Sunday, June 4, 2017

Masjid Kraton Soko Tunggal, Tamansari, Yogyakarta

Masjid Kraton Soko Tunggal, Tamansari, Yogyakarta, terdiri dari dua bangunan yakni bangunan utama ditambah dengan sebuah pendopo.

Sesuai dengan namanya, masjid ini memang berada di lingkungan Kraton Yogyakarta dan memang hanya memiliki satu soko atau tiang penyanggah. Soko Tunggal yang dimaksud adalah tiang penyanggah struktur atap masjid yang dalam pakem masjid Jawa biasanya menggunakan empat sokoguru, namun di masjid ini hanya menggunakan satu sokoguru, berdiri di tengah tengah ruangan masjid menyanggah langsung ke puncak struktur atap.

Lokasi masjid Soko Tunggal berada komplek Kampung Wisata Tamansari, langsung terlihat disebelah kiri jalan ketika melewati gerbang kampung wisata tersebut. Selain Soko gurunya yang hanya satu saja, soko guru tunggal tersebut juga berdiri diatas umpak (landasan batu) yang berasal dari era kekuasaan Sultan Agung Hanyokro Kusumo (raja terbesar kesultanan Mataram Islam). Keunikan lainnya adalah bahwa pembangunan masjid ini sama sekali tidak menggunakan paku besi untuk menyambung masing masing struktur kayu-nya.

Masjid Soko Tunggal
Jl. Taman 1 No.318, Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta
Daerah Istimewa Yogyakarta 55133. Indonesia



Arsitektur Masjid Kraton Soko Tunggal

Masjid Sokotunggal dirancang oleh (almarhum) R. Ngabehi Mintobudoyo, arsitek Keraton Yogyakarta yang terakhir. Desainnya berbentuk joglo, dengan satu menara dari besi dan satu tiang (soko) berukuran 50 cm x 50 cm. Masjid yang sangat kental corak jawa. Atap masjid berbentuk Joglo, dengan 4 soko Brunjung, 4 soko bentung dan 1 Soko Guru. Ompak raksasa sebagai landasan bangunan berjumlah 2 dan berasal dari kraton Sultan Agung di desa Kerta, Kraton Plered.

Berdiri diatas lahan seluas 900 m2, yang merupakan tanah wakaf dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Bangunan masjid berukuran 10 x 16 m2. dan ditambah dengan bangunan serambi berukuran 8 x 16 m2.Luas keseluruhan-nya mencapao 288 m2 dan mampu menampung 600 jamaah.

Arsitektur bangunan masjid ini sarat dengan makna. 4 buah Saka Bentung dan 1 buah Saka Guru, semuanya berjumlah 5 buah, melambangkan Pancasila. Sedangkan sokoguru tunggalnya merupakan lambang sila yang pertama, “Ketuhanan yang maha esa”. Usuk sorot (memusat seperti jari-jari payung), disebut juga peniung merupakan lambang Kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya.

Pendopo Masjid Kraton Soko Tunggal.

Beragam ukiran dimasjid ini juga mengandung makna dan maksud tertentu. Ukiran Probo, berarti bumi, tanah, kewibawaan. Ukiran Saton, berarti menyendiri, sawiji. Sorot berarti sinar cahaya matahari. Tlacapan berarti panggah, tabah dan tangguh. Ceplok-ceplok berarti pemberantas angkara murka. Ukiran mirong berarti maejan. Bahwa semuanya kelak pasti dipanggil oleh Allah. Ukiran tetesan embun diantara daun dan bunga yang terdapat di balok uleng. Maksudnya, siapa yang salat di masjid ini semoga mendapat anugerah Allah.

Dari aspek konstruksi, bangunan masjid Sokotunggal ini juga sarat makna. Dalam konstruksi masjid itu ada bagian yang berbentuk bahu dayung. Ini melambangkan, orang-orang yang salat di masjid ini menjadi orang yang kuat menghadapi godaan iblis angkara murka yang datangnya dari empat penjuru dan lima pancer. Sunduk, artinya menjalar untuk mencapai tujuan. Santen, artinya bersih suci (kejujuran). Uleng, artinya wibawa. Singup, artinya keramat, Bandoga, artinya hiasan pepohonan, tempat harta karun. Dan tawonan, yang berarti gana, manis, penuh.

Rangka-rangka masjid yang dibentuk sedemikian rupa juga memiliki makna. Soko brunjung melambangkan upaya mencapai keluhuran wibawa melalui lambang tawonan. Dudur adalah lambang ke arah cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang gonjo. Sirah godo, melambangkan kesempurnaan senjata yang ampuh, sempurna baik jasmani dan rokhani. Dan mustoko yang melambangkan keluhuran dan kewibawaan.

Soko atau tiang tunggal berdiri ditengah tengah ruang masjid, bukan empat soko (tiang) seperti kebanyakan masjid masjid bergaya Jawa pada umumnya.

Sejarah Masjid Soko Tunggal

Berdarsarkan prasasti yang ada di masjid ini, Masjid Kraton Soko Tunggal selesai dibangun pada hari Jum’at Pon, tanggal 21 Rajab tahun 1392 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 1 September 1972. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 1973 Oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pembangunan masjid ini merupakan inisiatif dari masyarakat muslim setempat, yang memang membutuhkan masjid sebagai tempat peribadatan mereka. sebelum masjid ini berdiri masyarakat muslim disana melaksanakan sholat Jum’at di salah satu gedung di komplek Tamansari yakni gedung Kedung Penganten.***

Referensi