Saturday, June 3, 2017

Mesjid Agung Garut

Masjid Agung Garut, menilik dari tahun pembangunannya, masjid Agung ini merupakan masjid tertua diantara masjid masjid agung lainnya di kabupaten tetangganya.

Garut adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Barat yang memiliki wilayah pantai di laut selatan Jawa. Kabupaten Garut berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung disebelah barat, Kabupaten Sumedang disebelah utara dan Kabupaten Tasikmalaya disebelah timur, sedangkan sisi selatannya menghadap ke Laut Selatan Jawa. Sejak tahun 1809 Kabupaten Garut telah memiliki sebuah Masjid Agung, meskipun kini Masjid Agung yang dibangun pada tahun tersebut sudah berubah total menjadi sebuah masjid agung ber-arsitektur modern.

Dari sisi usia sejak pertama kali dibangun di tahun 1809, Masjid Agung Garut ini terbilang cukup tua dibandingkan dengan masjid masjid agung di wilayah tetangganya. Seperti Masjid Agung Kota Tasikmalaya (tahun 1888), Masjid Agung Manonjaya juga di kota Tasikmalaya (tahun 1837), Masjid Agung Bandung (kini menjadi Masjid Raya Bandung) dibangun tahun 1812 dan Masjid Agung Cianjur (tahun 1810), Dari wilayah tetangganya hanya Masjid Agung Sumedang yang dibangun lebih dulu yakni tahun 1721.

Masjid Agung Garut
Jl. Ahmad Yani, Paminggir, Garut Kota
Kabupaten Garut, Jawa Barat 44118


  
Masjid agung Garut terletak di sebelah utara Alun-alun Garut. Menempati lahan wakaf seluas 4.480 m2. Mesjid ini menjadi mesjid utama di kabupaten Garut serta menjadi pusat semua kegiatan ke-Islaman di kabupaten Garut. Dahulunya antara mesjid dan alun-alun dipisahkan oleh jalan Alun-alun Barat. Saat ini jalannya dihilangkan sehingga mesjid menjadi satu dengan alun-alun.

Sejarah Masjid Agung Garut

Pembangunan mesjid agung Garut tidak bisa dipisahkan dengan pembangunan kabupaten Garut. Berdasarkan catatan sejarah, pada tanggal 15 September 1813 pertama kali dibangun sarana dan prasarana ibukota pemerintahan dengan pembangunan pendopo, kantor asistén residen, mesjid, penjara, dan alun-alun.

Tidak ada informasi pasti tentang tahun pembangunan masjid ini namun diperkirakan Masjid Agung Garut ini telah berdiri sejak tahun 1809 atau bahkan mungkin jauh sebelum itu. Angka tahun tersebut di dasarkan kepada penemuan tarikh tahun tertua yang terdapat di salah satu nisan kuburan di komplek pemakaman di samping Masjid ini. 

Metamorfosis Masjid Agung Garut

Seperti telah diketahui bersama tentang sebuah tradisi Islam yang menempatkan pemakaman berdekatan atau bersebelahan dengan masjid, bukan sebaliknya. Dalam artian bahwa masjid telah dibangun terlebih dahulu sebagai tempat peribadatan dan tempat penyelenggaraan jenazah hingga ke proses pemakaman. Sehingga besar kemungkinan Masjid Agung Garut ini telah berdiri sebelum tahun 1809.

Berdasarkan dokumen foto foto tua masa penjajahan Belanda, Masjid Agung Garut ini pada awanya berbentuk seperti kebanyakan masjid masjid tradisional asli Indonesia, berupa masjid dengan atap limas bersusun tiga, sama halnya dengan masjid Agung Banten ataupun masjid Agung Sangciptarasa Cirebon.

Hanya saja pada Masjid Agung Garut ini bangunannya tampak ditambahkan bangunan tambahan di sisi timur memanjang dari bangunan utama serta terdapat sebuah beranda di sisi depannya dengan sentuhan gaya eropa dengan beberapa pilar pilar bundar menopang fasad bangunan yang terbuat dari beton.

Interior Masjid Agung Garut

Lantai bangunan ditinggikan lebih tinggi dari paras tanah disekitarnya, sehingga ditempatkan sejejeran anak anak tangga berukuran lebar sebagai akses ke masjid dari halaman depan. Sampai tahun 1920-an bangunan masjid ini bertahan dengan bentuk demikian meskipun ada tambahan bangunan di sayap kiri dan kanannya.

Perubahan bentuk terjadi di tahun 1940-an dengan mengubah atap bangunan utama. Struktur atap bangunan utamanya masih berbentuk limasan bersusun tiga, namun dibuat lebih lancip dan menjulang, atau dalam bahasa sunda disebut atap nyungcung. Sedangkan bangunan di sayap kiri dan kanannya dibangun dengan bentuk atap limas bersusun namun di puncaknya ditempatkan sebuah kubah setengah bundar, mengesankan sebuah bangunan masjid yang diapit oleh dua bangunan sayap kembar disisi dan kanannya.

Perubahan signifikan atas mesjid ini terjadi pada tahun 1979 yang mengubah bentuk atap, dari berbentuk lancip diganti memakai kubah dan plat beton. Bentuk kubah ini diubah kembali secara menyeluruh pada tanggal 10 November 1994 dan diselesaikan pada tanggal 25 Agustus tahun 1998. Renovasi terakhir juga memperbaiki arah kiblat dengan bantuan ahli geodesi dari ITB menggunakan GPS (Global Positioning System).

Dokumentasi pemasangan ornamen kubah dengan helikopter TNI di tahun 1997.

Pemasangan kubah dengan Helikopter

Sebuah peristiwa menarik dan tak biasa dalam proses renovasi masjid Agung Garut ini di tahun 1994 tersebut, pada saat proses pemasangan kerangka kubah pada empat menara masjid ini, saat itu tidak tersedia peralatan Crane untuk mengangkut kerangka tersebut ke puncak menara, dan juga karena mungkin dianggap lebih praktis akhirnya helikopter digunakan untuk keperluan itu.

Panitiapun meminta bantuan TNI. Alhasil, selama tiga hari, tanggal 28 sampai 30 Desember 1997, satu helikopter SA-330 Puma HT-3315 dari Skadron Udara 8 yang bermarkas di Pangkalan TNI Angkatan Udara Atang Sendjaja Bogor, dan dibantu pula rekan-rekan pecinta alam Garut, dikerahkan dalam pemasangan kubah menara Masjid Agung Garut ini.

Referensi