Sunday, January 6, 2013

Masjid Ummu Haram, Berawal dari Sahadah berahir Sebagai Sahidah

Hala Sultan Tekke ditepian danau Air Asin Larnaca, Cyprus bagian selatan

Masjid Ummu Haram adalah sebuah masjid tua di tepian danau air asin (Salt Lake) di kota Larnaca, Pulau Cyprus bagian selatan yang kini menjadi Republik Cyprus terpisah dari Cyprus Utara yang memproklamsirkan diri sebagai negara sendiri sejak tahun 1955. Hala Sultan Tekke adalah nama yang diberikan oleh orang Turki bagi komplek ini. Tekke dalam bahasa Turki berarti sebuah tempat berkumpulnya para pengikut aliran tariqat sufi, semacam Khanqah dalam bahasa Parsi. Dulunya masjid ini memang menjadi salah satu tempat berkumpulnya para pengikut aliran sufi di pulau Cyprus. Itu sebabnya di dalam komplek masjid ini dilengkapi dengan bangunan guest house sebagai tempat menginap bagi pengikut tariqat yang datang dari berbagai daerah.

Sedangkan Ummu Haram yang digunakan sebagai nama masjid ini dikarenakan masjid ini dibangun berdekatan dengan makam Ummu Haram binti Milhan dan untuk mengenang Almarhumah yang tak lain adalah salah satu Sohibah Nabi Muhammad S.A.W. Beliau wafat di Cyprus pada saat perang penaklukan Cyprus dari kekuasaan Romawi Timur (Bizantium) oleh pasukan Islam semasa Muawiyah Bin Abu Sufyan menjabat sebagai gubernur di Damaskus (ibukota Syria) dibawah Khalifah Usman Bin Affan.

Ummu Haram, Menyeberang Laut Menjemput Syahid

Nama lengkapnya adalah Ummu Haram Binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir, adalah saudari dari Ummu Sulaim binti Milhan, beliau juga merupakan istri dari ‘Ubaidah bin Syamit. Sedangkan Ummu Sulaim Binti Milhan adalah istri dari Abu Tholhah, ibunda dari Malik Bin Anas, pembantu setia Rosulullah. Maka Ummu Haram adalah bibi dari Anas Bin Malik. 

sekali setahun, danau Larnaca menjadi persinggahan burung burung Flaminggo yang sedang bermigrasi. Masjid Halla Sultan Tekke tampak di kejauhan.
Berkata An Nawawi di dalam Syarh Shohih Muslim: "Ulama sepakat bahwa Ummu Haram dan Ummu Sulaim termasuk mahram Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam. Dan Berkata Wahab: "Ummu Haram adalah salah seorang bibi Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam dari susuan".

Dalam salah satu kesempatan Rosulullah singgah ke kediaman keluarga Milhan, Ummu Haram menyambut beliau dengan gembira dan menyediakan aneka makanan kesukaan beliau. Sesaat kemudian Rosulullah menyempatkan tidur siang namun sesaat kemudian beliau terbangun dan dengan wajah senyum memandang ke arah Ummu Haram.

Dengan heran Ummu Haram bertanya, “Ya Rosulullah, kenapa baginda tersenyum kepadaku ?”. Lalu Rosulullah menjawab “Sesungguhnya aku melihat beberapa sahabatku sedang berkendara menyeberangi lautan laksana para raja diatas singgasananya”. Tanpa menyianyiakan kesempatan Ummu Haram langsung mengajukan permintaan, “Ya Rosulallah, mohonkan kepada Allah agar aku bersama mereka”, dan betapa gembiranya Ummu Haram ketika Rosulullah menjawab “Sesungguhnya kamu bersama kelompok yang pertama”. (sebagaimana dijelaskan dalam hadist riwayat Anas bin Malik).

Sepanjang hidupnya, Ummu Haram bersama suaminya Ubidah Bin Syamit tak pernah menyia nyiakan kesempatan untuk bergabung dalam jihad di medan perang demi menegakkah kalimah Allah. Beliau berjuang berihad dimedan perang bersama suaminya sejak masih tinggal di Quba, lalu ke Madinah, Syria, hingga ke Palestina mengikuti suaminya yang ditugaskan sebagai hakim disana semasa khalifah Umar bin Khattab.

Makam Ummu Haram berada di dalam bangunan berkubah di sisi kiblat (sisi selatan) atau pada bagian depan pada foto Masjid Hala Sultan Tekke di atas.
Beliau juga turut berperang bersama suaminya tatkala Amru Bin Ash membutuhkan tambahan pasukan dalam perang merebut wilayah Mesir dari kekuasaan Romawi, dan memenangkan perang disana, Mesir takluk, Amru Bin Ash diangkat sebagai Gubernur Mesir pertama mendirikan peradaban Islam baru disana termasuk mendirikan Masjid Amru Bin Ash sebagai Masjid pertama di tanah Mesir dan Afrika. Ummu Haram mengikuti suaminya pindah dan menetap di Damaskus, Syria.

Penaklukan Cyprus dan Permohonan Yang Terkabul

Gubernur Syria, Mu’aawiyah bin Abu Sufyan tahu persis bahwa pulau Cyprus merupakan pangkalan perbekalan angkatan laut Romawi dalam setiap penyerbuan mereka ke kota kota pelabuhan di Syria. Karenanya kemudian beliau memohon izin kepada khalifah Umar Bin Khattab untuk menyerbu ke Cyprus. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Khalifah Umar yang mengkhawatirkan keselamatan pasukan Islam dalam perang laut melawan Romawi, dan Muawiyah mengurungkan niatnya menyerbu Cyprus mematuhi titah Khalifah Umar.

Dimasa pemerintahan Khalifah Usman Bin Affan, Muawiyah kembali mengajukan permohonan untuk menyerbu Cyprus dan kali ini Khalifah mengabulkan permintaan tersebut dengan syarat agar tidak memaksa siapapun untuk turut serta dalam penyerbuan tak biasa tersebut. Mengingat pasukan Islam tidak terbiasa dalam perang laut. Nyatanya seruan Muawiyah disambut gegap gempita oleh muslim Damaskus yang siap berjihad, termasuk Ummu Haram dan Suaminya Ubaidah Bin Syamit dan para sahabat lainnya.

Bagi Ummu Haram penyerbuan ke Cyprus (tahun 647 atau 649M) ini benar benar menggembirakan. Sebuah permohonan yang terkabul. Sebagaimana pernah disampaikannya kepada Baginda Rosulullah untuk bergabung dalam pasukan Islam yang menyeberangi lautan laksana para raja diatas singgasananya, sebagaimana digambarkan dalam mimpi Beliau.

Makam Ummu Haram.
Disepajang pelayaran dari Syria menuju pulau Cyprus, Tak henti hentinya Ummu Haram mengucap syukur dan membayangkan wajah Rosulullah yang sedang tersenyum kepadanya, ketika menyampaikan bahwa Ummu Haram akan menjadi bagian pertama dari perang di laut dalam menegakkah kalimah Allah, dan berujar kepada dirinya sendiri “Yang kau ucapkan adalah benar, ya Rosulullah”.

Memulai Dengan Sahadah Berahir Sebagai Sahidah

Perang sudah dimulai sejak masih ditengah laut, kapal perang pasukan Islam berhasil mengalahkan hadangan perang pasukan laut Romawi dan mendarat dengan selamat di pulau Cyprus. Sesampainya disana pasukan Islam bersiap untuk melakukan perang darat dan bergerak ke jantung pulau Cyprus atau Qubrush dalam bahasa Arab.

Di suatu kesempatan ketika Ummu Haram naik ke atas tunggangannya, namun tak dinyana binatang itu mengamuk sejadi jadinya dan melemparkan tubuh beliau begitu keras, Ummu Haram wafat seketika itu juga dengan raut wajah yang tersenyum manis. Jasad beliau kemudian dimakamkan ditempat dimana beliau terjatuh, peristiwa tersebut terjadi di sekitar tahun ke 28 Hijrah.

Makam beliau kini masih dapat ditemui di komplek masjid Hala Sultan Teke, seakan bersaksi kepada dunia, tentang perjalanan hidup dan perjuangan seorang Muslimah tangguh, muslimah sejati, sahabat Rosulullah, istri dari salah seorang Sahabat Ansor yang pertama berbai’at kepada baginda Rosulullah. Menjadi saksi tercapainya cita cita beliau untuk mati sahid, dimulai dengan Sahadah dan berahir sebagai Sahidah.***

Diambil dari bujangmasjid

----------------------

::: Baca juga :::