Sunday, February 26, 2017

Mesjid Agung Ciamis

Megah dan Modern, Masjid Agung Ciamis, kini berdiri megah di tengah tengah Kota Ciamis.

Masjid Agung Ciamis berada di tengah-tengah kota Ciamis, berdampingan dengan kantor Pemerintahan Kabupaten dan gedung DPRD Kabupaten Ciamis, berhadapan langsung dengan Alun-alun kota (taman Raflesia). Masjid ini merupakan masjid termegah dan terbesar di kabupaten Ciamis dengan luas bangunan mencapai 5.130m2, berdiri diatas lahan seluas 16.000m2 termasuk di dalamnya halaman, taman, dan area parkir dan terhubung langsung dengan alun alun Kota Ciamis.

Masjid ini pertama kali dibangun oleh Bupati Galuh ke-16, Rd. A. A. Koesoemahdiningrat atau Kanjeng Dalem. Setelah itu beberapa kali mengalami serangkaian renovasi dan dua kali dibangun ulang secara total setelah bangunan sebelumnya diruntuhkan. Bangunan megah dengan dua Menara tinggi menjulang yang kini berdiri merupakan bangunan dari masa pembangunan tahun 2002, sedangkan bangunan pertama yang didirikan oleh Kanjeng Dalem sudah tak berbekas.

Mesjid Agung Ciamis (1882)             
Jl. Jenderal Sudirman No.3, Ciamis
Kec. Ciamis, Kabupaten Ciamis
Jawa Barat 46211. Indonesia



Sejarah Masjid Agung Ciamis

Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1882, saat Ciamis dipimpin oleh Bupati Galuh ke-16, Rd. A. A. Koesoemahdiningrat yang biasa disebut Kanjeng Dalem (memerintah 1839-1886), namun baru dapat diselesaikan dan diresmikan pada tahun 1902 oleh Bupati Galuh Rd. A. A. Koesoemah Soebrata (putra Kanjeng Dalem), sebagaimana dijelaskan prasasti kayu yang dipasang  di pintu masuk masjid sebelah kanan yang bertuliskan: Tanggal 30 Romadhon tahoen 1319 H/10 Djanoeari tahoen 1902 M Waktoe Boepati Kanjeng Dalem Raden Aria Adipati Koesoemah Soebrata.

Kala itu bentuk masjid ini beratap limas bersusun tiga persis atap makam Jambansari yang sekarang masih berdiri kokoh, dirancang oleh Pangeran Radjab selaku arsitek dibantu oleh ahli bangunan Alhari Joedanagara. Semasa berkuasa, Kanjeng Dalem, juga membangun loji (Gedung Negara), gedung kabupaten (otonom), penjara, masjid jami di tiap desa, sekolah desa bersamaan dengan program penanaman kelapa di semua sudut desa pengganti tanam paksa (cultuur stelsel).

Bangunan masjid pertama dari masa Kanjeng Dalem, mengalami kerusakan parah akibat dibakar oleh gerombolan DI/TII di tahun 1958. Bangunan masjid ini diruntuhkan dan dibangun ulang dalam bentuk yang berbeda oleh bupati Ciamis ke 27, Rd. Yoesoef Suriasaputra, dan H. Juwinta sebagai pelaksana. Atap masjid yang sebelumnya berupa atap joglo bertingkat diubah menjadi berbentuk bulat berbahan seng. Di bagian depan kanan dan kiri masjid dibuat menara berbentuk bulat yang juga terbuat dari seng. Renovasi ketiga dilakukan tahun 1982 pada masa kepemimpinan Bupati Drs. H. Soejoed.

Interior Masjid Agung Ciamis

Bangunan masjid dari era tahun 1958 itu kembali di robohkan total pada masa Bupati Ciamis ke 33, H Momon Gandasasmita SH, kemudian dibangun masjid baru yang lebih besar dan serba beton termasuk kubahnya yang semula dari seng, lantai yang sebelumnya dari tembok diganti dengan keramik, di sebelah utara masjid pada bagian depannya dibangun lagi satu menara, dan ruangan depan serambi masjid yang tadinya tertutup dibuat terbuka.

Tahun 2002 diprakarsai oleh Bupati H. Oma Samita, S.H., M.Si, Masjid Agung Ciamis mengalami beberapa perubahan besar lagi. Kubah yang semula hanya ada satu dan berbahan beton kini mendapat tambahan empat kubah dari fiberglass dan lebih tinggi daripada sebelumnya, lantai yang semula berbahan keramik telah diganti dengan granit. Untuk pelapis dinding digunakan material marmer, di sebelah timur serambi masjid dibangun dua buah menara. Di bagian bawah menara dibangun basement yang berfungsi sebagai kantor, ruang rapat, perpustakaan, toilet, serta lorong bawah tanah yang menghubungkan ruang basement dengan serambi masjid.

Aktivitas Masjid Agung Ciamis

Kegiatan yang dilaksanakan DKM cukup banyak. Selain pelaksanaan rutin kuliah shubuh, shalawat, belajar Al-Quran, bahkan setiap satu minggu satu kali diadakan pengajian umum dan kader PKK. Khusus di bulan Rahmadhan ada program Itikaf, yang diadakan Ikatan Da’i Indonesia (IKADI), bekerjasama dengan DKM Mesjid Agung Ciamis. Program ini dimaksudkan untuk membangun karakter umat, meningkatkan kualitas rohani, menghidupkan sunnah Itikaf, mendidik dan membina akidah dan akhlah, terutama para pelajar.

Agenda kegiatan yang dilaksanakan dalam program DKM yaitu, renungan malam, (sholat dan doa bersama), kuliah Shubuh, kuliah Dzuha, kuliah selepas Dzuhur, bimbingan Tahsin dan Tahfidz Al-Quran, serta kajian sore. Mesjid Agung Ciamis juga biasanya menjadi tempat persinggahan masyarakat yang akan melakukan perjalanan ke daerah Cilacap, Banyumas, Tasik, Garut, dan Bandung. Mereka berhenti sejenak untuk salat, beristirahat dan makan.***

Referensi