Showing posts with label masjid bersejarah. Show all posts
Showing posts with label masjid bersejarah. Show all posts

Saturday, June 14, 2025

Masjid Agung Baiturrahim Kaimana, Peninggalan Kerajaan Sran Eman Muun

Masjid Agung Baiturrahum Kaimana peninggalan kerajaan Islam Sran sekaligus masjid tertua di kabupaten Kaimana provinsi Papua Barat. (kabarpapua.co).

Masjid Agung Baiturrahim adalah masjid Agung di Kaimana kabupaten Kaimana provinsi Papua Barat. Masjid Agung yang kini berdiri megah dengan gaya bangunan masjid modern sejatinya merupakan bangunan masjid tua peninggalan dari masa kejayaan Kerajaan Islam Sran Eman Muun sekaligus merupakan masjid tertua di kabupaten Kaimana.
 
Kerajaan Islam SranEman Muun adalah salah satu kerajaan Islam yang pernah eksis di wilayah kabupaten Kaimana, awalnya kerajaan ini berdiri dan berpusat di Pulau Adi di laut Arafuru sebelum kemudian dipindahkan ke Kaimana.
 
   Masjid Agung Baiturrahim Kaimana Papua Barat
   Kampung Sran, Kaimana Kota, Kec. Kaimana, Kabupaten Kaimana, Papua Barat.
   https://maps.app.goo.gl/FZFY76oJEvXc6rdY7
 

 
Masjid Agung Baiturrahim Kaimana berdiri di tepi pantai tak jauh dari pelabuhan laut Kaimana kini mendominasi pemandangan kawasan tersebut dengan kemegahan dan keindahan arsitekturnya dengan satu kubah besar diatap bangunan utama diapit oleh empat menara tinggi menjulang ditambah empat menara yang lebih pendek.
 
Meskipun merupakan bangunan yang awalnya merupakan masjid kuno peniiggalan kerajaan Sran, tak ada yang tersisa dari banguna asli-nya di Masjid Agung Baiturrahim ini dari bangunan aslinya. Namun demikian sejarahnya tak dapat dipisahkan dari sejarah Kerajaan Islam Sran. Selain Masjid Agung Baiturrahim Kaimana, peninggalan lain dari Kerajaan Sran yang masih ada adalah komplek pemakaman keluarga Kerajaan Sran.
 
Menurut Umar Sabuku, Mangkubumi Kaimana mewakili Abdul Hakim Ahmad Aituarauw Raja Sran Kaimana VIII mengatakan, Semua peninggalan seperti istana dan benteng, dihancurkan oleh bangsa barat pada perang berkepanjangan. Yang tersisa adalah masjid di Kampung Sran dan saat ini sudah lima kali dipugar.

Masjid Agung Baiturrahim di tepian pantai dan tak jauh dari Pelabuhan Kaimana. (kompasiana)
 
Renovasi Masjid Agung Baiturrahim Kaimana
 
Terkait dengan perubahan bentuk masjid peninggalan kerajaan Sran menjadi sebuah Masjid Agung modern, Mohamad Lakotani, Ketua Nahdatul Ulama Kabupaten Kaimana, banyaknya dana sosial yang disediakan bagi masyarakat membuat warga berlomba-lomba untuk merombak masjid. Akibatnya, bentuk asli dari masjid yang seharusnya dipertahankan, berubah total menjadi tampilan masjid modern.
 
Renovasi dan pembangunan terahir terhdap masjid agung Baiturrahim Kaimana dilakukan pada tahun 2008 dan diresmikan oleh Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, M. Si didampingi Wakil Bupati Kaimana Hasbulla Furuada, S.P serta Raja Namatota dan Masyarakat setempat. Peresmian ditandai dengan pemancangan Tiang Alif pada tanggal 23 Maret 2022 dilanjutkan dengan menekan tombol sirine dan penandatanganan prasasti serta penguuntingan pita pada pintu utama  yang telah dipersiapkan.
 
Dana renovasi masjid ini dari dana bantuan biaya Pemerintah Kabupaten Kaimana sebesar  2,5 Miliar dan Bantuan  dari donator sebesar 350 juta, serta bantuan dari Pemerintah Provinsi Papua Barat sebesar 500 Juta.
 
Golden hour Masjid Agung Baiturrahim Kaimana. (IG @ant_tiflen)

Gubernur Papua Barat Dalam sambutannya berharap disamping masjid sebagai tempat ibadah, Umat Islam wajib memakmurkan masjid, masjid  juga dapat dimanfaatkan  umat islam  dalam menjabarkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan serta nilai persaudaraan  dan kerukunan diantara sesam umat beragama di Papua Barat.
 
Sebagai masjid agung kabupaten, masjid agung Baiturrahim Kaimana menjadi tempat pelepasan keberangkatan jemaah haji dari kabupaten Kaimana. Pada tahun 2023 sebanyak 40 calon jemaah haji kabupaten Kaimana diberangkatkan dari masjid ini menuju embarkasi haji Makassar Sulawesi Selatan.
 
