Showing posts with label masjid di Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label masjid di Jawa Timur. Show all posts

Sunday, July 16, 2023

Masjid Agung Al-Hidayah, Hagia Sophia-nya Kabupaten Malang

Masjid Agung Al-Hidayah Kabupaten Malang.

Masjid Agung Al-Hidayah di Kabupaten Malang ini mendadak mencuri perhatian warga karena bentuk bangunan-nya yang mirip dengan masjid Hagia Sopia di Istanbul Turki namun dalam ukuran yang lebih kecil. Lokasinya menyatu dengan komplek pondok pesantren Al-Hidayah di Dusun Bonowarih Desa Karangan, kecamatan Karangploso kabupaten Malang, provinsi Jawa Timur.
 
Masjid berwarna coklat ini tampak berdiri begitu menonjol dibandingkan bangunan bangunan yang ada di sekitarnya. Akses jalan menuju Masjid Agung Al Hidayah mudah dilalui oleh wisatawan yakni dari pintu tol Karangploso lurus terus ke arah Kota Batu, posisinya masjid tersebut ada di pinggir jalan sebelah kanan.
 
Masjid Agung Al Hidayah Malang
Dusun Bonowarih, Desa Karangan, Kecamatan Karang Ploso
Kabupaten Malang, Jawa Timur 65152
https://goo.gl/maps/UfSZ93yD3kXaniBg9
 
 
Sejarah masjid Agung Al-Hidayah Malang
 
Sejatinya masjid Agung Al-Hidayah ini sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda di komplek pondok pesantren Al-Hidayah, namun tidak diketahui dengan pasti tahun pembangunan masjid ini. Pendirinya adalah KH. Ismail Arif bin Paku Nego, beliau merupakan Tokoh agama pendiri Pondok Pesantren Al Hidayah, makamnya berada disisi barat Masjid Agung Al-Hidayah ini.
 
Pada awalnya bangunan masjid ini hanya berupa bangunan dari bahan bambu lalu diganti dengan batu bata pada renovasi tahun 1988. Tahun 2008 Masjid Agung Al Hidayah mengalami renovasi besar-besaran hingga ke bentuknya saat ini. Total renovasi besar besaran tersebut menghabiskan dana sekitar Rp. 8.5 Milyar bersumber dari jariah masyarakat. 

Bangunan masjid ini dirancang oleh Pak Tholib, beliau bukan seorang seniman dan bukan arsitek, kemampuannya merancang masjid diperoleh secara otodidak. Awalnya pengurus masjid hanya menginginkan bangunan masjid yang bagus dan unik. Kemudian ditunjukkan sebuah lembaran foto masjid Hagia Sophia yang diambil dari kalender. Pengurus pun akhirnya sepakat untuk membangun masjid serupa dalam foto tersebut.
 
Interior Masjid Agung Al-Hidayah Kabupaten Malang.

Saat renovasi besar-besaran pada 2008 bangunan masjid lama mulai dibongkar dan dibangun secara bertahap, karena selama proses pembongkaran dan pembangunan, masjid ini tetap digunakan untuk ibadah sholat. Renovasi tersebut memakan waktu hingga 10 tahun.
 
Arsitektur Masjid Agung Al-Hidayah Malang
 
Masjid Agung Al Hidayah terdiri atas tiga lantai, lantai pertama digunakan sebagai tempat wudhu, kamar mandi dan gudang. Lantai dua digunakan untuk tempat sholat utama dan tempat mihrab dan mimbar berada, sedangkan di lantai tiga juga digunakan tempat sholat serta kajian kajian islam. Ukuran bangunan masjidnya sendiri seluas 20 x 30 meter persegi diperkirakan mampu menampung hingga 700 jemaah sekaligus.
 
Kubah utama masjid didukung 16 kubah lebih kecil yang tersusun sedemikian rupa. Beberapa juga terlihat kubah separuh lingkaran yang berada di sudut-sudut puncak masjid. Masjid Agung Al Hidayah di Kabupaten Malang ini adalah memiliki menara tunggal setinggi 45 meter. Sedangkan dinding Masjid Agung Al Hidayah ini lebih didominasi oleh warna coklat
 
Masjid Agung Al-Hidayah Kabupaten Malang.

Saat memasuki Masjid Al Hidayah Jemaah akan menemukan ruangan masjid yang lapang dengan atap begitu tinggi ditopang oleh tiang-tiang penyangga beruikuran besar. Para pengunjung akan disambut dengan ukiran dan ornamen yang menarik dan layar televisi LED di area bawah bangunan. Ditambah dengan kaligrafi kaligrafi estetik menghiasi dinding dan sisi dalam kubah kubah masjid.
 
