan seorang ulama dari Madinah (Saudi Arabia) dan ahli pertanian. Beliau datang ke daerah Meureudu bersama dengan Tengku Japakah dan Malem Dagang, dalam rangka mensyiarkan ajaran Islam.

Masjid ini berdiri di atas lahan wakaf dari warga setempat dengan biaya sebagian besar berasal dari hasil pertanian. Tengku Abdussalim sendiri dengan keahlian-nya membuka lahan persawahan seluas 50 hektar dan tanah perkebunan di lingkungan mesjid seluas 6 hektar yang dijadikan aset milik pengelola masjid atau lazim disebut Tanoh Meusara yang dikelola untuk kemakmuran masjid.

Kerusakan paska gempa bumi 7 Desember 2016

Pembangunan masjid ini dilaksanakan pada masa kekuasan Sultan Iskandar Muda (1607 -1636M), Dimulai sekitar tahun 1622 atas kesepakatan masyarakat Beuracan, masjid ini didirikan tak jauh dari sungai, dengan pertimbangan memudahkan dalam pengambilan air wudhu untuk bersuci. Pada tahun 1947 masjid ini direhab dengan memperindah bangunan tanpa mengubah bentuk semula, hanya menambah dinding bagian belakang (sisi barat).

Masjid Tengku Dipucok Kreung awalnya merupakan masjid satu-satunya sekawasan ini, sehingga selain digunakan warga Beuracan juga digunakan oleh warga ditiga kemukiman (desa) yakni kemukiman Ulim, Pangwa, dan Beuriwueh. Selain membangun mesjid di Beuracan, Tengku Abdussalim juga diketahui membangun tiga masjid lain-nya, yakni; Masjid Kuta Batei, Masjid Madinah dan Masjid di Lampoh Saka Kabupaten Pidie.

Pada tahun 1990 dengan pengawasan bidang Permusiuman Sejarah Kepurbakalaan Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Daerah Istimewa Aceh, Masjid Beuracan direhabilitasi dengan memberikan dinding kayu berukir pada sekeliling masjid dengan yang dikerjakan oleh Utoeh Aiyub Desa Grong-Grong Beuracan. Hal tersebut dilaksanakan pada masa Prof. Dr. H. Ibrahim Hasan, MBA menjabat Gubernur provinsi Daerah Istimewa Aceh saat itu.

Beliau juga menyumbang sebesar Rp. 10 juta untuk keperluan rehabilitasi dimaksud. Selain itu pada saat shalat di masjid Teungku Di Pucok Krueng, beliau sempat meminta kepada pengurus masjid untuk melestarikan bentuk dan keaslian masjid Tengku Dipucok Krueng karena menganndung unsur keunikan dan menjadi bukti sejarah umat Islam di kemukiman Beuracan dan sekitarnya.

Arsitektur

Masjid Tengku Dipucok Krueng,  memiliki tiga atap tumpang yang terbuat dari seng, dinding yang terbuat dari kayu. Kini kayu-kayu aslinya sudah diganti dengan kayu lain yang diukir dengan motif Aceh. Sebanyak 16 tiang kayu digunakan sebagai penopang atap bagian atas. Masing-masing tiang tersebut berbentuk segi delapan. Lantainya terbuat dari semen.

Interior Masjid Tua Tengku Dipucok Krueng.

Pada sisi barat bangunan inti terdapat bagian yang menjorok keluar yang difungsikan sebagai mihrab. Di dalamnya terdapat sebuah mimbar dari tembok semen dengan cat putih dan atap dari tirap/kayu dengan pola hias sulur-suluran dan bunga. Didalamnya juga terdapat sebuah bedug yang terbuat dari kulit sapi dan batang pohon lontar. Bedug itu biasanya digunakan ketika Ramadhan tiba.

Guci Antik

Di kompleks masjid ini terdapat sebuah guci besar yang terisi air. Meski saat diisi air itu kotor, namun setelah diambil kembali ke dalamnya, airnya sudah sangat jernih.  Guci tersebut kini disemen dan tertanam didalam tanah, hanya bagian leher dan mulut gucinya yang nampak,  namun kain putih dipasang sebagai pembatas dan kain penutup tersebut.

