Friday, June 29, 2012

Yordania Cemas Kesepakatan Israel-Vatikan


Zionis Bangun Museum dekat Masjid Aqsha Ummat Islam diminta waspadai aksi Zionis meng-Yahudikan wilayah di sekitar masjidil Aqsha

Departemen Luar Negeri Yordania mengungkapkan kecemasan Yordania atas berita baru-baru ini tentang perundingan yang terjadi antara Vatikan dan entitas Zionis Israel untuk menandatangani kesepakatan yang mengatus hak-hak dan urusan tempat-tempat suci Kristen di kota suci al Quds.

Jurubicara Departemen Luar Negeri Yordania, Shabah Rafi’i, dalam pernyataan pers hari Rabu (27/06/2012), mengatakan bahwa Menlu Yordania Nasher Jauda telah memanggil Dubes Tahta Suci Vatikan di Amman dua hari yang lalu. Menlu Yordan mengungkapkan kepada dubes Vatikan tentang kecemasan Yordania terhadap perundingan tersebut.

“Menlu Jauda telah menyampaikan kepada dubes Vatikan bahwa kesepakatan yang akan ditandatangani antara Vatikan dan entitas Zionis Israel terkait masalah pajak dan harta milik geereja bisa ditafsirkan bahwa itu adalah pengakuan secara implisit dari Vatikan akan kedaulatan Zionis atas al Quds Timur,” ujar Shabah dikutip Information Palestine Centre (PIC).

Shabah menyatakan bahwa Departemen Luar Negeri Yordania telah meminta dari dubes Vatikan agar menyampaikan rincian draf perjanjian secara kepada Yordania. Dia menegaskan sikap Yordania yang menolak setiap langkah yang menyerang identitas al Quds Timur sebagai tanah pendudukan.

Pusat Yahudi di Masjid Al-Aqsha

Sementara itu, Yayasan wakaf dan warisan al-Aqsha (AFEH) mengungkapkan, penjajah Zionis telah menyetujui pendanaan sekitar empat juta shekel (lebih dari US$1 juta) untuk membangun sebuah pusat Yahudi.

Tempat itu akan dinamakan museum audio visual dan dibangun di pintu masuk Wadi Hilweh, hanya beberapa meter dari selatan Masjid al-Aqsha. Yayasan tersebut menambahkan, tempat itu juga akan membangun sebuah sumur dengan kedalaman tujuh meter.

Seperti Sahabatalaqsha.com, museum akan terhubung dengan jaringan terowongan yang digali penjajah Zionis di bawah Masjid al-Aqsha.

Proyek ini merupakan bagian dari rencana pembangunan tujuh bangunan ‘Talmudik’ Yahudi di sekitar masjid al-Aqsha. Penjajah Zionis telah melakukan penggalian yang luas untuk membangun museum itu.

Disebutkan juga bahwa Zionis ‘Israel’ mencegah kru dari yayasan untuk mengunjungi wilayah itu selama kunjungan lapangan mereka. Penjajah Zionis beralasan daerah itu bukan area publik.

Yayasan Wakaf al-Aqsha memperingatkan ummat Islam agar mewaspadai peningkatan rencana dan aksi Zionis untuk meng-Yahudikan wilayah di sekitar masjid al-Aqsha.*


Masjid Besar Al-Mahmudiyah Palembang, Klasik dan Tradisional (4-habis)


Masjid Besar Suro, Palembang

Pada masa perang kemerdekaan, para pejuang Indonesia kerap menjadikan masjid sebagai markas perjuangan rakyat melawan penjajah. Demikian pula halnya dengan Masjid Besar Al-Mahmudiyah Palembang ini.

Masjid ini seringkali dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para pemuda dan pejuang-pejuang yang tergabung dalam BPRI (Badan Pelopor Republik Indonesia). Dan kini, setelah masa kemerdekaan, masjid dijadikan sarana pembinaan umat.

Masjid yang turut menjadi saksi perjuangan masyarakat Palembang dalam melawan penjajah ini, kini dimanfaatkan para remaja masjid untuk meningkatkan keimanan dan pembinaan akhlak generasi muda.

Para remaja masjid yang tergabung dalam Ikatan Remaja Masjid (IRMA) Al-Mahmudiyah, menjadikannya sebagai markas 'perjuangan' dalam membina umat. IRMA Al-Mahmudiyah yang terbentuk sejak 1990 ini, telah beberapa kali melakukan pergantian kepengurusan.

Sejak dibentuk hingga saat ini IRMA telah banyak menghasilkan prestasi dalam bidang keagamaan, seperti juara II lomba cerdas cermat (1991), juara III lomba kaligrafi (1992), juara II MTQ, dan juara I lomba pidato Islam (1995). Beberapa kegiatan lain yang dilaksanakan secara rutin adalah pengajian Alquran dan barzanji dari rumah ke rumah.

IRMA juga telah membentuk lembaga pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK) dan Taman Pendidikan Alquran (TPA). TK dan TPA tersebut kini memiliki lebih dari 100 orang santri/murid.

Meski usianya sudah terbilang tua, namun Masjid Al-Mahmudiyah tidak pernah lelah dalam membina umat. Ini terlihat dari jumlah jamaah shalat lima waktu yang tidak pernah sepi. Disamping itu, pada setiap malam Senin dan Sabtu diadakan pengajian dan ceramah agama oleh ulama terkemuka Kota Palembang.


Masjid Besar Al-Mahmudiyah Palembang, Klasik dan Tradisional (3)


Masjid Besar Suro, Palembang

Tak seperti masjid-masjid masa kini yang dibangun semegah dan semewah mungkin, Masjid Suro yang kini bernama Al-Mahmudiyah itu, masih tetap tampak klasik dan tradisional dengan atap layaknya bangunan rumah-rumah penduduk.

Begitu juga dengan bangunan menaranya yang tampak kokoh berbentuk lancip pada ujungnya. Bentuk menara yang demikian itu, menambah kesan klasik masjid ini.

Bahkan, bila masjid-masjid lainnya menggunakan kubah berbentuk bundar dan pipih, kubah Masjid Besar Al-Mahmudiyah ini justru hanya berbentuk tajuk limas dengan mustaka dan kubah dari aluminium. Simbol ini menandakan arsitektur masjid ini terpengaruh oleh masjid-masjid di Jawa, seperti Masjid Agung Demak.

Dari luar, masjid ini tampak biasa-biasa saja. Bahkan, menurut warga setempat, masjid ini seperti kurang terawat.

Namun demikian, pada bagian dalam, masjid ini tampak begitu indah, kendati dinding-dindingnya masih berupa beton semen. Luas bangunan masjid yang berukuran 40 X 30 meter persegi ini, mampu menampung jamaah hingga sekitar 1.000 orang.

Peninggalan sejarah
Dengan usianya yang terbilang sudah lebih dari satu abad, Masjid Besar Al-Mahmudiyah kini menyimpan berbagai benda peninggalan sejarah. Di antaranya beduk, sokoguru (tiang) untuk penyangga masjid, kolam tempat berwudhu, serta mimbar tempat makam Kiai Delamat.

Keberadaan kolam tempat berwudhu di Masjid Al-Mahmudiyah ini juga menyimpan cerita unik. Menurut cerita yang berkembang luas di masyarakat, air kolam tempat berwudhu ini berasal dari empat mata air yang mengalir terus.

Meski bagian dasar kolam tersebut sudah dirombak dari sebelumnya masih berupa tanah menjadi sebuah kolam permanen dengan bagian dasar menggunakan keramik, namun masih terdapat rembesan dari keempat mata air tersebut.

Cerita lain yang berkembang seputar keberadaan kolam tersebut adalah air yang berasal dari kolam ini dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Karenanya, banyak di antara pengunjung yang singgah di sana tidak lupa membawa pulang air dari kolam ini untk dijadikan obat. Wallahua'lam.



Masjid Besar Al-Mahmudiyah Palembang, Klasik dan Tradisional (2)


Masjid Besar Suro, Palembang

Kiai Delamat akhirnya menetap di Dusun Sarika hingga wafatnya dan dimakamkan di Masjid Babat Toman, Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan.

Namun, oleh anaknya, KH Abdul Kodir dan KH Muhammad Yusuf, jenazah Kiai Delamat dipindahkan kembali ke Palembang dan dimakamkan di belakang mimbar khatib.

Tetapi, karena tidak disetujui oleh pemerintah kolonial, akhirnya jenazahnya dipindahkan kembali ke Pemakaman Jambangan di belakang Madrasah Nurul Falah, Kelurahan 30 Ilir, Palembang.

Menurut keterangan, Kiai Delamat lahir di daerah Babat Toman. Setelah dewasa ia pindah ke Palembang dan berdomisili di daerah Lawang Kidul, tepatnya di Masjid Lawang Kidul. Ketika masih remaja, Kiai Delamat pernah mengajar di Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis, bersama Kiai Muara Ogan.

Semasa hidupnya, Kiai Delamat tidak mempunyai satu rumah pun kecuali masjid-masjid yang dibangunnya. Antara lain Masjid Pulau Panggung, Masjid Fajar Bulan, Masjid Babat Toman, dan Masjid Pulau Sambi. Sedangkan, di Kota Palembang ia membangun Masjid Suro (Al-Mahmudiyah-Red) dan Masjid Rohmaniyah yang terletak di Kelurahan 35 Ilir, Palembang.

Dibongkar Belanda
Sepeninggal Kiai Delamat, kegiatan di masjid ini menjadi berkurang. Dan lama kelamaan akhirnya masjid ini dibongkar Belanda. Pemerintah kolonial ini juga melarang diselenggarakannya ibadah di tempat tersebut, selama lebih kurang 36 tahun. Namun, setelah kepengurusan diserahkan kepada Kiai Khotib, bangunan masjid ini kembali difungsikan.

Setelah Kiai Khotib meninggal dunia maka sekitar tahun 1343 H/1919 M diadakan pertemuan antara pemuka agama dan masyarakat di Kelurahan 30 Ilir untuk membentuk kepengurusan masjid yang baru, atas prakarsa Kiai Kiemas H Syeikh Zahri. Maka, terpilihlah kepengurusan baru yang diketuai oleh HM Ali Mahmud.

Di masa kepengurusannya, pada 1920 masjid ini mulai dibongkar untuk diperbaiki. Satu hal yang dipertahankan adalah tiang penyangga masjid yang terbuat dari kayu bulat tinggi dan lebar. Dalam buku Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia disebutkan, kendati sudah berusia satu abad lebih, namun tiang penyangga masjid ini sampai hari ini masih tetap berdiri kokoh.

Selanjutnya, pada 1925 pengurus Masjid Suro membangun menara masjid. Dan sejak saat itu masyarakat diperbolehkan kembali shalat Jumat oleh pemerintah kolonial yang berkuasa saat itu. Kemudian pada 1928 M, dilakukan penyempurnaan pada bangunan tambahan berupa sumur untuk berwudhu.


Masjid Besar Al-Mahmudiyah Palembang, Klasik dan Tradisional (1)


Masjid Besar Suro, Palembang

Bila pergi ke Palembang, Sumatera Selatan, dengan tujuan berwisata atau lainnya, mampirlah ke Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II.

Di kelurahan tersebut, terdapat sebuah masjid yang berusia lebih dari satu abad, dan hingga kini masih kokoh berdiri, dengan bentuknya yang masih serupa dengan awal pembangunannya.

Namanya Masjid Besar Al-Mahmudiyah. Dan kalaupun ada yang berubah dari masjid tersebut, itu hanya sebagian saja seperti menaranya, keramik, dan dinding masjid yang dilapisi dengan bahan-bahan yang terbaik.

Sebelum bernama Masjid Besar Al-Mahmudiyah, dulunya masjid ini bernama Masjid Suro. Nama ini disematkan sesuai dengan nama jalan tempat masjid tersebut didirikan, yaitu Jalan Ki Ranggo Wiro Sentiko Simpang Suro.

Dari Kota Palembang, lokasi masjid ini berjarak sekitar satu kilometer. Nama ini dulunya diberikan oleh KH Abdurrahman Delamat bin Syarifuddin, bersama dengan sahabatnya Kiai Ki Agus H Mahmud Usman (Kiai Khotib). Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan kepengurusan masjid, akhirnya pada 2001, masjid ini diberi nama Masjid Besar Al-Mahmudiyah.

Masjid Suro ini didirikan oleh KH Abdurrahman Delamat pada 1889, dan selesai pada 1891 Masehi. Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya, masjid ini juga didirikan dengan tujuan untuk memudahkan masyarakat melaksanakan ibadah kepada Allah.

Disamping itu, karena keterbatasan lembaga pendidikan, maka masjid juga dipergunakan untuk menimba ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama oleh masyarakat setempat kepada Kiai Delamat.

Besarnya minat masyarakat untuk menimba ilmu agama, membuat penjajah Belanda merasa khawatir kegiatan keagamaan tersebut akan berkembang menjadi sebuah upaya menentang dan memberontak melawan Belanda.