Objek Wisata Religi
 
Arsitektur dan interiornya yang mirip dengan Hagia Sophia berhasil mengundang perhatian masyarakat luas. Mereka biasanya menyempatkan diri berfoto selfie, selain menjalankan ibadah salat lima waktu. Sering kali juga digunakan tempat ijab kabul dan foto pranikah. Pasangan yang akan berfoto prewed atau menikah cukup mengajukan izin kepada pengurus setempat. Hanya saja harus tetap menjaga sopan santun dan adab di masjid.***
 
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Rujukan
 
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5556434/masjid-agung-al-hidayah-mirip-hagia-sophia-turki-di-malang-habiskan-rp-85-miliar
https://travelingyuk.com/masjid-al-hidayah-karangploso/296152/
https://kabarbanten.pikiran-rakyat.com/syiar/pr-596326361/destinasi-wisata-religi-masjid-agung-al-hidayah-malang-jawa-timur-mirip-arsitektur-hagia-sophia-di-turki
https://khazanah.republika.co.id/berita/qs09s1483/menengok-hagia-sophia-di-malang

 
Baca Juga
 
Masjid Agung An-Nur Kota Batu
Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro
Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun
Masjid Agung Baitussalam Nganjuk
Masjid Agung Baitur Rahman Ngawi
Masjid Agung Baitussalam

Sunday, July 9, 2023

Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang

Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang.

Masjid Agung Baitul Mukminin merupakan masjid agung kota santri Jombang yang menjadi kebanggaan warga setempat dengan bangunan nya yang megah serta aktivitas ke-Islamannya yang sangat kental. Konon, dalam sejarahnya, Masjid Agung Baitul Mukminin ini berperan dalam sejarah lahirnya organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) dengan pimpinan pertamanya KH. Hasyim Asyari yang memang asli n’jombang.
 
Berdiri megah di di Jalan KH. A. Dahlan nomor 28 disebelah barat alun alun Jombang, berseberangan dengan pendopo dan kantor Bupati Jombang disebelah timur alun alun. Sedangkan di sisi selatan alun alun terdapat stasiun kereta api jombang. Karena letaknya, masjid ini menjadi tempat singgah bagi para musafir yang tiba atau akan berangkat dari stasiun Jombang.
 
Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang
Jl. KH. A. Dahlan No.28, Jombatan, Kec. Jombang
Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61419
https://goo.gl/maps/QGfh5n8ZABe7uWEp9
 

 
Kabupaten Jombang dulunya merupakan bagian dari Kabupaten Mojokerto yang dibentuk pada 1811, dan pada 1910 Jombang berdiri sendiri sebagai kabupaten. Lebih jauh ke masa lalu Jombang diperkirakan sempat menjadi ibukota kerajaan Mataram ketika Mpu SIndok memindahkan ibukota Mataram dari Jateng ke Jatim sekitar tahun 929.
 
Jombang sebagai tanah kelahiran dan tempat dimakamkan-nya presiden RI ke-4, KH Abdulrahman Wahid atau lebih dikenal sebagai Gusdur, menjadi salah satu kota tujuan wisata ziarah. Tak heran bila masjid Agung Baitul Mukminin Jombang ini juga kerap kali diramaikan oleh Jemaah dari berbagai daerah yang sedang berziarah ke Jombang.
 
Interior Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang.

Sejarah Singkat Masjid Agung Baitul Mukminin
 
Sejarah berdirinya Masjid Baitul Mukminin ini memiliki korelasi dan hubungan erat dengan berdirinya Pendopo Kabupaten Jombang saat Jombang berdiri sebagai kabupaten terpisah dari Kabupaten Mojokerto ditahun 1910.
 
Sedangkan bangunan masjid Agung yang saat ini berdiri merupakan hasil pembangunan besar besaran sejak tahun 2010. Pemancangan tiang pertama pembangunan masjid Agung Baitul Mukminin ini dilaksanakan pada 24 Februasi 2010 oleh Bupati Jombang Drs. H. Suyanto MMA ditandai dengan pemecahan kendi pada tiang pancang, dan diresmikan pada 27 Oktober 2012 oleh Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo.

Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang.
 
Arsitektur Masjid Agung Baitul Mukminin
 
Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang dibangun dengan memadukan arsitektur Jawa dan arsitektur masjid modern. Atap limas bersusun tiga menjadi ciri khas bangunan masjid berlanggam Jawa pada bangunan utama masjid dengan keseluruhan badan bangunan masjid tinggi besar bedinding beton dilengkapi dengan beranda dan jejeran beberapa anak tangga di sisi depan.
 
Bangunan utamanya terdiri dari dua lantai yakni lantai utama dan lantai mezanin. Sepasang menara kembar mengapit bangunan masjid disisi depan. Masuk kedalam ruang sholat utama masjid dilantai satu terasa begitu lega, karena sokoguru bangunan tidak berdiri ditengah ruangan, kesan selesa atau lega lebih terasa dengan langi langit yang tidak diplafon.
 
Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang.

Mihrab masjid berbentuk gerbang setinggi tembok masjid, diapit sepasang pilar beton. Dihias dengan ukiran kayu. Mimbar khutbah dari kayu berukir juga ditempatkan didalam mihrab. Jendela masjid tarbuat dari kaya patri dengan ornamen floral. Jendela kaca di dinding sisi mihrab diletakkan di sisi atas dinding bangunan.
 
Fasilitas Masjid Agung Baitul Mukminin
 
Masjid yang namanya memiliki arti sebagai perkumpulan orang-orang muslim ini, mampu menampung 1.500 jamaah. Sementara itu ketika Ramadhan kegiatan masjid sangat padat mulai dari pengajian ba’da Subuh hingga kegiatan tadarus. Fasilitas yang ada dalam komplek Masjid Agung Baitul Mukminin tergolong lengkap, mulai dari tempat parkir, kamar mandi, tempat wudhu umum dan khusus lansia, serta terdapat gedung Isalamic Center.***
 
Rujukan
 
https://kabarjombang.com/religi/mengenal-masjid-agung-baitul-mukminin-jombang-kental-budaya-jawa/
https://idntrip.com/tempat-wisata-di-jombang/
http://grchexacon.blogspot.com/2015/11/masjid-agung-baitul-mukminin-jombang.html

Saturday, December 5, 2020

Masjid Namira Lamongan

Masjid Namira foto dari IG @raflinurazmi


Masjid Namira terletak di Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung, Lamongan. Masjid yang baru dibangun tahun 2013 yang lalu dengan gaya minimalis bersentuhan Timur Tengah ini memiliki keistimewaan tersendiri karena di dalam masjid ini terdapat sebuah kiswah ka’bah yang memang didatangkan langsung dari Masjidil Haram. 

Kiswan berukuran besar ini ditempatkan di sisi mihrab masjid dan di lindungi dengan dinding kaca, sementara kiswah kiswan berukuran kecil di pajang di pajang di sekeliling area dalam masjid. Tak hanya kiswah, masyarakat dan jamaah bisa mencium wewangian khas Tanah Suci Mekkah seakan menambah kerinduan akan Baitulloh. 

Namira Mosque
Jl. Raya Lamongan- Mantup, Sanur, Jotosanur
Kec. Tikung, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur 62281
Akun instagram @masjidnamira


 

 

Keberadaan kiswah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para Jemaah yang datang ke masjid ini. Fasilitas-fasilitas masjid milik warga Lamongan ini juga menyediakan kursi roda dan tempat duduk bagi jamaah yang tidak bisa melakukan salat dengan berdiri.
.
Uniknya Masjid Namira menyelenggarakan program Aku Cinta Masjid, yang bertujuan Untuk merangsang gairah anak muda agar rajin sholat berjamaah di Masjid. Untuk setiap anak muda yang melaksanakan sholat berjamaah di Masjid Namira akan mendapatkan 1 poin, namun khusus Untuk sholat shubuh nilainya berlipat menjadi 2 poin
 

Masjid Namira foto dari IG @yusvan_photography


Nantinya, bagi anak muda yang rajin melakukan sholat berjamaah di Masjid Namira dan mengumpulkan 90 poin Dalam satu Bulan, bakal mendapatkan Beasiswa sebesar Rp 100.000
 
Masjid Namira juga memiliki program Warung Shubuh Gratis berupa sarapan bersama setiap Hari Minggu di teras Masjid Dan juga menyediakan minuman gratis Untuk para pengunjung.
 

Masjid Namira foto dari IG @misbahafef27


Masjid Namira didirikan oleh sepasang pengusaha emas asal Lamongan yang bernama Helmy Riza dan istrinya, Eny Yuli Arifah. Pertama kali dibuka untuk umum pada tanggal 1 Juni 2013. Pada awalnya, masjid ini tidak terlalu besar. Hanya menempati lahan sekitar 0,9 hektar dengan luas bangunan yang mencapai 1.100 meter dan hanya dapat menampung 500 jamaah saja.
 
Akan tetapi, lama kelamaan pengunjung masjid ini semakin banyak dan akhirnya banyak jamaah masjid yang tidak mendapat tampungan tempat parkir. Oleh sebab itu, masjid ini lantas di renovasi dan selesai pada tanggal 2 Oktober 2016. Luas masjid setelah renovasi mencapai 2.750 meter dengan menempati lahan sekitar 2,7 hektar dan dapat menampung 2500 jamaah.
 
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
Musholla Diatas Laut Nurul Bahar, Probolinggo
Masjid Al Birru Pertiwi Bojonegoro,
Masjid Tiban Pangkah Gresik
Masjid Tiban Beji Pasuruan
Masjid Jamik Tiban Babussalam Probolinggo
Masjid Agung An-Nur Kota Batu

Saturday, February 3, 2018

Musholla Diatas Laut Nurul Bahar Probolinggo

Mushola Nurul Bahar

Masjid kecil unik di atas air yang satu ini adalah Mushola Nurul Bahar di lepas pantai kawasan wisata hutan mangrove di kelurahan Mayangan, Kota Probolinggo provinsi Jawa Timur. Sekilas dilihat dari jauh, masjid ini menyerupai kapal layar yang sedang bersandar atau kapal layar sedang terdampar.

Bahan atap yang digunakan dari kain tenda berwarna putih yang didatangkan langsung dari Jerman. Sedangkan dinding dan lantai berbahan papan kayu kelapa. Selain itu, diperbagai sudut diberi dinding kaca, agar jamaah yang melaksanakan sholat atau ibadah lainnya benar-benar seperti berada di tengah laut. Masjid ini diresmikan pada tanggal 13 November 2016.

Musholla Nurul Bahar
Bee Jay Bakau Resort, Pantai Mayangan
Kota Probolinggo, Jawa Timur
Indonesia


Bee Jay Bakau Resort atau yang biasa dikenal sebagai wisata BJBR Probolinggo tempat masjid ini berada, merupakan wisata hutan bakau dengan luas 5 hektar yang berada di pesisir pantai. Awalnya BJBR adalah hutan mangrove Muara Kali Banger yang merupakan daerah kumuh yang penuh dengan sampah, namun tempat itu diubah menjadi kawasan wisata yang menarik bahkan ke seluruh kota di Indonesia. Wisata yang lebih dikenal dengan nama Labuhan Mayangan oleh warga lokal ini, menempati lahan seluas 89 hektar.

Kawasan wisata yang dibangun pada tahun 2013 ini memiliki berbagai kawasan wisata dan penginapan, jogging track yang terbuat dari jembatan kayu sepanjang 700 meter sebagai sarana untuk mengenal ekosistem pasang surut laut serta pemandangan alam pantai disekitar area BJBR dengan angin sepoi-sepoi yang segar.

Musholla Nurul Bahar, Cahaya Diatas Laut

Kawasan wisata BJBR Probolinggo terbagi 2 zona yaitu Pantai Majengan dan Hutan Mangrove yang masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri. Pantai Majengan adalah pantai berpasir putih buatan, lengkap dengan berbagai permainan air, perahu kanoe, perahu bebek, waterboom, taman air dan lapangan voli pantai berstandar internasional. Ada juga globe raksasa yang mirip seperti di universal studio, hanya saja yang disini bertuliskan BJBR.

Hutan mangrove di kawasan wisata ini dilengkapi dengan jogging track dan hutan Mangrove. Di Ujung Jogging track ada 2 tempat makan, yaitu Rest-O-tent sebuah restoran laut yang atapnya mirip tenda dengan 4 kubah serta Cafe Jonggrang Mayangan. Ada juga spot tulisan warna warni I love BJBR yang unik menjadi khas wisata BJBR yang selalu rame wisatawan. Ada Gembok Cinta BJBR, disana juga sekalian dijual gemboknya. di lokasi ini juga tersedia tempat peristirahatan bungalow.

-------------------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
-------------------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sunday, January 14, 2018

Masjid Al Birru Pertiwi Bojonegoro

Rancangan minimalis modern Masjid Al-Birru Pertiwi Bojonegoro, tampak megah dan unik. (foto dari IG @ninasweet81)

Masjid Al Birru Pertiwi Bojonegoro adalah Masjid berkubah emas di Desa Dander, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Masjid Al Birru Pertiwi berada di pingir jalan raya Bojonegoro - Nganjuk (13 KM selatan Kota Bojonegoro) dan dibangun oleh keluarga besar Santosa, putra-putri dari Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi yaitu: Sugeng Santosa, Suprapto Santosa, Supramu Santosa,  Widodo Santosa, Winarto Santosa, Wijiningsih Santosa

Masjid ini dibangun sebagai wujud rasa syukur keluarga besar Santosa kepada Allah SWT serta persembahan bakti cinta kasih kepada orang tua mereka. Desa Dander, Bojonegoro adalah tempat kelahiran dan tempat leluhur seluruh putra putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi. Oleh karena itu masjid ini dibangun di wilayah Desa Dander.

Masjid Al Birru Pertiwi
Jl. Raya Dander KM No.10, Dander, Bojonegoro
Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur 62171
Situs resmi: albirrupertiwi.com
Telepon : (0353) 571252


Pembangunan Masjid Al Birru Pertiwi dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 24 Maret 2012 dan diresmikan pada tanggal 25 Januari 2014 oleh Bupati Bojonegoro, Drs.Suyoto, M.Si. Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini diharapkan menjadi pusat kegiatan Islam di Bojonegoro yang menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, diskusi, serta pengajian dalam upaya pendidikan dan syiar islam sebagai Rachmatan Lil Alamin serta pengembangan dan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Harapan tersebut bukanlah hal yang mustahil, sebab kemegahan Masjid Al-Birru Pertiwi merupakan modal utama serta didukung dengan sarana dan prasarana penunjangnya sebagian besar sudah terpenuhi.

Sarana Dan Rancangan

Masjid Al Birru berdiri di atas tanah seluas 3 hektare, tanah ini dahulunya adalah sawah tadah hujan peninggalan Ibu Pertiwi Santosa binti Karso Prawiro. Secara fisik, bangunan utama masjid Al-Birru Pertiwi berukuran sekitar 25 m (panjang) x 13 m (lebar), memiliki tiga lantai. lantai dasar dipergunakan sebagai ruang pertemuan, jama’ah pria menempati lantai satu, sedangkan  jama’ah wanita nenempati lantai dua, dengan daya tampung sekitar 1000 jemaah. Sarana-sarana lain yang ada di sekitar masjid, adalah ruangan untuk pendidikan dan pelatihan, selain itu juga terdapat  perpustakaan. Di halaman masjid ini terdapat taman-taman indah yang hijau.

Komplek Masjid Al Birru Pertiwi (foto dari akun IG @ganangaditama)

Desain, perencanaan dan pembangunan Masjid Al-Birru Pertiwi dilakukan oleh PT. Garis Prada di bawah pimpinan Bpk. Uke Setiawan, arsitek yang telah ber pengalaman membangun masjid, Pimpinan Proyek adalah Bapak Edy Hendriyanto yang juga suami dari putri bungsu (menantu) Bapak/Ibu Santosa Hardjosuwito/Pertiwi.

Keberadaan masjid yang berkubah emas ini merupakan salah satu daya tarik, bagi masyrakat yang melintas di jalan raya Dander, baik yang hanya sebatas mampir menyaksikan kemegahan Masjid Al Birru Pertiwi, maupun untuk melaksanakan ibadah shalat.

Aktivitas dan pengelolaan

Masjid Al Birru, di kelola Yayasan Bakti Pertiwi Surabaya, semua biaya operasional masjid ditanggung Yayasan Bakti Pertiwi, pengelola masjid semuanya ada 23 petugas, di antaranya, tiga ustadz putra dan dua putri serta empat orang Imam.

-------------------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
-------------------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, December 16, 2017

Masjid Tiban Pangkah, Gresik

Masjid Tiban Pangkah, atau Masjid Jami Ainul Yaqin Ujung Pangkah Kabupaten Gresik. tampak bangunan baru dengan kubah bundar berdiri di sisi timur bangunan lama masjid ini.

Ujungpangkah merupakan salah satu kecamatan di wilayah kabupaten Gresik yang berada di wilayah paling utara kabupaten Gresik. Banyak peninggalan dan situs-situs bersejarah yang terdapat di wilayah Ujungpangkah. Salah satu peninggalan bersejarah yang ada di Ujungpangkah adalah masjid Tiban Pangkah atau kini dikenal dengan nama Masjid Ainul Yakin Ujung Pangkah.

Berbeda dengan masjid masjid di tanah Jawa lainnya yang disebut sebagai masjid tiban karena tidak diketahui kapan berdirinya atau tiba tiba sudah berdiri di suatu tempat tanpa diketahui asal usulnya, Masjid Tiban Ujung Pangkah ini disebut masjid tiban karena bahan bahan kayu jati yang digunakan untuk membangun masjid ini pada awalnya muncul dengan tiba tiba.

Masjid Jami' Ainul Yaqin Ujungpangkah Gresik  
Ujungpangkah, Pangkah Wetan, Ujungpangkah
Kabupaten Gresik, Jawa Timur 61154
Provinsi: Jawa Timur, Indonesia



Menurut Syekh Muridin, keturunan kelima Jayeng Katon bin Sunan Bonang Tuban, dalam buku Primbon Sunan Bonang bahwa bahan-bahan masjid Ujungpangkah itu kiriman dari Sunan Bonang Tuban. Sunan Banang mengirim bahan-bahan masjid yang berupa kayu gelondongan kepada putranya Jayeng Katon yang telah lama bermukim di Ujungpangkah dan sebagai penyebar agama Islam di Ujungpangkah.

Jayeng Katon datang ke Ujungpangkah bersama adiknya yang bernama Jayeng Rono dan putra pertamanya yang bernama Pendil Wesi. Kedatangan ketiga keturunan Sunan Bonang di Ujungpangkah itu ditandai dengan penanaman tiga pohon asem yang melambangkan adanya tiga keturunan Sunan Bonang. Tiga pohon asem itu bernama Asem Resik, Asem Growok, dan Asem Angker.

Asem Resik berada di pertigaan jalan Sitarda Ujungpangkah, Asem Growok berada di jalan Jiwosoto Pangkahkulon Ujungpangkah, dan Asem Angker berada di kampung Kauman Pangkahkulon Ujungpangkah. Namun, sayang pohon bersejarah itu kini tinggal Asem Growok sedangkan Asem Resik dan Asem Angker tinggal kenangan karena telah dipotong dan berganti menjadi bangunan rumah.

Jayeng Katon mendirikan pondok di tepi pantai Ujungpangkah, sebelum pantai Ujungpangkah berubah menjadi ujung akibat endapan lumpur Bengawan Solo. Pondok itu sebagai sarana mengajarkan agama Islam kepada penduduk. Pondok itu ditandai dengan batu gilang. Batu itu sering digunakan sebagai tempat duduk-duduk Jayeng Katon menikmati keindahan pantai Ujungpangkah mengusir kepenatan usai memberikan pelajaran kepada santri-santrinya.

Tempat mandi dan wudlu pun dibuat di timur pondok itu, berupa sumur senggot berukuran 2x3m yang bening airnya dan beji atau jublangan yang berukuran 3 x 5 m yang airnya bisa berubah menjadi hijau atau merah delima.

Sisi depan (timur) Masjid Jami' Ainul Yaqin, berdiri megah bangunan masjid baru dengan arsitektur modern, sementara bangunan lama masih dipertahankan di sisi barat.

Bak gayung bersambut, pondok Jayeng Katon dibanjiri santri-santri untuk menimbah ilmu agama Islam. Santri-santri yang mengaji tidak hanya penduduk Ujungpangkah, namun banyak juga yang berasal dari luar seperti Ronggo Janur, Ronggo Seto, Ronggo Lawe dari Tuban.

Tidak hanya itu, banyak penduduk yang membuat rumah di sekitar pondoknya. Mereka itu merupakan penduduk Ujungpangkah yang memeluk agama Islam berkat bimbingan Jayeng Katon. Perkampungan mereka disebut Kauman. Keberadaan mereka diikuti penduduk yang lain yang berada di wilayah Ujungpangkah. Berkat bimbingannya seluruh penduduk Ujungpangkah menganut agama Islam.

Setelah Jayeng Katon berhasil mengembangkan Islam di Ujungpangkah bersama adiknya Jayeng Rono. Jayeng Katon berkeinginan memperluas daerah pengembangan agama Islam, maka Jayeng Katon mengutus Jayeng Rono adiknya untuk mengembangkan agama Islam di pulau Madura.

Kabar keberhasilan Jayeng Katon dalam pengembangan Islam di wilayah Ujungpangkah sampai juga ke Sunan Bonang ayahandanya di Tuban. Karena pondok Jayeng Katon belum mempunyai masjid yang dapat menampung penduduk bila melaksanakan salat Jumat, Sunan Bonang mengutus seorang santrinya mengirimkan kayu-kayu jati gelondongan untuk bahan pembangunan masjid di pondok putranya. Kayu-kayu itu dilarung ke laut dikawal seorang santri Sunan Bonang yang dikenal dengan nama panggilan Kyai Maskiriman.

Kayu-kayu yang diikat dengan tali lingir dari tematan yang dikawal Maskiriman itu berhenti di pantai Ujungpangkah di sebelah utara pondok Jayeng Katon. Tempat berhentinya kayu itu kini dinamai kampung Kramat karena tempat itu dianggap sebagai tempat yang kramat. Jayeng Katon bersama para santri dan penduduk setempat merancang kayu-kayu menjadi sebuah masjid.

Salah satu sokoguru masjid ini beserta dengan Mimbarnya merupakan pemberian dari Sunan Giri, karena pada saat pembangunan masjid, kayu kayu yang dikirim Sunan Bonang kurang satu untuk Sokogurunya.  Masjid itu semuanya terbuat dari bahan kayu jati. Masjid itu beratap susun tiga. Atap susun yang paling atas semuanya terbuat dari kayu, termasuk gentingnya. Kayu penyangga atap susun ketika itu diikat dengan tali lingir.

Arsitektur Masjid Tiban Ainul Yakin Ujung Pangkah

Masjid Tiban Ujung Pangkah berukuran 12 m x 12 m dengan empat tiang sokoguru, dan 32 pilar. Di tengah-tengah masjid terdapat tangga untuk ke atas menara. Masjid itu dinamai masjid Jamik artinya masjid untuk berjamaah Jumat. Masjid itu berpagar tembok keliling dengan satu pintu gapura. Pintu itu bentuknya mirip dengan pintu gapura memasuki kompleks pemakaman Sunan Bonang.

Di pintu masuk terdapat batu hitam berukuran 1,5 m x  0,30 m x 0,15 m. Konon Batu itu sejenis dengan batu yang digunakan untuk membangun Kakbah di Mekkah. Batu hitam itu disandingi dengan batu berbentuk keris. Batu itu replika keris Aji Saka.

Mimbar masjid ini yang merupakan hadiah dari Sunan Giri  terbuat dari kayu jati dengan candra sengkala naga kale warni setunggal ( tahun 1428 saka/ 1506 masehi/ 911 hijriah). Masjid itu juga dilengkapi dengan beuk (Jawa: jidor) dan kentongan yang terbuat dari kayu jati

Bangunan baru Masjid Jami Ainul Yaqin saat dalam proses pengerjaan kubah.

Di timur Masjid terdapat alun-alun yang ditanami lima pohon beringin. Lima pohon beringin itu sebagai tempat berteduh atau bernaung. Berjumlah lima melambangkan lima rukun Islam. Lima pohon beringin mengisyaratkan lima putra Jayeng Katon yang siap membawa masyarakat Ujungpangkah di bawah perlindungan ajaran Allah yakni agama Islam.

Kelima putra Jayeng Katon sebagai penerus perjuangan adalah Pendel Wesi, Jaka Karang Wesi, Jaka Berek Sawonggaling, Jaka Sekintel alias Cinde Amo, dan Jaka Slining alias Jaka Tingkir. Kelima putra Jayeng Katon mengikuti jejak abahnya dalam mengembangkan Islam. Mereka juga mendirikan pondok sebagai sarananya. Pendek Wesi mendirikan pondok Bekuto di Bekuto Ujungpangkah, Jaka Karang Wesi mendirikan pondok Rebuyut di Rebuyut Ujungpangkah, Cinde Amo mendirikan pondok Unusan di Unusan Ujungpangkah, dan Jaka Slining mendirikan pondok Sabilan di Sabilan Ujungpangkah. Jaka Berek Sawonggaling mengasuh pondok Pangkah menggantikan Jayeng Katon.

Suatu hari ada seorang tamu dari Aceh. Orang Ujungpangkah memanggilnya Syeh Aceh. Ia pergi bersilaturrahim ke pondok-pondok keluarganya yang berada di pulau Jawa. Ia kunjungi pondok Sunan Ampel Surabaya, pondok Sunan Bonang Tuban diteruskan ke Pondok Pangkah. Sampai di Pondok Pangkah, ia tidak bertemu dengan Jayeng Katon, putra Sunan Bonang ,karena Jayeng Katon sudah wafat. Ia hanya bertemu dengan anak dan cucu Jayeng Katon. Syeh Aceh mengunjungi pondok-pondok anak cucu Jayeng Katon.

Setelah selesai mengadakan kunjungan itu ia pergi ke Masjid Tiban Ujungpangkah untuk melaksanakan salat. Ia tidak melihat tempat wudu dan mandi untuk kaum wanita. Ia berinisiatif membuat jublangan khusus wanita. Bersama anak cucu Jayeng Katon serta penduduk Ujungpangkah dibuat jumbangan. Jumblangan itu berada di sebalah selatan jumblangan bagian utara yang dibuat Jayeng Katon dan berada di sebelah timur pohon sawo kecik yang ditanam Jaka Berek Sawonggaling. Air jublangan itu berwarna hijau. Sayang, jublangan itu kini tinggal kenangan karena telah diratakan dengan tanah guna perluasan masjid pada tahun 1975.

Kini, Masjid ‘Tiban’ Ujungpangkah itu bernama Masjid Jamik Ainul Yaqin Ujungpangkah. Masjid itu sudah mengalami beberapa kali perubahan. Namun, bentuk aslinya masih nampak pada bagian depan(barat) masjid yang berupa atap tumpang, sedangkan bangunan di sisi timurnya merupakan bangunan yang sama sekali baru dengan rancangan masjid modern.*** (Disarikan dari http://masnukhan.blogspot.co.id/2011/10/masjid-tiban-pangkah-ujungpangkah.html)

------------------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------------------

Baca Juga




Saturday, November 25, 2017

Masjid Tiban Beji Pasuruan

Masjid Tiban dusun Nyangkring, Desa Bujeng, Beji, Pasuruan

Masjid Tiban atau masjid yang menurut masyarakat setempat sebagai masjid  yang tiba tiba ada tanpa tahu kapan dan oleh siapa dibangunnya. Ada beberapa masjid yang disebut sebut sebagai masjid tiban di tanah Jawa, dan masjid di Dusun Nyangkring, Desa Bujeng, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini adalah salah satunya.

Menurut mitos keberadaan Masjid Tiban adalah dibangun secara ghaib, pembangunannya bukan dibuat oleh manusia, melainkan makhluk ghaib (jin). Masjid Tiban merupakan masjid yang tertua di Di Desa Baujeng Dusun Nyangkring Kec. Beji Kab. Pasuruan.

Masjid Tiban
Dusun Nyangkring, Desa Bujeng
Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan
Jawa Timur 67154 Indonesia



Konon, awal mulanya posisi Masjid Tiban ini berada di Dusun Tanggul Desa Baujeng, namun entah bagaimana kemudian pindah ke Dusun Baujeng, dan yang terakhir letak lokasinya di Dusun Nyangkring. Konon perpindahan tempat ini disebabkan karena sedikitnya jumlah jamaah masjid penduduk setempat.

Masjid Tiban di Dusun Nyangkring ini hingga kini dikeramatkan oleh masyarakat setempat karena proses terjadinya yang “ajaib” itu dan dikatakan menyimpan sejuta nilai-nilai spiritual. berdasarkan kisah tutur masyarakat setempat usia masjid ini sudah mencapai tujuh generasi, dan di akui bahwa memang tidak banyak yang tahu tentang sejarah masjid ini.

Usia yang sudah begitu tua dan telah melewati beberapa generasi dan tanpa bukti sumber sejarah yang dapat di verifikasi dengan car acara modern, memang sangat sulit untuk memastikan tentang kebenaran sejarah pembangunan masjid ini. Namun demikian keberadaan Masjid Tiban di dusun Nyangkring, Pasuruan, ini menambah khasanah sejarah masjid masjid Nusantara.

Pada awalnya masjid ini berdiri dengan 4 pilar yang terbuat dari batangan kayu. Namun lantaran dikhawatirkan ambruk seiring perkembangan zaman, pilar-pilar kayu kemudian dibalut dengan cor-coran beton agar lebih kokoh dan kuat. Perbaikan dan perluasan lokasi masjid pun juga sempat dilakukan.

Masjid Tiban dusun Nyangkring, Desa Bujeng, Beji, Pasuruan

Sumur di dalam Masjid

Di dalam masjid pun juga terdapat sebuah air sumur yang sangat jernih. Bukan sekedar jernih saja, namun air sumur itu dipercaya sangat manjur untuk obat maupun bobok (untuk diusap ke tubuh). Airnya tidak pernah habis meskipun musim kemarau. Sayangnya, karena terkendala dana, kondisi masjid tersebut terlihat kurang terpelihara dan terawat.

Mimbar Masjid

Selain penyangga yang kokoh, masjid tiban juga dikenal orang karena lubang mimbar yang berukuran kecil. Meskipun kecil, ternyata orang setinggi berapa pun bisa masuk ke dalam lubang mimbar itu. Selain itu, ornamen kuno atap dan jendela berhias bunga menjadi petanda tuanya masjid tiban.

Kini perkembangan penduduk semakin banyak, masjid tiban juga telah diperluas dengan membangun bagian serambi, agar bisa menampung warga beribadah. Khusus bulan ramadhan, banyak warga menjalankan ibadah di masjid tersebut. Mulai aktifitas  mengaji dan sholat berjamaah.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, November 12, 2017

Masjid Jamik Tiban Babussalam Probolinggo Peninggalan Syekh Maulana Ishaq

Masjid Tiban Babussalam Probolinggo

Masjid Tiban di Probolinggo ini dipercaya masyarakat setempat merupakan bangunan masjid tempat Syekh Maulana Ishaq melakukan Syiar Islam. Syech Maulana Ishaq, adalah ulama yang mengislamkan Samudera Pasai dan Blambangan, menikah dengan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu. dari pernikahan itu lahir seorang putera, bernama Ainul Yaqin atau Raden Paku yang dikenal dengan gelar Sunan Giri.

Masjid ini juga dipercaya hadir begitu saja dan warga sekitarnya tidak ada yang tahu kapan masjid tersebut dibangun, tiba tiba sudah berdiri kokoh di lokasi tersebut, dan karena itu masjid ini disebut masjid tiban. diperkirakan masjid ini sudah ada sejak tahun 1600-an (abad ke 17).

Masjid ini bukan satu satunya yang disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban karena tidak tahu siapa dan kapan dibangunnya dan dipercaya hadir begitu saja, sekonyong konyong dan tiba tiba. Selain masjid ini ada banyak masjid lainnya yang juga disebut masjid Tiban seperti Masjid Tiban di Pasuruan, Masjid Tiban Pangkah (gresik), Masjid Sunan Bonang di desa Bonang, Masjid Tiban Gedongmulyo atau Masjid Tiban di pinggir Kali Bagan desa Gedongmulyo Kec. Lasem, dan lain lainnya.

Masjid Jami' Tiban Babussalam
Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Pilang
Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo
Jawa Timur 67212 Indonesia



Masjid Tiban Babussalam ini kini terdiri dari dua bangunan, yakni bangunan asli yang berada di sisi barat dan bangunan masjid baru di sisi timur yang dibangun kemudian. masing masing dua bangunan ini memiliki bentuk dan gaya arsitektur yang sama sekali berbeda.

Bangunan asli atau bangunan lama Masjid Tiban Babussalam ini berukuran 9 x 9 meter dan berbentuk masjid tradisional Nusantara dengan atap limas bersusun dengan tembok dinding dari batu paras, sedangkan bangunan baru yang berada di sebelah timurnya merupakan bangunan masjid dengan rancangan modern berukuran sekitar 900 meter persegi.

Masjid ini diyakini sebagai tempat Syekh Maulana Ishaq melakukan Syiar Islam, hingga ke Banyuwangi. Hingga kini bangunan lama Masjid selalu didatangi warga untuk melakukan wisata religi.

Masjid Tiban Babussalam Probolinggo

Rancangan Masjid Tiban Babussalam

Rancang bangun Masjid Tiban tersebut juga masih menggunakan cara-cara kuno, seperti tembok pada bagian atap, menggunakan batu padas putih dan tidak memakai paku logam melainkan dari paku kayu, untuk merakitkan kayu satu dengan kayu yang lain.

Penyangga dalam Masjid, menggunakan kayu jati berukuran 40 kali 40 senti meter, dan di atasnya ada beberapa ukiran sederhana dan ventilasi. Di belakang Masjid, ada sebuah batu lempeng yang berukuran besar. Konon, batu tersebut dibuat Syekh Maulana Ishak untuk berkhotbah menyebarkan agama Islam.

Selain itu, ada sebuah sumur tua dan tanaman yang ada di sekitar masjid bisa menyembuhkan segala macam penyakit, maka tak jarang banyak musyafir yang selalu berkunjung ke Masjid tersebut.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga