Showing posts with label masjid di sulawesi. Show all posts
Showing posts with label masjid di sulawesi. Show all posts

Sunday, June 22, 2025

Masjid Besar Taqwa Tompong Warisan Dari Masa Kerajaan Bantaeng

Masjid Besar Taqwa Tompong 
 
Masjid Besar Taqwa Tompong adalah masjid tua yang berdiri kokoh di Kampung Tompong, Kelurahan Letta, kecamatan Bantaeng kabupaten Bantaeng provinsi Sulawesi Selatan. Selain dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Butta Toa (julukan bagi daerah Bantaeng), masjid ini juga menjadi saksi bisu sejumlah pertemuan raja, pemangku adat dua belas, serta aktivitas penyebar agama Islam di Bantaeng, pada masa lalu.
 
Sebagaimana ditulis di papan nama dibagian depan masjid, Masjid Besar Taqwa Tompong dibangun pada 27 Rabiul Akhir 1302 Hijriah bertepatan dengan tanggal 8 Februarui 1885 Masehi pada masa kekuasaan Kerajaan Bantaeng, salah satu kerajaan yang pernah berdiri di Sulawesi Selatan. Masjid Besar Taqwa Tompong ini memiliki peninggalan masa lalu berupa Al-Qur’an tulisan tangan.
 
Masjid Besar Taqwa Tompong
Jl. Bete-Bete, Letta, Kec. Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan 92411
 
 
Sejarah Masjid Besar Taqwa Tompong
 
Masjid Besar Taqwa Tompong bermula dari sebuah langgar yang dibangun tahun 1885 atas prakarsa para pemangku adat dua belas atas persetujuan Raja Bantaeng, Karaeng Panawang (1877-1913), yang merupakan raja pertama BantaengLanggar tersebut menjadi tempat beribadah umat Islam, dan melakukan pengajian, serta kegiatan-kegiatan penyebaran Islam.
 
Tempat ini juga kerap digunakan raja bersama para pemangku adat untuk melakukan pertemuan dan rapat. Langgar tersebut yang kemudian dibangun menjadi Masjid Besar Taqwa Tompong dalam kurun waktu 1887 – 1913.
 
Masjid Besar Taqwa Tompong sebelum dilengkapi kanopi beranda.

Bangunan Masjid ini berdiri diatas tanah wakaf dari La Bandu seorang sudagar
asal Wajo Kabupaten Sengkang yang menetap dan menikah dengan perempuan Bantaeng. Selain mewakafkan tanahnya. La Bandu juga turut mendanai pembangunan masjid ini yang dirancang oleh La Pangewa seorang arsitek yang didatangkan dari Bone oleh La Bandu.
 
Arsitektur Masjid Besar Taqwa Tompong
 
Bentuk dasar bangunan utama Masjid Besar Taqwa Tompong ini mirip dengan Masjid Tua Palopo dan Masjid Al-Hilal Katangka. Bagian yang paling khas dari masjid ini terdapat pada mastaka dipuncak atap masjid yang dihias dengan sebuah guci dari era Dinasti Ming – China.

Bangunan utamanya berdenah segi empat dengan atap limas bersusun tiga. Bangunannya sarat dengan simbol-simbol filosofis, Di dalam masjid ada empat pilar (sokoguru) beton berukuran 80x80cm, berarti empat sahabat Nabi Muhammad saw, yaitu Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab,Usman bin Affan, dan Ali Bin Abu Thalib.
 
Interior Masjid Besar Taqwa Tompong dengan empat pilar beton, mihrab dan mimbar.

Langit-langit masjid memiliki 17 balok rangka menandakan 17 rakaat sholat lima waktu. Lima pintu masjid menyimbolkan lima rukun Islam, dan enam jendela, menyimbolkan enam rukun iman. Sejak dibangun, bentuk masjid yang sarat filosofis tersebut tak pernah diubah.
 
Berdiri di atas lahan 857 meter persegi. Bangunan berukuran panjang 31,5 M x lebar 21 M x Tinggi 16 meter. Terdiri dari tiga lantai. Saat ini lantai  kedua dan ketiga tidak lagi difungsikan. Sebelumnya digunakan sebagai tempat belajar agama dan mengaji bagi anak-anak setempat, dan juga tempat muazin mengumandangkan azan.
 
Tinggalan masa lalu di masjid ini masih terdapat sebuah mimbar khutbah yang terbuat dari kayu bayam berukit dihiasi relief dan kaligrafi yang berasal dari Singapura, lalu juga ada Kitab Suci Al-Qur’an tulisan tangan dan dua perangkat pengeras suara untuk azan yang berbentuk seperti terompet terbuat dari kayu dan besi.
 
Masjid Besar Taqwa Tompong. Kiri atas : atap limas bersusun tiga. Kanan atas : Guci dari era dinasti Ming menjadi mastaka dipuncak atap masjid. Kiri bawah: tangga menuju lantai atas. Kanan bawah : lantai atas masjid yang terbuat dari kayu. 

Untuk mengurangi dampak cuaca dan mencegah kerusakan dan memudahkan perawatan, kini tembok masjid ini ditutup dengan tegel begitupun dengan empat pilar (sokoguru) yang berdiri ditengah ruangan masjid.
 
Dimasa kini masjid Besar Tampong telah dilengkapi dengan sebuah bangunan menara tinggi berdenah segi empat dengan atap juga berbentuk atap limas (kerucut) beberapa corong pengeras suara ditempatkan disana dibawah atap. Sehingga muazin tak lagi menyuarakan azan dari lantai tiga masjid ini.
 
Cagar Budaya
 
Masjid Besar Tampong juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX melalui Surat Keputusan Bupati Bantaeng nomor 410/406/VIII/2019.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
  
Rujukan
 
Arsitektur Masjid Tampong Sebagai Hasil Akulturasi / Sufyan, Jurusan sejarah dan kebudayaan islam fakultas adab dan ilmu budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta:
 

Saturday, July 15, 2023

Masjid Raya Al-Huda Kopandakan, Masjid Tertua di Kota Kotamobagu

Masjid Raya Al-Huda Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara pada bulan Maret 2023.

Masjid Raya Al-Huda di Kopandakan, Kota Kotamobagu provinsi Sulawesi Utara diyakini sebagai salah satu masjid tertua di bekas wilayah kerajaan Bolaang Mongondow Raya (kini menjadi Kabupaten Bolaan Mongondow, Bolaan Mongondow Utara, Bolaan Mongondow Selatan, Bolaan Mongondow Timur dan Kota Kotamobagu). Dibangun pertama kali ditahun 1928 menjadikan masjid ini sebagai masjid tertua di Kota Kotamobagu dan salah satu masjid tertua di Bolaang Mongondow Raya.
 
Selain Masjid Raya Al-Huda di Bolaan Mongondow raya masih ada beberapa masjid masjid tua lainnya yakni: Masjid Raya An-Nur Molibagu di kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) yang dibangun pada 1912 dan Masjid An-Nur Lolak di kabupaten Bolaang Mongondow yang berdiri sejak tahun 1920.
 
Masjid Raya Al-Huda Kopandakan 1
Jalan raya, Kopandakan I, Kec. Kotamobagu Selatan
Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara
https://goo.gl/maps/QWkcYanKs8EtaYo87
 

 
Renovasi
 
Bukti otentik tahun pembangunan masjid ini yang terukir di salah satu empat tiang raja (sokoguru) dari kayu di masjid ini telah hilang pada saat dilakukan renovasi antara tahun 2000 hingga 2007. Empat sokoguru tersebut dibuat dari kayu setebal 40 sentimeter dengan ketinggian mencapai 10 meter. Pada salah satu sokoguru tersebut terukir tanggal pembangunan masjid tersebut yang dumulai pada Februari 1926 dan selesai pada bulan Maret 1928.
 
Setelah renovasi empat sokoguru kayu tersebut berubah menjadi empat sokoguru dari beton seperti saat ini, termasuk juga dindingnya yang semula dari papan juga diganti dengan beton. Namun demikian renovasi tersebut tidak mengubah bentuk bangunan masjid aslinya.
 
Masjid Raya Al-Huda Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara pada bulan Desember 2023.

Renovasi terhadap bangunan masjid tersebut dilakukan mengingat kondisi masjid induk saat itu yang sudah cukup memprihatinkan. Adalah Marsidi Kadengkang, selaku sangadi Kopandakan I (1993-2003) yang memprakarsai renovasi tersebut setelah bermusyawarah dengan keluarga Lobud, tetua desa, dan para ulama.
 
Tradisi Molebe
 
Tradisi Molebe adalah tradisi menyediakan makanan berbuka puasa di Masjid selama bulan suci Romadhon. Tradisi ini pada awalnya untuk menyediakan makanan bagi para pemuka agama di desa yang akan i’tikab (tinggal di masjid) selama bulan suci Romadhon, karena itu warga muslim disana bergiliran membawakan makanan untuk sahur dan berbuka puasa.  
 
Interior Masjid Raya Al-Huda Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara (foto: Kompas)

Namun, seiring perjalanan waktu, kebiasaan para pemuka agama Islam tinggal di masjid menghilang. Praktik molebe pun berubah menjadi kewajiban membawa takjil saja. Tradisi selama bulan suci romadhon yang masih lestari hingga kini adalah tradisi tadarus dua juz setiap hari di masjid dan di rumah sangadi (kepala desa) yang dilakukan setelah sholat tarawih. Sehingga dipastikan selama bulan suci romadhon aka nada dua kali khatam tadarus Al Quran.
 
Setiap hari selama suci Romadhon, keluarga Muslim Desa Kopandakan I bergiliran membawa takjil ke masjid ini. Setiap hari ada 9 atau 10 keluarga secara bergiliran mengantar takjil sesuai jadwal yang dibuat oleh kepala dusun. Takjil takjil tersebut akan dihidangkan oleh pengurus dan remaja masjid di meja panjang untuk berbuka para Jemaah yang datang ke masjid.
 
Masjid Raya Al-Huda Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara pada bulan Maret 2023 dari arah tribun lapangan olahraga Kopandakan I.

Hidangan takjir di masjid ini terdiri dari panganan khas setempat yakni biji balapis, lalampa bakar, kueku (mata kebo), dan kukis kelapa.
Tak lupa tentu saja minuman yang terdiri dari es buah, sari buah jeruk instan dan kopi.
 
Pada saat berdiri di tahun 1928 Masjid Raya Al Huda adalah satu-satunya masjid bagi sekitar 730 keluarga Muslim di lima dusun Desa Kopandakan I. karena beberapa masjid baru telah dibangun, masjid berukuran 14 x 14 meter itu kini hanya digunakan terutama oleh warga Dusun 2 dan 3.
 
Molebe di Masjid AL Huda pun menjadi kewajiban warga kedua dusun itu saja. Namun demikian masjid ini tetap masjid induk bagi warga desa. Siapa pun tetap boleh datang bawa takjil. ****
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Rujukan
 
https://www.kompas.id/baca/nusantara/2021/05/18/merawat-jejak-sejarah-islam-bolaang-mongondow-di-masjid-al-huda-kotamobagu/


Sunday, June 25, 2023

Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa

Masjid Agung Nurul Yaqin kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat [foto: Rahma Tiyah]

Masjid Agung Nurul Yaqin adalah masjid agung kabupaten Mamasa di kabupaten Sulawesi Barat. Lokasinya berada di Jalan Pembangunan Kelurahan Mamasa, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa provinsi Sulawesi Barat.
 
Berdiri diatas tanah seluas 1500 meter persegi, masjid Agung Nurul Yaqin memiliki sumber ekonomi produktif yakni berupa rumah kos yang terletak di belakang masjid dengan kapasitas kamar kurang lebih 15 kamar. Sumber ekonomi lainnya adalah berupa tenda terowongan yang dipersewakan dan mendatangkan pendapatan bagi keuangan masjid.
 
Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa
Jalan Pembangunan, kelurahan Mamasa, Kecamatan Mamasa
Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat 91365
🌏https://goo.gl/maps/XzBqgKeEXP7KC9GL6
 

 
Masjid Agung Nurul Yaqin pertama kali dibangunt ahun 1934 diatas sebidang tanah wakaf, dengan laus 600 meter persegi dan mampu menampung sekitar 1500 jemaah. Dilengkapi dengan Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Perlengkapan Pengurusan Jenazah, Koperasi, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah
 
Aktivitas Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa
 
Berbagai aktivitas dilakukan dimasjid ini selain penyelenggaraan sholat wajib lima waktu, sholat jum’at berjamaah, dua sholat hari raya, Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam
 
Sebagai masjid agung bagi kabupaten Mamasa, Masjid Agung Nurul Yaqin menjadi pusat Ke-islaman disana, termasuk penyelenggaraan sholat Idul Fitri dan Idul Adha juga pelaksanaan pemotongan hewan qurban di hari raya Idul Adha serta pembagian daging qurban kepada warga sekitar termasuk kepada warga non muslim. Selama bulan suci Ramadhan (bulan puasa) didepan masjid Agung Nurul Yaqin ini ramai dengan tenda tenda kuliner dari para pedagang yang menyediakan aneka rupa takjil dan menu buka puasa.

Interior Masjid Agung Nurul Yaqin Kabupaten Mamasa [foto: Slamet Cahyadi]
 
Sejarah Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa
    
Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa berawal dari masjid kecil di ibokota Kab.mamasa.Masjid ini adalah masjid bersejarah yang dibangun oleh generasi awal penyebar Islam di Kota Mamasa. Diawal abad 19 masyarakat dari luar wilayah mamasa seperti dari bugis dan Duri (Enrekang) menetap diwilayah mamasa untuk berdagang.
 
Tahun 1934 masjid pertama dibangun dengan ukuran yang sangat kecil dan seiring umat Islam di Mamasa semakin bertambah tahun 1980-an direnovasi oleh seorang pengusaha asal Mamasa yang sukses di Bali yaitu H.Zainal Tayyeb dan setelah Mamasa menjadi Kabupaten tahun 2002 maka renovasi masjid kedua dilakukan tahun 2012 dengan bangunan tiga lantai.
 
Kemeriahan Tahun Baru Islam
 
Dalam rangka menyambut tahun baru Islam, masyarakat Mamas memiliki tradisi melakukan pawai obor di malam 1 Muharam, pawai obor tesebut ditahun 2018 diganti dengan pawai lampion berbagai bentuk dan warna menyemarakkan malam tahun baru di Mamasa. Pergantian obor dengan lampion tersebut karena pertimbangan keamanan, mengingat lampion lebih aman dibandingkan dengan penggunaan obor terlebih dalam jumlah massal.

Masjid Agung Mamasa Tempo Dulu [foto: kemenag]
 
Lampion cantik warna-warni hasil kreasi peserta pawai menerangi lorong-lorong dan jalan-jalan protokol kota tersebut. Tradisi tahunan ini berlangsung meriah dan khidmat. Sepanjang jalan, para peserta pawai melantunkan shalawat dan lagu-lagu religius.
 
Tradisi tahunan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram ini dimulai dari depan Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa kemudian menyusuri rute-rute jalan yang ditetapkan panitia hingga mengitari jalan-jalan protokol di tengah Kota Mamasa.  Kegiatan ini menjadi tontonan menarik warga di sepanjang rute yang dilalui peserta pawai. Ratusan polisi terlibat mengamankan jalannya pawai keliling Kota Mamasa tersebut.
 
Rujukan
 
http://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/280681/
https://www.timurterkini.com/berita/berburu-takjil-di-depan-masjid-agung-nurul-yaqin-mamasa/2/
https://sulbar.tribunnews.com/2021/07/21/masjid-agung-nurul-yaqin-mamasa-kurban-18-sapi-50-kg-untuk-warga-non-muslim
https://regional.kompas.com/read/2018/09/11/10392631/pawai-lampion-cantik-sambut-tahun-baru-hijriyah-di-mamasa

Sunday, July 21, 2019

Masjid Agung Ilaykal Mashir Majene – Sulawesi Barat

Tampil menawan dengan warna cerah. Masjid Agung Ilaykal Mashir Majene ini dibangun dua lantai. Ruang sholat utama ditempatkan dilantai dua. Lantai dasarnya digunakan sebagai area berbagai fasilitas pendukung termasuk aula serbaguna.

Masjid Agung Ilaykal Mashir adalah masjid agung kabupaten Majene, provinsi Sulawesi Barat. Masjid agung ini diresmikan Bupati Majene, Kalma Katta, pada hari Jumat, 14 Agustus 2015. Peresmian itu disambut gembira masyarakat mengingat masjid itu dibangun selama tujuh tahun. Peresmian masjid tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Bupati Majene, Kalma Katta, pada pukul 10.28 WITA, upacara peresmian itu juga bertepatan dengan ulang tahun kabupaten Majene ke 470.

ikon baru di kota Majene.

Peresmian yang dilaksanakan pada hari Jum’at itu sekaligus meresmikan penggunaan masjid Agung Ilaykal Mashir dimulai dengan sholat jum’at perdana. Terlihat sejumlah pejabat, Bupati Majene, Kalma Katta, Wakil Bupati Fahmi Massiara, Ketua DPRD, Darmansyah, serta masyarakat Majene memadati masjid agung tersebut.

Masjid Agung Ilaykal Mashir Majene
Jl. Gatot Subroto, Pangali-Ali, Banggae
Kabupaten Majene, Sulawesi Barat



Masjid Agung Ilaykal Mashir dibangun dalam gaya arsitektur bangunan masjid modern seperti yang kini menjadi trend pembangunan masjid agung di berbagai daerah di Sulawesi. Bangunan tinggi besar dengan dinding tembok masiv dilengkapi dengan kubah besar di atap nya ditambah dengan beberapa kubah berukuran lebih kecil bewarna senada di masing masing ke empat sudut atap bangunannya.

Warna cerah digunakan untuk ekterior masjid ini sedangkan di interior masjid menggunakan paduan warna putih dan hijau sebagai aksen pemanis. Objek paling menarik di interior masjid Agung Ilaykal Mashir ini adalah Mimbar khutbahnya yang dibuat dalam bentuk yang sangat unik, mengadopsi kearifan lokal masyarakat Majene.

Mimbar Masjid Agung Ilaykal Mashir kabupaten Majene, sangat khas.
Berdiri megah dengan dua lantai, masjid ini adalah salah satu mesjid termegah di Sulawesi Barat. Dibangun di kawasan kompleks perkantoran Pemkab Majene namun dapat diakses dari segala arah dalam kota Majene. Panitia pembangunan mesjid ini diprakarsai dan dipimpin langsung oleh bupati Majene H.Kalma Katta.

Proyek Pembangunan Masjid Agung Ilaykal Mashir

Proyek pembangunan masjid kabupaten Majene dimulai sejak peletakan batu pertamanya tahun 2008. Untuk penyelesaian pembangunannya dibutuhkan dana 30 milyar dengan sumber dana dari APBD kabupaten Majene dan APBD Provinsi Sulawesi Barat secara multiyear. Cukup lama proyek pembangunan masjid ini baru rampung, hingga diresmikan ditahun 2015.

Master plan pembangunannya berupa masjid dua lantai dilengkapi dengan sarana Ibadah modern serta Islamic Centre. Lantai II dikhususkan sebagai tempat sholat, sedangkan lantai I diperuntukkan sekretariat perkantoran lembaga Islam mulai dari MUI, BKMT dan lainnya.
dilantai I juga terdapat aula serbaguna.

Interior Masjid Agung Ilaykal Mashir.
Menurut Kepala Dinas PU Majene, Ir. Adam Yahya, MT, luas lahan Masjid Agung Majene adalah 1,1 Ha, sedang luas bangunannya adalah 0,5 Ha. Sementara luas area parkir dan taman adalah 0,6 Ha. Diperkirakan memiliki daya tampung sebanyak 4.000 jemaah. Sementara di area parkir bila Sholat I’d bisa menampung jamaah 6.000 orang. Sehingga bila ditotal perkiraan daya tampung jemaah bisa mencapai 10.000 orang jemaah di dalam dan diluar masjid.

Pusat Aktivitas Keislamana Kabupaten Majene

Sebagai masjid agung kabupaten Masjid Agung Ilaykal Mashir menjadi pusat dari beragam aktivitas Islam di Kabupaten Majene. Masjid ini menjadi pusat aktivitas peringatan hari hari besar Islam tingkat kabupaten, penyelenggaraan sholat Idul Fitri dan Idul Adha hingga pelepasan dan penyambutan Jemaah haji dari kabupaten Majene.

Setahun setelah diresmikan, pada tanggal 16 Agustus 2016, masjid Agung Ilaykal Mashir menjadi tempat pelepasan keberangkatan 200 calon jemaah Haji Kabupaten Majene 1437 H / 2016 M. Upacara tersebut dihari oleh Bupati Majene Dr H Fahmi Massiara MH, Wakil Bupati Majene H Lukman SPd, MPd, Ketua DPRD Majene Drs. Darmansyah, Wakil Ketua DPRD II Hj Hasbina Arif Saleh S.Sos, MSI, Kasdim 1401 Majene, para SKPD Majene, kepala kementrian agama kab. Majene, Kepala Bagian Operasi Kepolisian Resor Majene, Sulawesi Barat, Komisaris Polisi Bambang Haryono S.Sos, seluruh jamaah calon haji dan tamu undangan lainnya.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, July 20, 2019

Mengintip Keindahan Enam Masjid Agung Di Provinsi Gorontalo

Enam masjid agung di enam wilayah kabupaten dan kota di provinsi Gorontalo.

Gorontalo adalah salah satu provinsi yang berada di pulau Sulawesi. Provinsi Gorontalo beribukota di Kota Gorontalo. Sebelumnya Gorontalo merupakan bagian dari wilayah provinsi Sulawesi Utara yang kemudian dimekarkan sebagai daerah otonomi baru berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2000, tertanggal 22 Desember dan menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia.

Masyarakat Gorontalo terkenal sangat agamis, wajar bila kemudian dari beberapa kabupatennya yang baru dibentuk setelah pembentukan provinsi Gorontalo di tahun 2000 bersegera membangun masjid agung di masing masing ibukota kabupatennya, saat ini bahkan pemerintah provinsi Gorontalo sedang mempersiapkan pembangunan masjid Agung provinsi Gorontalo di Kota Gorontalo. Mari kita intip kemegahan enam masjid agung di masing masing enam kabupaten dan kota di provinsi Gorontalo.

Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo (1728)

Masjid Agung tertua di provinsi Gorontalo.
Masjid Agung Baiturrahim adalah Masjid Agung di Kota Gorontalo, Ibukota Provinsi Gorontalo di Pulau Sulawesi. Masjid Agung Baiturrahim merupakan bangunan masjid terbesar dan termegah di kota Gorontalo. Sekaligus menjadi masjid tertua di kota Gorontalo sekaligus juga menjadi masjid Agung Tertua dari enam wilayah di provinsi Gorontalo. Lokasinya berdiri di ruas jalan Wartabone ditengah tengah  kota Gorontalo.

Masjid Agung Baiturrahim Gorontalo pertama kali dibangun pada tanggal 18 Maret 1728 bertepatan dengan tanggal 6 Syaban 1140 Hijriah, oleh Raja Gorontalo ke-10 bernama Sultan Botutihe. Pada awalnya bangunan masjid ini dibangun sebagai sebuah bangunan berbentuk rumah panggung dengan tiang tiang tinggi. Bahan bangunannya seluruhnya menggunakan kayu kayu besi tanpa beton dan semen seperti saat ini.

Masjid Agung Al-Marhamah, Kabupaten Bone Bolango (1820)

Masjid Agung tertua kedua di provinsi Gorontalo.
Masjid Agung Al-marhamah adalah masjid agung kabupaten Bone Bolango, provinsi Gorontalo di pulau Sulawesi. Masjid agung megah dengan dominasi warna putih ini memiliki sejarah yang cukup panjang, pertama kali dibangun tahun 1820. Lokasinya berada di desa Desa Bubeya, kecamatan Suwawa, kabupaten Bone Bolango provinsi Gorontalo.

Kabupaten Bone Bolango merupakan pemekaran dari Kabupaten Gorontalo ditahun 2003. Pada waktu dimekarkan Kabupaten Bone Bolango hanya terdiri atas empat wilayah kecamatan, yaitu: Bone Pantai, Kabila, Suwawa, dan Tapa. Sampai bulan September 2011, Kabupaten Bone Bolango mengalami banyak proses pemekaran kecamatan menjadi 17 kecamatan dan 1 kecamatan persiapan (wilayah Pinogu).

Masjid Agung Baiturrahman Limboto, Kabupaten Gorontalo (1979)

Masjid Agung kabupaten Gorontalo di Limboto.
Kabupaten Gorontalo adalah salah satu kabupaten tertua di Provinsi Gorontalo. Ibu kota kabupaten ini terletak di Limboto. Sejak ditetapkan sebagai Kabupaten pada tahun 1959 hingga sekarang, Kabupaten Gorontalo sudah mengalami tiga kali pemekaran. Pemekaran pertama pada tahun 1999 yang melahirkan Kabupaten Boalemo, pemekaran ke dua pada tahun 2003 yang melahirkan Kabupaten Bone Bolango, dan terakhir pada tahun 2007 yang melahirkan Kabupaten Gorontalo Utara.

Masjid Agung Baiturrahman adalah masjid agung kabupaten Gorontalo yang dibangun di Limboto sebagai ibukota kabupaten Gorontalo. Masjid ini diresmikan penggunaannya di tahun 1979 dan merupakan masjid terbesar dan termegah di kabupaten Gorontalo. Berdiri di atas lahan wakaf seluas 62.500 meter persegi, masjid seluas 22.500 meter persegi ini diperkirakan mampu menampung hingga 2500 jemaah sekaligus.

Masjid Agung Baiturrahmah, Kabupaten Boalemo (1980)

Masjid Agung kabupten Boalemo.
Masjid Agung Baiturrahmah adalah masjid agung kabupaten Boalemo, dibangun tahun 1980 di Kecamatan Tilamuta selaku Ibukota Kabupaten Boalemo, karenanya juga seringkali disebut sebagai Masjid Agung Tilamuta merujuk kepada tempatnya berdiri atau masjid Agung Boalemo merujuk kepada kabupaten-nya.

Kabupaten Boalemo dibentuk secara resmi pada tanggal 12 Oktober 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2000 tentang Pembentukan Kabupaten Boalemo. Sebelumnya wilayah kabupaten Boalemo merupakan bagian dari wilayah kabupaten Gorontalo.

Masjid Agung Baiturrahim Kabupaten Pohuwato (2010)

Masjid Agung kabupaten Pohuwato di Marisa.
Kabupaten Pohuwato atau Kabupaten Pahuwato adalah kabupaten yang terbentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Boalemo. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2003 tanggal 25 Februari 2003 yang ditandatangani oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Marisa ditetapkan sebagai ibukota kabupaten Pohuwato, di kota Marisa ini tempat berdirinya  Masjid Agung kabupaten Pohuwato.

Masjid Agung Kabupaten Pohuwato ini dibangun sekitar tahun 2010. Lokasinya berada di komplek perkantoran pemerintahan kabupaten di Marisa. Meski menyandang nama Baiturrahim dan berada di Marisa, masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Agung Pohuwato. Tulisan nama berukuran besar yang dipasang di taman masjid pun ditulis dengan nama Masjid Agung Pohuwato.

Masjid Agung Baiturrahim Moluo, Kabupaten Gorontalo Utara (2011)
           
Masjid Agung kabupaten Gorontalo Utara di Moluo.
Masjid Agung Baiturrahim merupakan masjid agung kabupaten Gorontalo Utara, lokasinya berada di Desa Moluo, kecamatan Kwandang. Masjid ini dibangun tahun 2011 di atas lahan seluas 3500 meter persegi dengan luas bangunan 625 meter persegi dan berdaya tampung 1000 jemaah.

Kabupaten Gorontalo Utara baru dibentuk tahun 2007 dan beribukota di Desa Moluo, Kecamatan Kwandang, sebelumnya wilayah kabupaten ini merupakan bagian dari kabupaten Gorontalo. Kabupaten Gorontalo Utara juga menjadi kabupaten termuda di wilayah provinsi Gorontalo.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Masjid Agung Baiturrahim Kota Gorontalo (1728)
Masjid Agung Al-Marhamah Bone Bolango (1820)
Masjid Agung Baiturrahman Limboto (1979)
Masjid Agung Baiturrahmah Boalemo – Gorontalo (1980)
Masjid Agung Baiturrahim Pohuwato – Gorontalo (2010)
Masjid Agung Baiturrahim Moluo - Gorontalo Utara (2011)


Sunday, July 14, 2019

Masjid Agung Baiturrahmah Boalemo – Gorontalo

Megah dalam arsitektur modern lengkap dengan kubah besar bewarna emas di atap masjid ditambah dengan empat kubah dengan bentuk dan warna yang sama di ke empat sudutnya.

Masjid Agung Baiturrahmah adalah masjid agung kabupaten Boalemo provinsi Gorontalo di pulau Sulawesi. Masjid Agung ini dibangun tahun 1980 di Kecamatan Tilamuta selaku Ibukota Kabupaten Boalemo, karenanya juga seringkali disebut sebagai Masjid Agung Tilamuta merujuk kepada tempatnya berdiri atau masjid Agung Boalemo merujuk kepada kabupaten-nya.

Kabupaten Boalemo adalah salah satu kabupaten di provinsi Gorontalo, dibentuk secara resmi pada tanggal 12 Oktober 1999 berdasarkan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 1999 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2000 tentang Pembentukan Kabupaten Boalemo. Sebelumnya wilayah kabupaten Boalemo merupakan bagian dari wilayah kabupaten Gorontalo.

Masjid Agung Boalemo
Jalan Hi. Thayeb Moh. Gobel, Hungayonaa
Kec. Tilamuta, Kab. Boalemo
Provinsi Gorontalo Gorontalo 96263



Lokasi masjid Agung Baiturrahmah tidak persis disisi selatan alun alun kota Tilamuta, namun berada beberapa puluh meter ke arah barat dari alun alun, berseberangan dengan kantor Bank BRI kantor Cabang pembantu Tilamuta, berjejer di satu ruas jalan yang sama dengan Gereja Bahtera Tilamuta, menunjukkan bahwa kerukunan beragama di Boalemo terjalin sangat baik.

Berdisi di sisi selatan ruas jalan Jalan Hi. Thayeb Moh. Gobel (trans Sulawesi) yang membentang arah timur barat dengan sendirinya denah masjid ini sedikit miring dari ruas jalan tersebut, mengikuti arah kiblat. Sebagai masjid agung kabupaten, lokasinya memang tidak jauh dari kantor Bupati Boalemo yang berada di sisi timur alun alun Tilamuta.

Pembangunan Masjid Agung Baiturrahmah

Merujuk kepada situs kemenag RI, Masjid Agung Baiturrahmah dibangun tahun 1980 diatas lahan wakaf seluas 4000 meter2, luas bangunan masjidnya 3500m2 dan diperkirakan mampu menampung 1000 jemaah, dan merupakan masjid terbesar di kabupaten Boalemo. Keindahannya menjadikan masjid ini sebagai saah satu daya daya tarik wisatawan local.

Masjid Agung Boalemo dilengkapi dengan satu menaranya yang menjulang.
Keberadaan Masjid Baiturrahmah ini memang sudah lebih dulu berdiri di tahun 1980 sebelum Boalemo disyahkan sebagai kabupaten baru sebagai pemekaran dari kabupaten Gorontalo di tahun 1999, baru kemudian masjid ini diresmikan sebagai masjid agung kabupaten Boalemo dan dilakukan perbaikan dan penyesuaian fungsi sebagai masjid agung.

Pemerintah provinsi Gorontalo turut berkontribusi untuk perbaikan dan pembangunan masjid agung ini melalui Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menyumbang dana sebesar Rp. 500 juta pada tanggal 19 Oktober 2018 disusul kemudian sumbangan serupa diserahkan oleh Gubernur pada tanggal.

Pusat Aktivitas Islam Boalemo

Menjalankan fungsinya sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Baiturrahmah menjadi pusat aktivitas Islam di kabupaten Boalemo, termasuk pusat penyelenggaraan peringatan hari hari besar Islam dan sholat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) yang dihadiri oleh Bupati, wakil Bupati, para pejabat, SKPD, tokoh masyarakat, tokoh adat, alim ulama dan masyarakat muslim setempat.

Masjid Agung Baiturrahmah dari arah gerbang.
Masjid Agung Baiturrahmah juga menjadi tempat penyelenggaraan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist (STQH) tingkat kabupaten Boalemi seperti yang diselenggarakan pada bulan Februari 2019. Acara tersebut dibuka dan ditutup oleh bupati Boalemo Bupati Boalemo, Darwis Moridu yang diwakili Sekda, Husain Etango.

Tradisi Lebaran Boalemo

Khsusus dalam penyelenggaraan Sholat Idul Fitri, seperti halnya wilayah lain di provinsi Gorontalalo, kabupaten Boalemo juga memiliki khasazah budaya adat tradisi dalam menyambut dan mengantar bupati yang akan melaksanakan sholat Idul Fitri, Tradisi yang merupakan adat turun temurun masyarakat muslim Gorontalo.

Seperti pada penyelenggaraan sholat Idul Fitri 1440H / 5 Juni 2019 yang lalu Bupati dan wakil Bupati Boalemo Darwis Moridu dan Anas Yusuf melaksanakan sholat id bersama masyarakat dimasjid Agung Baiturrahmah kabupaten Boalemo, sebelum beranjak menuju masjid Agung Boalemo, Bupati dan Wakil Bupati menjalani serangkaian prosesi adat oleh dewan adat Boalemo di rumah jabatan Bupati.

Pada sholat Idul Fitri tersebut yang menjadi Imam sholat adalah Sutarman Pusi yang merupakan dewan adat Boalemo dan khotib Harun B. Yunus yang juga menjabat sebagai kepala kementrian agama kabupaten Boalemo.

Tangga besar masjid agung kabupaten Boalemo mengantar jemaah langsung ke ruang utama masjid dari halaman depan.

Arsitektur Masjid Agung Baiturrahmah Boalemo

Masjid Agung Baiturrahmah Boalemo dibangun dengan faras lantai lebih tinggi dari tanah disekitarnya, sederet anak tangga berukuran lebar disiapkan sebagai akses dari halaman langsung menuju ruang sholat utama masjid. Denah bangunannya simetris seperti denah masjid Kesultanan Deli di kota Medan.

Empat sudut bangunan dilengkapi dengan pavilion kecil diengkapi dengan kubah berukuran lebih kecil dari kubah utamanya. Sebuah kubah bundar ditempatkan di tengah atap utama di kelilingi empat kubah lainnya, semua kubah ini bewarna kuning emas. Di puncak kubah utama dihias dengan ornamen lafazd Allah sedangkan empat kubah lainnya dihias ornamen bulan bintan.

Masjid ini juga dilengkapi dengan satu bangunan menara menjulang tinggi di sisi barat laut bangunan utama. Tidak terlalu banyak ornament hias di dalam masjid ini, barangkali karena memang bangunannya memang masih relatif baru. Muka ruang mihrabnya dibangun senada dengan lengkungan lengkungan fasad bangunan utama, satu mimbar kayu berukir ditempatkan di sisi Mihrab.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga