Sunday, January 29, 2017

Masjid Agung Nurul Ma’mur Aceh Singkil

Masjid Agung Aceh Singkil 

Kompetensi menjadi dasar profesionalisme, apalagi kompetensi bagi seorang calon pemimpin daerah sudah barang tentu sangat menentukan kemajuan daerah yang dipimpinnya. Hal yang sangat menarik di Provinsi Daerah Istimewa Nangroe Aceh Darussalam, salah satu Kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh calon kepala daerah di propinsi paling utara pulau Sumatera ini adalah kemampuan membaca Kitab Suci Al-Qur’an.

Masjid Agung Nurul Ma’mur di Kabupaten Aceh Singkil ini menjadi saksi pelaksanaan tes kompetensi Baca Al-Qur’an bagi empat pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati Kabupaten Aceh Singkil yang diselengggarakan pada tangga; 27 September 2016 diselenggarakan oleh Komiisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Singkil.

Layaknya Lomba MTQ, dalam acara tes kemampuan membaca Al-Qur’an ini juga dihadirkan tim penguji dari MPU, Kementrian Agama dan LPTQ Kabupaten Aceh Singkil, sedangkan Imam Masjid Agung Nurul Ma’mur bertindak sebagai Panitera. Acara tersebut dihadiri oleh Unsur Forkopimda, KIP Aceh Singkil, Panwaslih Aceh Singkil, Kadis Syariat Islam, Pengurus Partai pengusung dan tim sukses masing-masing calon, serta ratusan pengunjung dari kalangan simpatisan dan masyarakat setempat.


Hajatan seperti ini hanya terjadi di Aceh sebagai salah satu Keistimewaan dari provinsi Serambi Mekah tersebut. Kemampuan membaca kitab suci Al-Qur’an merupakan kompetensi mendasar yang harus dimiliki oleh para calon pimpinan daerah di provinsi N.A.D. Hasil tes tersebut yang menentukan mereka layak untuk mengikuti Pilkada atau tidak, apabila dinyatakan tidak mampu uji baca Alquran, maka di­nyatakan gugur. Parpol pendukung dapat mengganti dengan calon yang lain dalam periode penggantian dan perbaikan yang disediakan.

Masjid Agung Nurul Ma’mur adalah Masjid Agung Kabupaten Aceh Singkil provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Lokasinya berada di Jalan Bahari, Desa Pulo Sarok kecamatan Singkil, kabupaten Aceh Singkil, Nagroe Aceh Darussalam. Dibangun tahun 2000 di atas lahan wakaf seluas 10 ribu meter persegi dengan luas bangunan 100 meter persegi dan mampu menampung hingga 1500 jemaah sekaligus.

Sebagai masjid Agung kabupaten, masjid Agung Nurul Ma’mur ini menjadi pusat aktivitas ke-islaman tingkat kabupaten Aceh Singkil termasuk pelaksanaan peringatan hari hari besar Islam, pelepasan dan penyambutan Jemaah haji hingga pelaksanaan zikir bersama peringatan bencana Tsunami Aceh yang dihadiri pejabat kabupaten dan jajarannya serta masyarakat muslim setempat.***

Saturday, January 28, 2017

Masjid Azzawiyah Pekojan, Jakarta Barat

Masjid Az-Zawiyah di kawasan Pekojan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat ini merupakan salah satu bangunan masjid bersejarah di Jakarta dan merupakan salah satu bangunan masjid tertua di Jakarta.

Masjid Az-Zawiyah merupakan salah satu masjid tua Jakarta yang berada di kawasan Pekojan. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas pada tahun 1812M, Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Dan juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan kitab "Fathul Mu'in" atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional.

Habib Ahmad bin Hamzah Alatas juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor. Ketika dibangun, masjid ini tidak saja merupakan sebuah bangunan untuk ibadah semata namun juga merupakan tempat penyelenggaraan pendidikan islam.  Kini bangunan masjid ini dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.




Masjid Azzawiyah berada tidak jauh dari jalan Pekojan Kecil, awalnya hanya berupa mushola kecil, Mushola ini kemudian diwakafkan hingga sekarang dan kemudian menjadi sebuah masjid. Kawasan Pekojan juga dikenal sebagai Kampung arab meskipun pada awalnya dihuni oleh Muslim dari India. Saat ini di Pekojan terdapat 4 Masjid Jami’ dan 26 mushola beberapa diantaranya sudah eksis sejak era kolonial,

Masjid kecil ini begitu ramai dikunjungi oleh muslim keturunan arab terutama di hari Lebaran hingga hari ketiga. Tepat di depan Mushola ini berdiri rumah tua bergaya Moor, rumah tersebut sekarang ditempati keluarga Saleh Aljufri. Keluarga Saleh Al-Jufri ini adalah salah satu keturunan Arab yang masih tinggal di kawasan Pekojan.***


Sunday, January 22, 2017

Masjid Jami’ Kampung Baru Pekojan Jakarta

Masjid Jami' Kampung Baru di kelurahan Pekojan ini merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta. Meski bangunannya sudah mengalami perubahan, salah satu artefak berharga dari masjid ini berupa sebuah mimbar berukir indah kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta (Gedung Fatahillah) sebagai salah satu bukti otentik sejarah Jakarta. 

Masjid Jami’ Kampung Baru adalah salah satu masjid tertua di Jakarta. Didirikan oleh para imigran Muslim dari India pada tahun 1748. Terletak di Jl. Bandengan Selatan No. 34, tidak jauh dari Masjid Al Anshor. Saat ini bangunannya sudah tidak asli lagi, hanya tersisa keranka bagian pusat yang bersegi empat, ukiran setandan buah anggur dan beberapa pilar pada jendela. Masjid Jami Kampung Baru ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Sebuah mimbar ukir yang indah dan pernah digunakan dalam masjid ini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Perkembangan selanjutnya, Muslim keturunan India hanya pada hari-hari besar saja datang ke mesjid ini, karena sebagian besar mereka sudah pindah ke daerah Pasar Baru. Masjid tua ini kini dikelola oleh Yayasan Masjid Jami Kampung Baru Inpak.




Kali Bandengan yang membentang di wilayah Pokojan kecamatan Tambora ini, konon disebut dengan nama kali Bandengan karena memang dulunya merupakan kawasan rawa rawa yang banyak ditemukan ikan Bandeng. Kali ini pada abad ke 18 merupakan salah satu jalur perdagangan di kota Batavia.

Para pedagang dan saudagar dari mancanegara termasuk dari Arabia dan India kerap kali melintasi kali ini beberapa dari mereka kemudian menetap di kawasan tersebut termasuk muslim muslim pedagang dari India yang kemudian membangun masjid di kawasan itu untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah.

Masjid Jami Kampung Baru ini dibangun oleh Syeik Abubakar yang merupakan salah satu saudagar muslim dari India yang tinggal di kawasan tersebut, pembangunannya dimulai tahun 1743 dan selesai tahun 1748. Sumber lain menyebutkan pembangunannya dimulai tahun 1748 dan selesai tahun 1817.

Masjid Jami’ Kampung Baru bukanlah masjid pertama yang dibangun oleh muslim india di Batavia, sebelumnya mereka telah membangun masjid di Kawasan Jalan Pengukiran. Paska perisitiwa berdarah pembunuha masal orang Tionghoa di Batavia tahun 1740, para pedagang India di Batavia ini mendapatkan kesempatan dagang yang lebih leluasa sehingga jumlah mereka pun bertambah banyak, sehingga masjid di Pengukiran tidak lagi mampu menampung Jemaah sehingga kemudian dibangunlah masjid di Kampung Baru ini.

Dalam sebuah karangan Belanda pada tahun 1829 masjid kampong Baru ini disebut juga sebagai Moorsche Tempel (Kuilnya orang orang Moor). Kemungkinan dari sanalah asal muasal sejarah yang menyebut masjid ini dibangun oleh Muslim Moor, yangk kemudian Istilah Moor diidentikan dengan Muslim India. Meskipun terminologi Moor sesungguhnya merupakan nama kelompok etnis Muslim di Afrika Utara (Maroko dan sekitarnya), yang pada masanya berhasil menaklukkan Eropa dan mendirikan eEmperium Islam di Andalusia (Spanyol).

