Saturday, April 15, 2017

Masjid Jami’ Nanga Pinoh, Tertua di Melawi

Masjid Jami' Nanga Pinoh saat ini, masih bertahan dengan bentuk setelah rehab tahun 1938 dan 1972

Masjid Jami’ Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, berusia lebih dari satu abad. Masjid ini adalah masjid tertua di kabupaten Melawi. Dari segi sejarah, Masjid Jami’ merupakan salah satu situs sejarah penting yang ada di Melawi mengingat letaknya dan sejarahnya terkait dengan kedemangan (perwakilan kerajaan) Sintang di masa lalu. Kampung Liang tempat masjid ini berada juga terdapat sejumlah situs sejarah Taman Makan Pahlawan Raden Tumenggung Setia Pahlawan, seorang tokoh pahlawan nasional asli Melawi.

Dari tahun pembangunannya, Masjid Jami’ Nanga Pinoh ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Melawi. Peranannya sebagai pusat kegiatan dan peradaban Islam bertahan hingga hari ini. Mesjid Jami’ Nanga Pinoh yang terletak di Kampung Liang, Desa Tekelak Kecamatan Pinoh Utara dulunya merupakan pusat pengembangan Islam di kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Untuk mencapai Masjid Nanga Pinoh ini dari Kota Nanga Pinoh harus menyeberang menggunakan jasa penyeberangan perahu, yang biasa dimanfaatkan warga setempat.

Mesjid Jami’ Nanga Pinoh
Kampung Liang, Desa Tekelak Kec. Pinoh Utara
Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Indonesia.


Sejarah Masjd Jami’ Nanga Pinoh

Sesuai dengan dokumen dan cerita para pemuka-pemuka agama saat itu, Masjid Jami’ ini dibangun pertama kali di Kampung Liang tahun 1888, dan letaknya di Kampung (dusun) Liang, Desa Tekelak (saat ini masuk kecamatan Pinoh Utara), bukan di lokasinya saat ini. Bentuk Mesjid Jami’ pada awalnya (sebelum dipindahkan ke lokasi Mesjid yang baru sekarang). Masih menggunakan satu menara kubah yang terletak di depan pintu masuk Masjid Jami’

Masjid Jami’ tersebut mengalami tiga kali perpindahan lokasi. Kurang lebih setelah 50 tahun dibangun, kondisi masjid tersebut mengalami rusak berat dan kondisinya sudah tidak dapat diperbaiki kembali. Selain itu, lokasi masjid sudah semakin sempit karena perumahan masyarakat yang semakin padat dan tidak tertata.

Maka sesuai dengan mufakat para tetua dan pemuka agama, pada tahun 1938, Masjid Jami’ ini direhab total dan lokasinya dipindahkan sejauh kira-kira 500 meter dari posisi semula ke arah hulu Sungai Melawi. Posisi lokasi Masjid Jami’ tersebut, berada diantara perbatasan Kampung Liang dan Kampung Tekelak, lokasinya juga berada dipertigaan Sungai Melawi dan Sungai Pinoh, di tanah milik kerajaan dengan bentuk yang sama (posisinya di depan kantor Desa Tekelak).

Setelah itu, di tahun 1972 atau 34 tahun setelah pembangunan Masjid Jami’ di tanah kerajaan, Masjid Jami’ kembali direhab karena banyak bagian masjid yang mengalami rusak parah. Bagian pondasi bawah dan tiang-tiang mesjid sudah tidak dapat difungsikan kembali sehingga pemuka agama dan tokoh masyarakat yang dipimpin oleh H Aspar SE yang saat itu menjabat sebagai Kepala BPD Cabang Kalbar (bank Kalbar saat ini, red) wilayah Nanga Pinoh mengadakan mufakat untuk merehab kembali masjid tersebut.

Begini bentuk Masjid Jami' Nanga Pinoh sebelum tahun 1938, dan sebelum dipindahkan ke lokasi saat ini.

Rehab total yang dilakukan pada tahun 1972 akhirnya merubah bentuk Masjid Jami’ sekitar 50 persen dari bentuk semula. Lantai Mesjid terbuat dari beton di atas tanah dan Masjid Jami’ ini mengalami pergeseran 10 meter dari posisi semula. Di tahun 1993, Masjid Jami’ mendapatkan bantuan dari masyarakat, berupa bahan triplek, paku, kayu dan semen, dimana kayu dan triplek dipergunakan sebagai dek masjid serta merehab menara kubah masjid. Sedangkan bahan material seperti semen, dipergunakan masyarakat untuk membangun jalan dari pintu gerbang ke masjid, lantai luar, pintu gerbang serta pagar masjid. Sejak tahun 1972 posisi Masjid Jami’ tidak lagi mengalami perubahan serta sudah berkali-kali diperbaiki.

Tak banyak peninggalan sejarah yang tersisa dari bangunan masjid saat ini. Namun ada dua peninggalan bukti keberadaan masjid tertua di Melawi tersebut, yang masih dapat dijumpai. Pertama yakni mimbar khatib dan bedug. Secara kasat mata mimbar khatib masih kokoh. Mimbar masih difungsikan bagi khatib pada pelaksanaan salat Jumat. Tak banyak perubahan dari mimbar khatib tersebut, namun dahulunya dilengkapi anak tangga, sehingga agak lebih tinggi dari sekarang. Usianya sudah lebih dari 100 tahun. Sementara itu, bedug masjid juga masih dapat dijumpai di halaman masjid. Uniknya  tidak seperti bentuk beduk pada umumnya, namun beduk Masjid Jami bentuknya memanjang, menyerupai sebatang kayu, yang dijadikan bedug.

Aktivitas Masjid Jami’ Nanga Pinoh

Masjid ini sendiri, menjadi pusat kegiatan umat Islam yang ada di kabupaten Melawi. Di masa lalu, saat daerah lain belum memiliki mesjid, banyak masyarakat dari daerah lain seperti Tanjung Lay, Tanjung Paoh, Kebebu yang berada di daerah hulu sungai Melawi melaksanakan shalat Jumat di Masjid Jami’ ini, karena memang Masjid Jami’ ini masih merupakan masjid satu-satunya di Melawi. Mereka turun dengan cara mendayung sampan, sehingga saat shalat Jumat, di depan dermaga, banyak  sampan  yang berjejer.

Pada masa itu seluruh aktivitas kegiatan Islam di Melawi dipusatkan di Masjid Jami’ ini. Bahkan kelompok-kelompok tarbiyah berdatangan dari daerah di luar Melawi hingga dari semenanjung pulau Sumatera ke masjid tersebut. Saat ini, aktivitas masjid tersebut sama halnya dengan masjid lainnya yang berada di Melawi.

Apalagi di bulan Ramadani, Masjid Jami’ selalu dipadati dengan masyarakat yang melaksanakan shalat tarawih dan tadarusan. Selain ibadah shalat berjamaah dan shalat Jumat, juga ada pengajian dan majelis taklim. Dan saat ini juga TPA bagi anak-anak di sekitar Desa Tekelak juga sudah diaktifkan kembali.***

Referensi