Menurut pengurus masjid guci tersebut sempat berpindah tempat, dan ada aturan, air dalam guci tersebut tidak boleh diciduk oleh perempuan yang sedang haid. Kalau sempat diciduk, esok harinya air dalam guci tersebut harus diganti, karena airnya telah berbau busuk.  Guci tersebut disemen oleh pengurus masjid selain karena riwayat yang menyebut bahwa guci tersebut seringkali berpindah sendiri namun yang pasti warga juga khawatir guci ini dicuri orang-orang yang suka barang-barang antik. ***

Referensi




Sunday, April 16, 2017

Masjid Agung Al-Mu'awwanah Sanggau

Masjid Agung Al-Muawanah Kabupaten Sanggau setelah di renovasi.

Masjid Agung Al-Muawanah adalah masjid agung kabupaten Sanggau, Kalimantan Timur. Bangunan masjid yang kini berdiri merupakan hasil dari proses renovasi total terhadap bangunan masjid sebelumnya di lokasi yang sama. Proses renovasi masjid ini memawakan waktu sekitar tiga tahun, dimulai tahun 2013 dan hasilnya memang sangat membanggakan bagi muslim Kabupaten Sanggau.

Proses pembangunan masjid baru ini terbilang cukup unik karena dilaksanakan dengan “mengurung” bangunan masjid agung lama dengan struktur bangunan baru di sebelah luar dan tanpa menghentikan aktivtias rutin yang berjalan di masjid tersebut. Pada saat struktur bangunan baru telah terbentuk tampak sebuah pemandanganyang unik, bangunan masjid yang lama terkurung seluruhnya di dalam struktur bangunan yang baru.

Masjid Agung Al-Mu'awwanah Sanggau
Jl. H. Abbas, Tj. Sekayam, Kelurahan Ilir, Kec. Kapuas
Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat 78516


Bangunan baru Masjid Agung Al-Muawanah Sanggau ini dibangun dengan arsitektur masjid masjid modern dilengkapi dengan kubah besar dan bentuk menara yang tidak terlalu tinggi ditempatkan di ke empat sudut atapnya, warna cat kuning sebagai khas warna Melayu, mendominasi bangunan masjid ini. Total ada tujuh kubah di atap masjid ini terdiri dari satu kubah utama berdiamter 9 meter dan tinggi 11 meter, empat kubah dipasang di ke empat penjuru atap dan dua kubah lagi di tempatkan di atas beranda. Seluruh kubah masjid ini menggunakan bahan enamel di bagian luarnya. 

Ketika memasuki ruang utama masjid, akan terasa sekali suasana kekhusukan nan pastinya kemegahan masjid ini. Ruang Imam yang luas, berpadu dengan begitu indah dengan mimbar khotbah disampingnya menampilkan pemandangan syahdu. Enam tiang penyangga berbahan beton juga nampak kokoh dan indah dengan hiasan dekoratif. Begitu juga dengan lampu ruangan yang semakin menampakkan kemegahan, keindahan sekaligus kesejukan masjid ini.

Masjid Agung Al-Muawanah Sanggau saat di renovasi.

Dipenghujung tahun 2016 yang lalu tepatnya pada hari Jum’at 21 Oktober 2016 Masjid Agung Al-Muawanah Sanggau ini mendapatkan tamu kehormatan dengan kehadiran Syekh Ali Jaber untuk memberikan tausiah pada acara Tabligh Akbar di Masjid tersebut. Kedatangan beliau begitu dinanti oleh warga muslim Sanggau dan tak pelak, masjid agung yang masih gress ini tumpek plek oleh Jemaah yang dating dari berbagai penjuru, untuk menghadiri acara tersebut dan untuk berjumpa dan melihat langsung Syekh Ali Jaber.

pada peristiwa langka Gerhana Matahari Total yang terjadi pada hari rabu 9 maret 2016 yang lalu, masjid Agung Al-Muawanah Sanggau ini menjadi salah satu tempat di Indonesia yang menjadi tempat penyelenggaraan sholat kusuf atau sholat gerhana. Meski telah diperluas dan ditambahkan area lantai dua, nyatanya masjid ini masih tak mampu menampung seluruh Jemaah yang hadir di ruang dalamnya. ***.

Sumber Dana Pembangunan

Kelancaran proses renovasi masjid Agung Al Muawanah tidak terlepas dari partisipasi seluruh masyarakat kabupaten Sanggau maupun unsur pemerintah. Pemerintah Kabupaten Sanggau tercatat sudah 3 kali mengucurkan dana APBD untuk pembangunan masjid ini. Begitu juga dengan para PNS di Kabupaten Sanggau juga telah memberikan infaq dari penghasilan yang diterima. Belum lagi para donatur yang beramal baik secara terang-terangan ataupun tidak mau disebutkan namanya turut memberikan kontribusi untuk kelancaran pembangunan masjid.

Interior Masjid Agung Al-Muawanah Sanggau

Referensi



Saturday, April 15, 2017

Masjid Jami’ Nanga Pinoh, Tertua di Melawi

Masjid Jami' Nanga Pinoh saat ini, masih bertahan dengan bentuk setelah rehab tahun 1938 dan 1972

Masjid Jami’ Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, berusia lebih dari satu abad. Masjid ini adalah masjid tertua di kabupaten Melawi. Dari segi sejarah, Masjid Jami’ merupakan salah satu situs sejarah penting yang ada di Melawi mengingat letaknya dan sejarahnya terkait dengan kedemangan (perwakilan kerajaan) Sintang di masa lalu. Kampung Liang tempat masjid ini berada juga terdapat sejumlah situs sejarah Taman Makan Pahlawan Raden Tumenggung Setia Pahlawan, seorang tokoh pahlawan nasional asli Melawi.

Dari tahun pembangunannya, Masjid Jami’ Nanga Pinoh ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Melawi. Peranannya sebagai pusat kegiatan dan peradaban Islam bertahan hingga hari ini. Mesjid Jami’ Nanga Pinoh yang terletak di Kampung Liang, Desa Tekelak Kecamatan Pinoh Utara dulunya merupakan pusat pengembangan Islam di kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Untuk mencapai Masjid Nanga Pinoh ini dari Kota Nanga Pinoh harus menyeberang menggunakan jasa penyeberangan perahu, yang biasa dimanfaatkan warga setempat.

Mesjid Jami’ Nanga Pinoh
Kampung Liang, Desa Tekelak Kec. Pinoh Utara
Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Indonesia.


Sejarah Masjd Jami’ Nanga Pinoh

Sesuai dengan dokumen dan cerita para pemuka-pemuka agama saat itu, Masjid Jami’ ini dibangun pertama kali di Kampung Liang tahun 1888, dan letaknya di Kampung (dusun) Liang, Desa Tekelak (saat ini masuk kecamatan Pinoh Utara), bukan di lokasinya saat ini. Bentuk Mesjid Jami’ pada awalnya (sebelum dipindahkan ke lokasi Mesjid yang baru sekarang). Masih menggunakan satu menara kubah yang terletak di depan pintu masuk Masjid Jami’

Masjid Jami’ tersebut mengalami tiga kali perpindahan lokasi. Kurang lebih setelah 50 tahun dibangun, kondisi masjid tersebut mengalami rusak berat dan kondisinya sudah tidak dapat diperbaiki kembali. Selain itu, lokasi masjid sudah semakin sempit karena perumahan masyarakat yang semakin padat dan tidak tertata.

Maka sesuai dengan mufakat para tetua dan pemuka agama, pada tahun 1938, Masjid Jami’ ini direhab total dan lokasinya dipindahkan sejauh kira-kira 500 meter dari posisi semula ke arah hulu Sungai Melawi. Posisi lokasi Masjid Jami’ tersebut, berada diantara perbatasan Kampung Liang dan Kampung Tekelak, lokasinya juga berada dipertigaan Sungai Melawi dan Sungai Pinoh, di tanah milik kerajaan dengan bentuk yang sama (posisinya di depan kantor Desa Tekelak).

Setelah itu, di tahun 1972 atau 34 tahun setelah pembangunan Masjid Jami’ di tanah kerajaan, Masjid Jami’ kembali direhab karena banyak bagian masjid yang mengalami rusak parah. Bagian pondasi bawah dan tiang-tiang mesjid sudah tidak dapat difungsikan kembali sehingga pemuka agama dan tokoh masyarakat yang dipimpin oleh H Aspar SE yang saat itu menjabat sebagai Kepala BPD Cabang Kalbar (bank Kalbar saat ini, red) wilayah Nanga Pinoh mengadakan mufakat untuk merehab kembali masjid tersebut.

Begini bentuk Masjid Jami' Nanga Pinoh sebelum tahun 1938, dan sebelum dipindahkan ke lokasi saat ini.

Rehab total yang dilakukan pada tahun 1972 akhirnya merubah bentuk Masjid Jami’ sekitar 50 persen dari bentuk semula. Lantai Mesjid terbuat dari beton di atas tanah dan Masjid Jami’ ini mengalami pergeseran 10 meter dari posisi semula. Di tahun 1993, Masjid Jami’ mendapatkan bantuan dari masyarakat, berupa bahan triplek, paku, kayu dan semen, dimana kayu dan triplek dipergunakan sebagai dek masjid serta merehab menara kubah masjid. Sedangkan bahan material seperti semen, dipergunakan masyarakat untuk membangun jalan dari pintu gerbang ke masjid, lantai luar, pintu gerbang serta pagar masjid. Sejak tahun 1972 posisi Masjid Jami’ tidak lagi mengalami perubahan serta sudah berkali-kali diperbaiki.

Tak banyak peninggalan sejarah yang tersisa dari bangunan masjid saat ini. Namun ada dua peninggalan bukti keberadaan masjid tertua di Melawi tersebut, yang masih dapat dijumpai. Pertama yakni mimbar khatib dan bedug. Secara kasat mata mimbar khatib masih kokoh. Mimbar masih difungsikan bagi khatib pada pelaksanaan salat Jumat. Tak banyak perubahan dari mimbar khatib tersebut, namun dahulunya dilengkapi anak tangga, sehingga agak lebih tinggi dari sekarang. Usianya sudah lebih dari 100 tahun. Sementara itu, bedug masjid juga masih dapat dijumpai di halaman masjid. Uniknya  tidak seperti bentuk beduk pada umumnya, namun beduk Masjid Jami bentuknya memanjang, menyerupai sebatang kayu, yang dijadikan bedug.

Aktivitas Masjid Jami’ Nanga Pinoh

Masjid ini sendiri, menjadi pusat kegiatan umat Islam yang ada di kabupaten Melawi. Di masa lalu, saat daerah lain belum memiliki mesjid, banyak masyarakat dari daerah lain seperti Tanjung Lay, Tanjung Paoh, Kebebu yang berada di daerah hulu sungai Melawi melaksanakan shalat Jumat di Masjid Jami’ ini, karena memang Masjid Jami’ ini masih merupakan masjid satu-satunya di Melawi. Mereka turun dengan cara mendayung sampan, sehingga saat shalat Jumat, di depan dermaga, banyak  sampan  yang berjejer.

Pada masa itu seluruh aktivitas kegiatan Islam di Melawi dipusatkan di Masjid Jami’ ini. Bahkan kelompok-kelompok tarbiyah berdatangan dari daerah di luar Melawi hingga dari semenanjung pulau Sumatera ke masjid tersebut. Saat ini, aktivitas masjid tersebut sama halnya dengan masjid lainnya yang berada di Melawi.

Apalagi di bulan Ramadani, Masjid Jami’ selalu dipadati dengan masyarakat yang melaksanakan shalat tarawih dan tadarusan. Selain ibadah shalat berjamaah dan shalat Jumat, juga ada pengajian dan majelis taklim. Dan saat ini juga TPA bagi anak-anak di sekitar Desa Tekelak juga sudah diaktifkan kembali.***

Referensi




Sunday, April 9, 2017

Masjid At-Taqwa Masjid Jamik Kerajaan Matan

Masjid At-Taqwa Ketapang, sebelum dipindahkan ke tempat ini dulunya merupakan Masjid Jami Kerajaan Matan.

Kerajaan Matan adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di wilayah kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kerajaan ini pada masa jayanya memiliki satu masjid Jami’ yang merupakan masjid resmi kerajaan Matan. Masjid tersebut berada di kelurahan kauman, kecamatan Benua Kayong, kabupaten Ketapang. Meski sudah tidak asli namun bangunan masjid ini masih terpelihara dan digunakan dengan baik oleh muslim setempat dan kini disebut dengan Masjid At-Taqwa.

Kini Masjid ini juga sudah kehilangan statusnya sebagai masjid kerajaan sehingga kini tinggal kenangan sebagai masjid panembahan di masa Kerajaan Matan. Meski merupakan masjid kerajaan pada masanya, masjid ini tidak dibangun berdekatan dengan istana kerajaan. Sejarawan Dardi D Has menyebut, ketika pusat pemerintahan Ketapang berpindah dari Tanjungpura ke Mulya Kerta, bentuk pemerintahan kesultanan berubah menjadi kerajaan yang bersifat sekuler, dan itu salah satu penyebab pembangunan masjid ini tidak berdekatan dengan istana kerajaan.

Masjid At-Taqwa
Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Kauman
Kecamatan Benua Kayong Kauman, Benua Kayong
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat 78821

 

Ketapang merupakan salah satu kota pertama yang kerap disebut sebagai pintu masuk tersebarnya Islam di Kalimantan Barat. Salah satu jejak sejarahnya adalah Masjid At-Taqwa ini. Awalnya letak Masjid Jami At-Taqwa persis di pinggir Sungai Pawan. Masjid tersebut begitu tinggi, layaknya bangunan-bangunan di masa lalu, di mana untuk mencapai lantai dasar masjid, harus menaiki tangga yang cukup tinggi, namun karena erosi, maka kemudian masjid tersebut dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi.

Pemindahan masjid tua ke lokasi sekarang, berlangsung pada tahun 1950. Relokasi itu dirintis ulama besar Kampung Kauman, yang cukup lama bermukim di Mekah, H. Muhammad Ali Usman. Setelah pembangunan masjid selesai, Usman sempat mengajar di Darul Ulum. Ia wafat di Bandung, Jawa barat, 30 Maret 1988.

Dalam catatan warisan budaya di Kerajaan Tanjungpura, masjid dibangun pada masa pemerintahan Panembahan H. Gusti Muhammad Sabran yang memerintah Kerajaan Matan di Mulia Kerta pada tahun 1876-1909. namun bagian asli dari Masjid ini hanya tersisa satu batang bekas tiang saja. dam sejak dipindahkan ke lokasi baru, namanya pun berubah dari Masjid Jami’ Menjadi Masjid At-Taqwa.

Dulu, Imam Masjid Jami Kerajaan Matan Kampung Kaum adalah H. Muhammad Yunus yang bergelar Imam Maharaje berasal dari Tanjungpura dan selaku Mufti yakni H. Abdul Madjid bergelar Mulfi Setie Oegame Matan yang diangkat tahun 1903 M(1323 H).

Masjid At-Taqwa pada zaman Kerajaan Matan merupakan masjid satu-satunya yang ada di Ketapang. Masyarakat muslim dari Kampung Negeri Baru, Kampung Mulya Kerta, Kampung Arab, Kampung Tuan-Tuan, Kampung Banjar, Kampung Sungai Kinjil, Kampung Baru, Kampung Sukabaru, Kampung Mulia Baru, Kampung Kantor, Kampung Tengah, Kampung Sampit, serta Panembahan Sabran melaksanakan Salat Jumat di masjid tersebut.

Panembahan Sabran memerintah Kerajaan Matan setelah menggantikan Pangeran Perdana Menteri atau Pangeran Jaya Anom (1833—1845). Gusti Sabran kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Tanjungpura ke Mulya Kerta pada 1876. Di sini kemudian terjadi perubahan nama dari Kesultanan Tanjungpura menjadi Kerajaan Matan dengan kepala pemerintahan seorang panembahan.***

Referensi



Saturday, April 8, 2017

Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang, Kalbar

Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang

Masjid Agung Al-Ikhlas adalah masjid agung di kabupaten Ketapang, provinsi Kalimantan Barat. Pembangunannya didanai dari APBD kabupaten Ketapang tahun anggaran 2011 hingga tahun 2016. Keseluruhan dana pembangunanya diperkirakan menghabiskan dana lebih dari Rp. 50 Milyar Rupiah.

Anggaran yang telah dipergunakan untuk pembangunan Masjid Agung Al-Ikhlas, 2011 hingga 2015 total anggaran dari APBD Ketapang Rp37 miliar. Ditambah sumbangan dan dana CSR sekitar Rp13 miliar sehingga total anggaran yang telah dipergunakan sebesar Rp50 miliar. dan di tahun 2016 kembali dianggarkan sekitar Rp16 miliar.

Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang
Tengah, Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat 78811
Jl H Agus Salim Kelurahan Tegah Kecamatan Delta Pawan itu diresmikan oleh Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).


Sampai bulan April 2016 pembangunan masjid ini telah mencapai sudah berjalan sekitar 82 persen. pembangunan masjid Agung Al-Ikhlas ini dinyatakan selesai pada penghujung tahun 2016 meskipun proses penyempurnaan terus berlanjut hingga awal tahun 2017.

Besarnya dana pembangunan masjid ini menimbulkan kecurigaan telah terjadinya penyelewengan dana pembangunannya. Hal tersebut dibantah oleh panitia pembangunan masjid, karena proses pembangunan dan penggunaan anggarannya diperiksa setiap tahun oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Provinsi Kalbar dan hasilnya clear dan clean.

Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang ini pertama kali dipergunakan untuk sholat hari raya pada pelaksanaan sholat Idul Adha 1437H hari senin 12 September 2016 yang lalu. Bangunan Masjid Agung Al-Ikhlas yang cukup besar dan bisa menanpung ribuan jamaah ini terasa kecil seiring pertambahan jamaah yang begitu pesat.

Interior Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang

Pada saat salat tersebut jamaah perempuan terpaksa ada yang salat di bawah terik matahari. Meski sudah disiapkan tenda untuk jamaah di luar, ternyata tidak mencukupi. Sehingga sebagian jamaah perempuan terpaksa salat di halaman masjid di bawah sinar matahari.

Masjid megah ini disebut sebut memiliki ornamen interior terindah di Indonesia. ornamen masjid tersebut berdasarkan motif multi kemelayuan yang dipadu dengan perpaduan motif masjid di Arab. Bahkan, ada beberapa bahan yang sengaja didatangkan dari luar negeri. Karena tidak didapat dari dalam negeri. Masjid tersebut memiliki luas yang bangunan mencapai 54x54 meter. Diperkiraan masjid tersebut bisa menampung jemaah hingga 5 ribu orang.  

Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang dibangun dengan rancangan masjid modern kekinian. bangunan utamanya beratapkan satu kubah utama berukuran besar dikelilingi empat kubah berukuran lebih kecil, ditambah lagi dengan enam kubah yang jauh lebih kecil lagi ditempatkan di atas beranda. Empat buah menara tinggi mengapit bangunan utama masjid di ke empat penjuru. Uniknya, Bangunan masjid lama yang berada disamping bangunan masjid baru ini masih tetap dipertahankan disebelahnya.***

Masjid Agung Al-Ikhlas Ketapang dari udara

Referensi