Showing posts with label masjid di bengkulu. Show all posts
Showing posts with label masjid di bengkulu. Show all posts

Saturday, August 24, 2019

Masjid Jami’ Bengkulu; Kenang Kenangan dari Bung Karno

Masjid dengan arsitektur asli Indonesia, Masjid Jami' Bengkulu di renovasi dengan sentuhan Bung Karno saat beliau tinggal di Bengkulu semasa pengasingan di masa penjajahan Belanda (IG herwan_efendi)

Masjid Jami Satu ini sangat terkenal dan dikenal di Bengkulu sebagai kenang kenangan manis dari Bung Karno, karena memang rancang bangun nya saat direnovasi ditangani sendiri oleh beliau di masa pengasingannya di Bengkulu. Meskipun sebenarnya masjid ini sudah dibangun jauh sebelum kedatangan Bung Karno ke tanah Bengkulen sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun bangunan yang kini berdiri memang hasil guratan tangan Bung Karno sendiri. Awalnya masjid ini dibangun di kelurahan Kampung Bajak, Bengkulu dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu. Namun kemudian masjid tersebut dipindahkan ke lokasinya sekarang ini di Jalan Soeprapto, Kota Bengkulu.

Sejarah mencatat presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno  pernah diasingkan di Bengkulu dalam kurun waktu 1938-1942. Pada masa itu, Bung Karno masih berstatus sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia. Sebelum Bengkulu, sempat pula sang proklamator berkelana menghabiskan masa pengasingan di Bandung (1928), Sukamiskin (1930-1932), dan Flores (1934). Selama masa pengasingan di Bengkulu tersebut Bung Karno merancang ulang Masjid Jami Bengkulu dan hasilnya masjid kebanggaan warga Bengkulu ini masih dapat dinikmati hingga kini.

Masjid Jami Bengkulu
Jl. Soeprapto, Kota Bengkulu
Propinsi Bengkulu, Indonesia
Koordinat geografi : 3°47'32"S  102°15'43"E



Masjid Jami’ Bengkulu pertama kali dibangun diperkirakan pada abad ke 18M (tahun 17**) dengan bentuk yang sangat sederhana,  Awalnya masjid ini dibangun di kelurahan Kampung Bajak, Bengkulu dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu, bisa jadi masjid tersebut merupakan masjid yang dibangun oleh Sentot Ali Basya dan pengikutnya. Masjid tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang sekitar awal abad ke 19.

Pada tahun 1930 sejarah Indonesia ditandai oleh banyaknya pengasingan atau pembuangan tokoh tokoh pergerakan nasional sebagai akibat kebijakan politik gubernur jendral hindia belanda saat itu, De Jonge yang lebih reaksioner. Perkumpulan dan rapat sama sekali tidak diperbolehkan dan bagi yang melanggar hukumannya adalah pengasingan. Sebagai salah seorang tokoh pergerakan, Soekarno termasuk tokoh yang di tangkap dan di asingkan Belanda karena mengadakan rapat di Bandung sekitar tahun 1938. Inilah awalnya bersentuhannya Soekarno dengan masjid Jami Bengkulu.

Aerial view Masjid Jami' Bengkulu (IG arisulistianto23)

Selama mejalani masa pengasingan di Bengkulu, Soekarno memanfaatkan waktunya dengan mengajar di Sekolah Muhammadiyah Bengkulu. Sebagai seorang insinyur sipil, ia juga berinisiatif untuk merenvasi masjid tua yang sudah bocor dan sering becek pada musim hujan. Menurut masyarakat setempat renovasi masjid tersebut di danai secara swadaya oleh maysarakat.

Bahan material bangunan diambil dari desa Air Dingin, Rejang Lebong, Bengkulu Utara. Selama di pengasingan beliau di Bengkulu, selain merancang Masjid Jami Bengkulu, Bung Karno sempat merancang 4 rumah tinggal, tapi hanya 2 yang terbangun, yakni rumah kembar untuk refendaris residen dan rumah seorang demang.

