Sunday, June 18, 2017

Masjid Al-Mubarok Berbek, Tertua di Kabupaten Nganjuk


Bangunan baru masjid Al-Mubarok di sisi depan menutupi seluruh nya bangunan asli yang berada dibelakangnya.


Masjid Al-Mubarok adalah saah satu masjid tertua dan bersejarah di kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Masjid ini juga biasa disebut dengan Masjid Yoni Al-Mubarok karena adanya Yoni Kuno di halaman masjid ini yang kemudian diubah suai menjadi sebuah jam matahari sebagai penunjuk waktu sholat. Selain itu masjid ini juga seringkali disebut sebagai masjid kanjeng Jimat merujuk kepada nama pembangunnya.

Masjid bersejarah ini terletak di Desa Ngrawen kecamatan Berbek, ±8km arah selatan kota Nganjuk. Kecamatan Berbek sendiri merupakan ibukota kabupaten Nganjuk, di kecamatan ini pula sejarah kabupaten Nganjuk bermula sebagai sebuah Kadipaten Berbek dibawah pemerintahan seorang adipati.

Masjid Al-Bubarik Berbek
no, Jl. Mayjen Supeno No.76, Ngrawan
Berbek, Kabupaten Nganjuk
Jawa Timur 64471


Masjid Al-Mubarok pertama kali didirikan tahun 1745 oleh Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sosro Koesoemo atau Kanjeng Jimat, Adipati Berbek pertama yang ditunjuk oleh Kraton Yogyakarta. Beliau berkuasa di daerah ini pada saat hampir seluruh penduduk nya masih memeluk agama Hindu dari era kekuasaan majapahit di kaki gunung Wilis.

Bukan mudah bagi beliau untuk berdakwah di daerah kekuasaannya tersebut, Penduduk lereng gunung Wilis yang sangat mempercayai agama peninggalan raja-raja terdahulu masih asing dengan Islam. Mereka lebih percaya kepada ajaran Hindu. Namun upaya sang adipati pada ahirnya membuahkan hasil hampir seluruh rakyat akhirnya memeluk agama baru itu.

Pada tahun 1745, Kanjeng Jimat mewakafkan sebidang tanah pekarangan miliknya yang dulu menjadi tempat peribadatan para pendahulunya di Desa Kacangan untuk didirikan sebuah Masjid yang kemudian diberi nama Masjid Al-Mubarok yang merupakan masjid pertama yang dibangun di wilayah kadipaten Berbek (kini menjadi Kabupaten Nganjuk).

Ruang mihrab dan mimbat tua di masjid Al-Mubarok Nganjuk

Sedangkan untuk rakyatnya yang tetap bersikukuh pada keyakinannya memeluk Hindu, Sang Adipati membuka lahan di lereng gunung Wilis sebelah sisi timur untuk memberikan hak hidup dan menjalankan ibadah bagi penduduk Hindu itu, tempat itu kini dikenal sebagai Dusun Curik, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.

Masjid pertama di Kadipaten Berbek (cikal bakal Kabupaten Nganjuk) itu hingga kini masih menyimpan peninggalan bersejarah di kompleksnya. Berupa batu Yoni, batu Asah dan Lingga. Menunjukkan bahwa dulunya adalah tempat ibadah agama para pendahulu Sang Adipati.

Arsitektur Masjid Al-Mubarok

Beberapa ornamen bersejarah di masjid ini diantaranya adalah Mimbar dari kayu jati berukir dibuat tahun 1758, bedug tahun 1759, atap masjid dari ijuk tahun 1760 yang pada akhirnya diganti sirap. Di halaman depan terdapat yoni yang sekarang difungsikan sebagai tempat untuk melihat dan menentukan waktu sholat. Di area masjid terdapat kompleks makam kuno Kanjeng Jimat yang selalu ramai dikunjungi peziarah utamanya malam jumat legi.

Dari sisi belakang tampak bangunan masjid nya yang masih beratap tumpang bersusun tiga.


Pada sisi kiri dan kanan Mihrab, terdapat Condro Kolo (tulisan yang menunjukkan watak bilangan) berbunyi "Adege Mesjid ing Toya Mirah" dengan Sengkalan "Toto Caturing Pandito Hamadangi" yang berarti Berdirinya Masjid di Tanah Ini 1745 H.

Ada cerita unik tentang Masjid yang didirikan Kanjeng Jimat Sosrokoesoemo ini. Pernah suatu ketika bedug yang ada di Masjid Al-Mubarok dipindahkan ke Masjid Jami' Nganjuk (Masjid Baitussalam). Namun keesokan harinya, bedug yang sudah ada sejak abad 17 itu kembali dengan sendirinya di Masjid Al-Mubarok. Wallahualam Bishawab.

Seperti halnya tempat-tempat religi bersejarah yang lain, Masjid Al-Mubarok sekarang selalu diserbu para jamaah, baik dari Nganjuk sendiri maupun dari luar kota. Mereka berbondong-bondong berziarah ke makam Kanjeng Jimat yang ada di komplek Masjid, lalu berdzikir dan berdo'a di Masjid.

Beduk di masjid Al-Mubarok Berbek
Nyoni yang kini menjadi jam matahari
Gapura makam Kanjeng Jimat

Referensi