Tuesday, November 20, 2012

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Jakarta Islamic Center (JIC)

Sulit membayangkan bahwa lahan tempat masjid ini berdiri dulunya adalah bekas lahan prostitusi atau lokalisasi Karamat Tunggak di wilayah Jakarta Utara. Tapi begitulah faktanya. Situs resmi masjid ini menyebut kehadiran Kehadiran Jakarta Islamic Centre (JIC) yang merubah tanah hitam menjadi tanah putih, "min al-dzulumaat ila an-nuur", diharapkan mampu menampilkan citra baru yang memancarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang menyejukkan nurani.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Jakarta Islamic Centre adalah organisasi Non Struktural di bawah Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. Dirancang oleh arsitek Ir. Muhammad Nu’man diatas lahan seluas 109.435 m2, dengan Konsepsi pembangunan JIC merupakan sebuah bentuk fasilitasi fungsi-fungsi kemakmuran masjid yang difasilitasi secara total oleh Pemda DKI Jakarta dengan ciri utamanya, terdapat fungsi peribadatan, fungsi pendidikan dan fungsi perdagangan/ bisnis.

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)
Jl, Kramat Jaya, Kelurahan Tugu Utara
Kecamatan Koja, Kotamadya Jakarta Utara
Provinsi DKI Jakarta




Proses pembangunannya bermula di tahun 1997 dengan keluarnya rekomendasi penutupan lokalisasi Kramat Tunggak dilanjutkan dengan dikeluarkan SK Gubernur KDKI Jakarta No. 495/1998 tentang penutupan panti sosial tersebut selambat-lambatnya akhir Desember 1999. Pada 31 Desember 1999, Lokres Kramat Tunggak secara resmi ditutup melalui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 6485/1998. Selanjutnya Pemda Provinsi DKI Jakarta melakukan pembebasan lahan bekas komplek lokalisasi Kramat Tunggak.

Masterplan Masjid JIC diwujudkan tahun 2002. Kemudian Agustus 2002 dilakukan Studi Komparasi ke Islamic Centre di Mesir, Iran, Inggris dan Perancis. Pada tahun yang sama, dilakukan perumusan Organisasi dan Manajemen JIC. Masjid bergaya campran Turki dan Timur Tengah ini ini diresmikan pada tanggal 4 Maret 2003 dimasa pemerintahan Gubernur Sutiyoso. Luas bangunan masjidnya mencapai 2200 meter dapat menampung 20.680 jemaah sekaligus

Menilik arsitektural masjid ini kita akan dapat menemukan  beberapa persamaannya dengan Masjid At-Tin di Taman Mini Indonesia, karena memang dirancang oleh Arsitek yang sama. Ir. Muhammad Nu’man yang merancang masjid ini memang sudah terkenal dengan berbagai mahakaryanya termasuk di dalamnya adalah Masjid Salman ITB, Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki, Masjid at-Tin Jakarta, Masjid Islamic Center Jakarta, Masjid Soeharto di Bosnia dan Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan.***

----------------------

::: Baca juga :::


Saturday, November 10, 2012

Masjid Mimar Sinan, Istanbul - Turki

Masjid bergaya arsitek legenda dinasti Usmaniah, Mimar Sinan, berdiri megah di wilayah Anatolia menyembul diantara gedung gedung pencakar langit kota Instanbul, Turki. Masjid berkapasitas 10 ribu jemaah ini diresmikan oleh Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, 20 Juli 2012 yang lalu. (foto: sabah.com.tr)

Masjid baru kota Instanbul, Turki ini diberi nama Masjid Mimar Sinan, nama yang memang dinisbatkan kepada Almarhum Mimar Sinan (1490-1588), sang arsitek legenda dari Kekhalifahan dinasti Usmaniah Turki Berdiri megah di Atasehir, sisi Asia kota Istanbul. Masjid Mimar Sinan Secara resmi dibuka pada hari Jum’at 20 Juli 2012 yang lalu oleh Perdana Menteri Turki, Tayyip Erdogan ditemani oleh presiden Gabon, Ali Bongo Ondimba, Juru bicara Parlemen Nasional Iraq, Osama Nujaifi dan Direktur Deparetmen Urusan Agama Turki. Dr. Mehmet Görmez.

Upacara peresmian masjid tersebut ditandai dengan pidato sambutan dari Perdana Menteri Turki dilanjutkan dengan pemotongan pita bersama para tamu kehormatan sebagai tanda pembukaan masjid lalu dilanjutkan dengan sholat Jum’at berjamaah pertama di masjid yang baru diresmikan tersebut. Masjid Mimar Sinan ini dirancang oleh arsitek Hilmi Şenalp merujuk kepada rancangan Mimar Sinan, dengan ukuran begitu besar, mampu menampung hingga 10 ribu jemaah sekaligus.