Bangunan khas Indonesia dengan atap limas bersusun (IG eddyramlan65)

Arsitektural Masjid Jami Bengkulu

Ketika pertama kali dibangun, masjid jami ini hanya menggunakan konstruksi kayu beratap rumbia. Konstruksi bahan masjid dari material yang cepat lapuk tersebut menyebabkan masjid juga cepat mengalami pelapukan, sehingga sering bocor dan becek pada musim hujan. Bangunan masjid yang ada sekarang merupakan hasil rancangan Soekarn, dengan mengubah beberapa bagian bangunan masjid. Bangunan. Bagian yang dipertahankan adalah dinding dan lantai.

Tapi dinding tersebut ditinggikan lagi 2 meter dan lantainya 30 cm. sehingga lebih tinggi dari sebelumnya. Sedangkan bagian yang dirancang ulang oleh Soekarno adalah atap dan tang masjid. Atap masjid rancangan baru ini berbentuk tiga lapis yang melambangkan Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini juga dihiasi dengan ukiran ayat al-Qur’an dan pahatan berbentuk sulur dengan cat warna kuning emas gading.

Masjid Jami' Bengkulu sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya (IG fidhelahmed)

Bangunan masjid terdiri dari tiga bagian : ruang utama untuk sholat, serambi masjid dan tempat berwudhu. Bangunan utama berukuran 14.65x14.65m, dilengkapi dengan tiga buah pintu masuk. Di dalam bangunan utama tersebut, terdapat mihrab berukuran lebar 1.60 meter dan panjang 2.5 meter. Pada sebelah kanan mihrab, juga terdapat mimbar dengan corak istambul. Pada bagian atapnya terdapat dua buah kubah dari seng alumunium. Untuk naik ke atas mimbar, terdapat empat buah anak tangga.

Di luar bangunan utama, terdapat serambi yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 11.46 x 7.58 meter. Di serambi terdapat sebuah bedug yang berdiameter 80 cm. bangunan lainnya yang melengkapi masjid adalah tempat berwudhu yang berbentuk persegi panjang, berukuran 8.8x5.55 meter, dengan konstruksi dari batu biasa dan batu karang. Terahir sebagaimana masjid masjid lainnya di Indonesia, masjid jami ini juga dilengkapi dengan halaman yang cukup luas. Saat ini, halaman tersebut dilengkapi pagar besi dengan pilar dari batu, di halaman tersebut juga terdapat banyak pohon dan tanaman rindanga dan indah, sehingga udara di sekitar masjid terada sejuk dan segar.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi

Abdul Baqir Zein. 1999. Masjid Masjid Bersejarah di Indonesia. Jakarta. Gema Insani Press.
djarumbeasiswaplus.org - Bung Karno dan Cagar Budaya Bengkulu
ngarsitek.blogspot.com - jejak-arsitektur-soekarno-di-bengkulu
dinkeslebong.net - Bung Karno di Bengkulu

Baca Juga Masjid Di Bengkulu Lain-nya



Sunday, August 18, 2019

Masjid Agung Baitul Makmur Curup – Bengkulu

Masjid Agung Baitul Ma'mur Curup, Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu.

Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup adalah masjid agung kabupaten Rejanglebong, provinsi Bengkulu, lokasinya berada di kota kecamatan Curup, ibukota Kabupaten Rejanglebong. Merujuk kepada situs Simas Kementrian Agama, Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup ini dibangun tahun 1990, berdiri di atas lahan seluas 5000 m2 dan luas bangunan 2500m2, berlokasi di Jl. S. Sukowati, kelurahan Air Putih Lama, Kecamatan Curup, Kabupaten Rejang Lebong.

Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, Masjid Agung Baitul Ma’mur ini dulunya sempat direncanakan akan dibangun di lokasi Makodim 0409, namun saat itu terkendala dengan perizinan relokasi Makodim. Hingga akhirnya dipilih lokasi di Jl. S. Sukowati. Pembanguannya menggunakan dana APBN, APBD dan donasi dari masyarakat muslim Rejanglebong.



Di komplek masjid ini berkantor berbagai lembaga lembaga Islam di Kabupaten Rejanglebong termasuk kantor MUI dan Baznas Kabupaten Rejanglebong, Badan Kontak Majelis Ta’lim (BKMT), Sekretariat Majelis Zikir Kabupaten Rejanglebong, Islamic Center, Taman Kanak kanak hingga Madrasah Tsnawiyah.

Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup berdiri berdekatan dengan Balai Rakyat Pat Petulai (rumah dinas Bupati Rejanglebong), Politeknik Raflesia dan kantor kantor instansi pemerintahan kabupaten Rejanglebong, sedangkan Kantor Bupati Rejanglebong sendiri tidak berada di lokasi ini namun berada sekitar 750 meter di sebelah timur komplek Masjid Agung di ruas jalan yang sama. Nama balai rakyat atau pendopo kabupaten Rejanglebong ini diambil dari nama kerajaan Pat Petulai yang pernah berkuasa di daerah tersebut.

Menara Masjid Agung Baitul Ma'mur Curup, tampak tak senada dengan induk bangunan masjidnya. Sepertinya menara dan bangunan masjid ini dibangun diwaktu yang berbeda.

Aristektur Masjid Agung Al-Ma’mur Curup

Lahan komplek masjid agung ini berbentuk persegi panjang, membujur dari barat ke timur, bangunan masjidnya sendiri berada di sisi paling barat, agak menyerong sedikit ke kanan terhadap ruas jalan raya S. Sukowati untuk menyesuaikannya dengan arah kiblat. Menara tunggal nya bediri di sebelah timur bangunan masjid.

Arsitektur bangunannya sangat kental dengan gaya bangunan modern Eropa, berupa bangunan beton tinggi besar dengan jejeran pilar pilar yang juga berukuran besar di ke empat sisi bangunan-nya. Jejeran anak tangga berukuran besar di sisi utara menghadap ke jalan Raya S. Sukowati dan sisi timur menghadap ke taman masjid, menjadi akses utama dari dan ke ruang sholat yang berada di lantai dua.

Kubah besarnya begitu mendominasi, namun proporsional dengan ukuranbangunannya.

Sebuah kubah berukuran besar bewarna hijau mendominasi bagian atap bangunan utama masjid, diapit oleh empat kubah berbentuk dan berwarna senada dengan kubah utama, di ke-empat sudut atap masjid. Belakangan kubah masjid ini di ubah coraknya menggunakan bahan enamel warna warni menghadirkan pemandangan yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya.

Hampir seluruh bangunan masjid ini bewarna putih dengan sedikit sentuhan warna emas pada ornamen pilar bangunan, menonjolkan kemegahan bangunan-nya. Menara masjid yang berdiri terpisah dari bangunan masjid ini tampak tak senada dengan bangunan utamanya. Baik bentuk arsitektural maupun warnanya. Sepertinya menara ini merupakan bagian dari bangunan lama sebelum bangunan masjid di renovasi ke bentuknya saat ini.

Interior Masjid Agung Baitul Ma'mur Curup, Bengkulu.

Bagian interior masjid juga di dominasi warna putih, kecuali sisi kiblatnya yang dilapis dengan keramik berwarna lebih gelap. Empat pilar beton berdiri di ruang utama menopang struktur atap di kempat sisi lingkaran kubah. Bagian dalam kubah dihias dengan lukisan kaligrasi asmaul husna warna warni.

Sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di Kabupaten Rejanglebong, termasuk penyelenggaraan manasik haji, sholat dua hari raya, peringatan hari hari besar Islam dan acara ke-Islaman tingkat kabupaten lainnya. Sebagai tambahan informasi, selain masjid Agung Baitul Ma’mur ini, kota Curup juga memiliki dua masjid lain yang cukup besar dan megah yakni Masjid Jami’ Curup dan Masjid Al-Jihad Curup.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga



Saturday, August 17, 2019

Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan - Bengkulu

Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan Kabupaten Kaur.

Masjid Agung Al-Kahfi adalah masjid agung kabupaten Kaur yang berada di kota kecamatan Bintuhan, ibukota kabupaten Kaur, provinsi Bengkulu. Kabupaten Kaur merupakan kabupaten di Bengkulu yang letaknya paling selatan berbatasan langsung dengan provinsi Lampung disebelah selatannya dan provinsi Sumatera Selatan di sebelah timur sedangkan sisi baratnya menghadap ke Samudera Hindia.

Kabupaten Kaur dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003 pada tahun 2003 bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Seluma dan Kabupaten Mukomuko. Kaur sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Tahun 2016 yang lalu Kabupaten baru ini meresmikan Masjid Agung Kabupaten nya yang diberi nama Masjid Agung Al-Kahfi, di pusat kota Bintuhan.

Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan
Ps. Baru, Kaur Sel., Kabupaten Kaur, Bengkulu 38963



Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan diresmikan oleh Gubernur Bengkulu, Dr. H. Ridwan Mukti, S.H., M.H., bersama sama dengan Bupati Kaur, Dr. Ir. H. Hermen Malik, M.Sc pada hari Rabu 27 April 2016. Masjid ini berlokasi di Bandar Bintuhan, Kecamatan Kaur Selatan, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Dalam peresmian ini, turut hadir Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH. Drs. Tengku Zulkarnain.

Nama Al-Kahfi diambil dari nama ashabul Kahfi yang membuktikan kebenaran kisah-kisah di dalam Al-Quran di dalam Surah Al-Kahfi. Peresmian ini juga diramaikan sekitar 5.000 orang undangan, termasuk tokoh masyarakat, tokoh agama, dan siswa/siswi SMA se derajat Kabupaten Kaur.

Masjid Agung A[-Kahfi Bintuhan berdiri megah di sisi utara Lapangan Merdeka kota Bintuhan, terpaut cukup jauh sekitar 4,8 km dari komplek kantor Bupati Kaur yang di bangun di Tanjung Dalam, di sebelah utara pusat kota Bintuhan. Lapangan Merdeka Bintuhan berada persis di sisi utara Jalan Lintas Barat Sumatera di kota Bintuhan.

Sisi timur Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan.

Cukup menarik tata kota Bintuhan ini, mengingat ruas jalan lintas barat Sumatera yang membentang di tengah kota di depan lapangan merdeka dan masjid Agung ini sejajar dengan arah kiblat, sehingga blok blok lahan dan bangunan di sebelah kiri dan kanannya secara otomatis juga segaris dengan arah kiblat. Sehingga Masjid Agung yang letaknya bersebelahan dengan lapangan Merdeka, denah bangunannya sejajar dengan lapangan Merdeka yang berada di sampingnya.

Pembangunan Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan

Masjid Agung Al-Kahfi mulai dibangun tahun 2014, dengan anggaran dana Rp. 14 milyar Rupiah diambil dari APBD Kabupaten Kaur tahun anggaran 2014 dan 2015 masing masing Rp. 7 Milyar Rupiah. Pembangunannya dikerjakan oleh kontraktor pelaksana dari CV Padang Guci Utama. Sampai dengan pertengahan tahun 2015 proses pembangunannya sudah mencapai 50% dan ditargetkan selesai pada bulan Desember 2015 termasuk pekerjaan penataan taman hingga lokasi parkir.

Tangga besar menuju ruang sholat utama.

Pembangunan masjid Agung ini sempat mendapat tantangan keras dari masyarakat sekitar lokasi, terutama dari siswa dan alumni SMPN 1 Kaur Selatan, hingga beberapa anggota DPRD. Karena pembangunan masjid Agung ini harus menggusur bangunan SMPN 1 Kaur Selatan. Namun seiring waktu akhirnya pembangunan Masjid Agung yang direncanakan awal tahun 2013 terialisasi pada pertengahan tahun 2014, sedangkan siswa SMPN 1 Kaur Selatan dipindahkan ke SMPN 3 Kaur Selatan.

Di tahun 2016 Masjid Agung Al-Kahfi dilengkapi dengan taman rekreasi menggunakan dana APBD tahun 2016. Meliputi pembuatan pagar masjid yang dikerjakan CV. Baggywa dengan nilai proyek sebesar Rp. 495.228.000,-. Dan pembuatan taman dan goa di sekitar masjid dengan nilai proyek Rp. 743.098.000,- dan dikerjakan oleh CV. Daun Muda.

Peresmian Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan, Kabupaten Kaur, Bengkulu.

Arsitektur Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan

Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan dibangun berukuran 32 x 32 meter terdiri dari tiga lantai, dilengkapi dengan lahan parkir yang dulunya adalah ruas jalan di depan lahan masjid ini yang kemudian dimasukkan ke dalam komplek masjid. Masjid Agung Al-Kahfi Bintuhan dibangun dalam sentuhan bangunan masjid modern dengan tetap menggunakan arsitektur khas Indonesia berupa atap limas bersusun tiga, bukan kubah besar seperti kebanyakan masjid masa kini. Atap limas yang senada juga digunakan pada ke-empat sudut bangunan masjid.

Sebuah tangga besar dibangun di sisi timur masjid lengkap dengan beranda. Tangga besar ini merupakan akses langsung ke lantai dua tempat ruang sholat utama berada. Ruang sholat masjid ini memang berada dilantai dua dan lantai tiga. Sedangkan lantai dasar masjid digunakan untuk area utility dan penunjang aktivitas masjid. Menara masjid ini dibangun cukup jauh dari bangunan utama yakni berada di sisi timur laut lapangan merdeka.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, August 11, 2019

Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko

Masih gress. Masjid Agung Kabupaten Mukomuko di provinsi Bengkulu ini terbilang masih gres, masih baru dan baru diresmikan di awal tahun 2019.

Masjid Agung Baitul Huda adalah masjid agung Kabupaten Mukomuko, provinsi Bengkulu. Lokasinya berada di sebelah barat daya kantor Bupati Mukomuko di kelurahan Bandar Ratu, kecamatan Kota Mukomuko, kabupaten Mukomuko. Pembangunan masjid agung ini menyusul dibangunnya komplek perkantoran pemerintahan kabupaten Mukomuko di Bandar Ratu seiring dengan terbentuknya kabupaten Mukomuko sebagai daerah otonomi baru hasil pemekaran dari kabupaten Bengkulu Utara.

Kabupaten Mukomuko dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003 yang menetapkan pembentukan kabupaten Mukomuko terpisah dari kabupaten Bengkulu Utara. Pembentukan kabupaten ini bersamaan dengan terbentuknya kabupaten Seluma dan Kabupaten Kaur terpisah dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Kabupaten Mukomuko merupakan wilayah kabupaten paling utara di provinsi Bengkulu berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat. Sisi barat kabupaten ini menghadap langsung ke Samudera Hindia.

Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko
Bandar Ratu, Kota Mukomuko
Kabupaten Mukomuko, Bengkulu 38714


Kota Mukomuko sebagai ibukota kabupaten Mukomuko sejatinya merupakan kota pesisir pantai Samudera Hindia, Masjid Agung dan komplek perkantoran Pemkab Mukomuko pun dalam radius 1,5km dari bibir pantai kota mukomuko, demikian juga dengan Bandara Mukomuko yang juga dalam radius yang sama. Uniknya, secara geografis, seluruh kota Mukomuko ini termasuk kawasan bandaranya terhalang oleh aliran sungai yang cukup besar terhadap garis pantainya, mengingat aliran sungai tersebut sejajar dengan garis pantai.

Kabupaten Mukomuko merupakan salah satu daerah tujuan transmigrasi sejak tahun 1967 dimasa pemerintahan presiden Soeharto, program transmigrasi ke Mukomuko terahir dilaksanakan tahun 2004. Program tersebut turut memacu perkembangan Mukomuko, meski kini secara demografis rasio penduduk asli Mukomuko justru sudah kalah jumlah dengan penduduk pendatang dari pulau Jawa.

Aerial view Masjid Agung Mukomuko

Pembangunan Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko

Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko dibangun diatas lahan bekas kebun kelapa sawit, dari citra google map (diakses 6 Agustus 2019) masih terlihat jelas jejeran pohon kelapa sawit dilahan Masjid Agung yang masih belum dibangun. Begitupun dengan citra google streetview yang diambil bulan September 2015 menunjukkan lahan di sisi tenggara ruas jalan Imam Bonjol tersebut masih berupa lahan kebun kelapa sawit yang begitu subur.

Masjid Agung Baitul Huda mulai dibangun pada 7 Mei 2018 dan direncanakan selesai pada tanggal 31 Desember 2018. Proyek pembangunan masjid ini dilaksanakan oleh PT. Bakti Muda Mandiri, sebagai penyedia barang dan jasa pemerintah. Peresmian masjid ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 19 Februari 2019 oleh bupati Muko Muko, Choirul Huda, bertepatan dengan hari jadi kabupaten Mukomuko ke 16.

Interior Masjid Agung Mukomuko.

Peresmian Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Bupati Mukomuko didampingi oleh Wabup, Pimpinan DPRD Kabupaten Mukomuko, Sekda dan unsur pimpinan FKPD, serta tamu kehormatan Ustadz Drs. H. Wijayanto, S.sos., M.A. Selain meresmikan bangunan Mesjid Agung, Pemkab Mukomuko juga mengumumkan nama Masjid Agung Mukomuko dengan nama Masjid Agung Baitul Huda. Acara peresmian tersebut dilanjutkan dengan acara tabligh akbar oleh Ustadz Wijayanto.

Aktivitas Masjid Agung Baitul Huda

Untuk memakmurkan masjid kebanggaan masyarakat kabupaten Mukomuko, Pemkab Mukomuko memberlakukan shalat Zuhur berjamaah bagi Pegawai di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Mukomuko setiap hari kerja. Di masjid ini juga diselenggarakan pengajian rutin setiap malam jum’at yang diikuti oleh pagawai di lingkungan pemkab Mukomuko dan masyarakat umum, terutama masyarakat yang tinggal disekitar masjid.

Kompilasi ekterior Masjid Agung Mukomuko.

Masjid Agung ini juga menjadi pusat kegiatan ke-Islaman di kabupaten Mukomuko termasuk pelaksanaan peringatan hari besar Islam, manasik haji dan lain sebagainya. Pengelolaan masjid ini masih dibawah kendali kantor kementrian Agama Kabupaten Mukomuko. Masjid Agung juga disiapkan untuk pelaksanaan kegiatan MTQ Tingkat Provinsi Bengkulu Ke-XXXIV tahun 2019 dilaksanakan 7 hingga 12 Oktober 2019. Pemkab setempat saat ini sedang mempercepat pembangunan landscaping kawasan disekitar masjid untuk menyambut acara tingkat provinsi Bengkulu tersebut.

Arsitektur Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko

Masjid Agung Baitul Huda Mukomuko dibangun dalam rancangan masjid modern dengan denah dasar segi empat simetris, dilengkapi dengan beranda di masing masing tiga sisi bangunan kecuali sisi kiblat yang dibangun ruang mihrab. Masing masing sisi dilengkapi dengan delapan pilar yang dihubungkan dengan lengkungan bercorak Andalusia. Atap masjid seluruhnya menggunakan atap cor dan dibagian tengah atapnya ditempatkan satu kubah besar.

Tampak depan Masjid Agung Mukomuko.

Eksterior masjid menggunakan warna dasar abu abu dipadu dengan warna coklat muda dan putih. Kubah besarnya bewarna kuning emas dengan sedikit akses bewarna hijau tua. Di puncak kubah masjid dihias dengan lafazd Allah. Masjid ini juga dilengkapi dengan empat menara bewarna putih dibangun di kempat penjuru atap masjid. Di puncak masing masing menara ditempatkan kubah dengan warna yang senada dengan kubah utama masjid.

Ruang sholat nya diperkirakan mampu menampung hingga seribu Jemaah. Interior masjid ini dihias dengan ornamen berbahan gypsum. Mayoritas ruang dalam menggunakan warna putih dengan paduan warna abu abu pada pilar pilarnya. Area mihrab dihias dengan gypsum bewarna coklat. Sedangkan bagian dalam kubah dihias dengan ornamen lukis bermotif floral senada dengan satu lampu gantung bewarna ke-emasan.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
  
Referensi


Baca Juga


Sunday, March 31, 2019

Masjid Agung Sultan Abdullah, Lebong


Masjid Agung Sultan Abdullah, kabupaten Lebong ini dikenal sebagai masjid termegah di provinsi Bengkulu.

Masjid Agung Sultan Abdullah merupakan masjid Agung di Kabupaten Lebong, Provinsi bengkulu. Sebagai masjid Agung, masjid ini merupakan bangunan masjid terbesar dan terindah di kabupaten tersebut, dan disebut sebut sebagai masjid terindah di Provinsi Bengkulu. Dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Lebong sejak tahun 2009 dengan pendanaan dari APBD kabupaten Lebong secara bertahap hingga tahu 2015.

Kabupaten Lebong beribukota di Muara Aman, merupakan salah satu kabupaten di provinsi Bengkulu, dibentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Rejang Lebong berdasarkan UU No. 39 Tahun 2003 dan diresmikan pada tanggal 7 Januari 2004, yang dijadikan sebagai hari jadi kabupaten Lebong.

Masjid Agung Sultan Abdullah
jalan lintas Lebong-Bengkulu Utara, Desa Tj. Agung
Kecamatan Pelabai, Kabupaten Lebong
Provinsi Bengkulu - Indonesia


Nama masjid ini diberikan oleh Bupati Lebong H. Rosjonsyah Syahili. Sultan Abdullah adalah nama lain dari Ki Karang Nio, yang merupakan salah satu raja yang pernah berkuasa di Tanah Rejang jaman dahulu. Lokasi masjid ini berdiri bersebelahan dengan kantor DPRD dan berdekatan dengan Kantor Bupati Kabupaten Lebong di Muara Aman.

Pembangunan Masjid Agung Sultan Abdullah

Proses pembangunan masjid ini secara fisik sudah selesai pada tahun 2014 dan menghabiskan dana hingga Rp. 37.9 Milyar Rupiah. Pembangunan dimulai pada tahun 2009 menghabiskan anggaran mencapai Rp 2,9 miliar yang direalisasikan untuk pembangunan pondasi serta tiang masjid.

Pembangunan dilanjutkan tahun 2010 dengan anggaran yang terealisasi lebih kurang Rp 5 miliar untuk melanjutkan pembangunan dinding dan lantai kasar, lantai satu serta lantai dua beserta tiang. Pembangunan sempat terhenti di tahun 2011 karena keterbatasan anggaran.

Berdiri megah dengan rancangan masjid modern.
Pembangunan dilanjutkan tahun 2012 dengan dana lebih kurang Rp 8,5 miliar. Tahun 2013, anggaran kembali dikucurkan dan terealisasi sebesar Rp 10,6 miliar dan baru pada tahun 2014 pembangunan Masjid Agung Abdullah secara fisik dirampungkan dengan serapan anggaran mencapai Rp 10,9 miliar. Meski fisik bangunan sudah selesai di tahun 2014, di tahun 2015 pemkab setempat kembali mengucurkan dana Rp.2.9 milyar Rupiah untuk penataan landscape kawasan masjid ini.

Arsitektur Masjid Agung Sultan Abdullah

Bangunan masjid ini memiliki luas sekitar 900 meter persegi. Arsitektur masjid ini bergaya bangunan masjid moderen, dengan aplikasi kubah utama dan rangkaian kubah kubah kecil disekitarnya, empat menara dibangun di-empat penjuru menyatu dengan bangunan utama ditambah dengan satu menara setinggi 45 meter dibangun terpisah dari bangunan utama.

Penggunaan warna warna terang memberikan aksen yang sangat kuat pada eksterior bangunan masjid ini, memadukan warna hitam, hijau, putih dan kuning, dengan bagian kubah utama berwarna hijau dan kuning. Warna wana tersebut merupakan warna dari lempengan granit yang khusus didatangkan dari China pada tahap ahir pembangunan masjid ini di tahun 2014 yang lalu. Khusus untuk kubahnya menggunakan material beton Frikas yang mampu bertahan hingga puluhan tahun.

Padanan warna warna cerah dan gelap.
Tiga akses ke masjid ini semuanya dilengkapi dengan tangga langsung menuju ke lantai dua masjid. Tangga tangga di masjid ini mengesankan masjid ini turut menyerap budaya rumah rumah masyarakat lokal yang membangun rumah mereka berupa rumah rumah panggung.

CSR BRI

Mimbar masjid ini terbuat dari kayu jati merupakan sumbangan dari BRI cabang Curup melalui program CSR Bank BUMN tersebut tahun 2015 yang lalu. Selain memberikan sumbangan mimbar, BRI Curup juga menyumbangkan dua unit vacuum cleaner wet and dry, tujuh unit sikat lantai, lima unit sikat karpet, enam unit kotak sampah plastik dan satu unit rak mukena, satu unit jam dan jadwal salat digital, enam unit kotak sampah stainless dan dua unit rak sepatu.

BRI Curup juga menyiapkan dan menerbitkan rekening khusus untuk Masjid Agung Sultan Abdullah, dengan nomor rekening 7880-01-002070-53-3 BRI Unit Muara Aman II Cabang Curup atas nama Masjid Agung Sultan Abdullah. Rekening tersebut dapat digunakan untuk tabungan atau kas masjid, juga bisa digunakan oleh masyarakat maupun donatur untuk memberikan sumbangan secara langsung.
Sisi depan Masjid

Di tahun 2015 masjid Agung Sultan Abdullah ini untuk pertama kali digunakan untuk penyelenggaraan sholat Idul Fitri di hadiri oleh Bupati Lebong, H. Rosjonsyah Syahili, S.IP, M.Si, yang sekaligus menyampaikan sambutan jelang berahirnya masa jabatan beliau sebagai Bupati. 

Masjid ini juga menjadi pusat kegiatan sholat Gerhana berjamaah muslim Lebong pada peristiwa langka gerhana matahai total (GMT) tanggal 9 Maret 2016 bersama dengan para pejabat setempat. GMT terahir kali melintasi kawasan tersebut pada pada 11 Juni 1983 jauh sebelum Masjid tersebut dibangun.***

Referensi


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga




Saturday, August 27, 2016

Masjid Agung At-Taqwa Kota Bengkulu

Masjid Agung At-Taqwa Kota Bengkulu

Masjid Agung At-Taqwa merupakan masjid Agung Kota Bengkulu, provinsi Bengkulu, berada di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut Atas, kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Masjid megah berbalut warna putih ini menjadi salah satu ikon kota Bengkulu.

Lokasi Masjid Agung At-Taqwa
Jl. Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut Atas
Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu.
Provinsi Bengkulu – Indonesia



Masjid ini dibangun tahun 1988, pada masa pemerintahan gubernur Soeprapto dan diresmikan oleh presiden Soeharto 1 Juli 1989. Luas ruang utama masjid ialah 879,2 m2, dan luas keseluruhannya mencapai 1.104,5 m2, mampu menampung 2.900 jamaah. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan halaman yang luas dengan hamparan rumput yang menghijau.

Arsitektur masjid merupakan perpaduan antara corak tradisional Indonesia dengan langgam Turki dan Yunani menghasilkan bentuk bangunan masjid megah dengan keunikannya tersendiri, terutama bagian atapnya yang tampak seperti pesawat dalam kisah kisah UFO sebagai paduan dari bentuk kubah besar khas Turki dipadu dengan atap berundak undak khas Indonesia namun dalam denah melingkar bukan persegi empat, dan diantara tingkatan atap dilengkapi dengan jendela jendela kecil.

Masjid Agung AT-Taqwa di malam hari

Jejeran pilar pilar beton bundar di teras masjid ini merupakan langgam bangunan Kuil kuno Yunani, yang kemudian menjadi ciri khas bangunan Eropa dan Amerika. Masjid dengan Nuansa Gedung putih cukup tepat untuk menyebut masjid ini dengan warnanya yang serba putih. Ciri khas Ke-Indonesia-annya sangat terasa pada bagian interior. Citarasa Turki lainnya ada pada menaranya yang dibangun lebih dari satu dan terpisah dari bangunan utama.

Empat menara masjid Agung At-Taqwa ini berhasil menghadirkan langgam Turki dengan citarasa Indonesia. Denah menaranya bersegi empat seperti denah menara menara masjid tua di Sumatera lainnya, tidak seperti masjid khas Turki yang bundar. Bangunan masjid ini mirip seperti sebuah bangunan tugu dengan beberapa undakan yang semakin ke ujung semakin mengecil.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga