Wednesday, July 11, 2012

Tak ada Masjid, Muslim Athena Sholat di Underground


16 November 2010 Muslim kota Athena melakukan sholat idul Adha di lapangan terbuka hingga ke jalan raya di pusat kota Athena. Ribuan aparat kepolisian yang dikerahkan ke lokasi tak mampu menangkal tindak pelecehan terhadap muslim yang sedang sholat dari pelemparan telur oleh para demonstran anti muslim setempat, termasuk tindakan penyebaran ribuan pamphlet gambar babi disekitar lokasi sholat berjamaah tersebut seperti pada foto di atas (islamineurope)
Situs Setimes.com melansir berita tak sedap dari kota Athena Yunani tentang muslim setempat. Sebagai akibat ketiadaan masjid di kota itu, muslim setempat terpaksa melaksanakan sholat berjemaah di ruang ruang bawah tanah.

Athena menjadi satu satunya negara Uni Eropa yang hingga sejauh ini masih tidak memberikan ruang sama sekali bagi pembangunan masjid untuk muslim disana. Meskipun saat ini berdasarkan data dari komunitas muslim setempat, di Yunani terdapat sekitar 500 ribu muslim dan 40% dari jumlah itu tinggal di Kota Athena.

Lebih dari satu dekade perjuangan muslim setempat untuk membangun masjid pertama di kota selalu kandas, Pemerintah Yunani gagal memfasilitasi muslim setempat akan kebutuhan tempat ibadah. Akibatnya kaum muslimin di Athena harus terpecah pecah dalam komunitas kecil lalu menyewa ruang ruang bawah tanah gedung gedung disana untuk dijadikan sebagai tempat sholat berjamaah.

Ruang basement apartemen, warung kopi, garasi, gudang hinda gedung tua tak terpakai menjadi tempat yang sudah biasa digunakan oleh muslim Athena sebagai masjid sementara meski tak jarang tetap mendapat gangguan pengrusakan dari pihak yang tak bertanggung jawab.

Sebagaimana dikeluhakan oleh salah satu muslim Athena, Osama al-Najar (48 thn), yang sehari hari bekerja sebagai pengawas SPBU “semua umat disini sudah memiliki tempat ibadahnya masing masing kecuali kami, umat Islam”. “bila ingin menjalankan ibadah berjamaah mau tidak mau kami harus menjalankan itu di underground, kami tidak melanggar hukum dengan melakukan itu toh” lanjutnya.

Naim Elghandour (57 tahun) ketua dari Asosiasi Muslim Yunani (Muslim Association of Greece) mengklim memiliki setidaknya 18 ribu anggota mengatakan bahwa beliau sudah empat puluh tahun terahir ini tidak pernah sholat di masjid sejak beliau hijrah dari Mesir ke Yunani, karena ketiadaan masjid disana.

Ada sekitar 100-an masjid masjid temporer di seluruh Athena termasuk lantai dasar toko milik Mazen Rassas sahabat dari Elghandour, di pusat kota Athena. Dan semua masjid temporer itu adalah masjid tidak resmi dan tidak memiliki izin sama sekali dari pemerintah setempat.

Satu satunya masjid di Yunani, ada di kawasan enclave Turki di Thrace yang secara resmi diakui oleh pemerintah Yunani. Krisis masjid di Yunani sudah terjadi sejak tahun 1883 seiring dengan keruntuhan Emperium Usmaniah Turki. Sejak Pasukan Usmani angkat kaki dari Yunani praktis masjid menjadi benda terlarang di Yunani hingga kini. Hasil poling tahun lalu menunjukkan lebih dari separo masyarakat Yunani menolak masjid.

Pemerintah Yunani sebelumnya sempat mengalokasikan beberapa bangunan untuk dipiih salah satunya untuk dijadikan bangunan masjid resmi namun terkait dengan krisis ekonomi Yunani yang begitu parah ditambah lagi dengan penolakan yang begitu lantang dari publik Yunani yang mengasosiasikan Masjid sebagai kehadiran kembali Turki di tanah mereka, semua rencana itu terhenti.

Penolakan publik Yunani terhadap masjid, diperkeras dengan penolakan dari Gereja Ortodok Yunani, termasuk rencana untuk merenovasi sebuah bangunan besar tapi terbengkalai di pangkalan angkatan laut di bagian barat Athena dengan dana 750 Euro (baca beritanya disini) juga gagal dilaksanakan dan menghilang dari pemberitaan.

Bekas sejarah masa lalu ketika Yunani sempat menjadi wilayah Usmaniah Turki menjadi latar belakang sejarah yang begitu kental dalam setiap aksi penolakan terhadap pembangunan masjid di Negara itu.

Sebagaimana disampaikan oleh Elghandour, perkembangan Islam di Yunani, khususnya di Athena luar biasa cepat dan tak pelak menimbulkan ketidaksenangan pihak tertentu. Sebagai contoh adalah kasus pelemparan telur dan youghurt terhadap jemaah.

Dua tahun lalu, sekitar 1000 jemaah melaksanakan sholat di lapangan terbuka Universitas Athena dibawah pengawalan sekitar 7000 anggota kepolisian yang dikerahkan ke lokasi tersebut. Bulan September tahun lalu, Neo Nazi Golden Dawn, yang memenangkan 18 kursi parlemen, tiba tiba melempari para jemaah yang sedang sholat berjamaah dengan telur dan Yoghurt.

Menjelang olimpide Athena tahun 2004 lalu pemerintah Saudi Arabia menawarkan pembangunan Mega Masjid di luar kota Athena tak jauh dari bandara, namun lagi lagi rencana tersebut gagal akibat penolakan yang teramat keras dari Gereja Ortodox Yunani,

Masjid Sang Penakluk di Pasar Monastiraki Athena,
kini dijadikan gudang penyimpanan benda benda -
temuan arkeologi (foto dari virtualtourist.com)
Namun demikian, ada sedikit indikasi bahwa posisi pemerintah sudah mulai melunak. Adalah Yiannis Boutaris, walikota Tessalonika yang dalam satu kesempatan sempat berujar bahwa beliau menginginkan sebuah masjid resmi bagi 5000 umat Islam di kota yang dipimpinnya.

Boutaris dikenal sebagai tokoh yang menyuarakan pembangunan sebuah monumen peringatan untuk mengenang Mustafa Kemal Ataturk di Tessalonika. Mustafa Kemal Ataturk merupakan tokoh sentral dibalik keruntuhan Emperium Usmaniah dan Kelahiran Republik Turki, adalah putra kelahiran Tessalonika, dan Boutaris juga sempat mengatakan bahwa Turki dan Yunani itu bersaudara.

Satu masjid di pusat kota Athena dikenal dengan nama “masjid sang penakluk” merupakan salah satu tempat suci umat Islam di kota tersebut kini terbengkalai dan digunakan sebagai gudang penyimpanan benda benda temuan arkeologi. Lokasi masjid itu berdekatan dengan pasar Monistiraki berada.