Menariknya bahwa dari 40 calhaj Kaimana tersebut 16 orang diantaranya dibiyai oleh pemkab Kaimana. Upacara pelepasan calon jemaah haji Kaimana saat itu dipimpin oleh Bupati Kaimana Freddy Thie. Dalam sambutannya Bupati Freddy Thie meminta calon jemaah haji untuk mendoakan Kaimana agar selalu diberkati.
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
Masjid Jami Doom, Masjid Pertama di Papua Barat Daya
Masjid Agung Al Falah Nabire
Masjid Tembagapura, Mimika
Masjid Al Falah, Kepulauan Yapen, Papua
Masjid Agung Baiturrahman, Wamena
Masjid An-Nur Agats, Asmat
Masjid Al-Mujahidin, Puncak Jaya, Papua
Masjid Agung Waisai, Raja Ampat, Papua Barat
Masjid Raya Babussalam Timika, Mimika, Papua
Masjid Raya Al Aqsa, Merauke, Papua
 
Rujukan
 
https://papuabarat.tribunnews.com/2023/06/03/bupati-freddy-thie-minta-calon-jamaah-haji-doakan-kaimana-agar-selalu-diberkati
https://kaimanakab.go.id/gubernur-papua-barat-resmikan-masjid-jami-baitul-rahim-kaimana.html
https://regional.kompas.com/read/2013/08/07/2116167/Masjid.Agung.Baiturrahim.Peninggalan.Kerajaan.Sran.Eman.Muun.

Saturday, May 31, 2025

Masjid Tuha Gunong Kleng Aceh Barat

Masjid Tuha Gunung Kleng
 
Sesuai namanya, Masjid Tuha Gunung Kleng adalah sebuah bangunan masjid tua di Desa Gunong Kleng kecamatan Meureubo Kabupaten Aceh Barat provinsi Aceh. Masjid ini berdiri persis di pinggir jalan Meulaboh-Tapak Tuan atau sekitar 8 kilometer dari pusat Kota Meulaboh tepatnya di sebelah kanan jembatan tak jauh dari persimpangan Alue Peunyareng menuju Kampus Universitas Teuku Umar (UTU).
 
Di depan masjid terdapat dua plang yang menjelaskan bangunan tua itu: Situs Cagar Budaya. Namanya Masjid Gunung Kleng, rumah ibadah bersejarah sejak masa Belanda dan Jepang menjajah Aceh. Di sampingnya dilahan yang sama, kini terdapat bangunan masjid baru yang lebih besar dan megah.
 
Masjid Tuha Gunong Kleng
Gunong Kleng, Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, Aceh 23681
 
 
Arsitektur Masjid Tuha Gunung Kleng
 
Masjid Tuha Gunung Kleng berbentuk semi permanen bagian bawah dibangun dengan batu bata dan semen sedangkan dinding atasnya dari papan kayu Ketapang (Terminali catappa). Konstruksi bangunan masjid ini seluruhnya dibuat dari kayu, berukuran 12 meter persegi, berdiri di atas lahan sekitar satu hektar.
 
Bangunan masjid ini terdiri dari bangunan induk ditambah dengan teras depan dan satu menara disisi mihrabnya. Bangunan induk beratap limas tumpang dua dengan satu sokoguru tunggal dari kayu merbau (Intsia bijuga) dibagian tengah ruangan masjid. Mustaka di puncak atap bangunan utama masjid tua ini mirip obelisk dihiasi bulatan berhentuk vas dengan tongkat kecil di atasnya.
 
Rancangan unik Masjid Tuha Gunung Kleng.

Teras depan masjid ini dilengkapi tiga atap tumpang, satu atap tumpang bagian tengah dilengkapi dengan kubah bawang sedang dua atap tumpang dikiri dan kanannya dengan atap limas. Menara masjid juga dibangun dari kayu disisi mihrab dilengkapi dengan kubah setengah lingkaran.
 
Sehingga bila seluruh atap tumpang masjid ini juga dianggap kubah maka masjid tuha ini memiliki lima kubah, masyarakat di sana mengenal lima kubah itu sebagai tampong limong yang bermakna lima rukun Islam: dua kalimat syahadat, salat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang mampu.
 
Menurut pengurus Masjid Gunong Kleng sejak berdirinya masjid itu hingga kini sama sekali belum pernah direnovasi. Bentuknya masih sama sejak dibangun dulu. Hanya, pada 2018 bagian atap ada yang diganti karena bocor.
 
Masjid Tuha Gunung Kleng, dengan papan nama Masjid Nurul Hidayah masjid baru beurukuran besar yang dibangun disebelah Masjid Tuha Gunung Kleng.

Interior Masjid
 
Ruangan dalam masjid ini didominasi oleh sokoguru tunggal yang menjadi sokoguru tunggal dan struktur utama penopang atap masjid, serta sisi mihrabnya yang dibuat dari semen terdiri dari tiga cerukan. Ceruk tengah untuk imam, ceruk kiri untuk khatib sedangkan ceruk kanan terdapat tangga sebagai akses muazin ke menara untuk mengumandangkan azan.
 
Sejarah Masjid Tuha Gunung Kleng
 
Berdasarkan penuturan masyarakat, Masjid Tuha Gunung Kleng dibangun sekitar tahun 1923. Pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong masyarakat dan para ulama Gunong Kleng. Di antara para ulama yang membangun masjid tersebut adalah Tengku Arsyad dan Tengku Tayeb.
 
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, tentara Belanda dan Jepang pernah singgah dan istirahat di masjid ini karena mengira bangunan masjid ini merupakan sebuah istana kecil atau tempat Ulee Balang pada masa itu.
 
Ditepian ruas jalan raya Meulaboh - Tapak Tuan.

Saat tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004, bangunan masjid itu tidak ada yang rusak. Hanya, tanah di sisi kiri mimbar amblas serta tongkat khotbah beduk yang dibawa tsunami.
 
Situs Cagar Budaya
 
Meski bangunannya belum berubah, kini Masjid Tua Gunung Klieng tak lagi digunakan untuk salat. Namun warga masih kerap ke sana untuk melepas nazar atau mengikuti pengajian.
 
Untuk aktivitas peribadatan dan lainnya telah dipindahkan ke Masjid Nurul Hidayah Gampong Gunong Kleng, bangunan masjid baru yang lebih refresentatif disebelah bangunan masjid ini. Masjid Tuha Gunung Kleng telah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh sebagai salah satu situs cagar budaya Provinsi Aceh.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Rujukan
 
 

Sunday, May 18, 2025

Masjid Pusaka Al Hamidy Pagutan Kota Mataram

Masjid Pusaka Al-Hamidy, Masjid tua dan bersejarah di kota Mataram Pulau Lombok.
 
Masjid Pusaka Al Hamidy atau Masjid Tua Pagutan adalah bangunan masjid yang awalnya didirikan dan diresmikan oleh TGH Abdul Hamid di daerah Pagutan kota Mataram tahun 1892. Masjid ini merupakan bukti sejarah islam di Kota Mataram pada masa kerajaan Karangasem Bali di Pulau Lombok.
 
Berdasarkan foto dokumentasi tertua masjid ini yang tersimpan di Museum Belanda dipotret antara tahun 1900-1926, bangunan yang kini berdiri sudah jauh berubah dibandingkan bentuknya pada saat itu, meskipun masih dengan pola bentuk yang senada.
 
Masjid Pusaka Al-Hamidy
Jl. Banda Seraya No.9, Lingkungan Presak Timur
Kelurahan Pagutan Barat, Kecamatan Mataram
Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat 83117
 

Bangunan lama masjid ini beratap limas bertingkat dengan satu menara bergaya mamluk, seperti menara lama Masjid Nabawi danbangunan masjid masjid tua di Mesir dan sekitarnya. bangunan masa kininya juga beratap bertingkat namun berdenah persegi panjang, dilengkapi dengan dua bentuk menara disisi mihrab dan sisi timur serta satu menara tinggi menjulang mirip menara Masjidil Haram di kota Mekah.
 
Disebut Masjid Pusaka Al-Hamidy sebagai penghargaan kepada pendiri masjid ini yang juga dikenal luas oleh masyarakat setempat sebagai tokoh penyebar Islam disana. Nama Al-Hamidy diambil dari nama TGH Abdul Hamid, beliau berdakwah di kota Mataram dimasa kekuasaan Kerajaan Karang Asem Bali di Lombok. TGH Abdul Hamid itulah yang mula-mula membangun masjid di Pagutan semasa kekuasaan Raja Lombok, Anak Agung Agung Gde Karang Asem Bali.
 
Dokumen Belanda menyebutnya "Moskee Pagoetan" atau Masjid Pagutan yang dimasa kini dikenal sebagai Masjid Pusaka Al-Hamidy di kota Mataram.

Lingkungan Presak Timur tempat masjid ini berada tak jauh dari kantor Lingkungan Presak Timur, lingkungan yang masih memegang tradisi turun  temurun sejak masa TGS Abdul Hamid, termasuk diantaranya tabunya bagi warga setempat untuk bermain atau menyetel musik. Meski sudah tak seketat dimasa lalu, tradisi dan tabu tersebut masih menjadi salah satu ciri khas lingkungan tersebut dimasa kini.
 
Interior Masjid Pusaka Al-Hamidy. (antara)

Selain mendirikan Masjid, TGS Abdul Hamid juga mendirikan pesantren disekitar Masjid Pusaka Al Hamidy saat ini. Seiring dengan perkembangannya yang cukup pesat beliau kemudian membangun pondok pesantren yang lebih luas di Jurang Satek. 

Setelah melewati dua masa penjajahan Belanda dan Jepang, bahkan sempat diduki tentara jepang dan menjadi korban bom sekutu, pesantren tersebut masih beroperasi sampai saat ini diteruskan oleh anak keturunannya.*** 
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
Baca Juga
 
Masjid Jami’ Al Umari Kelayu Selong Lombok Tengah
 
Rujukan
 
 

Saturday, May 17, 2025

Masjid Kuno Gumantar Lombok Utara

Masjid Kuno Gumantar, bentuknya sangat mirip dengan Masjid Kuno Bayan Beleq.
 
Masjid Kuno Gumantar merupakan salah satu masjid kuno tertua di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan merupakan salah dari dua Masjid tertua di kabupaten Lombok utara selain Masjid Bayan Beleq. Keberadaan Masjid Kuno ini diperkirakan berkaitan dengan masa awal penyebaran Agama Islam di Pulau Lombok sekitar abad ke 17 Masehi.
 
Sesuai dengan namanya, masjid ini terletak di Dusun Gumantar yang merupakan salah satu dusun di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Jarak dari ibu kota kabupaten menuju lokasi masjid ini kurang lebih 29 km, sedangkan dari ibu kota provinsi berjarak kurang lebih 63 km.
 
Masjid Kuno Gumantar
Gumantar, Kayangan, kab. Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat 83354
 
 
Masjid Kuno Gumantar ini merupakan bukti penyebaran awal Agama Islam di Pulau Lombok dan memiliki nilai sejarah, pendidikan dan kebudayaan yang tinggi ditengah peradaban yang semakin modern, sehingga perlu dipertahankan keberadaanya untuk menambah kekayaan budaya bangsa. Masjid Kuno Gumantar masuk dalam daftar inventaris Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali nomor : 2/15-05/BWG/58.
 
Arsitektur Masjid Kuno Gumantar
 
Arsitektur Masjid Kuno Gumentar memiliki kesamaan dengan arsitektural pada Masjid Bayan Beleq yang memiliki denah persegi, dengan atap yang bertumpang. Dari bahan juga memiliki kesamaan, dimana pada bagian lantai terbuat dari tanah dan campuran kotoran sapi, sedangkan pada temboknya dibuat dari anyaman bambu.
 
Masjid Kuno Gumantar.

Sedangkan pada bagian atapnya terbuat dari alang-alang, dan struktur penopang atap terbuat dari bambu sedangkan soko gurunya dan struktur atapnya terbuat dari kayu lokal yang memiliki dimensi yang cukup besar.
 
Struktur kayu kuno masjid ini justru menyelamatkannya dari gempa dahsyat yang sempat mengguncang Lombok dan sekitarnya menegaskan kuatnya konstruksi kayu Masjid Kuno Gumantar. Tidak ada kerusakan signifikan dibandingkan dengan masjid-masjid permanen di pulau tersebut.
 
Sejarah Masjid Kuno Gumantar
 
Penelusuran sejarah masjid ini dilakukan berdasarkan masa awal masuknya Islam ke Pulau Lombok dan gaya arsitektural yang mencirikan perkembangan pola pikir tentang bangunan disekitarnya dan memiliki referensi pada tahun yang berdekatan. Dengan merangkum berbagai data diperkirakan masjid Kuno Gumentar dibangun pada abad ke 17 masehi.
 
Ornamen unik dipuncaka tap Masjid Kuno Gumantar.

Berdasarkan catatan sejarah pada abad ke 17 tepatnya ditahun 1640 datang pula Sunan Pengging ke Pulau Lombok untuk menyiarkan agama Islam, Beliau adalah penganut Sunan Kalijaga dan mengembangkan ajaran sufi. Sunan Pengging terkenal pula dengan nama Pangeran Mangkubumi yang melarikan diri ke Bayan pada saat diserang oleh kerajaan Goa pada tahun 1640.
 
Di Bayan Beliau mengembangkan ajarannya sehingga kelak menjadi pusat kekuatan suatu aliran yang disebut waktu telu, yang menyebar sampai ke Desa Gumantar. Berdasarkan data tersebut, dan menganalisa kesamaan gaya arsitektural dari Masjid Kuno Gumantar dengan Masjid Bayan Beleq, maka kemungkinan besar pengaruh ajaran Islam dan hasil kebudayaannya memiliki kesamaan waktu dan konsep. Kedekatan wilayah juga memberikan pengaruh terhadap kesamaan konsep tersebut.
 
Masjid Kuno Gumantar saat ini tidak lagi digunakan sebagai sarana ibadah salat lima waktu. Hal ini guna untuk menjaga kelestarian dan sebagai peninggalan bersejarah. Penduduk Suku Sasak Desa Gumantar hanya menggunakan masjid kuno tersebut untuk acara tertentu.
 
Diantara pohon pohon Kamboja berusia tua.

Tradisi di Dusun Gumantar
 
Penduduk di Dusun Gumantar mayoritas bekerja di sektor agraris. Para petani di dusun tersebut memiliki berbagai tradisi pertanian yang digelar di Masjid Kuno Gumantar.
 
Berikut adalah beberapa aktivitas budaya pertanian yang dilakukan warga di Masjid Kuno Gumantar:
 
1. Maulid Adat, yaitu ritual adat yang dilakukan setiap tanggal 12 Rabiul Awal menurut sistem penanggalan kalender Islam setempat. Ritual ini dipercaya untuk memohon hujan.
 
2. Gawek Bumi, yakni tradisi untuk mengucapkan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh dalam satu tahun.
 
3. Aji Lawat/Tilawat, merupakan tradisi yang dilakukan warga untuk memulai penanaman padi.
 
Ketiga tradisi tersebut dilaksanakan di Masjid Kuno Gumantar dengan melibatkan enam dusun di Desa Gumantar, yakni Dusun Gumantar, Dusun Dasan Treng, Dusun Poh Gading, Dusun Tenggorong, Dusun Desa Beleq, dan Dusun Tangga. Konon, warga dari keenam dusun tidak diperkenankan merabas kebun sebelum upacara Aji Lawat dilakukan.
 
Warga setempat baru diperbolehkan melakukan aktivitas bercocok tanam jika upacara Aji Lawat selesai dilakukan. Hal itu menegaskan bangunan Masjid Kuno Gumantar juga berperan mendukung nilai kebudayaan agraris yang dijalani oleh warga setempat.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------

Baca Juga
 
Masjid Jami’ Al Umari Kelayu Selong Lombok Tengah
 
Rujukan
 







Sunday, May 4, 2025

Masjid Subulussalam Nyatnyono Saksi Bisu Penyebaran Islam di Lereng Gunung Ungaran

Masjid Subulussalam Nyatnyono, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
 
Masjid Subulussalam ini berada di desa Nyatnyono kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang provinsi Jawa Tengah. Disebut sebut merupakan masjid tua peninggalan Syekh Hasan Munadi. Tokoh penyebar Islam di Ungaran yang diyakini hidup sejaman dengan masa awal berdirinya Kesultanan Demak.
 