Sebagaimana disampaikan oleh Erdogan dalam sambutanya, masjid ini sengaja dibangun di lokasinya sekarang ini yang merupakan kawasan Anatolia, mengingat selama ini belum adanya masjid jami’ atau dalam bahasa Turki disebut sebagai Masjid Selatin, di lokasi tersebut. (Anatolia adalah wilayah kota Instanbul yang masuk ke dalam benua Asia, karena memang Istanbul merupakan tempat bertemunya benua Asia dan Eropa).

Masjid Selatin merupakan masjid yang cukup unik, awalnya dulu dibangun atas perintah Sultan sebagai masjid untuk Sholat Jum’at. Selama ini kota Instanbul, terkenal dengan masjid masjid megahnya seperti Masjid Selimiye di sisi Eropa Kota Instanbul, juga Masjid Sehzade yang merupakan karya pertama Mimar Sinan. Masih adalagi masjid Sultanahmet dan masjid Fatih.


Masjid Mimar Sinan dibangun selama 20 bulan menghabiskan dana sekitar 40 juta Lira, arsitek Hilmi Şenalp meranjang masjid ini dengan merujuk kepada karya legenda Mimar Sinan berupa masjid dengan enam menara yang selama ini sudah menjadi ciri khas masjid masjid Turki. Namun baru kali di aplikasikan dalam ukuran yang lebih besar.

Bangunan masjidnya sendiri setinggi 42 meter, empat menaranya setinggi 72 meter terdiri dari tiga lantai. Kapasitas masjidnya mencapai 10 ribu jemaah plus lahan parkir untuk 300 kendaraan roda empat dilengkapi juga dengan ruang konfrensi dan ruang kelas.***

::: Baca juga :::



Wednesday, November 7, 2012

Masjid Hazrat Sultan, Astana – Kazakhstan

Masjid Hazrat Sultan, Astana – Kazakhstan (telegraph.co.uk)

Masjid megah satu ini bernama Masjid Hazrat Sultan, berada di kota Astana, ibukota baru bagi Negara Kazakhstan setelah sebelumnya beribukota di Almaty. Masjid Hazrat Sultan ini dibangun dengan kapasitas hingga 5000 jemaah sekaligus menjadikannya sebagai salah satu masjid terbesar di kawasan asia tengah. Pembangunan masjid ini dilaksanakan untuk memperingati 14 tahun pindahnya ibukota Kazakhstan ke Astana

Masjid Hazrat Sultan dibangun di atas lahan seluas 27 Acre atau 10.9 hektar atau setara dengan 11 kali lapangan sepakbola ukuran terluas. Peresmian masjid ini dilakukan langsung oleh presiden Kazakhstan, Nur-Sultan Nazarbayev pada hari Jum’at 6 Juli 2012 lalu. Presiden Nur-Sultan menduduki jabatan presiden Kazakhstan sejak Negara tersebut merdeka dari Uni Soviet tahun 1991, beliau yang kemudian memindahkan Ibukota Negara ke Astana dari Almaty di bulan Juli tahun 1998. 

 

Astana, yang kini menjadi ibukota Negara Kazakhstan sebelumnya tak lebih dari kawasan padang yang luas. Presiden Nur-Sultan yang kemudian merubah kawasan ini menjadi sebuah kota, gedung gedung menjulang ke langit setiap tahun menggantikan padang luas yang sebelumnya eksis disana termasuk pembangunan masjid Hazrat Sultan ini. 

Pembangunan masjid ini sempat memakan korban jiwa ketika terjadi kebakaran hebat di dalam masjid yang sedang dibangun ini. Di bulan Januari 2012 api menghanguskan bagian kubah dan area utama masjid ini yang sedang dalam tahap penyelesaian ahir, di duga api berasal dari percikan api las dari seorang pekerja yang menjadi korban dalam kebakaran tersebut.*** 



Tuesday, November 6, 2012

Islam di Ghana

Masjid Agung Larabanga – Republik Ghana (foto : trekearth.com)

Ghana dulunya bernama Gold Coast, mencatatkan diri dalam sejarah diplomasi dunia sebagai salah satu dari sedikit negara yang warganya mampu menduduki Jabatan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Siapa tak kenal dengan Khofi Anan, salah satu mantan Sekjen PBB itu berasal dari Republik Ghana, tempat dimana Masjid Larabanga ini berada. Ghana juga terkenal di dunia internasional sebagai Negara penghasil kakau terbesar. Selain itu Ghana juga dikenal dengan danau Volta, yang merupakan danau dengan permukaan terluas di dunia.

Ghana merupakan salah satu Negara di benua Afrika, berbentuk Republik dengan pemerintahan berbentuk presidensial Konstitusional. Merdeka dari Inggris pada tanggal 6 Maret 1957 dan menjadi sebuah Republik pada tanggal 1 Juli 1960. Ibukota Negara berada di Kota Accra di koordinat 5°33′N 0°15′W. Republik Ghana memiliki semboyan Freedom and Justice. Sedangkan lagu kebangsaannya berjudul God Bless Our Homeland Ghana.

Republik Ghana memiliki wilayah daratan seluas 238,535 km2 , dengan jumlah penduduk di tahun 2010 sekitar 24,233,431 jiwa dan kerapatan penduduk mencapai 101.5 jiwa setiap kilometer persegi. Republik Ghana berbatasan dengan Republik Pantai Gading (Côte d'Ivoire atau Ivory Coast) di sebelah barat, Republik Burkina Paso di sebelah utara, Republik Togo di Timur dan teluk Guyana di selatan. Kata Ghana sendiri berarti Raja Ksatria nama yang juga di ambil dari nama Emperium Ghana Kuno yang pernah menguasai hampir keseluruhan wilayah pantai barat Afrika.

Islam di Ghana

Sebagaimana dirilis oleh Wikipedia, Islam masuk ke Afrika Barat, dimulai dari Ghana pada abad ke-9, karena Ghana merupakan jalur utama perdagangan bagi para pedagang muslim yang datang dari Afrika Utara melalui Mali. Dan pada abad ke-15, Islam semakin menunjukkan identitasnya di Ghana bagian utara. Mayoritas pemeluk Islam di Ghana menganut madzhab Maliki, sedangkan aliran sufi yang dianut adalah Tijaniyah dan Qadiriyah. Ahmadiyah maupun Syi’ah dianut oleh sebagian kecil pemeluk Islam di Ghana.

Lokasi republik Ghana di benua Afrika
Menurut data resmi yang dikeluarkan pemerintah Ghana maupun CIA Worldfact, pemeluk Islam di Ghana berkisar 16%, sedangkan Kristen 63% dan Animis 21%. Sedangkan Islamic population melansir bahwa penganut Islam di Ghana adalah 40%, bukan 16%, dari total penduduk Ghana sebesar 20 juta orang, mayoritas mereka berada di bagian utara Ghana, sedangkan penanut Kristen berada di bagian selatan. Angka ini lebih realistis, mengingat Islam telah menyebar di Ghana sejak abad ke-9 ketika Kerajaan Ghana kuno berkuasa di Kumbi Saleh, Ghana Utara.

Sheikh Hassan Khalid, aktivis Ghanian Islamic Daawa, membenarkan klaim, bahwa penyebaran Islam di Afrika Barat berawal dari Ghana. Sampai sekarang, banyak para kader muslim di Afrika Barat menimba ilmu ke-Islaman di Ghana, khususnya belajar mengenai tafsir al-Qur’an, Hadits maupun Hukum Islam. Hubungan Islam dan Kristen di Ghana adalah yang terbaik di Afrika Barat, karena otoritas pengendali ummat di Ghana dipegang oleh suatu badan yang disebut Muslim Representatice Council. Badan ini menangani masalah-masalah keagamaan, sosial, ekonomi dan hubungan antar agama di Ghana. Juga sebagaimana di Indonesia, badan ini juga mengatur perjalanan Haji bagi kaum muslimini Ghana yang ingin menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Walaupun Ahmadiyah dianut oleh sedikit ummat Islam di Ghana, namun aktivitasnya sangat mengagumkan, karena mereka mempunyai rumah sakit, sekolah dan training center.

Saat ini, ada 3 (tiga) orang yang sangat dihormati oleh ummat Islam di Ghana, pertama Alhaji Aliu MAHAMA, yang diangkat sebagai Wakil Presiden Ghana sejak tanggal 7 Januari 2001. Beliau tokoh muslim Ghana yang amat disegani. Hal ini mengindikasikan bahwa peran ummat Islam di Ghana, khususnya di bidang politik sangat kuat. Kedua, Imam Syaikh Salisu SHABAN, pemimpin spiritual Islam Ghana, ulama sufi terkemuka di dunia dari aliran Tijaniyah. Beliau termasuk salah satu ‘ulama e-haq (scholar of truth)’ yang dikukuhkan pada peringatan maulid Nabi Muhammad s.a.w. di Toronto, Kanada tahun 1999. Ketiga, Prof. Abdullah Botchway, gurubesar tamu di University of Malaya, Malaysia. Baik Imam Salisu Shaban maupun Abdullah Botchway adalah pembicara utama ketika diadakan peringatan maulid Nabi Muhammad s.a.w. di Toronto Kanda, 1999 yang lalu.

Sama halnya dengan Republik Burkina Faso yang memiliki seni arsitektural masjid dari lumpur, Republik Ghana juga memiliki seni budaya yang hampir sama. Bila di Burkina Faso terkenal dengan Masjid Agung Bobo Doulasso, Republik Ghana memiliki Masjid Agung Larabanga yang juga dibangun dengan bahan utama lumpur dan batangan kayu. Sebuah warisan seni arsitektural yang sangat khas dan hanya ada di benua Afrika.***[bujangmasjid].

Baca Juga


Monday, November 5, 2012

Islam di Burkina Faso

Masjid Agung Dioulasso - Burkina Fasso (foto dari Islamic-arts.org)

Burkina Faso adalah negara di Afrika Barat yang terkurung daratan (landlocked). Negara ini berbatasan dengan Mali di sebelah utara; Togo dan Ghana di selatan; Niger di timur, Benin di tenggara; dan Pantai Gading di barat daya. Dahulu bernama Upper Volta atau Volta Hulu, Presiden Thomas Sankara mengganti nama negara ini menjadi 'Burkina Faso' (dalam bahasa Dioula dan More bermakna sebagai "Negara Orang Jujur") pada 4 Agustus 1984. Ibu kota Burkina Faso adalah Ouagadougou (dibaca : Wagadugu), disebut "Waga" oleh penduduk setempat.

Pada 1896, kerajaan Mossi dari Ouagadougou menjadi protektorat Prancis. Pada 1898, bagian utama dari kawasan yang kini menjadi Burkina ditaklukkan. Pada 1904, daerah-daerah itu bergabung dengan Afrika Timur Prancis dalam koloni Senegal-Niger Hulu. Penduduknya ikut serta dalam PD I dalam batalion Infantri Senegal. Pada1 Maret 1919, Edouard Hesling menjadi gubernur pertama di koloni Volta Hulu yang baru itu. Koloni itu dibongkar pada 5 September 1932, dan daerahnya dibagi antara Pantai Gading, Mali, dan Niger. Pada 4 September 1947 Volta Hulu diciptakan kembali dari perbatasannya pada 1932. Pada 11 Desember 1958 menjadi republik dan bergabung dengan Masyarakat Prancis-Afrika dan mendapatkan kemerdekaan pada 5 Agustus 1960.

Burkina Faso Dalam Angka

Burkina Faso memiliki luas daratan 274,200km2 sedikit lebih besar dari luas propinsi Kalimantan Timur (204,534.34Km2) namun lebih kecil dari propinsi Papua (319,036.05Km2), berikut beberapa fakta tentang Burkina Faso dalam angka.

Lokasi Burkina Faso
Luas wilayah : 274 200 km²
Kepadatan : 44 jiwa/km²
Perbatasan darat : 3.192 km (Mali 1.000 km ; Niger 628 km ; Pantai Gading 584 km ; Ghana 548 km ; Benin 306 km ; Togo 126 km)
Daerah laut : 0 km
Ketinggian : + 200 m > + 749 m
Kemerdekaan : 5 Agustus 1960 (bekas koloni Prancis)
Penduduk : 13.200.000 jiwa (2005). 0-14 tahun : 47,5%; 15-64 tahun : 49,59%; + 65 tahun : 2,91%
Harapan hidup pria : 46 ans (en 2001)
Harapan hidup wanita : 47 ans (en 2001)
Tingkat pertumbuhan penduduk : 2,68% (2001)
Jalan : 12.506 km (sekitar 2.001 km beraspal) (1996)
Jalur KA : 622 km
Jumlah bandara : 33 (hanya 2 yang beraspal) (2000)

Islam di Burkina Faso

Merujuk kepada Wikipedia penduduk Burkina Faso mayoritas beragama Islam. Sebagaimana dilansir oleh pemerintah Burkina Faso sebagai hasil sensus penduduk tahun 2006 ditemukan bahwa 60.5% penduduk Burkina Faso beragama Islam. Sebagian besar dari muslim Burkina Faso adalah muslim suni dan hanya sangat sedikit yang berfaham suni. Pemeluk agama lain di Burkina Faso adalah Kristen 23.2% (Katholik Rhoma 19%, Berbagai aliaran Protestan 4,2%). 15.3% penduduk masih menganut ajaran kepercayaan tradisional, 0.6% menganut agama lain dan masih ada 0.4% yang tidak beragama sama sekali. Angka angka tersebut juga diamini oleh situs CIA the world factbook.

Perkembangan Islam di Burkina Faso

Islam datang ke kawasan Afrika Barat termasuk di dalamnya Republik Burkina Faso dalam tiga gelombang. Pertama, abad ke-9 ketika bangsa Berber Afrika Utara menyebarkan Islam ke kerajaan Ghana. Kedua, abad ke-13, ketika kerajaan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat hingga abad ke-18. Terakhir, abad ke-19 ketika seorang pahlawan Muslim asal Mali, Samore Toure, menyebarkan Islam ke arah selatan Afrika.

Islam masuk ke Burkina Faso pada gelombang kedua melalui berbagai upaya yang dilakukan oleh warga suku bangsa Fulani, baik dengan cara damai maupun cara kekerasan - penulis Barat menyebutnya ‘kombinasi perang dan perdagangan’ - karena pada kenyataannya Mossi sebagai suku terbesar di Burkina Faso memang sangat gigih mempertahankan kepercayaan animisme hingga abad ke-19. Para pemimpin ini sangat menentang penyebaran Islam; namun pada akhirnya sebagian besar mereka memeluk Islam.

Banyak tokoh yang berperan penting dalam pemerintahan dan kemajuan Islam di Burkina Faso. Yousouf Ouedraogo Menteri Luar Negeri Burkina Faso, termasuk tokoh yang disegani. Islam makin berjaya di Burkina Faso ketika terjadi kekisruhan di Pantai Gading pada tahun 2002, karena salah satu tokoh kunci pihak oposisi adalah Allasane Dramane Ouattara ditengarai masih keturunan bangsa Burkina Faso, dan beragama Islam serta sangat cerdas. Akibat kisruhan tersebut, sekitar 350. Burkinabe yang mayoritas muslim lari ke Burkina Faso.

Sekurang-kurangnya ada hal dua yang diperjuangkan oleh umat Islam di Burkina Faso. Pertama, mengembalikan kejayaan Islam di tingkat pemerintahan pusat. Kedua, membendung kegiatan misionaris Kristen yang sangat agresif memurtadkan warga Muslim, antara lain dengan cara mendirikan stasiun radio di seantero Burkino Faso. Sasaran utama mereka adalah suku Fulani, yang dikenal sangat taat memegang teguh ajaran Islam.

Lembaga keagamaan di Burkina Faso The Ahlul Barr Society, mempunyai peran penting untuk membendung kegiatan kristenisasi tersebut. Beberapa di antaranya adalah EI-Hajj Oumarou Kanazae seorang pengusaha terkenal, Souleymane Kore, Mamadou Sawaidogu dan Al-Haji Sakande, tercatat sebagai tokoh Muslim Burkinabe yang aktif mengibarkan kejayaan Islam di Burkina Faso.

Di Kota Dioulasso berdiri megah Masjid Bobo Dioulasso yang begitu terkenal karena keunikan arsitekturalnya. Masjid Bobo Dioulasso dibangun dari bahan lumpur dan batang batang kayu sebagai rangka dan penguatnya.  Nama Bobo Dioulasso sendiri bermakna “rumah bagi Jula yang berbicara dalam bahasa Bobo” sebuah nama yang kemungkinan lahir dari ketidakmampuan bangsa prancis yang menjajah Burkina Faso dalam menentukan identitas dari lokasi tersebut yand begitu kompleks.***

Baca Juga


Islam di Republik Togo

Islamic Cultural Center in Lomé (foto mills.abwe.org )

Republik Togo, salah satu Negara di Afrika Barat yang memiliki penduduk muslim cukup signifikan meskipun tidak ada angka pasti mengenai jumlah dan persentase penduduk muslim disana. Republik Togo memiliki luas daratan 56,785 km2 sedikit lebih kecil bila dibandingkan dengan luas daratan propinsi Nangroe Aceh Darussalam 57,956 km2.

Dalam dunia persepakbolaan Togo cukup mengejutkan dunia ketika tampil dalam piala dunia sepakbola FIFA tahun 2006 di Jerman, negara bekas penjajahnya di tahun 1884. Ali Khadafi salah satu pesepakbola muslim Togo kini bergabung dengan Klub Indonesian Super League (ISL), Sriwijaya FC, Palembang.

Republik Togo beribukota di Lomé yang menghadap ke teluk Guyana di Samudera Atlantik. Togo bermakna “disisi air" dalam bahasa Ewe (salah satu bahasa nasional Togo) merujuk kepada wilayah togo yang berada disisi laut Atlantik. Togo merupakan Negara bekas jajahan Prancis sampai kemudian merdeka di tahun 1960.

Sejak 1991 negara ini dihantam perubahan politik yang cukup luar biasa yang memicu konflik bersenjata secara khusus di kawasan sentral dan selatan namun mengalami kondisi yang cukup stabil beberapa tahun belakangan ini. ekonomi Negara ini sangat tergantung pada perdagangan dan pertanian yang memberikan lapangan pekerjaan hingga 60% dari keseluruhan tenaga kerjanya. Kakau, kopi dan kapas menyumbang penghasilan 30% eksport mereka.

lokasi Togo di benua Afrika
Muslim di Togo merupakan 55% dari total populasi dari 13,3 juta penduduk Negara tersebut. meskipun hingga kini tidak ada angka akurat dan pasti menyangkut jumlah pemeluk Islam disana. Namun demikian satu hal yang pasti bahwa Islam telah hadir di Togo bersamaan dengan masuknya Islam di kawasan afrika Barat.

Sejarah Islam di Togo

Islam pertama kali dikenalkan di wilayah Afrika Barat di selatan Sahara, melalui rute perdagangan garam dan emas di kawasan tersebut. Proses pengislaman yang dilakukan oleh para pedagang muslim Berber dan Tuareg yang melakukan perjalanan di sepanjang rute perdagangan Sahara. Seiring dengan berlalunya waktu para ulama islam mengajarkan islam dan membangun tempat tempat ibadah disepanjang rute perdagangan yang mereka lalui.

Para ulama tersebut turut serta dalam kafilah perdangan tersebut. Kelompok masyarakat Hausa dan Fulani, kelompok yang secara tradisional senantiasa nomaden, mengembara diseluruh kawasan Afrika Barat meninggalkan jejak dan mengajarkan Islam di daerah yang kini menjadi Negara Guyana (Guinea), Siera Leone dan Liberia.

Muslim Togo sedang melaksanakan sholat berjamaah di Surau tengah kampung mereka yang sangat sederhana. 
Perkiraan jumlah pemeluk Islam di Togo memang bervariasi tergantung dari sumber nya. Merujuk kepada artikel wikipedia, Islam di Afrika penganut Islam di Togo hanya 13.7% sedangkan situs CIA Factbook menyebut angka 20%, sementara sumber sumber situs Islam bahkan menyebut angka yang jauh lebih tinggi hingga mencapai 55% atau 2,513,792 jiwa dari total populasi Togo sebesar 4,570,530 jiwa berdasarkan data tahun 1998, menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di Togo.

Tentang Togo dan Masyarakatnya

Togo bermakna “disisi air" dalam bahasa Ewe (salah satu bahasa nasional Togo) merujuk kepada wilayah togo yang berada disisi laut Atlantik. Secara umum Togo hanya selebar 100km dan berukuran panjang 550km. Togo merupakan Negara bekas jajahan Prancis sampai kemudian merdeka di tahun 1960. Sejak 1991negara ini dihantam perubahan politik yang cukup luar biasa yang memicu konflik bersenjata secara khusus di kawasan sentral dan selatan namun mengalami kondisi yang cukup stabil beberapa tahun belakangan ini. ekonomi Negara ini sangat tergantung pada perdagangan dan pertanian yang memberikan lapangan pekerjaan hingga 60% dari keseluruhan tenaga kerjanya. Kakau, kopi dan kapas menyumbang penghasilan 30% eksport mereka.

Ada banyak muslim di tengah kelompok masyarakat Togo. Satu dari kelompok muslim terbesar di Togo adalah kelompok masyarakat muslim Kotokoli (sekitar 200 ribu jiwa), terkonsentrasi di kawasan sentral Togo, wilayah Sokode. Kaum Kotokoli ini yang mengontrol jalur perdagangan utama dan menajamkan reputasi mereka di kawasan tersebut.


Saat ini muslim Kotokoli merupakan para petani yang menanam sorgum dan ubi jalar sebagai makanan pokok mereka termasuk juga milet, jagung, kacang kacangan, okra, kacang tanah dan labu juga berternak domba, sapi, keledai dan kambing. Binatang ternak dipergunakan selain sebagai asset juga untuk kurban, acara pernikahan hingga transaksi pembayaran. Muslim Kotokoli kebanyakan tinggal di dalam rumah rumah tradisional berbentuk bulat dengan dinding lumpur dan beratap jemani bentuk kerucut.

Seperti halnya di Indonesia, di berbagai kota hingga ke pelosok kampung di Togo terdapat bangunan masjid. Seperti di pusat kota Lome berdiri megah Al-Furkan Center yang merupakan masjid sekaligus Islamic Center terbesar di Togo. Masjid ini dirancang oleh Arsitek Traoré Galadima dikelola oleh African Muslim Agency, selesai dibangun tahun 1997 yang lalu. Di Komplek Islamic Center ini terdapat sekolah Islam, pusat kebudayaan Islam dan panti asuhan bagi sekitar seratusan anak anak yatim piatu.

Baca Juga

Islam di Sierra Leone

Masjid Muammar Khadafi, Freetown - Sierra Leone
Republik Sierra Leone, adalah Negara republik di pantai barat benua Afrika, berbatasan langsung dengan Guyana di utara hingga ke timur, Liberia di timur hingga ke selatan, sementara sisi baratnya menghadap ke Samudera Pasifik. Nama Sierra Leone diberikan oleh bangsa Portugis pimpinan Pedro de Sintra yang mendarat di wilayah ini pada tahun 1462 dan memberi-nya nama Sierra Leoa yang bermakna “pegunungan singa”. Portugis menjadikan wilayah temuannya ini sebagai pusat perdagangan budak.

Sierra Leone beribukota di Freetown (kota merdeka) yang didirikan pada tanggal 11 Maret 1792 ditandai dengan berdirinya sebuah perusahaan milik pribumi dan menjadikan kota baru tersebut sebagai rumah bagi para mantan budak yang sudah merdeka atau di-merdeka-kan oleh Inggris, itu sebabnya kota baru tersebut kemudian diberi nama “Free-Town”. Tahun 1808 Freetown menjadi koloni kerajaan Inggris dan tahun 1896 wilayah ini berubah menjadi wilayah protektorat kerajaan Inggris.


Sierra Leone beriklim tropis, dengan sebaran lahan dari padang savanna hingga ke hutan hujan tropis. Negara ini memiliki luas keseluruhan 71,740 km2 dan terbagi ke dalam empat wilayah, masing masing adalah the Northern Province, Eastern Province, Southern Province dan the Western Area. Ke empat wilayah propinsi ini dibagi lagi menjadi empat belas distrik, masing masing distrik memilki pemerintahan local yang disebut sebagai dewan distrik, dikepalai oleh ketua dewan.

Sierra Leone memiliki kekayaan sumber daya alam yang cukup memadai, terdiri dari pertambangan intan yang menjadi penunjang utama perekonomiannya, negara ini juga terkenal sebagai penghasil Kristal Rutil terbesar di dunia, bauxite dan titatium, memiliki pelabuhan alam terbesar ketiga di dunia yang melayani pengapalan berbagai produk dari berbagai penjuru dunia, namun tak mampu mengangkat kehidupan rakyatnya yang 70% hidup dibawah garis kemiskinan.

Meski begitu, Sierra Leone tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat toleransi beragama yang sangat tinggi. Nyaris tak pernah terdengar kasus kericuhan masalah agama di Sierra Leone. Muslim dan Kristen disana memiliki interaksi yang sangat baik satu dengan yang lainnya.

Islam di Sierra Leone

Sejak tahun 2008 lalu, agama Islam telah benar benar menjadi agama bagi mayoritas penduduk di Sierra Leone. 75 persen dari total penduduk Sierra Leone telah memeluk agama Islam. Ini merupakan lonjakan yang luar biasa bila dibandingkan dengan data tahun 1960 yang hanya 30 persen dari total penduduk.

Ada dua etnis besar di Sierra Leone dari keseluruhan 18 etnis disana, dua etnis besar tersebut adalah etnis Temne dan setnis Mende. etnis Temne merupakan etnis utama di wilayah utara Sierra Leone dan sebagian besar dari mereka beragama Islam. 9 dari 16 etnis lainnya juga mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam.

Di abad ke 18 suku suku yang berbahasa Fulani dari wilayah Fouta Djallon (kini masuk wilayah Guyana) memberikan pengaruh yang sangat besar bagi ke-Islaman etnis Tenme di bagian utara Sierra Leone. Selama penjajahan Inggris, penyebaran Islam secara tidak langsung terbantu dengan penyebaran perdamaian dan hubungan perdagangan. Upaya Kristenisasi yang dilakukan selama masa penjajahan ternyata sama sekali tidak efektif.

Bangsa Eropa yang menghancurkan struktur tradisional masyarakat disini, memperkenalkan ide ide sosial dan pendidikan yang sama sekali baru, membuka perdagangan, dan menarik migrasi penduduk dari berbagai daerah di Afrika untuk mengembangkan kota dengan sendirinya secara tidak langsung turut memperkenalkan Islam sebagai sebuah bentuk otoritas dan sebagai bentuk ekspresi persatuan antara para pendatang dan pemukim sebelumnya.

Islam terus mengalami perkembangan di Sierra Leone sejak kemerdekaan mereka di tahun 1961. Populasi umat Islam disana pada tahun 1960 ada sekitar 30 persen dari jumlah penduduk namun melonjak dua kali lipat menjadi 60 persen di tahun 2000. Dan hasil sensus tahun 2008 menunjukkan lonjakan yang luar biasa hingga mencapai 71% atau sama dengan 4,059,000 jiwa.

Sejauh ini muslim Sierra Leon mengalami kesulitan untuk menjalankan ibadah haji ke tanah suci sebagai akibat jarak yang terbentang begitu jauh serta biaya yang relative sangat mahal untuk kebanyakan muslim Sierra Leon, diperparah lagi dengan perang saudara yang tak berkesudahan di Negara tersebut.

Di Kota Freetown berdiri megah sebuah masjid yang dibangun oleh Muammar Khadafi, (mantan) presiden Libya, sebagai hadiah bagi muslim Sierra Leone. Masjid Muammar Khadafi di Freeetown ini diresmikan pada tanggal 14 Agustus 2009. Bangunan masjid megah dilengkapi dengan plaza terbuka dan penataan landscaping yang cukup apik. Masjid ini mampu menampung hingga lebih dari 5000 jemaah sekaligus.***

Sunday, November 4, 2012

Masjid Ali Bin Abi Thalib – Madinah

Masjid Ali Bin Abi Thalib – Madinah (flickr)

Masjid Ali bin Abi Thalib terletak di sebelah barat Masjid Nabawi sejauh sekitar 290 meter dan sekitar 122 meter dari Masjid Ghamama. Menurut riwayat, Nabi pernah sholat Ied di tempat ini. sementara riwayat yang lain menyebutkan bahwa masjid ini dibangun di teratak rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib. Lokasinya berdekatan dengan Masjid Abu Bakar, Masjid Ghamama. Saat ini masjid ini dipagar tinggi sehingga tidak bisa dimasuki dan didalamnya terdapat beberapa pohon kurma yang asri. 

Masjid ini dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz memerintah Madinah. Kemudian direnovasi oleh Gubernur Dhaigham Al-Manshuri, Gubemur Madinah tahun 881 H. Setelah itu juga direhab oleh Sultan Abdul Majid I, tahun 1269 H. Lalu direnovasi oleh Raja Fahd pada tahun 1411 H sehingga luasnya mencapai 682 m2 dengan menara setinggi 26 meter. Jika diperhatikan, menara Masjid Alibin Abi Thalib serupa dengan menara Masjid Umar bin Khattab. 

  
Masjid ini berbentuk persegi panjang. Dari timur ke barat, panjangnya 35 meter dan lebar sembilan meter. Terdiri dari satu serambi yang berakhir dari dua arah; timur dan barat dengan satu kamar kecil. Memang tidak ada keistimewaan ataupun anjuran untuk sholat di masjid ini bagi para jemaah Haji ataupun Umrah, karena memang pembangunannya ditujukan bagi mengenang Khalifah Ali Bin Abi Thalib, khalifah ke empat atau terahir dari empat Khulafaur Rasyidin.

Mihrabnya berada di tengah dinding kiblat. Tingginya mencapai tiga meter. Cekungannya kira-kira 1,25 meter. Menara masjid berdiri tegak di sebelah timur dekat dengan jalan masuk masjid, tidak terlalu tinggi dan memiliki satu balkon. Berakhir dengan bentuk kerucut dari logam.  Masjid Ali bin Abi Thalib dibangun dengan batu basal dan dicat dengan warna putih. Dinding sebelah timurnya dihias dengan batu hitam.


::: Baca juga :::