Karena itu, pemerintah Hindia Belanda tidak menghendaki hal tersebut terjadi. Kepala Residen Belanda waktu itu, meminta agar kegiatan tersebut dihentikan. Namun, Kiai Delamat tetap melaksanakan tugasnya menyampaikan dakwah Islam pada masyarakat setempat.

Akhirnya, Kiai Delamat dipanggil oleh Kepala Residen dan diperingatkan untuk tidak lagi menyebarkan Islam. Bersama itulah keluar larangan menyelenggarakan shalat Jumat di masjid tersebut. Dan Kiai Delamat diperintahkan untuk meninggalkan Kota Palembang karena dianggap membahayakan Pemerintah Hindia Belanda.

Kuatnya desakan Pemerintah Hindia Belanda, dengan terpaksa Kiai Delamat harus meninggalkan masjid ini dan berpindah ke lain tempat.


Thursday, June 28, 2012

Muslim Kanada Mengubah Gereja Menjadi Masjid


Holy Redeemer Church Sydney, Nova Scotia

Umat Islam di kota Sydney propinsi Nova Scotia, Kanada, pada bulan September 2010 lalu telah membeli sebuah gedung gereja milik Paroki Suci Sang Penebus (Holy Redeemer Church) untuk di ubah menjadi sebuah masjid bagi umat Islam disana, sebagaimana dirilis oleh situs Kanada cbc.ca.

Gereja bernama Gereja Katholok Roma Antigonish (The Antigonish Roman Chatolic) tersebut telah ditutup oleh paroki setempat karena ketiadaan jemaah yang menghadiri peribadatan di gereja tersebut, dalam artian bahwa pihak gereja tidak lagi membutuhkan bangunan tersebut.

Bangunan gereja tak terpakai tersebut kemudian dibeli oleh sekitar 30-an keluarga muslim yang sebelumnya melaksanakan peribadatan di berbagai tempat tempat di kota Syney yang mereka sewa untuk dijadikan tempat sholat berjamaah dan aktivitas umat lain nya.

Serangkaian renovasi dilaksanakan untuk mengubah gereja tersebut menjadi sebuah masjid termasuk mengubah atap dan interiornya disesuaikan dengan ekterior dan interior masjid.

Abdul Atiyah, seorang dokter muslim dan pemimpin komunitas muslim setempat mengatakan bahwa, “memiliki sebuah tempat peribadatan permanen akan memperkokoh ikatan antar umat Islam disana”.

Masjid baru itu nanti nya akan tentu saja akan menjadi tempat permanen bagi penyelenggaraan sholat lima waktu berjamaah, tempat pertemuan dan pendidikan agama bagi anak anak serta menjadi masjid pusat peribadatan yang dengan mudah dijangkau oleh muslim di kawasan Whitney Pier.

Seperti di katakan oleh Atiyah bahwa ada banyak muslim yang bekerja di daerah tersebut di sektor layanan kesehatan namun selama ini mereka tak memiliki tempat layak untuk melaksanakan ibadah sholat.

Masjid batu itu menjadi suatu hal yang luar biasa bagi para profesional yang tinggal di kawasan itu, mengingat selama ini banyak muslim yang sebelumnya tinggal disana merasa tidak betah karena ketiadaan masjid, ketiadaan tempat bagi putra putri mereka mengekspresikan budaya keislmanan mereka.

Irshaad Sardiwalla, salah satu jemaah muslim setempat memberikan komentar sederhana dengan mengatakan bahwa keberadaan masjid di Sydney akan menjadi daya tarik tersendiri bagi muslim manapun untuk datang ke Cape Breton.

“banyak orang datang dari berbagai negara dan ingin rahu” “apakah disini ada masjid?” ujarnya. “bila disini ada masjid, mereka akan betah disini” tukasnya.

Uskup Vincent Waterman, kepala gereja Ortodok Afrika di kawasan itu menyambut baik kehadiran masjid baru yang merupakan konversi dari gereja tak terpakai itu.

“ini merupakan hal luar biasa yang pernah saya dengar sepanjang hidup saya” ujarnya “sebagai sebuah tempat peribadatan saya menyambut baik hal tersebut, bilamana anda mulai mengakar dalam sebuah komunitas itu pertanda bahwa anda akan menetap, dan anda sudah menancapkan akar anda disini”

Masjid baru tersebut diresmikan penggunaannya setahun kemudian

Tuesday, June 26, 2012

Islam di Portugal

Masjid Agung Lisabon / Mesquita Central de Lisboa
simbol eksistensi Islam di Portugal 


Islam Pernah 'Menguasai' Portugal Bila ditarik lebih ke belakang, Islam dan Portugal sebenarnya memiliki sejarah yang panjang. Dan, sejarah itu berkaitan erat dengan penguasaan kaum Muslimin di Andalusia antara abad 7 dan 8 M. Situs wikipedia menyebutkan, tentara Islam pernah menaklukkan Portugal di bawah pimpinan panglima Musa bin Nashir. Kaum Muslim kemudian menyebut wilayah itu al Garb al Andalus (Andalusia Barat).

Penguasaan ini diteruskan oleh Abdul Aziz, putra Musa bin Nashir. Di bawah kendalinya, tentara Islam secara bertahap menaklukkan kawasan yang lebih luas sehingga Portugal takluk. Menurut situs historymedren, wilayah itu lantas dibagi dua oleh tentara Islam, yakni yang berada di sepanjang Sungai Duoro dan Sungai Tagus. Kawasan di Sungai Duoro beriklim dingin serta sulit membuka lahan perkebunan, dan ini tidak disukai kaum Muslim. Ini berbeda dengan wilayah Sungai Targus yang suhunya lebih hangat serta tanahnya subur.

Kaum Muslim kemudian mengonsentrasikan keberadaan mereka di sini dan selanjutnya 'menghidupkan' kota-kota yang ada. Sebagian penduduk setempat pun beralih ke agama Islam. Dan, oleh pemerintah kekhalifahan, beberapa tokoh masyarakat (yang menjadi mualaf) diangkat menduduki jabatan di tingkat lokal. Meski demikian, kaum Muslimin tetap memberikan kebebasan bagi penduduk yang beragama non-Muslim. Orang-orang Yahudi tidak diusik, bahkan diberikan peranan penting pada sektor perdagangan dan ekonomi.

Berangsur, wilayah al Garb al Andalus tumbuh dengan pesat di berbagai bidang. Sekolah-sekolah yang mempelajari ilmu pengetahuan umum dan agama banyak didirikan, ladang pertanian memberikan panen memuaskan, irigasi dibangun di banyak tempat dan sebagainya. Pendek kata, kemakmuran tercipta. Tak hanya itu, umat Islam juga mengenalkan seni arsitektur dan kaligrafi yang bernilai tinggi, dan hal tersebut diterapkan pada sejumlah bangunan.

Bahasa Arab digunakan dalam komunikasi sehari-hari, baik di kota maupun di desa. Sejarawan termuka, Al Idrisi, mengisahkan, ketika itu penduduk Kota Selpa yang non-Muslim sekalipun, berbicara dengan bahasa Arab. ''Pengaruh itu masih bisa dirasakan hingga kini, di mana terdapat sekitar 600 kosakata Arab yang diadopsi ke dalam bahasa Portugis,'' urai situs historymedren .

Selama 250 tahun situasi kondusif berlangsung. Sampai memasuki paruh abad ke-11, para penguasa lokal yang merasa sejahtera, tidak lagi setia kepada kekhalifahan. Mereka membentuk raja-raja kecil, seperti di Badajoz, Merida, Lisbon, dan Evora. Perpecahan terjadi. Situasi tersebut membuka peluang bagi kaum Visigoth Kristen yang selama ini hidup di kawasan pegunungan untuk berkonsolidasi. Mereka lantas melakukan ofensif dan berlanjut hingga lepasnya kekuasaan Islam di Andalusia.

Masuknya Kembali Islam ke Portugal

Portugal atau Portugis dikenal secara luas di buku buku sejarah Nasional Indonesia sebagai salah satu negara kolonial yang pernah menguasai sebagian dari wilayah Nusantara di masa lalu. Selain wilayah Nusantara, Portugal juga pernah menjajah beberapa negara di bagian bumi yang lain. Ketika masa kolonialisme berahir, Portugal memiliki kedekatan dengan negara-negara bekas jajahannya. Banyak penduduk negara jajahan yang bermigrasi ke Portugal, dengan membawa serta tradisi, identitas, maupun agama yang mereka anut. Portugal pun menjelma menjadi negara multietnis dan multiagama. Terdapat komunitas warga Afrika, Amerika Latin, hingga Asia di sana. Pun halnya dengan agama, ada pemeluk Hindu, Buddha, Sikh, Yahudi, serta Islam. 

Jumlah umat Muslim diperkirakan mencapai 30 ribu jiwa. Mereka berasal dari berbagai etnis, terutama dari Mozambik, Kenya, Makao, Pulau Goa di India, bagian timur Indonesia, dan keturunan orang-orang Muslim India. Tak ketinggalan kaum Muslimin yang datang dari Afrika Barat dan Timur Tengah, seperti Mesir, Maroko, dan Aljazair. Ada pula para mualaf Portugal walaupun jumlahnya tidak terlampau banyak. Kedatangan imigran Muslim ke Portugal mulai berlangsung selepas Perang Dunia II.

Portugal merupakan negara sekuler. Seperti halnya di banyak negara Eropa, mereka memisahkan secara tegas aspek keagamaan dengan pemerintahan. Meski begitu, negara tetap memberikan perhatian terhadap kehidupan agama dan hubungan antarumat beragama. Ada dua aturan pokok yang berlaku: Pertama, perjanjian khusus ( concordata ) tahun 1940 dengan Keuskupan Roma. Hal itu terkait mayoritas penduduk (84,5 persen) menganut agama Katolik Roma. Kedua, undang-undang kebebasan beragama. Diterbitkan sejak 2001, peraturan itu bertujuan memberikan pengakuan serta hak-hak umat agama lain yang selama ini tinggal di Portugal.

Periode tahun 80 sampai 90-an bisa dikatakan menjadi masa-masa penuh harmoni dalam kehidupan masyarakat di Portugal. Umat Islam dan umat agama lain bisa melaksanakan peribadatan dengan leluasa. Masjid, mushala, dan sekolah Islam pun banyak didirikan.

Portugal lantas memiliki dua masjid jami dan 17 mushala, sebagian besar terletak di Lisabon, Coimbra, Filado, Evoradi, dan Porto. Sekolah Dar al-Ulum al-Islamiyyah melengkapi sarana pendidikan di Lisabon. Sekolah ini setingkat dengan sekolah menengah pertama dan menengah atas. Di samping itu, sejumlah masjid dan mushala turut membuka kelas halaqah tahfiz Alquran al-Karim, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu Islam. Kaum Muslim juga menerbitkan sejumlah jurnal berbahasa Portugal dan berbahasa Arab seperti majalah Islam.

Kondisi Muslim Portugal Paska 9/11

Pada milenium baru, kondisinya berubah 180 derajat. Peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat (AS), berimbas terhadap umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali di Portugal. Harmonisasi terusik. Hal itu bukan disebabkan pembatasan-pembatasan dari pemerintah, melainkan dari sikap sebagian warga setempat yang mengaitkan Islam dengan kekerasan.

Sebuah kolom dalam surat kabar The Public agaknya bisa mewakili suasana Islamofobia yang sedang melanda. Tulisan Dr Miguel Sousa Tavares, cendekiawan setempat, misalnya, memuat judul yang dinilai provokatif; Islam, Terror and Lies. Islam yang sebenarnya Tokoh lainnya tak jarang mengeluarkan pernyataan yang mengarah pada intoleransi.

Awal tahun 2009, seorang pemimpin agama di Lisabon sempat memicu kontroversi baru atas komentarnya terkait perkawinan antara Muslim dan non-Muslim. Dia menyarankan agar wanita non-Muslim berpikir dua kali sebelum menikah dengan pria Muslim. ''Anda hanya dapat berdialog dengan orang yang bersedia berdialog. Dengan umat Muslim, dialog sulit dilakukan,'' kata pemimpin agama ini.

Sejumlah kelompok hak asasi manusia memberikan kecaman. Mereka menilai pernyataan itu tidak sejalan dengan semangat toleransi antarumat beragama yang sedang terus dibina. Demikian halnya, umat Islam mengaku terkejut dengan komentar itu. Namun, umat tidak lantas bereaksi berlebihan. Mereka justru memilih menanggapi tudingan, stigma, dan kekhawatiran seperti itu tanpa emosi.

Menggiatkan dialog lebih diutamakan. Forum intelektualitas tersebut akan sangat berperan dalam upaya memberikan penjelasan tentang nilai-nilai maupun ajaran Islam yang sebenarnya. Salah satunya seperti dilakukan majalah Al Furqan. Lewat tulisan Mohammed Youssuf Adamqy, pimpinan Al Furqan, misalnya, mereka menjadikannya surat terbuka untuk menjawab artikel The Public tadi.

Menurut Mohammed Youssuf, peristiwa pengeboman yang terjadi, haruslah dilihat secara orang per orang, dan jangan langsung digeneralisasi bahwa Islam adalah agama teror. Sebaliknya, dia mengungkapkan bahwa inti ajaran Islam justru menekankan cinta kasih. Dan, Muslim Portugal kini terus berjuang guna menepis citra negatif Islam. Pesan-pesan penuh kedamaian serta yang menjauhkan agama dari tindakan teror, bisa ditemui di masjid-masjid dan Islamic Center di Portugal.

Monday, June 25, 2012

Islam di Republik Ceko

tiga Ikon Islam di Ceko ::: Masjid Brno, Masjid Praha & Karimah

Sejarah Islam di Republik Ceko sudah dimulai sejak negara itu masih bergabung bersama Republik Slovakia sebgai Negara Republik Cekoslovakia. Pada tahun 1934 muslim disana sudah membentuk organisasi islam pertama dan berupaya mendapatkan pengakuan dari pemerintah namun tak pernah terealisasi karena masalah masalah administrasi dan legal yang tak kunjung usai.

Pemimpin awal komunitas muslim disana adalah Muhammad Abdullah Brikcius yang merupakan mualaf asli Ceko, wartawan dan traveler independen. Semasa perang dunia kedua beliau berpandangan bahwa Nazi Jerman akan membebaskan Muslim disana dari belenggu kolonial, khususnya dari jajahan Inggris. Itu sebabnya kemudian beliau secara bekala menerbitkan artikel di berbagai surat kabar muslim maupun non muslim di Ceko.

Beliau juga menjalin hubungan erat dengan muslim arab yang satu visi dengannya, termasuk mufti Jerussalem Amin Al-Husayni. Namun justru sikap itu yang kemudian menuai masalah dikemudian hari saat kekuasaan Nazi Jerman jatuh dan tentu saja merusak reputasi Abdullah Brikcius. Selama komunis berkuasa di Cekoslovakia selama kurun waktu 1948 hingga 1989, muslim di negara itu lebih banyak diam dan menahan diri.

Muslim ceko mengalami masa masa kelam selama rezim komunis berkuasa, aktivitas peribadatan terganggu terutama peribadatan komunal meskipun hal itu juga berlaku bagi semua aktivitas keber-agama-an di negara itu. Namun demikian tekanan oleh Komunis terhadap muslim disana tak terlalu berlebihan. Banyak pihak melihat perlakuan tak biasa oleh partai komunis terhadap muslim disana dilatarbelakangi dua faktor : [pertama] para pejabat partai komunis Cekoslovakia beranggapan bahwa muslim disana lebih sebagai suatu fenomena yang eksotis dan tidak akan mengancam kekuasaan komunis, sebagaimana di jabarkan oleh Muhamed Ali Shilhavy dalam sebuah jurnal wawancara tahun 1990-an.

 [faktor kedua] komunis Cekoslovakia tetap menjaga hubungan baik dengan apa yang mereka sebut sebagai rezim arab progresif secara khusus bagi Yaman Selatan, Libya, Suriah dan Aljazair, dan tentu saja mereka juga tidak mau melakukan tindakan yang akan mengundang masalah internasional sebagai akibat tindakan intimidasi terhadap muslim setempat, sebagimana di konfirmasi oleh Muhamed Ali Silhavy dalam sebuah wawancara dengan Dingir Journal. Hal ini kemudian disusul dengan fakta fakta berikutnya bahwa begitu banyak mahasiswa mahasiswa arab yang memperoleh beasiswa untuk belajar di berbagai perguruan tinggi di Cekoslovakia dan konon beberapa dari mereka bahkan kemudian menikah dengan wanita Ceko ataupun Slovakia, membentuk rumah tangga disana.

Hal tersebut yang kemudian menjadi salah satu pembentuk awal komunitas muslim di Republik Ceko maupun Slovakia. Struktur internal komunitas ini merefleksikan perkembangan sosial dunia arab dan Islam, pada periode tahun 1960-an kebanyakan mahasiswa arab yang datang belajar kesan dari golongan sekuler. Perkembangan cepat islam baru terjadi di tahun 1970-an, mahasiswa yang datang kesana lebih islami dan kebanyakan dari mereka merupakan mahasiswa dari bidang studi teknologi dan kesehatan bukan dari bidang sosial kemasyarakatan. Dan dampak yang sudah pasti adalah bedirinya berbagai masjid di hampir semua universitas di kota kota bekas Republik Cekoslovakia itu.

Data Statistik

Meski tak ada data pasti terkait berapa banyak muslim di Republik Ceko, Muhamed Ali Shilhavy (dalam wawancara dengan BBC perwakilan Ceko 20 September 2001) menyebutkan bahwa muslim di Ceko ada sekitar 20 ribu jiwa dan 400 diantaranya adalah pribumi Ceko. Perkembangan jumlah mualaf di negeri itu terus meningkat dan sekitar 80% dari mualaf adalah wanita, yang secara tidak saja menjadikan Islam sebagai agama tapi juga menyerap semua budayanya.

Sebagian besar muslim non pribumi di Ceko adalah muslim Arab yang terdiri dari muslim Afgan, kawasan Sub Sahara Afrika, Pakistan, termasuk juga para pengungsi dari Bosnia Herzegovina dan mereka yang yang berasal dari kawasan Asia Tengah dan Republik Republik di Kaukasus bekas Uni Soviet. Turki, Parsi dan Kurdi meskipun ada tapi jumlah mereka sangat sedikit.

Muslimah di Pemerintahan Ceko

Salah satu Muslim terkenal di sana bernama Karimah. Ia terkenal karena satu-satunya Muslim yang memiliki jabatan tinggi di Pemerintahan Republik Ceko. Muslimah ini tercatat sebagai pejabat tinggi di Kementerian Kehakiman Republik Ceko. Mungkin, Karimah juga adalah alasan yang kuat dan tepat untuk menyimpulkan bahwa Islam dan Muslim di sana akan merasakan keamanan secara hukum.

Organisasi Organisasi Islam di Republik Ceko

Ústředí muslimských obcí (Kantor Pusat Asosiasi Muslim) merupakan oragnisasi resmi komunitas muslim Ceko yang didaftarkan pada tanggal 17 September 2004. Dengan berdirinya organisasi ini menandai disyahkannya Islam sebagai salah satu agama resmi di Republik Ceko. dan dengan sendirinya memberikan hak kepada organisasi tersebut untuk membentuk atau pun merangkul organisasi organisasi dibawahnya di seluruh wilayah Ceko.

Dalam batasan tertentu kantor pusat juga diperkenankan melakukan aktivitas di penjara penjara yang di dalamnya terdapat napi muslim. Namun demikian komunita muslim disana belum memiliki pengakuan dari pemerintah atas aktivitas berdasarkan hukum syariah termasuk pengajaran agama Islam di sekolah sekolah dan pernikahan.

Kantor Pusat Asosiasi Muslim ini merupakan organisasi payung bagi organisasi organisasi Islam di Republik Ceko, organisasi organisasi yang bernaung dibawahnya termasuk adalah :
1)    Islámská nadace v Praze (Islamic Foundation in Prague – Yayasan Islam Praha)
2)    Islámská nadace v Brně (Islamic Foundation in Brno – Yayasan Islam Brno)
3)    Všeobecný svaz muslimských studentů  (General Union of Muslim Students, atau the Muslim Student Union – Serikat Mahasiswa Muslim)

Presiden dari Kantor Pusat Asosiasi Muslim ini dijabat oleh Mohamed Ali Šilhavý (lahir di desa Trebic pada 17 November 1917), seorang mualaf pribumi Ceko yang sudah berislam sejak beliau berumur 20 tahun sebagaimana disebut sebut di awal tulisan ini. mengingat usia beliau yang sudah lebih dari 90 tahun, dalam pelaksanaannya beliau dibantu oleh dua orang wakil presiden organisasi, salah satunya adalahvVladimír Sáňka, juga seorang mualaf pribumi Ceko yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Islam Kota Praha.

Pejabat wakil presiden lainnya adalah muslim arab dari Irak bernama Munib Hasan al-Rawi atau kadang kadang disebut oleh media dengan nama Muneeb Hassan, yang juga menjabat sebagai ketua Yayasan Islam Brno ::: Yayasan Islam Brno merupakan pendiri dan pengelola masjid Brno:::. Beliau juga merupakan salah satu contoh dari muslim arab yang awalnya datang ke Ceko sebagai mahasiswa namun setelah wisuda memutuskan untuk tinggal dan menjadi bagian dari komunitas muslim Republik Ceko.

Selain dari organisasi organisasi resmi tersebut, di Ceko masih ada dua organisasi lainnya yang juga menjalankan aktivitas ke-Islaman disana, yakni : [pertama] Svaz islámských kulturních center v Praze (Union of Islamic Cultural Centres in Prague – Serikat Pusat kebudayaan Budaya Islam Praha) –  yang beranggotakan hanya untuk muslim Turki dan memiliki keterkaitan dengan lembaga lembaga Islamic Center dunia yang didanai oleh Turki.

[kedua] Muslimská unie (Muslim Union – Serikat Muslim) – secara resmi dibentuk tanggal 20 Januari 2001. Beranggotakan muslim muslim mualaf pribumi Ceko dibawah pimpinan Muhammad Abbas al-Mu'tasim kadang kadan beliau juga dipanggil dengan nama Mohamed Abbás. Sama seperti Munib Hasan al-Rawi, Mohamed Abbás sendiri merupapakan muslim Arab dari Sudan yang awalnya merupakan mahasiwa di salah satu Universitas di Ceko namun kemudian memilih menetap dan menjadi warganegara Ceko setelah wisuda. Beliau juga kebetulan adalah anak dari diplomat sudan di Ceko. organisasi yang dipimpinnya aktif di bidang publikasi dan internet.

Masjid Di Republik Ceko

Ada dua masjid yang sudah berdiri di Republik Ceko. Masjid pertama berdiri disana ada di Kota Brno biasa disebut Islamic Center Brno – Brno Mosque. Dibangun pada tahun 1998. Masjid ini dibangun dan dikelola oleh Yayasan Islam di Brno. Sedangkan masjid kedua dibangun di kota Praha (ibukota Republik Ceko) pada tahun 1999 dibangun setahun setelah masjid Brno oleh Yayasan Islam di Praha.

Daftar Organisasi Organisasi Islam di Republik Ceko

Ústředí muslimských obcí - Centre of muslim communities
Merupakan organisasi Islam tertua di Republik Ceko dan memiliki cabang di kota kota Praha, Brno dan Teplice
 
Islamic institution of Prague- Prague mosque (Masjid Praha)
Alamat : Blatská 1491, 198 00 Praha 9
telepon.: 281 918 876
fax: 281 917 414

Islamic institution of Brno (Masjid Brno)
Vídeňská 38a, 639 00 Brno
Situs resmi : www.brno.muslim.cz

Muslim Student Union -  Teplice
Memberikan bantuan kepada mahasiswa muslim, mempromosikan pemahaman islam dengan benar diantara sesama muslim dan memperkuat hubungan antara Republik Ceko dan Negara Negara Islam
Situs resmi : http://svazmuslim.cz

Muslim Union (Muslimská unie)
Mempromosikan rencana dan informasi yang objektif tentang Islam dan mendukung aktivitas pendidikan budaya.
Alamat : Chmelová 2893, 106 00  Prague 10 Czech Republic
telepon : 00420-777 636 544

PROislám, o.s.
Memberikan Iformasi tentang Islam dalam berbagai latar belakang etsnis dan budaya
Alamat : Praha 9, Tlustého
Situs resmi : www.proislam.pise.cz

Daftar Islamic Center, Masjid dan Tempat Sholat di Republik Ceko

Berikut ini adalah daftar Masjid dan Tempat Sholat lainnyadi berbagai kota di Republik Ceko, beberapa tempat sholat yang tersedia tidak berbentuk masjid tapi berupa ruang kantor atau gedung yang disewa sebagai tempat sholat muslim setempat baik sholat lima waktu maupun sholat Jum’at.

KOTA PRAHA
  
Masjid Praha (Islamic Institution of Prague- Prague mosque)
Alamat : Blatská 1491, 198 00 Praha 9
Telepon : 281 918 876
Fax: 281 917 414
Situs resmi : www.praha.muslim.cz

Ruang sholat di pusat informasi Yayasan Islam Praha di pusat kota Praha dan dikelola oleh Masjid Praha.
Alamat : Politických vězňů 14 (Passage of Jiří Grossmann, 1. floor)
110 00 Praha 1

"Turkish prayer room"
Alamat : Pivovarnická 8, Praha 3

Prayer room - Student house Hvězda
Alamat : Zvoníčkova 6, 162 00 Praha 6

Prayer room - Student house Trója
Alamat : Pátkova 3, 182 00 Praha 8

Prayer room - Masarykova kolej (Student house)
Alamat : Thákurova 1, 160 00 Praha 6.

KOTA BRNO
  
Masjid Brno (Islamic Institution of Brno - Brno mosque)
Alamat : Vídeňská 38a, 639 00 Brno
situs resmi : www.brno.muslim.cz dan http://mesita.cz/

Ahlulbayt centre
Alamat : Blaněnská 1338, 664 34 Kuřim, Brno
Contact : Abdulrahman Adday
Phone  :00420603220055    
E mail : adday@agroad.cz
  
Prayer room - Language school Alfirdaus
Alamat : Masarykova 30, Brno - střed 602 00
Tel.: 722 965 327

KOTA HRADEC KRÁLOVÉ

Prayer Room Hradec Králové
Ruangan yang disewa sebagai tempat sholat dan kegiatan lainnya
Alamta : Jana Masaryka 605/30, 500 12 Hradec Králové
situs resmi : www.hkmuslims.com
  
KOTA LIBEREC

Prayer room - student house Harcov
Liberec

KOTA LÁZNĚ (SPA) DARKOV

Prayer room - LÁZNĚ DARKOV
Alamat : 735 03 Lázně Darkov
Ruang sholat di dalam SPA dan hanya untuk tamu SPA

Neředín Block C
Alamat : Olomouc, Czech Republic

KOTA PLZEŇ

Prayer room - student house Bolevecká
Alamat : Bolevecká 34, blok L3, 6. floor, 301 66 Plzeň
Telepon : +420 776 758 945 (Ahmed)
email: dr.margoosh@yahoo.com

KOTA TEPLICE

Islamic Centre of Teplice (Cabang dari Masjid Praha)
Alamat : Kollárova 2807/8, 3. floor, Teplice.
Tel.: 776 319 533 , 776 003 329

Friday prayers in Arabic and Czech, classes and lectures
Alamat : Lázeňská 21, 417 01 Dubí
Ruang sholat di dalam SPA dan hanya untuk tamu SPA

KOTA KARLOVY VARY

Prayer room - v hotelu Thermal
Alamat : I. P. Pavlova 11, 360 01 Karlovy Vary

KOTA KOLOVÁ 

Mosque Al Medina
Alamat : Village Kolová near Karlovy Vary

-------------



Baca juga


Saturday, June 16, 2012

Islam di Nepal

Masjid Khasmiri Taqia - Kathmandu, Nepal di Idul Adha 17 Nov 2010 yang lalu. 

Merujuk kepada hasil sensus penduduk Nepal tahun 1991 penduduk muslim di Nepal menempati urutan ke 3 dengan jumlah populasi sebesar 591,340 jiwa dibawah pemeluk agama Hindu dan Budha. Setara dengan 3.8% dari keseluruhan penduduk Nepal. Angka tersebut ditengarai jauh lebih kecil dari angka sebenarnya.

Secara garis besar muslim Nepal dibagi ke dalam 4 etnis besar masing masing adalah Muslim India, Khasmir (Khasmiri), Tibet (Tibetan) dan Muslim asli Nepal (Nepali). Selain itu masih ada lagi muslim Nepal gunung yang memang tinggal di kawasan pegunungan, mereka merupakan keturunan dari orang tua campuran dan rata rata merupakan keturunan dari ibu yang merupakan orang Nepal gunung. Perbedaan etnis tersebut secara kasar dapat terlihat dari penampilan fisik mereka, bahasa sehari hari yang digunakan, budaya dan juga mereka memang tidak berbaur satu dengan yang lainnya.

Islam pertama kali diperkenalkan di Nepal oleh para saudagar Arab di abad ke 5 Hijriah/11 Masehi yang datang ke lembah Kathmandu untuk berniaga. Setelah itu sebagian tentara muslim dari pasukan Ikhtiyar Uddin Muhammad bin Bakhtiyar Khilji yang menginvasi Tibet di tahun 1206 pernah menjejakkan kaki di Nepal untuk beberapa waktu, Ikhtiyar Uddin adalah panglima pasukan Sultan Qutb uddin Aybak dari Kesultanan Delhi, yang menguasai kawasan barat laut India berpusat di Delhi.

Sedangkan muslim Kashmir (India) dipercaya sebagai muslim pertama yang bedomisili di Nepal. Gelombang pertama muslim Khasmir masuk dan menetap di Nepal pada masa kekuasaan Raja Ratna Malla (1482-1520) dari dinasti Malla.  Mereka merupakan para saudagar yang melakukan perdagangan dengan Tibet lalu juga berdagang di Nepal. Barang dagangan mereka berupa karpet, bahan bahan kulit binatang dan bahan bahan yang terbuat dari woll.

Kini muslim Khasmir di Nepal dikenal sebagai kalangan muslim terpelajar dan masuk dalam kelasnya para pebisnis sukses. Beberapa dari mereka bahkan sudah masuk ke dalam jajaran birokrasi dan politik. Muslim khasmir bahkan memiliki lahan pemakaman yang khusus diperuntukkan bagi muslim Khasmir (khasmiri) di daerah Shayambhu.

Kasta Masyarakat Nepal Paling Bawah

Gelombang kedua muslim India masuk ke Nepal dan tinggal di di wilayah Terai (perbatasan India dan Nepal) pada abad ke 19 tepatnya di tahun 1857M. Tahun 1857 wilayah Terai diakuisisi oleh Nepal di bawah Perdana Menteri Jung Bahadur bersama kerajaan Inggris. Hal tersebut sebenarnya upaya Inggris agar muslim tidak terkonsentrasi di India yang semakin membahayakan penjajahan Inggris atas India. Di bawah tekanan penjajah Inggris, Muslim di daerah perbatasan mengungsi ke wilayah Terai yang dijadikan wilayah Nepal. Sejak saat itu Muslim tunduk pada undang-undang Kerajaan Nepal tahun 1853 sebagai warga Negara dengan kasta terendah.

Sebagian besar muslim di wilayah Terai tersebut bukanlah pendatang namun menjadi bagian muslim Nepal karena 4 distrik territorial mereka yang tadinya merupakan wilayah India utara dimasukkan ke dalam teritori Nepal oleh Inggris sebagai hadiah untuk raja Nepal yang membantu Inggris dalam perang terhadap kerajaan Nawab dari Oudh yang ingin merdeka.

Muslim dari Tibet masuk ke Nepal awalnya juga untuk berdagang dan kemudian menetap di Nepal. Dalam sebuah kunjungan kenegaraan Raja Ratna Malla ke Lhasa, beliau juga mengundang para pengusaha muslim Tibet untuk membuka usaha di Kathmandu. Dan muslim pendatang dari Tibet bertambah di era 1960-an sebagai akibat gejolak politik di Tibet. Kini muslim Tibet yang ada di Nepal sudah berbaur dengan warga setempat baik bahasa, budaya hingga cara berpakaian merekapun sudah seperti orang Nepal. Muslim keturunan Tibet rata rata sukses, mereka masih melanjutkan bisnis dengan Tibet tanah leluhur mereka dan tentunya dengan China yang kini berkuasa di Tibet.

Ketika Angin perubahan berhembus

Selama berabad abad lamanya muslim Nepal hidup dalam ketertindasan penguasa dan mengalami ketertinggalan hampir disegala bidang salah satu sebabnya adalah status sosial mereka yang berada di kasta paling bawah menyebabkan mereka tak memiliki akses ke dunia pendidikan hingga politik. Tahun 1951 kekuasaan rezim dinasti Rana Berahir. Raja baru kurang bersimpatik dengan Muslim karena dianggap orang orang dekatnya dinasti sebelumnya. Perubahan kondisi politik mulai terjadi di tahun 1959 dengan keluarnya konsitusi baru dan pembentukan pemerintahan yang dipilih secara demokratis dengan B.P. Koirala sebagai perdana menteri, namun kemudian sistim pemerintahan yang baru terbentuk ini dibubarkan oleh raja Mahendra setahun kemudian Dan menggantinya dengan sistim monarki terpimpin yang baru.

Namun sejak tahun 1960 itu pula tersebut raja Mahendra menghapus Undang undang tahun 1853 dengan menerbitkan undang undang baru yang mengangkat status kewarganegaraan muslim setara dengan warga negara lainnya. Meskipun UU tahun 1963 ini memberikan kebebasan beragama namun tetap melarang perpindahan agama (dari Hindu ke Islam) dan tetap melarang perceraian sebagaimana diatur dalam UU tahun 1853. Pelanggaran terhadap aturan tersebut akan dikenakan penjara selama 3 tahun. Raja Mahendra juga mengangkat satu orang wakil dari muslim untuk duduk di Dewan Perwakilan Nasional (Panchayat) dan tidak ada larangan bagi pendirian madrasah.

Perubahan politik Nepal terjadi lagi ketika Nepal bertransformasi dari system monarki Hindu kepada system demokrasi multi partai di tahun 1990 Perubahan tersebut juga memberi perubahan signifikan bagi muslim Nepal. Dengan keluarnya undang undang kesetaraan tanpa diskriminasi agama, ras, jenis kelamin, kasta, suku ataupun ideologi. Dan dengan sendirinya mengahapus superioritas Hindu selama berabad abad di negeri itu.

Hasilnya adalah 31 pemimpin muslim dapat ikut serta untuk pertama kali dalam kancah politik Nepal dengan ambil bagian dalam pemilu tahun 1991 dan lima dari mereka berhasil terpilih. Tiga dari mereka masuk dalam jajaran anggota kongres Nepal (dari partai komunis dan partai Sadbhavana) sedangkan Sheikh Idris yang menjadi anggota kongres juga masuk ke dalam jajaran kabinet.

Muslim Nepal kini sedang berjuang mendapatkan hak atas 10% jatah kursi di dewan perwakilan, kursi di parlemen dan meminta pengesahan hari besar Islam sebagai hari libur nasional. Lebih radikal lagi sekelompok muslim disana berjuang untuk mendapatkan identitas tersendiri bagi muslim Nepal. Segera setelah terjadi perubahan konstitusi tersebut, imam Masjid Jami Kathmandu memimpin satu delegasi menghadap Perdana Menteri K.P. Bhattarai mengajukan 14 poin permintaan.

18 Mei 2006 Parlemen Sementara Nepal mengesahkan undang undang baru yang secara tegas menyebutkan bahwa Nepal merupakan sebuah Negara merdeka, berdaulat dan Sekuler. Undang undang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Konstitusi Sementara di bulan Mei tahun 2007 yang menyatakan bahwa Nepal adalah sebuah negara yang Independen, invisible, berdaulat, sekuler dan inklusif serta Negara yang berdemokrasi secara penuh. Dewan perwakilan yang terpilih dalam pemilu di tahun tersebut harus mengesahkan hal teresebut.

Ancaman Terhadap Pimpinan Organisasi Islam Nepal

Salah satu organisai Islam di Nepal yang berupaya meningkatkan pendidikan ummat Islam Nepal adalah Persatuan Islam (islami Sangh), Sekretaris Jendral organisasi ini bernama Faizan Ahmad Ansari pada tanggal 26 September 2011 silam menjadi korban penembakan oleh dua orang pria bersenjata tak dikenal dan nyawanya tak tertolong. Kala itu beliau baru saja selesai menunaikan sholat di masjid yang lokasinya justru di depan pos polisi di kawasan metropolitan Kathmandu. Di bawah guyuran hujan deras dua pria berjas hujan memberondong beliau dengan peluru hingga tewas. Pembunuhan itu memicu protes dan kemarahan dari pendukung dan keluarga beliau. Beliau bukan satu satunya pemimpin muslim yang menjadi korban pembunuhan di Nepal, sebelumnya seorang pengusaha media muslim setempat, Jamin Sahah juga mengalami nasib serupa dalam waktu yang tak berselang terlalu lama.

Serangkaian pembunuhan dan percobaan pembunuhan terhadap tokoh tokoh muslim di Nepal mengundang kecaman dari berbagai pihak termasuk dari tokoh tokoh agama selain Islam di Nepal. Peristiwa tersebut berujung kepada pencopotan kepala kepolian Kathmandu dan pembentukan komisi penyidik kasus pembunuhan tersebut namun tak membuahkan hasil. Lebih jauh ummat Islam Nepal kini menuntut pengunduran diri wakil Perdana Meteri dan Menteri dalam Negeri Nepal sebagai bentuk tanggung jawab atas serangkaian pembunuhan terhadap tokoh tokoh Islam di negeri tersebut.

Al Qur’an berbahasa Nepal

Muslim Nepal kini bisa memiliki kitab suci Al Qur’an terjemahan bahasa Nepal sebagai upaya penyebaran dakwah di kalangan umat Islam di sana. Terjemahan Al-Quran berbahasa Nepal mencakup 1.168 halaman, ditulis dengan tulisan Nepal dengan menyertakan ayat-ayat Al-Quran yang diterjemahkan dalam tulisan Arab. Untuk tahap pertama, terjemahan Al-Quran berbahasa Nepal dicetak lebih dari 5.000 eksemplar, 2.500 diantaranya dikirim ke New Delhi (India), Buthan, dan Myanmar hingga kemudian semakin banyaklah Muslim Nepal yang mengenal kembali Islam lewat ayat-ayat Al Qur’an dalam bahasa yang mereka pahami.