Sunday, January 1, 2017

Masjid Besar Pakualaman Yogyakarta

Gapura Masjid Pakualaman

Masjid Pakualaman adalah Masjid Resmi Puro Pakualaman yang berada di kelurahan Kauman, kecamatan Pakualaman kota Yogyakarta, lokasi nya berada disebelah barat laut alun alun Sewandanan diluar komplek Puro, sekitar dua kilometer kea rah timur laut dari karton Yogyakarta. Karena faktor usia dan sejarahnya Masjid Pakualaman merupakan salah satu benda cagar budaya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan usianya yang sudah mendekati dua abad, kondisi masjid Puro Pakualaman ini sangat terawat. Bangunan utama masjidnya berupa bangunan joglo dengan empat sokoguru ditengah ruangan sebagai penyanggah struktur atap, bangunan ini memiliki luas luas 144 m2 dan dilengkapi dengan empat buah serambi dengan luas 238 m2. Didalam masjid dilengkapi dengan mihrab dan sebuah mimbar kayu berukir dibalut dengan warna emas.

Sejarah Masjid Pakualaman

Sejarah pembangunan masjid ini dicatat dalam empat prasarti yang ada di masjid ini. Dua prasasti menggunakan aksara arab dan dua prasasti menggunakan aksara Jawa. Dari dua jenis prasasti tersebut terdapat dua tarikh yang berbeda, prasasti yang berada disebelah utara masjid bertarikh Jawa 1767 atau bertepatan dengan tahun 1839 Miladiyah, sedangkan prasasti disebelah selatan menunjukkan tarikh Jawa yang bertepatan dengan tahun 1855 Miladiyah

Meski ada perbedaan tarikh pada dua prasasti tersebut namun pada umumnya para ahli bersepakat bahwa masjd Pakualaman dibangun oleh KRT Natadiningrat atau Sri Paku Alam II pada tahun 1831 yang berkuasa di wilayah Kadipaten Pakualaman dan Kadipaten Karang Kemuning paska perang Diponegoro.




Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Natadiningrat atau Kanjeng Pangerang Haryo (KPH) Suryaningrat atau Sri Paku Alam II dinobatkan sebagai Raja di Kraton Puro Pakualaman pada tanggal 4 Januari 1830 dan wafat pada tanggal 13 Juli 1885 dimakamkan di Pesarean Hastana Kotagede Yogyakarta. Beliau naik tahta menggantikan mendiang ayahandanya Pangeran Natakusuma atau Sri Paku Alam I yang wafat pada tahun 1829.

Selain sebagai Raja, Sri Paku Alam II juga dikenal sebagai seorang seniman ulung yang sangat terkenal. Paska perang Diponegoro, Paku Alam II banyak sekali menghasilkan karya seni termasuk juga mengenalkan seni musik dan drama secara terbuka di kalangan Kraton dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya.

Selain mendirikan dan memimpin jama’ah di masjid Puro Paku Alam, Sri Paku Alam II juga menulis karya sastra Serat Baratayudha dan Serat DewaRuci yang berisi tentang penjabaran dua kalimat syahadat dan sifat Allah yang dua puluh. Beliau juga dikenal dengan titahnya yang berbunyi : "Barang siapa masuk Masjid Puko Paku Alam, saya mengharap dengan sangat agar membasuh diri atau bersuci hingga bersih, juga agar turut menjaga kebersihan dengan menyapu serambi masjid dan halamanya".***