Sunday, January 22, 2017

Masjid Jami’ Kampung Baru Pekojan Jakarta

Masjid Jami' Kampung Baru di kelurahan Pekojan ini merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta. Meski bangunannya sudah mengalami perubahan, salah satu artefak berharga dari masjid ini berupa sebuah mimbar berukir indah kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta (Gedung Fatahillah) sebagai salah satu bukti otentik sejarah Jakarta. 

Masjid Jami’ Kampung Baru adalah salah satu masjid tertua di Jakarta. Didirikan oleh para imigran Muslim dari India pada tahun 1748. Terletak di Jl. Bandengan Selatan No. 34, tidak jauh dari Masjid Al Anshor. Saat ini bangunannya sudah tidak asli lagi, hanya tersisa keranka bagian pusat yang bersegi empat, ukiran setandan buah anggur dan beberapa pilar pada jendela. Masjid Jami Kampung Baru ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Sebuah mimbar ukir yang indah dan pernah digunakan dalam masjid ini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Perkembangan selanjutnya, Muslim keturunan India hanya pada hari-hari besar saja datang ke mesjid ini, karena sebagian besar mereka sudah pindah ke daerah Pasar Baru. Masjid tua ini kini dikelola oleh Yayasan Masjid Jami Kampung Baru Inpak.




Kali Bandengan yang membentang di wilayah Pokojan kecamatan Tambora ini, konon disebut dengan nama kali Bandengan karena memang dulunya merupakan kawasan rawa rawa yang banyak ditemukan ikan Bandeng. Kali ini pada abad ke 18 merupakan salah satu jalur perdagangan di kota Batavia.

Para pedagang dan saudagar dari mancanegara termasuk dari Arabia dan India kerap kali melintasi kali ini beberapa dari mereka kemudian menetap di kawasan tersebut termasuk muslim muslim pedagang dari India yang kemudian membangun masjid di kawasan itu untuk memenuhi kebutuhan mereka untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah.

Masjid Jami Kampung Baru ini dibangun oleh Syeik Abubakar yang merupakan salah satu saudagar muslim dari India yang tinggal di kawasan tersebut, pembangunannya dimulai tahun 1743 dan selesai tahun 1748. Sumber lain menyebutkan pembangunannya dimulai tahun 1748 dan selesai tahun 1817.

Masjid Jami’ Kampung Baru bukanlah masjid pertama yang dibangun oleh muslim india di Batavia, sebelumnya mereka telah membangun masjid di Kawasan Jalan Pengukiran. Paska perisitiwa berdarah pembunuha masal orang Tionghoa di Batavia tahun 1740, para pedagang India di Batavia ini mendapatkan kesempatan dagang yang lebih leluasa sehingga jumlah mereka pun bertambah banyak, sehingga masjid di Pengukiran tidak lagi mampu menampung Jemaah sehingga kemudian dibangunlah masjid di Kampung Baru ini.

Dalam sebuah karangan Belanda pada tahun 1829 masjid kampong Baru ini disebut juga sebagai Moorsche Tempel (Kuilnya orang orang Moor). Kemungkinan dari sanalah asal muasal sejarah yang menyebut masjid ini dibangun oleh Muslim Moor, yangk kemudian Istilah Moor diidentikan dengan Muslim India. Meskipun terminologi Moor sesungguhnya merupakan nama kelompok etnis Muslim di Afrika Utara (Maroko dan sekitarnya), yang pada masanya berhasil menaklukkan Eropa dan mendirikan eEmperium Islam di Andalusia (Spanyol).

Denah dasar masjid ini berbentuk persegi dengan atap limas bertumpuk (tumpang), Bentuk mesjid semacam ini menyerupai bentuk-bentuk bangunan tradisional Jawa, di mana biasanya terdapat 4 tiang soko guru pada bagian tengah bangunan sebagai penyangga atap berbentuk limas tersebut. Luas masjid ini sekitar 1.050 meter2, lantainya ditutup dengan ubun bewarna putih dan diatasnya menghampar sajadah bewarna hijau dan sebagian lagi bewarna merah. Di langit langit masjid menggantung satu lampu antic yang sudah ada disana sejak masjid ini berdiri.***