Sunday, November 27, 2016

Masjid Agung Iqro Halmahera Timur

Matahari senja seolah bersembunyi di balik Masjid Agung Iqro Kota Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara.

Halmahera Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Maluku Utara, terbentuk pada Tanggal 23 Februari tahun 2003, sebelumnya Halmahera Timur merupakan bagian dari wilayah Kota Tidore Kepulauan. Ibu Kota Kabupaten Halmahera Timur adalah Kota Maba, namun lebih sering disebut Maba.

Di kota Maba sudah berdiri Masjid Agung Kabupaten yang diberi nama Masjid Agung Iqro. Masjid Agung Iqro diresmikan pada tanggal 6 Maret 2015 oleh oleh Bupati Halmahera Timur, H Rudy Erawan SE MSi bersama dengan Wakil Bupati Ir Muh Din, Ketua DPRD Jhon Ngoraici dan para Muspida Kabupaten Haltim, ditandai dengan pemukulan beduk dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti pembangunan masjid.


Masjid Agung Iqro berdaya tampung 3000 jemaah, dibangun diatas tanah wakaf dari masyarakat Soa Gimalah dan Maba Sangaji. proses pembangunannya memakan waktu selama tiga tahun, jauh lebih cepat dari rencana semula yang direncanakan selama lima hingga tujuh tahun.

Masjid Agung Iqro ini nantinya juga akan dilengkapi dengan Komplek Islamic Center yang akan dibangun disebelah kiri Masjid. Selain sebagai tempat ibadah lima waktu, masjid ini juga dijadikan sebagai pusat aktivitas ke-Islaman tingkat kabupaten Halmahera Timur termasuk pelaksanaan manasik haji, pelepasan dan penyambutan Jemaah haji, hingga pengajian ibu ibu. 

Pinky Mosque. Ekterior maupun interior masjid Agung Iqro di kabupaten Halmahera Timur ini, di dominasi oleh warna merah muda.

Berdiri di tengah lahan yang cukup luas membuat bangunan masjid Agung ini terlihat begitu menonjol dengan warnanya yang tak biasa. baik exterior hingga interiornya Masjid Agung Iqro di dominasi oleh warna merah muda, merah hati. Bangunan utamanya berdenah segi empat, berlantai dua. di tambah dengan beranda yang cukup besar di depan masjid dan dua banguinan sayap di bagian kiri dan kanan.

Satu kubah utama ditempatkan di bagian tengah atap di apit dengan empat kubah yang lebih kecil di empat penjuru atap masjid. Baik kubah utama maupun kubah nya yang lebih kecil memiliki padanan corak dan warna yang sama. Masjid Agung Iqro ini tidak dilengkapi dengan Menara.***


Saturday, November 26, 2016

Masjid Terapung Oesman Al Khair Kayong Utara

Terapung. Masjid AGung Osman Al-Khair atau Masjid Kebaikan Oesman terlihat seakan akan mengapung di atas air laut di lepas pantai Sukadana kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Tak salah bila masjid satu ini telah menjadi objek wisata baru di kabupaten Kayong Utara sejak diresmikan. Tidak sekedar bangunannya yang memang menawan dipandang mata namun juga pemilihan lokasi tempatnya dibangun membuatnya memang menghadirkan keindahan yang tak ditemukan disemua bangunan masjid. Sebagian besar bangunan masjid berwarna putih itu dibangun di atas air laut, sehingga bangunan tampak melayang di atas air jika dilihat dari kejauhan. Tak pelak keindahan tersebut menjadikan masjid ini sebagai ikon baru Kayong Utara dan merupakan salah satu masjid termegah di Provinsi Kalimantan Barat.

Masjid Agung Oesman Al-Khoir nama masid ini, dibangun oleh di atas lahan wakaf dari Bpk Oesman Sapta Odang (Wakil Ketua MPR RI). Pembangunanya menghabiskan dana senilai Rp. 38 Miliar yang berasal dari dana patungan dari Oesman Sapta Odang sebesar Rp. 11 Milyar, dana corporate social responsibility (CSR) delapan BUMN sebesar Rp. 12 Milyar dan anggaran Pemerintah Kabupaten Kayong Utara dan swadaya masayarakat kayong Utara.

Masjid Agung Oesman Al-Khoir
Pulau Datok, Desa Sutera, Kecamatan Sukadana
Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat
Indonesia.


Pembangunan masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada Idhul Adha, Bulan Oktober 2012 yang juga turut dihadiri oleh Oesman Sapta Odang. Proses pembangunannya memakan waktu selama 3 tahun 7 bulan dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 15 Oktober 2016, ditandai dengan penandatangan prasasti. “Ini merupakan masjid terapung yang indah dan megah dengan latar belakang laut," demikian puji Presiden Jokowi saat peresmian.

Masjid Oesman Al-Khoir berukuran 50 x 50 meter dan mampu menampung hingga 3000 jemaah sholat sekaligus, sedangkan untuk acara tabligh akbar dapat menampung hingga 5000 jemaah sekaligus. Dibangun dengan gaya arsitektur yang unik, mengikuti desain arsitektur masjid di Arab Saudi. Namun, lebih spesifik interior dan eksteriornya, mengikuti masjid-masjid di Maroko. Sedangkan kaligrafi yang menghiasai interior masjid didesain oleh imam Masjid Agung Yogyakarta. Untuk membuatnya “mengapung” di atas air laut, tiang tiang pancang masjid ini ditancapkan hingga sedalam 23 meter.

Senja jatuh di Masjid Oesman

Tentang nama masjid ini, sebagaimana dijelaskan oleh Bupati Kayong Utara Hildi Hamid pemilihan nama “Masjid Oesman Al-Khoir” untuk masjid ini memang merujuk kepada nama dari Oesman Sapta Odang yang telah “berbaik” hati menghibahkan lahan untuk pembangunan masjid ini serta memberi bantuan dana pembangunan.

Keindahan Berbalut Makna

Makna Islami dan adaptasi budaya lokal, terakulturasi dalam arsitektur masjid ini. Masjid ini memiliki sembilan kubah. Ada satu kubah besar. Kubah ini menandakan Kubah Rasullulah. Ada kubah berjumlah empat. Maknanya, menandakan keempat Sahabat Rasul. Yaitu, Abubakar, Umar, Usman dan Ali. Empat kubah itu dikelilingi empat kubah lagi. Empat kubah ini menandakan empat mahzab. Yakni, Mahzab Hambali, Hanafi, Maliki dan Syafii. Total kubah berjumlah sembilan tersebut, melambangkan Wali Songo, penyebar agama Islam di Indonesia.


Presiden Joko Widodo saat peresmian Masjid Oesman Al-Khair di dampingi oleh Oesman Sapta Odang (sebelah kanan foto)

Filosofi lain, masjid ini terapung di laut. Hal itu menyiratkan makna, asal usul masyarakat Kayong Utara merupakan masyarakat pelaut. Masyarakat nelayan. Masyarakat bahari yang menjunjung tinggi filosofi kebahariannya. Artinya, suka dengan tantangan dan mendambakan kemajuan. 

Dan faktanya Peresmian Masjid Agung Kayong Utara oleh Presiden Joko Widodo juga merupakan bagian dari kunjungan beliau meresmikan Festival Bahari bertajuk “Festival Sail Selat Karimata” yang dipusatikan di Pantai Laut Datok, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Festival Sail ini adalah acara tahunan yang menjadi primadona bagi para anak muda pecinta traveling, dunia bahari, dan kegiatan sosial. ***

Sunday, November 20, 2016

Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan

Terang dengan warna Kuning dan merah bara. Masjid Agung Istiqomah Tapakuan tampil menawan sebagai landmark kota Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.

Tapak Tuan adalah ibukota kabupaten Aceh Selatan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Sebuah kota yang mendapatkan gelar sebagai kota Naga dari legenda masa lalu yang kemudian di abadikan menjadi nama kota tersebut. Sesuai dengan namanya, di tepian pantai di kota ini memang terdapat sebuah jejak tapak kaki berukuran sangat besar yang disebut sebut sebagai bekas tapak kaki dari Teuku Tuan sang penakluk naga. darisanalah kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama Tapak Tuan.

Tapak Tuan memiliki bangunan masjid dengan arsitektur manawan dengan nama Masjid Agung Istiqomah. Dibangun dalam arsitektur Arabia yang sangat kental dengan sentuhan tradisi setempat. Tak hanya bentuk bangunannya yang megah dan begitu menonjol, pilihan warna masjid ini pun terang menyala dengan padanan warna merah bata dan kuning terang. Lokasinya yang hanya terpaut sekitar lima puluh meter dari bibir pantai menjadikan masjid ini tidak hanya terlihat dari daratan tapi juga dari arah laut.

Masjid Agung Istiqomah Tapaktuan
Jl, Jendral Sudirman, Tapaktuan
Kab. Aceh Selatan, Prov. Nangroe Aceh Darussalam
Indonesia


Berdasarkan data dari departemen agama, Masjid Agung Istiqomah pertama kali dibangun tahun 1930 diatas tanah wakaf. Bangunan tersebut kemudian direhab sehingga ke bentuknya saat ini. Bangunan utama Masjid Agung Istiqomah Tapaktuan ini berdenah segi empat, dengan satu kubah utama berukuran cukup besar di atap masjid di apit dengan empat menar di ke empat sudut atapnya, ditambah dengan satu Menara utama setinggi sekitar 30 meter berada di pekarangan depan masjid, terpisah dari bangunan utama.

Selain bangunan nya yang megah, masjid ini juga dilengkapi dengan taman yang cukup luas dengan tanaman pavoritnya adalah 8 pohon kurma yang sudah berbuah dengan rasa manis dan tanpa biji. Taman yang asri yang ditumbuhi pohon palem dan rumput hijau membuat para jamaah sejuk dan nyaman saat memasuki area masjid.

Selain digunakan sebagai sarana keagamaan seperti salat berjamaah masjid ini juga sering digunakan untuk acara-acara hari besar islam, dalam lingkup kabupaten termasuk pelepasan dan penyambutan Jemaah Haji kabupaten Aceh Selatan. Di pelataran Masjid ini juga merupakan tempat dilaksanakannya hukuman cambuk bagi mereka yang terbukti melanggar hokum Islam yang berlaku di Nangroe Aceh Darussalam.***

Saturday, November 19, 2016

Masjid Raja Haji Abdul Gani, Masjid Tertua di Karimun

Pulau Buru di Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau memiliki masjid warisan sejarah kesultanan Melayu yang masih terawat hingga kini dan merupakan masjid tertua kedua di provinsi Kepri dan sekaligus masjid tertua di kabupaten Karimun. Masjid Raja Haji Abdul Ghani.

Masjid Raja Haji Abdul Ghani berada di Pulau Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, merupakan masjid tertua di kabupaten Karimun dan tertua kedua di provinsi Kepulauan Riau setelah Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang. Masjid ini dinamai sesuai dengan nama pembangun-nya, Raja Abdul Ghani bin Raja Idris bin Raja Haji Fisabilillah. Masjid ini telah menjadi Ikon Wisata Pulau Buru dan merupakan salah satu situs cagar budaya nasional.

Masjid Raja Haji Abdul Gani
Desa Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun
Provinsi Kepulauan Riau 29664


Masjid Raja Haji Abdul Ghani dibangun pada masa kerajaan Riau-Lingga, dimasa kekuasaan Sultan Abdul Rahman sekitar tahun 1883-1911. Luas masjid ini berukuran 8 meter x 15 meter dan dapat menampung sekitar seratus Jemaah dan masih berfungsi dengan baik hingga saat ini. Seperti masjid masjid peninggalan kesultanan melayu lainnya, Masjid Raja Haji Abdul Gani ini juga di dominasi warga kuning sebagai warna kebesaran kesultanan melayu dengan corak tambahan warna hijau.

Bangunan utama masjidnya berdenah segi empat dengan atap limas bersusun dua, struktur atapnya ditopang dengan empat soko guru masing masing setinggi lima meter. Pintu masuk utama masjid berbentuk lengkungan setinggi 2,3 meter dengan lebar 1,3 meter. Pintu-pintu lainnya dibuat lebih pendek. Masjid ini dilengkapi dengan satu menara setinggi 21 meter dan berdiameter 4 meter, dengan bentuk yang tak lazim, ujung Menara masjid ini  berbentuk kerucut yang sepintas mirip dengan ruang pembakaran hio yang ada di kelenteng, ditambah dengan ornamen lubang lubang ventilasi dari batu giok berukir. Konon, kemiripan dengan bangunan Klenteng tersebut dikarenakan masjid ini dirancang oleh orang Tionghoa.

Menara masjid yang berbentuk unik ini sempat mengalami kerusakan pada bagian ujung tertingginya akibat tersambar petir pada pagi hari 15 November 2015. kejadiran tersebut sempat merusak bagian ujung Menara hingga serpihannya berserakan disekitar masjid dan turut merusak bangunan SMPN 1 Buru.

Masjid Raja Haji Abdul Ghani lengkap dengan Menaranya yang unik dan sumur tua yang airnya tak pernah kering.

Menara masjid ini sudah telihat dari kejauhan sebelum kapal merapat ke pelabuhan karena memang lokasinya berdiri menghadap ke lautan dan dekat dengan bibir pantai. Di dekat lokasi masjid ini juga masih menyimpan peninggalan zaman dahulu seperti meriam tua dan lonceng yang berasal dari Spanyol.

Di depan masjid ini terdapat sumur yang dibuat sebagai sumber air untuk berwudhu dan menjadi berkah tersendiri bagi warga setempat, karena sumber air dari sumur ini tidak pernah kering di musim kemarau panjang sekalipun, meski masyarakat sekitar mengambilnya setiap hari.

Masjid Haji Abdul Gani di kecamatan Buru ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara pada saat peringatan hari-hari Islam, selain bertujuan ziarah ke masjid, wisatawan juga biasanya ke tempat-tempat wisata lain yang ada di Pulau Buru ini seperti makam Badang, Perigi Batu dan pemandian air panas di Tanjungutan.

Referensi


Sunday, November 13, 2016

Masjid Agung Nurul Huda Sumbawa

Bangunan utama masjid Agung Nurul Huda Sumbawa ini dibangun dengan atap limas bersusun tiga seperti halnya masjid masjid kesultanan di tanah Jawa

Masjid Agung Nurul Huda merupakan masjid agung di kota Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Masjid ini merupakan warisan dari masa kejayaan kesultanan Sumbawa. Pada masa-nya, selain sebagai masjid resmi kesultanan, Masjid Agung Nurul huda ini juga menjadi tempat penobatan para sultan yang berkuasa di kesultanan Sumbawa. Pada tanggal 5 April 2011, masjid Agung Nurul Huda kembali digunakan sebagai tempat penobatan Sultan Sumbawa setelah 70 tahun tertunda.

Sebagai masjd kesultanan, Masjid Agung Nurul Huda dibangun di dalam komplek istana (kraton) Dalam Loka Real Kesultanan Sumbawa. Lokasi masjid ini berada di sebelah barat bangunan istana, dan orientasi pembangunannya pun, pintu utama masjid ini yang berada di sisi timur lengkap dengan kanopi, menghadap ke arah Istana Dalam Loka Real, bukan menghadap ke jalan raya yang kini bernama Jalan Sudirman.

Bentuk bangunannya hampir sama dengan bentuk masjid masjid kesultanan di tanah air, berupa bangunan masjid tradisional Nusantara dengan atap limas bersusun tiga dengan lantai masjid ditinggikan dari permukaan tanah disekitarnya. Hanya saja Masjid Agung Nurul Huda dilengkapi dengan Menara Kembar yang mengapit bangunan utama di sisi barat. Bangunan Masjid Agung Nurul Huda ini di topang dengan sederet pilar pilar beton bundar yang membuatnya telihat sangat kokoh dan megah. Penggunaan bahan bahan kaca pada bangunan ini membuatnya terlihat lebih modern dibandingkan dengan kebanyakan bangunan masjid masjid kraton Nusantara lainnya. 

Masjid Agung Nurul Huda
Jl, Sudirman No. 28 Sumbawa Besar
Kab. Sumbawa. Prov. Nusa Tenggara Barat 84313
Telp : 0371 625199
Koordinat : 8°30'14.2"S 117°25'34.6"E / -8.503936, 117.426278


Penobatan Sultan Muhammad Kaharuddin  IV.

Daeng Muhammad Abdurahman Kaharuddin sudah dikukuhkan sebagai Putra mahkota kesultanan Sumbawa pada tanggal 5 April 1941, namun baru dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa pada hari Selasa tanggal 5 April 2011 dengan gelar Sultan Muhammad Kaharuddin  IV.

Dinobatkannya Sultan Muhammad Kaharuddin IV sebagai Sultan, menandai bangkitnya kembali kesultanan Sumbawa meski jabatan Sultan saat ini tidak lagi memangku jabatan politik seperti di masa lalu dan merupakan jabatan budaya yang bertugas sebagai penjaga pusaka budaya dan adat istiadat Sumbawa yang religius, meliputi wilayah kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Prosesi penobatan tersebut dihadiri oleh Bupati Sumbawa, Drs. H. Jamaluddin Malik, Wakil Bupati Kabupaten Sumbawa Barat, Drs. H. Mala Rahman, Gubernur NTB, Dr.TGH. Zainul Majdi, MA, Staf Ahli Menteri  Kebudayaan dan Pariwisata, Utoro Drajat, para pemangku Kesultanan dan kerajaan di Nusantara salah satunya adalah Gusti Kanjeng ratu (GKR) Hemas, Permaisuri Sultan Hamengkubuwono X, tokoh sipil dan militer pusat dan daerah serta  masyarakat Sumbawa.

Referensi


Saturday, November 12, 2016

Masjid Agung Al-Mujahidin Selong Lombok Timur

Masjid Kabupaten Lombok Timur

Masjid Agung Al-Mujahidin merupakan masjid agung kabupaten Lombok Timur, provinsi Nusa Tenggara Barat, Lokasi masjid ini berada di kecamatan Selong sehingga lebih dikenal dengan nama Masjid Al-Mujahidin Selong. Berdiri di atas lahan seluas 1,2 hektar dengan luas bangunan 1540 meter persegi masjid Agung Al-Mujahidin pertama kali dibangun tahun 1957 dengan satus tanah bersertifikat hak milik, berdaya tampung hingga 5000 jemaah sekaligus, dirancang oleh arsitek Ir. H. M. Aminolah.

Masjid Al-Mujahidin Selong
Jl. TGH Abdul Majid No.110, Sandubaya
Selong, Kabupaten Lombok Timur
Nusa Tenggara Barat 83611


Selain terkenal dengan wisata alamnya yang eksotis, Lombok pun tersohor dengan sebutan Pulau Seribu Masjid. Tercatat sedikitnya 5.400 masjid di pulau Lombok. Perbandingan yang cukup sepadan mengingat hampir 90 persen penduduk Lombok adalah pemeluk agama Islam. Masjid diberi nama Masjid Agung Al-Mujahidin sebagai penghormatan kepada pahlawan perjuangan kemerdekaan yang gugur di rumah pejuang 1945 saat melawan penjajah Belanda. Rumah tersebut berada tepat di depan masjid.

Bangunan masjid tampak sangat asri dengan paduan warna putih, ungu, dan oranye di tubuh bangunan dan hijau yang melapisi kubah. Bentuk bangunan yang menggunakan poia ceruk terbuka di beberapa bagian dan konstruksi tangga di sudut menjadi aksen apik untuk keseluruhan bangunan.

Masjid dilengkapi empat menara yang menyatu dengan bangunan dan menjulang tinggi mendampingi kubah utama. Bentuk menara tersebut senada dengan bangunan utama, menggunakan pola ceruk lowong dengan empat pola berbeda pada bagian tubuhnya. Tinggi menara 27 meter melambangkan ajakan untuk shalat berjamaah yang memiliki keutamaan 27 kali lipat daripada shalat sendiri.

Memasuki ruang utama, awalnya akan terasa sesak karena atap yang berasal dari lantai dua bangunan. Namun, saat menuju bagian depan ruang akan menjadi lapang karena plafon atap yang terbuka dengan lantai dua sebagai mezzanine. Pola ini memiliki makna filosofis sebuah perjalanan menuju Sang Khalik yang awalnya penuh perjuangan namun semakin mendekati tujuan akan semakin melegakan.

Masjid Agung Al-Mujahidin dengan empat menara dan kubah hijaunya

Mihrab masjid tampil cukup sederhana dengan ceruk berpola horizontal. Bentuk yang cukup unik mengingat pada umumnya masjid menggunakan pola vertikal meninggi pada bagian ceruk mihrab. Tampilan dalam masjid pun tampak minimalis. Dengan demikian, plafon yang mengikuti kubah utama dengan aksen geometris paduan warna putih, biru, dan kuning mendapat lebih banyak sorotan.

Masjid, yang merupakan ikon religi Kabupaten Lombok Timur, ini digunakan sebagai sarana ibadah sekaligus pusat sosialisasi masyarakat sekitar. Masjid ini pun kerap digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga karena terletak di kawasan taman kota.

Masjid Agung Al-Mujahidin Selong ini menjadi satu dari lima masjid yang mendapatkan program pemberian lampu warna warni untuk menampilkan keindahan dan kemegahanna di malam hari dari kementrian pariwisata. Hal tersebut sejalan dengan program provinsi NTB sebagai daerah tujuan wisata Halal. 

Referensi

simas.kemenag – masjid almujahidin
duniamasjid.islamic-center.or.id – masjid agung almujahidin


Sunday, November 6, 2016

Masjid Agung Al-Kautsari Al-Aziziyah Lombok Barat

Dibangun oleh seorang pengusaha muslim untuk para Santri dan masyarakat muslim Lombok Barat, Masjid Al-Kautsari berdiri megah di tengah komplek Pondok Pesantren Al-Aziziyah Gunung Sari, Lombok Barat, NTB.

Masjid Agung AL - Kautsari Al - Aziziyah adalah masjid megah di dalam komplek lembaga pendidikan Islam Pondok Pesantren Aziziyah yang terletak di Desa Kapek Kabupaten Gunung Sari, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pembangunannya dilakukan sejak tahun 2001 dan diresmikan pada hari Ahad, 25 Maret 2007 oleh DR HM Bhakty Kasry selaku pimpinan PT. Pandu Siwi Sentosa, disaksikan oleh Tuan Guru Mustafa Umar, Ust M Arifin Ilham, Gubernur NTB, H Lalu Serinate dan Ketua DPRD NTB.

Di Ahir Bulan Juli hingga Agustus 2016 yang lalu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXVI, dan Kabupaten Lombok Barat mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah penyelenggaraan salah satu mata lomba bidang tahfidz. Pemkab Lombok Barat menetapkan dua lokasi yakni, Becingah Agung Kantor Bupati Lombok Barat dan Masjid Agung Al-Kautsari Al-Aziziyah di Pondok Pesantren Al-Aziziyah ini.

Masjid Agung AL - Kautsari Al - Aziziyah
Jl. Raya Tanjung, Gn. Sari,
Kabupaten Lombok Barat
Nusa Tenggara Barat 83351


Masjid Agung AL - Kautsari Al – Aziziyah dibangun tiga lantai dengan ukuran 56 x 21 meter, berkapasitas 200 jemaah, dilengkapi dengan dua menara dengan nuansa Masjidil Haram yang sangat kental. Sebagian besar dana untuk pembangunan masjid ini berasal dari Pimpinan PT Pandu Siwi Sentosa (PSS), DR HM Bhakty Kasry. Konon dana yang sudah dikeluarkan sekitar Rp 3.5 milyar.

Uniknya pembangunan masjid yang begini megah ternyata “di-arsiteki” langsung oleh (almarhum) Tuan Guru H. Musthafa Umar, pengasuh pondok pesantren ini. Beliau bukanlah seorang arsitek, dan masjid ini tidak memiliki cetak biru rancangannya. Beliau hanya menggambarkan bentuk masjid yang di-inginkan seperti ornamen bentuknya seperti ornamen Masjidil Haram.

Pusat Aktivitas Pondok Pesantren Al-Aziziyah

Masjid Al-Kautsar Mataram menjadi Jantungnya Pondok Al-Aziziyah, Masjid Al-Kautsar tidak saja digunakan untuk pelaksanaan ibadah mahdlah semata, melainkan juga berbagai aktivitas keilmuan, pembinaan bahasa santri dan kegiatan kemasyarakatan. Di sinilah kehidupan santri dan masyarakat Pesantren Al-Aziziyah berdetak. Dari masjid ini semua bermula, dan ke masjid ini semua kegiatan santri dan masyarakat bermuara.

Jantung Ponpes Al-Aziziyah. Selain sebagai pusat peribadatan, Masjid Al-Kautsari Al-Aziziyah ini menjadi pusat aktivitas rutin di Pondok Pesantren Al-Aziziyah.

Masjid ini tak pernah sepi dari kegiatan para santri yang berjumlah sekitar 1500 orang. Sejak dini, para santri dituntun agar hatinya senantiasa melekat kuat dengan masjid. Ia tidak saja sebagai simbol keagamaan, melainkan sarana yang paling kondusif untuk membina kepribadian santri dari segala dimensinya. Dari masjid semua aktivitas pendidikan dan pengajaran berangkat, khususnya pembinaan mental dan spiritual para

Satu jam sebelum azan Shubuh berkumandang, masjid ini telah riak dengan suara santri membaca Al-Qur’an. Mereka melakukan murajaah dari hafalan yang diperoleh sebelumnya. Tidak itu saja, mereka juga memanfaatkan waktu mustajabah itu untuk mempelajari pelajaran yang akan diajarkan di sekolah pagi harinya. Semua itu dilakukan setelah mereka melakukan shalat tahajjud dan ibadah sunnah lainnya. Sebagai jantung dari Pesantren Al-Aziziyah, sengaja masjid ini didesain untuk bisa menampung para santri dan masyarakat sekitar.

Referensi