Sunday, January 8, 2017

Masjid Giriloyo Yogyakarta

Masjid Giriloyo berada di komplek pamakaman Giriloyo.

Masjid Giriloyo adalah masjid tua yang berada di komplek pemakaman Giriloyo di Dusun Giriloyo, desa Wukirsari kecamatan Imogiri, kabupaten Bantul, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdirinya kompleks Masjid dan Makam Giriloyo ini, erat kaitannya dengan Masjid Pajimatan dan kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, usia kedua masjid dan pemakaman ini diperkirakan tidak jauh berbeda, dibangun sekitar abad 16 Miadiyah. Kedua tempat tersebut diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Masjid Giriloyo atau Girilaya dibangun oleh Pangeran Juminah (Paman Sultan Agung) Atas perintah langsung dari Sultan Agung, sebagai bagian dari rencana pembangunan komplek pemakaman kerajaan. Lokasi-nya berdekatan dengan makam Sultan Cirebon ke VI, Panembahan Ratu Pakungwati II yang merupakan menantu dari Raja Mataram Sunan Amangkurat I (Putra Sultan Agung), Panembahan Ratu Pakungwati II dikenal dengan nama Panembahan Girilaya karena dimakamkan di Girilaya (Giriloyo).


Di Pemakaman Giriloyo terdapat makam Pangeran Juminah dan keluarganya, serta ibunda dari Sultan Agung. Letak komplek makam Giriloyo berada di perbukitan yang lokasinya lebih tinggi dari masjid ini, untuk sampai ke makam harus menaiki tangga batu dan semua orang akan melewati Masjid Giriloyo yang berada di bawahnya.

Kompleks makam Pangeran Juminah di-urus dan dijaga beberapa abdi dalem keraton yang ditunjuk untuk bertugas. Sebagian besar adalah warga sekitar Dusun Cengkehan Giriloyo. Sedangkan pembangunan masjid kemudian di lanjutkan oleh Kiai Marzuki dan keluarganya. Untuk makam di sekeliling masjid atau yang ada di bawah adalah diperuntukkan warga dusun setempat saja.

Bagian ruang utama Masjid Giriloyo masih utuh seperti semula dengan atap model tumpang atau tajug dengan empat saka guru dari kayu jati yang. Bangunan masjid berdenah bujur sangkar dengan luas sekitar 80 meter persegi. Di dalam ruangan tersebut terdapat mimbar tempat khatib menyampaikan khotbah.

Dinding bangunan terbuat dari batu bata yang diplester. Sedangkan lantai masjid terbuat dari tegel warna hijau tua. Selain itu terdapat bedug, kentongan dan beberapa keranda yang disimpan di samping masjid. Gempa 27 Mei 2006 sempat membuat retak-retak pada tembok sisi selatan masjid ini namun sudah diperbaiki.

Di sebelah selatan ruang utama terdapat ruang pawestren yang dulu biasa digunakan untuk jamaah perempuan. Serambi masjid juga masih ada dan berbentuk seperti aslinya. Di depan serambi masjid terdapat kolam dengan ukuran 10 x 1,5 meter yang digunakan para jamaah membersihkan kaki sebelum masuk masjid agar bersih dari segala kotoran.

Masjid Giriloyo dilengkapi dengan tiga buah pintu dan empat jendela, namun ruang utama masjid masih tampak gelap dan temaram ditambah dengan udara di dalam masjid yang sangat sejuk karena banyak pepohonan rindang yang tumbuh di sekeliling masjid, memberikan nuansa ke-khusu’an tersendiri beribadah di masjid tua ini.***