Monday, May 23, 2016

Masjid Hafız Yusuf Yılmaz Dipuncak Gunung Di Turki

PEMANDANGAN SPEKTAKULER dari setiap jendela masjid ini, menyajikan pemandangan bentang alam yang luar biasa. 

Bangunan masjid satu ini memang tak biasa, bukan karena ukurannya yang fantastis atau karena usianya yang sudah teramat tua, tapi karena letaknya yang berada begitu tinggi di puncak Gunung Kible di Distrik Rize, provinsi Güneysu, Turki. Gunung Kible yang menjadi nama gunung tersebut berasal dari kata Kiblat, karena memang posisi gunung ini yang memanjang menghadap ke Ka’bah di Kota Mekah. Ditambah lagi dengan ketinggiannya yang mencapai 1130 meter dari permukaan laut membuatnya terlihat dari bagian manapun di distrik Rize.

Distrik Rize merupakan tempat kelahiran ayah dari presiden Turki saat ini, President Recep Tayyip Erdoğan. Masjid Kible pertama kali dibangun di sekitar abad ke 19 berbahan kayu, namun masjid tersebut terbakar di tahun 1960. Kemudian sebuah masjid sederhana berbahan beton dibangun di lokasi yang sama menggantikan masjid sebelumnya. Ditahun 2010 saat Erdogan masih menjabat sebagai Perdana Menteri Turki, beliau berkunjung ke masjid tersebut dan memerintahkan kepada pejabat setempat untuk membangun ulang dan mengembangkan masjid tersebut.


Sebelum membangun masjid, pemerintah setempat terlebih dahulu membangun jalan akses ber-aspal mulus menuju ke masjid ini. Pembangunan Masjid dimulai tahun 2013 dengan dana donasi dari pengusaha setempat. Rancangan masjid ini ditangani oleh Yusuf Yılmaz dengan meniru bangunan masjid bersejarah Şemsi Ahmet Paşa di lingkungan Üsküdar, Istanbul. Beliau mengatakan selama proses pembangunan, Erdogan senantiasa mengikuti perkembangan pembangunan masjid ini termasuk mengikuti dengan seksama proses penyelamatan dengan helikopter, tiga pekerja yang terjebak badai salju di lokasi pembangunan masjid ini.

Masjid ini diresmikan oleh Presiden Erdogan pada hari Jum’at 14 Agustus 2015 dan diberi nama Masjid Hacı Hafız Yusuf Yılmaz. Acara peresmian masjid ini ditandai dengan pengguntingan pita, penaman pohon dan pelesan burung merpati dilanjutkan dengan sholat Jum’at berjamaah bersama dengan presiden Erdogan, anggota keluarganya serta jajaran Kabinet yang menyertainya.

GUNUNG KIBLE atau gunung kiblat tempat masjid ini berdiri memang menghadap kiblat.

Bangunan Masjid ini berukuran 275m2 dilengkapi dengan kubah besar setinggi 13 meter dan bangunan Menara setinggi 27 meter. Disekitar masjid juga telah dibangun jalur untuk pejalan kaki dan area rekreasi. ada area khusus untuk jema’ah wanita seluar 45m2, disiapkan juga ruangan yang yang cukup menarik dan tidak terdapat di semua masjid serta bangunan publik lainnya yakni adanya ruangang yang dirancang khusus untuk ibu ibu yang membawa bayi.

Meski telah dilengkapi dengan jalur khusus pejalan kaki namun demikian, sudah barang tentu tak mudah bagi para pejalan kaki untuk mencapai masjid ini, butuh ektra tenaga untuk sampai disana. namun demikian, Gubernur setempat, İhsan Selim Baydaş mengatakan bahwa pemerintah setempat telah membangunan tempat tersebut juga telah dilengkapi dengan penginapan. Beliau juga menambahkan bahwa bangunan masjid tersebut dibangun dengan material dan kualitas terbaik dan merupakan satu maha karya yang layak untuk dikunjungi.***

---------ooo000ooo---------

Baca Juga


Thursday, May 19, 2016

Islamic Center Sendawar Kutai Barat

Megah tanpa warna mencolok. Masjid Islamic Center Kabupaten Kutai Barat di Sendawar ini dirancang dengan rancangan kubah klasik seperti masjid masjid tua di Sumatera Indah, elegan dan mewah.
Kutai Barat, adalah yang baru berdiri pasca reformasi dan merupakan pecahan dari Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Sebagai kabupaten yang baru tumbuh, pemerintah daerah mulai membangun infrastruktur termasuk perkantoran pemerintah dan jalan utama kota. Ibukota Kabupaten Kutai Barat adalah Sendawar, yang merupakan gabungan antara kota lama Melak yang terletak di tepi Sungai Mahakam dengan Barong Tongkok yang menjadi lokasi perkantoran pemerintah daerah.

Dari Balikpapan ada pesawat langsung menuju Melak dengan waktu tempuh sekitar 40 menit. Namun bila menggunakan jalan darat bisa mencapai 7-9 jam tergantung kondisi jalan. Lebih menarik lagi berlayar melintasi Sungai Mahakam dari Kota Samarinda, berangkat malam hari sekitar pukul 20.00, dan tiba subuh sekitar pukul 5.00 pagi


Islamic Center Kutai Barat dibangun dengan dana dari APBD kabupaten Kutai Barat sebesar 55 milyar rupiah dengan sistem multiyear. Islamic Center yang berlokasi di Kelurahan Melak Ulu, Kecamatan Melak, dikerjakan kontraktor PT Budi Daya Utama Sejahtera. Mulai dibangun tahun 2009 dan diresmikan pada tanggal 1 Maret 2016 oleh Bupati Kutai Barat Ismael Thomas, bersama Wakil Bupati Didik Effendi. Islamic Center ini merupakan tempat ibadah terbesar bagi umat Islam di Kutai Barat dengan fasilitas multi fungsi, untuk melakukan kajian dan siar agama terhadap masyarakat. Bisa digunakan untuk jamaah calon haji maupun jamaah umrah yang akan berangkat ke tanah suci Makkah.

Jl. KH Dewantara Kelurahan Melak Ulu
Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat
Kalimantan Timur


Islamic Center ini berdiri di atas lahan seluas empat hektar, memiliki bangunan masjid dua lantai bernama Masjid Baitul Maqdis dengan luas 2858,7 M2, mampu menampung hingga 6000 jamaah. Bangunan masjid dilengkapi dengan dua bangunan Menara yang terletak di sisi timur dan sisi barat masjid dengan ketinggian sekitar 27 meter. Bangunan Kantor sekretariat memiliki luas 369 M2 berfungsi untuk kegiatan umum dan tata usaha. Bangunan Aula/Ruang serbaguna memiliki luas 468 M2.

Bangunan asrama memiliki luas 502 M2 berfungsi sebagai tempat tinggal pengurus Islamic Center maupun tamu-tamu yang datang dari luar daerah. Ada juga bangunan perpustakaan yang memiliki luas 770 M2 dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku-buku maupun arsip arsip keagamaan. Bangunan Museum Islam memiliki luasan 451 M2 yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pameran barang-barang bersejarah keagamaan.

Bangunan Sekolah TK dan TPA memiliki luas 694 M2 yang berfungsi sebagai sarana pendidikan agama bagi anak-anak. Selain itu komplek Islamic Center ini dilengkapi juga dengan rumah genset, ground tank, area parkir kendaraan yang cukup luas dan pos jaga. Genset yang disediakan berkapasitas 250 Kilo volt Ampere (KVA) dengan sistem otomatis, pemadam api dan lainnya.***

------------ooo000ooo------------

Baca Juga 


Wednesday, May 18, 2016

Azan Yang Mengharukan Dari Masjid Swedia

MASJID FITTJA. Tegelbruksvägen 10,145 53 Norsborg,Swedia
Lantunan azan dari Menara masjid bukanlah hal yang luar biasa bagi muslim Indonesia, di negeri ini bahkan dua wakil presiden bahkan repot mengatur suara azan dari masjid dan mushola. Lain halnya dengan muslim yang jumlahnya sangat minoritas di negeri non muslim seperti saudara saudara kita di Swedia. di Negara itu tidak bisa se-enaknya menyuarakan azan dengan pengeras suara hingga terdengar keluar dari ruangan masjid. Butuh izin resmi dari pihak berwenang untuk menyuarakannya.

Pengurusan izin menyuarakan azan dari Menara masjid dengan pengeras suara, sama rumit dan sulitnya dengan membangun masjid. Muslim di kota kecil Fittja di dalam wilayah kotamadya Botkyrka di sebelah selatan kota Stockholm, Swedia, sudah lama mengajukan izin untuk menyuarakan azan dengan pengeras suara dari Menara masjid mereka, dan ahirnya izin resmi yang di tunggu tunggu disetujui oleh pemerintah kota pada bulan maret 2013 yang lalu. Media Eropa bahkan menyebut keluarnya izin tersebut sebagai sesuatu yang sama sekali tidak di duga duga.


Kaum Muslimin disana berbondong ke masjid Fittja untuk menyaksikan dan mendengarkan lantunan azan untuk pertama kali pada hari Jum’at 12 April 2013 dari Menara masjid yang mereka bangun sejak tahun 1998 dan selesai tahun 2007. Suasana haru biru ketika suara azan terdengar lantang dari Menara tunggal masjid tersebut, banyak diantara mereka yang meneteskan air mata tak kuasa menahan rasa haru, dan bahagia yang menyeruak.

Meski telah disetujui untuk menyuarakan azan dari Menara masjidnya. muslim disana harus mentaati syarat dan aturan yang telah ditetapkan. Termasuk didalamnya adalah bahwa suara azan yang disuarakan melalui pengeras suara di Menara masjid tidak melebihi jarak jangkauan dua kilometer. Otoritas kota akan melakukan pengukuran terhadap hal itu secara berkala. Masjid Fittja di-izinkan untuk menyuarakan azan lima kali sehari. Merujuk kepada laporan kementrian luar negeri AS, muslim di Swedia ada sekitara 450,000 hingga 500,000 jiwa dari total Sembilan juta penduduknya.


Referensi

en.wikipedia.org - Fittja

Tuesday, May 10, 2016

Masjid Al-Aminah "Benar Benar" Terapung di Teluk Lampung

DINAMIS. masjid yang selalu dinamis dalam artian sebenarnya, karena letaknya yang terapung diatas air laut membuatnya selalu bergoyang mengikuti alunan ombak yang menerpa.
Bila Masjid Terapung yang sudah ada di berbagai negara termasuk masjid terapung yang sudah berdiri di Indonesia hanya berupa bangunan masjid yang dibangun diatas air dengan tiang pancang sebagai penyanggah bangunannya, tapi khusus untuk masjid terapung yang satu ini benar benar masjid terapung dalam artian sebenarnya. tidak ada tiang pancang yang menancap ke dasar laut sebagai penopang bangunannya, tapi benar benar mengapung di atas air laut teluk Lampung. Masjid Terapung Sebenarnya ini Bernama Masjid Terapung Al-Aminah, Lokasinya berada di lepas pantai wisata Sari Ringgung, di Kabuparen Pesawaran provinsi Lampung.

Masjid Terapung Al-Aminah terapung diantara bagan (tempat menangkap ikan yang terapung diatas laut) milik nelayan setempat yang bertebaran di lepas pantai wisata Sari Ringgung. Masjid ini pada awalnya memang dibangun oleh para Nelayan disana untuk tempat mereka menunaikan sholat berjamaah saat waktu sholat tiba. Seiring dengan dibukanya pantai Sari Ringgung sebagai salah satu objek wisata dan semakin ramainya pengunjung yang datang kesana, masjid terapung ini pun kemudian menjadi salah satu objek wisata rohani yang menarik minat berbagai kalangan untuk berkunjung kesana. Masjid terapung Al-Aminah ini kemudian diresmikan sebagai objek wisata oleh Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri pada hari Kamis 4 Juni 2015.

Masjid Terapung Al Aminah
Lepas Pantai Sari Ringgung, Desa Sidodadi Kec. Padang Cermin
Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung
koordinat geografi: -5.556955, 105.254854
FB : masjid apung


Bangunan masjid terapung ini berdiri diatas puluhan pelampung dari drum plastik berukuran besar. Bahan bangunannya menggunakan kayu dan triplek dengan atap asbes. Dapat difahami kenapa material tersebut yang digunakan, tentusaja karena material tersebut tidak terlalu berat. Secara keseluruhan masjid ini mampu menampung hingga 200 jemaah. Dilengkapi dengan fasiltas toilet dan air tawar, Dua unit genset sebagai pembangkit listrik, dapur dan peralatan memasak serta perahu mesin ganda untuk antar jemput jema’ah. Dari pantai Sari Ringgung dapat dicapai dengan perahu motor selama sekitar 3 menit.

Sholat di masjid terapung yang benar benar terapung seperti masjid Al-Aminah yang berada di lepas pantai Teluk Lampung ini memang menghadirkan suasana yang berbeda, dengan goyangan bangunannya seirama ombak laut, pemandangan luas hamparan air laut dan hijaunya perbukitan yang menjulang seakan muncul dari permukaan air laut, sedangkan pekarangan masjid ini dan sekitarnya berjejer keramba keramba ikan milik nelayan setempat. Sebuah pemandangan yang menghadirkan nuansa yang berbeda. Mungkin itu yang menjadi salah satu daya Tarik masjid ini hingga tak henti hentinya mendapatkan kunjungan dari berbagai lapisan masyarakat meski letaknya berada ditengah laut.

Selalu ramai pengunjung

Menyeberang Gratis Bagi Jemaah Sholat Jum’at

Ketua pengurus masjid Al-Aminah, Syamsu Rizal  mengatakan, Setiap jamaah yang hendak beribadah sholat Jumat di Masjid Terapung Al-Aminah ini disediakan perahu untuk penyeberangan secara gratis alias tidak bayar. Semua itu tak lepas dari nelayan-nelayan di sekitar masjid yang memang memiliki komitmen untuk membantu jamaah yang akan menuju ke masjid terapung ini. Padahal dengan tariff normal di hari biasa para nelayan ini biasa memasang tariff Rp. 130.000 per 10 orang untuk sewa 1 kapal nelayan untuk berkeliling di sekitar pantai, termasuk melihat masjid Terapung Al-Aminah ini. namun khusus di hari Jum’at para nelayan ini sudah stand by sejak pukul 11:30 WIB untuk mulai mengangkut pengunjung yang hendak sholat Jum’at ke Masjid Al-Aminah secara gratis.

Bagian samping masjid dilengkapi selasar yang bisa digunakan untuk bersantai atau istirahat. Sementara pada bagian kiri ada warung yang dibuka oleh marbot (penjaga masjid). Warung ini menjual aneka kebutuhan warga. Mulai makanan ringan hingga bahan bakar perahu nelayan yang biasa hilir mudik di perairan Ringgung. Walaupun terletak di tengah laut, aktivitas keagamaan disini lumayan aktif. Hampir setiap pekan ada pengajian di masjid unik ini. Ibu-ibu pengajian dari berbagai kota di Lampung biasa mengadakan pengajian di masjid ini. ***

-------ooo000ooo------------

Baca Juga 



Monday, May 9, 2016

Masjid Terapung Arqam Bab Al Rahman Palu

Berdiri kokoh di lepas pantai kota Palu, Masjid Arqam Bab Al-Rahman menjadi Ikon baru kota Palu
Konsep masjid terapung kini menjadi salah satu khazanah bangunan masjid di Indonesia. Masjid yang dibangun di atas laut memang menghadirkan nuansa religi tersendiri dan tentu saja menghadirkan pemandangan baru yang tak biasa. Di Indonesia sudah ada beberapa bangunan masjid sejenis, masjid serupa bisa juga dijumpai di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, dan beberapa kota lainnya. Di Kota Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah sejak tahun 2012 yang lalu juga sudah memiliki masjid terapung yang diberi nama Masjid Arqam Bab Al-Rahman.

Alamat Masjid Arqam Bab Al Rahman
Jalan Rono, Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat
Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah


Masjid terapung Arqam Bab Al Rahmanadalah masjid terapung yang terletak di kawasan teluk palu, kampung lere, Palu Barat, Sulawesi Tengah.masjid ini hanya berjarak 400 meter dari Jembatan Kuning atau Jembatan Palu Empat. Masjid terapung yang ukurannya tidak terlalu besar dilengkapi dengan kubah bewarna emas dan disinari beraneka warna lampu pada malam hari. Disebut sebagai masjid terapung karena lokasi tempatnya berdiri berada di atas air laut teluk Palu. Tidak dalam artian terapung sebenarnya, namun dilengkapi dengan sederetan tiang tiang beton yang ditancamkan ke dasar laut, sekitar 30 meter dari bibir pantai.

Bangunan masjid dihubungkan dengan jembatan beton ke pantai. Ukuran masjid-nya tidak terlalu besar dengan luas sekitar 121 meter persegi dan hanya mampu menampung sekitar 150 jemaah sekaligus, namun dengan rancangan bangunan yang cukup menarik, serta letaknya yang tidak lazim menjadikan masjid ini sebagai salah satu objek menarik untuk di kunjungi di kota Palu, termasuk oleh pasangan calon pengantin yang melakukan foto preweding di masjid ini.

Disiang dan malam hari
Masjid Baburrahman dibangun dengan dana pribadi Muhammad Hasan Bajamal, seorang pengusaha sukses di bidang SPBU di kota Palu. Pembangunannya ditujukan untuk  mengenang jasa almarhum Syekh Abdullah Raqi atau Datuk Karama. Datuk Karama merupakan ulama asal Minangkabau (Sumatera Barat). Beliau diyakini sebagai penyiar agama Islam pertama sejak abad ke-17. Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan oleh Wali Kota Palu, Rusdi Mastura dan diresmikan pada tanggal 19 Januari 2012 Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola,

Bangunan masjid dengan kubah besar ditengah sebagai kubah utama di apit oleh empat kubah lebih  kecil di ke empat penjuru atapnya kini menjadi salah satu objek wisata religi bagi warga kota Palu. Keramik keramik di masjid ini disebut sebut berasal dari India dengan tata lampu yang menyinari kubahnya pada malam hari hingga menghadirkan 7 warna secara bergantian itu di import dari Cina. Tidak sekedar indah, masjid ini juga dima’murkan dengan kajian Islam setiap minggu. Masjid juga telah menyediakan kain sarung dan mukena bagi jema’ah yang membutuhkannya untuk sholat di masjid ini.***

------------ooo000ooo------------

Baca Juga 


Wednesday, May 4, 2016

Masjid Agung Darussalam Palu

Berlatar belakang perbukitan yang menghijau, Masjid Agung Darussalam Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah, hadir melayani jemaah sejak tahun 1978.

Kota Palu adalah ibukota dari Provinsi Sulawesi Tengah. di kota ini telah berdiri bangunan masjid megah yang menjadi masjid agung kota Palu dengan nama Masjid Agung Darussalam Kota Palu. Pembangunan masjid ini merupakan tindak lanjut dari ditetapkannya Sulawesi Tengah sebagai daerah tingkat satu pada tahun 1964. Tahun 1975, pemerintah daerah, ulama, dan beberapa ormas menggagas pembangunan sebuah masjid yang representatif dengan citra Kota Palu sebagai kota religius. Pembangunan Masjid dimulai tahun 1978 dan baru selesai secara keseluruhan tahun 2000.

Lokasi dan Alamat
Jalan WR Supratman No.15 Palu Barat
Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah


Masjid Agung Darussalam adalah masjid terbesar di Sulawesi Tengah (Sulteng), dengan luas bangunan mencapai 2.500 meter persegi, mampu menampung jamaah hingga 1.200. jamaah. bangunan masjid berlantai dua, ruang sholat utama berada di lantai dua, dilengkapi dengan jejeran anak tangga. Bangunan masjid ini dibangun dengan konsep modern namun minimalis, sepi dari ornamen ornamen baik di dalam maupun di luar masjid.

Bangunan utama masjid berbentuk kubus dengan satu kubah besar di atap masjid ditambah dengan kubah kubah kecil di setiap penjuru atapnya. warna hijau mendominasi warna kubahnya dengan aksen floral bewarna kuning. Di bagian dalam masjid pun tidak menggunakan banyak ornament. Dua belas tiang beton penyangga atap di dalam masjid ini dibiarkan polos tanpa ornamen. sisi bagian dalam kubah di hias dengan lukisan motif floral.

Interior dan Exterior Masjid Agung Darusalam kota Palu

Bagian mihrab masjid juga terlihat minimalis. Mihrab dibedakan dari dinding lainnya dengan penggunaan keramik hitam untuk menutupi bagian pigura relung mihrab. Di sana juga terletak mimbar yang berbentuk tidak terlalu rumit. Tampaknya masjid memang didesain untuk menampilkan kesan bersahaja dan ramah. Bagi sebagian orang, dinamika kegiatan sosial keagamaan yang semarak di lingkungan masjid lebih penting dibandingkan menghias masjid itu sendiri.

Masjid ini juga dapat dikatakan sebagai pemersatu umat karena jamaahnya berasal dari berbagai kecamatan di kota Palu. Selain itu, masjid juga menjadi pusat kegiatan keagamaan, mulai dari Maulid Akbar, Festival Masjid Nusantara, MTQ, manasik haji untuk tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, pada akhir 2010 lalu digelar zikir akbar “Palu Berzikir” di masjid ini. Selain kegiatan keagamaan, aktivitas sosial kemasyarakatan juga kerap dilaksanakan di area masjid, seperti karnaval, bazar, dan berbagai kegiatan olahraga seperti sepak bola dan pencak silat. Semua itu menjadikan suasana masjid benar-benar hidup.***

------------ooo000ooo------------

Baca Juga 


Tuesday, May 3, 2016

Masjid Agung A.G. KH Abdul Rahman Ambo Dalle Kota Pare Pare

Tampak Menjulang karena memang dibangun diatas tanah yang berkontur lebih tinggi dari permukaan jalan, membuat masjid ini begitu tinggi dari jalan raya dan harus melalui sederetan anak tangga untuk masuk ke dalam masjid ini.
Kota Pare Pare merupakan salah satu Kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Seperti kota dan kabupaten lainnya di provinsi Sulsel, Kota Pare Pare telah memiliki Masjid Agung dikenal dengan nama Masjid Agung Kota Pare Pare. Masjid Agung Kota Parepare diresmikan penggunaannya tanggal 11 Oktober 2013 oleh Walikota Parepare H.Sjamsu Alam. Masjid Agung disebut-disebut sebagai masjid terindah kedua di Sulsel setelah Al-Markaz Al –Islami, pembangunannya menelan anggaran Rp. 24 miliar. Anggaran ini bersumber dari APBD Kota Parepare.

Tahun 2015 Masjid Agung Parepare secara resmi berganti nama menjadi Masjid AG KH Abdul Rahman Ambo Dalle, sesuai dengan Surat Keputusan Wali Kota Parepare nomor 952 tahun 2015 tentang penetapan nama Masjid Agung AG. KH Abdul Rahman Ambo Dalle yang dibacakan pada Haul ke-19 wafatnya AG KH Ambo Dalle, di kompleks Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Lil Banat, Ujung Lare, Ahad 29 November 2015. Anre Gurutta (AG) K.H. Abd. Rahman Ambo Dalle adalah tokoh terkemuka di Pare Pare dan sekitarnya. semasa hidupnya beliau dikenal sebai seorang guru terkemuka. salah satu peninggalan beliau adalah Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Lil Banat, Ujung Lare, yang masih berdiri hingga saat ini.

Lokasi dan alamat Masjid Agung Pare Pare

JL. Jendral Ahmad Yani km 2, Ujung Baru
Soreang, Kota Pare-Pare Provinsi Sulawesi Selatan


Masjid Agung Parepare dapat diakses dari dua jalan, yakni Jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan poros Parepare-Kabupaten Sidrap, dan Jalan PDAM yang berada tepat di belakang masjid. Masjid berlantai tiga ini dapat menampung sekitar 2000 jemaah sekaligud ditambah dengan area pelatarannya yang diperkirakan dapat menampung hingga 3000 jemaah.

Fasilitas Masjid Agung Pare Pare

Masjid Agung Pare Pare dilengkapi fasilitas aula serba guna di lantai dasar yang dapat menampung sekitar 500 orang, full AC dan diperuntukan untuk acara-acara berskala besar, seperti pernikahan dan acara penting lainnya di Kota Parepare. Masjid ini juga memiliki ruang underground yang diperuntukkan untuk tempat berkantor bagi organisasi-organisasi Islam di Parepare. Masih di area underground yang berdekatan dengan tangga masuk, disiapkan puluhan toilet laki-laki, dan tempat berwudhu sebanyak 40 buah di sisi kanan dan 40 buah di sisi kiri.

Setiap pengunjung yang datang ke masjid ini terlebih dahulu melewati area berwudhu sebelum mendaki puluhan anak tangga menuju bangunan utama masjid. Tempat berwudhu yang sangat representatif juga dapat ditemukan di bagian belakang masjid untuk jamaah yang masuk melalui akses jalan PDAM. Masjid ini menjadi landmark Kota Parepare dan diharapkan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi warga luar daerah berkunjung ke Parepare. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Parepare, dapat menjadi alternatif lain pemerintah kota dan masyarakat Parepare dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan ke-Islaman bersakala besar yang selama ini lebih banyak dilaksanakan di Islamic Centre.

Empar menara di empat sudut bangunan ditambah satu menara terpisah dari bangunan utama.

Arsitektural Masjid Agung Pare Pare

Masjid Agung Pare Pare dilengkapi empat menara di empat sisi bangunannya, Luas bangunan utama 1,764 meter persegi (42 meter x 42 meter), terdiri dari tiga lantai. Sementara ruang underground 750 meter persegi (25 x 30). area parkir Masjid ini dapat menampung 30 mobil di areal parkir bawah, dan 40 mobil untuk areal parkir bagian atas. Rancangan masjid ini akan dilengkapi dengan Satu Menara lagi dengan tinggi hingga 60 meter terpisah dari bangunan masjid. Hanya saja Menara tersebut runtuh di bulan Oktober 2014 yang lalu dan hingga saat tulisan ini di posting, perbaikan menara tersebut masih berlangsung.

Secara arsitektur, Masjid Agung Parepare mengadopsi tiga konsep masjid besar di tanah air, yakni Masjid Agung Kota Surabaya, Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, dan Masjid Agung Kalimantan Timur. Untuk konsep menara dan ruang shalat utama, mengambil contoh Masjid Al Markaz Al-Islami Makassar. Sementara untuk kubah utama mengadopsi  Majid Agung Surabaya. Sedang untuk Masjid Kalimantan Timur yang diadopsi  adalah pemanfaatan landskap ruang.

Ornamen masjid dibuat khas ala timur tengah. Selain itu, di setiap sudut tiang tertuliskan lafaz Allah, Arrahman dan Arrahim. Sedangkan di  dalam lingkaran kubah masjid terdapat kaligrafi Asmaul Husna. Masjid ini dikerjakan PT Nindya Karya Divisi V Makassar selama tiga tahun, menghabiskan anggaran sebesar Rp. 24 miliar. Masjid Agung Pare Pare dibangun dengan memanfaatkan kontur tanah yang berada di atas ketinggian sekitar 13 meter dari jalan raya dan 70 meter dari atas permukaan laut.

------------ooo000ooo------------

Baca Juga 



Monday, May 2, 2016

Masjid Al-Akbar Balangan Kalsel

Berlokasi di atas bukit di kota Paringin, masjid agung Al-Akbar merupakan masjid terbesar di kabupaten Balangan provinsi Kalimantan Selatan
Kabupaten Balangan adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan, Beribukota di Parigin. Kabupaten Balangan merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Hulu Sungai Utara yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan di Provinsi Kalimantan Selatan.

Berdasarkan undang-undang tersebut, Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno meresmikan Kabupaten Balangan pada tanggal 8 April 2003 yang kemudian menjadi hari jadi yang dirayakan setiap tahunnya. Motto Kabupaten Balangan adalah "Sanggam": "Sanggup Bagawi Gasan Masyarakat" (bahasa Banjar, berarti: Kesanggupan melaksanakan pekerjaan (pembangunan) yang didasari oleh keikhlasan untuk masyarakat. Dengan luas wilayah 1.819,75 km2 dan terbagi menjadi 8 kecamatan.

Kabupaten Balangan terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Selatan, berdasarkan letak geografis maka kabupaten Balangan cukup strategis karena dilalui lintas trans Kalimantan dan berpeluang besar untuk berkembang menjadi kota persinggahan bagi perjalanan dari Banjarmasin ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Masjid Al-Akbar dan Islamic Center Balangan

Masjid Al Akbar Kabupaten Balangan pertama kali digunakan pada tanggal 22 Desember 2014 untuk shalat berjamaah oleh Bupati Kabupaten Balangan H Sefek Effendie, Wakil Bupati H Ansharuddin serta jajaran kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan pegawai lainnya melaksanakan salat zuhur berjamaah di masjid ini. Pembangunan masjidi memakan waktu selama lima tahun sejak tahun 2010 dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Balangan tanpa ada bantuan anggaran lain.

Suasana malam peresmian masjid Al-Akbar Balangan
Sebelum dibangun, Dinas Pekerjaan Umum bersama Majelis Ulama Indonesia Balangan sudah beberapa kali turun ke lokasi untuk menentukan kiblat yang tepat. Peresmian masjid yang terletak di atas gunung ini dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Selatan H Rudy Ariffin pada tanggal 28 Januari 2015. Beliau juga yang melakukan peletakan batu pertama pembangunan masjid tersebut di tahun 2010.

Peresmian dimulai pada pukul 20.00 wita sehabis sholat isya dimulai dengan pembacaan maulid Habsyi oleh KH Asmuni atau Guru Danau, selain gubernur juga hadir pejabat sebenua enam seperti Kemenag, MUI, Pimpinan PT. Adaro Energy Tbk, Direktur Bank Kalsel dan undangan lainnya, serta masyarakat Balangan. Kegiatan tersebut juga di isi dengan tausiah dan ceramah agama oleh KH Asmuni.

Dengan selesai dan berfungsinya Masjid Agung Al Akbar ini menambah objek wisata Religi di kabupaten berjuluk Bumi Sanggam ini, setelah sebelumnya hanya ada satu objek wisata religi yakni Makam Datuk Kandang Haji yang berada di Kecamatan Juai. Dengan Kapasitas hingga 5000 jemaah sekaligus, menjadikan masjid ini sebagai masjid terbesar dan termegah di Kabupaten Balangan dan di kawasasn Banua Anam. Selanjutnya di areal ini akan segera dibangun fasilitas penunjang lainnya sebagai pusat pengembangan Islam (Islamic Center) di Kabupaten Balangan.

Lokasi Masjid Al-Akbar Balangan

Jalan Jendral A Yani Km 2
Paringin Selatan, Kabupaten Balangan
Provinsi Kalimantan Selatan - Indonesia
Koordinat : 2° 21' 12.91" S  115° 28' 6.84" E


Ustadz Maulana Tablik Akbar Di Balangan

8 Februari 2015 Ustad Maulana didampingin Bupati Balangan H Sefek Effendie bersama Puteranya Dimas Febriyandie mendampingi ustad Maulana ketika berkunjung ke Masjid Al Akbar Kabupaten Balangan untuk memberikan tausiah kepada warga Balangan. Ustadz Maulana bersama Ustadzah Hj Maryam  berceramah dihadapan ribuan masyarakat Bumi Sanggam di Mesjid Al Akbar Kabupaten Balangan, dalam acara Tablik Akbar yang digelar oleh pemerintah kabupaten setempat.

Acara tablik akbar bersama Ustadz Maulana di Komplek Islamic Centre Kabupaten Balangan setelah sholat dzuhur dan dihadiri ribuan jemaah dari kalangan pelajar, pegawai negeri dan swasta. Turut berhadir seluruh Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah, Dandim 1001 Amuntai-Balangan, Kapolres Balangan, Wakil Bupati, Ketua DPRD, Sekdakab Balangan.***

------------ooo000ooo------------

Baca Juga