Bangunan masjid yang kini berdiri telah melewati beberapa kali renovasi dan pembangunan kembali. Bagian yang tersisa dari bangunan awal berupa empat sokoguru dari kayu yang ditempatkan ditengah tengah ruangan sholat utama, serta momolo yang kini ditempatkan dibagian atas sokoguru tersebut.
 
Lokasi Masjid Subulussalam Nyatnyono
Nyatnyono, Kec. Ungaran Bar., Kabupaten Semarang, Jawa Tengah 50551
 
 

Selain sokoguru dan momolo, ada dua benda lagi yang disebut sebut sebagai peninggalan asli dari Syekh Munadi yakni tongkat khatib untuk khutbah Jum’at dan mimbar asli yang disimpan oleh pengurus masjid.
 
Bangunan masjid ini berupa bangunan masjid dari beton tiga lantai memiliki sebuah menara di sayap kanannya. Atap bangunan utama dan atap menaranya berupa atap limas bersusun khas Masjid Indonesia.
 
Sejarah Masjid Subulussalam
 
Tidak ada catatan tertulis tentang sejarah masjid ini maupun sejarah perjalanan Syeikh Hasan Munadi yang diketahui juga memiliki nama lain sebagai Raden Bambang Kartonadi. Kisah sejarahnya dituturkan turun temurun secara lisan dari generasi ke generasi. Sehingga memang agak sulit untuk memvalidasinya.
 
Interior Masjid Subulussalam Nyatnyono, tampak Sokoguru asli bewarna gelap disebelah kiri dan mihrabnya disebelah kanan (muria.tribunnews)


Namun dari kisah tutur yang ada, dapat disimpulkan bahwa Syekh Munadi merupakan tokoh penyebar Islam di daerah tersebut. Beliau diyakini hidup sejaman dengan masa awal kesultanan Demak, semasa hidupnya beliau pernah mengabdi di kesultanan Demak sebagai salah seorang punggawa berpangkat Tumenggung yang bertugas menjaga kewibawaan kesultanan Demak dari rong-rongan kelompok yang hendak membuat onar. Kemudian beliau memutuskan untuk berdakwah dan menetap di lereng gunung Ungaran, membangun masjid dan pesantren.
 
Lebih Tua Dari Masjid Agung Demak ?
 
Kisah tutur menyebutkan bahwa masjid ini lebih tua dari Masjid Agung Demak, namun alur ceritanya sedikit rancu. “Dugaan usia” masjid ini disandarkan pada kisah kayu sokoguru masjid ini. Konon Syekh Hasan Munadi siap terlibat dalam pembangunan masjid Agung Demak namun beliau meminta syarat yakni
 
Salah satu soko yang hendak dibuat untuk Masjid Agung Demak, dikirim ke Ungaran. Sebab saat itu, Hasan Munadi tengah membangun sebuah masjid untuk tempat pembelajaran agama Islam bagi masyarakat di kaki Gunung Ungaran. Permintaan ini disanggupi Sunan Kalijaga dan langsung dikirim para prajurit Kesultanan Demak Bintoro kala itu." Dan tidak disebutkan apa keterlibatan Syekh Munadi dalam pembangunan Masjid Agung Demak.
 
Berdasarkan prasasti Bulus didalam mihrab Masjid Agung Demak diketahui bahwa Masjid Agung Demak dibangun pada tahun 1477 Masehi. Dibangun di lokasi yang sebelumnya sudah berdiri Masjid dan Pesantren Sunan Ampel yang sudah berdiri sejak tahun 1466 Masehi. Demak baru diproklamirkan sebagai Kesultanan merdeka dari Majapahit oleh Raden Fatah pada tahun 1478 Masehi.
 
Momolo asli Masjid Subulussalam ditempatkan diatas sokoguru asli ditengah rungah sholat Masjid Subulussalam Nyatnyono (regonal.kompas).

Bila Sokoguru dimaksud dikirim para prajurit Kesultanan Demak Bintoro ke Ungaran, maka berarti pengiriman dilakukan setelah Demak berdiri sebagai sebuah Kesultanan ditahun 1478, dan saat itu dipastikan Masjid Agung Demak sudah berdiri lebih dulu ditahun 1477.
 
Sejarah populer memang menyebutkan bahwa Sokotatal di Masjid Agung Demak dibuat oleh Sunan Kalijaga dari serpihah kayu dari tiga sokoguru lainnya, namun dari berbagai kisah tutur populer dapat disimpulkan hal tersebut dilakukan lebih karena memang kekurangan bahan kayu jati utuh ukuran yang setara dengan tiga sokoguru lainnya, bukan karena ‘sengaja’ salah satunya dikirimkan ke tempat lain atas persetujuan Sunan Kalijaga.
 
Kemungkinan Pernah dipugar di Jaman Penjajahan Belanda ?
 
Kisah tutur juga menyebutkan bahwa sokoguru masjid ini awalnya hanya satu lalu dibelah menjadi empat untuk menghindari dikultuskan atau disembah, pembelahan menjadi empat tersebut dilakukan dijaman Belanda. Pada saat proses pembelahan, pelangi muncul diatas masjid ini sehingga mengundang kecurigaan tentara Belanda.
 

Sesuai dengan namanya, sokoguru atau tiang utama merupakan struktur utama bagi sebuah masjid kayu yang menjadi penopang utama seluruh struktur atap bangunan. Bila awalnya sokogurunya hanya satu kemudian dibelah menjadi empat, maka kemungkinan terbesarnya adalah pada saat itu terjadi proses pemugaran atau renovasi besar terhadap bangunan masjid ini.
 
