Saturday, September 23, 2017

Masjid Agung Jabal Rahmah Aceh Jaya

Masjid Agung Jabal Rahmah Aceh Jaya

Masjid Agung Jabal Rahmah adalah Masjid Agung di kabupaten Aceh Jaya, provinsi Nangroe Aceh Darusslam. Masjid Agung ini berada di desa Sentosa, kecamatan Calang, Kabupaten Aceh Jaya. Berdiri di atas tanah seluas 2.223 meter persegi dan luas bangunan 206 meter persegi serta mampu menampung hingga 1500 jemaah.

Bangunan masjid yang kini berdiri megah ini dibangun tahun 2007 menggantikan bangunan masjid sebelumnya yang hancur akibat terjangan tsunami 26 Desember 2004. Dana pembangunan masjid ini bersumber dari sumbangan pemirsa Pundi Amal SCTV, sehingga masjid ini juga seringkali disebut sebagai masjid SCTV.

Masjid Agung Jabal Rahmah
Jl. Carak, Desa Sentosa – Calang, Aceh Jaya
Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia


Masjid Agung Jabal Rahmah pertama kali dibangun pada tahun 1987, sumberdana pembangunannya berasal dari Yayasan Amal Bakti muslim Pancasila (YAMP) dan dihimpun dari sumbangan masyarakat. Ide pendiriannya pun bergulir dalam masyarakat yang menginginkan berdirinya sebuah masjid yang permanen. 

Namun bangunan masjid tersebut luluh lantak bersama dengan infrastruktur lainnya yang ada di kota kecamatan Calang akibat bencana tsunami aceh 26 Desember 2004. Calang merupakan salah satu wilayah Aceh yang mengalami kerusakan paling parah akibat bencana tersebut.

Pada masa tanggap darurat tsunami didirikan bangunan darurat di atas pertapakan Masjid Agung Jabal Rahmah tersebut yang beratapkan tenda. Setelah itu, pembangunannya dilakukan oleh bantuan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur yang didukung oleh masyarakat setempat. Kontruksi bangunan sekarang merupakan hasil kayu olahan yang hanyut terbawa gelombang tsunami.

Interior Masjid Agung Jabal Rahmah Aceh Jaya

Pada tahun 2007, dilakukan pembongkaran bangunan darurat Masjid Agung Jabal Rahmah Calang dan dibangun kembali secara permanen dengan dana berasal dari sumbangan pundi amal SCTV. Setelah melalui serangkaian perombakan, kini Masjid Jabal Rahmah yang digagas oleh tokoh masyarakat Aceh Jaya ini telah menyandang status Masjid Agung.

Status Majid Agung tidak terlepas dari pemekaran Aceh Jaya dari Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2002. Namun, saat ini Calang sudah dijadikan sebagai ibu kota Kabupaten Aceh Jaya. Masjid Agung Jabal Rahmah kini menjadi landmark kabupaten Aceh Jaya.

Pada dasarnya Masjid Jabal Rahmah merupakan Masjid kemukiman Calang yang membawahi beberapa desa di antaranya Desa Sentosa, Bahagia, Gampong Blang, Dayah Baro dan Keutapang. Karena letaknya sangat strategis, berada di tengah-tengah Kota Calang, maka dijadikanlah Masjid Jabal Rahmah tersebut sebagai Masjid Agung Kabupaten Aceh Jaya.

Sebagai masjid agung kabupaten, masjid ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di kabupaten Aceh Jaya seperti pusat pelakanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha dan pusat peringatan hari hari besar Islam tingkat kabupaten serta menjadi titik keberangkatan dan kedatangan Jemaah Haji kabupaten Aceh Jaya.

Referensi


Sunday, September 10, 2017

Masjid Layur Kampung Melayu Semarang

Masjid Layur Kampung Melayu Semarang

Masjid Layur adalah salah satu masjid kuno di kota Semarang, Jawa tengah. Masjid tua ini kadang kala disebut pula Masjid Menara Kampung Melayu. Dinamakan Kampung Melayu karena sudah merupakan tempat hunian pada tahun 1743 yang sebagian besar orang yang mendiami kawasan tersebut adalah orang melayu. Masjid Layur ini disebut sebut sebagai Masjid tertua di Semarang.

Pada masa tersebut di kampung ini terdapat tempat untuk mendarat kapal dan perahu yang membawa barang dagangan. Lokasinya yang sangat strategis mengundang orang untuk berdiam disitu pula. Dicatat bahwa orang-orang dari Arab kemudian menempati kampung tersebut. Pada masa itulah kiranya masjid yang telah ada dikembangkan lagi dan memperoleh pengaruh yang dapat dilihat sekarang.

Mesjid Layur
Jl. Layur, Dadapsari, Semarang‎
Kota Semarang, Jawa Tengah 50173



Berpengaruhnya orang Arab di situ diperkuat oleh catatan Liem (1930) yang menyebutkan bahwa usaha pendirian klenteng oleh masyarakat Cina yang tidak begitu banyak jumlahnya di kampung tersebut ditentang habis-habisan oleh penduduk keturunan Arab pada tahun 1900. Penambahan menara pada bagian depan masjid menyebabkan masjid juga terkenal dengan nama masjid menara.

Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang. Secara menyeluruh Masjid Layur masih asli seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.

Lokasinya cukup mudah dijangkau, dari arah pasar Johar ikuti jalur putar yang menuju arah kantor pos besar jalan pemuda atau arah stasiun Tawang, dari rel kereta api di depan Jalan Layur, menara Masjid Layur sudah kelihatan kokoh menjulang tinggi.

Arsitektur Masjid Layur

Dari arah jalan raya yang tampak dari masjid ini hanya gapura berkubah dan menaranya saja, sedangkan masjidnya berada di dalam pagar tembok nya yang cukup tinggi seperti benteng. Dari gapuranya baru terlihat bangunan masjidnya berdiri kokoh dengan gaya bangunan masjid tradisional Indonesia sekali.

Bangunan masjidnya beratap tumpang bersusun tiga ditambah lagi dengan kanopi dibagian bawah atap terbawagnya. Lantai bangunan ditinggikan dari permukaan tanah disekitarnya dan hanya dapat dicapai dengan melewati tiga anak tangga tangga yang terdapat pada sisi muka.

Pondasi bangunan dari batu yang memikul struktur kerangka kayu. Masjid ini dilihat dari gaya arsitekturnya merupakan percampuran dari tiga budaya yaitu Jawa, Melayu dan Arab dengan sentuhan keindahan oleh para pembuatnya.

Walaupun sudah dimakan usia namun masjid ini masih kokoh dan masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk beribadah. Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang. Secara menyeluruh masjid Layur masih asli seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.

Referensi

Saturday, September 9, 2017

Masjid Raya Tanjung Pasir

Masjid Raya Tanjung Pasir atau Masjid Raya Alhaji Muhammad Syah.

Masjid Raya Tanjung Pasir atau Masjid Raya Alhaji Muhammad Syah adalah masjid raya yang berada di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbaut Utara, Provinsi Sumatera Utara. Masjid ini merupakan peninggalan Kerajaan Kualuh, Karenanya Masjid Raya ini juga seringkali disebut dengan Masjid Sultan Kualuh. Selain itu masjid ini juga dikenal dengan nama Mesjid Raya Alhaji Muhammad Syah, lokasinya berada jalan besar desa Tanjung Pasir.

Masjid bersejarah bercorak Melayu yang berukuran sekitar 20 x 20 meter ini terletak tak jauh dari sungai Kualuh, sungai yang membentang dari Kecamatan Kualuh Hulu, Kualuh Selatan, Kualuh Hilir, dan Kualuh Leidong. Selain arsitekturnya yang menarik, Masjid ini juga memiliki arti penting dari sisi sejarahnya di masa lampau.

Mesjid Raya Alhaji Muhammad Syah
Tj. Pasir, Kecamatan Kualuh Selatan
Kabupaten Labuhanbatu Utara
Sumatera Utara 21457



Didirikan oleh Sultan Kualuh III, Al-Haji Muhammad Syah pada tahun 1937.
Kesultanan Kualuh merupakan pecahan Kesultanan Asahan yang berdiri pada abad XVI, sedangkan Kesultanan Kualuh pada abad XVIII. Pada tahun 1920 Sultan Al-Haji Muhammad Syah memindahkan pemerintahan Kerajaannya ke Tanjung Pasir dan mendirikan Istana.

Anak gadis Sultan menikah dengan salah seorang pangeran dari kerajaan Langkat. Sebagaimana ayahandanya, Putri Sultan yang menjadi permaisuri tersebut berkeinginan membangun Masjid di Labura. Sultan berkunjung ke kerajaan Langkat, beliau sangat kagum melihat keindahan bangunan Masjid Azizi yang dibangun oleh Sultan Langkat pada waktu itu. Beliau menginginkan pembangunan masjid di seperti Masjid Azizi dan meminta agar membuatkan gambar dengan ukuran mini.

Sejarah Masjid Raya Al-Haji Muhammad Syah diawali berdirinya Kerajaan Kesultanan Kualuh di Labura pada abad XIX, tepatnya tahun 1829 dengan raja pertama Sultan Haji Ishaq Syah. Setelah beliau mangkat maka digantikan oleh putra tertuanya bernama Sultan Al-Haji Abdullah Syah dan memindahkan pemerintahan kerajaannya ke Kampung Masjid Kecamatan Kualuh Hilir yang sebelumnya kampung tersebut bernama Djatuhan Dadih.

Masjid Raya Tanjung Pasir

Perubahan nama kampung tersebut terjadi setelah kedatangan seorang ulama dari Rokan, Riau bernama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan beserta para pengikutnya sekitar 150 orang. Kedatangan ulama terkenal tersebut disambut oleh Sultan dan memberikan bantuan berupa beras dan sejumlah uang untuk keperluan para santri.

Atas anjuran Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan, setelah Sultan berguru beberapa tahun maka Sultan berniat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah beserta putranya yang bernama Tengku Biong (yang kelak akan berganti nama) pada tahun 1870 selama kurang lebih 3 tahun untuk memperdalam ilmu agama.

Di sana, Sultan mendirikan tempat tinggal di sekitar Masjidil Haram tepatnya berada di Pasar Seng. Tempat tinggal tersebut diperuntukkan bagi keluarga dan masyarakat Kesultanan Kualuh yang pergi melaksanakan haji pada saat itu sehingga tidak perlu lagi mencari tempat tinggal di Mekah. Selanjutnya setelah Sultan merasa cukup, atas permintaan rakyatnya maka Sultan kembali ke tanah air (Kualuh) dan mewakafkan tempat tinggal tersebut.

Sebelum Sultan berangkat ke tanah suci, bersama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan membangun sebuah masjid, yang kelak tempat tersebut bernama Kampung Masjid kerena terdengar kabar ada ulama besar mengajarkan ilmu agama di kampung tersebut.

Referensi


Sunday, September 3, 2017

Masjid Agung Sultan Jeumpa Kabupaten Bireuen

Masjid Agung Sultan Jeumpa Kabupaten Bireun (foto @agus_mauriza
  
Masjid agung Sultan Jempa adalah Masjid Agung di kabupaten Bireun Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Bangunan masjid agung kebanggaan warga Bireun ini telah di renovasi total oleh pemerintah kabupaten Bireun di tahun 2015-2016 yang lalu dan kini tampak semakin indah, serta menjadi daya tarik untuk wisata religi di Kabupaten tersebut, Sentuhan Ornamen kaligrafi Arab pada dinding Masjid dengan ubahan desain serta perpaduan cat menambah keindahannya.

Setelah di renovasi, Masjid Agung Sultan Jeumpa Kabupaten Bireun ini, kini tampil begitu megah di tengah kota Bireun, sentuhan senibina bangunan masjid modern dengan tidak meninggalkan ciri khas bangunan masjid Aceh terpadu dengan apik di masjid ini.

Mesjid Agung Bireuen
Meunasah capa, Jl. Gayo KM. 1 (Jalan Raya Bireun – Takengon)
Jeumpa, Bireun, Aceh 24261 Indonesia


Sepintas lalu anda akan dapat menemukan kesan kemiripan dengan arsitektur masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Begitupun dengan interiornya. Perancang masjid ini sangat apik merancang masjid ini dalam balutan modern termasuk material keramik importnya dengan sentuhan Aceh yang sangat kental hingga ke interiornya.

Pemilihan Masjid Agung ini sebagai tempat pelaksanaan akad nikah karena Objek Masjid Agung Sultan Jeumpa setelah direhab tampak sangat indah, dan menjadi kebanggaan bagi para calon pengantin untuk melangsungkan ikatan akad nikahnya di Masjid tersebut.

Sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Sultan Jeumpa ini menjadi tempat pelaksanaan hajatan ke-Islaman tingkat kabupaten Bireun termasuk menjadi pusat pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha yang dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Bireun, serta para pejabat kabupaten lainnya bersama ribuan masyarakat muslim Bireun.

Interior Masjid Agung Sultan Jeumpa Kabupaten Bireun (@ceritabireun)

Renovasi masjid Agung Bireun ini di mulai tahun 2015 lalu dimulai dengan anggaran dana Rp 500 juta dari APBK 2015 dan kas masjid Rp 600 juta. Sehingga anggaran yang tersedia untuk renovasi tahap awal masjid itu mencapai Rp 1,1 miliar. Renovasi awal tersebut meliputi renovasi lantai seluas 40x20 meter persegi, loteng, halaman yang dilengkapi dengan taman, pagar, tempat wudhu, dan kamar mandi. Keseluruhan anggaran untuk pembangunan masjid ini hingga tahun 2016 sekitar 9 milyar rupiah.

dan Masih di tahun 2015 Mesjid Agung Bireuen Berubah Nama Menjadi Mesjid Agung Sulthan Jeumpa. Penamaan tersebut merupakan hasil penjaringan nama dari publik, tahap seminarisasi, tahap konsultasi ke ulama, tahap finalisasi dan tahap penetapan.

Pada masa penjaringan nama masjid, panitia menerima masukan 19 nama, nama nama tersebut disarankan oleh tokoh masyarakat, akademisi, guru, imam-imam masjid dan masyarakat biasa, semua usulan nama mesjid yang diterima panitia harus disertai dengan penjelasan.

Berdasarkan hasil seminar, dari 19 nama tersebut mengkerucutlah tiga nama, yaitu Mesjid Agung Sulthan Jeumpa, Mesjid Agung Normal Islam dan Mesjid Agung Tgk Chiek Awe Geutah. Dan ahirnya dipilih nama Masjid Agung Sultan Jeumpa Sebagai nama Masjid Agung Kabupaten Bireun ini.

Referensi




Saturday, September 2, 2017

Masjid Agung Al-Amjad

Masjid Agung Al-Amjad Kabupaten Tangerang (foto: indra.wardana)

Masjid Agung Al-Amjad adalah Masjid Agung Kabupaten Tangerang, lokasinya berada di dalam Komplek Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang di Tigaraksa. Diresmikan tahun 2005 oleh Wakil Presiden RI, Bapak Drs. HM. Jusuf Kalla. Berdiri di atas tanah seluas lahan seluas 24.003 meter persegi dengan luas bangunan 5.604 meter persegi dan berdaya tampung jemaah 6.000 orang.

Masjid yang terletak di belakang Gedung Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang ini, dibangun dengan konsep meminimalisasikan penggunaan cahaya lampu pada siang hari dan mengurangi penggunaan pengatur suhu udara didalamnya. Cahaya matahari yang masuk diberi filter yang cukup menarik juga, yaitu dengan pemberian material precast krawang, sehingga tidak terlalu tersorot secara langsung ke arah dalam.

Masjid Agung Al-Amjad
Kadu Agung, Tigaraksa, Tangerang, Banten 15720



Masjid Agung Al-Amjad ini dilengkapi dengan menara yang dibangun terpisah dari bangunan utama masjid, Menara ini cukup tinggi menjulang setinggi 66,66 meter, memiliki makna jumlah ayat yang ada pada Al Qur’an, menara ini berdenag segi delapan, dan makin keatas makin mengecil.

Masjid Agung Al-Amjad ini juga dilengkapi dengan ruang belajar TPA atau madrasah, aula serba guna, perpustakaan, taman, dan areal parkir yang luas. Selama Ramadan, Masjid Agung Al-Amjad ini ramai dikunjungi jamaah baik dari Tangerang maupun dari luar daerah seperti Bogor dan Serang untuk beritikaf dan beribadah.

Interior Masjid Agung Al-Amjad

Interior Masjid ini terasa lebih lapang dengan ketiadaan tiang tiang penyanggah atap di tengah ruang utama. tiang tiang penyanggahnya berada di sisi luar ruang utama. tampak benar bahwa tiang tiang tersebut hanya menjagi penopang atap dantidak menjadi sandaran bagi struktur beton lantai duanya. Ruang utama masjid ini terhubung langsung dengan pelataran masjid yang cukup luas dan juga menjadi area sholat di luar ruangan.

Secara keseluruhan bentuk tampilan, keseimbangan bangunan dan skala ruang yang tercipta, direncanakan dengan cukup baik, dan dilengkapi dengan halaman yang cukup luasi. Semua sudut bangunan dari mulai gerbang pintu masuk sampai dengan masuk kedalam bangunan, dibuat dengan sangat detail dan teliti.

Referensi


Sunday, August 27, 2017

Masjid Al-Ishlah Kedamaian Bandar Lampung

Masjid Al-Ishlah, Masjid Khas Lampung di kota Bandar Lampung.

Masjid Al-Ishlas adalah salah satu masjid yang ber-arsitektur cukup unik, di provinsi Lampung. Masjid ini dirancang dengan sentuhan budaya Lampung yang sangat kental mulai dari tampilan fasad depannya yang sarat dengan sentuhan etnik Lampung hingga ke ruangan dalam masjidnya.

Masjid Al-Ishlah berada jl Ratu Balau No 14 Kampung Tiyuh Kedamaian, Kelurahan Kedamaian, Kecamatan Kedamaian. Nama masjid ini memang sesuai dengan nama tempatnya berdir di Kelurahan Kedamaian karena Ishlah dalam bahasa Arab memang berarti perdamaian.

Masjid Jami Al-Islah
Jl Ratu Balau No 14 Kampung Tiyuh Kedamaian,
Kelurahan Kedamaian, Kecamatan Kedamaian
Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung



Keunikan masjid ini ada di hampir seluruh bangunannya. Mulai dari simbol, ornamen dan dominasi warna ungu kemerahan yang merupakan warna khas Lampung yang terpasang di hampir seluruh bagian masjid serta bentuk Menara dan Kubahnya.

Menara masjid ini pada bagian atasnya dipasang ornamen payung adat dengan warna putih, kuning dan merah. Warna putih melambangkan Penyimbang Marga, Kuning melambangkan Penyimbang Tiyuh dan merah adalah lambang penyimbang suku.

Sementara kubah masjid ini berbentuk Jung yang artinya Perahu. Ini mengingatkan pada jaman dahulu alat transportasi yang dipakai adalah perahu, karena pada masa itu kampung orang Lampung mayoritas di pinggir sungai. Kubah masjid ini berbentuk limas atau segitiga empat sisi yang mengerucut ke atas tapi di puncaknya terbuka seperti bunga mekar.

Pembangunan Masjid Al-Ishlah

Pembangunan bangunan masjid ini dimulai pada hari Jumat, 28 November 2014 dengan upacara peletakan batu pertama oleh Walikota Bandar Lampung H. Herman HN dan diresmikan juga oleh Walikota Bandar Lampung H. Herman HN pada tanggal 28 November 2014.

Masjid Al-Ishlah pada saat proses pembangunan.

Pendanaan pembangun masjid ornamen Lampung ini mendapat bantuan dari Pemkot Bandar Lampung tahun 2014 sebesar Rp 600 juta yang dijadikan dana awal pembangunan, Sedangkan selebihnya berasal dari sedekah, infak, dan amal jariah masyarakat muslim disana.

Pada awalnya Masjid Al Islah ini dibangun tahun 1938 di atas tanah wakaf H. Abdul Roni dan H. Tohir Ismail Balau seluas 700 meter persegi, dan diketahui bahwa masjid ini merupakan masjid tertua ke empat di provinsi Lampung. Dari tahun 1938 itu tercatat sudah 6 kali mengalami renovasi, dan pada 2014 direnovasi total dengan mengusung konsep kearifan lokal.

Semua lambang dan ornamen Lampung yang tergambar di masjid ini adalah Lambang dan Ornamen Adat Lampung Pepadun sesuai dengan adat Kampung (tiyuh) Kedamaian sebagai Kampung Adat atau Kampung Cagar Budaya di Kota Tapis Berseri.

Ukuran bangunan masjid Al-Ishlah saat ini seluruhnya adalah 20×25 meter dengan dua lantai, tingginya sekitar 13,5 meter. Menyatu dengan banguanan, terdapat sebuah menara masjid dengan ketinggian sekitar 18 meter dari permukaan tanah.

Referensi


Saturday, August 26, 2017

Masjid Agung Al-Muhsinin kota Solok

Masjid Agung Al-Muhsinin kota Solok (foto akun IG @deddy_haryadi_edward)

Masjid Agung Al-Muhsinin adalah masjid agung di kota Solok, provinsi Sumatera Barat. Masjid Agung Al-Muhsininin ini juga merupakan masjid terbesar di Kota Solok, lokasinya berada di Jalan Datuak Perpatih Nan Sabatang, Kelurahan Aro IV Korong, Lubuk Sikarah. Sebagai masjid Agung, masjid ini menjadi tuan rumah kegiatan keagamaan skala regional seperti tabligh akbar dan pertemuan jemaah, khususnya di Kota Solok.

Masjid Agung Al-Muhsinin pertama kali dibangun tahun 1984 dibiayai dari sumbangan Yayasan Bhakti Muslimin dan digunakan pertama kali tahun 1987. Namun bangunan tersebut mengalami rusak berat dan roboh setelah rangkaian gempa bumi pada Maret 2007. Pembangunan kembali dimulai pada tanggal 20 Agustus 2009 saat Kota Solok masih dipimpin Syamsu Rahim.

Masjid Agung Al-Muhsinin Solok
Aro IV Korong, Lubuk Sikarah, Kota Solok
Sumatera Barat 27316 Indonesia



Proses pembangunan memakan waktu 28 bulan dan diresmikan pada tanggal 14 Desember 2011 oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Solok ke-41.

Biaya pembangunan menghabiskan dana Rp36,63 miliar, terdiri dari Rp35,45 miliar dari APBD Kota Solok dan infak yang terhimpun sebesar Rp1,18 miliar. Bangunan utama terdiri dari dua lantai dengan denah dasar ruang berukuran 50 × 50 meter.

Interior Masjid Agung Al-Muhsinin Kota Solok.

Dengan ukuran nya yang cukup besar ini, Masjid Agung Al-Muhsinin Solok mampu menampung mampu menampung 5.000 jamaah, dengan rincian untuk ruangan lantai satu sebanyak 2.000 jamaah, lantai dua 1.000 jamaah dan 2.000 jamaah lainnya ditampung dipelataran parkir, menjadikannya sebagai salah satu masjid terbesar di provinsi Sumatera Barat.

Bangunan utama masjid menggunakan kubah tunggal berukuran besar, kubah besar ini dibangun bertumpuk dua menjadikan atap masjid ini seolah olah tetap merupakan masjid dengan atap bersusun seperti halnya masjid tradisional khas Indonesia. Selain kubah utama, ada empat kubah berukuran lebih kecil di ke empat penjuru masjid.

Bangunan utama Masjid Agung Al-Muhsinin kota Solok ini dilengkapi dengan empat menara yang menjulang yang mengapit bangunan utama masjid di ke empat penjurunya masing masing setinggi 40 meter. Rancangan menara ini di dominasi bentuk geometris senada dengan bentuk bentuk geometris pada bangunan utamanya.

Referensi


Baca Juga