Saturday, February 11, 2017

Masjid Jami Maulana Hasanudin Cikoko

Megah dengan menara nya yang menjulang, namun kini kalah jangkung dengan gedung gedung disekitarnya

Masjid Jami Maulana Hasanuddin ini terbilang cukup unik dari sisi strukturnya yang sudah menerapkan konsep masa kini meski dibangun pada awal abad ke 20 yang lalu. Bila masjid masjid yang dibangun di zamannya masih menggunakan tiang tengah atau sokoguru untuk menopang struktur atapnya, masjid ini justru sama sekali tidak menggunakan tiang tiang dimaksud.

Bangunan utama masjid Jami Maulana Hasanuddin ini pada dasarnya berupa masjid dengan atap joglo seperti masjid masjid lainnya dan di puncak atapnya ditempatkan satu kubah bawang dari bahan metal. Konsep yang memang banyak diterapkan pada masjid masjid modern yang dibangun di abad ke 21 sekarang ini.

Masjid Jami Maulana Hasanudin
Jl. MT Haryono, RT.1/RW.5, Cikoko, Pancoran
Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12770



Merujuk kepada penjelasan pengurus-nya, Masjid Jami Maulana Hasanudin didirikan oleh H Mursan bin Thaifin atau Kiai Kucang pada tahun 1928 dan baru dinyatakan selesai pada tahun 1933. Pada awalnya, pembangunan masjid ini mendapat tentangan dari sekelompok ulama lain, karena pembangunannya dianggap belum perlu mengingat di sekitar lokasi sudah ada masjid Al Atiq Kampung Melayu.

Namun Kiai Kucang dengan dibantu rekan-rekannya, tetap bersikeras mendirika masjid baru, mengingat jarak kampung cikoko dengan Masjid Al Atiq Kampung Melayu terbilang cukup jauh. Pada masa itu mushala-mushala di Jakarta belum sebanyak saat ini, masyarakat Cikoko, kala itu harus jalan kaki menuju masjid Al-Atiq dengan waktu tempuh yang cukup lama untuk menunaikan sholat berjamaah.

Ruangan masjid tanpa tiang tengah, meski dibangun di tahun 1928.

Pada saat didirikan, oleh penduduk diberi nama "At Taghwan." Baru pada tahun 1967, atas permintaan pemerintah daerah dilakukan perubahan nama menjadi Masjid Jami Maulana Hasanudin, mengambil nama sultan pertama Banten. Warga setuju karena memang Kiai Kucang masih murid dari Sultan Maulana Hasanudin.

Masjid Maulana Hasanudin pada zamannya merupakan salah satu masjid yang penting. Konon, banyak jemaah haji di zaman Hindia Belanda selalu menyempatkan diri untuk singgah ke masjid ini seusai pulang dari tanah suci dengan kapal laut. ***