Saturday, January 14, 2017

Masjid Pajimatan Imogiri Peninggalan Sultan Agung

Masjid Pajimatan, Masjid yang dibangun di komplek pemakaman raja raja Mataram di Imogiri.

Masjid Pajimatan merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta, peninggalan raja Mataram Islam, Sultan Agung, Usia masjid tersebut hampir sama dengan Masjid Kotagede dan Masjid Giriloyo. Lokasinya berada satu kompleks dengan makam raja-raja Mataram di Dusun Pajimatan, Kecamatan Imogiri, Bantul. Dari Kota Yogyakarta, Masjid Pajimatan sekitar 17 kilometer ke arah selatan wilayah Imogiri.

Letak masjid berada di kawasan perbukitan Pajimatan yang menjadi satu kompleks atau satu kesatuan dengan makam Sultan Agung, makam trah Kasunanan Solo dan trah Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Hanya saja letaknya masih di bawah bukit. Sedang untuk mencapai kompleks makam, dari masjid harus menaiki sekitar 415 anak tangga.

Tidak diketahui dengan pasti mengapa masjid itu dinamakan Masjid Pajimatan, hanya diketahui nama dusun di kawasan itu bernama Dusun Pajimatan begitupun dengan bukit tempatnya berdiri. Namun nama Pajimatan mengingatkan kita akan nama jimat yang berarti sesuatu yang dianggap keramat, sakral atau mistik.


Masjid Pajimatan diperkirakan dibangun pada tahun 1632 oleh Tumenggung Citrokusumo atas perintah Sultan Agung Hanyakrakusumo. Sejak itu pembangunannya dilanjutkan raja-raja berikutnya. Bangunan ini masih asli meski ada beberapa tempat yang direstorasi untuk mencegah kerusakan. Pada saat gempa melanda wilaya Bantul tahun 2006 lalu, bangunan masjid tidak banyak yang rusak seperti kompleks makam yang ada di atasnya. Beberapa tembok bangunan hanya retak-retak dan sudah diperbaiki.

Dari sisi arsitektur bangunan masjid juga sama dengan bangunan masjid tua lainnya dengan model limasan dengan atap tumpang satu (tajug) di ujung atapnya terdapat Mustaka menyerupai mahkota berbentuk bunga kenanga dari tembaga. Tembok bangunan menggunakan batu bata merah namun bila dibandingkan dengan batu bata sekarang ini, ukurannya lebih besar dan tebal dengan bahan perekat menggunakan batu kapur, sedangkan konstruksi penopang atap dan lainnya menggunakan kayu jati.

Ruang utama masjid ini kira kira seluas 89 meter persegi terbagi dua yang terpisah untuk jamaah laki-laki dan perempuan, dilengkapi dengan mimbar dan bedug masjid. Di halaman masjid menjelang pintu masuk terdapat kolam yang dulunya merupakan kolam untuk berwudhu dan mencuki kaki sebelum masuk ke masjid namun kini sudah dijadikan kolam ikan. Untuk keperluan berwudhu dan mencuci kaki sudah disediakan keran keran air.

Oleh karena masjid ini merupakan satu kesatuan dengan kompleks makam, lanjut Mangun, masjid ini diurus dan dijaga oleh 12 orang abdi dalem keraton. Mereka semua adalah warga dusun sekitar yang diberi tugas merawat sekitar lingkungan masjid secara bergiliran. Dan karena lokasinya juga, masjid ini menjadi tempat beriadah bagi para peziarah yang datang ke komplek pemakaman tersebut.***