Sokoguru asli Masjid Subulussalam Nyatnyono kini ditempatkan ditengah ruangan sholat, dibungkus dengan kayu jati berukir. Kayu aslinya dapat dilihat dari bagian atas seperti pada foto sebelumnya (regional.kompas).

Atau bisa jadi sebenarnya masjid ini memang baru dibangun dimasa penjajahan Belanda, sehingga memang sangat masuk akal proses pembangunan-nya mengundang kecurigaan tentara Belanda, apalagi sosok Syekh Hasan Munadi memang dikenal sebagai tokoh penyebar Islam disana.
 
Keseluruhan kisah tutur tersebut menjadi lebih rancu mengingat sumber lain (Humas Pengurus Makam) mengatakan bahwa Syekh Hasan Munadi merupakan seorang pendakwah yang datang dari Kerajaan Mataram. Mungkin yang dimaksud adalah Kesultanan Mataram atau juga populer disebut Mataram Islam, untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Hindu / Kerajaan Medang.
 
Garis waktu berdirinya Kesultanan Mataram teramat jauh setelah sejarah keberadaan Kesultanan Demak. Dan Belanda memang sudah hadir di tanah Jawa pada masa Kesultanan Mataram. Sejarah mencatat Mataram beberapa kali melakukan penyerbuan terhadap benteng Belanda (VOC) di Batavia. Wallahuwa’lam bisshowab.
 
Objek Wisata Rohani
 
Dalam menjalankan syiar Islam nya, Syeikh Hasan Munadi dibantu oleh anaknya yang bernama Syekh Hasan Dipuro. Kini, makam ayah dan putranya ini selalu ramai dikunjungi peziarah, dari Semarang hingga luar provinsi dan luar Jawa.
 
Pengelolaan masjid ini dilakukan oleh keturunan Syeikh Hasan Munadi termasuk pengurusan komplek makam Syekh Hasan Munadi. Dikomplek masjid ini masih berdiri madrasah diniyah atau tempat pembelajaran agama dan sendang (telaga) yang diberi nama sendang kalimah toyyibah.
 
Pengunjung ramai datang kesini setiap menjelang bulan Ramadhan, mereka mengunjungi masjid, sendang, ziarah kubur, dan haul yang yang diisi dengan mujahadah, sema'an quran dan pengajian akbar.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
Baca Juga
 
 
 
Rujukan
 


Saturday, August 24, 2019

Masjid Jami’ Bengkulu; Kenang Kenangan dari Bung Karno

Masjid dengan arsitektur asli Indonesia, Masjid Jami' Bengkulu di renovasi dengan sentuhan Bung Karno saat beliau tinggal di Bengkulu semasa pengasingan di masa penjajahan Belanda (IG herwan_efendi)

Masjid Jami Satu ini sangat terkenal dan dikenal di Bengkulu sebagai kenang kenangan manis dari Bung Karno, karena memang rancang bangun nya saat direnovasi ditangani sendiri oleh beliau di masa pengasingannya di Bengkulu. Meskipun sebenarnya masjid ini sudah dibangun jauh sebelum kedatangan Bung Karno ke tanah Bengkulen sebagai tahanan politik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun bangunan yang kini berdiri memang hasil guratan tangan Bung Karno sendiri. Awalnya masjid ini dibangun di kelurahan Kampung Bajak, Bengkulu dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu. Namun kemudian masjid tersebut dipindahkan ke lokasinya sekarang ini di Jalan Soeprapto, Kota Bengkulu.

Sejarah mencatat presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno atau Bung Karno  pernah diasingkan di Bengkulu dalam kurun waktu 1938-1942. Pada masa itu, Bung Karno masih berstatus sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia. Sebelum Bengkulu, sempat pula sang proklamator berkelana menghabiskan masa pengasingan di Bandung (1928), Sukamiskin (1930-1932), dan Flores (1934). Selama masa pengasingan di Bengkulu tersebut Bung Karno merancang ulang Masjid Jami Bengkulu dan hasilnya masjid kebanggaan warga Bengkulu ini masih dapat dinikmati hingga kini.

Masjid Jami Bengkulu
Jl. Soeprapto, Kota Bengkulu
Propinsi Bengkulu, Indonesia
Koordinat geografi : 3°47'32"S  102°15'43"E



Masjid Jami’ Bengkulu pertama kali dibangun diperkirakan pada abad ke 18M (tahun 17**) dengan bentuk yang sangat sederhana,  Awalnya masjid ini dibangun di kelurahan Kampung Bajak, Bengkulu dekat dengan lokasi pemakaman Sentot Ali Basya, teman seperjuangan Pangeran Diponegoro yang dibuang Belanda ke Bengkulu, bisa jadi masjid tersebut merupakan masjid yang dibangun oleh Sentot Ali Basya dan pengikutnya. Masjid tersebut kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang sekitar awal abad ke 19.

Pada tahun 1930 sejarah Indonesia ditandai oleh banyaknya pengasingan atau pembuangan tokoh tokoh pergerakan nasional sebagai akibat kebijakan politik gubernur jendral hindia belanda saat itu, De Jonge yang lebih reaksioner. Perkumpulan dan rapat sama sekali tidak diperbolehkan dan bagi yang melanggar hukumannya adalah pengasingan. Sebagai salah seorang tokoh pergerakan, Soekarno termasuk tokoh yang di tangkap dan di asingkan Belanda karena mengadakan rapat di Bandung sekitar tahun 1938. Inilah awalnya bersentuhannya Soekarno dengan masjid Jami Bengkulu.

Aerial view Masjid Jami' Bengkulu (IG arisulistianto23)

Selama mejalani masa pengasingan di Bengkulu, Soekarno memanfaatkan waktunya dengan mengajar di Sekolah Muhammadiyah Bengkulu. Sebagai seorang insinyur sipil, ia juga berinisiatif untuk merenvasi masjid tua yang sudah bocor dan sering becek pada musim hujan. Menurut masyarakat setempat renovasi masjid tersebut di danai secara swadaya oleh maysarakat.

Bahan material bangunan diambil dari desa Air Dingin, Rejang Lebong, Bengkulu Utara. Selama di pengasingan beliau di Bengkulu, selain merancang Masjid Jami Bengkulu, Bung Karno sempat merancang 4 rumah tinggal, tapi hanya 2 yang terbangun, yakni rumah kembar untuk refendaris residen dan rumah seorang demang.

Bangunan khas Indonesia dengan atap limas bersusun (IG eddyramlan65)

Arsitektural Masjid Jami Bengkulu

Ketika pertama kali dibangun, masjid jami ini hanya menggunakan konstruksi kayu beratap rumbia. Konstruksi bahan masjid dari material yang cepat lapuk tersebut menyebabkan masjid juga cepat mengalami pelapukan, sehingga sering bocor dan becek pada musim hujan. Bangunan masjid yang ada sekarang merupakan hasil rancangan Soekarn, dengan mengubah beberapa bagian bangunan masjid. Bangunan. Bagian yang dipertahankan adalah dinding dan lantai.

Tapi dinding tersebut ditinggikan lagi 2 meter dan lantainya 30 cm. sehingga lebih tinggi dari sebelumnya. Sedangkan bagian yang dirancang ulang oleh Soekarno adalah atap dan tang masjid. Atap masjid rancangan baru ini berbentuk tiga lapis yang melambangkan Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini juga dihiasi dengan ukiran ayat al-Qur’an dan pahatan berbentuk sulur dengan cat warna kuning emas gading.

Masjid Jami' Bengkulu sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya (IG fidhelahmed)

Bangunan masjid terdiri dari tiga bagian : ruang utama untuk sholat, serambi masjid dan tempat berwudhu. Bangunan utama berukuran 14.65x14.65m, dilengkapi dengan tiga buah pintu masuk. Di dalam bangunan utama tersebut, terdapat mihrab berukuran lebar 1.60 meter dan panjang 2.5 meter. Pada sebelah kanan mihrab, juga terdapat mimbar dengan corak istambul. Pada bagian atapnya terdapat dua buah kubah dari seng alumunium. Untuk naik ke atas mimbar, terdapat empat buah anak tangga.

Di luar bangunan utama, terdapat serambi yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran 11.46 x 7.58 meter. Di serambi terdapat sebuah bedug yang berdiameter 80 cm. bangunan lainnya yang melengkapi masjid adalah tempat berwudhu yang berbentuk persegi panjang, berukuran 8.8x5.55 meter, dengan konstruksi dari batu biasa dan batu karang. Terahir sebagaimana masjid masjid lainnya di Indonesia, masjid jami ini juga dilengkapi dengan halaman yang cukup luas. Saat ini, halaman tersebut dilengkapi pagar besi dengan pilar dari batu, di halaman tersebut juga terdapat banyak pohon dan tanaman rindanga dan indah, sehingga udara di sekitar masjid terada sejuk dan segar.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi

Abdul Baqir Zein. 1999. Masjid Masjid Bersejarah di Indonesia. Jakarta. Gema Insani Press.
djarumbeasiswaplus.org - Bung Karno dan Cagar Budaya Bengkulu
ngarsitek.blogspot.com - jejak-arsitektur-soekarno-di-bengkulu
dinkeslebong.net - Bung Karno di Bengkulu

Baca Juga Masjid Di Bengkulu Lain-nya



Sunday, April 21, 2019

Masjid Raya Stabat Kabupaten Langkat

Masjid Raya Stabat, Masjid bersejarah di kabupaten Langkat.

Masjid Raya Stabat adalah salah satu masjid bersejarah yang ada di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara
, selain Masjid Raya Azizi yang ada di Tanjung Pura. Masjid ini berada di Kota Stabat, ibukota Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Tepat di sisi sungai Wampu, di pinggir Jalan Lintas Sumatera, Medan-Aceh.

Masjid bersejarah ini dibangun dua tahun setelah pembangunan Masjid Raya Azizi di Tanjungpura. Pada tahun 1904 saat Kesultanan Langkat dibawah kekuasaan Sultan Musa, pembangunan masjid Raya stabat mulai dikerjakan pembangunannya semasa Kejuruan Stabat Tengku HM Khalid.

Masjid Raya Stabat
JL. KH. Zainul Arifin, No. 130, Stabat Baru
Stabat, Kabupaten Langkat
Sumatera Utara 20811



Pada mulanya bangunan masjid ini terdiri dari bangunan induk seluas 20 meter persegi. Kemudian ditambah teras dua meter keliling dengan satu buah menara. Saat itu jama’ah yang dapat ditampung hanya berkisar 300 orang. Semasa Kejuruan Stabat T HM Khalid, masjid ini  mulai berkembang dan terakhir diteruskan oleh ahli warisnya diantaranya Tengku Soelung Chalizar dan terakhir dilanjutkan oleh Tengku Syamsul Azhar hingga sekarang.

Kini Masjid Raya Stabat ini telah berkembang pesat, luas areal masjidnya saat ini menjadi 4.454 meter persegi dengan daya tampung mencapai 1350 jamaah. Fasilitas masjid juga dikembangkan seperti bangunan wudhu wanita, perpustakaan masjid dan aula. Teras masjid ditambah lagi dengan swadaya dan partisipasi masyarakat setempat,demikian pula pada bagian atapnya mulai direhab.Dulunya bagian atap kubang terbuat dari kayu besi dari Kalimantan,karena lapuk dimakan usia akhirnya atap kubah diganti dengan seng.

Rehabilitasi Masjid Raya Stabat

Rehabilitasi masjid silih berganti,namun perkembangannya terasa sangat lamban. Ketika itu bangunan  teras ditambah lagi semasa Bupati  Langkat  H Marzuki Erman. (1986). Tengku  Soelung Chalizar selaku Nazir Masjid bersama adiknya Tengku Syah Djohan yang baru diangkat sebagai Lurah Stabatbaru ( 30 Nopember 1991) dengan bantuan swadaya masyarakat yang dikoordinir H Ibnu Kasir selaku pengurus BKM Masjid Raya Stabat,  meneruskan pembangunan  dan rehab masjid tersebut

Pintu utama masjid 

Sejak Bupati Langkat H Marzuki Erman, H. Zulfirman Siregar,H Zulkifli Harahap dan H Syamsul Arifin SE serta Haji Ngogesa Sitepu sebagai Bupati Langkat sekarang ini , perhatian terhadap perkembangan dan keberadaan masjid diibukota kabupaten ini, terus berlanjut .

Sejak 5 Nopember 1994, tanah lapangan masjid sudah bertambah seluas 1.695 meter persegi yang merupakan wakaf mantan bupati alm H Zulkifli Harahap. Sekarang Masjid Raya Stabat sudah dapat menampung 1.350 jama’ah dengan fasilitas kamar wudhuk khusus kaum perempuan disamping kamar wudhuk yang sudah ada sebelumnya, selain itu terdapat bangunan Gedung Perpustakaan yang meraih Juara Harapan dalam lomba perpustakaan masjid se-Sumut tahun 2001.

Semasa Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu SH penataan halaman masjid terus berlanjut dan pada bagian samping kanan terdapat kantin tempat pedagang makanan yang tertata rapi yang dibangun sejak tahun 2010. Kantin tersebut pada tahun 2013 dibangun secara permanen dengan tiang stainless,atap seng daan lantai keramik seukuran 21 kali 4 meter.

Pada tahun itu juga kamar wudhu' direhab secara permanen dan pada bagian atasnya (lantai dua ) merupakan Aula Masjid Raya Stabat yang dimanfaatkan secara khusus untuk tempat pengajian, manasik haji dan umrah.

Bangunan unik khas tanah melayu di kabupaten Langkat.

Tradisi Bubur Pedas

Selama tiga tahun berturut-turut ( 1996-1998 ),Masjid Raya Stabat dijadikan sebagai lokasi pelepasan jama’ah calon haji sekabupaten Langkat. Bahkan jamaah haji asal NAD (Naggroe Aceh Darussalam) yang ketika itu berangkat melalui Bandara Polonia Medan,juga menjadikan Masjid Raya Stabat tempat transit.

Sementara itu salah satu keistimewaan masjid ini, terlihat pada setiap bulan Ramadhan, yaitu pengadaan menu khusus untuk bukan puasa bersama . Menunya merupakan makanan ringan khas Melayu yakni Bubur Pedas. Acara berbuka puasa bersama juga terbuka untuk para musafir yang singgah ke masjid ini.

Bubur pedas adalah makanan khas suku Melayu Deli, yang hanya dibuat oleh warga di saat-saat tertentu, seperti acara pernikahan, kenduri, sunatan, puasa dan Lebaran.Hal ini dikarenakan proses pembuatan bubur pedas yang rumit, karena menggunakan 40 jenis rempah rempah dan daun yang mengandung banyak khasiat.

Mimbar dan mihrab Masjid Raya Stabat.

Ke-40 jenis rempah dan daun ini, kemudian dicampur dengan kentang, wortel, tauge, yang menjadi bahan pembuatan bubur pedas, bahkan memakan bubur pedas bisa dicampur dengan sayur urap atau anyang.Setiap harinya, pihak masjid menyediakan 200 porsi bubur pedas buat warga dan pengguna jalan yang berbuka di masjid.

Hingga kini keberadaan Masjid Raya Stabat, menjadi tempat persinggahan dari kaum muslimin terutama jamaah yang melakukan perjalanan lintas Banda Aceh - Medan dan sebaliknya. Kini Masjid Raya Stabat yang menjadi kebanggaan bagi warga ibu kota Kabupaten Langkat tersebut, merupakan tempat persinggahan bukan saja untuk beribadah, tetapi juga untuk sekedar melepas lelah dalam perjalanan lintas Sumatera yang didukung areal parkir dan halaman yang asri.

Masjid kebanggaan masyarakat Stabat ini memiliki corak Melayu yang khas dengan warna masjid yang didominasi warna kuning dan hijau, warna kebesaran suku Melayu. Bangunan masjid ini ditopang oleh 100 lebih tiang penyangga.***

Referensi


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga