Friday, June 24, 2016

Masjid Wuring Gaung Syiar Islam di Flores

Masjid Wuring diatara rumah rumah penduduk (panoramio)

Wuring adalah nama sebuah desa kecil di Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka di pulau Flores/ Merupakan desa nelayah yang berjarak sekitar 5 kilometer dari kota Maumere. Desa Wuring sangat terkenal dengan rumah-rumah panggungnya. Di desa wuring berdiri sebuah masjid tua benama Masjid Ar-Rahmat Hanya beberapa meter dari pelabuhan, Masjid ini satu satunya masjid yang ada di desa Wuring dan menjadi tumpuan bagi sekitar 4 ribu warga muslim di desa tersebut.

Masjid Ar-Rahmat Wuring
Desa Wuring, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka
Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Koordinat 8° 36' 3.68" S  122° 12' 8.38" E


Masjid Wuring pertama kali dibangun oleh Haji Pijung sekitar tahun 1800, Haji Pijung merupakan perantau dari Sulawesi Selatan sudah lama tinggal di Wuring bersama dengan para perantau dari suku Bajo, Bugis, dan Buton yang selain menjadi nelayan dan pedagang juga menyebarkan agama Islam di Kabupaten Sikka. Bangunan awal yang dibangun Haji Pijung merupakan sebuah Langgar (Mushola) yang menjadi cikal bakal Masjid Ar-Rahmat Wuring. Bangunan berukuran 10x10 meter dengan atap dari daun kelapa dan tiang penyangganya menggunakan kayu glondongan.

Masjid ini telah beberapa kali mengalami pemugaran. Pemugaran pertama dilakukan tahun 1940 dengan mengganti dindingnya dengan dinding tembok permanen dan atap daunnya diganti dengan atap seng. Ukuran masjid diperluas tahun 1987 dengan menambahkan bangunan aula dibelakang masjid, mengubah ukuran masjid menjadi 17 meter baik panjang maupun lebarnya.

Masjid Ar-Rahmat, Nama Masjid ini, namun karena berada di Kampung Wuring maka lebih dikenal dengan nama Masjid Wuring.

Perbaikan terhadap masjid ini dilakukan paska gemba yang melanda daerah tersebut di tahun 1992. Meski tak merusak struktur bangunan, gempa tersebut telah merusak kubah masjid. Paska gempa kubah bulat tersebut diganti dengan atap limas seperti yang terlihat saat ini. Dan lantai masjid kemudian ditinggikan sekitar 30 cm karea air laut yang sering naik. Saat bencana gempa tersebut, masjid ini menjadi tempat pengungsian warga setempat karena Masjid ini satu-satunya tempat yang masih lancar pasokan air bersihnya dan listriknya tidak padam akibat gempa.

Renovasi kembali dilakukan di tahun 2007 dengan menambahkan empat buah tiang cor pada tiang penyangga masjid. Meski telah beberapa kali mengalami renovasi, desain bangunan masjid ini tetap sama seperti dulu. Sisa bangunan lama masih terlihat pada bagian jendela yang bercorak art deco era tahun 40-an hanya kacanya yang sudah diganti. Sumur di dalam areal shalat di shaf perempuan yang dulu dipakai mengambil air wudhu juga ditutup.

Selalu Dikunjungi


Kini Masjid Wuring melayani sekitar 4 ribu penduduk muslim desa Wuring dan mampu menampung lebih kurang 1.000 jamaah setiap shalat Jumat. Masjid ini menjadi satu-satunya tempat beribadah saat Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, Bulan Ramadhan, ibadah sholat Jumat, dan kegiatan ibadah lainnya. Setiap sebulan sekali diadakan kegiatan rutin di Masjid AR Rahmat ini. Misalnya kegiatan pembinaan kerohanian untuk pemuda-pemudi Desa Wuring. Masjid ini juga sering dikunjungi oleh umat muslim dari kabupaten lain di NTT. Kini Masjid Ar-Rahmat mempunyai 1 imam dan 3 wakil imam serta 2 muadzin.

---------------------

Baca Juga


Sunday, June 19, 2016

Masjid Cheng Hoo Jember

Balutan warna merah membalur hampir seluruh dinding bangunan Masjid ini seperti kebanyakan masjid bergaya Thionghoa lain nya yang ada di Indonesia. 

Masjid Cheng Ho Jember ini berada di Kelurahan Sempusari Kecamatan Kaliwates, Kota Jember, diresmikan, Minggu 13 September 2015 setelah tiga tahun pembangunan. Masjid ini menjadi Masjid Cheng Hoo kedelapan di Indonesia setelah Surabaya, Palembang, Pandaan, Purbalingga, Gowa, Samarinda dan Batam.. Keberadaan masjid itu selain untuk meningkatkan syiar Islam juga dapat menambah satu destinasi wisata lagi di Jember. Lokasi Masjid ini berada dibelakang kantor Kelurahan Sempusari, dan tak jauh dari pusat peebelanjaan Carrefour Jember.

Masjid Cheng Hoo Jember
Jl Hayam Wuruk, Kelurahan Sempusari
Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember
Propinsi Jawa Timur, Indonesia


Peresmian masjid itu dilakukan oleh Bupati Jember, MZA Djalal dihadiri oleh Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya Yu Hong, Dewan Penasehat Yayasan Haji MCheng Hoo Indonesia Bambang Sujanto, Ketua MUI Jember Prof Abdul Halim Subahar.

Menurut Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jember, H Muhamamad Laow Song Tjai selaku Ketua Pembangunan Masjid Cheng Hoo Jember pada saat diresmikan pembangunan masjid itu masih 95 persen. Namun sudah bisa dipergunakan oleh masyarakat Jember.

Masih menurut H Muhamamad Laow Song Tjai yang juga takmir Masjid Cheng Ho Jember ini, Masjid tersebut dibangun di atas tanah wakaf dari Pemerintah Kabupaten Jember. Beliau pun sangat berharap adanya pembinaan dari ulama untuk eksistensi syiar agama Islam, Sebab, masjid tersebut bukan milik kelompok tertentu, tapi milik semua umat Islam. Sementara itu Bupati Jember MZA Djalal menyampaikan apresiasi atas berdirinya masjid Cheng Hoo di Jember.

Ornamental Masjid Cheng Hoo Jember

Seperti masjid Cheng Ho pada umumnya, masjid Cheng Ho Jember juga mempunyai ciri khas tersendiri. Luas bangunan induknya 350 meter persegi. Disamping kirinya berdiri menara yang cukup besar dengan luas 350 meter persegi. Menara ini berdenah segi delapan melambangkan keberuntungan dengan ketinggian lima lantai yang berbentuk kelenteng serta didominasi warna merah. Menara yang bertingkat lima tersebut melambangkan Rukun Islam dan Pancasila.

Bangunan berukuran 11 x 9 meter. Angka 11 memiliki arti bahwa ukuran Ka’bah saat dibangun. Sedangkan angka 9 sebagai lambang Wali Songo, yang sngat berjasa besar dalam dakwah islam di Jawa.

Tanah kompleks masjid tersebut merupakan hibah dari Pemkab Jember, luasnya mencapai 5000 meter persegi, menjadikan luas kawasan masjid ini lebih luas dari Masjid Cheng Ho di Surabaya. Menurut Song Tjai, di sekitar masjid tersebut kelak akan dibangun Taman Kanak-kanak, lapangan olahraga, kantin, dan fasilitas lainnya.

Tampak depan Masjid Cheng Ho Jember.

Hal tersebut sejalan dengan harapan Bupati Jember – MZA Djalal yang berharap kelebihan luas tanah ini nantinya dapat dikembangkan, bukan hanya masjid namun juga bisa menjadi banyak hal. Misalnya menjadi pusat kajian islam, rekreasi dan pusat kewirausahaan. Dia berharap Masjid Cheng Hoo ini benar-benar dimanfaatkan dan juga menjadi pusat bagi masyarakat Tionghoa di Jember. Apalagi 10 persen dari jumlah penduduk Jember 2,5 juta jiwa adalah warga Tionghoa dan dari 10 persen itu, 250 orang diantaranya beragama islam.

Upacara peresmian masjid Cheng Hoo Jember ini ditandai dengan pengguntingan pita kemudian dilakukan penandatangan prasasti tanda peresmian, kemudian ditutup dengan sholat zuhur berjamaah yang diikuti oleh para jemaah yang membanjiri masjid tersebut bersama dengan Bupati dan segenap undangan lainnya.

Baca Juga



Saturday, June 18, 2016

Kuningan Islamic Center

Masjid At-Taufik di komplek Kuningan Islamic Center
Kuningan yang dimaskud disini adalah kabupaten Kuningan di Provinsi Jawa Barat. Bukan Kuningan Kawasan Bisnis di Jakarta. Masjid At-Taufik merupakan masjid yang berada di kawasan Islamic Center Kabupaten Kuningan. Dibangun di Jalan Lingkar Cijoho-Cirendang Kabupaten Kuningan. Dibangun oleh pemerintah kabupaten Kuningan sebagai pusat ke-Islaman Kabupaten, sesuai dengan visi Kuningan yang ingin menjadikan masyarakatnya sebagai masyarakat yang agamis.

Masjid At-Taufik dan Islamic Center ini diresmikan tahun 2012 oleh Bupati Kuningan Utje Ch Suganda, dan menjadi langganan tempat diselenggaralannya bazar ataupun pameran tingkat kabupaten Kuningan. Komplek Islamic Center ini juga di jadikan pusat manasik Haji bagi para calon haji dari Kabupatem Kuningan serta menjadi tempat pemberangkatan dan kedatangan Jemaah Haji dari kabupaten tersebut. Untuk pelaksanaan ibadah haji, jemaah haji dari Kabupaten Kuningan akan menginap di asrama haji Bekasi sebelum keberangkatan ke tanah suci.


Pada tanggal 23-29 Maret 2014 yang lalu, Islamic center Kuningan menjadi tempat diselenggarakannya Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Jawa Barat. Acara tersebut turut dimeriahkan dengan kehadiran artis Ibukota Dewi Yul membawakan lagu lagu Islami di iringi grup band siswa SLB Taruna Mandiri Kuningan yang pernah menjadi juara di tingkat Nasional. Meski pelaksanaan MTQ tersebut dilaksanakan di komplek Islami Center Kuningan namun acaranya tidak dilaksanakan di Masjid At-Taufik dengan pertimbangan agar tidak mengganggu aktivitas peribatan rutin di masjid tersebut.

Selama pelaksanaan MTQ, juga digelar pameran hasil pembangunan keagamaan dari 27 kabupaten/kota se Jawa Barat dan stand dari provinsi, juga hadir peserta pameran dari Kabupaten Brebes dan Cilacap sebagai wakil daerah perbatasan grup “Kuningan Summit”. Pameran tersebut, diprakarsai Dekranasda yang dipusatkan di Pandapa Paramartha Kuningan, juga setiap hari digelar panggung kesenian sebagai sarana hiburan bagi masyarakat.***

Baca Juga


Friday, June 17, 2016

Masjid Cheng Hoo Kutai Kartanegara

Bangunan utamanya berbentuk bangunan masjid biasa, hanya saja warna dan ornamennya mayoritas menggunakan warna merah seperti bangunan kelenteng.

Masjid Muhammad Cheng Hoo atau dikenal Masjid Cheng Hoo juga ada di Kalimantan Timur (Kaltim). Masjid ini beralamat di pinggir jalan poros Balikpapan-Samarinda, KM 20, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Jika dari Balikpapan, letaknya di sebelah kiri jalan. Masjid Cheng Hoo Kukar menjadi destinasi bagi para musafir untuk beristirahat kala lelah datang. Lokasinya strategis, ditambah lagi area parkir yang luas, lingkungan masjid yang bersih serta berada di ketinggian, membawa rasa nyaman dengan angin sepoi-sepoinya. 

Corak warnanya sebagaimana Masjid Cheng Hoo yang memang banyak tersebar di Indonesia, yaitu perpaduan merah-kuning-hijau. Begitu pula dengan ornamen dan arsitektur indoor dan outdoor-nya. Yang agak berbeda, Masjid Cheng Hoo Kukar ini kubahnya tidak berkhas bangunan China, seperti Masjid Cheng Hoo di Surabaya. Kubahnya seperti halnya kubah masjid ‘biasa’. Bisa dikatakan, Masjid Cheng Hoo Kukar perpaduan antara arsitektur China dan Indonesia.

Jl. Soekarno-Hatta Poros Balikpapan-Samarinda, KM 20
Dusun Tani Maju, Desa Batuah RT 7 No. 11
Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar)
Propinsi Kalimantan Timur - Indonesia


Dalam laman humas.kutaikartanegarakab.go.id disebutkan, Masjid Cheng Hoo Kukar dibangun pada tahun 2006 dan selesai tahun 2007. Tanah bangunan masjidnya merupakan hasil swadaya dari masyarakat Batuah serta hibah dari Wili Susanto. Khusus untuk bangunan masjid merupakan bantuan dari H Muhammad Jos Soetomo, yang juga pembina masjid tersebut.

Adapun papan namanya bantuan dari Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak, sedangkan pagar merupakan bantuan sosial dari Pemkab Kukar. Masjid ini diresmikan oleh Wakil Bupati Kukar HM Guhfron Yusuf, mewakili Bupati Kukar Rita Widyasari, pada Ahad 9 September 2012.

Gerbang masjid Cheng Ho Kukar

Tradisi Ramadhan

Selama Bulan Suci Ramadhan, setiap hari, warga bergantian menyumbangkan makanan untuk buka puasa ke Masjid Cheng Hoo Kukar sebanyak 300 porsi makanan. Sudah berlangsung sejak 2012 dan menu yang tersaji di masjid ini berbeda setiap hari. Selain menyajikan hidangan berbuka berupa makanan ringan seperti buah, juga menyediakan hidangan santap malam bagi para jamaah. Setiap hari sekitar 250 orang berbuka di masjid ini. 

Setiap hari, warga bergantian menyumbangkan bukaan puasa ke Masjid Cheng Hoo Kukar. Warga yang mampu, biasanya sendirian saja membiayai buka bersama itu. Terkadang juga ada warga yang berkelompok menyumbang. Antuasias warga sangat besar dalam menyediakan makanan bagi jamaah yang berbuka puasa. Menu yang tersaji di masjid ini berbeda setiap hari. Mulai dari rawon, soto, sate, ayam bakar, ayam goreng, dan berbagai masakan lainnya. Semua disiapkan untuk menjamu para jamaah dan musafir yang hendak berbuka.***

Tuesday, June 14, 2016

Hagia Sophia Ahirnya Kembali Menjadi Masjid

Masjid Hagia Sopia

Pemerintah Turki dibawah kepemimpinan Presiden Erdogan, ahirnya memberikan izin penggunaan Hagia Sophia (Aya Sophia) sebagai masjid setelah lebih dari 80 tahun bangunan itu ditutup untuk semua kegiatan peribadatan dan dijadikan museum. Pemberian izin tersebut membuka lembaran baru sejarah Hagia Sophia, setelah sekian lama muslim Turki mengajukan permohonan untuk kembali mempungsikan Masjid tersebut namun selalu saja kandas, baru kali ini pemerintah Turki mengizinkan untuk mengembalikan fungsinya sebagai masjid meski hanya selama bulan Ramadhan ini saja.

Setiap hari selama bulan suci Ramadhan dibacakan Ayat Suci Al-Qur’an dari masjid ini dan disiarkan langsung oleh chanel religi Turki TRT Diyanet. Termasuk juga menyiarkan secara langsung acara makan sahur langsung dari Masjid tersebut. Siaran tersebut akan berlangsung selama sebulan penuh selama bulan suci Ramadhan.


Masjid Hagia Sophia merupakan sebuah bekas Gereja Yunani Kuno dari Masa Kekaisaran Byzantium. Seiring dengan kekalahan Byzantium dan jatuhnya Konstantinopel Ibukota kekaisaran itu ke tangan Pasukan Islam dibawah pimpinan Muhammad Al-Fatih pada Hari Jum,at tanggal 23 Maret 1453 menjadi titik awal berubahnya Gereja tersebut menjadi masjid.

Di hari itu Muhammad Al Fatih (Sultan Mehmed II) turun dari kudanya dan bersujud syukur kepada Allah, lalu pergi ke Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan tentaranya mengubahnya menjadi masjid yang dikenal dengan Aya Sofia. Saat itulah shalat Jumat berlangsung untuk pertama kali di tempat itu. Beliau juga mengganti nama Kota Konstantinopel menjadi Istambul. Salama hampir lima ratus tahun lamanya bangunan tersebut berfungsi sebagai masjid.

Namun, manakala pemerintahan di Turki berubah menjadi Republik setelah kudeta yang dilakukan oleh Kemal Ataturk terhadap ke-khalifahan Usmaniah, lalu mendirikan Turki baru yang sekuler, Masjid tersebut ditutup dan dijadikan museum sejak tahun 1935 dan berlangsung hampir selama 80 tahun. Upaya mengembalikan fungsinya sebagai masjid telah dilakukan oleh pemerintahan Turki dibawah pemerintahan Presiden Erdogan sejak tahun 2013, namun gagasan itu juga direspon unjuk rasa sebagian orang di Turki.

Protes Keras dari Yunani

Keputusan pemerintah Turki mempungsingkan kembali Hagia Sophia sebagai masjid meskipun baru berupa izin berbatas waktu telah menimbulkan ketersinggungan dari pemerintah Yunani yang menyebut hal tersebut sebagai suatu langkah yang refresif dan fanatisme serta tidak sesuai dengan masyarakat modern, demokratis, dan sekuler. 


Saturday, June 11, 2016

Masjid Al-Ikhlas Sijuk Tertua di Belitung

MASJID KEMBAR dua bangunan bersebelahan dengan bentuk yang serupa menjadikan Masjid Al-Ikhlas di Desa Sijuk, pulau Belitung ini seperti bangunan kembar.

Masjid Al-Ikhlas di Desa Sijuk ini dibangun tahun 1817 dan merupakan masjid tertua yang masih ada dan masih asli di Pulau Belitung. Masjid pertama yang berdiri di Belitung konon dibangun di kaki gunung Parang Bulu di Membalong, namun tidak jelas benar kapan tahun berdirinya dan apakah masih ada sisa jejaknya. Masjid Al Ikhlas ini juga merupakan saksi sejarah perjuangan rakyat Belitung melawan Belanda, yang pada saat itu masjid ini menjadi pusat komando perjuangan rakyat Belitung.

Jl. Penghulu, Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk 33451
Kabupaten Belitung, Propinsi Bangka Belitung


Masjid dengan arsitektur sederhana ini dikonservasi keasliannya hingga kini. Sebagian besar bangunannya menggunakan bahan kayu berdinding papan dengan cat warna coklat dengan atap limas berumpang dua. namun lantai masjid sudah diberi keramik lantai dan seluruh permukaan lantainya dipasang karpet sajadah. Mimbar kayu masjid yang kurus tinggi terkesan sangat sederhana, dan agak mistis, lantaran kain mori putih pucat yang menutup sisi kanan dan lantai mimbar, serta tiga buah bendera berbentuk segitiga yang juga berwarna putih menggantung di bagian depan. Sebuah tongkat putih yang biasa dipegang oleh khotib ketika berkhotbah tampak menyender pada sisi kiri mimbar.

Disebelah bangunan masjid terdapat bangunan aula pertemuan yang bentuknya hampir sama dengan bangunan masjid sehingga sekilas masjid Al-Ikhlas ini tampak seperti masjid kembar dua. Ukuran bangunannya tidak terlalu besar dengan denah bujur sangkar berukuran 8 x 8 meter. Mihrab masjid dibangun agak menjorok keluar dengan atap yang senada dengan atap bangunan utamanya, di bagian atas mihrabnya tertulis tanggal perbaikan masjid tersebut dalam aksara arab melayu “diperbaiki 1 Rajab 1370 Hijriyah”.

Di dalam Masjid Al-Ikhlas Sijuk

Sekitar 300 meter sebelah barat dari masjid kita akan melihat klenteng, menurut keterangan penjaga masjid dan klenteng dua tempat ibadah ini di bangun oleh orang Tionghoa pada tahun yang sama. Masjid adalah bangunan yang pertama selanjutnya baru Klenteng.
Dilihat dari bukti peninggalan sejarah kedua bangunan tersebut di atas digambarkan bahwa sejak dulu hingga sekarang ini kerukunan beragama di Belitung terjaga dengan baik, demikian juga keakraban antara penduduk Pribumi dan Tionghoa.

Keberadaan etnis Tionghoa di pulau Belitung ini sudah berlangsung sejak masa kesultanan Palembang. Di masa lalu wilayah Bangka dan Belitung merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Palembang. Sekitar tahun 1709, timah ditemukan di Pulau Bangka oleh orang-orang Johor. Setahun berikutnya tau tahun 1710 sumber-sumber Timah di Pulau Bangka dan Belitung dikelola oleh Kesultanan Palembang, untuk mengelola sumber Timah tersebut Sultan mendatangkan tenaga ahli pertambangan dari China.

Si timur Masjid Sijuk

Sejarah Islam di Sijuk
  
Pemerhati sejarah dan budaya Belitung Salim YAH menyampaikan teori yang lain tentang sejarah Islam di Belitung. Beliau mengatakan, pada abad ke-15 Sungai Sijuk diyakini menjadi pintu masuk rombongan panglima Ceng Ho. Sungai tersebut masih bisa dijumpai hingga kini. Jadi mungkin saja ada kaitan sejarah Islam di Sijuk dengan kedatangan Ceng Ho tersebut. Sungai Sijuk juga menyimpan panorama cantik pada bagian muaranya. Di sana terdapat pangkalan nelayan dan pantai pasir putih dengan hamparan batu granit. Tak jauh dari Sungai Sijuk juga terdapat Masjid Al-Ikhlas di Jalan Penghulu Desa Sijuk.

Menurut sumber yang lain, Islam masuk ke Belitung pada sekitar tahun 1520-an dengan datangnya seorang ulama asal Gresik bernama Datuk Mayang Gresik, menyusul keruntuhan Kerajaan Majapahit (1293 – 1500) yang digantikan oleh Kesultanan Demak (1475 – 1548). Datuk Mayang Gresik dikabarkan tinggal di Pelulusan, sekarang masuk Desa Nyuruk, Kecamatan Dendang, Belitung Timur.

Raja Majapahit, yang menguasai Belitung sejak 1293, mempercayakan kepemimpinan Belitung kepada panglima bergelar Rangga Yuda (Rangga Uda atau Ronggo Udo) dengan pusat pemerintahan di Badau. Belitung dibagi empat wilayah, yaitu Badau (Tanah Yuda / Singa Yuda, tempat raja), Buding (Istana Yuda, tempat pesanggrahan raja), Sijuk (Wangsa Yuda / Krama Yuda, tempat keluarga dan para abdi), dan Belantu (Sura Yuda, tempat suci atau keramat). Saat Datuk Mayang Gresik datang, yang berkuasa di Badau adalah Ronggo Udo yang ketiga.***

Friday, June 10, 2016

Masjid Agung Nurul Iman Kabupaten Barru

Kubah blendok berdenah segi empat menjadi vocal point bangunan masjid ini
Barru adalah nama salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Pangkep di bagian selatan, Soppeng dan Bone di Timur, Kota Pare-Pare di Bagian Utara, dan selat makassar di Bagian barat.  Kabupaten Barru berada di Jalan poros Makassar – Pare-Pare, dan jalan lintas trans Sulawesi. dari Kota Makassar, Jarak ke Barru sekitar 120 Km, bisa ditempuh sekitar 2-3 jam. Pusat pemerintahan Kabupaten Barru berada di Kota Barru, Kecamatan Barru.

Transportasi umum di Kota Barru dikenal dengan nama Pete’-Pete, nama lain dari Angkot (angkutan kota). Pete’-pete’ sendiri sebenarnya adalah bentuk penyebutan versi bugis dari kata PT yang merupakan singkatan dari Public Transportation. Singkatannya Bahasa Inggris, tapi kini terdengar seperti Bahasa bugis. Selaku ibukota kabupaten, Kota Barru adalah kota yang cukup nyaman bagi para pendatang masih sepi, kecil, hijau, rindang dan bersih, jauh dari ruwetnya lalu lintas,  polusi, dan kebisingan.


Masjid Agung Nurul Iman
Jl. Sultan Hasanuddin, Sumpang Binangae
Kec. Barru, Kabupaten Barru
Sulawesi Selatan - Indonesia

Di pusat kota Barru telah lama berdiri bangunan masjid Agung yang diberi nama Masjid Agung Nurul Iman. Masjid yang tidak terlalu besar seperti masjid masjid agung di kota kota besar. Bangunan masjid ini direnovasi total tahun 2013 yang lalu dengan rancangan minimalis modern, sementara disebelahnya sedang dibangun gedung Islamic Center kabupaten Barru. Alunan azan dari masjid ini mengalun ke seatero kota Barru tanpa gangguan bisingnya kendaraan.

Ruang sholat utama dan Mihrab Masjid Agung Nurul Iman, Barru
Masjid ini memiliki sedikit perbedaan dengan Masjid kebanyakan, bila biasanya tempat wudhu Masjid dibangun di luar,  tempat wudhu masjid ini berada di dalam Masjid.  Dari tempat wudhu, jemaah akan melewati ruangan besar di dalam Masjid sebelum masuk ke tempat sholat Utama. Tempat sholat utama, berada dalam ruangan yang berbeda lengkap dengan Mihrab dan mimbar. Untuk menuju ke ruang sholat utama harus melewati pintu menuju ke ruang sholat utama yang tidak begitu luas, tapi terlihat elegan dan mewah, Ruangan luas di luar ruang utama dipakai pada hari-hari besar, seperti sholat idul fitri, idul idha, dan sholat Jum’at.

Tak ada hiasan kaligrafi yang menghiasi dinding bagian dalam Masjid ini. Selain desain Minimalis, warna yang digunakan Di bagian dalam dan luar Masjid juga menggunakan warna warna natural di dominasi warna putih dengan sedikit warna hijau yang kurang menyala, warna putih di bagian plafondnya, begitupun dengan marmer yang digunakan di lantai dengan corak sederhana, sedangkan kubahnya juga dipoles dengan warna coklat. Bila dilihat dari luar, masjid ini seolah olah hanya satu lantai, tapi sebenarnya Masjid ini memiliki dua lantai, hanya saja lantai kedua itu tidak begitu luas.***

------------ooo000ooo------------

Baca Juga 


Wednesday, June 8, 2016

Masjid Raya Baitussyakur Batam

Salah satu masjid tertua di pulau Batam. 
Masjid Raya Baitussyakur Kota Batam sudah berubah total dari bangunan sebelumnya menjadi sebuah bangunan masjid megah dan modern lengkap dengan bangunan menaranya yang menjulang diantara gedung gedung jangkung yang memadati kawasan Sungai Jodoh Kota Batam. Kecepatan tumbuh tinggi masjid ini tetap saja kalah dengan jangkungnya gedung gedung tinggi disekitarnya. Sungai Jodoh, nama kelurahan tempat masjid ini berdiri memang terdengar cukup unik, nama semula sejak kota Batam masih sunyi senyap sampai kemudian di buka menjadi pulau industri dan melesat maju dengan hingar bingar kota besar seperti saat ini. Bangunan hotel dan pusat bisnis kini mengepung masjid ini.

Jl. Imam Bonjol No.1, Sungai Jodoh
Batu Ampar, Kota Batam, Kepulauan Riau


7 Makam Misterius

Masjid Raya Baitussyakur pertama kali dibangun sekitar tahun 1980-an, sejak dibangun di sekitar masjid ini memang sudah ada tujuh makam tua tanpa identitas yang diperkirakan berusia ratusan tahun. Pengurus masjid sendiri sulit menelusuri asal-usul makam karena tidak ditemukan artefak atau petunjuk di nisan  yang menunjukan identitas makam tersebut. Belum ada dari pihak terkait (pemerintah) atau sumber lain yang menyatakan keterangan identitas 7 makam tersebut. Masyarakat Kampung Tua Tanjung Uma Kota Batam mengklaim makam makam tersebut adalah makam leluhur mereka, sehingga setiap bulan Ramadhan banyak warga Tanjung Uma Batam yang datang berziarah.

Lokasi masjid tersebut berada memang masih di wilayah area Tanjung Uma, maka diperkirakan, 7 makam tersebut merupakan orang-orang yang pertama menempati wilayah Kampung Tua Tanjung Uma sekitar Jodoh Nagoya, di antaranya Syekh Abdullah Syukur yang hingga kini diabadikan dengan nama masjidnya yaitu Baitusyukur. Menurut keterangan penjaga masjid dan makam bernama Akmad, ada sebagian peziarah yang bercerita, 1 dari 7 makam di dalam masjid berasal dari Suku Bugis - Melayu bernama Syekh Abdulah Syukur. Namun ada juga yang menyebutkan Syeh Abu Bakar. Akan tetapi tidak ada  yang kaitan dengan Kerajaan Riau Linga. Dia menuturkan, ketika 7 makam tersebut mau dipindahkan karena dinilai kurang pas ada makam di dalam masjid, alat berat untuk memindahkan makam selalu mati alias mendadak mogok, hingga pada akhirnya makam dibiarkan ditempatnya hingga kini berada di dalam masjid setelah renovasi.

Overall view masjid Baitussyakur

Pendiri FPI Habib Rizieq ke Baitussyakur

Al-Habib Mohammad Rizieq bin Husein Syihab atau populer dengan panggilan Habib Rizieq mendatangi masjid Baitussyakur Jodoh pada Minggu 28 November 2010. Kehadiran salah satu pendiri Fron Pembela Islam (FPI) ini dalam rangka rangkaian perjalanannya ke Sumatera. Menurut Sekjend DPD FPI Kepri, Arlis MD, ceramah agama tersebut diberikan dalam rangka penyegaran pemahaman tentang islam serta hal lainnya yang berhubungan dengan muamalah amaliah dalam kehidupan sehari-hari terutama terkait hal-hal kemaksiatan yang bisa mengganggu keimanan. Habib Rizieq memang selalu berpesan agar DPD FPI Kepri dan DPW FPI Batam terus memantau tempat-tempat maksiat. Di Batam ini terlalu banyak tempat indikasi maksiat yang bisa merusak moral umat dan generasi muda Indonesia.

Selain itu, agenda lain yang dihadiri oleh Habib Rizieq adalah menghadiri dialog umat beragama di hotel PIH Batam Centre, membahas tentang pendirian tempat umat beragama sesuai dengan surat keputusan bersama dua mentri, yakni Mentri Agama dan Mentri Dalam Negeri. Selain dihadiri oleh Habib Rizieq, kegiatan ini juga akan mendatangkan dosen UIN Syarif Hidayatullah Sobri Lubis.

sequel historical view masjid Baitussyakur.

Masjid Tertua di Batam

Masjid Raya Baitusy Syakur yang terletak di Sei Jodoh. Masjid ini disebut-sebut sebagai masjid tertua yang ada di Batam. Menurut sejarah, sebelum didirikan pada lokasi sekarang di Sei Jodoh, masjid ini sudah ada tidak jauh dari lokasi saat ini dengan menggunakan bangunan kayu pada tahun 1986-1988, sebagaimana disampakan oleh H Zaini Zakaria Ketua Pengurus Masjid Raya Baitusy Syakur.

Sebelum didirikan, lokasi Masjid Raya Baitusy Syakur merupakan daerah perbukitan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya 7 makan keramat yang terletak di dalam kawasan masjid. Saat ini Masjid Raya Baitusy Syakur terus melakukan perubahan dari bentuk awalnya. Bahkan, selain menjadi masjid tertua, Masjid Raya Baitusy Syakur menjadu ikon pariwisata di Batam, dengan luas 900 meter persegi. Masjid Raya Baitusy Syakur mampu menampung jamaah sekitar 4.000 orang.***