Tuesday, May 3, 2016

Masjid Agung A.G. KH Abdul Rahman Ambo Dalle Kota Pare Pare

Tampak Menjulang karena memang dibangun diatas tanah yang berkontur lebih tinggi dari permukaan jalan, membuat masjid ini begitu tinggi dari jalan raya dan harus melalui sederetan anak tangga untuk masuk ke dalam masjid ini.
Kota Pare Pare merupakan salah satu Kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Seperti kota dan kabupaten lainnya di provinsi Sulsel, Kota Pare Pare telah memiliki Masjid Agung dikenal dengan nama Masjid Agung Kota Pare Pare. Masjid Agung Kota Parepare diresmikan penggunaannya tanggal 11 Oktober 2013 oleh Walikota Parepare H.Sjamsu Alam. Masjid Agung disebut-disebut sebagai masjid terindah kedua di Sulsel setelah Al-Markaz Al –Islami, pembangunannya menelan anggaran Rp. 24 miliar. Anggaran ini bersumber dari APBD Kota Parepare.

Tahun 2015 Masjid Agung Parepare secara resmi berganti nama menjadi Masjid AG KH Abdul Rahman Ambo Dalle, sesuai dengan Surat Keputusan Wali Kota Parepare nomor 952 tahun 2015 tentang penetapan nama Masjid Agung AG. KH Abdul Rahman Ambo Dalle yang dibacakan pada Haul ke-19 wafatnya AG KH Ambo Dalle, di kompleks Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Lil Banat, Ujung Lare, Ahad 29 November 2015. Anre Gurutta (AG) K.H. Abd. Rahman Ambo Dalle adalah tokoh terkemuka di Pare Pare dan sekitarnya. semasa hidupnya beliau dikenal sebai seorang guru terkemuka. salah satu peninggalan beliau adalah Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Lil Banat, Ujung Lare, yang masih berdiri hingga saat ini.

Lokasi dan alamat Masjid Agung Pare Pare

JL. Jendral Ahmad Yani km 2, Ujung Baru
Soreang, Kota Pare-Pare Provinsi Sulawesi Selatan


Masjid Agung Parepare dapat diakses dari dua jalan, yakni Jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan poros Parepare-Kabupaten Sidrap, dan Jalan PDAM yang berada tepat di belakang masjid. Masjid berlantai tiga ini dapat menampung sekitar 2000 jemaah sekaligud ditambah dengan area pelatarannya yang diperkirakan dapat menampung hingga 3000 jemaah.

Fasilitas Masjid Agung Pare Pare

Masjid Agung Pare Pare dilengkapi fasilitas aula serba guna di lantai dasar yang dapat menampung sekitar 500 orang, full AC dan diperuntukan untuk acara-acara berskala besar, seperti pernikahan dan acara penting lainnya di Kota Parepare. Masjid ini juga memiliki ruang underground yang diperuntukkan untuk tempat berkantor bagi organisasi-organisasi Islam di Parepare. Masih di area underground yang berdekatan dengan tangga masuk, disiapkan puluhan toilet laki-laki, dan tempat berwudhu sebanyak 40 buah di sisi kanan dan 40 buah di sisi kiri.

Setiap pengunjung yang datang ke masjid ini terlebih dahulu melewati area berwudhu sebelum mendaki puluhan anak tangga menuju bangunan utama masjid. Tempat berwudhu yang sangat representatif juga dapat ditemukan di bagian belakang masjid untuk jamaah yang masuk melalui akses jalan PDAM. Masjid ini menjadi landmark Kota Parepare dan diharapkan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi warga luar daerah berkunjung ke Parepare. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Parepare, dapat menjadi alternatif lain pemerintah kota dan masyarakat Parepare dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan ke-Islaman bersakala besar yang selama ini lebih banyak dilaksanakan di Islamic Centre.

Empar menara di empat sudut bangunan ditambah satu menara terpisah dari bangunan utama.

Arsitektural Masjid Agung Pare Pare

Masjid Agung Pare Pare dilengkapi empat menara di empat sisi bangunannya, Luas bangunan utama 1,764 meter persegi (42 meter x 42 meter), terdiri dari tiga lantai. Sementara ruang underground 750 meter persegi (25 x 30). area parkir Masjid ini dapat menampung 30 mobil di areal parkir bawah, dan 40 mobil untuk areal parkir bagian atas. Rancangan masjid ini akan dilengkapi dengan Satu Menara lagi dengan tinggi hingga 60 meter terpisah dari bangunan masjid. Hanya saja Menara tersebut runtuh di bulan Oktober 2014 yang lalu dan hingga saat tulisan ini di posting, perbaikan menara tersebut masih berlangsung.

Secara arsitektur, Masjid Agung Parepare mengadopsi tiga konsep masjid besar di tanah air, yakni Masjid Agung Kota Surabaya, Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, dan Masjid Agung Kalimantan Timur. Untuk konsep menara dan ruang shalat utama, mengambil contoh Masjid Al Markaz Al-Islami Makassar. Sementara untuk kubah utama mengadopsi  Majid Agung Surabaya. Sedang untuk Masjid Kalimantan Timur yang diadopsi  adalah pemanfaatan landskap ruang.

Ornamen masjid dibuat khas ala timur tengah. Selain itu, di setiap sudut tiang tertuliskan lafaz Allah, Arrahman dan Arrahim. Sedangkan di  dalam lingkaran kubah masjid terdapat kaligrafi Asmaul Husna. Masjid ini dikerjakan PT Nindya Karya Divisi V Makassar selama tiga tahun, menghabiskan anggaran sebesar Rp. 24 miliar. Masjid Agung Pare Pare dibangun dengan memanfaatkan kontur tanah yang berada di atas ketinggian sekitar 13 meter dari jalan raya dan 70 meter dari atas permukaan laut.

------------ooo000ooo------------

Baca Juga