Denah dasar masjid ini berbentuk persegi dengan atap limas bertumpuk (tumpang), Bentuk mesjid semacam ini menyerupai bentuk-bentuk bangunan tradisional Jawa, di mana biasanya terdapat 4 tiang soko guru pada bagian tengah bangunan sebagai penyangga atap berbentuk limas tersebut. Luas masjid ini sekitar 1.050 meter2, lantainya ditutup dengan ubun bewarna putih dan diatasnya menghampar sajadah bewarna hijau dan sebagian lagi bewarna merah. Di langit langit masjid menggantung satu lampu antic yang sudah ada disana sejak masjid ini berdiri.***

Saturday, January 21, 2017

Masjid Ar Raudah, Pekojan - Jakarta

Interior Masjid Ar-Raudah di Pekojan, Jakarta, seperti masjid masjid kebanyakan dilengkapi dengan mihrab meski hanya berupa ceruk kecil dan sebuah mimbar. namun tampilan luar masjid ini berupa bangunan seperti bangunan rumah disekitarnya, tidak nampak sebagai sebuah bangunan masjid.

Masjid Ar-Raudah adalah salah satu masjid tua di Jakarta yang berada di Jalan Pekojan II, kelurahan Pekojan, kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Masjid ini dahulunya merupakan tempat berkumpulnya anggota Jamiatul Khair (Perkumpulan Kebaikan) yang dibentuk oleh Ali dan Idrus yang berasal dari keluarga Shahab di masa penjajahan Belanda.

Perkumpulan itu berperan dalam penyebaran agama Islam pada masa Hindia Belanda. Namun, Belanda mencurigai kumpulan tersebut. Jamiatul Khair tetap ingin diakui sebagai organisasi dan mengajukan permohonan pada 1903. Baru pada 1905 mereka resmi diakui sebagai organisasi oleh pemerintah kolonial Belanda.

Ide dasar dari perkumpulan Jamiatul Khair adalah untuk memunculkan ide para pemuda Islam untuk membentuk organisasi organisasi kebangsaan lainnya seperti Budi Utomo yang berdiri pada 1908. Sejarah perkumpulan Jamiatul Khair dan adanya sumber mata air di dalam masjid ini yang tak pernah kering makin menghiasi sejarah dari Masjid Ar Raudah di Pekojan II ini.

Masjid ini berada di Jalan Pekojan II dan masuk ke dalam sebuah gang kecil, dengan banyak rumah di sekitarnya. Tampak luar masjid didominasi oleh warna cat putih dan hijau pada pintu dan jendela. Dominasi warna cat masjid ini sama halnya seperti Masjid An Nawier yang berada tepat di depan Jembatan Kambing dan Penjagalan, di kawasan yang sama. Masjidnya berlantai satu, dari luar memang tak tampak seperti masjid, bahkan layaknya rumah biasa saja. Di luarnya juga terdapat sofa-sofa sebagai tempat duduk di teras masjid.

Namun, ketika kita memasuki ke dalam, itu benar adalah masjid. Bagian depan ruangan terdapat mimbar, sajadah panjang, rak tempat Al Qur’an, dan bagian pojok kiri terdapat ruang shalat bagi wanita. Beranjak kepada ruangan selanjutnya, maka kita akan dikejutkan oleh sekolam mata air yang besar. Mata air di dalam Masjid Ar Raudah ini dikenal warga dengan mata air yang tak pernah kering meski pada musim kemarau sekali pun, bahkan kedalaman airnya pun tak diketahui. Bentuknya seperti kolam air biasa saja, banyak warga pun jika musim kemarau tiba mengambil air dari sana. ***

Sunday, January 15, 2017

Masjid Sela Peninggalan Sultan Hamengkubowono I

Kecil dengan gaya dan kesannya sendiri, masjid Sela bertahan melintasi waktu dari era Sultan Hamengkubuwono I sebagai masjid Panepen hinga saat ini. 

Masjid Sela adalah salah satu masjid tua bersejarah di Yogyakarta, lokasinya berada di RT 41, RW II, Kampung Panembahan, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini terletak di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat, akses jalan untuk menuju ke ini merupakan gang kampung yang sempit. Bahkan pengendara kendaraan beroda dua pun harus menuntun kendaraannya untuk memasuki wilayah ini.

Ukuran masjid Sela hanya seukuran sebuah mushola yakni sekitar 6 m x 6 m berdiri diatas lahan seluas 7 m x 8 m, dengan daya tamping hanya sekitar 30-40 jemaah saja. Atap masjid ini masih merupakan bangunan lama dengan motif atap wajik. Kemuncak dari masjid ini juga masih merupakan bangunan lama, berbentuk kerucut dengan ornamen yang kucup kaya di semua sisi dan sudutnya. Kemuncak semacam ini agak umum terdapat pada masjid-masjid Jawa di masa lalu.


Masjid ini dulunya juga dilengkapi dengan kolam di bagian depan (halamannya). Sama seperti masjid-masjid di Jawa masa lalu. Kolam yang difungsikan untuk mencuci kaki bagi siapa pun yang akan memasuki masjid dan sebagai lambang pensucian diri ini sekarang sudah tidak ada lagi. Keberadaan kolam ini telah tergantikan oleh lantai yang diperkeras dengan ubin batu.

Pada era 1960-an kompleks masjid ini sempat terbengkalai. Ruang di dalam masjid digunakan untuk tempat penyimpanan keranda, kolam di depan masjid ini digunakan untuk pembuangan sampah. Baru pada tahun 1965-an dilakukan rehabilitasi untuk memulihkan kondisinya dan setelah kembali difungsikan sebagaimana mestinya dan terbuka untuk khalayak umum.

Masjid Untuk Pangeran

Masjid Sela ini pada mulanya adalah sebuah masjid panepen yang dibuat di dalam kompleks rumah (dalem) pangeran. Jadi fungsinya lebih sebagai masjid keluarga pangeran. Sebagai masjid panepen yang berasal dari kata nenepi dan bermakna menyendiri atau semadi ini Masjid Sela memang lebih difungsikan untuk hal yang demikian. Artinya, pada waktu-waktu tertentu masjid ini memang digunakan untuk bertafakur oleh pangeran atau keluarga yang memilikinya.

Merujuk kepada angka tahun yang tertulis pada papan di atas pintu masjid ini, Masjid Sela dibangun tahun 1709 Saka atau sekitar tahun 1787 Miladiyah, dimasa kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I yang berkuasa Antara tahun 1755 – 1792, kemudian dilanjutkan di masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana II (1792-1810).***

Saturday, January 14, 2017

Masjid Pajimatan Imogiri Peninggalan Sultan Agung

Masjid Pajimatan, Masjid yang dibangun di komplek pemakaman raja raja Mataram di Imogiri.

Masjid Pajimatan merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta, peninggalan raja Mataram Islam, Sultan Agung, Usia masjid tersebut hampir sama dengan Masjid Kotagede dan Masjid Giriloyo. Lokasinya berada satu kompleks dengan makam raja-raja Mataram di Dusun Pajimatan, Kecamatan Imogiri, Bantul. Dari Kota Yogyakarta, Masjid Pajimatan sekitar 17 kilometer ke arah selatan wilayah Imogiri.

Letak masjid berada di kawasan perbukitan Pajimatan yang menjadi satu kompleks atau satu kesatuan dengan makam Sultan Agung, makam trah Kasunanan Solo dan trah Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Hanya saja letaknya masih di bawah bukit. Sedang untuk mencapai kompleks makam, dari masjid harus menaiki sekitar 415 anak tangga.

Tidak diketahui dengan pasti mengapa masjid itu dinamakan Masjid Pajimatan, hanya diketahui nama dusun di kawasan itu bernama Dusun Pajimatan begitupun dengan bukit tempatnya berdiri. Namun nama Pajimatan mengingatkan kita akan nama jimat yang berarti sesuatu yang dianggap keramat, sakral atau mistik.


Masjid Pajimatan diperkirakan dibangun pada tahun 1632 oleh Tumenggung Citrokusumo atas perintah Sultan Agung Hanyakrakusumo. Sejak itu pembangunannya dilanjutkan raja-raja berikutnya. Bangunan ini masih asli meski ada beberapa tempat yang direstorasi untuk mencegah kerusakan. Pada saat gempa melanda wilaya Bantul tahun 2006 lalu, bangunan masjid tidak banyak yang rusak seperti kompleks makam yang ada di atasnya. Beberapa tembok bangunan hanya retak-retak dan sudah diperbaiki.

Dari sisi arsitektur bangunan masjid juga sama dengan bangunan masjid tua lainnya dengan model limasan dengan atap tumpang satu (tajug) di ujung atapnya terdapat Mustaka menyerupai mahkota berbentuk bunga kenanga dari tembaga. Tembok bangunan menggunakan batu bata merah namun bila dibandingkan dengan batu bata sekarang ini, ukurannya lebih besar dan tebal dengan bahan perekat menggunakan batu kapur, sedangkan konstruksi penopang atap dan lainnya menggunakan kayu jati.

Ruang utama masjid ini kira kira seluas 89 meter persegi terbagi dua yang terpisah untuk jamaah laki-laki dan perempuan, dilengkapi dengan mimbar dan bedug masjid. Di halaman masjid menjelang pintu masuk terdapat kolam yang dulunya merupakan kolam untuk berwudhu dan mencuki kaki sebelum masuk ke masjid namun kini sudah dijadikan kolam ikan. Untuk keperluan berwudhu dan mencuci kaki sudah disediakan keran keran air.

Oleh karena masjid ini merupakan satu kesatuan dengan kompleks makam, lanjut Mangun, masjid ini diurus dan dijaga oleh 12 orang abdi dalem keraton. Mereka semua adalah warga dusun sekitar yang diberi tugas merawat sekitar lingkungan masjid secara bergiliran. Dan karena lokasinya juga, masjid ini menjadi tempat beriadah bagi para peziarah yang datang ke komplek pemakaman tersebut.***
 

Sunday, January 8, 2017

Masjid Giriloyo Yogyakarta

Masjid Giriloyo berada di komplek pamakaman Giriloyo.

Masjid Giriloyo adalah masjid tua yang berada di komplek pemakaman Giriloyo di Dusun Giriloyo, desa Wukirsari kecamatan Imogiri, kabupaten Bantul, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdirinya kompleks Masjid dan Makam Giriloyo ini, erat kaitannya dengan Masjid Pajimatan dan kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, usia kedua masjid dan pemakaman ini diperkirakan tidak jauh berbeda, dibangun sekitar abad 16 Miadiyah. Kedua tempat tersebut diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Masjid Giriloyo atau Girilaya dibangun oleh Pangeran Juminah (Paman Sultan Agung) Atas perintah langsung dari Sultan Agung, sebagai bagian dari rencana pembangunan komplek pemakaman kerajaan. Lokasi-nya berdekatan dengan makam Sultan Cirebon ke VI, Panembahan Ratu Pakungwati II yang merupakan menantu dari Raja Mataram Sunan Amangkurat I (Putra Sultan Agung), Panembahan Ratu Pakungwati II dikenal dengan nama Panembahan Girilaya karena dimakamkan di Girilaya (Giriloyo).


Di Pemakaman Giriloyo terdapat makam Pangeran Juminah dan keluarganya, serta ibunda dari Sultan Agung. Letak komplek makam Giriloyo berada di perbukitan yang lokasinya lebih tinggi dari masjid ini, untuk sampai ke makam harus menaiki tangga batu dan semua orang akan melewati Masjid Giriloyo yang berada di bawahnya.

Kompleks makam Pangeran Juminah di-urus dan dijaga beberapa abdi dalem keraton yang ditunjuk untuk bertugas. Sebagian besar adalah warga sekitar Dusun Cengkehan Giriloyo. Sedangkan pembangunan masjid kemudian di lanjutkan oleh Kiai Marzuki dan keluarganya. Untuk makam di sekeliling masjid atau yang ada di bawah adalah diperuntukkan warga dusun setempat saja.

Bagian ruang utama Masjid Giriloyo masih utuh seperti semula dengan atap model tumpang atau tajug dengan empat saka guru dari kayu jati yang. Bangunan masjid berdenah bujur sangkar dengan luas sekitar 80 meter persegi. Di dalam ruangan tersebut terdapat mimbar tempat khatib menyampaikan khotbah.

Dinding bangunan terbuat dari batu bata yang diplester. Sedangkan lantai masjid terbuat dari tegel warna hijau tua. Selain itu terdapat bedug, kentongan dan beberapa keranda yang disimpan di samping masjid. Gempa 27 Mei 2006 sempat membuat retak-retak pada tembok sisi selatan masjid ini namun sudah diperbaiki.

Di sebelah selatan ruang utama terdapat ruang pawestren yang dulu biasa digunakan untuk jamaah perempuan. Serambi masjid juga masih ada dan berbentuk seperti aslinya. Di depan serambi masjid terdapat kolam dengan ukuran 10 x 1,5 meter yang digunakan para jamaah membersihkan kaki sebelum masuk masjid agar bersih dari segala kotoran.

Masjid Giriloyo dilengkapi dengan tiga buah pintu dan empat jendela, namun ruang utama masjid masih tampak gelap dan temaram ditambah dengan udara di dalam masjid yang sangat sejuk karena banyak pepohonan rindang yang tumbuh di sekeliling masjid, memberikan nuansa ke-khusu’an tersendiri beribadah di masjid tua ini.***


Saturday, January 7, 2017

Masjid Raya Al-A'zhom Tangerang

Empat menara lancip dan ramping menjulang mengapit kubah besar di atap masjid merupakan ciri utama masjid masjid dari era kejayaan Emperium Usmaniyah yang berpusat di Istambul, Turki. Rancangan klasik dinasti ke-khalifahan Islam terahir tersebut di aplikasikan dengan apik dalam sentuhan moderan di masjid Raya Al-A'zom Tangerang, Provinsi Banten ini.

Masjid Raya Al-A’zom dalah masjid yang berada di komplek perkantoran Pemerintah Kota Tangerang, provinsi Banten. Kubah bersusun berukuran besar dengan empat menara yang menjulang merupakan fitur utama tampilan Masjid Raya Al-A’zom ini. Kubah masjid ini terlihat benar benar mendominasi keseluruhan bangunan masjid. Empat menara masjid ini masing masing memiliki tingi 55 meter, dengan ujung berebentuk panjang meruncing, sangat khas bangunan masjid era emperium Usmaniyah yang berpusat di Istambul Turki. Gaya bangunan seperti ini memang ciri khas dari bangunan masjid dari era tersebut.

Masjid Raya Al-A’zom dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan ruangan yang luas di dalam masjid dengan memanfaatkan keunggulan bahan bangunan modern dan keunggulan struktur bangunan kubah semi monokok menghasilkan area luas di bawah kubah tanpa tiang penyanggah. Kolom kolom penopang besar ditempatkan disekililing lingkar luar susunan kubah sekaligus sebagai penyanggah kubah yang juga sebagai atap masjid. Sisi dalam kubah juga memberikan ruang luas dibawah nya, menghasilkan efek sejuk alami dari sirkulasi udara yang baik dan penggunaan batu batu alam sebagai material bangunannya. Nuansa tradisional terasa sekali pada bagian interior, dengan sejumlah perangkat dan ornamen yang memunculkan nuansa tradisional itu.





Masjid Al-A’zom dibangun dengan satu kubah utama berdiameter 32,782 meter di bagian tengah ditopang oleh empat bangun semi kubah di empat sisi, masing masing bangun semi kubah ini berdiameter 32,782 meter, sehingga luas keseluruhannya mencapai 3.142 meter persegi, seluas itu pula luasan tanpa tiang yang ada dibawah tumpukan lima kubah ini. Berat keseluruhan lima kubah ini mencapai 300 ton. Seberat itu pula beban yang ditanggung oleh jejeran tiang tiang besar penopang struktur kubah ini yang menjadi unsur dekoratif tersendiri di masjid ini. Tiang tiang ini berketinggian rata rata tujuh meter dari permukaan lantai.

Sisi luar kubah ini di dominasi dengan warna hijau putih sedangkan sisi dalamnya di dominasi dengan warna ke-emasan. Kaligrafi Al-Qur’an menjadi pilihan ornamen di bagian dalam kubah. Kubah sisi barat, dihias kaligrafi Surah an-Nur ayat 35, Al-Baqarah 255 dan 285. Kubah sisi selatan, kaligrafi Surah at-Taubah 105, Ali Imran 112, dan Al-An’am 132-133. kubah sisi timur dihias dengan Kaligrafi Surah Al Bayyinah ayat 5 dan Ar-Ruum 30-33, sedangkan, kubah sisi utara dihias kaligrafi Surah al-Anbiyaa 107, al-Fath 29, dan Luqman 17-18.

Masjdi Raya Al-A’zom Tangerang ini dirancang oleh arsitek Slamet Wirasonjaya. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 7 Juli 1997 dan diresmikan pada 28 Februari 2003 oleh Menteri Agama Said Agil Husin al-Munawar, Berdiri di atas lahan seluas 20.810m2 Masjid Raya Al-A’zom terdiri dari dua lantai. Lantai dasar seluas 4.790 meter persegi, sementara luas lantai dua mencapai 909,92 meter persegi. Masjid Raya ini dilengkapi dengan perpustakaan dan perkantoran bagi lembaga lembaga Islam di kota Tangerang.

Pekarangan masjid ini cukup luas terdiri dari lahan parkir dan taman yang dihijaukan dengan aneka tanaman termasuk pohon kurma yang ditanam disisi jalan utama menuju ke pintu masuk masjid, serta tanaman tanaman lokal lainnya seperti palem, lengkeng, sawo kecil, kecapi, mangga, hingga jambu air. Di masjid ini juga dilengkapi dengan sebuah keran yang airnya dapat langsung diminum, berada di sisi kanan pintu masuk dan sebuah beduk besar berdiameter 185 cm.

Pada monumen peresmian yang berdiri di halaman depan masjid tertera bahwa peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan pada 7 Juli 1997 oleh Walikota Tangerang saat itu yaitu H Djakaria Machmud dengan Ketua Panitia Pembangunannya HMA Thahiruddin. Pembangunan pun selesai pada 28 Pebruari 2003 dan diresmikan oleh Menteri Agama RI saat itu yaitu Said Agil Husin Al Munawar. Sementara seremonial peresmiannya juga dilakukan pada 23 April 2003 oleh Walikota Tangerang saat itu H Moch Thamrin.***


Sunday, January 1, 2017

Masjid Besar Pakualaman Yogyakarta

Gapura Masjid Pakualaman

Masjid Pakualaman adalah Masjid Resmi Puro Pakualaman yang berada di kelurahan Kauman, kecamatan Pakualaman kota Yogyakarta, lokasi nya berada disebelah barat laut alun alun Sewandanan diluar komplek Puro, sekitar dua kilometer kea rah timur laut dari karton Yogyakarta. Karena faktor usia dan sejarahnya Masjid Pakualaman merupakan salah satu benda cagar budaya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan usianya yang sudah mendekati dua abad, kondisi masjid Puro Pakualaman ini sangat terawat. Bangunan utama masjidnya berupa bangunan joglo dengan empat sokoguru ditengah ruangan sebagai penyanggah struktur atap, bangunan ini memiliki luas luas 144 m2 dan dilengkapi dengan empat buah serambi dengan luas 238 m2. Didalam masjid dilengkapi dengan mihrab dan sebuah mimbar kayu berukir dibalut dengan warna emas.

Sejarah Masjid Pakualaman

Sejarah pembangunan masjid ini dicatat dalam empat prasarti yang ada di masjid ini. Dua prasasti menggunakan aksara arab dan dua prasasti menggunakan aksara Jawa. Dari dua jenis prasasti tersebut terdapat dua tarikh yang berbeda, prasasti yang berada disebelah utara masjid bertarikh Jawa 1767 atau bertepatan dengan tahun 1839 Miladiyah, sedangkan prasasti disebelah selatan menunjukkan tarikh Jawa yang bertepatan dengan tahun 1855 Miladiyah

Meski ada perbedaan tarikh pada dua prasasti tersebut namun pada umumnya para ahli bersepakat bahwa masjd Pakualaman dibangun oleh KRT Natadiningrat atau Sri Paku Alam II pada tahun 1831 yang berkuasa di wilayah Kadipaten Pakualaman dan Kadipaten Karang Kemuning paska perang Diponegoro.




Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Natadiningrat atau Kanjeng Pangerang Haryo (KPH) Suryaningrat atau Sri Paku Alam II dinobatkan sebagai Raja di Kraton Puro Pakualaman pada tanggal 4 Januari 1830 dan wafat pada tanggal 13 Juli 1885 dimakamkan di Pesarean Hastana Kotagede Yogyakarta. Beliau naik tahta menggantikan mendiang ayahandanya Pangeran Natakusuma atau Sri Paku Alam I yang wafat pada tahun 1829.

Selain sebagai Raja, Sri Paku Alam II juga dikenal sebagai seorang seniman ulung yang sangat terkenal. Paska perang Diponegoro, Paku Alam II banyak sekali menghasilkan karya seni termasuk juga mengenalkan seni musik dan drama secara terbuka di kalangan Kraton dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya.

Selain mendirikan dan memimpin jama’ah di masjid Puro Paku Alam, Sri Paku Alam II juga menulis karya sastra Serat Baratayudha dan Serat DewaRuci yang berisi tentang penjabaran dua kalimat syahadat dan sifat Allah yang dua puluh. Beliau juga dikenal dengan titahnya yang berbunyi : "Barang siapa masuk Masjid Puko Paku Alam, saya mengharap dengan sangat agar membasuh diri atau bersuci hingga bersih, juga agar turut menjaga kebersihan dengan menyapu serambi masjid dan halamanya".***