Tuesday, July 31, 2012

Masjid Cheng Ho Akan jadi ikon Baru Kota Jambi


Gubernur Jambi, Hasan Basri saat peletakan batu pertama Masjid.

Masjid Laksanama Cheng Hoo yang kini mulai dibangun akan menjadi salah satu ikon Kota Jambi, kata Gubernur Jambi Hasan Basri Agus.

"Masjid Laksamana Cheng Hoo ini bentuknya unik dan menarik, karena memadukan budaya Cina, Arab, dan Melayu Jambi. Saya harap masjid ini akan menjadi salah satu ikon Kota Jambi," katanya saat meletakkan batu pertama pembangunan masjid itu di Jambi, Minggu.

Masjid Laksamana Ceng Hoo berlokasi di RT 17 Kelurahan Kenali Asam Bawah, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi dan dibangun oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jambi diharapkan akan menjadi salah satu objek wisata.

Gubernur juga berharap dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat sekitar untuk mewujudkan pembangunan masjid itu.

"Ini merupakan perbuatan yang sangat mulia guna mengembangkan agama, jangan ragu-ragu untuk membantu pembangunan rumah ibadah," katanya.

Pemerintah Provinsi Jambi juga membantu dana sebesar Rp100 juta, dan Gubenur secara pribadi juga akan membantu mewujudkan pembangunan masjid tersebut.

Diharapkan tempat ibadah itu juga akan menjadi tempat pendidikan agama bagi anak-anak yang ada di sekitar masjid, demikian juga bagi putra-putri anggota PITI.

Ketua Umum DPP PITI HM Ramdhan Effendi/Tan Kok Liong (Anton Medan) mengajak warga PITI untuk terus berjuang bahu membahu membangun Indonesia umumnya dan daerah Jambi khususnya, termasuk bersama warga masyarakat Tionghoa yang beragama non Muslim.

Ke depan DPP PITI berencana akan mengeluarkan kartu dan anggota kehormatan yang dapat dimiliki oleh masyarakat Tionghoa non Muslim, tujuannya tidak lain untuk sama-sama saling bahu membahu membantu pemerintah melaksanakan pembangunan.

PITI dideklarasikan pada 14 April 1961 di Jakarta oleh H Abdulkarim Oey Tjeng Hien, H Abdussomad Yap A Sing, Kho Goan Tjin. PITI tergolong cukup tua dan sejajar dengan NU dan Muhammadiyah. Saat ini PITI ada di 24 provinsi di Indonesia.

Sebelumnya Ketua DPW PITI Jambi HM Rusli Manaf SE/Huang Kang Tong dalam laporannya menyampaikan, dibangunnya Masjid Laksamana Cheng Hoo dalam upaya meningkatkan keimanan anggota PITI, disamping juga untuk pusat kegitan belajar (pengajian) anggota PITI yang ada di Jambi.

PITI Jambi berdiri sejak 2005, namun selama itu pula PITI Jambi belum memiliki tempat yang tetap untuk melaksanakan pengajian. Pengajian dilaksanakan dari rumah ke rumah, dan bila ada yang mencari PITI Jambi sulit ditemukan, karena belum memiliki sekretariat tetap.

"Selama ini pengajian kita laksanakan dari rumah ke rumah, dan bila ada yang mencari alamat PITI Jambi. Dengan dibangunnya masjid ini nantinya akan mudah," ujarnya.

Ia menyatakan, memilih nama Cheng Hoo karena sesuai sejarah Laksamana Cheng Hoo mempunyai andil besar bagi masuknya agama Islam di Indonesia, dan ini merupakan wujud penghormatan warga PITI terhadap perjuangan dan dakwahnya.

Masjid ini dibangun dua lantai dengan ukuran 20x20 meter diluar rencana pembangunan madrasah, asrama, dan sekretariat yang dibangun di lahan seluas 2.380 meter persegi.

Bangunannya sengaja memadukan budaya Tiongkok kuno pada bagian kap atas, sedangkan bagian tengah dimasukkan budaya Timur Tengah dan untuk bagian depan masjid merupakan budaya Melayu Jambi.

Sementara ini dana untuk membeli lahan dan rencana pembangunan masjid masih sepenuhnya berasal dari anggota PITI, ke depan warga PITI mengharapkan dukungan dan bantuan untuk mewujudkan sarana ibadah dan pendidikan ini, ujarnya.

Sebagaimana disarankan Gubernur Jambi, di lokasi masjid ini akan dibangun madrasah yang dapat menampung anak-anak belajar agama, tidak saja untuk anak-anak anggota PITI tapi juga untuk masyarakat sekitarnya.

Lokasi ini juga nantinya akan dilengkapai asrama guna menampung mualaf (pemeluk baru Islam) yang belum memiliki tempat tinggal, sekaligus tempat mereka memperdalam ilmu agama.

Saat ini PITI Jambi memiliki anggota seribu orang yang tersebar di kabupaten/kota di Provinsi Jambi, sedangkan yang di Kota Jambi ada 300 orang lebih.

Pada kesempatan ini juga dilakukan pengumpulan dana spontanitas dari undangan yang hadir, dan terkumpul uang sebesar Rp14 juta lebih.

Monday, July 30, 2012

Masjid Pesantren Cijawura Pernah Jadi Markas Tentara Sabilillah


Masjid Pesantren Cijawura 

GAYA bangunan ala Timur Tengah dengan kubah besar di tengah dan empat kubah kecil di empat sudut bangunannya mampu memperlihatkan kemegahan masjid itu. Kemegahan pun semakin indah terlihat dengan adanya sebuah menara dengan puncak berbentuk kubah kecil dengan ukuran sama seperti kubah di empat sudut, serta banyaknya jendela bergaya lengkung tapal kuda yang menghiasi di sepanjang dindingnya hingga tiga lantai.

Pemandangan kemegahan itu bisa terlihat ketika kita melewati Jalan Ciwastra atau Jalan Rancabolang karena masjid yang bernama Masjid Raya Pondok Pesantren Cijawura Margasari itu berada tepat di belokan antara Jalan Ciwastra dan Jalan Rancabolang, Kota Bandung.

Sekilas suasana siang di halaman masjid terlihat sepi. Namun setelah memasuki masjidnya, tampak beberapa kelompok santri berkumpul ada yang melingkar ada pula yang berjajar yang dipimpin oleh seorang ustaz. Saat itu terlihat ada beberapa kelompok santri yang sedang mengaji kitab dengan gaya pengajaran yang santai, tapi serius. Suasana di dalam masjid pun terasa mengasyikkan. Para santrinya beragam, mulai dari kalangan anak yang masih duduk di sekolah dasar, SMP dan SMA hingga kalangan dewasa atau mahasiswa.

"Kami melakukan kegiatan sejak setelah sahur hingga setelah tarawih," kata Ustaz Umar Rosadi, salah seorang pengurus Masjid Pontren Cijawura Margasari, Minggu (22/7/2012).

Setelah menjalankan sahur para santri bersama jamaah warga sekitar banyak yang melakukan itikaf. Dilanjutkan dengan salat subuh berjamaah. Seusai salat sbuh dilanjutkan dengan kuliah sbuh mulai pukul 05.00 hingga 06.00. Pengajian dimulai kembali pada siang hari menjelang salat lohor dan setelah salat asar hingga buka puasa dilanjutkan dengan salat magrib berjamaah dan isya serta salat tarawih.

Kegiatan mengaji di masjid ini dibagi dalam tiga kelompok, yakni kelompok Ibtida yakni kelompok anak-anak yang mengaji kitab yang mengisahkan Isro Miraj, kedua kelompok Wusto yakni kelompok remaja yang mengaji kitab ilmu nahu dan hadis, dan ketiga adalah kelompok Ali yakni kelompok dewasa yang mengaji soal fikih tafsir munir. Selain itu masing-masing kelompok juga mengaji Alquran.

Masjid dan pontren yang didirikan oleh almarhum KH Muhammad Burhan pada tahun 1930-an ini setiap tahunnya selalu diminati santri. Seperti tahun-tahun sebelumnya santri yang meramaikan masjid tersebut terdiri dari sekitar 40 santri yang tinggal di pondok dan 70 santri yang "ngalong" atau tidak tinggal di pondok.

Masjid yang mampu membaurkan para santri dengan warga sekitar ini, kata Umar, anak Pimpinan Pontren Cijawura Margasari, KH Amin Fakih, penerus dari almarhum KH Muhammad Burhan, tergolong masjid yang memiliki sejarah dalam perjuangan kemerdekaan. Pada tahun 1946 masjid dan pontren ini sempat dihancurkan Belanda karena sempat menjadi markas tentara Sabilillah.

"Kata orang tua dulu, masjid pesantren ini sempat menjadi markas tentara Sabilillah," kata Umar.

Namun bangunan masjid yang sekarang ini merupakan banguan baru renovasi. Bahkan bangunan masjid itu sudah mengalami renovasi sejak tahun 1948 karena sudah dihancurkan Belanda. Hanya ruang tempat salat di mihrabnya yang masih bisa dipertahankan hingga sekarang.

Wednesday, July 25, 2012

Sayembara Design Masjid terbesar di Turki di Mulai


begini perkiraan bentuk masjid terbesar yang akan dibangun di atas bukin Camlica, Istanbul, Turki.

Menyambung berita masjid sebelumnya berjudul Menara Masjid Raksasa Turki akan Salip Masjid Madinah, kini pemerintah Turki mengumumkan dimulainya sebuah kompetisi internasional perancangan masjid yang digadang gadang sebagai masjid terbesar di Turki.

Unit Layanan Pendidikan dan Kebudayaan, Asosiasi Renovasi dan Kemakmuran Masjid Istanbul,mengumumkan kompetisi desain pembangunan masjid raksasa di Camlica, Istanbul. Asosiasi menjanjikan hadiah  300 ribu Lira Turki bagi desain yang terpilih.

Seperti dikutip todayszaman.com, Selasa (24/7), batas waktu pengajuan desain 3 September dan hasil kompetisi akan diumumkan pada 10 September.

pemandangan dari Camlica Hill, Indah bukan...
Pemerintah Turki akhirnya memastikan pembangunan masjid raksasa di Istanbul. Setelah sebelumnya, sejumlah pihak hanya melihat rencana itu sebatas wacana saja.  Masjid seluas 15 ribu meter persegi itu dibangun di Camlica Hill, sehingga bangunannya dapat dilihat dari seluruh penjuru kota yang ditaklukkan oleh Sultan Mehmet II pada 27 Mei 1453 itu.

Di kompleks masjid raksasa itu nantinya akan disediakan fasilitas untuk pengembangan kerajinan tradisional, seperti kaligrafi Turki dan penyepuhan. Masjid itu akan difungsikan sebagaimana masjid di era kejayaan Islam. Contohnya, di sekitar masjid akan dibangun madrasah tempat pelajar dan mahasiswa menimba ilmu.

Monday, July 23, 2012

Masjid Simbol Wisata Religi Gowa


Masjid Sheikh Yusuf, Gowa
BULAN Ramadan telah tiba, khusus bagi yang beragama Islam, anda masih bisa melakukan berbagai aktivitas seperti biasanya meski sedang menjalankan ibadah puasa, salah satunya dengan berwisata.

Bertepatan dengan bulan ramadan ini, tidak ada salahnya mencoba wisata religi. Wisata religi ini tidak harus ke Timur Tengah.

Sulsel juga menyajikan objek wisata religi yang menarik anda kunjungi saat bulan ramadan. Salah satunya Masjid Tua Katangka dan Masjid Syekh Yusuf di Kabupaten Gowa.

Di masa lalu, Gowa diketahui sebagai pusat penyebaran Islam di jazirah Sulawesi. Menurut catatan sejarah, Islam pertama kali dijadikan sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1603 lalu. Itu berarti, 409 tahun yang lalu. Dengan rentang waktu yang sangat panjang, tentu sangat banyak khazanah Islam masa lalu yang menarik untuk diketahui.

Masjid Al Hilal, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Tua Katangka. Masjid ini terletak di Sungguminasa, tepatnya di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa. Masjid ini merupakan salah satu bukti sejarah penyebaran Islam di masa lalu. Orang-orang percaya, Masjid Al Hilal dibangun pada tahun yang sama Islam dijadikan agama resmi Kerajaan Gowa. Saat itu, I Mangngarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna, atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Alauddin menjadi Raja Gowa. Sultan Alauddin merupakan kakek dari pahlawan nasional, Sultan Hasanuddin.

Meski usianya sudah empat abad, namun masih terdapat sejumlah peninggalan masa lalu yang bisa ditemukan di dalam atau pun luar masjid. Di bagian dalam masjid, terdapat beberapa prasasti yang terbuat dari kayu. Prasasti tersebut berisikan kaligragfi dengan warna emas pada huruf-hurufnya, dan merah menyala pada latarnya. Meski huruf-hurufnya adalah huruf Arab, tetapi bahasanya bukan Bahasa Arab. Melainkan Bahasa Makassar.

Setiap kaligrafi menceritakan secara singkat tentang pembangunan atau renovasi masjid lengkap dengan tanggalnya. Pada pintu utara, prasastinya menceritakan tentang renovasi masjid atas perintah Raja Gowa XXXII, Sultan Abdul Kadir Muhammad Aididdin yang dilaksanakan pada hari Senin 8 Rajab tahun Dal, bertepatan dengan tanggal 12 April 1886. Tertulis pula di prasasti, Sultan Abdul Kadir memerintahkan Karaeng Katangka untuk mengurus masjid bersama Tumailalang Lolo, Gallarang Mangasa, Gallarang Tombolo dan Gallarang Saumata.

Nama-nama yang disebut dalam prasasti tersebut adalah pejabat penting kerajaan. Tumailalang Lolo merupakan orang yang menjembatani Sultan dengan para dewan kerajaan yang dikenal dengan Bate Salapang. Sementara Gallarang adalah kepala wilayah yang berwenang menunjuk wakilnya menduduki Bate Salapang.

Prasasti di pintu tengah lain lagi. Di situ menerangkan Sultan pertama melaksanakan Salat Jumat bersama rakyatnya. Setelah Salat Jumat, Sultan membagi-bagikan sedakah kepada rakyat yang ikut Salat serta para pekerja yang terlibat dalam bangunan masjid. Sayangnya, prasasti yang satu ini tidak jelas waktunya. Hanya melafalkan bahwa masjid dibangun pada bulan Rajab di tahun Dal dan digunakan untuk pertama kalinya pada hari Jumat di tahun Ba. Apa itu tahun Dal dan tahun Ba, hingga kini belum ada yang tahu.

Bagian prasasti lain diartikan bahwa masjid itu direnovasi lagi di masa Raja Gowa XXXIII, Sultan Idris Adzimuddin. Tertulis pula bahwa masjid itu melibatkan sangat banyak pekerja. Tetapi tidak tertera tahun pembuatan kaligrafi tersebut. Yang jelas, Sultan Idris memerintah dalam kurun 1893 -  1895.

Sementara prasasti yang terletak di puncak mimbar, tempat khatib Jumat, menceritakan pembuatan mimbar itu sendiri. Artinya kurang lebih, "Mimbar ini pertama kali dibuat pada Hari Jumat tanggal 2 Muharram 1303 (Hijriyah). Karaeng Katangka dan Karaeng Loloa menuliskan, sudah ditentukan (oleh Nabi Muhammad saw) barang siapa berbicara padahal khatib sudah berada di atas mimbar, maka dia tidak akan memperoleh pahala Jumat." Di atas kaligrafi itu, masih ada lagi kaligrafi bertuliskan "Muhammad" dan "Ahmad". Muhammad, tidak lain nama Rasulullah saw. Sementara Ahmad merupakan nama lain Rasulullah dalam perspektif sufi.

Puas dengan prasasti kaligrafi kuno, kini giliran kaligrafi moderen yang bisa ditemukan di masjid lainnya. Masjid Agung Syekh Yusuf mungkin bisa menjadi persinggahan selanjutnya. Masjid ini terletak di Jl Masjid Raya, depan Kantor DPRD Gowa. Nama masjid tersebut mengabadikan seorang ulama, sufi sekaligus pejuang yang sangat terkenal, Syekh Yusuf Tuanta Salamaka.

Meski tidak memiliki nilai historis seperti Masjid Tua Katangka, Masjid Agung Syekh Yusuf memiliki keunggulan dalam seni kaligrafi. Di dalam masjid, terdapat banyak kaligrafi-kaligrafi dengan berbagai jenis gaya (khat) dan paduan warna yang indah. Kaligrafi terdapat di bagian mihrab, bagian atap puncak serta sekeliling tembok bagian atas masjid.

Masjid yang mampu menampung sekitar 4000 jamaah ini didesain seperti Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar. Tentu saja bentuknya lebih kecil.

Pada bulan Ramadan ini, Masjid Tua Katangka dan Masjid Agung Syekh Yusuf ramai pada malam hari. Imam Masjid Agung, Abdul Jabbar Hijaz Daeng Sanre mengatakan pada masjid tersebut bisa ditemukan berbagai keragaman umat Islam.

"Masjid ini milik semua aliran. Mau tarwih 8 ada, tarwih 20 juga bisa," kata Abdul Jabbar Hijaz.

Tak seperti masjid lainnya yang hanya mengagendakan ceramah tarwih dan subuh, di Masjid Agung Syekh Yusuf juga digiatkan diskusi usai Salat Duhur. (Akbar Hamdan/kas)


Thursday, July 19, 2012

Mengenal Kerajaan Islam Bahrain

Peta Bahrain dan Lokasinya di peta dunia

Bahrain merupakan kerajaan Islam yang berada di tengah tengah teluk Arab sebelah timur pantai barat Saudi Arabia atau di lepas pantai barat teluk Persia. Kerajaan Bahrain terdiri dari 36 pulau dengan luas keseluruhannya hanya seluas 711.9 km2, sedikit lebih kecil dibandingkan dengan luas propinsi DKI Jakarta (740,29 km2). Pulau terbesarnya adalah Pulau Bahrain (berukuran 18 km X 55 km), beberapa pulau pulau di Bahrain bahkan berukuran sangat kecil. Dengan luasnya itu Bahrain menjadi Negara dengan wilayah paling kecil di kawasan Arabia.

Bahrain Beribukota di Manama, Negara ini pada awal berdirinya berbentuk Ke-Emiran dan dipimpin oleh seorang Emir, namun sejak tahun 2002 memproklamirkan dirinya menjadi sebuah Kerajaan diperintah oleh keluarga kerajaan dari dinasti Al-Khalifa. Saat ini Bahrain dipimpin oleh King Hamad bin Issa Al-Khalifa.

Bahrain terhubung langsung ke Saudi Arabia di daratan utama semenanjung Arabia dengan jalan tol lintas laut bernama King Fahd Causeway diresmikan tahun 1986 dan merupakan causeway terpanjang di dunia. Tak sampai disitu, Bahrain juga berencana membangun causeway menghubungkan Negara itu dengan Qatar di selatan melalui jalur Causeway yang jauh lebih panjang.

King Fahd Causeway
Kata ‘Bahrain’ dalam bahasa Arab bermakna “dua laut” merujuk kepada sumber air panas tawar yang menyembur dari bawah permukaan laut yang asin, kawasan sekitar lokasi itu sangat popular bagi para penyelam mutiara dan menjadi salah satu tujuan wisata. Peradaban di Bahrain sudah dimulai sejak 5000 tahun lalu di zaman Sumeria Kuno, pendiri peradaban besar di kawasan Timur Tengah yang disebut sebagai Dilmun, Tanah Sakral bagi Kehidupan. Disebut sebut dalam legenda sebagai pulau surga, tak ada penyakit yang berjangkit dan penduduknya tak tersentuh kematian. Pada masa lalu letak dan berlimpahnya sumber air tawar menjadikan Bahrain sebagai pos perdagangan terpenting antara lembah Indus, Mesopotamia dan semenanjung Arabia.

Sama seperti Negara Negara tetangganya di Arabia, Bahrain saat ini menjelma menjadi sebuah negara super modern dengan gedung pencakar langit dan bangunan bangunan mengagumkan bertaburan di seantero negeri pulau itu. Termasuk bangunan bangunan masjid yang menawan dan mengundang decak kagum, salah satunya adalah masjid Agung Al-Fateh ini yang merupakan masjid Nasional Bahrain. Dalam dunia olahraga otomotif, Bahrain menjadi salah satu tuan rumah bagi penyelenggaraan seri Gran Prix Formula-1 di Bahrain Interational Circuit.

Sejarah Islam di Bahrain

Bahrain merupakan kawasan pertama di luar semenanjung Arabia yang menerima Islam. Sebelum masuknya islam ke kepulauan ini, rakyat Bahrain merupakan para penyembah berhala. Nama Bahrain sendiri kala itu dikenal dengan nama Pulau Awal, nama yang diambil dari nama berhala suku Wael. Islam masuk ke Bahrain semasa hidup baginda Rosullullah S.A.W. Adalah  Al-Ala’a Al-Hadhrami yang membawa surat ajakan ber-Islam dari Rosulullah S.A.W tiba di Bahrain pada tahun ke delapan hijirah. Al-Hadhrami menyampaikan surat baginda Rosul kepada Raja Bahrain, Al-Mundhir ibnu Sawa. Setelah berkonsultasi dengan para kepala suku yang ada Raja memutuskan menerima ajakan Rosulullah untuk ber-Islam.

Seiring dengan wafatnya Rosulullah S.A.W, dan 30 tahun masa kekuasaan khulafaur Rasyidin (Khalifah Abu Bakar R.A., Khalifah Umar R.A. Khalifah Usman R.A.,.dan Khalifah Ali R.A. Bahrain menjadi bagian dari wilayah dinasti Umayah dan Abasiah. Dari abad ke 7 hingga abad ke 13 Bahrain menjadi perhentian utama rute perdagangan antara Iraq dan anak benua India. Sebagai penghasil mutiara, Bahrain terkenal hingga ke pelosok emperium Islam sebagai permatanya ekonomi.

Melewati perjalanan berabad abad Bahrain kemudian dikuasai oleh berbagai Dinasti Arabia dan Persia silih berganti. Bahkan Portugis juga pernah menguasai kepulauan Bahrain selama 80 tahun di abad ke lima belas. Para penakluk, pedagang, petualang, para budak, kelompok agama yang ekstrim hingga para tentara bayaran pernah menjelajah di negeri pulau ini dalam upaya menemukan harta karun Bahrain.

Kekuasaan Dinasti Al Khalifa

Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Khalifa yang biasa disebut sebagai Sheikh Ahmed Al-Fateh (Sang penakluk) dilahirkan di Kuwait pada sekitar paruh pertama abad ke 18 dan wafat pada sekitar tahun 1795. Kakeknya Khalifa adalah pendiri dari dinasti Khalifa yang memerintah di Bahrain. Sheikh Ahmed merupakan Penguasa Bahrain pertama dari dinasti Al-Khalifa dan merupakan moyang garis ke delapan dari King Hamad, Raja Bahrain saat ini.

Sheikh Ahmed mengikuti ayahandanya Muhammad ibnu Khalifa, dari Kuwait pindah ke Qatar dan mendirikan Zubara tahun 1762 CE yang kemudian menjadi perusahaan perdagangan serta pusat kebudayaan utama di kawasan Teluk Arabia. Manakala Muhammad ibn Khalifa wafat disekitar tahun 1775, kekuasaan beliau diteruskan oleh putranya yang lain, Sheikh khalifa, saudara dari Ahmed Al-Fateh. Kala itu Zubara benar benar telah berkembang pesat.

Konvoi kendaraan angkut militer Saudi Arabia bergerak masuk ke Bahrain melalui King Fahd Causeway, untuk meredakan ketegangan di negar tersebut atas permintaan Raja Bahrain.
Dan ketika Sheikh Khalifa meninggalkan Zubara untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekah, Nasir Ibnu Madhkur, Gubernur Bahrain yang kala itu dibawah kekuasaan Kerajaan Persia (Parsi, Kini menjadi Republik Islam Iran) menyerbu Zubara tahun 1782. Serbuan tersebut gagal total berkat perlawanan dari rakyat Zubara dibawah pimpinan Ahmad Al-Fateh yang tak lain adalah adik dari Sheik Khalifa. Setahun kemudian (tahun 1783) Sheikh Khalida wafat di Mekah dan kekuasaannya diteruskan oleh Adiknya Ahmad Al-Fateh yang telah berhasil menyelamatkan Zubara dari serbuan pasukan Persia.

Berhasil mengusir pasukan Persia yang mengurung Zubara dari Bahrain, Sheikh Ahmad Al-Fateh balik menyerbu Bahrain ditahun 1783, tahun yang sama dengan tahun kematian saudaranya di tanah suci Mekah. Bahrain takluk dibawah kekuasaan Ahmad Al-Fateh, dan beliau menjadi penguasa pertama disana dari dinasti Khalifa, dan keturunan beliau yang meneruskan kekuasaannya atas Bahrain hingga hari ini.

Ketika Gaung Demokrasi Mengguncang Bahrain

Ketika demonstrasi besar besaran mengguncang Tunisia kemudian merembet ke Mesir dan Libya, rakyat Bahrain seperti tak mau kehilangan momen, turut mengelorakan perjuangan demokrasi di Negara tersebut. Demonstrasi panjang tersebut kemudian berujung kepada masuknya tentara Saudi Arabia ke Bahrain atas permintaan dari Raja Bahrain untuk memulihkan ketertiban dan keamanan di negeri pulau tersebut.

Masjid Nasional Bahrain

Masjid Agung Al-Fateh, Manama, Bahrain
Masjid Nasional kerajaan Bahwain Bernama Masjid Agung Al-Fateh. Masjid ini merupakan bagian dari Islamic Center Ahmad Al-Fateh. Termasuk di dalamnya adalah Masjid Agung Al-Fateh, pusat studi Al-Qur’an dan Perpustakaan Islam. Dibangun atas perintah dari Amir Bahrain, Sheikh Isa ibn Salman Al Khalifa. Proyek pembangunannya dimulai tahun 1984 dan diresmikan langsung oleh beliau tahun 1988. Nama Al-Fateh yang melekat pada nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan kepada mendiang Ahmed Al Fateh, sang penakluk Bahrain.


OKI Tolak Klaim Israel Atas Masjid Al-Aqso


Organisasi Konferensi Islam (OKI), Selasa kemarin (17/7/2012), menyatakan menolak klaim Israel atas Masjid Al-Aqsha sebagai bagian dari wilayah Israel.

Sekretaris Jenderal OKI, Ekmeledin Ihsanoglu, mengatakan, "Negara-negara Islam tidak akan menerima dalih apapun Israel atas Al-Aqsha, masjid suci ketiga bagi umat Islam."

Selanjutnya, dia meminta kepada seluruh duta besar negara-negara Islam yang menjadi anggota UNESCO untuk melakukan aksi menghentikan agresi Israel terhadap situs-situs agama dan warisan bersejarah di wilayah pendudukan Yerusalem. Dia memperingatkan Israel bahwa upaya tersebut merupakan agresi untuk menguasai tempat suci bagi ketiga agama besar dunia.

Penolakan OKI ini sehubungan dengan pernyataan penasihat hukum pemerintah Israel, Yahuda Feinstein, yang menyebutkan bahwa Al-Aqsha merupakan bagian yang tak terpisahkan dari wilayah kedaulatan Israel. "Masjid Al-Aqsha adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah Israel," ujarnya.

Ihsanoglu menegaskan, kehadiran Israel di Al-Aqsha adalah sebuah kesalahan dan ilegal, sehingga harus diakhiri sesuai dengan hukum internasional. "Kesepahatan Den Haag 1899, 1907, dan 1954, serta Persetujuan Jenewa 1949 menjelaskan mengenai Masjid Al Aqsha," imbuhnya.


Thursday, July 12, 2012

Mengenal Kesultanan Oman

Wilayah Kesultanan Oman terdiri dari wilayah utama ditambah wilayah di Semenanjung Mushandam yang terpisah jauh di utara oleh Wiayah Uni Emirat Arab dan Wilayah Kecil berupa Exclave Wadi Madha yang justru terletak di tengah tengah wilayah Uni Emirat Arab.

Oman merupakan negara Arab yang terletak di ujung tenggara semenanjung Arabia, berbentuk kesultanan mutlak, berbatasan darat langsung dengan Republik Yaman di barat daya, Saudi Arabia disebelah barat dan memiliki perbatasan yang unik dengan Uni Emirat Arab di barat laut. Satu exclave Oman berada di wilayah Uni Emirat Arab di tanjung Musandam menghadap ke selat Hormuz, serta tumpang tindih wilayah di daerah Madha, di Madha satu wilayah kecil milik Oman berada di tengah tengah wilayah Uni Emirat Arab tapi di tengah wilayah kecil oman itu terselip kota kecil milik Uni Emirat Arab. Sejauh ini Oman merupakan satu negara Arab yang paling stabil.

Kesultanan Oman beribukota di Muscat, sat ini dipimpin oleh Sultan Qaboos (dibaca Sultan Qabus), hukum islam menjadi hukum negara dan pemerintahan sehari hari dijalankan oleh seorang Perdana Menteri. Masjid pertama di Oman diperkirakan dibangun tahun 1300 masehi, Reruntuhan masjid tua itu ditemukan di wilayah Qalhat di timut laut Oman, oleh ekspedisi arkeologi gabungan antara Oman dan Prancis di tahun 2011 lalu. Masjid tua itu dibangun oleh Bibi Maryam dandihancurkan oleh kolonial Portugis tahun 1508.

Mushandam dan Madha, ke luar negeri di dalam negeri sendiri

Oman dan Uni Emirat Arab merupakan dua negara di dunia yang memiliki garis batas negara yang cukup unik. Satu Wilayah (setingkat propinsi) milik Oman terpisah begitu jauh di utara dari wilayah Oman lainnya oleh wilayah Fujairah Milik Uni Emirat Arab. Mushandam adalah wilayah oman yang terletak di semenanjung Mushandam. Mushandam merupakan wilayah Oman paling utara, berada di selat Hormuz di teluk Oman berhadapan langsung dengan Republik Islam Iran, 35 mil laut di seberang selat Hormuz. Wilayah ini memiliki peran yang begitu strategis sebagai kota perdagangan Oman di selat Hormuz.

Exclave di dalam Exclave ::: Madha Atau Wadi Madha Adalah wilayah Oman yang seluruhnya berada ditengah tengah wilayah Uni Emirat Arab sebagaimana peta yang ditandai dengan warna hijau. Namun justru ditengah wilayah kecil milik Oman itu terselip wilayah kecil milik Uni Emirat Arab, bernama Nahwa.
Garis batas kedua negara ini lebih rumit lagi di exclave Oman bernama Madha atau Wadi Madhah (masuk dalam administrasi wilayah Mushandam) seluas 75 km persegi, yang letaknya berada ditengah tengah wilayah ke-Emiran Sharjah, Uni Emirat Arab. Warga Oman yang hendak ke/atau dari Madha ke wilayah Oman lainnya mau tidak mau harus melewati wilayah Uni Emirat Arab. Tapi kerumitan garis batas tidak sampai disitu, ditengah tengah wadi Madhah ini ada wilayah kecil milik Uni Emirat Arab bernama Nahwa yang merupakan bagian dari ke-Emiran Sharjah. Rumit memang, tapi begitulah kejadiannya. Di dalam wilayah Uni Emirat Arab ada wilayah Oman, tapi di dalam wilayah Oman itu ada wilayah Uni Emirat Arab. Menjadi aneh bagi warga Nahwa, karena mereka tinggal di luar negeri tapi di dalam Negara nya sendiri. Ataupun aneh bagi warga Madha yang pergi ke luar negeri tapi masih di dalam wilayahnya sendiri.

Sejarah Kesultanan Oman

Islam masuk dan berkembang di Oman di abad ke 7 masih di masa hidup Rosullulloh. Di abad ke 8 alirah Ibadis shi’ah dan Suni mendomonasi kehidupan Islam di Oman dan menjadikan Oman sebagai satu satunya negara Islam dengan aliran Ibadi. Komunita awal Islam ini yang kemudian memilih pemimpin diantara komunitas mereka. Sentuhan Oman dengan dunia barat terjadi di tahun 1508 ketika Portugis menjajah beberapa bagian kecil wilayah pantai Oman dan bertahan disana selama hampir satu abad. Portugis yang menghancurkan masjid pertama yang dibangun di Oman oleh Bibi Maryam. Sisa sia benteng Portugis masih dapat dlihat hari ini di kota Muscat.

Oman terbilang sebuah negara merdeka sepanjang sejarah terlepas dari penguasaan sedikit wilayahnya oleh Portugis dan Persia yang berkali kali berupaya menguasai wilayah tersebut. Portugis terusir dari Oman di tahun 1650. Dalam persaingan kekuasaan dengan Persia, Oman berhasil melebarkan wilayahnya hingga ke Zanzibar, hingga ke pantai timur benua Afrika, serta sebagian wilayah selatan semenanjung Arabia.

Dan kepemimpinan Oman pun beralih dari para imam Ibadi yang dipilih secara berkala kepada sistem kesultanan yang berkuasa secara turun temurun hingga saat ini dan bertahta di kota Muscat. Penguasa di Muscat terus mengembangan wilayah dengan mendirikan berbagai pos perdagangan di berbagai pantai wilayah Persia hingga daerah Makram (kini menjadi wilayah Pakistan) di awal abad ke 19, kala itu Oman menjelma sebagai kekuatan utama di semenanjung Arabia dan menunjukkan kehadirannya di wilayah pantai timur Afrika.

Oman sempat menjadi objek perebutan antara Farncis dan Inggris di abad ke 18. Di abad ke 19 Oman dan Inggris Raya menandatangani beberapa fakta kerjasama dan perdagangan. Dan ditahun 1908 inggris memasuki era perjanjian persahabatan dengan Oman. Hubungan tradisional antara kedua negara ini di syahkan pada  pada tahun 1951 melalui sebuah fakta persahabatan, pedagangan dan navigasi dan pengakuan Inggris Raya terhadap eksistenti Oman sebagai sebuah Kesultanan yang berdaulat penuh.

Tatkala Sultan Al-Busaid wafat di tahun 1856 putranya berebut kekuasaan, yang berujung pada perpecahan kesultanan Oman menjadi dua wilayah yakni : Zanzibar, bersama dengan wilayah barat Afrika, serta Muscat dan Oman. Zanzibar membayar upeti tahunan kepada Muscat dan Oman sampai dengan kemerdekaan Zanzibar di awal tahun 1964. Di penghujung abad ke 18 dan pertengahan abad ke 19, Sultan Oman sempat menghadapi pemberontakan dari anggota Ibadi yang menuntut otonomi penuh diwilayah mereka yang berpusat di kota Nizwa dengan Imam Ibadi sebagai pemimpinnya. Konflik tersebut selesai dengan fakta perjanjian Seeb di tahun 1920. Oman memberikan kewenangan kepada Imam Ibadi untuk mengatur wilayahnya sebagai bagian dari Kesultanan Oman.

Seiring dengan ditemukannya minyak di kawasan otonom ibadi, konflik merebak lagi di tahun 1954, pemberontakan sporadis tersebut dipimpin oleh Imam Ibadi yang baru, menuntut wewenang lebih bagi pengelolaan wilayahnya. Pemberontakan itu berahir dengan kekalahan pasukan pemberontak di tahun 1959 dengan bantuan Inggris. Imam Ibadi kemudian dipecat dari jabatannya dan diasingkan ke Saudi Arabida di tahun 1960-an dengan dukungan dari para pendukung dan beberapa pemerintah Arab, namun semua dukungan tersebut berahir di tahun 1980-an.

Di tahun 1964 pemberontakan separatis terjadi di Provinsi Dhofar. Didanai oleh komunis dan pemerintahan negara negara beraliran kiri termasuk Republik Demokratik Yaman (Yaman Selatan). Para pemberontak membentuk Fron Pembebasan Dhofar (Dhofar Liberation Front – DLF) yang kemudian digabungkan dengan Front beraliran Marxist, Populat Front For the Liberation of Oman and Arab Gulf (PFLOAG). Fron ini mendeklarasikan keinginan untuk menggulingkan rezim teluk Arab. Di tahun 1974 PFLOAG menyingkat nama mereka menjadi Popular Front for Liberation of Oman (PFLO) dan memulai perjuangan politik daripada pendekatan militer dalam upaya meraih kekuasan di negara negara teluk, namun juga tetap meneruskan perang gerilya di Dhofar.

Kudeta Oleh Sultan Qaboos

Dengan bantuan dari penasihat Inggris, Sultan Qaboos Naik takta pada tanggal 23 Juli 1970 dengan melakukan kudeta terhadap ayahandanya sendiri, Sa’id Bin Taymur yang kemudian meninggal dalam pengasingan di London. Baru naik tahta, sultan Qaboss sudah berhadapan dengan setumpuk permasalahan yang warisan semasa kekuasaan Ayahnya, termasuk masalah penyakit menular, buta aksara, dan kemiskinan. Salah satu langkah pertama yang dilakukannya adalah menghapuskan begitu banyak larangan yang dulu pernah diberlakukan ayahnya yang mengakibatkan ribuan warga Oman kabur ke luar negeri serta memberikan begitu banyak amnesti kepada tokoh tokoh yang berseberangan dengan rezim sebelumnya untuk memungkinkan mereka semua kembali ke Oman.

Sultan Qaboos
Beliau juga membentuk struktur pemerintahan moderen dan meluncurkan program program pengembangan untuk mengangkan tingkat fasilitas pendidikan dan kesehatan negara, membangun infrastruktur moderen dan pengembangan sumber daya alam nasional. Dalam upaya mengatasi krisis di Dhofar, Sultan kemudian memperluas dan melengkapi kekuatan angkatan perangnya dan memberikan amnesti kepada semua tokoh pemberontak yang menyerah namun terus melancarkan serangan besar besaran ke wilayah terebut. Beliau mendapatkan dukungan militer langsung dari Inggris Raya, Iran dan Yordania. Di awal tahun 1975 para pembrontak yang bergerilya terkurung di wilayah seluas 50 kilometer persegi di perbatasan Yaman dan dalam waktu singkat dapat dikalahkan. Seiring berahirnya perang program program bagi rakyat sipil dilancarkan dengan prioritas tinggi untuk membangun kembali wilayah bekas perang tersebut juga dalam upaya memulihkan kembali kepercayaan publik terhadap pemerintahan Sultan.

Ancaman dari PFLO dengan sendirinya terhapus seiring dengan dicapainya hubungan diplomatik antara Yaman Selatan dan Kesultanan Oman di bulan Oktober tahun 1983. Yaman Selatan sendiri telah mengurangi secara berkelanjutan mengurangi segala bentuk aktivitas propaganda suversif terhadap Oman. Di penghujung tahun 1987, Oman membuka Kedutaannya di Aden (ibukota Yaman Selatan) dan menunjuk Duta besar pertamanya untuk Yaman Selatan.

Kerjasama dengan Amerika Serikat

Wilayah ujung Utara Oman yang terpisah oleh wilayah Uni Emirat Arab, sebuah tanjung bernama Semenanjung Musandam, merupakan wilayah yang sangat strategis di selat Hormuz, berhadapan langsung dengan Iran di seberang selat sejauh 35 mil laut. Oman yang sadar akan keamanan dan stabilitas kawasan itu, menjaga hubungan diplomatiknya dengan Irak selama perang teluk tahun 1990-1991 namun mendukung pasukan Gabungan PBB dengan mengirimkan kontingen pasukannya untuk bergabung dengan kekuatan koalisi.

Sejak tahun 1980 Oman dan Amerika Serikat terikat dalam Perjanjian kerjasama militer dan kemudian di perbaharui tahun 2000. Oman juga sudah begitu lama berpartisipasi secara aktif dalam upaya menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah. Menyusul serangan 11 September 2001 di menara kembar WTC, Oman secara serius memberikan dukungan kepada pemerintah AS dalam perang melawan teroris. Oman menjadi salah satu negara yang menyetujui hampir semua perjanjian anti terorisme yang disponsori oleh PBB.

Sengketa perbatasan dengan Yaman dengan sendirinya berahir ketika Yaman Utara dan Yaman Selatan kembali bergabung sebagai Republik Yaman di bulan Mei tahun 1990. Perjanjian perbatasan antara Oman dan Republik Yaman yang baru dibentuk (kembali) ditandatangani pada tanggal 1 Oktober 1992. Oman juga kemudian menyelesaikan perjanjian garis demarkasi dengan negara negara tetangganya yang lain termasuk garis demarkasi dengan Uni Emirat Arab diratifikasi tahun 2003.

Pada bulan November 2010, Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) menyatakan bahwa Oman, di antara 135 negara sedunia, merupakan negara yang paling terperbaiki dalam 40 tahun terakhir. Menurut indeks-indeks internasional, Oman adalah salah satu negara yang paling maju dan stabil di Dunia Arab.

Referensi

id.wikipedia – oman
state.gov – sultanate of oman
en.wikipedia – oman

Wednesday, July 11, 2012

Tak ada Masjid, Muslim Athena Sholat di Underground


16 November 2010 Muslim kota Athena melakukan sholat idul Adha di lapangan terbuka hingga ke jalan raya di pusat kota Athena. Ribuan aparat kepolisian yang dikerahkan ke lokasi tak mampu menangkal tindak pelecehan terhadap muslim yang sedang sholat dari pelemparan telur oleh para demonstran anti muslim setempat, termasuk tindakan penyebaran ribuan pamphlet gambar babi disekitar lokasi sholat berjamaah tersebut seperti pada foto di atas (islamineurope)
Situs Setimes.com melansir berita tak sedap dari kota Athena Yunani tentang muslim setempat. Sebagai akibat ketiadaan masjid di kota itu, muslim setempat terpaksa melaksanakan sholat berjemaah di ruang ruang bawah tanah.

Athena menjadi satu satunya negara Uni Eropa yang hingga sejauh ini masih tidak memberikan ruang sama sekali bagi pembangunan masjid untuk muslim disana. Meskipun saat ini berdasarkan data dari komunitas muslim setempat, di Yunani terdapat sekitar 500 ribu muslim dan 40% dari jumlah itu tinggal di Kota Athena.

Lebih dari satu dekade perjuangan muslim setempat untuk membangun masjid pertama di kota selalu kandas, Pemerintah Yunani gagal memfasilitasi muslim setempat akan kebutuhan tempat ibadah. Akibatnya kaum muslimin di Athena harus terpecah pecah dalam komunitas kecil lalu menyewa ruang ruang bawah tanah gedung gedung disana untuk dijadikan sebagai tempat sholat berjamaah.

Ruang basement apartemen, warung kopi, garasi, gudang hinda gedung tua tak terpakai menjadi tempat yang sudah biasa digunakan oleh muslim Athena sebagai masjid sementara meski tak jarang tetap mendapat gangguan pengrusakan dari pihak yang tak bertanggung jawab.

Sebagaimana dikeluhakan oleh salah satu muslim Athena, Osama al-Najar (48 thn), yang sehari hari bekerja sebagai pengawas SPBU “semua umat disini sudah memiliki tempat ibadahnya masing masing kecuali kami, umat Islam”. “bila ingin menjalankan ibadah berjamaah mau tidak mau kami harus menjalankan itu di underground, kami tidak melanggar hukum dengan melakukan itu toh” lanjutnya.

Naim Elghandour (57 tahun) ketua dari Asosiasi Muslim Yunani (Muslim Association of Greece) mengklim memiliki setidaknya 18 ribu anggota mengatakan bahwa beliau sudah empat puluh tahun terahir ini tidak pernah sholat di masjid sejak beliau hijrah dari Mesir ke Yunani, karena ketiadaan masjid disana.

Ada sekitar 100-an masjid masjid temporer di seluruh Athena termasuk lantai dasar toko milik Mazen Rassas sahabat dari Elghandour, di pusat kota Athena. Dan semua masjid temporer itu adalah masjid tidak resmi dan tidak memiliki izin sama sekali dari pemerintah setempat.

Satu satunya masjid di Yunani, ada di kawasan enclave Turki di Thrace yang secara resmi diakui oleh pemerintah Yunani. Krisis masjid di Yunani sudah terjadi sejak tahun 1883 seiring dengan keruntuhan Emperium Usmaniah Turki. Sejak Pasukan Usmani angkat kaki dari Yunani praktis masjid menjadi benda terlarang di Yunani hingga kini. Hasil poling tahun lalu menunjukkan lebih dari separo masyarakat Yunani menolak masjid.

Pemerintah Yunani sebelumnya sempat mengalokasikan beberapa bangunan untuk dipiih salah satunya untuk dijadikan bangunan masjid resmi namun terkait dengan krisis ekonomi Yunani yang begitu parah ditambah lagi dengan penolakan yang begitu lantang dari publik Yunani yang mengasosiasikan Masjid sebagai kehadiran kembali Turki di tanah mereka, semua rencana itu terhenti.

Penolakan publik Yunani terhadap masjid, diperkeras dengan penolakan dari Gereja Ortodok Yunani, termasuk rencana untuk merenovasi sebuah bangunan besar tapi terbengkalai di pangkalan angkatan laut di bagian barat Athena dengan dana 750 Euro (baca beritanya disini) juga gagal dilaksanakan dan menghilang dari pemberitaan.

Bekas sejarah masa lalu ketika Yunani sempat menjadi wilayah Usmaniah Turki menjadi latar belakang sejarah yang begitu kental dalam setiap aksi penolakan terhadap pembangunan masjid di Negara itu.

Sebagaimana disampaikan oleh Elghandour, perkembangan Islam di Yunani, khususnya di Athena luar biasa cepat dan tak pelak menimbulkan ketidaksenangan pihak tertentu. Sebagai contoh adalah kasus pelemparan telur dan youghurt terhadap jemaah.

Dua tahun lalu, sekitar 1000 jemaah melaksanakan sholat di lapangan terbuka Universitas Athena dibawah pengawalan sekitar 7000 anggota kepolisian yang dikerahkan ke lokasi tersebut. Bulan September tahun lalu, Neo Nazi Golden Dawn, yang memenangkan 18 kursi parlemen, tiba tiba melempari para jemaah yang sedang sholat berjamaah dengan telur dan Yoghurt.

Menjelang olimpide Athena tahun 2004 lalu pemerintah Saudi Arabia menawarkan pembangunan Mega Masjid di luar kota Athena tak jauh dari bandara, namun lagi lagi rencana tersebut gagal akibat penolakan yang teramat keras dari Gereja Ortodox Yunani,

Masjid Sang Penakluk di Pasar Monastiraki Athena,
kini dijadikan gudang penyimpanan benda benda -
temuan arkeologi (foto dari virtualtourist.com)
Namun demikian, ada sedikit indikasi bahwa posisi pemerintah sudah mulai melunak. Adalah Yiannis Boutaris, walikota Tessalonika yang dalam satu kesempatan sempat berujar bahwa beliau menginginkan sebuah masjid resmi bagi 5000 umat Islam di kota yang dipimpinnya.

Boutaris dikenal sebagai tokoh yang menyuarakan pembangunan sebuah monumen peringatan untuk mengenang Mustafa Kemal Ataturk di Tessalonika. Mustafa Kemal Ataturk merupakan tokoh sentral dibalik keruntuhan Emperium Usmaniah dan Kelahiran Republik Turki, adalah putra kelahiran Tessalonika, dan Boutaris juga sempat mengatakan bahwa Turki dan Yunani itu bersaudara.

Satu masjid di pusat kota Athena dikenal dengan nama “masjid sang penakluk” merupakan salah satu tempat suci umat Islam di kota tersebut kini terbengkalai dan digunakan sebagai gudang penyimpanan benda benda temuan arkeologi. Lokasi masjid itu berdekatan dengan pasar Monistiraki berada.



Kanselir Jerman Angela Merkel Kunjungi Masjid Istiqlal


Angela Markel di Istiqlal Jakarta

Kanselir Jerman Angela Dorothea Merkel mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta, Selasa (10/7/2012), dalam rangkaian kunjungan kenegaraan yang dijadwalkan selama dua hari tanggal 10-11 Juli 2012.
    
Dalam kunjungannya ke Masjid Istiqlal Merkel didampingi oleh Imam Rawatib Masjid Istiqlal Ahmad Husni Ismail dan Ketua Badan Pelaksana pengelola masjid Istiqlal H Mubarak. Sebelumnya, Merkel disambut dengan shalawat dari Majelis Ta’lim ibu-ibu Masjid Istiqlal.
    
Kesempatan ini merupakan kunjungan balasan terhadap lawatan Presiden RI ke Jerman pada tahun 2009 lalu, Kanselir Angela Merkel juga rencannya akan mengadakan pertemuan dengan pebisnis, jurnalis dan aktivis HAM, serta Ketua Mahkamah Konstitusi.
    
Kemudian, Merkel juga dijadwalkan mengunjungi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, selain Masjid Istiqlal dan Gereja Immanuel. Merkel juga dijadwalkan membahas isu keamanan regional terkait pembajakan di Selat Malaka dan bertemu dengan Ketua Hakim Mahkamah Konstitusi.
    
Sejauh ini, data perdagangan bilateral antara Indonesia dengan Jerman diprediksi mencapai 12 miliar dolar AS pada 2015. Momentum kedatangan Kanselir Republik Federal Jerman, Angela Merkel ke Indonesia akan dimanfaatkan untuk mendorong investasi Jerman di Indonesia yang saat ini berada di peringkat 14.


Tuesday, July 10, 2012

Wilders Minta Parlemen AS Larang Masjid


Memberi pesan Islamophobia di negara bagian Colorado, politisi dan anggota parlemen, Geert Wilders,  telah meminta legislator Amerika untuk melarang pembangunan masjid guna membantu menghentikan apa yang dia sebut sebagai 'Islamisasi' di Barat.

"Jika kita tidak menghentikan Islamisasi, kita akan kehilangan segalanya: identitas kita, budaya kita, negara demokrasi konstitusional kita, kebebasan kita, dan peradaban kita," Wilders mengatakan dalam KTT Konservatif Barat di Colorado dikutip oleh onislam.net dari The Statesman Colorado, Ahad 8 Juli.

Wilders, pemimpin Partai Kebebasan sayap kanan, mengatakan bahwa pelarangan masjid akan membantu menghentikan Islamisasi Eropa dan Amerika Serikat.

"Kita harus melarang pembangunan masjid baru. Cukup sudah Islam di barat."

Wilders terkenal karena aksi anti Islam dan Muslim. Dia pernah menyerukan pelarangan Alquran dan menyebutn kitab suci umat Islam tersebut sebagai kitab yang "fasis". Pada tahun 2008, Wilders merilis film dokumenter berjudul 'Fitna' berdurasi 15 menit yang menuduh Al-Qur'an menghasut kekerasan.

Kampanye anti Islam-nya juga telah membantunya membuat keuntungan terbesar bagi partainya sejak Wilders mendirikannya di tahun 2006.

Seruan Wilders kepada anggota legislatif di negara bagian Amerika tesebut turut menuai dukungan juga.

"Anda tahu, kami harus mendengar lebih banyak tentang itu, karena, seperti kata dia, masjid tidaklah seperti gereja-gereja, sebagaimana kami (orang Amerika) akan berpandangan terhadap gereja," kata Senator Negara bagian Colorado Kevin Grantham pada The Statesman Colorado. 

"Mereka (Muslim) berpandangan bahwa masjid lebih sebagai pijakan ke dalam masyarakat, sebagai pijakan ke masyarakat, lebih dalam secara budaya dan dalam arti nasionalis. Gereja kita, kita tidak merasa seperti itu, gereja (hanyalah) tempat ibadah, dan masjid tidak hanya itu, dan kita perlu memperhitungkannya ketika menyetujui pembangunan tersebut," katanya.

Di seluruh Amerika, pembangunan masjid menghadapi perlawanan sengit baru-baru ini. Sedikitnya 18 proyek Masjid  dari Mississippi hingga Wisconsin menemui perlawanan dalam proses pembangunannya dengan berbagai dalih seperti masalah lalu lintas hingga terorisme. Namun tidak semua anggota legislatif memiliki pandangan yang sama. Senator Colorado Kevin Lundberg mengkritik seruan Wilders untuk melarang masjid di Amerika Serikat.

"Wilders menunjukkan beberapa perhatian untuk beberapa masalah yang telah terjadi di negeri ini, dan ada beberapa masalah yang kita perlu menyadari dari sini, tapi saya belum siap untuk mendukung apa yang dikatakannya," katanya.

Senator Lundberg mengatakan bahwa semua orang Amerika harus memiliki kebebasan penuh membangun tempat ibadah mereka.

"Kami adalah masyarakat yang bebas, dan ada risiko dengan kebebasan," kata Lundberg.


Monday, July 9, 2012

Masjid Terbesar di Asia Tengah diresmikan di Kazakhstan

Masjid Agung Astana (Khazret Sultan) 
Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbaev pada tanggal hari Jum’at 6 Juli 2012 lalu meresmikan masjid Khazret Sultan di kota Astana, Ibukota Kazakhstan. Masjid ini disebut sebut oleh media setempat sebagai masjid terbesar di kawasan Asia Tengah.

Masjid berukuran 15.500 meter persegi (188.000 kaki persegi) setinggi 51 meter (167 kaki) ini diresmikan enam bulan setelah proyek pembangunannya dilanda musibah kebakaran dan menewaskan satu orang pekerjanya. Menurut penjelasan pihak berwenang, kebakaran pada bulan Januari 2012 itu disebabkan oleh percikan api las yang kemudian membakar bagian dibawah kubah utama.

kebakaran di proyek pembangunan Masjid Astana - Kazakhstan, enam bulan lalu.
Pada saat peresmian di tanggal 6 Juli lalu, bertepatan dengan peringatan 14 tahun berdirinya kota Astana dan bertepatan juga dengan peringatan ulangtahun Presiden Nursultan Nazarbayev ke 72 tahun.

Kazakhstand merupakan Negara pecahan (bekas) Uni Soviet dengan penduduk sekitar 16 juta juwa dan 70% dari penduduknya beragama Islam beraliran Suni mazhab Hanafi. Masjid dengan menara kembar ini membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk membangunnya dan mampu menampung 5000 jemaah di ruang sholat utamnya nya.

Reruntuhan Masjid Abad XVII ditemukan di Delhi


Secara tak sengaja proyek perluasan stasiun metro kota Delhi menemukan reruntuhan bangunan masjid yang dipecaya sebagai reruntuhan masjid “Akbaraabadi” yang diperkirakan dibangun pada abad ke 17 masehi. Reruntuhan masjid itu ditemukan di taman Subhas di pusat kota Delhi yang semestinya akan digunakan sebagai lahan perluasan fase ketiga kawasan stasiun metro kota Delhi.

Pihak pengelola metro Delhi belum menerima komunikasi resmi apapun dari pihak berwenang India termasuk dari Archeological Survey of India ataupun dari National Monument Autority terkait penemuan bersejarah tersebut.

Disebutkan bahwa Masjid Akbarabadi dibangun oleh Syah Jahan di tahun 1650 dan diberi nama sesuai dengan nama istrinya Akbarabadi Begum. Masjid tersebut dihancurkan oleh penjajah Inggris di India ketika terjadi pemberontakan rakyat di tahun 1857, karena masjid terebut menjadi tempat pertemuan para pejuang.

Di masjid itu juga untuk pertama kali Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu. Masjid Akbarabadi dibangun kembar dengan masjid di chandni Chowk, sebagaimana di jelaskan dalam surat dari Delhi Urban Art Commision. Para arkeolog menginginkan restorasi atas masjid tersebut, namun belum ada penjelasan resmi dari pihak berwenang terkait kelanjutan dari penemuan tersebut.

Source : thehindu.com