Showing posts with label masjid di jakarta. Show all posts
Showing posts with label masjid di jakarta. Show all posts

Saturday, March 30, 2019

Masjid Jami’ Fatahillah Blok B Pasar Tanah Abang

Masjid Jami' Fatahillah di roof top pasar tanah abang blok B.

Masjid Jami’ Fatahillah adalah masjid yang berada di atap gedung Blok B pasar Tanah Abang, Jakarta, diresmikan penggunaannya oleh Gubernur DKI Jakarta, Anier Rasyid Baswedan pada hari Jum’at 13 Juli 2018.

Masjid berwarna hijau dengan kubah emasnya itu berada di atap atau lantai paling atas bangunan gedung Blok B Pasar Tanah Abang. Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari pembangunan pasar Tanah Abang namun juga hasil dari sodaqoh para pedagang yang ada di pasar Blok B ini.

Masjid Jami’ Fatahillah
Roof Top Blok B Pasar Tanah Abang
Kp. Bali, Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10250


Arsitektur masjid ini merupakan karya anak bangsa lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Gaya bangunannya meniru arsitektur sejumlah negara Islam yang pernah berjaya. Ada desain-desain khas Andalusia. Kaca-kacanya diambil dari corak-corak yang pernah digunakan orang-orang Persia zaman dahulu.

Masjid ini dibangun bersamaan dengan dibangunnya Pasar Tanah Abang pada 2004-2005. Tentang lokasinya yang berada di lantai paling atas pusat perbelanjaan ini, memiliki makna dan tujuan penting. Salah satunya untuk mengingatkan manusia agar tidak lupa pada Sang Maha Pencipta meski tengah disibukkan dengan segala bentuk aktivitas di pasar.

Peresmian masjid Jami' Fatahillah oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan.
Pusat perbelanjaan yang berada di bawah masjid ini merupakan gambaran dari hubungan manusia dengan manusia (muamalah). Sedangkan, di lantai teratas pusat perbelanjaan terdapat masjid yang dibangun sungguh-sungguh untuk tempat beribadah umat Islam yang sedang beraktivitas di pasar.

Pengunjung Pasar Tanah Abang pun banyak yang datang dari mancanegara, terutama negara-negara Islam. Jadi, di atap pasar terdapat wisata ruhani, gambaran hubungan manusia dengan Tuhannya. Masjid di Pasar Tanah Abang  Blok A ini yang dapat menampung 3.000 orang.

Kubah warna ke emasan dari Masjid Jami' Fatahillah terlihat puncak gedung blok B pasar Tanah Abang.
Keberadaan masjid di puncak bangunan itu mungkin akan terasa merepotkan, pengelola pasar sudah mengantisipasi hal tersebut dengan menyediakan tangga berjalan (eskalator) dan lift. Fasilitas itu tentu akan memudahkan para pengunjung untuk mencapai masjid ini. Kumandang azan dari masjid ini akan terdengar melalui pengeras suara yang tersedia dari lantai dasar hingga puncak gedung.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Masjid Jami Maulana Hasanudin Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan (1928-1933)


Sunday, March 24, 2019

Masjid Al Arqom, Blok A Pasar Tanah Abang

Interior Masjid Al-Arqom Blok A Pasar Tanah Abang.

Masjid Al Arqom adalah masjid yang berada di lantai lantai 14 Blok A pusat perbelanjaan Tanah Abang, Jakarta. Masjid yang disebut sebut sebagai masjid terindah di pusat perbelanjaan ini mengadopsi gaya masjid Cordoba dalam rancangannya, dan mampu menampung 3000 jama’ah sekaligus. .

Masjid ini selesai dibangun dan mulai digunakan tahun 2006. Meskipun berada di lantai paling atas, namun akses menuju masjid cukup memadai dengan disediakannya 4 lift di kiri masjid dan 2 lift di kanan masjid. Juga tersedia escalator dan tangga. .
.


-----------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo |  @masjidinfo.id  | @hendrajailani
------------------------------------




Wednesday, December 12, 2018

Masjid Nurul Iman, Blok M Square Jakarta

Masjid Nurul Iman Blok M Square Mall, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Masjid Nurul Iman adalah masjid yang berada di lantai atap (lantai 7)  Mall Blok M Square di kebayoran Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Masjid ini dibangun dari dana para pedagang yang dibangun dengan dana dari para pedagang di Blok M Square dan jamaah pengunjung, Masjid Nurul Iman.

Secara harfiah Nurul Iman berarti Cahaya Iman, keberadaan Masjid Nurul Iman di puncak gedung pusat perbelanjaan Blok M Square ini seolah menjadi penerang kawasan tersebut. Tidak hanya lokasinya yang unik namun masjid ini dibangun sebagai sebuah masjid sesungguhnya selayaknya masjid yang dibangun di atas tanah.


.
Masjid ini dibangun dengan amat megah, lapang, beserta fasilitas yang sangat memadai. Konsep arsitektur masjid di lantai 7 Blok M Square ini menyerupai Masjid Haram di Makkah. Sejak di halaman masjid, Jemaah disambut oleh miniatur Ka’bah, yang dibangun di area masjid ini ditujukan untuk kegiatan manasik haji.
.                                                                    
Masjid Nurul Iman tampak sederhana saja dengan kubah-kubah kecil di beberapa sudut bangunan. Detail lancip pada kubah, teras, dinding, dan perpaduan warna pada bagian relung masjid ini lebih mengingatkan pada gaya istana Persia.
.
Masjid Nurul Iman di lantai atap Blok M Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pintu masjid yang unik dengan ukiran dan sekaligus berfungsi sebagai ventilasi udara. Ruang ibadah Masjid Nurul Iman sanggup menampung sekitar 3.000 jamaah. Bagian dalam ruang masjid ini cukup lapang, dengan karpet yang nyaman untuk beribadah. 

Langit-langit masjid, khususnya bagian kubah yang merelung, dihiasi dengan lukisan awan dan sebuah lampu hias yang menggantung indah di tengahnya. Masjid Nurul Iman memiliki jadwal kajian rutin yang senantiasa dipadati Jemaah.

Blok M Square, anda bisa lihat kubah ke emasan tampak mungil di atap bagian belakang gedung mall tersebut.

foto dari akun IG @hendrajailani

Sunday, February 12, 2017

Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, Jakarta Utara

Masjid Al-Mukarromah Kampung Bandan, awalnya merupakan sebuah mushola di dekat dua makam tokoh Islam, kemudian berkembang menjadi masjid. Makam yang ada disana pun bertambah menjadi tiga dengan dimakamkannya, pendiri masjid ini disamping kedua makam sebelumnya.

Masjid Al-Mukarromah adalah salah satu masjid tua di Jakarta yang dibangun pada abad ke 18. Lokasinya kini berada di Jalan Lodan, Kampung Bandan, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Dalam bahasa Arab, nama masjid ini memiliki arti mulia atau yang dimuliakan. Masjid ini pertama kali dibangun sebagai sebuah Mushola di dekat dua makam Ulama Besar Batavia oleh Sayid Abdul Rachman bin Alwi As Syatiri pada tahun 1879. Beliau wafat tahun 1908 dan putra beliau Sayid Alwi bin Abdul Rachman bin Alwi As-Syatiri yang kemudian membangun mushola tersebut sebagai sebuah masjid.

Sejarah pembangunan masjid ini terbilang cukup unik. Habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syahtiri adalah seorang saudagar yang pada suatu kesempatan sekitar tahun 1874 berkunjung ke kediaman Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas di Empang, Bogor. Awalnya Habib Abdurrahman hanya berniat mengadu masalah usaha dagangnya. Tapi, lalu Habib Abdullah menyuruh beliau menelusuri 2 makam ulama besar di Batavia. Jika ditemukan, Habib Abdullah berpesan agar Habib Abdurrahman memelihara dan mendirikan tempat ibadah di dekat makam tersebut.

Masjid Keramat Al-Mukarromah
Jl Lodan Raya 99, Kampung Bandan, Kelurahan Ancol
Kec. Pademangan, Jakarta Utara



Dijelaskannya, kedua makam itu adalah para wali Allah. Semasa hidupnya, mereka berdakwah dan menyebarkan syiar Islam di tengah-tengah perkampungan para budak dari Banda yang terzalimi ulah jahat penjajah. "Keduanya terlibat dalam pemberontakan kepada VOC di tahun 1682. Setelah melakukan penelusuran ditemukan dua makam berdampingan yang terletak di Kampung Bandan. Habib Abdullah pun membenarkan bahwa kedua makam itu merupakan dua ulama yang dicarinya. Habib Abdurrahman mengikuti amanat Habib Abdullah dengan membeli tanah tempat keberadaan makam tersebut, mendirikan tempat singgah dan salat untuk peziarah di tahun 1879, dan meneruskan ajaran agama Islam di sana.

Habib Abdurrahman wafat pada 1908, kepengurusan tempat ibadah yang awalnya hanya berbentuk mushola ini, diteruskan oleh putranya, Habib Alwi bin Abdurrahman Asy-Syahthiri. Mushola baru berkembang jadi masjid sejak tahun 1913 dan selesai tahun 1917. Masjid Al-Mukarromah terletak di atas tanah seluas 95 x 50 m, dibatasi pagar beton dengan jeruji besi dilengkapi dengan pintu gerbang yang terletak di sisi selatan. Bangunan utamanya berukuran 15 x 13 m, dengan dua buah pintu masuk. Di dalamnya terdapat tiang, makam, mihrab, dan mimbar. Bagian selatan, timur, dan barat terdapat serambi.

Interior Masjid Kampung Bandan

Seiring waktu, perbaikan Masjid Keramat Kampung Bandan dilakukan karena semakin banyaknya pengunjung yang ingin berziarah. Perluasan dilakukan di ruang utama, lalu ke bagian depan, sisi kiri-kanan, dan belakang masjid mengalami perbaikan. Peziarah ramai datang di bulan-bulan tertentu, misalnya bulan Maulid dan Sya'ban, menjelang puasa. Dari mana saja, mulai hanya Jabodetabek, hingga Kalimantan.

Sampai kini, di sisi utara gedung Masjid Keramat Kampung Bandan, masih ada 3 makam; 2 makam berturut adalah Habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi (wafat 23 Muharram 1118 H/1705M) dan Habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi (wafat 15 Ramadhan 1122 H/1710M). Satu makam terakhir adalah makam Habib Abdurahman bin Alwi Asy-Syathri (wafat 18 Muharam 1326H/1908), pendiri masjid itu.

Beberapa kali mengalami pemugaran, tahun 1956 dengan penambahan ruangan di bagian belakang dan samping kanan, tahun 1972 dipugar lagi oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Tahun 1978 dilakukan pemugaran secara total dengan mengganti semua komponen bangunan dan dibangun dengan bentuk sama seperti aslinya. Struktur aslinya tinggal sedikit.

Pada masa sesudah Perang Dunia II dan pada tahun 1960 ketenangan masjid ini terganggu oleh tentara dan oleh orang komunis. Pemprov DKI Jakarta sudah memasukkan masjid ini sebagai salah satu cagar budaya yang harus dilindungi sejak tahun 1972. Di areal masjid ini, terdapat pohon kurma yang berbuah saat Ramadhan di halaman masjid, dan satu sumur tua dengan air tawar jernih, rasa airnya seperti zamzam, walaupun dekat dengan kali kotor dan laut. pengelolaan komplek masjid dan makam ini dilakukan oleh Yayasan Maqam Kramat Kampung Bandan yang saat ini juga mengelola TK Islam Al-Mukarromah dan Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Al-Hasanah.***

Saturday, February 11, 2017

Masjid Jami Maulana Hasanudin Cikoko

Megah dengan menara nya yang menjulang, namun kini kalah jangkung dengan gedung gedung disekitarnya

Masjid Jami Maulana Hasanuddin ini terbilang cukup unik dari sisi strukturnya yang sudah menerapkan konsep masa kini meski dibangun pada awal abad ke 20 yang lalu. Bila masjid masjid yang dibangun di zamannya masih menggunakan tiang tengah atau sokoguru untuk menopang struktur atapnya, masjid ini justru sama sekali tidak menggunakan tiang tiang dimaksud.

Bangunan utama masjid Jami Maulana Hasanuddin ini pada dasarnya berupa masjid dengan atap joglo seperti masjid masjid lainnya dan di puncak atapnya ditempatkan satu kubah bawang dari bahan metal. Konsep yang memang banyak diterapkan pada masjid masjid modern yang dibangun di abad ke 21 sekarang ini.

Masjid Jami Maulana Hasanudin
Jl. MT Haryono, RT.1/RW.5, Cikoko, Pancoran
Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12770



Merujuk kepada penjelasan pengurus-nya, Masjid Jami Maulana Hasanudin didirikan oleh H Mursan bin Thaifin atau Kiai Kucang pada tahun 1928 dan baru dinyatakan selesai pada tahun 1933. Pada awalnya, pembangunan masjid ini mendapat tentangan dari sekelompok ulama lain, karena pembangunannya dianggap belum perlu mengingat di sekitar lokasi sudah ada masjid Al Atiq Kampung Melayu.

Namun Kiai Kucang dengan dibantu rekan-rekannya, tetap bersikeras mendirika masjid baru, mengingat jarak kampung cikoko dengan Masjid Al Atiq Kampung Melayu terbilang cukup jauh. Pada masa itu mushala-mushala di Jakarta belum sebanyak saat ini, masyarakat Cikoko, kala itu harus jalan kaki menuju masjid Al-Atiq dengan waktu tempuh yang cukup lama untuk menunaikan sholat berjamaah.

Ruangan masjid tanpa tiang tengah, meski dibangun di tahun 1928.

Pada saat didirikan, oleh penduduk diberi nama "At Taghwan." Baru pada tahun 1967, atas permintaan pemerintah daerah dilakukan perubahan nama menjadi Masjid Jami Maulana Hasanudin, mengambil nama sultan pertama Banten. Warga setuju karena memang Kiai Kucang masih murid dari Sultan Maulana Hasanudin.

Masjid Maulana Hasanudin pada zamannya merupakan salah satu masjid yang penting. Konon, banyak jemaah haji di zaman Hindia Belanda selalu menyempatkan diri untuk singgah ke masjid ini seusai pulang dari tanah suci dengan kapal laut. ***

Sunday, February 5, 2017

Masjid Raya Al 'Arief Jagal Senen Jakarta Pusat

Berdiri sejak abad ke 17, masjid Raya Al-Arif bertahan melewati zaman ditengah salah satu kawasan paling sibuk di Jakarta Pusat.

Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta yang berada di kawasan Pasar Senen Jakarta Pusat. Pekarangan masjid ini menjadi salah satu tempat parkir paforit bagi para pengguna kendaraan roda dua. Masjid ini diperkirakan dibangun pada abad ke 17 oleh seorang bangsawan kesultanan Gowa (Sulawesi Selatan) Upu Daeng Arifuddin, dan nama beliau kemudian di abadikan sebagai nama masjid ini.

Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen
Jl. Stasiun Senen, RW.3, Senen, Kota Jakarta Pusat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10410



Sejarah Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen

Pada mulanya masjid ini disebut Masjid Jami Jagal Senen, Karena memang dibangun ditengah tengah perkampungan para tukang jagal hewan ternak di pasar Senen, baru kemudian di tahun 1969 namanya diganti dengan nama Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen.

Masjid ini didirikan oleh seorang pedagang dari Bugis, Upu Daeng H Arifuddin bersama dengan masyarakat setempat sekitar tahun 1695. Selain untuk syiar Islam, juga sebagai tempat beribadah para pedagang, masyarakat dan perantau. Dengan dana seadanya ditambah sumbangan para jamaah, masjid itu akhirnya berdiri dengan nama Masjid Jami' Kampung Jagal.

Upu Daeng Arifuddin, dikenal sebagai keturunan Raja Goa dan juga pejuang yang disegani saat melawan kolonial Belanda. Arifuddin wafat pada tahun 1745. Makamnya terletak di bagian barat masjid. Ada pula makam empat sahabat Arifuddin. Masjid ini pernah direnovasi atas sumbangan pengusaha garmen asal Pondokkopi, Jakarta Timur, sebesar Rp 400 juta. Masjid Al-Arif sempat terancam dibongkar pada tahun 1969 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, yang berniat melebarkan area Pasar Senen.

Pemerintah Jepang saat menjajah Indonesiajuga berencana membongkar masjid, namun gagal. Dia mengungkapkan, saat pejabat pemerintah Jepang mengabadikan masjid itu, sebelum dibongkar, pada foto hasil cetakannya muncul sosok lelaki berjubah putih yang tak lain adalah sosok Arifuddin.

Interior Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen

Arsitektur Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen

Masjid Raya Al Arif Jagal Senen berdenah segi empat dengan ukuran cukup luas sekitar 550m2 dengan atap limas bersusun. Berdiri di atas lahan wakaf dari Daeng Arfiuddin seluas sekitar 2,850 m2 telah memiliki sertifikat hak milik yang dialamatkan kepada ahli waris. Lantai  Masjid Raya Al Arif Jagal Senen di tutup dengan keramik dan biasanya dibagian depan dilapis lagi dengan karpet sajadah. Dibagian tengah terdapat 4 pilar menopang struktur atap bangunan.

Ruangan dibatasi dengan dinding di bagian belakang yang memisahkan dengan jamaah wanita dan pilar-pilar dibagian sampingnya. Ruangan Utama dan ruangan untuk Jamaah wanita ini dijadikan menjadi satu dengan dinding terluar masjid dibagian pinggirnya, dan menjadi kesatuan bangunan masjid. Bagian terluar bagian depan dibatasi dengan pagar dengan teralis dengan gerbang sebagai akses masuk.

Untuk tempat wudhu berada disebelah selatan masjid. Tempat wudhu wanita terpisah dengan tempat wudhu laki-laki. Tempat buang air kecil untuk laki-laki terletak menjadi satu area dengan tempat wudhu laki-laki. Terdapat juga kamar mandi umum di tengah-tengah/antara tempat wudhu wanita dengan laki-laki. Untuk menghubungkan antara tempat wudhu dengan ruang sholat, supaya tidak kotor dipakai alas dari karpet yang terbuat dari karet. Terdapat teras di bagian depan dan sebelah selatan.

Pengelolaan dan Aktivitas

Masjid Raya Al-Arif dikelola oleh Yayasan Al Arief. Karena letak masjid yang berada di tempat umum, tidak mengherankan jika masjid ini selalu ramai dikunjungi baik dari warga sekitar, orang yang beraktifitas di daerah itu dan orang yang sedang bepergian.  Setiap harinya, pintu gerbang masjid ini hanya buka pada jam-jam ketika waktu sholat tiba. Jika di luar jam sholat, maka pintu gerbang ini ditutup. Alasan Aliudin untuk menjaga keamanan dan martabat masjid. 

Berdasarkan pengalaman, kebanyakan orang-orang datang ke masjid bukan ibadah tapi tiduran. Namun imbuh Aliudin, bagi mereka yang memang berniat mau zikir dan sholat sunnah di Masjid Al Arif Jagal Senen dapat melewati pintu belakang. Setiap harinya, pintu belakang masjid yang kecil terbuka bagi siapa saja.***

Saturday, January 28, 2017

Masjid Azzawiyah Pekojan, Jakarta Barat

Masjid Az-Zawiyah di kawasan Pekojan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat ini merupakan salah satu bangunan masjid bersejarah di Jakarta dan merupakan salah satu bangunan masjid tertua di Jakarta.

Masjid Az-Zawiyah merupakan salah satu masjid tua Jakarta yang berada di kawasan Pekojan. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas pada tahun 1812M, Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Dan juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan kitab "Fathul Mu'in" atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional.

Habib Ahmad bin Hamzah Alatas juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor. Ketika dibangun, masjid ini tidak saja merupakan sebuah bangunan untuk ibadah semata namun juga merupakan tempat penyelenggaraan pendidikan islam.  Kini bangunan masjid ini dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.




Masjid Azzawiyah berada tidak jauh dari jalan Pekojan Kecil, awalnya hanya berupa mushola kecil, Mushola ini kemudian diwakafkan hingga sekarang dan kemudian menjadi sebuah masjid. Kawasan Pekojan juga dikenal sebagai Kampung arab meskipun pada awalnya dihuni oleh Muslim dari India. Saat ini di Pekojan terdapat 4 Masjid Jami’ dan 26 mushola beberapa diantaranya sudah eksis sejak era kolonial,

Masjid kecil ini begitu ramai dikunjungi oleh muslim keturunan arab terutama di hari Lebaran hingga hari ketiga. Tepat di depan Mushola ini berdiri rumah tua bergaya Moor, rumah tersebut sekarang ditempati keluarga Saleh Aljufri. Keluarga Saleh Al-Jufri ini adalah salah satu keturunan Arab yang masih tinggal di kawasan Pekojan.***


Sunday, January 22, 2017

Masjid Jami’ Kampung Baru Pekojan Jakarta

Masjid Jami' Kampung Baru di kelurahan Pekojan ini merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta. Meski bangunannya sudah mengalami perubahan, salah satu artefak berharga dari masjid ini berupa sebuah mimbar berukir indah kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta (Gedung Fatahillah) sebagai salah satu bukti otentik sejarah Jakarta. 

Masjid Jami’ Kampung Baru adalah salah satu masjid tertua di Jakarta. Didirikan oleh para imigran Muslim dari India pada tahun 1748. Terletak di Jl. Bandengan Selatan No. 34, tidak jauh dari Masjid Al Anshor. Saat ini bangunannya sudah tidak asli lagi, hanya tersisa keranka bagian pusat yang bersegi empat, ukiran setandan buah anggur dan beberapa pilar pada jendela. Masjid Jami Kampung Baru ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Sebuah mimbar ukir yang indah dan pernah digunakan dalam masjid ini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Perkembangan selanjutnya, Muslim keturunan India hanya pada hari-hari besar saja datang ke mesjid ini, karena sebagian besar mereka sudah pindah ke daerah Pasar Baru. Masjid tua ini kini dikelola oleh Yayasan Masjid Jami Kampung Baru Inpak.




Kali Bandengan yang membentang di wilayah Pokojan kecamatan Tambora ini, konon disebut dengan nama kali Bandengan karena memang dulunya merupakan kawasan rawa rawa yang banyak ditemukan ikan Bandeng. Kali ini pada abad ke 18 merupakan salah satu jalur perdagangan di kota Batavia.

Para pedagang dan saudagar dari mancanegara termasuk dari Arabia dan India kerap kali melintasi kali ini beberapa dari mereka kemudian menetap di kawasan tersebut termasuk muslim muslim pedagang dari India yang kemudian membangun masjid di kawasan itu untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah.

Masjid Jami Kampung Baru ini dibangun oleh Syeik Abubakar yang merupakan salah satu saudagar muslim dari India yang tinggal di kawasan tersebut, pembangunannya dimulai tahun 1743 dan selesai tahun 1748. Sumber lain menyebutkan pembangunannya dimulai tahun 1748 dan selesai tahun 1817.

Masjid Jami’ Kampung Baru bukanlah masjid pertama yang dibangun oleh muslim india di Batavia, sebelumnya mereka telah membangun masjid di Kawasan Jalan Pengukiran. Paska perisitiwa berdarah pembunuha masal orang Tionghoa di Batavia tahun 1740, para pedagang India di Batavia ini mendapatkan kesempatan dagang yang lebih leluasa sehingga jumlah mereka pun bertambah banyak, sehingga masjid di Pengukiran tidak lagi mampu menampung Jemaah sehingga kemudian dibangunlah masjid di Kampung Baru ini.

Dalam sebuah karangan Belanda pada tahun 1829 masjid kampong Baru ini disebut juga sebagai Moorsche Tempel (Kuilnya orang orang Moor). Kemungkinan dari sanalah asal muasal sejarah yang menyebut masjid ini dibangun oleh Muslim Moor, yangk kemudian Istilah Moor diidentikan dengan Muslim India. Meskipun terminologi Moor sesungguhnya merupakan nama kelompok etnis Muslim di Afrika Utara (Maroko dan sekitarnya), yang pada masanya berhasil menaklukkan Eropa dan mendirikan eEmperium Islam di Andalusia (Spanyol).

Denah dasar masjid ini berbentuk persegi dengan atap limas bertumpuk (tumpang), Bentuk mesjid semacam ini menyerupai bentuk-bentuk bangunan tradisional Jawa, di mana biasanya terdapat 4 tiang soko guru pada bagian tengah bangunan sebagai penyangga atap berbentuk limas tersebut. Luas masjid ini sekitar 1.050 meter2, lantainya ditutup dengan ubun bewarna putih dan diatasnya menghampar sajadah bewarna hijau dan sebagian lagi bewarna merah. Di langit langit masjid menggantung satu lampu antic yang sudah ada disana sejak masjid ini berdiri.***

Saturday, January 21, 2017

Masjid Ar Raudah, Pekojan - Jakarta

Interior Masjid Ar-Raudah di Pekojan, Jakarta, seperti masjid masjid kebanyakan dilengkapi dengan mihrab meski hanya berupa ceruk kecil dan sebuah mimbar. namun tampilan luar masjid ini berupa bangunan seperti bangunan rumah disekitarnya, tidak nampak sebagai sebuah bangunan masjid.

Masjid Ar-Raudah adalah salah satu masjid tua di Jakarta yang berada di Jalan Pekojan II, kelurahan Pekojan, kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Masjid ini dahulunya merupakan tempat berkumpulnya anggota Jamiatul Khair (Perkumpulan Kebaikan) yang dibentuk oleh Ali dan Idrus yang berasal dari keluarga Shahab di masa penjajahan Belanda.

Perkumpulan itu berperan dalam penyebaran agama Islam pada masa Hindia Belanda. Namun, Belanda mencurigai kumpulan tersebut. Jamiatul Khair tetap ingin diakui sebagai organisasi dan mengajukan permohonan pada 1903. Baru pada 1905 mereka resmi diakui sebagai organisasi oleh pemerintah kolonial Belanda.

Ide dasar dari perkumpulan Jamiatul Khair adalah untuk memunculkan ide para pemuda Islam untuk membentuk organisasi organisasi kebangsaan lainnya seperti Budi Utomo yang berdiri pada 1908. Sejarah perkumpulan Jamiatul Khair dan adanya sumber mata air di dalam masjid ini yang tak pernah kering makin menghiasi sejarah dari Masjid Ar Raudah di Pekojan II ini.

Masjid ini berada di Jalan Pekojan II dan masuk ke dalam sebuah gang kecil, dengan banyak rumah di sekitarnya. Tampak luar masjid didominasi oleh warna cat putih dan hijau pada pintu dan jendela. Dominasi warna cat masjid ini sama halnya seperti Masjid An Nawier yang berada tepat di depan Jembatan Kambing dan Penjagalan, di kawasan yang sama. Masjidnya berlantai satu, dari luar memang tak tampak seperti masjid, bahkan layaknya rumah biasa saja. Di luarnya juga terdapat sofa-sofa sebagai tempat duduk di teras masjid.

Namun, ketika kita memasuki ke dalam, itu benar adalah masjid. Bagian depan ruangan terdapat mimbar, sajadah panjang, rak tempat Al Qur’an, dan bagian pojok kiri terdapat ruang shalat bagi wanita. Beranjak kepada ruangan selanjutnya, maka kita akan dikejutkan oleh sekolam mata air yang besar. Mata air di dalam Masjid Ar Raudah ini dikenal warga dengan mata air yang tak pernah kering meski pada musim kemarau sekali pun, bahkan kedalaman airnya pun tak diketahui. Bentuknya seperti kolam air biasa saja, banyak warga pun jika musim kemarau tiba mengambil air dari sana. ***

Tuesday, November 20, 2012

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)

Jakarta Islamic Center (JIC)

Sulit membayangkan bahwa lahan tempat masjid ini berdiri dulunya adalah bekas lahan prostitusi atau lokalisasi Karamat Tunggak di wilayah Jakarta Utara. Tapi begitulah faktanya. Situs resmi masjid ini menyebut kehadiran Kehadiran Jakarta Islamic Centre (JIC) yang merubah tanah hitam menjadi tanah putih, "min al-dzulumaat ila an-nuur", diharapkan mampu menampilkan citra baru yang memancarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang menyejukkan nurani.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta atau yang lebih dikenal dengan Jakarta Islamic Centre adalah organisasi Non Struktural di bawah Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta. Dirancang oleh arsitek Ir. Muhammad Nu’man diatas lahan seluas 109.435 m2, dengan Konsepsi pembangunan JIC merupakan sebuah bentuk fasilitasi fungsi-fungsi kemakmuran masjid yang difasilitasi secara total oleh Pemda DKI Jakarta dengan ciri utamanya, terdapat fungsi peribadatan, fungsi pendidikan dan fungsi perdagangan/ bisnis.

Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)
Jl, Kramat Jaya, Kelurahan Tugu Utara
Kecamatan Koja, Kotamadya Jakarta Utara
Provinsi DKI Jakarta




Proses pembangunannya bermula di tahun 1997 dengan keluarnya rekomendasi penutupan lokalisasi Kramat Tunggak dilanjutkan dengan dikeluarkan SK Gubernur KDKI Jakarta No. 495/1998 tentang penutupan panti sosial tersebut selambat-lambatnya akhir Desember 1999. Pada 31 Desember 1999, Lokres Kramat Tunggak secara resmi ditutup melalui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 6485/1998. Selanjutnya Pemda Provinsi DKI Jakarta melakukan pembebasan lahan bekas komplek lokalisasi Kramat Tunggak.

Masterplan Masjid JIC diwujudkan tahun 2002. Kemudian Agustus 2002 dilakukan Studi Komparasi ke Islamic Centre di Mesir, Iran, Inggris dan Perancis. Pada tahun yang sama, dilakukan perumusan Organisasi dan Manajemen JIC. Masjid bergaya campran Turki dan Timur Tengah ini ini diresmikan pada tanggal 4 Maret 2003 dimasa pemerintahan Gubernur Sutiyoso. Luas bangunan masjidnya mencapai 2200 meter dapat menampung 20.680 jemaah sekaligus

Menilik arsitektural masjid ini kita akan dapat menemukan  beberapa persamaannya dengan Masjid At-Tin di Taman Mini Indonesia, karena memang dirancang oleh Arsitek yang sama. Ir. Muhammad Nu’man yang merancang masjid ini memang sudah terkenal dengan berbagai mahakaryanya termasuk di dalamnya adalah Masjid Salman ITB, Masjid Amir Hamzah di Taman Ismail Marzuki, Masjid at-Tin Jakarta, Masjid Islamic Center Jakarta, Masjid Soeharto di Bosnia dan Masjid Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika Selatan.***

----------------------

::: Baca juga :::


Saturday, October 27, 2012

Ahok Mau Bangun Masjid Raya di Jakarta

Ahok alias Basuki Tjahaya Purnama. Wagub DKI

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengatakan, pemerintah DKI Jakarta berencana membangun pusat kegiatan umat Islam di Jakarta.
Pada masa pemerintahannya selama lima tahun ke depan, dia dan Jokowi akan membangun sebuah masjid raya.

"Di Jakarta ini kan belum punya masjid raya, saya dan Pak Gubernur mau bangun masjid raya di Jakarta," kata Ahok ketika menghadiri pelantikan pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Sabtu 27 Oktober 2012.

Ahok sendiri datang diundang oleh ketua PITI yang merupakan mantan narapidana, Anton Medan. "Saya ke sini di undang Pak Kiai Anton," katanya.

Dia berharap dilantiknya pengurus PITI yang baru ini dapat memberikan pengaruh baik bagi pembangunan DKI Jakarta. "Saya harap, PITI ini bisa menjadi transformasi bagi Indonesia, dan memberikan kontribusi dalam pembangunan di Indonesia," katanya.

Saturday, August 4, 2012

Selama Ramadhan Masjid Keramat Luar Batang Buka 24 Jam

Masjid Luar Batang dengan menara tunggalnya yang menjulang diantara pemukiman warga penjarngan berlatar belakang gedung gedung jangkung Jakarta.

Aktivitas ibadah di bulan Ramadhan terasa lebih khusyuk jika dilakukan di masjid. Salah satu masjid yang bisa dijadikan referensi adalah Masjid Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.

Di masjid tersebut, selain bisa melakukan serangkaian aktivitas ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, pengunjung juga bisa berziarah di makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus untuk menghormati jasanya menyebarkan Islam di tanah Betawi.

Ya, di area masjid tersebut memang terdapat makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus yang berumur sekitar dua setengah abad. Meski tidak seramai bulan-bulan biasanya, namun banyak juga orang yang datang tidak hanya dari Jakarta, tapi juga dari luar Jakarta untuk berziarah ke makam tersebut.

Ada etika yang harus dipatuhi jika ingin berziarah ke makam tersebut. Selain pengunjung harus berperilaku santun dan tidak bertutur kata sembarangan, peziarah juga harus berwudhu untuk menjaga kesucian masjid tersebut.

Di bulan Ramadhan ini, Masjid Luar Batang juga tidak pernah sepi dari aktivitas dakwah. Selain rutin menggelar buka puasa bersama, dan salat tarawih berjamaah, masjid tersebut juga ramai dengan warga yang beritikaf dan tadarus Alquran menunggu malam Lailatul Qadar.

“Saat malam Lailatul Qadar umat Islam banyak yang berdatangan ke sini seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Yudo Sukmono, Humas Masjid Keramat Luar Batang, Jumat (3/8).

Menurutnya, selama Ramadhan masjid buka selama 24 jam untuk memberi kesempatan kepada orang yang beribadah. Sebab, banyak juga yang datang karena punya niat dan hajat agar permohonannya dikabulkan Allah.

Ditambahkannya, jika hari biasa di bulan Ramadahan hanya terdapat 100 peziarah. Namun, jika malam Jumat bisa mencapai 500 peziarah. Bahkan, pada malam Jumat Kliwon atau bulan Rajab bisa mencapai 1.000 peziarah.

source : Harianterbit.com

Artikel Terkait


Wednesday, July 4, 2012

Ajaib! Masjid Tak Terbakar di Sebelah Rumah yang Terbakar Habis


Masjid Al-Barokah yang selamat dari kepungan api

Jakarta Di balik peristiwa kebakaran yang menghanguskan 7 rumah di Tanah Abang Jakarta Pusat, ternyata ada keajaiban. Satu masjid yang terletak tepat di sebelah rumah yang terbakar habis ternyata tidak rusak sedikit pun. Menurut salah satu petugas pemadam kebakaran, hal ini disebabkan karena angin yang tidak mengarah ke masjid tersebut.

Pantauan detikcom di lokasi, tidak ada tanda-tanda kerusakan pada masjid bernama Al Barokah tersebut. Pemandangan ini sangat kontras dengan rumah yang persis terletak di sebelah masjid yang hangus terbakar. Masjid ini pun dijadikan sebagai tempat pengungsian bagi warga yang rumahnya terkena musibah kebakaran tersebut.

"Iya pas api membesar, angin berhembus ke barat. Ke arah yang berlawanan dengan arah masjid, jadi tidak terbakar," ujar seorang petugas Pemadam Kebakaran, Fikri saat ditemui di lokasi (2/7/2012).

Saat ini api sudah mulai berhasil dipadamkan. Sudah tidak lagi terlihat api berkobar seperti sebelumnya, hanya asap putih yang terlihat mengepul di lokasi. "Sudah padam tinggal pendinginan," ucap Fikri.
(riz/nwk)