Monday, July 23, 2012

Masjid Simbol Wisata Religi Gowa


Masjid Sheikh Yusuf, Gowa
BULAN Ramadan telah tiba, khusus bagi yang beragama Islam, anda masih bisa melakukan berbagai aktivitas seperti biasanya meski sedang menjalankan ibadah puasa, salah satunya dengan berwisata.

Bertepatan dengan bulan ramadan ini, tidak ada salahnya mencoba wisata religi. Wisata religi ini tidak harus ke Timur Tengah.

Sulsel juga menyajikan objek wisata religi yang menarik anda kunjungi saat bulan ramadan. Salah satunya Masjid Tua Katangka dan Masjid Syekh Yusuf di Kabupaten Gowa.

Di masa lalu, Gowa diketahui sebagai pusat penyebaran Islam di jazirah Sulawesi. Menurut catatan sejarah, Islam pertama kali dijadikan sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1603 lalu. Itu berarti, 409 tahun yang lalu. Dengan rentang waktu yang sangat panjang, tentu sangat banyak khazanah Islam masa lalu yang menarik untuk diketahui.

Masjid Al Hilal, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Tua Katangka. Masjid ini terletak di Sungguminasa, tepatnya di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa. Masjid ini merupakan salah satu bukti sejarah penyebaran Islam di masa lalu. Orang-orang percaya, Masjid Al Hilal dibangun pada tahun yang sama Islam dijadikan agama resmi Kerajaan Gowa. Saat itu, I Mangngarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna, atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Alauddin menjadi Raja Gowa. Sultan Alauddin merupakan kakek dari pahlawan nasional, Sultan Hasanuddin.

Meski usianya sudah empat abad, namun masih terdapat sejumlah peninggalan masa lalu yang bisa ditemukan di dalam atau pun luar masjid. Di bagian dalam masjid, terdapat beberapa prasasti yang terbuat dari kayu. Prasasti tersebut berisikan kaligragfi dengan warna emas pada huruf-hurufnya, dan merah menyala pada latarnya. Meski huruf-hurufnya adalah huruf Arab, tetapi bahasanya bukan Bahasa Arab. Melainkan Bahasa Makassar.

Setiap kaligrafi menceritakan secara singkat tentang pembangunan atau renovasi masjid lengkap dengan tanggalnya. Pada pintu utara, prasastinya menceritakan tentang renovasi masjid atas perintah Raja Gowa XXXII, Sultan Abdul Kadir Muhammad Aididdin yang dilaksanakan pada hari Senin 8 Rajab tahun Dal, bertepatan dengan tanggal 12 April 1886. Tertulis pula di prasasti, Sultan Abdul Kadir memerintahkan Karaeng Katangka untuk mengurus masjid bersama Tumailalang Lolo, Gallarang Mangasa, Gallarang Tombolo dan Gallarang Saumata.

Nama-nama yang disebut dalam prasasti tersebut adalah pejabat penting kerajaan. Tumailalang Lolo merupakan orang yang menjembatani Sultan dengan para dewan kerajaan yang dikenal dengan Bate Salapang. Sementara Gallarang adalah kepala wilayah yang berwenang menunjuk wakilnya menduduki Bate Salapang.

Prasasti di pintu tengah lain lagi. Di situ menerangkan Sultan pertama melaksanakan Salat Jumat bersama rakyatnya. Setelah Salat Jumat, Sultan membagi-bagikan sedakah kepada rakyat yang ikut Salat serta para pekerja yang terlibat dalam bangunan masjid. Sayangnya, prasasti yang satu ini tidak jelas waktunya. Hanya melafalkan bahwa masjid dibangun pada bulan Rajab di tahun Dal dan digunakan untuk pertama kalinya pada hari Jumat di tahun Ba. Apa itu tahun Dal dan tahun Ba, hingga kini belum ada yang tahu.

Bagian prasasti lain diartikan bahwa masjid itu direnovasi lagi di masa Raja Gowa XXXIII, Sultan Idris Adzimuddin. Tertulis pula bahwa masjid itu melibatkan sangat banyak pekerja. Tetapi tidak tertera tahun pembuatan kaligrafi tersebut. Yang jelas, Sultan Idris memerintah dalam kurun 1893 -  1895.

Sementara prasasti yang terletak di puncak mimbar, tempat khatib Jumat, menceritakan pembuatan mimbar itu sendiri. Artinya kurang lebih, "Mimbar ini pertama kali dibuat pada Hari Jumat tanggal 2 Muharram 1303 (Hijriyah). Karaeng Katangka dan Karaeng Loloa menuliskan, sudah ditentukan (oleh Nabi Muhammad saw) barang siapa berbicara padahal khatib sudah berada di atas mimbar, maka dia tidak akan memperoleh pahala Jumat." Di atas kaligrafi itu, masih ada lagi kaligrafi bertuliskan "Muhammad" dan "Ahmad". Muhammad, tidak lain nama Rasulullah saw. Sementara Ahmad merupakan nama lain Rasulullah dalam perspektif sufi.

Puas dengan prasasti kaligrafi kuno, kini giliran kaligrafi moderen yang bisa ditemukan di masjid lainnya. Masjid Agung Syekh Yusuf mungkin bisa menjadi persinggahan selanjutnya. Masjid ini terletak di Jl Masjid Raya, depan Kantor DPRD Gowa. Nama masjid tersebut mengabadikan seorang ulama, sufi sekaligus pejuang yang sangat terkenal, Syekh Yusuf Tuanta Salamaka.

Meski tidak memiliki nilai historis seperti Masjid Tua Katangka, Masjid Agung Syekh Yusuf memiliki keunggulan dalam seni kaligrafi. Di dalam masjid, terdapat banyak kaligrafi-kaligrafi dengan berbagai jenis gaya (khat) dan paduan warna yang indah. Kaligrafi terdapat di bagian mihrab, bagian atap puncak serta sekeliling tembok bagian atas masjid.

Masjid yang mampu menampung sekitar 4000 jamaah ini didesain seperti Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar. Tentu saja bentuknya lebih kecil.

Pada bulan Ramadan ini, Masjid Tua Katangka dan Masjid Agung Syekh Yusuf ramai pada malam hari. Imam Masjid Agung, Abdul Jabbar Hijaz Daeng Sanre mengatakan pada masjid tersebut bisa ditemukan berbagai keragaman umat Islam.

"Masjid ini milik semua aliran. Mau tarwih 8 ada, tarwih 20 juga bisa," kata Abdul Jabbar Hijaz.

Tak seperti masjid lainnya yang hanya mengagendakan ceramah tarwih dan subuh, di Masjid Agung Syekh Yusuf juga digiatkan diskusi usai Salat Duhur. (Akbar Hamdan/kas)