Sunday, January 15, 2017

Masjid Sela Peninggalan Sultan Hamengkubowono I

Kecil dengan gaya dan kesannya sendiri, masjid Sela bertahan melintasi waktu dari era Sultan Hamengkubuwono I sebagai masjid Panepen hinga saat ini. 

Masjid Sela adalah salah satu masjid tua bersejarah di Yogyakarta, lokasinya berada di RT 41, RW II, Kampung Panembahan, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini terletak di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat, akses jalan untuk menuju ke ini merupakan gang kampung yang sempit. Bahkan pengendara kendaraan beroda dua pun harus menuntun kendaraannya untuk memasuki wilayah ini.

Ukuran masjid Sela hanya seukuran sebuah mushola yakni sekitar 6 m x 6 m berdiri diatas lahan seluas 7 m x 8 m, dengan daya tamping hanya sekitar 30-40 jemaah saja. Atap masjid ini masih merupakan bangunan lama dengan motif atap wajik. Kemuncak dari masjid ini juga masih merupakan bangunan lama, berbentuk kerucut dengan ornamen yang kucup kaya di semua sisi dan sudutnya. Kemuncak semacam ini agak umum terdapat pada masjid-masjid Jawa di masa lalu.


Masjid ini dulunya juga dilengkapi dengan kolam di bagian depan (halamannya). Sama seperti masjid-masjid di Jawa masa lalu. Kolam yang difungsikan untuk mencuci kaki bagi siapa pun yang akan memasuki masjid dan sebagai lambang pensucian diri ini sekarang sudah tidak ada lagi. Keberadaan kolam ini telah tergantikan oleh lantai yang diperkeras dengan ubin batu.

Pada era 1960-an kompleks masjid ini sempat terbengkalai. Ruang di dalam masjid digunakan untuk tempat penyimpanan keranda, kolam di depan masjid ini digunakan untuk pembuangan sampah. Baru pada tahun 1965-an dilakukan rehabilitasi untuk memulihkan kondisinya dan setelah kembali difungsikan sebagaimana mestinya dan terbuka untuk khalayak umum.

Masjid Untuk Pangeran

Masjid Sela ini pada mulanya adalah sebuah masjid panepen yang dibuat di dalam kompleks rumah (dalem) pangeran. Jadi fungsinya lebih sebagai masjid keluarga pangeran. Sebagai masjid panepen yang berasal dari kata nenepi dan bermakna menyendiri atau semadi ini Masjid Sela memang lebih difungsikan untuk hal yang demikian. Artinya, pada waktu-waktu tertentu masjid ini memang digunakan untuk bertafakur oleh pangeran atau keluarga yang memilikinya.

Merujuk kepada angka tahun yang tertulis pada papan di atas pintu masjid ini, Masjid Sela dibangun tahun 1709 Saka atau sekitar tahun 1787 Miladiyah, dimasa kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I yang berkuasa Antara tahun 1755 – 1792, kemudian dilanjutkan di masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana II (1792-1810).***