Showing posts with label Masjid Tua. Show all posts
Showing posts with label Masjid Tua. Show all posts

Sunday, June 22, 2025

Masjid Besar Taqwa Tompong Warisan Dari Masa Kerajaan Bantaeng

Masjid Besar Taqwa Tompong 
 
Masjid Besar Taqwa Tompong adalah masjid tua yang berdiri kokoh di Kampung Tompong, Kelurahan Letta, kecamatan Bantaeng kabupaten Bantaeng provinsi Sulawesi Selatan. Selain dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Butta Toa (julukan bagi daerah Bantaeng), masjid ini juga menjadi saksi bisu sejumlah pertemuan raja, pemangku adat dua belas, serta aktivitas penyebar agama Islam di Bantaeng, pada masa lalu.
 
Sebagaimana ditulis di papan nama dibagian depan masjid, Masjid Besar Taqwa Tompong dibangun pada 27 Rabiul Akhir 1302 Hijriah bertepatan dengan tanggal 8 Februarui 1885 Masehi pada masa kekuasaan Kerajaan Bantaeng, salah satu kerajaan yang pernah berdiri di Sulawesi Selatan. Masjid Besar Taqwa Tompong ini memiliki peninggalan masa lalu berupa Al-Qur’an tulisan tangan.
 
Masjid Besar Taqwa Tompong
Jl. Bete-Bete, Letta, Kec. Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan 92411
 
 
Sejarah Masjid Besar Taqwa Tompong
 
Masjid Besar Taqwa Tompong bermula dari sebuah langgar yang dibangun tahun 1885 atas prakarsa para pemangku adat dua belas atas persetujuan Raja Bantaeng, Karaeng Panawang (1877-1913), yang merupakan raja pertama BantaengLanggar tersebut menjadi tempat beribadah umat Islam, dan melakukan pengajian, serta kegiatan-kegiatan penyebaran Islam.
 
Tempat ini juga kerap digunakan raja bersama para pemangku adat untuk melakukan pertemuan dan rapat. Langgar tersebut yang kemudian dibangun menjadi Masjid Besar Taqwa Tompong dalam kurun waktu 1887 – 1913.
 
Masjid Besar Taqwa Tompong sebelum dilengkapi kanopi beranda.

Bangunan Masjid ini berdiri diatas tanah wakaf dari La Bandu seorang sudagar
asal Wajo Kabupaten Sengkang yang menetap dan menikah dengan perempuan Bantaeng. Selain mewakafkan tanahnya. La Bandu juga turut mendanai pembangunan masjid ini yang dirancang oleh La Pangewa seorang arsitek yang didatangkan dari Bone oleh La Bandu.
 
Arsitektur Masjid Besar Taqwa Tompong
 
Bentuk dasar bangunan utama Masjid Besar Taqwa Tompong ini mirip dengan Masjid Tua Palopo dan Masjid Al-Hilal Katangka. Bagian yang paling khas dari masjid ini terdapat pada mastaka dipuncak atap masjid yang dihias dengan sebuah guci dari era Dinasti Ming – China.

Bangunan utamanya berdenah segi empat dengan atap limas bersusun tiga. Bangunannya sarat dengan simbol-simbol filosofis, Di dalam masjid ada empat pilar (sokoguru) beton berukuran 80x80cm, berarti empat sahabat Nabi Muhammad saw, yaitu Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab,Usman bin Affan, dan Ali Bin Abu Thalib.
 
Interior Masjid Besar Taqwa Tompong dengan empat pilar beton, mihrab dan mimbar.

Langit-langit masjid memiliki 17 balok rangka menandakan 17 rakaat sholat lima waktu. Lima pintu masjid menyimbolkan lima rukun Islam, dan enam jendela, menyimbolkan enam rukun iman. Sejak dibangun, bentuk masjid yang sarat filosofis tersebut tak pernah diubah.
 
Berdiri di atas lahan 857 meter persegi. Bangunan berukuran panjang 31,5 M x lebar 21 M x Tinggi 16 meter. Terdiri dari tiga lantai. Saat ini lantai  kedua dan ketiga tidak lagi difungsikan. Sebelumnya digunakan sebagai tempat belajar agama dan mengaji bagi anak-anak setempat, dan juga tempat muazin mengumandangkan azan.
 
Tinggalan masa lalu di masjid ini masih terdapat sebuah mimbar khutbah yang terbuat dari kayu bayam berukit dihiasi relief dan kaligrafi yang berasal dari Singapura, lalu juga ada Kitab Suci Al-Qur’an tulisan tangan dan dua perangkat pengeras suara untuk azan yang berbentuk seperti terompet terbuat dari kayu dan besi.
 
Masjid Besar Taqwa Tompong. Kiri atas : atap limas bersusun tiga. Kanan atas : Guci dari era dinasti Ming menjadi mastaka dipuncak atap masjid. Kiri bawah: tangga menuju lantai atas. Kanan bawah : lantai atas masjid yang terbuat dari kayu. 

Untuk mengurangi dampak cuaca dan mencegah kerusakan dan memudahkan perawatan, kini tembok masjid ini ditutup dengan tegel begitupun dengan empat pilar (sokoguru) yang berdiri ditengah ruangan masjid.
 
Dimasa kini masjid Besar Tampong telah dilengkapi dengan sebuah bangunan menara tinggi berdenah segi empat dengan atap juga berbentuk atap limas (kerucut) beberapa corong pengeras suara ditempatkan disana dibawah atap. Sehingga muazin tak lagi menyuarakan azan dari lantai tiga masjid ini.
 
Cagar Budaya
 
Masjid Besar Tampong juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX melalui Surat Keputusan Bupati Bantaeng nomor 410/406/VIII/2019.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
  
Rujukan
 
Arsitektur Masjid Tampong Sebagai Hasil Akulturasi / Sufyan, Jurusan sejarah dan kebudayaan islam fakultas adab dan ilmu budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta:
 

Sunday, June 8, 2025

Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone Takalar

Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone saksi bisu penyebaran Is;lam di Takalar.
 
Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone adalah salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan. Lokasinya berada di Dusun Sanrobone, Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, provinsi Sulawesi Selatan.
 
Lokasinya berjarak sekitar 45 kilometer dari Kota Makassar. Bahkan ada versi cerita mengatakan masjid ini lebih tua dari masjid paling tua yang diakui saat ini, Masjid Tua Katangka (1603 M), di Kabupaten Gowa.
 
Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone
Dusun Sanrobone, Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, provinsi Sulawesi Selatan 92231
 
 
Masjid tua ini berdiri bersebelahan dengan komplek makam raja raja Sanrobone yang berada tepat di sisi selatan masjid menjadi penanda utama bahwa masjid ini memiliki keterkaitan sejarah dengan kerajaan Sanrobone yang pernah ada disana. Sisi barat atau bagian belakang masjid ini juga dipenuhi makam makam tua.
 
Arsitektur Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone
 
Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone diapit oleh dua ruas jalan raya di sisi barat dan timurnya. Sisi timurnya memiliki halaman yang cukup luas tempat dimana pintu utama berada. Masjid ini juga dapat diakses dari ruas jalan disebelah timurnya dengan melalui komplek pemakaman tua dibelakang masjid.
 
Bersebelahan dengan komplek makam para raja Sanrobone. Menariknya cungkup cungkup makam (bewarna putih dekat menara) bentuknya sama persis dengan cungkup makam para raja Gowa di komplek Masjid Tua Al-Hilal Katangka.

Terdiri dari bangunan utama dan satu menara tinggi ditambah dengan area tempat wudhu. Bangunan utama mesjid ini berdenah bujursangkar berukuran 10x10 meter dengan atap limas bersusun tiga sebagaimana bangunan khas masjid masjid Nusantara. Sekilas pandang tak terlihat kekunoan dari bangunan masjid ini mengingat seluruh bangunannya sudah didominasi bangunan beton.
 
Bangunan utama ini kemudian ditambahkan bangunan baru disisi depan-nya (sisi barat) dengan bangunan teras dan beranda menghadap ke pekarangan. berdasarkan rekaman foto foto yang ada, bangunan tambahan tersebut setidaknya ditambahkan setelah tahun 2017.
 
Sisi belakang Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone.

Bangunan utama masjid ini dibangun cukup tinggi dari permukaan tanah dilengkapi dengan enam anak tangga. Struktur atapnya ditopang oleh empat pilar beton (sokoguru) ditengah ruangan masjid. Sebuah mimbar kayu berukir dan sebuah beduk melengkapi masjid ini.
 
Sejarah Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone
 
Menurut penuturan bapak Abdul Rozak pengurus Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone, bahwa sejarah masjid ini dijelaskan didalam sebuah manuskrip berbahasa Makasar diseburkan bahwa pembangunnya adalah seorang pedagang dan ulama dari Minangkabau yang disebut masyarakat setempat sebagai Datu Mahkota atau Sultan Pagaruyung pada sekitar tahun 1012 Hijriah (sekitar tahun 1671-1672 Masehi).
 
Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone tahun 2016 (akun google the viersi)

Pada saat pertama dibangun dengan luas 8 rafa x 8 rafa setara dengan 10x10 meter. Bangunan awalnya satu tiang, kemudian diubah menjadi empat tiang, dan ditahun 1900-an kembali dengan satu tiang dan kini kembali dengan empat tiang. Awalnya tiang masjid ini dari kayu ulin dengan atap dari daun lontar dan daun nipah.
 
Dijelaskan juga bahwa salah satu peninggalan dari era awal masjid ini adalah adanya sebuah sumur untuk menyediakan air bagi jemaah. Sumur tersebut masih digunakan hingga kini dan alhamdulillah airnya tak pernah kering mencukupi untuk kebutuhan jemaah.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Rujukan
 

Saturday, May 31, 2025

Masjid Tuha Gunong Kleng Aceh Barat

Masjid Tuha Gunung Kleng
 
Sesuai namanya, Masjid Tuha Gunung Kleng adalah sebuah bangunan masjid tua di Desa Gunong Kleng kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat provinsi Aceh. Masjid ini berdiri persis di pinggir jalan Meulaboh-Tapak Tuan atau sekitar 8 kilometer dari pusat Kota Meulaboh tepatnya di sebelah kanan jembatan tak jauh dari persimpangan Alue Peunyareng menuju Kampus Universitas Teuku Umar (UTU).
 
Di depan masjid terdapat dua plang yang menjelaskan bangunan tua itu: Situs Cagar Budaya. Namanya Masjid Gunung Kleng, rumah ibadah bersejarah sejak masa Belanda dan Jepang menjajah Aceh. Di sampingnya dilahan yang sama, kini terdapat bangunan masjid baru yang lebih besar dan megah.
 
Masjid Tuha Gunong Kleng
Gunong Kleng, Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Aceh 23681
 
 
Arsitektur Masjid Tuha Gunung Kleng
 
Masjid Tuha Gunung Kleng berbentuk semi permanen bagian bawah dibangun dengan batu bata dan semen sedangkan dinding atasnya dari papan kayu Ketapang (Terminali catappa). Konstruksi bangunan masjid ini seluruhnya dibuat dari kayu, berukuran 12 meter persegi, berdiri di atas lahan sekitar satu hektar.
 
Bangunan masjid ini terdiri dari bangunan induk ditambah dengan teras depan dan satu menara disisi mihrabnya. Bangunan induk beratap limas tumpang dua dengan satu sokoguru tunggal dari kayu merbau (Intsia bijuga) dibagian tengah ruangan masjid. Mustaka di puncak atap bangunan utama masjid tua ini mirip obelisk dihiasi bulatan berhentuk vas dengan tongkat kecil di atasnya.
 
Rancangan unik Masjid Tuha Gunung Kleng.

Teras depan masjid ini dilengkapi tiga atap tumpang, satu atap tumpang bagian tengah dilengkapi dengan kubah bawang sedang dua atap tumpang dikiri dan kanannya dengan atap limas. Menara masjid juga dibangun dari kayu disisi mihrab dilengkapi dengan kubah setengah lingkaran.
 
Sehingga bila seluruh atap tumpang masjid ini juga dianggap kubah maka masjid tuha ini memiliki lima kubah, masyarakat di sana mengenal lima kubah itu sebagai tampong limong yang bermakna lima rukun Islam: dua kalimat syahadat, salat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang mampu.
 
Menurut pengurus Masjid Gunong Kleng sejak berdirinya masjid itu hingga kini sama sekali belum pernah direnovasi. Bentuknya masih sama sejak dibangun dulu. Hanya, pada 2018 bagian atap ada yang diganti karena bocor.
 
Masjid Tuha Gunung Kleng, dengan papan nama Masjid Nurul Hidayah masjid baru beurukuran besar yang dibangun disebelah Masjid Tuha Gunung Kleng.

Interior Masjid
 
Ruangan dalam masjid ini didominasi oleh sokoguru tunggal yang menjadi sokoguru tunggal dan struktur utama penopang atap masjid, serta sisi mihrabnya yang dibuat dari semen terdiri dari tiga cerukan. Ceruk tengah untuk imam, ceruk kiri untuk khatib sedangkan ceruk kanan terdapat tangga sebagai akses muazin ke menara untuk mengumandangkan azan.
 
Sejarah Masjid Tuha Gunung Kleng
 
Berdasarkan penuturan masyarakat, Masjid Tuha Gunung Kleng dibangun sekitar tahun 1923. Pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong masyarakat dan para ulama Gunong Kleng. Di antara para ulama yang membangun masjid tersebut adalah Tengku Arsyad dan Tengku Tayeb.
 
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, tentara Belanda dan Jepang pernah singgah dan istirahat di masjid ini karena mengira bangunan masjid ini merupakan sebuah istana kecil atau tempat Ulee Balang pada masa itu.
 
Ditepian ruas jalan raya Meulaboh - Tapak Tuan.

Saat tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004, bangunan masjid itu tidak ada yang rusak. Hanya, tanah di sisi kiri mimbar amblas serta tongkat khotbah beduk yang dibawa tsunami.
 
Situs Cagar Budaya
 
Meski bangunannya belum berubah, kini Masjid Tua Gunung Klieng tak lagi digunakan untuk salat. Namun warga masih kerap ke sana untuk melepas nazar atau mengikuti pengajian.
 
Untuk aktivitas peribadatan dan lainnya telah dipindahkan ke Masjid Nurul Hidayah Gampong Gunong Kleng, bangunan masjid baru yang lebih refresentatif disebelah bangunan masjid ini. Masjid Tuha Gunung Kleng telah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh sebagai salah satu situs cagar budaya Provinsi Aceh.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Rujukan
 
 

Sunday, May 25, 2025

Masjid Tua Pulau Makian Halmahera Selatan

Masjid Tua di Pulau Makian kabupaten Halmahera Selatan provinsi Maluku Utara dipotret antara tahun 1920-1931.
 
Selembar foto tua koleksi Tropenmuseum negeri Belanda ini berjudul “Moskee op Poelau Makian” atau Masjid di Pulau Makian (Makean) dipotret antara tahun 1920-1931. Pulau Makian merupakan salah satu pulau di gugus kepulauan Maluku.
 
Secara administratif dimasa kini Pulau Makian merupakan bagian dari wilayah kabupaten Halmahera Selatan provinsi Maluku Utara. Dimasa lalu, Pulau Makian merupakan pusat dari kerajaan Bacan tepatnya di Dauri Tahane, sebelum kemudian dipindahkan ke Pulau Bacan.
 
Mesjid Taqwa
Desa Dalam, Kecamatan Pulau Makian
Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara
 
 
Di Desa Dauri Tahane terdapat sebuah masjid tua yang kini dikenal sebagai Masjid Al-Mujahidin Dauri Tahane yang pada 23 Juni 2024 dikukuhkan oleh Sultan Bacan ke-22 Muhammad Irsyad Maulana Sjah sebagai Masjid Sultan Pertama Muhammad Al-Baqir.
 
Namun demikian, berdasarkan informasi dari perbincangan di Maluku Utara Tempo Doeloe di platform milik Meta, disebutkan bahwa masjid tua yang ada di foto ini, dimasa kini dikenal sebagai Masjid Besar Taqwa di desa Dalam, kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara.
 
Sejauh ini kami belum memiliki informasi lebih lanjut tentang masjid ini. Jangan sungkan untuk berbagi informasi dan data bila anda memiliki informasi terkait dengan masjid ini.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
Masjid Agung Baiturrahman Pulau Morotai
Masjid Raya Al-Istiqomah Sanana, Kepulauan Sula
Masjid Gammalamo Jailolo
Masjid Raya Sigi Lamo Jailolo
 

Sunday, May 18, 2025

Masjid Pusaka Al Hamidy Pagutan Kota Mataram

Masjid Pusaka Al-Hamidy, Masjid tua dan bersejarah di kota Mataram Pulau Lombok.
 
Masjid Pusaka Al Hamidy atau Masjid Tua Pagutan adalah bangunan masjid yang awalnya didirikan dan diresmikan oleh TGH Abdul Hamid di daerah Pagutan kota Mataram tahun 1892. Masjid ini merupakan bukti sejarah islam di Kota Mataram pada masa kerajaan Karangasem Bali di Pulau Lombok.
 
Berdasarkan foto dokumentasi tertua masjid ini yang tersimpan di Museum Belanda dipotret antara tahun 1900-1926, bangunan yang kini berdiri sudah jauh berubah dibandingkan bentuknya pada saat itu, meskipun masih dengan pola bentuk yang senada.
 
Masjid Pusaka Al-Hamidy
Jl. Banda Seraya No.9, Lingkungan Presak Timur
Kelurahan Pagutan Barat, Kecamatan Mataram
Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat 83117
 

Bangunan lama masjid ini beratap limas bertingkat dengan satu menara bergaya mamluk, seperti menara lama Masjid Nabawi danbangunan masjid masjid tua di Mesir dan sekitarnya. bangunan masa kininya juga beratap bertingkat namun berdenah persegi panjang, dilengkapi dengan dua bentuk menara disisi mihrab dan sisi timur serta satu menara tinggi menjulang mirip menara Masjidil Haram di kota Mekah.
 
Disebut Masjid Pusaka Al-Hamidy sebagai penghargaan kepada pendiri masjid ini yang juga dikenal luas oleh masyarakat setempat sebagai tokoh penyebar Islam disana. Nama Al-Hamidy diambil dari nama TGH Abdul Hamid, beliau berdakwah di kota Mataram dimasa kekuasaan Kerajaan Karang Asem Bali di Lombok. TGH Abdul Hamid itulah yang mula-mula membangun masjid di Pagutan semasa kekuasaan Raja Lombok, Anak Agung Agung Gde Karang Asem Bali.
 
Dokumen Belanda menyebutnya "Moskee Pagoetan" atau Masjid Pagutan yang dimasa kini dikenal sebagai Masjid Pusaka Al-Hamidy di kota Mataram.

Lingkungan Presak Timur tempat masjid ini berada tak jauh dari kantor Lingkungan Presak Timur, lingkungan yang masih memegang tradisi turun  temurun sejak masa TGS Abdul Hamid, termasuk diantaranya tabunya bagi warga setempat untuk bermain atau menyetel musik. Meski sudah tak seketat dimasa lalu, tradisi dan tabu tersebut masih menjadi salah satu ciri khas lingkungan tersebut dimasa kini.
 
Interior Masjid Pusaka Al-Hamidy. (antara)

Selain mendirikan Masjid, TGS Abdul Hamid juga mendirikan pesantren disekitar Masjid Pusaka Al Hamidy saat ini. Seiring dengan perkembangannya yang cukup pesat beliau kemudian membangun pondok pesantren yang lebih luas di Jurang Satek. 

Setelah melewati dua masa penjajahan Belanda dan Jepang, bahkan sempat diduki tentara jepang dan menjadi korban bom sekutu, pesantren tersebut masih beroperasi sampai saat ini diteruskan oleh anak keturunannya.*** 
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
Baca Juga
 
Masjid Jami’ Al Umari Kelayu Selong Lombok Tengah
 
Rujukan
 
 

Sunday, May 4, 2025

Masjid Subulussalam Nyatnyono Saksi Bisu Penyebaran Islam di Lereng Gunung Ungaran

Masjid Subulussalam Nyatnyono, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
 
Masjid Subulussalam ini berada di desa Nyatnyono kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang provinsi Jawa Tengah. Disebut sebut merupakan masjid tua peninggalan Syekh Hasan Munadi. Tokoh penyebar Islam di Ungaran yang diyakini hidup sejaman dengan masa awal berdirinya Kesultanan Demak.
 
Bangunan masjid yang kini berdiri telah melewati beberapa kali renovasi dan pembangunan kembali. Bagian yang tersisa dari bangunan awal berupa empat sokoguru dari kayu yang ditempatkan ditengah tengah ruangan sholat utama, serta momolo yang kini ditempatkan dibagian atas sokoguru tersebut.
 
Lokasi Masjid Subulussalam Nyatnyono
Nyatnyono, Kec. Ungaran Bar., Kabupaten Semarang, Jawa Tengah 50551
 
 

Selain sokoguru dan momolo, ada dua benda lagi yang disebut sebut sebagai peninggalan asli dari Syekh Munadi yakni tongkat khatib untuk khutbah Jum’at dan mimbar asli yang disimpan oleh pengurus masjid.
 
Bangunan masjid ini berupa bangunan masjid dari beton tiga lantai memiliki sebuah menara di sayap kanannya. Atap bangunan utama dan atap menaranya berupa atap limas bersusun khas Masjid Indonesia.
 
Sejarah Masjid Subulussalam
 
Tidak ada catatan tertulis tentang sejarah masjid ini maupun sejarah perjalanan Syeikh Hasan Munadi yang diketahui juga memiliki nama lain sebagai Raden Bambang Kartonadi. Kisah sejarahnya dituturkan turun temurun secara lisan dari generasi ke generasi. Sehingga memang agak sulit untuk memvalidasinya.
 
Interior Masjid Subulussalam Nyatnyono, tampak Sokoguru asli bewarna gelap disebelah kiri dan mihrabnya disebelah kanan (muria.tribunnews)


Namun dari kisah tutur yang ada, dapat disimpulkan bahwa Syekh Munadi merupakan tokoh penyebar Islam di daerah tersebut. Beliau diyakini hidup sejaman dengan masa awal kesultanan Demak, semasa hidupnya beliau pernah mengabdi di kesultanan Demak sebagai salah seorang punggawa berpangkat Tumenggung yang bertugas menjaga kewibawaan kesultanan Demak dari rong-rongan kelompok yang hendak membuat onar. Kemudian beliau memutuskan untuk berdakwah dan menetap di lereng gunung Ungaran, membangun masjid dan pesantren.
 
Lebih Tua Dari Masjid Agung Demak ?
 
Kisah tutur menyebutkan bahwa masjid ini lebih tua dari Masjid Agung Demak, namun alur ceritanya sedikit rancu. “Dugaan usia” masjid ini disandarkan pada kisah kayu sokoguru masjid ini. Konon Syekh Hasan Munadi siap terlibat dalam pembangunan masjid Agung Demak namun beliau meminta syarat yakni
 
Salah satu soko yang hendak dibuat untuk Masjid Agung Demak, dikirim ke Ungaran. Sebab saat itu, Hasan Munadi tengah membangun sebuah masjid untuk tempat pembelajaran agama Islam bagi masyarakat di kaki Gunung Ungaran. Permintaan ini disanggupi Sunan Kalijaga dan langsung dikirim para prajurit Kesultanan Demak Bintoro kala itu." Dan tidak disebutkan apa keterlibatan Syekh Munadi dalam pembangunan Masjid Agung Demak.
 
Berdasarkan prasasti Bulus didalam mihrab Masjid Agung Demak diketahui bahwa Masjid Agung Demak dibangun pada tahun 1477 Masehi. Dibangun di lokasi yang sebelumnya sudah berdiri Masjid dan Pesantren Sunan Ampel yang sudah berdiri sejak tahun 1466 Masehi. Demak baru diproklamirkan sebagai Kesultanan merdeka dari Majapahit oleh Raden Fatah pada tahun 1478 Masehi.
 
Momolo asli Masjid Subulussalam ditempatkan diatas sokoguru asli ditengah rungah sholat Masjid Subulussalam Nyatnyono (regonal.kompas).

Bila Sokoguru dimaksud dikirim para prajurit Kesultanan Demak Bintoro ke Ungaran, maka berarti pengiriman dilakukan setelah Demak berdiri sebagai sebuah Kesultanan ditahun 1478, dan saat itu dipastikan Masjid Agung Demak sudah berdiri lebih dulu ditahun 1477.
 
Sejarah populer memang menyebutkan bahwa Sokotatal di Masjid Agung Demak dibuat oleh Sunan Kalijaga dari serpihah kayu dari tiga sokoguru lainnya, namun dari berbagai kisah tutur populer dapat disimpulkan hal tersebut dilakukan lebih karena memang kekurangan bahan kayu jati utuh ukuran yang setara dengan tiga sokoguru lainnya, bukan karena ‘sengaja’ salah satunya dikirimkan ke tempat lain atas persetujuan Sunan Kalijaga.
 
Kemungkinan Pernah dipugar di Jaman Penjajahan Belanda ?
 
Kisah tutur juga menyebutkan bahwa sokoguru masjid ini awalnya hanya satu lalu dibelah menjadi empat untuk menghindari dikultuskan atau disembah, pembelahan menjadi empat tersebut dilakukan dijaman Belanda. Pada saat proses pembelahan, pelangi muncul diatas masjid ini sehingga mengundang kecurigaan tentara Belanda.
 

Sesuai dengan namanya, sokoguru atau tiang utama merupakan struktur utama bagi sebuah masjid kayu yang menjadi penopang utama seluruh struktur atap bangunan. Bila awalnya sokogurunya hanya satu kemudian dibelah menjadi empat, maka kemungkinan terbesarnya adalah pada saat itu terjadi proses pemugaran atau renovasi besar terhadap bangunan masjid ini.
 
Sokoguru asli Masjid Subulussalam Nyatnyono kini ditempatkan ditengah ruangan sholat, dibungkus dengan kayu jati berukir. Kayu aslinya dapat dilihat dari bagian atas seperti pada foto sebelumnya (regional.kompas).

Atau bisa jadi sebenarnya masjid ini memang baru dibangun dimasa penjajahan Belanda, sehingga memang sangat masuk akal proses pembangunan-nya mengundang kecurigaan tentara Belanda, apalagi sosok Syekh Hasan Munadi memang dikenal sebagai tokoh penyebar Islam disana.
 
Keseluruhan kisah tutur tersebut menjadi lebih rancu mengingat sumber lain (Humas Pengurus Makam) mengatakan bahwa Syekh Hasan Munadi merupakan seorang pendakwah yang datang dari Kerajaan Mataram. Mungkin yang dimaksud adalah Kesultanan Mataram atau juga populer disebut Mataram Islam, untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Hindu / Kerajaan Medang.
 
Garis waktu berdirinya Kesultanan Mataram teramat jauh setelah sejarah keberadaan Kesultanan Demak. Dan Belanda memang sudah hadir di tanah Jawa pada masa Kesultanan Mataram. Sejarah mencatat Mataram beberapa kali melakukan penyerbuan terhadap benteng Belanda (VOC) di Batavia. Wallahuwa’lam bisshowab.
 
Objek Wisata Rohani
 
Dalam menjalankan syiar Islam nya, Syeikh Hasan Munadi dibantu oleh anaknya yang bernama Syekh Hasan Dipuro. Kini, makam ayah dan putranya ini selalu ramai dikunjungi peziarah, dari Semarang hingga luar provinsi dan luar Jawa.
 
Pengelolaan masjid ini dilakukan oleh keturunan Syeikh Hasan Munadi termasuk pengurusan komplek makam Syekh Hasan Munadi. Dikomplek masjid ini masih berdiri madrasah diniyah atau tempat pembelajaran agama dan sendang (telaga) yang diberi nama sendang kalimah toyyibah.
 
Pengunjung ramai datang kesini setiap menjelang bulan Ramadhan, mereka mengunjungi masjid, sendang, ziarah kubur, dan haul yang yang diisi dengan mujahadah, sema'an quran dan pengajian akbar.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
Baca Juga
 
 
 
Rujukan
 


Sunday, October 9, 2022

Masjid Al-Anshor Pekojan, salah satu masjid tertua di Jakarta

 

Masjid Al Anshor Pekojan antara tahun 1910-1921 pada saat lingkungan disekitarnya belum sepadat saat ini (foto dari tropenmuseum diwarnai oleh IG @rajakelir)

Masjid Al-Anshor dibangun pada tahun 1684M, kurang dari 30 tahun setelah Belanda Membungihanguskan Jayakarta dan mendirikan Batavia, menjadikannya sebagai masjid tertua di kawasan Pekojan, lebih tua dari Masjid Jami’ Annawier (1760), Masjid Langgar Tinggi (1829), Masjid Azzawiyah (1812) dan Masjid Raudah (1905) yang semuanya merupakan masjid masjid tua Jakarta di Kawasan Pekojan.
 
Setelah melewati rentang waktu lebih dari 3 abad, masjid Al-Anshor kini sulit untuk dapat dikenali fisik bangunannya karena sudah terhimpit diantara bangunan bangunan hunian yang semakin rapat disekitarnya. Jalan akses menuju ke masjid ini hanya berupa gang kecil untuk pejalan kaki. (artikel lengkapnya baca disini)
.
Baca Juga
 
Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)
Masjid Jami’ Fatahillah Blok B Pasar Tanah Abang
Masjid Al Arqom, Blok A Pasar Tanah Abang
Masjid Raya Al 'Arief Jagal Senen Jakarta Pusat
Masjid Jami’ Kampung Baru Pekojan Jakarta
Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, Jakarta Utara
 


Sunday, July 28, 2019

Masjid Agung Nurul Islam Kota Sawahlunto

dibangun dari bekas pembangkit listrik tenaga uap, Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan

Masjid Agung Nurul Islam adalah masjid agung di kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Ditilik dari usia bangunannya masjid ini adalah salah satu masjid tertua di Indonesia, lokasinya berada di Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, provinsi Sumatra Barat. Lokasinya berjarak sekitar 150 meter dari Museum Kereta Api Sawahlunto.

Bangunan masjid ini pertamakali dibangun pada masa penjajahan Belanda ditahun 1894 sebagai gedung pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dan berubah fungsi menjadi masjid sejak tahun 1952. Menaranya yang setinggi 85 meter itu dulunya adalah cerobong asapnya kemudian dijadikan sebagai menara dengan tambahan kubah setinggi 10 meter.

Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto
Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar
Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, Indonesia



Kota Sawahlunto di Sumatera Barat dikenal sebagai kota wisata. Kota tua yang mulai didirikan pada tanggal 1 Desember 1888, seiring dengan ditemukannya tambang batubara di daerah itu di masa penjajahan Belanda. Explorasi batubara mulai dilakukan oleh Belanda pada tahun 1892. Kota ini berkembang menjadi pusat pertambangan. Infrastuktur kota dibangun sejak masa itu termasuk fasilitas pembangkit tenaga listrik, jalur kereta api, pemukiman dan sebagainya.

Perkembangan kota ini sempat seakan mati manakala penambangan batubara dihentikan. Kini kota tua Sawahlunto dikenal luas sebagai kota wisata, salah satu yang terbaik di Indonesia. Peninggalan masa lalu termasuk lorong lorong panjang tambang tambang bawah tanah seakan berkisah dalam sepi tentang perihnya penderitaan para pekerja paksa yang diperah tenaganya oleh penguasa Belanda untuk mengorek batubara dari perut bumi Sawahlunto.

DULU & KINI. Foto sebelah kiri adalah bangunan asli Masjid Agung Sawahlunto dimasa penjajahan Belanda berupa gedung pembangkit listrik tenaga Uap. Perhatikan cerobong asapnya yang kini berubah menjadi menara masjid pada foto sebelah kanan.

Masjid di Bekas PLTU

Pertumbuhan infrastruktur di Kota Sawahlunto yang dipicu oleh aktivitas pertambangan batu bara mengalami perkembangan pesat pada akhir abad ke-19. Eksploitasi batu bara mendorong masuknya transformasi teknologi uap ke Sawahlunto.

Sejalan dengan itu, untuk dapat menggerakkan berbagai mesin listrik pemerintah Hindia Belanda membangun pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dengan memanfaatkan aliran Batang Lunto di Kubang Sirakuak pada tahun 1894. PLTU ini menjadi PLTU pertama di Sawahlunto.

Cerobong asap yang sama, di foto kiri jelas terlihat cerobong asap PLTU dengan asap nya yang membubung, Dan di foto sebelah kanan cerobong tersebut difungsikan menjadi menara masjid. 
PLTU Mudik Air merupakan tempat penggerak utama peralatan dan mesin – mesin pertambangan, sumber penerangan kota, gedung, kantor serta rumah – rumah warga Sawahlunto. Namun mengingat debit air sungai yang berada di pinggir PLTU tersebut kian berkurang, pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun PLTU pengganti di Salak, Talawi pada tahun 1924 yang memanfaatkan aliran Batang Ombilin.

Bangunan PLTU di Kubang Sirakuak yang sudah tidak berfungsi lagi sempat dijadikan sebagai tempat perlindungan dan perakitan senjata oleh para pejuang kemerdekaan di Sawahlunto Pada masa Agresi Belanda I dan II, Pada saat mengalami peralihan fungsi banyak ditemukan sisa – sisa amunisi pada banker tersebut dan kini amunisi tersebut disimpan sebagai koleksi Museum Goedang Ransoem Sawahlunto.

Ekterior dan Interior Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto. 
Bangunan bekas PLTU itu pernah juga sebagai rumah hunian pekerja tambang batu bara Ombilin, sampai akhirnya berubah menjadi masjid sejak tahun 1952 dengan nama Masjid Agung Nurul Islam. Bekas cerobong asapnya yang kini sudah berubah menjadi menara tampak indah dimalam hari dengan cahaya cahaya lampu yang dipasang disana.

Bangunan utama masjid ini berukuran 60 × 60 meter dan memiliki lima kubah terdiri dari satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah dengan ukuran yang lebih kecil. Di bawah bangunan masjid terdapat lubang perlindungan yang sempat dipakai untuk tempat merakit senjata, granat tangan, dan mortir. Saat ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid berlantai dua ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat sekitar.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga