Showing posts with label masjid di afrika. Show all posts
Showing posts with label masjid di afrika. Show all posts

Wednesday, May 7, 2014

Setelah Genosida terhadap muslim, Masjid di Afrika tengah di ubah menjadi Pub

Masjid di Kota Bangui yang di ubah menjadi Pub oleh Ekstrimis Kristern Afrika Tengah.

Situs berita japrianew.com merilis berita yang sangat memprihatinkan tentang kondisi masjid masjid di Republika Afrika tengah paska genosida (pembersihan etnis) terhadap muslim disana.

Kelompok ektrimis Kristen Republik Afrika tengah mengubah masjid di Kota Bangui, Ibukota Republik Afrika tengah menjadi pub setelah ditinggal oleh kaum muslimin disana. Muslim kota Bangui terpaksa meninggalkan ibukota Negara tersebut setelah terjadi pembantaian secara brutal terhadap muslim disana oleh ektrimis Kristen.

Penodaan masjid tersebut tanpa mendapatkan reaksi apapun dari pemerintah setempat yang tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan tindakan penodaan tempat ibadah muslim tersebut.

Merujuk kepada komisi tinggi untuk pengungsi (UNHCR) akibat terjadinya tindak kekerasan hingga pembunuhan brutal, muslim kota Bangui terpaksa mengungsi ke wilayah lain yang lebih aman terutama di bagian barat Negara tersebut. Menurut laporan PBB lebih dari 95 ribu jiwa telah mengungsi dan ribuan lainnya tewas.

Japrianews di akses 7-Mei-2014

Monday, January 7, 2013

Islam di Gabon

Masjid Hassan II di kota Libreville, lokasinya berdiri berada di belakang istana kepresidenan Republik Gabon (bila dipandang dari arah laut). Masjid dengan gaya Maroko ini memang dibangun oleh Kerajaan Maroko pada tahun 1983. Merupakan Masjid terbesar di Gabon dengan kapasitas mencapai 5000 jemaah. Raja Maroko Muhammad VI pernah singgah untuk menunaikan sholat di Masjid ini dalam rangkaian kunjungannya resmi nya ke Republik Gabon, Burkina Faso dan Senegal tahun 2005 lalu. (foto dari panoramio)

Apa dan dimanakah Gabon berada ?

Gabon adalah sebuah Negara Republik di pantai barat benua Afrika bagian tengah, bertetangga dengan Guyana Katulistiwa dan Kamerun disebelah utara, Republik Kongo di sebelah timur hingga ke selatan, dan tentu saja sebelah baratnya adalah wilayah pantai sepanjang 810km yang menghadap ke Samudera Atlantik. Gabon adalah bekas jajahan Prancis dan memperoleh kemerdekaanya 17 August 1960. Karenanya bahasa Prancis merupakan bahasa resmi Negara, sedikit sekali penduduknya yang mampu berbahasa Inggris. Republik Gabon ber-Ibukota di Libreville.

Luas Negara Gabon adalah 267,667 km2 berada dalam urutan ke 77 luas Negara di dunia, terdiri dari wilayah daratan seluas 257,667 km2 dan perairan seluas 10,000 km2. Negara ini beriklim tropis, letaknya berada beberapa derajat disebelah selatan garis Katulistiwa kira kira sama seperti letak pulau Jawa terhadap garis Katulistiwa. Titik terendahnya berada di permukaan samudera Atlantik (0 m) dan titik tertingginya berada di puncak gunung Iboundji (1,575 m).

Penduduk nya yang sedikit dengan sumber daya alam yang cukup melimpah, sebagian besar bahkan belum tersentuh, menjadikan Republik Gabon sebagai salah satu Negara Afrika yang paling makmur dan memiliki stabilitas politik yang baik serta membuat Negara ini sebagai salah satu Negara yang mampu menjaga keaslian hutan hujan tropis berikut kekayaan biodiversity-nya.

Islam di Republik Gabon

Merujuk kepada the-world-factbook-cia, penduduk Gabon terdiri dari bebeberapa suku, yakni Suku bantu, termasuk empat kelompok suku utama masing masing adalah Fang,  Bapounou, Nzebi, dan Obamba), lalu ditambah suku suku Afrika dan Eropa, sebanyak 154.000 jiwa termasuk 10,700 orang Prancis dan 11.000 jiwa warga dengan kewarganegaraan ganda.


Islam merupakan agama minoritas di Republik Gabon. 55% hingga 75% penduduk Gabon memeluk agama Kristen disusul penganut Animisme, sedangkan pemeluk Islam kurang 1% dari total penduduk Gabon yang berjumlah 1,608,321 (July 2012). Meski demikian beberapa sumber lain menyebutkan bahwa angka dibawah 1% tersebut sudah lama terlampaui.

Diperkirakan saat ini ada sekitar 12 persen penduduk Gabon sudah memeluk Islam meskipun disebutkan juga bahwa 80-90% dari jumlah itu adalah orang asing. Lebih lanjut disebutkan bahwa komposisi pemeluk agama di Gabon terdiri dari 70% Kristen (Katholik dan Protestan), 12% Islam, 10% masih menjalanjan kepercayaan tradisional dan 5% sisanya sama sekali tidak beragama.

Kehidupan beragama di Gabon cukup baik. Pemerintah memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama dan keyakinannya masing masing, setidaknya sampai tahun 2007 tidak ada laporan apapun tentang pelanggaran hak atas kebebasan beragama. Meski tidak ada dukungan dana apapun dari pemerintah untuk lembaga lembaga pendidikan swasta baik lembaga pendidikan keagamaan yang di dominasi oleh sekolah Kristen (Katolik dan Protestan) maupun lembaga pendidikan sekuler. Namun pemerintah tetap mewajibkan semua lembaga tersebut untuk mengikuti silabus pendidikan sesuai standar pemerintah.

Secara resmi pemerintah mengakui hari hari besar keagamaan sebagai hari libur nasional termasuk Idul Fitri dan Idul Adha. Televisi nasional milik pemerintah juga menyediakan jam tayang gratis bagi para tokoh agama untuk menyiarkan agama mereka masing masing, termasuk bagi tokoh muslim disana. Meskipun sempat ada keluhan dari kelompok denominasi Protestan yang menuduh stasiun televisi pemerintah tidak adil dalam menerapkan jam tayang gratis yang dimasa lalu pemerintah dan militer lebih mengutamakan Katholik dan Islam.

Omar Bonggo
Perkembangan Islam di Gabon cukup baik. Ber-Islamnya presiden Gabon kedua, Omar Bonggo sejak tahun 1973 tentunya turut memberikan pengaruh bagi perkembangan Islam di Negara tersebut baik langsung ataupun tidak langsung. Keluhan yang disampaikan oleh perwakilan Protestan terkait hak tayang gratis di saluran televisi nasional negara tersebut yang dinilainya lebih condong kepada ummat Katholik dan Islam menunjukkan bahwa Islam bersama Katholik memang mendapatkan ‘sesuatu’ dari penguasa pemerintahan dan militer setempat.

Pada bulan Juni tahun 2004 yang lalu untuk pertama kalinya diselenggarakan Konfrensi Nasional Muslim Gabon di Ibukota Negara, Libreville, dibuka oleh Presiden Majelis Tinggi Islam Gabon (Supreme Council for Islamic Affairs of Gabon - CSAIG) Ali Bonjo dan turut dihadiri oleh Uskup Agung Lebreville serta Pimpinan Gereja Anglican setempat. Konfrensi Nasional Muslim Gabon pertama tersebut mengusung tema ‘United for the sake of a flourishing and tolerant Islam’ atau dalam bahasa Indonesia nya “Bersatu Untuk Perkembangan Islam dan Toleransi”.

Perhelatan nasional tersebut merupakan hal yang positif bagi ukhuwah Islamiah, tak kurang 34 komunitas Muslim dari berbagai daerah di Republik Gabon turut serta dalam konfrensi tersebut dan turut menandatangan nota kesepakatan untuk senantiasa melakukan koordinasi dalam setiap langkah kerja. Di dalam struktur Majelis Tinggi Islam Gabon. Presiden Gabon, Haji Ali Bonggo Ondimba sendiri bertindak sebagai Penasehat khusus, sedangkan jabatan Chaiman sekaligus sebagai imam Besar Gabon dijabat oleh Ismael Oceni Ossa.

Dipimpin Presiden Mualaf

Setelah merdeka dari Prancis di tahun 1960, Gabon dipimpin oleh presiden pertamanya bernama Gabriel Léon M'ba. Di bulan Februari 1964 Jean-Hilaire Aubame melakukan kudeta terhadap pemerintahan Léon M'ba meski kekuasaanya tak berlangsung lama karena di intervensi oleh pemerintah Prancis. Léon M'ba menjabat sebagai presiden Gabon hingga wafat karena penyakit kanker di bulan November 1967 dan digantikan posisinya oleh wakil presiden Albert-Bernard Bongo yang dikemudian hari masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Haji Omar Bonggo Ondimba atau lebih dikenal sebagai Omar Bonggo.

Albert-Bernard Bongo atau Haji Omar Bonggo Ondimba menjadi salah satu kepala Negara dengan masa jabatan terlama di dunia. Beliau mendominasi kekuasaan politik Negara Gabon selama empat dekade (1967-2009), sebelum menjabat sebagai presiden pun dia sudah  berada di jajaran puncak kekuasaan sebagai wakil presiden yang dijabatnya dari tahun 1960 ketika Gabon merdeka hingga tahun 1967.

Seperti halnya 55%-75% penduduk Gabon, Presiden Albert-Bernard Bongo terlahir sebagai penganut Kristen sampai menjabat wakil presiden hingga menduduki jabatan presiden beliau masih mempertahankan agama lamanya. Interaksi dengan para pemimpin Negara Negara anggota OPEC yang mayoritas dihuni oleh Negara Negara muslim Teluk Arabia, memberinya kesempatan bergaul dengan para peminmpin Negara Negara Islam. Di tahun 1973 secara mengejutkan Albert-Bernard Bongo mengumumkan bahwa dirinya sudah masuk Islam dan setelah menunaikan Ibadah Haji mengganti nama nya menjadi Haji Omar Bonggo dan di tahun 2003 dia menambahkan Odimba dibelakang namanya.

Sebuah keputusan kontroversional yang tak pelak mengundang aksi tak simpatik dari rakyatnya sendiri yang bahkan meminta dia mengundurkan diri dari jabatan presiden. Selama menjabat sebagai presiden selama hampir 42 tahun presiden Omar Bonggo memang banyak menuai kontroversi termasuk kebijakannya dibidang ekonomi. Namun secara keseluruhan Gabon mencapai prestasi sebagai salah satu Negara Afrika yang paling makmur.

Presiden Omar Bonggo begitu banyak mendapat kecaman dari lawan lawan politiknya termasuk kritikan tajam atas 7x hasil pemilu presiden yang memenangkannya dinilai penuh dengan kecurangan. Termasuk pemilu terahir tanggal 27 November 2005 ketika Omar Bonggo Bonggo memenangkan hingga 80% suara. Namun bukan lawan politik yang ahirnya melengserkan Omar Bonggo. Pada tanggal 8 Juni 2009 Omar Bonggo wafat di sebuah rumah sakit di Barcelona, Spanyol, akibat penyakit jantung yang sudah lama dideritanya.

Presiden Ali Bonggo
Gabon dan Omar Bonggo dikenal luas di Negara Negara tetangganya sebagai tokoh kuat yang mampu menjadi juru damai dan memecahkan masalah masalah pelik di kawasan tersebut termasuk menjadi mediator dan penjaga perdamaian di Negara Negara konflik  Republik Afrika Tengah, Congo-Brazzaville, Burundi, dan Democratic Republic of Congo. Sebuah warisan yang sangat baik kepada putranya Ali Bonggo Ondimba yang kini meneruskan tahta Bapaknya sebagai presiden Gabon, sesuai dengan hasil pemilu 2009.

Stabilitas politik dan kekuatan ekonomi menjadikan Gabon sebagai Negara yang cukup disegani di kawasan serantau. Sudah sejak lama Negara ini memainkan peran penting dalam penyelesaian konflik di Republik Afrika Tengah yang masih bergolak hingga kini dengan membentuk Misi Pedamaian Economic Community of Central African States. Gabon juga merupakan aktor dibalik layar bagi terbentuknya Brigade Pasukan Cadangan sebagai penjaga perdamaian yang bermarkas di Gabon, dibawah naungan Organisasi Persatuan Afrika (African Union).

OKI dan Hubungan Gabon dengan Indonesia

Pemerintah Indonesia tidak memiliki kantor perwakilan di Republik Gabon, hubungan diplomatic  Indonesia dengan Republik Gabon diwakili oleh kedutaan besar Indonesia di Dakar, Ibukota Senegal. Kedutaan Besar Indonesia di kota Dakar ini sekaligus menjadi perwakilan Indonesia untuk Senegal, Gambia, Gabon, Pantai Gading, Sierra Leone dan Zaire.  Semua kepentingan pemerintah Indonesia dengan pemerintah Gabon ditangani oleh Kedubes RI di Dakar ini, termasuk pengurusan pemulangan Lima ABK Indonesia yang terdampar di kota Port Gentil, akibat ditelantarkan oleh perusahaan tempat mereka bekerja pada bulan Maret 2012 lalu.

Meski pemeluk Islam di Gabon minoritas, namun Gabon sudah bergabung dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sejak tahun 1974 atau setahun setelah Presiden Omar Bonggo menyatakan diri masuk Islam, dan turut berperan aktif dalam organisasi tersebut. Presiden Gabon saat ini, Ali Bonggo (putra dari Omar Bonggo) dalam berbagai kesempatan pertemuan sesama anggota OKI selalu menyerukan media dunia Islam untuk menjadi yang terdepan dalam mempromosikan dan menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang benar. Sebab, inti dari stereotip negatif tentang Islam berawal dari kesalapahaman yang serius.***

-----------------------------------

Baca Juga


Monday, December 31, 2012

Masjid Amru Bin Ash, Masjid Pertama di Mesir dan Benua Afrika

Masjid Amru Bin Ash di Fustath, Kota Kairo - Mesir, di malam hari (foto dari Flickr)

Saksi Kebijaksanaan Sang Khalifah

Pernah mendengar kisah tentang kebijaksanaan khalifah Umar Bin Khattab dalam menegakkan keadilan bagi seluruh rakyatnya ?. Masjid Amru Bin Ash di Kairo, Mesir ini menyimpan cerita tersebut sebagai teladan bagi para pemimpin setelah Beliau. Kisah ini seringkali pernah dituturkan oleh (alm) Kyai Sejuta Ummat, Zainudin MZ dalam salah satu episode ceramah-Nya.

Kisah bermula ketika di tahun 641 Masehi bertepatan dengan tahun ke 21 Hijriah, Amru bin Ash berhasil merebut wilayah Mesir dari kekuasaan emperium Romawi. Amru bin Ash adalah salah satu sahabat baginda Rosulullah S.A.W. beliau mengemban amanat sebagai Jenderal perang semasa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab. Pada tanggal pada 1 Muharram 20 H./8 November 641 M, Amru bin Ash memproklamirkan kota Fustath (kini bagian dari Kairo Tua) sebagai Ibukota wilayah Islam di Mesir dan beliau sendiri ditunjuk oleh Khalifah Umar sebagai Gubernur Mesir Pertama.

Manakala beliau berencana membangun Masjid bagi kota yang baru saja dimulai pembangunannya itu, beliau berkeinginan membangun sebuah masjid besar di atas tanah yang cukup luas tak jauh dari kediaman resminya. Hanya saja di atas lahan tersebut terdapat sebuah gubuk milik seorang Yahudi tua. Amru bin Ash sudah melakukan negosiasi langsung dengan-nya namun Yahudi tua tersebut menolah untuk menyerahkan tanah milik-nya.

Masjid Amru Bin Ash di siang hari
Selaku Gubernur, Amru bin Ash naik pitam dan memerintahkan pembongkaran paksa atas gubuk reot tersebut. Dalam keputus-asa-an menghadapi kesewenangan gubernurnya, Yahudi tua tersebut memutuskan untuk mengadu ke Khalifah Umar Bin Khattab di Madinah, Dan peristiwa setelah itu mengubah segalanya. Yahudi tua tersebut sama sekali tak menduga bahwa Khalifah yang ditemuinya adalah seorang yang sangat sederhana jauh dari kemewahan.

Lebih terheran heran lagi ketika setelah mengadukan masalahnya, khalifah Umar ternyata marah besar dan meminta-nya untuk mengambil sepotong tulang, lalu dengan ujung pedangnya Umar menorehkan garis lurus di potongan tulang tersebut dan meminta Yahudi tua tersebut memberikan tulang itu langsung ke Gubernur Amru bin Ash di Mesir.

Seketika setelah menerima potongan tulang dari Yahudi tua itu, Gubernur Amru bin Ash pucat pasi dan serta merta memerintahkan semua bawahannya untuk mengentikan pembangunan masjid di lahan Yahudi tua tersebut dan memerintahkan menghancurkan bangunan masjid yang sudah setengah jadi berdiri disana. Kontan saja tindakan itu membuat Yahudi tua itu terhenyak dalam keheran yang bertubi tubi sejak dia bertemu dengan Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.

Gubernur Amru bin Ash yang kemudian menjelaskan semuanya setelah meminta maaf atas kesewenang wenangnannya. Beliau menjelaskan bahwa tulang yang diserahkan Yahudi tua itu adalah perintah langsung dari Khalifah kepada dirinya selaku gubernur, untuk senantiasa bertindah adil, bertindak lurus baik dari kalangan atas sampai kalangan paling bawah seperti hurup alif yang digoreskan khalifah Umar di atas tulang tersebut, bilamana tak mampu menjalankan amanah dengan adil maka pedang khalifah Umar sendiri yang akan memenggal kepalanya. Itu sebabnya Gubernur Amru bin Ash langsung pucat pasi menerima peringatan langsung dari Khalifah tersebut.

Interior masjid Amru Bin Ash
Alih alih gembira dengan keputusan gubernurnya yang menghentikan pembangunan masjid di atas lahan miliknya, Yahudi tua tersebut malah meminta khalifah untuk menghentikan pembongkaran bangunan masjid yang sedang dibangun itu. Dia mengaku sangat kagum dengan kepemimpinan Khalifah Umar yang begitu adil dan sangat kagum dengan ajaran Islam dan karenanya dia ridho menyerahkan lahannya untuk dibangun masjid dan meminta Gubernur Amru bin Ash untuk membimbingnya masuk Islam. Subhanallah.

Masjid Tertua di Mesir dan Benua Afrika

Masjid Amru Bin Ash ini seringkali disebut sebagai 'Taj Al-Jawami' atau 'Mahkotanya Masjid'. Mesjid yang berada di wilayah Fusthath dibagian kota tua Kairo ini merupakan masjid pertama di Mesir dan Benuar Afrika. Meski bangunan asli yang dibangun semasa Amru bin Ash sudah tak tersisa lagi, namun sejarah awal pembangunannya menjadikan masjid ini memegang peranan penting bagi peradaban Islam di Mesir dan benua Afrika.

Bangunan masjid yang kini berdiri merupakan hasil pembangunan para penguasa sesudah Beliau. Keindahan arsitekturalnya menarik perhatian berbagai pihak termasuk para turis dari mancanegara, mahasiswa local dan luar negara, sampai sampai salah satu adegan Film Ketika Cinta Bertasbih yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy, juga mengambil tempat di pelataran tengah masjid ini. jadi, tak ada salahnya bila anda sedang berkunjung ke Kairo untuk menyempatkan sejenak singgah ke masjid bersejarah ini.**

Begini gaya pengajian Ramadhan di Masjid Amru Bin Ash

Source : rindumasjid

----------------------

::: Baca juga :::


Tuesday, November 6, 2012

Islam di Ghana

Masjid Agung Larabanga – Republik Ghana (foto : trekearth.com)

Ghana dulunya bernama Gold Coast, mencatatkan diri dalam sejarah diplomasi dunia sebagai salah satu dari sedikit negara yang warganya mampu menduduki Jabatan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Siapa tak kenal dengan Khofi Anan, salah satu mantan Sekjen PBB itu berasal dari Republik Ghana, tempat dimana Masjid Larabanga ini berada. Ghana juga terkenal di dunia internasional sebagai Negara penghasil kakau terbesar. Selain itu Ghana juga dikenal dengan danau Volta, yang merupakan danau dengan permukaan terluas di dunia.

Ghana merupakan salah satu Negara di benua Afrika, berbentuk Republik dengan pemerintahan berbentuk presidensial Konstitusional. Merdeka dari Inggris pada tanggal 6 Maret 1957 dan menjadi sebuah Republik pada tanggal 1 Juli 1960. Ibukota Negara berada di Kota Accra di koordinat 5°33′N 0°15′W. Republik Ghana memiliki semboyan Freedom and Justice. Sedangkan lagu kebangsaannya berjudul God Bless Our Homeland Ghana.

Republik Ghana memiliki wilayah daratan seluas 238,535 km2 , dengan jumlah penduduk di tahun 2010 sekitar 24,233,431 jiwa dan kerapatan penduduk mencapai 101.5 jiwa setiap kilometer persegi. Republik Ghana berbatasan dengan Republik Pantai Gading (Côte d'Ivoire atau Ivory Coast) di sebelah barat, Republik Burkina Paso di sebelah utara, Republik Togo di Timur dan teluk Guyana di selatan. Kata Ghana sendiri berarti Raja Ksatria nama yang juga di ambil dari nama Emperium Ghana Kuno yang pernah menguasai hampir keseluruhan wilayah pantai barat Afrika.

Islam di Ghana

Sebagaimana dirilis oleh Wikipedia, Islam masuk ke Afrika Barat, dimulai dari Ghana pada abad ke-9, karena Ghana merupakan jalur utama perdagangan bagi para pedagang muslim yang datang dari Afrika Utara melalui Mali. Dan pada abad ke-15, Islam semakin menunjukkan identitasnya di Ghana bagian utara. Mayoritas pemeluk Islam di Ghana menganut madzhab Maliki, sedangkan aliran sufi yang dianut adalah Tijaniyah dan Qadiriyah. Ahmadiyah maupun Syi’ah dianut oleh sebagian kecil pemeluk Islam di Ghana.

Lokasi republik Ghana di benua Afrika
Menurut data resmi yang dikeluarkan pemerintah Ghana maupun CIA Worldfact, pemeluk Islam di Ghana berkisar 16%, sedangkan Kristen 63% dan Animis 21%. Sedangkan Islamic population melansir bahwa penganut Islam di Ghana adalah 40%, bukan 16%, dari total penduduk Ghana sebesar 20 juta orang, mayoritas mereka berada di bagian utara Ghana, sedangkan penanut Kristen berada di bagian selatan. Angka ini lebih realistis, mengingat Islam telah menyebar di Ghana sejak abad ke-9 ketika Kerajaan Ghana kuno berkuasa di Kumbi Saleh, Ghana Utara.

Sheikh Hassan Khalid, aktivis Ghanian Islamic Daawa, membenarkan klaim, bahwa penyebaran Islam di Afrika Barat berawal dari Ghana. Sampai sekarang, banyak para kader muslim di Afrika Barat menimba ilmu ke-Islaman di Ghana, khususnya belajar mengenai tafsir al-Qur’an, Hadits maupun Hukum Islam. Hubungan Islam dan Kristen di Ghana adalah yang terbaik di Afrika Barat, karena otoritas pengendali ummat di Ghana dipegang oleh suatu badan yang disebut Muslim Representatice Council. Badan ini menangani masalah-masalah keagamaan, sosial, ekonomi dan hubungan antar agama di Ghana. Juga sebagaimana di Indonesia, badan ini juga mengatur perjalanan Haji bagi kaum muslimini Ghana yang ingin menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Walaupun Ahmadiyah dianut oleh sedikit ummat Islam di Ghana, namun aktivitasnya sangat mengagumkan, karena mereka mempunyai rumah sakit, sekolah dan training center.

Saat ini, ada 3 (tiga) orang yang sangat dihormati oleh ummat Islam di Ghana, pertama Alhaji Aliu MAHAMA, yang diangkat sebagai Wakil Presiden Ghana sejak tanggal 7 Januari 2001. Beliau tokoh muslim Ghana yang amat disegani. Hal ini mengindikasikan bahwa peran ummat Islam di Ghana, khususnya di bidang politik sangat kuat. Kedua, Imam Syaikh Salisu SHABAN, pemimpin spiritual Islam Ghana, ulama sufi terkemuka di dunia dari aliran Tijaniyah. Beliau termasuk salah satu ‘ulama e-haq (scholar of truth)’ yang dikukuhkan pada peringatan maulid Nabi Muhammad s.a.w. di Toronto, Kanada tahun 1999. Ketiga, Prof. Abdullah Botchway, gurubesar tamu di University of Malaya, Malaysia. Baik Imam Salisu Shaban maupun Abdullah Botchway adalah pembicara utama ketika diadakan peringatan maulid Nabi Muhammad s.a.w. di Toronto Kanda, 1999 yang lalu.

Sama halnya dengan Republik Burkina Faso yang memiliki seni arsitektural masjid dari lumpur, Republik Ghana juga memiliki seni budaya yang hampir sama. Bila di Burkina Faso terkenal dengan Masjid Agung Bobo Doulasso, Republik Ghana memiliki Masjid Agung Larabanga yang juga dibangun dengan bahan utama lumpur dan batangan kayu. Sebuah warisan seni arsitektural yang sangat khas dan hanya ada di benua Afrika.***[bujangmasjid].

Baca Juga


Monday, November 5, 2012

Islam di Burkina Faso

Masjid Agung Dioulasso - Burkina Fasso (foto dari Islamic-arts.org)

Burkina Faso adalah negara di Afrika Barat yang terkurung daratan (landlocked). Negara ini berbatasan dengan Mali di sebelah utara; Togo dan Ghana di selatan; Niger di timur, Benin di tenggara; dan Pantai Gading di barat daya. Dahulu bernama Upper Volta atau Volta Hulu, Presiden Thomas Sankara mengganti nama negara ini menjadi 'Burkina Faso' (dalam bahasa Dioula dan More bermakna sebagai "Negara Orang Jujur") pada 4 Agustus 1984. Ibu kota Burkina Faso adalah Ouagadougou (dibaca : Wagadugu), disebut "Waga" oleh penduduk setempat.

Pada 1896, kerajaan Mossi dari Ouagadougou menjadi protektorat Prancis. Pada 1898, bagian utama dari kawasan yang kini menjadi Burkina ditaklukkan. Pada 1904, daerah-daerah itu bergabung dengan Afrika Timur Prancis dalam koloni Senegal-Niger Hulu. Penduduknya ikut serta dalam PD I dalam batalion Infantri Senegal. Pada1 Maret 1919, Edouard Hesling menjadi gubernur pertama di koloni Volta Hulu yang baru itu. Koloni itu dibongkar pada 5 September 1932, dan daerahnya dibagi antara Pantai Gading, Mali, dan Niger. Pada 4 September 1947 Volta Hulu diciptakan kembali dari perbatasannya pada 1932. Pada 11 Desember 1958 menjadi republik dan bergabung dengan Masyarakat Prancis-Afrika dan mendapatkan kemerdekaan pada 5 Agustus 1960.

Burkina Faso Dalam Angka

Burkina Faso memiliki luas daratan 274,200km2 sedikit lebih besar dari luas propinsi Kalimantan Timur (204,534.34Km2) namun lebih kecil dari propinsi Papua (319,036.05Km2), berikut beberapa fakta tentang Burkina Faso dalam angka.

Lokasi Burkina Faso
Luas wilayah : 274 200 km²
Kepadatan : 44 jiwa/km²
Perbatasan darat : 3.192 km (Mali 1.000 km ; Niger 628 km ; Pantai Gading 584 km ; Ghana 548 km ; Benin 306 km ; Togo 126 km)
Daerah laut : 0 km
Ketinggian : + 200 m > + 749 m
Kemerdekaan : 5 Agustus 1960 (bekas koloni Prancis)
Penduduk : 13.200.000 jiwa (2005). 0-14 tahun : 47,5%; 15-64 tahun : 49,59%; + 65 tahun : 2,91%
Harapan hidup pria : 46 ans (en 2001)
Harapan hidup wanita : 47 ans (en 2001)
Tingkat pertumbuhan penduduk : 2,68% (2001)
Jalan : 12.506 km (sekitar 2.001 km beraspal) (1996)
Jalur KA : 622 km
Jumlah bandara : 33 (hanya 2 yang beraspal) (2000)

Islam di Burkina Faso

Merujuk kepada Wikipedia penduduk Burkina Faso mayoritas beragama Islam. Sebagaimana dilansir oleh pemerintah Burkina Faso sebagai hasil sensus penduduk tahun 2006 ditemukan bahwa 60.5% penduduk Burkina Faso beragama Islam. Sebagian besar dari muslim Burkina Faso adalah muslim suni dan hanya sangat sedikit yang berfaham suni. Pemeluk agama lain di Burkina Faso adalah Kristen 23.2% (Katholik Rhoma 19%, Berbagai aliaran Protestan 4,2%). 15.3% penduduk masih menganut ajaran kepercayaan tradisional, 0.6% menganut agama lain dan masih ada 0.4% yang tidak beragama sama sekali. Angka angka tersebut juga diamini oleh situs CIA the world factbook.

Perkembangan Islam di Burkina Faso

Islam datang ke kawasan Afrika Barat termasuk di dalamnya Republik Burkina Faso dalam tiga gelombang. Pertama, abad ke-9 ketika bangsa Berber Afrika Utara menyebarkan Islam ke kerajaan Ghana. Kedua, abad ke-13, ketika kerajaan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat hingga abad ke-18. Terakhir, abad ke-19 ketika seorang pahlawan Muslim asal Mali, Samore Toure, menyebarkan Islam ke arah selatan Afrika.

Islam masuk ke Burkina Faso pada gelombang kedua melalui berbagai upaya yang dilakukan oleh warga suku bangsa Fulani, baik dengan cara damai maupun cara kekerasan - penulis Barat menyebutnya ‘kombinasi perang dan perdagangan’ - karena pada kenyataannya Mossi sebagai suku terbesar di Burkina Faso memang sangat gigih mempertahankan kepercayaan animisme hingga abad ke-19. Para pemimpin ini sangat menentang penyebaran Islam; namun pada akhirnya sebagian besar mereka memeluk Islam.

Banyak tokoh yang berperan penting dalam pemerintahan dan kemajuan Islam di Burkina Faso. Yousouf Ouedraogo Menteri Luar Negeri Burkina Faso, termasuk tokoh yang disegani. Islam makin berjaya di Burkina Faso ketika terjadi kekisruhan di Pantai Gading pada tahun 2002, karena salah satu tokoh kunci pihak oposisi adalah Allasane Dramane Ouattara ditengarai masih keturunan bangsa Burkina Faso, dan beragama Islam serta sangat cerdas. Akibat kisruhan tersebut, sekitar 350. Burkinabe yang mayoritas muslim lari ke Burkina Faso.

Sekurang-kurangnya ada hal dua yang diperjuangkan oleh umat Islam di Burkina Faso. Pertama, mengembalikan kejayaan Islam di tingkat pemerintahan pusat. Kedua, membendung kegiatan misionaris Kristen yang sangat agresif memurtadkan warga Muslim, antara lain dengan cara mendirikan stasiun radio di seantero Burkino Faso. Sasaran utama mereka adalah suku Fulani, yang dikenal sangat taat memegang teguh ajaran Islam.

Lembaga keagamaan di Burkina Faso The Ahlul Barr Society, mempunyai peran penting untuk membendung kegiatan kristenisasi tersebut. Beberapa di antaranya adalah EI-Hajj Oumarou Kanazae seorang pengusaha terkenal, Souleymane Kore, Mamadou Sawaidogu dan Al-Haji Sakande, tercatat sebagai tokoh Muslim Burkinabe yang aktif mengibarkan kejayaan Islam di Burkina Faso.

Di Kota Dioulasso berdiri megah Masjid Bobo Dioulasso yang begitu terkenal karena keunikan arsitekturalnya. Masjid Bobo Dioulasso dibangun dari bahan lumpur dan batang batang kayu sebagai rangka dan penguatnya.  Nama Bobo Dioulasso sendiri bermakna “rumah bagi Jula yang berbicara dalam bahasa Bobo” sebuah nama yang kemungkinan lahir dari ketidakmampuan bangsa prancis yang menjajah Burkina Faso dalam menentukan identitas dari lokasi tersebut yand begitu kompleks.***

Baca Juga


Islam di Republik Togo

Islamic Cultural Center in Lomé (foto mills.abwe.org )

Republik Togo, salah satu Negara di Afrika Barat yang memiliki penduduk muslim cukup signifikan meskipun tidak ada angka pasti mengenai jumlah dan persentase penduduk muslim disana. Republik Togo memiliki luas daratan 56,785 km2 sedikit lebih kecil bila dibandingkan dengan luas daratan propinsi Nangroe Aceh Darussalam 57,956 km2.

Dalam dunia persepakbolaan Togo cukup mengejutkan dunia ketika tampil dalam piala dunia sepakbola FIFA tahun 2006 di Jerman, negara bekas penjajahnya di tahun 1884. Ali Khadafi salah satu pesepakbola muslim Togo kini bergabung dengan Klub Indonesian Super League (ISL), Sriwijaya FC, Palembang.

Republik Togo beribukota di Lomé yang menghadap ke teluk Guyana di Samudera Atlantik. Togo bermakna “disisi air" dalam bahasa Ewe (salah satu bahasa nasional Togo) merujuk kepada wilayah togo yang berada disisi laut Atlantik. Togo merupakan Negara bekas jajahan Prancis sampai kemudian merdeka di tahun 1960.

Sejak 1991 negara ini dihantam perubahan politik yang cukup luar biasa yang memicu konflik bersenjata secara khusus di kawasan sentral dan selatan namun mengalami kondisi yang cukup stabil beberapa tahun belakangan ini. ekonomi Negara ini sangat tergantung pada perdagangan dan pertanian yang memberikan lapangan pekerjaan hingga 60% dari keseluruhan tenaga kerjanya. Kakau, kopi dan kapas menyumbang penghasilan 30% eksport mereka.

lokasi Togo di benua Afrika
Muslim di Togo merupakan 55% dari total populasi dari 13,3 juta penduduk Negara tersebut. meskipun hingga kini tidak ada angka akurat dan pasti menyangkut jumlah pemeluk Islam disana. Namun demikian satu hal yang pasti bahwa Islam telah hadir di Togo bersamaan dengan masuknya Islam di kawasan afrika Barat.

Sejarah Islam di Togo

Islam pertama kali dikenalkan di wilayah Afrika Barat di selatan Sahara, melalui rute perdagangan garam dan emas di kawasan tersebut. Proses pengislaman yang dilakukan oleh para pedagang muslim Berber dan Tuareg yang melakukan perjalanan di sepanjang rute perdagangan Sahara. Seiring dengan berlalunya waktu para ulama islam mengajarkan islam dan membangun tempat tempat ibadah disepanjang rute perdagangan yang mereka lalui.

Para ulama tersebut turut serta dalam kafilah perdangan tersebut. Kelompok masyarakat Hausa dan Fulani, kelompok yang secara tradisional senantiasa nomaden, mengembara diseluruh kawasan Afrika Barat meninggalkan jejak dan mengajarkan Islam di daerah yang kini menjadi Negara Guyana (Guinea), Siera Leone dan Liberia.

Muslim Togo sedang melaksanakan sholat berjamaah di Surau tengah kampung mereka yang sangat sederhana. 
Perkiraan jumlah pemeluk Islam di Togo memang bervariasi tergantung dari sumber nya. Merujuk kepada artikel wikipedia, Islam di Afrika penganut Islam di Togo hanya 13.7% sedangkan situs CIA Factbook menyebut angka 20%, sementara sumber sumber situs Islam bahkan menyebut angka yang jauh lebih tinggi hingga mencapai 55% atau 2,513,792 jiwa dari total populasi Togo sebesar 4,570,530 jiwa berdasarkan data tahun 1998, menjadikan Islam sebagai agama mayoritas di Togo.

Tentang Togo dan Masyarakatnya

Togo bermakna “disisi air" dalam bahasa Ewe (salah satu bahasa nasional Togo) merujuk kepada wilayah togo yang berada disisi laut Atlantik. Secara umum Togo hanya selebar 100km dan berukuran panjang 550km. Togo merupakan Negara bekas jajahan Prancis sampai kemudian merdeka di tahun 1960. Sejak 1991negara ini dihantam perubahan politik yang cukup luar biasa yang memicu konflik bersenjata secara khusus di kawasan sentral dan selatan namun mengalami kondisi yang cukup stabil beberapa tahun belakangan ini. ekonomi Negara ini sangat tergantung pada perdagangan dan pertanian yang memberikan lapangan pekerjaan hingga 60% dari keseluruhan tenaga kerjanya. Kakau, kopi dan kapas menyumbang penghasilan 30% eksport mereka.

Ada banyak muslim di tengah kelompok masyarakat Togo. Satu dari kelompok muslim terbesar di Togo adalah kelompok masyarakat muslim Kotokoli (sekitar 200 ribu jiwa), terkonsentrasi di kawasan sentral Togo, wilayah Sokode. Kaum Kotokoli ini yang mengontrol jalur perdagangan utama dan menajamkan reputasi mereka di kawasan tersebut.


Saat ini muslim Kotokoli merupakan para petani yang menanam sorgum dan ubi jalar sebagai makanan pokok mereka termasuk juga milet, jagung, kacang kacangan, okra, kacang tanah dan labu juga berternak domba, sapi, keledai dan kambing. Binatang ternak dipergunakan selain sebagai asset juga untuk kurban, acara pernikahan hingga transaksi pembayaran. Muslim Kotokoli kebanyakan tinggal di dalam rumah rumah tradisional berbentuk bulat dengan dinding lumpur dan beratap jemani bentuk kerucut.

Seperti halnya di Indonesia, di berbagai kota hingga ke pelosok kampung di Togo terdapat bangunan masjid. Seperti di pusat kota Lome berdiri megah Al-Furkan Center yang merupakan masjid sekaligus Islamic Center terbesar di Togo. Masjid ini dirancang oleh Arsitek Traoré Galadima dikelola oleh African Muslim Agency, selesai dibangun tahun 1997 yang lalu. Di Komplek Islamic Center ini terdapat sekolah Islam, pusat kebudayaan Islam dan panti asuhan bagi sekitar seratusan anak anak yatim piatu.

Baca Juga