Monday, July 30, 2012

Masjid Pesantren Cijawura Pernah Jadi Markas Tentara Sabilillah


Masjid Pesantren Cijawura 

GAYA bangunan ala Timur Tengah dengan kubah besar di tengah dan empat kubah kecil di empat sudut bangunannya mampu memperlihatkan kemegahan masjid itu. Kemegahan pun semakin indah terlihat dengan adanya sebuah menara dengan puncak berbentuk kubah kecil dengan ukuran sama seperti kubah di empat sudut, serta banyaknya jendela bergaya lengkung tapal kuda yang menghiasi di sepanjang dindingnya hingga tiga lantai.

Pemandangan kemegahan itu bisa terlihat ketika kita melewati Jalan Ciwastra atau Jalan Rancabolang karena masjid yang bernama Masjid Raya Pondok Pesantren Cijawura Margasari itu berada tepat di belokan antara Jalan Ciwastra dan Jalan Rancabolang, Kota Bandung.

Sekilas suasana siang di halaman masjid terlihat sepi. Namun setelah memasuki masjidnya, tampak beberapa kelompok santri berkumpul ada yang melingkar ada pula yang berjajar yang dipimpin oleh seorang ustaz. Saat itu terlihat ada beberapa kelompok santri yang sedang mengaji kitab dengan gaya pengajaran yang santai, tapi serius. Suasana di dalam masjid pun terasa mengasyikkan. Para santrinya beragam, mulai dari kalangan anak yang masih duduk di sekolah dasar, SMP dan SMA hingga kalangan dewasa atau mahasiswa.

"Kami melakukan kegiatan sejak setelah sahur hingga setelah tarawih," kata Ustaz Umar Rosadi, salah seorang pengurus Masjid Pontren Cijawura Margasari, Minggu (22/7/2012).

Setelah menjalankan sahur para santri bersama jamaah warga sekitar banyak yang melakukan itikaf. Dilanjutkan dengan salat subuh berjamaah. Seusai salat sbuh dilanjutkan dengan kuliah sbuh mulai pukul 05.00 hingga 06.00. Pengajian dimulai kembali pada siang hari menjelang salat lohor dan setelah salat asar hingga buka puasa dilanjutkan dengan salat magrib berjamaah dan isya serta salat tarawih.

Kegiatan mengaji di masjid ini dibagi dalam tiga kelompok, yakni kelompok Ibtida yakni kelompok anak-anak yang mengaji kitab yang mengisahkan Isro Miraj, kedua kelompok Wusto yakni kelompok remaja yang mengaji kitab ilmu nahu dan hadis, dan ketiga adalah kelompok Ali yakni kelompok dewasa yang mengaji soal fikih tafsir munir. Selain itu masing-masing kelompok juga mengaji Alquran.

Masjid dan pontren yang didirikan oleh almarhum KH Muhammad Burhan pada tahun 1930-an ini setiap tahunnya selalu diminati santri. Seperti tahun-tahun sebelumnya santri yang meramaikan masjid tersebut terdiri dari sekitar 40 santri yang tinggal di pondok dan 70 santri yang "ngalong" atau tidak tinggal di pondok.

Masjid yang mampu membaurkan para santri dengan warga sekitar ini, kata Umar, anak Pimpinan Pontren Cijawura Margasari, KH Amin Fakih, penerus dari almarhum KH Muhammad Burhan, tergolong masjid yang memiliki sejarah dalam perjuangan kemerdekaan. Pada tahun 1946 masjid dan pontren ini sempat dihancurkan Belanda karena sempat menjadi markas tentara Sabilillah.

"Kata orang tua dulu, masjid pesantren ini sempat menjadi markas tentara Sabilillah," kata Umar.

Namun bangunan masjid yang sekarang ini merupakan banguan baru renovasi. Bahkan bangunan masjid itu sudah mengalami renovasi sejak tahun 1948 karena sudah dihancurkan Belanda. Hanya ruang tempat salat di mihrabnya yang masih bisa dipertahankan hingga sekarang.