Showing posts with label Masjid di Sumatera. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Sumatera. Show all posts

Saturday, June 7, 2025

Masjid Ummul Qura Danau Manjinjau

Megah ditepian Danau Maninjau.
 
Masjid Ummul Quro adalah sebuah masjid tua nan indah baik bangunan masjidnya begitupun lokasinya yang berada ditepian danau Maninjau, salah satu danau paling indah di Sumatera Barat. Lokasi masjid ini berjarak 3,9 Km atau lebih kurang delapan menit berkendara sebelah utara dari Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang juga berada ditepian Danau Maninjau.
 
Nama Ummil Qura berasal dari bahasa Arab yang artinya “kota tua” juga berarti “Ibu kota” atau dalam bahasa Minang disebut “Ibu Nagari” yang juga merupakan nama lain dari Kota Mekah. Dari papan nama yang terpasang di depan masjid tersebut, dapat diketahui bahwa masjid ini dibangun pada 1907.
 
      Masjid Ummul Qura
      Bancah, Maninjau, Tanjung Raya, Agam Regency, West Sumatra
 
 
Arsitektur Masjid Ummur Quro
 
Masjid Ummul Quro benar benar berdiri tepat ditepian danau Manjinjau, sisi barat bangunan masjid ini menghadap ke danau dan dari pelataran belakang (sisi barat) masjid terdapat akses anak anak tangga batu ke danau untuk keperluan berwudhu dan lainnya. Selain itu beberapa sisi bangunan masjid juga terdapat kolam.
 
Hal ini berkaitan dengan kebiasaan pada zaman dahulu di Ranah Minang. Jika anak laki–laki sudah berusia 7 atau 10 tahun, maka akan tinggal di masjid atau surau. Selain itu masjid juga menjadi pusat aktivitas masyarakat, tempat masyarakat mandi, mencuci dan mengambil kebutuhan air bersih. 
 
Bangunan masjid yang sangat khas bernuansa Minangkabau.

Bangunan masjid tua ini sangat khas Minangkabau dengan denah persegi empat beratap limas beringkat tingkat seperti layaknya sebuah bangunan pagoda. Dua tingkat atap paling atasnya berbentuk seperti sebuah payung terkembang, sedangkan dipuncak tertinggi atapnya dihias dengan bentuk bentuk bola dari bahan metal, dan bagian paling ujungnya ditempatkan ornamen bulan sabit dan bintang.
 
Sebuah menara dengan gaya khas Minangkabau dibangun disisi timur masjid, dan pada sisi belawanan atau disisi barat bangunan dibangun bangunan khusus untuk mihrab yang juga diberi atap serupa dengan bangunan menara ini.
 
Interior Masjid Ummul Quro Maninjau.

bangunan induk masjid dibagi dua bagian yakni ruang utama yang merupakan ruang sholat dan teras masjid yang dibangun di tiga sisi ruang utama (sisi utara, selatan dan timur). Teras masjid ini dikelilingi pilar dan arkade (lengkungan) yang mendominasi bangunan utama.
 
Interior Masjid Ummul Quro
 
Didalam ruang utama masjid terdapat sembilan buah pilar yang menyangga atap dengan satu pilar yang berada di tengah–tengah ruangan. Dinding masjid ini dihiasi dengan kaligrafi surat Al Fatihah dan petikan Al Quran Surat Al Baqarah ayat 46.
 
Cagar Budaya.

Mihrab masjid ini terdiri dari tiga cerukan dibangun dari semen dengan lengkungan dibagian atasnya. Hingga saat ini Masjid Ummil Qura di Desa Bancah Maninjau masih digunakan sebagai tempat aktivitas keagaaman oleh warga setempat.
 
Cagar Budaya
 
Menurut pengurus Masjid, Masjid Ummul Quro ini merupakan masjid tertua di Maninjau dan merupakan syarat berdirinya nagari Maninjau. Setiap pengangkatan gelar adat harus melalui masjid ini. Saat ini Masjid Ummul Quro sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat.***
 
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Rujukan
 

Saturday, August 24, 2019

Masjid Jami’ Bengkulu; Kenang Kenangan dari Bung Karno

Masjid dengan arsitektur asli Indonesia, Masjid Jami' Bengkulu di renovasi dengan sentuhan Bung Karno saat beliau tinggal di Bengkulu semasa pengasingan di masa penjajahan Belanda (IG herwan_efendi)

Masjid Jami Satu ini sangat terkenal dan dikenal di Bengkulu sebagai kenang kenangan manis dari Bung Karno, karena memang rancang bangun nya saat direnovasi ditangani sendiri oleh beliau di masa pengasingannya di Bengkulu. Meskipun sebenarnya masjid ini sudah dibangun jauh sebelum kedatangan Bung Karno ke tanah Bengkulen sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun bangunan yang kini berdiri memang hasil guratan tangan Bung Karno sendiri. Awalnya masjid ini dibangun di kelurahan Kampung Bajak, Bengkulu dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu. Namun kemudian masjid tersebut dipindahkan ke lokasinya sekarang ini di Jalan Soeprapto, Kota Bengkulu.

Sejarah mencatat presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno  pernah diasingkan di Bengkulu dalam kurun waktu 1938-1942. Pada masa itu, Bung Karno masih berstatus sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia. Sebelum Bengkulu, sempat pula sang proklamator berkelana menghabiskan masa pengasingan di Bandung (1928), Sukamiskin (1930-1932), dan Flores (1934). Selama masa pengasingan di Bengkulu tersebut Bung Karno merancang ulang Masjid Jami Bengkulu dan hasilnya masjid kebanggaan warga Bengkulu ini masih dapat dinikmati hingga kini.

Masjid Jami Bengkulu
Jl. Soeprapto, Kota Bengkulu
Propinsi Bengkulu, Indonesia
Koordinat geografi : 3°47'32"S  102°15'43"E



Masjid Jami’ Bengkulu pertama kali dibangun diperkirakan pada abad ke 18M (tahun 17**) dengan bentuk yang sangat sederhana,  Awalnya masjid ini dibangun di kelurahan Kampung Bajak, Bengkulu dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu, bisa jadi masjid tersebut merupakan masjid yang dibangun oleh Sentot Ali Basya dan pengikutnya. Masjid tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang sekitar awal abad ke 19.

Pada tahun 1930 sejarah Indonesia ditandai oleh banyaknya pengasingan atau pembuangan tokoh tokoh pergerakan nasional sebagai akibat kebijakan politik gubernur jendral hindia belanda saat itu, De Jonge yang lebih reaksioner. Perkumpulan dan rapat sama sekali tidak diperbolehkan dan bagi yang melanggar hukumannya adalah pengasingan. Sebagai salah seorang tokoh pergerakan, Soekarno termasuk tokoh yang di tangkap dan di asingkan Belanda karena mengadakan rapat di Bandung sekitar tahun 1938. Inilah awalnya bersentuhannya Soekarno dengan masjid Jami Bengkulu.

Aerial view Masjid Jami' Bengkulu (IG arisulistianto23)

Selama mejalani masa pengasingan di Bengkulu, Soekarno memanfaatkan waktunya dengan mengajar di Sekolah Muhammadiyah Bengkulu. Sebagai seorang insinyur sipil, ia juga berinisiatif untuk merenvasi masjid tua yang sudah bocor dan sering becek pada musim hujan. Menurut masyarakat setempat renovasi masjid tersebut di danai secara swadaya oleh maysarakat.

Bahan material bangunan diambil dari desa Air Dingin, Rejang Lebong, Bengkulu Utara. Selama di pengasingan beliau di Bengkulu, selain merancang Masjid Jami Bengkulu, Bung Karno sempat merancang 4 rumah tinggal, tapi hanya 2 yang terbangun, yakni rumah kembar untuk refendaris residen dan rumah seorang demang.

Bangunan khas Indonesia dengan atap limas bersusun (IG eddyramlan65)

Arsitektural Masjid Jami Bengkulu

Ketika pertama kali dibangun, masjid jami ini hanya menggunakan konstruksi kayu beratap rumbia. Konstruksi bahan masjid dari material yang cepat lapuk tersebut menyebabkan masjid juga cepat mengalami pelapukan, sehingga sering bocor dan becek pada musim hujan. Bangunan masjid yang ada sekarang merupakan hasil rancangan Soekarn, dengan mengubah beberapa bagian bangunan masjid. Bangunan. Bagian yang dipertahankan adalah dinding dan lantai.

Tapi dinding tersebut ditinggikan lagi 2 meter dan lantainya 30 cm. sehingga lebih tinggi dari sebelumnya. Sedangkan bagian yang dirancang ulang oleh Soekarno adalah atap dan tang masjid. Atap masjid rancangan baru ini berbentuk tiga lapis yang melambangkan Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini juga dihiasi dengan ukiran ayat al-Qur’an dan pahatan berbentuk sulur dengan cat warna kuning emas gading.

Masjid Jami' Bengkulu sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya (IG fidhelahmed)

Bangunan masjid terdiri dari tiga bagian : ruang utama untuk sholat, serambi masjid dan tempat berwudhu. Bangunan utama berukuran 14.65x14.65m, dilengkapi dengan tiga buah pintu masuk. Di dalam bangunan utama tersebut, terdapat mihrab berukuran lebar 1.60 meter dan panjang 2.5 meter. Pada sebelah kanan mihrab, juga terdapat mimbar dengan corak istambul. Pada bagian atapnya terdapat dua buah kubah dari seng alumunium. Untuk naik ke atas mimbar, terdapat empat buah anak tangga.

Di luar bangunan utama, terdapat serambi yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 11.46 x 7.58 meter. Di serambi terdapat sebuah bedug yang berdiameter 80 cm. bangunan lainnya yang melengkapi masjid adalah tempat berwudhu yang berbentuk persegi panjang, berukuran 8.8x5.55 meter, dengan konstruksi dari batu biasa dan batu karang. Terahir sebagaimana masjid masjid lainnya di Indonesia, masjid jami ini juga dilengkapi dengan halaman yang cukup luas. Saat ini, halaman tersebut dilengkapi pagar besi dengan pilar dari batu, di halaman tersebut juga terdapat banyak pohon dan tanaman rindanga dan indah, sehingga udara di sekitar masjid terada sejuk dan segar.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi

Abdul Baqir Zein. 1999. Masjid Masjid Bersejarah di Indonesia. Jakarta. Gema Insani Press.
djarumbeasiswaplus.org - Bung Karno dan Cagar Budaya Bengkulu
ngarsitek.blogspot.com - jejak-arsitektur-soekarno-di-bengkulu
dinkeslebong.net - Bung Karno di Bengkulu

Baca Juga Masjid Di Bengkulu Lain-nya



Sunday, August 18, 2019

Masjid Agung Baitul Makmur Curup – Bengkulu

Masjid Agung Baitul Ma'mur Curup, Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu.

Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup adalah masjid agung kabupaten Rejanglebong, provinsi Bengkulu, lokasinya berada di kota kecamatan Curup, ibukota Kabupaten Rejanglebong. Merujuk kepada situs Simas Kementrian Agama, Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup ini dibangun tahun 1990, berdiri di atas lahan seluas 5000 m2 dan luas bangunan 2500m2, berlokasi di Jl. S. Sukowati, kelurahan Air Putih Lama, Kecamatan Curup, Kabupaten Rejang Lebong.

Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, Masjid Agung Baitul Ma’mur ini dulunya sempat direncanakan akan dibangun di lokasi Makodim 0409, namun saat itu terkendala dengan perizinan relokasi Makodim. Hingga akhirnya dipilih lokasi di Jl. S. Sukowati. Pembanguannya menggunakan dana APBN, APBD dan donasi dari masyarakat muslim Rejanglebong.



Di komplek masjid ini berkantor berbagai lembaga lembaga Islam di Kabupaten Rejanglebong termasuk kantor MUI dan Baznas Kabupaten Rejanglebong, Badan Kontak Majelis Ta’lim (BKMT), Sekretariat Majelis Zikir Kabupaten Rejanglebong, Islamic Center, Taman Kanak kanak hingga Madrasah Tsnawiyah.

Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup berdiri berdekatan dengan Balai Rakyat Pat Petulai (rumah dinas Bupati Rejanglebong), Politeknik Raflesia dan kantor kantor instansi pemerintahan kabupaten Rejanglebong, sedangkan Kantor Bupati Rejanglebong sendiri tidak berada di lokasi ini namun berada sekitar 750 meter di sebelah timur komplek Masjid Agung di ruas jalan yang sama. Nama balai rakyat atau pendopo kabupaten Rejanglebong ini diambil dari nama kerajaan Pat Petulai yang pernah berkuasa di daerah tersebut.

Menara Masjid Agung Baitul Ma'mur Curup, tampak tak senada dengan induk bangunan masjidnya. Sepertinya menara dan bangunan masjid ini dibangun diwaktu yang berbeda.

Aristektur Masjid Agung Al-Ma’mur Curup

Lahan komplek masjid agung ini berbentuk persegi panjang, membujur dari barat ke timur, bangunan masjidnya sendiri berada di sisi paling barat, agak menyerong sedikit ke kanan terhadap ruas jalan raya S. Sukowati untuk menyesuaikannya dengan arah kiblat. Menara tunggal nya bediri di sebelah timur bangunan masjid.

Arsitektur bangunannya sangat kental dengan gaya bangunan modern Eropa, berupa bangunan beton tinggi besar dengan jejeran pilar pilar yang juga berukuran besar di ke empat sisi bangunan-nya. Jejeran anak tangga berukuran besar di sisi utara menghadap ke jalan Raya S. Sukowati dan sisi timur menghadap ke taman masjid, menjadi akses utama dari dan ke ruang sholat yang berada di lantai dua.

Kubah besarnya begitu mendominasi, namun proporsional dengan ukuranbangunannya.

Sebuah kubah berukuran besar bewarna hijau mendominasi bagian atap bangunan utama masjid, diapit oleh empat kubah berbentuk dan berwarna senada dengan kubah utama, di ke-empat sudut atap masjid. Belakangan kubah masjid ini di ubah coraknya menggunakan bahan enamel warna warni menghadirkan pemandangan yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya.

Hampir seluruh bangunan masjid ini bewarna putih dengan sedikit sentuhan warna emas pada ornamen pilar bangunan, menonjolkan kemegahan bangunan-nya. Menara masjid yang berdiri terpisah dari bangunan masjid ini tampak tak senada dengan bangunan utamanya. Baik bentuk arsitektural maupun warnanya. Sepertinya menara ini merupakan bagian dari bangunan lama sebelum bangunan masjid di renovasi ke bentuknya saat ini.

Interior Masjid Agung Baitul Ma'mur Curup, Bengkulu.

Bagian interior masjid juga di dominasi warna putih, kecuali sisi kiblatnya yang dilapis dengan keramik berwarna lebih gelap. Empat pilar beton berdiri di ruang utama menopang struktur atap di kempat sisi lingkaran kubah. Bagian dalam kubah dihias dengan lukisan kaligrasi asmaul husna warna warni.

Sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di Kabupaten Rejanglebong, termasuk penyelenggaraan manasik haji, sholat dua hari raya, peringatan hari hari besar Islam dan acara ke-Islaman tingkat kabupaten lainnya. Sebagai tambahan informasi, selain masjid Agung Baitul Ma’mur ini, kota Curup juga memiliki dua masjid lain yang cukup besar dan megah yakni Masjid Jami’ Curup dan Masjid Al-Jihad Curup.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga



Saturday, August 17, 2019

Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan - Bengkulu

Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan Kabupaten Kaur.

Masjid Agung Al-Kahfi adalah masjid agung kabupaten Kaur yang berada di kota kecamatan Bintuhan, ibukota kabupaten Kaur, provinsi Bengkulu. Kabupaten Kaur merupakan kabupaten di Bengkulu yang letaknya paling selatan berbatasan langsung dengan provinsi Lampung disebelah selatannya dan provinsi Sumatera Selatan di sebelah timur sedangkan sisi baratnya menghadap ke Samudera Hindia.

Kabupaten Kaur dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003 pada tahun 2003 bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Seluma dan Kabupaten Mukomuko. Kaur sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Tahun 2016 yang lalu Kabupaten baru ini meresmikan Masjid Agung Kabupaten nya yang diberi nama Masjid Agung Al-Kahfi, di pusat kota Bintuhan.

Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan
Ps. Baru, Kaur Sel., Kabupaten Kaur, Bengkulu 38963



Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan diresmikan oleh Gubernur Bengkulu, Dr. H. Ridwan Mukti, S.H., M.H., bersama sama dengan Bupati Kaur, Dr. Ir. H. Hermen Malik, M.Sc pada hari Rabu 27 April 2016. Masjid ini berlokasi di Bandar Bintuhan, Kecamatan Kaur Selatan, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Dalam peresmian ini, turut hadir Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Drs. Tengku Zulkarnain.

Nama Al-Kahfi diambil dari nama ashabul Kahfi yang membuktikan kebenaran kisah-kisah di dalam Al-Quran di dalam Surah Al-Kahfi. Peresmian ini juga diramaikan sekitar 5.000 orang undangan, termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama, dan siswa/siswi SMA se derajat Kabupaten Kaur.

Masjid Agung A[-Kahfi Bintuhan berdiri megah di sisi utara Lapangan Merdeka kota Bintuhan, terpaut cukup jauh sekitar 4,8 km dari komplek kantor Bupati Kaur yang di bangun di Tanjung Dalam, di sebelah utara pusat kota Bintuhan. Lapangan Merdeka Bintuhan berada persis di sisi utara Jalan Lintas Barat Sumatera di kota Bintuhan.

Sisi timur Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan.

Cukup menarik tata kota Bintuhan ini, mengingat ruas jalan lintas barat Sumatera yang membentang di tengah kota di depan lapangan merdeka dan masjid Agung ini sejajar dengan arah kiblat, sehingga blok blok lahan dan bangunan di sebelah kiri dan kanannya secara otomatis juga segaris dengan arah kiblat. Sehingga Masjid Agung yang letaknya bersebelahan dengan lapangan Merdeka, denah bangunannya sejajar dengan lapangan Merdeka yang berada di sampingnya.

Pembangunan Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan

Masjid Agung Al-Kahfi mulai dibangun tahun 2014, dengan anggaran dana Rp. 14 milyar Rupiah diambil dari APBD Kabupaten Kaur tahun anggaran 2014 dan 2015 masing masing Rp. 7 Milyar Rupiah. Pembangunannya dikerjakan oleh kontraktor pelaksana dari CV Padang Guci Utama. Sampai dengan pertengahan tahun 2015 proses pembangunannya sudah mencapai 50% dan ditargetkan selesai pada bulan Desember 2015 termasuk pekerjaan penataan taman hingga lokasi parkir.

Tangga besar menuju ruang sholat utama.

Pembangunan masjid Agung ini sempat mendapat tantangan keras dari masyarakat sekitar lokasi, terutama dari siswa dan alumni SMPN 1 Kaur Selatan, hingga beberapa anggota DPRD. Karena pembangunan masjid Agung ini harus menggusur bangunan SMPN 1 Kaur Selatan. Namun seiring waktu akhirnya pembangunan Masjid Agung yang direncanakan awal tahun 2013 terialisasi pada pertengahan tahun 2014, sedangkan siswa SMPN 1 Kaur Selatan dipindahkan ke SMPN 3 Kaur Selatan.

Di tahun 2016 Masjid Agung Al-Kahfi dilengkapi dengan taman rekreasi menggunakan dana APBD tahun 2016. Meliputi pembuatan pagar masjid yang dikerjakan CV. Baggywa dengan nilai proyek sebesar Rp. 495.228.000,-. Dan pembuatan taman dan goa di sekitar masjid dengan nilai proyek Rp. 743.098.000,- dan dikerjakan oleh CV. Daun Muda.

Peresmian Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan, Kabupaten Kaur, Bengkulu.

Arsitektur Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan

Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan dibangun berukuran 32 x 32 meter terdiri dari tiga lantai, dilengkapi dengan lahan parkir yang dulunya adalah ruas jalan di depan lahan masjid ini yang kemudian dimasukkan ke dalam komplek masjid. Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan dibangun dalam sentuhan bangunan masjid modern dengan tetap menggunakan arsitektur khas Indonesia berupa atap limas bersusun tiga, bukan kubah besar seperti kebanyakan masjid masa kini. Atap limas yang senada juga digunakan pada ke-empat sudut bangunan masjid.

Sebuah tangga besar dibangun di sisi timur masjid lengkap dengan beranda. Tangga besar ini merupakan akses langsung ke lantai dua tempat ruang sholat utama berada. Ruang sholat masjid ini memang berada dilantai dua dan lantai tiga. Sedangkan lantai dasar masjid digunakan untuk area utility dan penunjang aktivitas masjid. Menara masjid ini dibangun cukup jauh dari bangunan utama yakni berada di sisi timur laut lapangan merdeka.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, August 11, 2019

Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko

Masih gress. Masjid Agung Kabupaten Mukomuko di provinsi Bengkulu ini terbilang masih gres, masih baru dan baru diresmikan di awal tahun 2019.

Masjid Agung Baitul Huda adalah masjid agung Kabupaten Mukomuko, provinsi Bengkulu. Lokasinya berada di sebelah barat daya kantor Bupati Mukomuko di kelurahan Bandar Ratu, kecamatan Kota Mukomuko, kabupaten Mukomuko. Pembangunan masjid agung ini menyusul dibangunnya komplek perkantoran pemerintahan kabupaten Mukomuko di Bandar Ratu seiring dengan terbentuknya kabupaten Mukomuko sebagai daerah otonomi baru hasil pemekaran dari kabupaten Bengkulu Utara.

Kabupaten Mukomuko dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003 yang menetapkan pembentukan kabupaten Mukomuko terpisah dari kabupaten Bengkulu Utara. Pembentukan kabupaten ini bersamaan dengan terbentuknya kabupaten Seluma dan Kabupaten Kaur terpisah dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Kabupaten Mukomuko merupakan wilayah kabupaten paling utara di provinsi Bengkulu berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat. Sisi barat kabupaten ini menghadap langsung ke Samudera Hindia.

Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko
Bandar Ratu, Kota Mukomuko
Kabupaten Mukomuko, Bengkulu 38714


Kota Mukomuko sebagai ibukota kabupaten Mukomuko sejatinya merupakan kota pesisir pantai Samudera Hindia, Masjid Agung dan komplek perkantoran Pemkab Mukomuko pun dalam radius 1,5km dari bibir pantai kota mukomuko, demikian juga dengan Bandara Mukomuko yang juga dalam radius yang sama. Uniknya, secara geografis, seluruh kota Mukomuko ini termasuk kawasan bandaranya terhalang oleh aliran sungai yang cukup besar terhadap garis pantainya, mengingat aliran sungai tersebut sejajar dengan garis pantai.

Kabupaten Mukomuko merupakan salah satu daerah tujuan transmigrasi sejak tahun 1967 dimasa pemerintahan presiden Soeharto, program transmigrasi ke Mukomuko terahir dilaksanakan tahun 2004. Program tersebut turut memacu perkembangan Mukomuko, meski kini secara demografis rasio penduduk asli Mukomuko justru sudah kalah jumlah dengan penduduk pendatang dari pulau Jawa.

Aerial view Masjid Agung Mukomuko

Pembangunan Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko

Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko dibangun diatas lahan bekas kebun kelapa sawit, dari citra google map (diakses 6 Agustus 2019) masih terlihat jelas jejeran pohon kelapa sawit dilahan Masjid Agung yang masih belum dibangun. Begitupun dengan citra google streetview yang diambil bulan September 2015 menunjukkan lahan di sisi tenggara ruas jalan Imam Bonjol tersebut masih berupa lahan kebun kelapa sawit yang begitu subur.

Masjid Agung Baitul Huda mulai dibangun pada 7 Mei 2018 dan direncanakan selesai pada tanggal 31 Desember 2018. Proyek pembangunan masjid ini dilaksanakan oleh PT. Bakti Muda Mandiri, sebagai penyedia barang dan jasa pemerintah. Peresmian masjid ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 19 Februari 2019 oleh bupati Muko Muko, Choirul Huda, bertepatan dengan hari jadi kabupaten Mukomuko ke 16.

Interior Masjid Agung Mukomuko.

Peresmian Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Bupati Mukomuko didampingi oleh Wabup, Pimpinan DPRD Kabupaten Mukomuko, Sekda dan unsur pimpinan FKPD, serta tamu kehormatan Ustadz Drs. H. Wijayanto, S.sos., M.A. Selain meresmikan bangunan Mesjid Agung, Pemkab Mukomuko juga mengumumkan nama Masjid Agung Mukomuko dengan nama Masjid Agung Baitul Huda. Acara peresmian tersebut dilanjutkan dengan acara tabligh akbar oleh Ustadz Wijayanto.

Aktivitas Masjid Agung Baitul Huda

Untuk memakmurkan masjid kebanggaan masyarakat kabupaten Mukomuko, Pemkab Mukomuko memberlakukan shalat Zuhur berjamaah bagi Pegawai di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Mukomuko setiap hari kerja. Di masjid ini juga diselenggarakan pengajian rutin setiap malam jum’at yang diikuti oleh pagawai di lingkungan pemkab Mukomuko dan masyarakat umum, terutama masyarakat yang tinggal disekitar masjid.

Kompilasi ekterior Masjid Agung Mukomuko.

Masjid Agung ini juga menjadi pusat kegiatan ke-Islaman di kabupaten Mukomuko termasuk pelaksanaan peringatan hari besar Islam, manasik haji dan lain sebagainya. Pengelolaan masjid ini masih dibawah kendali kantor kementrian Agama Kabupaten Mukomuko. Masjid Agung juga disiapkan untuk pelaksanaan kegiatan MTQ Tingkat Provinsi Bengkulu Ke-XXXIV tahun 2019 dilaksanakan 7 hingga 12 Oktober 2019. Pemkab setempat saat ini sedang mempercepat pembangunan landscaping kawasan disekitar masjid untuk menyambut acara tingkat provinsi Bengkulu tersebut.

Arsitektur Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko

Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko dibangun dalam rancangan masjid modern dengan denah dasar segi empat simetris, dilengkapi dengan beranda di masing masing tiga sisi bangunan kecuali sisi kiblat yang dibangun ruang mihrab. Masing masing sisi dilengkapi dengan delapan pilar yang dihubungkan dengan lengkungan bercorak Andalusia. Atap masjid seluruhnya menggunakan atap cor dan dibagian tengah atapnya ditempatkan satu kubah besar.

Tampak depan Masjid Agung Mukomuko.

Eksterior masjid menggunakan warna dasar abu abu dipadu dengan warna coklat muda dan putih. Kubah besarnya bewarna kuning emas dengan sedikit akses bewarna hijau tua. Di puncak kubah masjid dihias dengan lafazd Allah. Masjid ini juga dilengkapi dengan empat menara bewarna putih dibangun di kempat penjuru atap masjid. Di puncak masing masing menara ditempatkan kubah dengan warna yang senada dengan kubah utama masjid.

Ruang sholat nya diperkirakan mampu menampung hingga seribu Jemaah. Interior masjid ini dihias dengan ornamen berbahan gypsum. Mayoritas ruang dalam menggunakan warna putih dengan paduan warna abu abu pada pilar pilarnya. Area mihrab dihias dengan gypsum bewarna coklat. Sedangkan bagian dalam kubah dihias dengan ornamen lukis bermotif floral senada dengan satu lampu gantung bewarna ke-emasan.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
  
Referensi


Baca Juga


Sunday, July 28, 2019

Masjid Agung Nurul Islam Kota Sawahlunto

dibangun dari bekas pembangkit listrik tenaga uap, Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan

Masjid Agung Nurul Islam adalah masjid agung di kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Ditilik dari usia bangunannya masjid ini adalah salah satu masjid tertua di Indonesia, lokasinya berada di Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, provinsi Sumatra Barat. Lokasinya berjarak sekitar 150 meter dari Museum Kereta Api Sawahlunto.

Bangunan masjid ini pertamakali dibangun pada masa penjajahan Belanda ditahun 1894 sebagai gedung pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dan berubah fungsi menjadi masjid sejak tahun 1952. Menaranya yang setinggi 85 meter itu dulunya adalah cerobong asapnya kemudian dijadikan sebagai menara dengan tambahan kubah setinggi 10 meter.

Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto
Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar
Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, Indonesia



Kota Sawahlunto di Sumatera Barat dikenal sebagai kota wisata. Kota tua yang mulai didirikan pada tanggal 1 Desember 1888, seiring dengan ditemukannya tambang batubara di daerah itu di masa penjajahan Belanda. Explorasi batubara mulai dilakukan oleh Belanda pada tahun 1892. Kota ini berkembang menjadi pusat pertambangan. Infrastuktur kota dibangun sejak masa itu termasuk fasilitas pembangkit tenaga listrik, jalur kereta api, pemukiman dan sebagainya.

Perkembangan kota ini sempat seakan mati manakala penambangan batubara dihentikan. Kini kota tua Sawahlunto dikenal luas sebagai kota wisata, salah satu yang terbaik di Indonesia. Peninggalan masa lalu termasuk lorong lorong panjang tambang tambang bawah tanah seakan berkisah dalam sepi tentang perihnya penderitaan para pekerja paksa yang diperah tenaganya oleh penguasa Belanda untuk mengorek batubara dari perut bumi Sawahlunto.

DULU & KINI. Foto sebelah kiri adalah bangunan asli Masjid Agung Sawahlunto dimasa penjajahan Belanda berupa gedung pembangkit listrik tenaga Uap. Perhatikan cerobong asapnya yang kini berubah menjadi menara masjid pada foto sebelah kanan.

Masjid di Bekas PLTU

Pertumbuhan infrastruktur di Kota Sawahlunto yang dipicu oleh aktivitas pertambangan batu bara mengalami perkembangan pesat pada akhir abad ke-19. Eksploitasi batu bara mendorong masuknya transformasi teknologi uap ke Sawahlunto.

Sejalan dengan itu, untuk dapat menggerakkan berbagai mesin listrik pemerintah Hindia Belanda membangun pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dengan memanfaatkan aliran Batang Lunto di Kubang Sirakuak pada tahun 1894. PLTU ini menjadi PLTU pertama di Sawahlunto.

Cerobong asap yang sama, di foto kiri jelas terlihat cerobong asap PLTU dengan asap nya yang membubung, Dan di foto sebelah kanan cerobong tersebut difungsikan menjadi menara masjid. 
PLTU Mudik Air merupakan tempat penggerak utama peralatan dan mesin – mesin pertambangan, sumber penerangan kota, gedung, kantor serta rumah – rumah warga Sawahlunto. Namun mengingat debit air sungai yang berada di pinggir PLTU tersebut kian berkurang, pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun PLTU pengganti di Salak, Talawi pada tahun 1924 yang memanfaatkan aliran Batang Ombilin.

Bangunan PLTU di Kubang Sirakuak yang sudah tidak berfungsi lagi sempat dijadikan sebagai tempat perlindungan dan perakitan senjata oleh para pejuang kemerdekaan di Sawahlunto Pada masa Agresi Belanda I dan II, Pada saat mengalami peralihan fungsi banyak ditemukan sisa – sisa amunisi pada banker tersebut dan kini amunisi tersebut disimpan sebagai koleksi Museum Goedang Ransoem Sawahlunto.

Ekterior dan Interior Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto. 
Bangunan bekas PLTU itu pernah juga sebagai rumah hunian pekerja tambang batu bara Ombilin, sampai akhirnya berubah menjadi masjid sejak tahun 1952 dengan nama Masjid Agung Nurul Islam. Bekas cerobong asapnya yang kini sudah berubah menjadi menara tampak indah dimalam hari dengan cahaya cahaya lampu yang dipasang disana.

Bangunan utama masjid ini berukuran 60 × 60 meter dan memiliki lima kubah terdiri dari satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah dengan ukuran yang lebih kecil. Di bawah bangunan masjid terdapat lubang perlindungan yang sempat dipakai untuk tempat merakit senjata, granat tangan, dan mortir. Saat ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid berlantai dua ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat sekitar.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga