Showing posts with label Masjid di Sumatera Utara. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Sumatera Utara. Show all posts

Sunday, April 21, 2019

Masjid Raya Stabat Kabupaten Langkat

Masjid Raya Stabat, Masjid bersejarah di kabupaten Langkat.

Masjid Raya Stabat adalah salah satu masjid bersejarah yang ada di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara
, selain Masjid Raya Azizi yang ada di Tanjung Pura. Masjid ini berada di Kota Stabat, ibukota Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Tepat di sisi sungai Wampu, di pinggir Jalan Lintas Sumatera, Medan-Aceh.

Masjid bersejarah ini dibangun dua tahun setelah pembangunan Masjid Raya Azizi di Tanjungpura. Pada tahun 1904 saat Kesultanan Langkat dibawah kekuasaan Sultan Musa, pembangunan masjid Raya stabat mulai dikerjakan pembangunannya semasa Kejuruan Stabat Tengku HM Khalid.

Masjid Raya Stabat
JL. KH. Zainul Arifin, No. 130, Stabat Baru
Stabat, Kabupaten Langkat
Sumatera Utara 20811



Pada mulanya bangunan masjid ini terdiri dari bangunan induk seluas 20 meter persegi. Kemudian ditambah teras dua meter keliling dengan satu buah menara. Saat itu jama’ah yang dapat ditampung hanya berkisar 300 orang. Semasa Kejuruan Stabat T HM Khalid, masjid ini  mulai berkembang dan terakhir diteruskan oleh ahli warisnya diantaranya Tengku Soelung Chalizar dan terakhir dilanjutkan oleh Tengku Syamsul Azhar hingga sekarang.

Kini Masjid Raya Stabat ini telah berkembang pesat, luas areal masjidnya saat ini menjadi 4.454 meter persegi dengan daya tampung mencapai 1350 jamaah. Fasilitas masjid juga dikembangkan seperti bangunan wudhu wanita, perpustakaan masjid dan aula. Teras masjid ditambah lagi dengan swadaya dan partisipasi masyarakat setempat,demikian pula pada bagian atapnya mulai direhab.Dulunya bagian atap kubang terbuat dari kayu besi dari Kalimantan,karena lapuk dimakan usia akhirnya atap kubah diganti dengan seng.

Rehabilitasi Masjid Raya Stabat

Rehabilitasi masjid silih berganti,namun perkembangannya terasa sangat lamban. Ketika itu bangunan  teras ditambah lagi semasa Bupati  Langkat  H Marzuki Erman. (1986). Tengku  Soelung Chalizar selaku Nazir Masjid bersama adiknya Tengku Syah Djohan yang baru diangkat sebagai Lurah Stabatbaru ( 30 Nopember 1991) dengan bantuan swadaya masyarakat yang dikoordinir H Ibnu Kasir selaku pengurus BKM Masjid Raya Stabat,  meneruskan pembangunan  dan rehab masjid tersebut

Pintu utama masjid 

Sejak Bupati Langkat H Marzuki Erman, H. Zulfirman Siregar,H Zulkifli Harahap dan H Syamsul Arifin SE serta Haji Ngogesa Sitepu sebagai Bupati Langkat sekarang ini , perhatian terhadap perkembangan dan keberadaan masjid diibukota kabupaten ini, terus berlanjut .

Sejak 5 Nopember 1994, tanah lapangan masjid sudah bertambah seluas 1.695 meter persegi yang merupakan wakaf mantan bupati alm H Zulkifli Harahap. Sekarang Masjid Raya Stabat sudah dapat menampung 1.350 jama’ah dengan fasilitas kamar wudhuk khusus kaum perempuan disamping kamar wudhuk yang sudah ada sebelumnya, selain itu terdapat bangunan Gedung Perpustakaan yang meraih Juara Harapan dalam lomba perpustakaan masjid se-Sumut tahun 2001.

Semasa Bupati Langkat H Ngogesa Sitepu SH penataan halaman masjid terus berlanjut dan pada bagian samping kanan terdapat kantin tempat pedagang makanan yang tertata rapi yang dibangun sejak tahun 2010. Kantin tersebut pada tahun 2013 dibangun secara permanen dengan tiang stainless,atap seng daan lantai keramik seukuran 21 kali 4 meter.

Pada tahun itu juga kamar wudhu' direhab secara permanen dan pada bagian atasnya (lantai dua ) merupakan Aula Masjid Raya Stabat yang dimanfaatkan secara khusus untuk tempat pengajian, manasik haji dan umrah.

Bangunan unik khas tanah melayu di kabupaten Langkat.

Tradisi Bubur Pedas

Selama tiga tahun berturut-turut ( 1996-1998 ),Masjid Raya Stabat dijadikan sebagai lokasi pelepasan jama’ah calon haji sekabupaten Langkat. Bahkan jamaah haji asal NAD (Naggroe Aceh Darussalam) yang ketika itu berangkat melalui Bandara Polonia Medan,juga menjadikan Masjid Raya Stabat tempat transit.

Sementara itu salah satu keistimewaan masjid ini, terlihat pada setiap bulan Ramadhan, yaitu pengadaan menu khusus untuk bukan puasa bersama . Menunya merupakan makanan ringan khas Melayu yakni Bubur Pedas. Acara berbuka puasa bersama juga terbuka untuk para musafir yang singgah ke masjid ini.

Bubur pedas adalah makanan khas suku Melayu Deli, yang hanya dibuat oleh warga di saat-saat tertentu, seperti acara pernikahan, kenduri, sunatan, puasa dan Lebaran.Hal ini dikarenakan proses pembuatan bubur pedas yang rumit, karena menggunakan 40 jenis rempah rempah dan daun yang mengandung banyak khasiat.

Mimbar dan mihrab Masjid Raya Stabat.

Ke-40 jenis rempah dan daun ini, kemudian dicampur dengan kentang, wortel, tauge, yang menjadi bahan pembuatan bubur pedas, bahkan memakan bubur pedas bisa dicampur dengan sayur urap atau anyang.Setiap harinya, pihak masjid menyediakan 200 porsi bubur pedas buat warga dan pengguna jalan yang berbuka di masjid.

Hingga kini keberadaan Masjid Raya Stabat, menjadi tempat persinggahan dari kaum muslimin terutama jamaah yang melakukan perjalanan lintas Banda Aceh - Medan dan sebaliknya. Kini Masjid Raya Stabat yang menjadi kebanggaan bagi warga ibu kota Kabupaten Langkat tersebut, merupakan tempat persinggahan bukan saja untuk beribadah, tetapi juga untuk sekedar melepas lelah dalam perjalanan lintas Sumatera yang didukung areal parkir dan halaman yang asri.

Masjid kebanggaan masyarakat Stabat ini memiliki corak Melayu yang khas dengan warna masjid yang didominasi warna kuning dan hijau, warna kebesaran suku Melayu. Bangunan masjid ini ditopang oleh 100 lebih tiang penyangga.***

Referensi


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Saturday, April 20, 2019

Masjid Raya Al Aman Aek kanopan, Labuhanbatu Utara


Masjid Raya Al-Aman Aek Kanopan.

Masjid Raya Al Aman Aek kanopan adalah masjid raya kabupaten Labuhanbatu Utara, provinsi Sumatera Utara. Masjid ini berada di Desa Aek kanopan, kecamatan Kualuh Utara yang merupakan ibukota kabupaten Labuhanbatu utara. Kabupaten ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Labuhanbatu, ditetapkan dengan UU RI Nomor 23 tanggal 21 Juli 2008 dan menetapkan hari jadinya pada tanggal 15 Januari 2009.

Bila dilihat dari udara, wilayah kabupaten Labuhanbatu Utara ini tampak seperti lukisan indah  streogram yang terbentuk dari bentangan kebun kebun kelapa sawit yang menjadi primadona pendapatan masyarakat daerah tersebut.

Masjid Raya Al-Aman Aek Kanopan
Jl. Gazali Sinaga, Aek Kanopan Timur
Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara
Sumatera Utara 21273



Masjid Raya Al-aman merupakan pusat aktivitas ke-Islaman kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura). Lokasi masjid ini berada di lokasi yang sangat strategis di pusat kota Aek Kanopan. Lokasinya berdiri di pertigaan jalan linstas Sumatera dengan Jalan Gazali Sinaga, terpaut sekitar 450 meter dari komplek kantor Bupati Labuhanbatu Utara yang juga berada di ruas jalan lintas sumatera.

Lokasi masjid ini juga berdekatan dengan Terminal Bis Aek Kanopan dan menariknya Aek Kanopan ini, dari tata letak tempat ibadah-nya saja sudah cukuplah untuk menggambarkan kerukunan kehidupan beragama di Labuhanbatu Utara ini sangat harmonis.

Masjid ini bersebelahan dengan komplek Koramil 01 Aek Kanopan, SMA Muhammadiyah 9 Kualuh Hulu, di jalan Gazali Sinaga, berseberangan juga dengan SDN 115468 Aek Kanopan, dan masih satu ruas jalan yang sama bersebelahan dengan SMA Muhammadiyah terdapat Gereja HKBP Aek Kanopan.

Penduduk Labuhanbatu Utara di tahun 2015 total 351.097 jiwa. Dengan tingkat kepadatan 98,32 jiwa/km2. Mayoritas penduduknya beragama Islam (82.24%), Kristen Protestan (15.95%), Katolik (1.23%), Buddha (0.55%), Hindu (0.01%) dan Konghucu (0.01%).

Rencana pengembangan Masjid Raya Al-Aman Aek Kanopan.

Penggalangan dana untuk Palestina

Pada tanggal 19 Juli 2014 yang lalu masjid ini menjadi saksi aksi kepedulian muslim Labuhanbatu Utara terhadap rakyat Palestina dengan aksi penggalangan dana kemanusiaan bagi rakyat Palestina.

Dalam kesempatan itu berhasil dikumpulkan dana sebesar Rp. 100 Juta Rupiah yang kemudian diserahkan oleh Bupati Labuhanbatu Utara H.Kharuddinsyah Sitorus SE atau biasa dipanggil Haji Buyung, didampingi Sekdakab Drs Edi Sampurna kepada Kepala Cabang Bank Muamalat Aekkanopan, Arif untuk diserahkan kepada rakyat Palestina melalui lembaga baitul mal muamalat yang  sudah ditugaskan untuk mengelola bantuan-bantuan yang diarahkan ke Palestina.

Posko Mudik

Di musim mudik lebaran Mesjid Raya Al-Aman Aek Kanopan ini menjadi salah satu tempat persinggahan para pemudik untuk melepas lelah. Mesjid Al-aman menyediakan posko peristirahatan bagi para pemudik, selain itu fasilitas parkir yang luas serta teratak tambahan dan kaspet sejuk di bawah pohon sangat bermanfaat bagi pemudik yang hendak beristirahat. Pemudik sekalian memanfaatkan waktu istirahat untuk shalat.

Kunjungan Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno

Sebagai bagian dari safari-nya ke Sumatera Utara, Cawapres Sandiaga Uno, disambut antusias ribuan warga di Masjid Raya Al Aman Aekkanopan, Selasa (11/12/2018). Pekikan takbir dan sholawat terdengar mengiringi sandi saat memasuki kawasan masjid.

Kedatangan Sandi di dampingi anggota DPR RI Gus Irawan Pasaribu disambut antusias warga yang telah menanti sejak siang. Padatnya massa membuat tim pengaman kewalahan karena banyaknya warga yang hendak bersalaman dan foto bareng dengan mantan Wakil Gubernur DKI tersebut.

Hanya berselang beberapa menit saja, azan berkumandang dan rombongan masuk ke Masjid Al Aman untuk melaksanakan sholat Ashar berjamaah. Usai sholat, Gus Irawan Pasaribu selaku Ketua Tim Safari Maulid mengajak umat yang hadir mendoakan agar Sandiaga Uno dapat mencapai apa yang dicitakannya.

Referensi


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sunday, April 14, 2019

Masjid Lama Kabanjahe, Pertama dan Tertua di Kabupaten Karo


Usia masjid ini tertulis dipintu gerbangnya, dibangun tahun 1902 dan selesai tahun 1904.

Masjid Lama Kabanjahe disebut sebut sebagai masjid pertama di Kabupaten Karo, mulai dibangun pada tahun 1902 dan selesai pada tahun 1904. Masjid Lama terletak di Jalan Masjid, Kelurahan Lau Cimba, Kabanjahe. Masjid ini  menjadi salah satu jejak sejarah penyebaran agama islam di Bumi Turang.

Masjid Lama Kabanjahe tidak terlalu besar dengan ukuran sekitar 80m2 diatas tanah 375m2. Masjid ini sudah terdaftar di Sistem Informasi Masjid Kementrian Agama RI dengan nomor ID masjid 01.4.02.06.01.000008

Masjid Lama Kabanjahe
Jl. Masjid No. 12 Kelurahan Lao Cimba, Kabanjahe
Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara
Indonesia


Masjid Lama ini didirkan oleh pedagang islam yang datang ke Kabanjahe khususnya dari Aceh, Niat untuk membangun masjid keran belum ada satupun masjid di Kabanjahe pada saat itu untuk tempat mereka sholat.  Pembangunan masjid tersebut mendapatkan persetujuan dan dukungan dari Sibayak Lingga, penguasa setempat pada saa itu dan pembiayaan pembangunannya dibantu oleh Sultan Langkat. Masjid ini dibangun dari kayu dengan desain arsitektur khas melayu.

Masjid Lama Kabanjahe yang berwarna hijau ini dibangun dari kayu dan berdesain arsitektur Melayu dengan atap bertingkat tiga. Di bagian serambinya yang berpagar hijau terdapat banyak kursi dan satu kentongan. Masjid terdiri dari dua ruangan dengan pintu terpisah. Sebelah kiri  ruang ibadah kaum pria, sedangkan di sisi kanan ruang ibadah wanita. Didalam masjid ini terdapat 3 Al-quran berukuran besar.

Pada bagian belakang masjid ini juga terdapat satu ruangan tambahan. Ruangan ini dulunya dijadikan pusat pengajian dan belajar agama Islam. Karena pada awal berdirinya, masjid ini merupakan pusat dakwah dan penyebaran Islam di Kabanjahe dan desa-desa lain yang letaknya berdekatan dengan Kota Kabanjahe.

Seiring dengan bertambahnya bertambahnya umat Islam di Kabanjahe yang membuat Masjid Lama tak lagi mampu menampung jamaah. Kemudian dibangun Masjid Agung yang berlokasi di pintu gerbang pusat kota Kabanjahe. Aktivitas peribadatan di masjid lama mulai berkurang, namun masjid ini tetap dipergunakan oleh muslim setempat untuk ibadah salat lima waktu dan tarawih saat Ramadan tiba.

Referensi


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Saturday, April 13, 2019

Masjid Agung Nur Alannur Mandailing Natal

Berdiri megah di tepian sungai aek godang.

Masjid Agung Nur Alnnur merupakan masjid agung bagi Kabupaten Mandailing Natal di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Mandailing Natal juga sering disebut dengan Madina, Akronim dari MAnDaIling NAtal.

Mandailing Natal sebelumnya merupakan wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, setelah terjadi pemekaran, dibentuklah Kabupaten Mandailing Natal berdasarkan Undang-undang Nomor 12 tahun 1998, secara formal diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 9 Maret 1999.

Masjid Agung Nur Alannur
Jl. Trans Sumatera Bukit Tinggi - Padang Sidempuan
Kelurahan Dalan Lidang Panyabungan



Selain bangunannya yang megah, masjid Agung kabupaten Mandailing Natal ini juga menjadi vocal point di tempatnya berdiri, lokasinya berdekatan dengan sungai dan bendungan Batang Gadis Aek Godang, sehingga menambah keindahan pemandangan alami di lokasi tersebut.

Masjid kebanggaan warga Madina ini diresmikan oleh Bupati Madina H Amru Daulay,SH. Pada tanggal 30 Agustus 2010. Bangunan masjid agung modern ini berdiri diatas lahan seluas 21,197m2 dan bangunan seluruh lantai seluas 4,172m2. Upacara peresmian masjid ini turut dihadiri Alim Ulama cerdik Pandai, dari pesantren mustopa wiyah purba baru, SKPD Kabupaten Mandailing Natal dan masyarakat setempat.  

Puncak atap dan menara Masjid Agung Nur Alannur.
Peresmian masjid yang dilaksanakan bertepatan dengan bulan suci romadhon tersebut dilaksanakan setelah pelaksaan sholat tarawih berjamaah. Setelah selesai sholat Tarawih Bupati menandatangani Prasasti peresmian, dan secara simbolis membuka selubung papan nama Masjid Agung Nur Alannur.

Pembangunan masjid Agung Nur Alannur ini didanai APBD Madina secara multi year sejak tahun 2008 dan sampai dengan tahun 2012 seluruh jumlah total pembangunan Mesjid Nur Alannur ini mencapai Rp 56,678,049,000.

Referensi


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Saturday, September 9, 2017

Masjid Raya Tanjung Pasir

Masjid Raya Tanjung Pasir atau Masjid Raya Alhaji Muhammad Syah.

Masjid Raya Tanjung Pasir atau Masjid Raya Alhaji Muhammad Syah adalah masjid raya yang berada di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbaut Utara, Provinsi Sumatera Utara. Masjid ini merupakan peninggalan Kerajaan Kualuh, Karenanya Masjid Raya ini juga seringkali disebut dengan Masjid Sultan Kualuh. Selain itu masjid ini juga dikenal dengan nama Mesjid Raya Alhaji Muhammad Syah, lokasinya berada jalan besar desa Tanjung Pasir.

Masjid bersejarah bercorak Melayu yang berukuran sekitar 20 x 20 meter ini terletak tak jauh dari sungai Kualuh, sungai yang membentang dari Kecamatan Kualuh Hulu, Kualuh Selatan, Kualuh Hilir, dan Kualuh Leidong. Selain arsitekturnya yang menarik, Masjid ini juga memiliki arti penting dari sisi sejarahnya di masa lampau.

Mesjid Raya Alhaji Muhammad Syah
Tj. Pasir, Kecamatan Kualuh Selatan
Kabupaten Labuhanbatu Utara
Sumatera Utara 21457



Didirikan oleh Sultan Kualuh III, Al-Haji Muhammad Syah pada tahun 1937.
Kesultanan Kualuh merupakan pecahan Kesultanan Asahan yang berdiri pada abad XVI, sedangkan Kesultanan Kualuh pada abad XVIII. Pada tahun 1920 Sultan Al-Haji Muhammad Syah memindahkan pemerintahan Kerajaannya ke Tanjung Pasir dan mendirikan Istana.

Anak gadis Sultan menikah dengan salah seorang pangeran dari kerajaan Langkat. Sebagaimana ayahandanya, Putri Sultan yang menjadi permaisuri tersebut berkeinginan membangun Masjid di Labura. Sultan berkunjung ke kerajaan Langkat, beliau sangat kagum melihat keindahan bangunan Masjid Azizi yang dibangun oleh Sultan Langkat pada waktu itu. Beliau menginginkan pembangunan masjid di seperti Masjid Azizi dan meminta agar membuatkan gambar dengan ukuran mini.

Sejarah Masjid Raya Al-Haji Muhammad Syah diawali berdirinya Kerajaan Kesultanan Kualuh di Labura pada abad XIX, tepatnya tahun 1829 dengan raja pertama Sultan Haji Ishaq Syah. Setelah beliau mangkat maka digantikan oleh putra tertuanya bernama Sultan Al-Haji Abdullah Syah dan memindahkan pemerintahan kerajaannya ke Kampung Masjid Kecamatan Kualuh Hilir yang sebelumnya kampung tersebut bernama Djatuhan Dadih.

Masjid Raya Tanjung Pasir

Perubahan nama kampung tersebut terjadi setelah kedatangan seorang ulama dari Rokan, Riau bernama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan beserta para pengikutnya sekitar 150 orang. Kedatangan ulama terkenal tersebut disambut oleh Sultan dan memberikan bantuan berupa beras dan sejumlah uang untuk keperluan para santri.

Atas anjuran Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan, setelah Sultan berguru beberapa tahun maka Sultan berniat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah beserta putranya yang bernama Tengku Biong (yang kelak akan berganti nama) pada tahun 1870 selama kurang lebih 3 tahun untuk memperdalam ilmu agama.

Di sana, Sultan mendirikan tempat tinggal di sekitar Masjidil Haram tepatnya berada di Pasar Seng. Tempat tinggal tersebut diperuntukkan bagi keluarga dan masyarakat Kesultanan Kualuh yang pergi melaksanakan haji pada saat itu sehingga tidak perlu lagi mencari tempat tinggal di Mekah. Selanjutnya setelah Sultan merasa cukup, atas permintaan rakyatnya maka Sultan kembali ke tanah air (Kualuh) dan mewakafkan tempat tinggal tersebut.

Sebelum Sultan berangkat ke tanah suci, bersama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan membangun sebuah masjid, yang kelak tempat tersebut bernama Kampung Masjid kerena terdengar kabar ada ulama besar mengajarkan ilmu agama di kampung tersebut.

Referensi


Sunday, September 11, 2016

Masjid Raya Kotapinang Labuhanbatu Selatan

Masjid Raya Kota Pinang, Labuhan Baru Selatan, Sumatera Utara

Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) yang beribukota di Kota Pinang, Kota Pinang adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, yang baru dimekarkan dari Kabupaten Labuhanbatu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2008 pada 24 Juni 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, semasa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di Kotapinang telah lama berdiri sebuah masjid tua dan bersejarah yang dikenal dengan nama masjid Raya Kotapinang.

Masjid Raya Kotapinang merupakan masjid Raya Kabupaten Labuhanratu Selatan. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Kotapinang sekaligus sebagai masjid tertua di Kotapinang. Masjid Besar Kotapinang terletak di Jalan Masjid Raya, Kel. Kotapinang, Kec. Kotapinang. Kabupaten Labuhanratu Selatan, berjarak sekira 200-an meter dari lokasi Istana Kota Bahran di Jalan Istana. Masjid ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya. Dahulunya, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Raja. Nama masjid ini diubah menjadi Masjid Besar.



Dua Versi Sejarah Masjid Raya Kotapinang

Tidak ada catatan resmi mengenai sejarah berdirinya Masjid Raya Kotapinang, wajar bila kemudian muncul dia versi sejarah lisan tentang pembangunan masjidi ini. Menurut masyarakat muslim di Kotapinang masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Mustafa Alamsyah XII pada tahun 1800-an sebelum istana Kota Bahran di Jalan Istana didirikan. Saat itu Kesultanan Kotapinang yang bertahta di Jalan Bukit (kini lapangan MHB ) mulai mencapai kejayaannnya.

Sedangkan bila merunut sejarah lisan Masjid Agung Rantauprapat di Kabupaten Labuhanbatu, disebutkan bahwa Masjid Raya Kotapinang merupakan salah satu dari empat masjid yang dibangun oleh Kesultanan Bilah dari sisa hasil pungutan pajak. Empat masjid dimaksud adalah Masjid Raya Rantauprapat (kini menjadi Masjid Agung), Masjid Kulauh Hulu (Kabupaten Labuhanbatu Utara), Masjid Kota Pinang (Kabupaten Labuhanbatu Selatan), serta sebuah Masjid Raya di daerah Pesisir Pantai, Kecamatan Labuhan Bilik. Wallohuwa’lam.

Arsitektural Masjid Raya Kotapinang

Merujuk kpada penjelasan Tengku Idrus Mustafa als Aizuz Thafa Hamid yang merupakan ahli waris alm. Sultan Mustafa Sultan memang sengaja membangung masjid kerajaan ini dengan megah. Karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri. Di masjid ini pula Sultan dapat berinteraksi dengan masyarakat luas, karena sejak dibangun masjid ini terbuka untuk umum.

Bangunan Masjid terbagi atas ruang utama dan teras serta bangunan tempat wudhu yang terpisah dari bangunan induk. Ruang utama tempat salat, berbentuk prisma. Jika di lihat dari desain atapnya, gedung ini akan terlihat seperti burung layang-layang yang sedang terbang dari atas. Pada sisi kiblat terdapat serambi kecil yang menjorok keluar. Dari bagian belakang hingga sisi Selatan dan Utara masjid terdapat teras.

Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca. Berbeda dari kebanyakan masjid lainnya, Masjid Besar ini awalnya tidak memiliki banyak ornamen. Namun dalam beberapa tahun belakangan, oleh pengurus masjid kemudian masjid ini dihiasi berbagai ukiran dan kaligrafi di bagian dindingnya.

Dahulunya, di tengah-tengah masjid terdapat tangga yang digunakan sebagai jalan menuju kentongan di bagian atas atau kubah masjid. Kentongan tersebut digunakan untuk memberikan tanda masuknya waktu salat agar terdengar ke seluruh penjuru Kotapinang. Hal itu dilakukan karena pada masa itu belum ada alat pengeras suara. Kalaupun ada, aliran listrik juga belum tersedia. Setelah kentungan ditabuh, baru kemudian azan dikumandangkan.

Sejak dibangun masjid ini bentuknya tidak pernah diubah meski sudah dipugar. Hanya saja bagian jendela sudah berganti kaca, dulunya seluruh jendela masjid terbuat dari kayu. Masjid Raya Kotapinang didesain menampung 200-an jamaah. Selain ibadah salat lima waktu, masjid ini juga sering digunakan untuk melaksanakan salat I’ed dan hari besar Islam lainnya. Menurut penuturan warga setempat, dulunya usai salat hari raya Idul Fitri, Sultan Mustafa kerap membagi-bagikan uang kepada warga di tempat itu.

Baca Juga


Saturday, September 10, 2016

Masjid Raya Binjai, Warisan Kesultanan Langkat

Masjid Raya Binjai Saat ini, (taken from google street view)

Binjai adalah salah satu kota otonom di provinsi Sumatera Utara. Dikota ini telah lama berdiri sebuah masjid raya yang sudah berumur lebih dari 120 tahun, biasa dikenal dengan nama Masjid Raya Binjai. Dengan usianya yang sudah melebihi satu abad bangunan masjid ini masuk dalam katagori Masjid Bersejarah, Salah satu warisan dari Kesultanan Langkat. Selain Masjid Raya Binjai, masjid warisan dari Kesultanan Langkat lainnya diantaranya adalah Masjid Azizi di Kota Langkat dan Masjid Ar-Rahman di Kelurahan Bingei, Kecamatan Wampu.

Alamat Masjid Raya Binjai
Jln. Mesjid Raya, kelurahan Pekan Binjai
Kota Binjai, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia



Merujuk kepada data Kemenag, masjid ini sudah memiliki nomor ID 01.5.02.30.02.000003 berdiri di atas tanah wakaf seluas 1000 meter persegi dan berdaya tampung 1500 jemaah. Sertifikat tanah masjid ini disyahkan oleh Badan Pertanahan Kota(madya) Binjai pada tanggal 2 Januari 1992 dengan status wakaf. Bertindak sebagai Nadzir wakaf adalah Drs.R.J. Hadisiswoyo, Drs. Sarakal Ahmad Siregar dan H. Syamsudin Amri.  Lahan masjid ini berbatasan dengan Jalan jauriat Jaksa di sebelah utara, Jalan Mesjid disebelah timur, jalan Pembangunan di sisi selatan dan lahan penduduk di sisi barat. ,

Disebutkan juga bahwa masjid Raya Binjai memiliki beragam aktivitas termasuk di dalamnya adalah Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu.

Foto lama Masjid Raya Binjai

Sejarah Masjid Raya Binjai 

Mesjid Raya Binjai pertama kali dibangun oleh Sultan Langkat Tuanku Sultan Haji Musa Al Khalid Al- Mahadiah Muazzam Shah (Tengku Ngah) Bin Raja Ahmad yang menjabat priode 1840 - 1893. Peletakan Batu pertamanya tahun 1887. dimasa Tuanku Sultan Haji Musa Pembangunan Masjid ini belum rampung. dan setelah mangkatnya Tuanku Sultan Haji Musa, Kesultanan diperintah oleh putranya Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmat shah (1893 - 1927).

Dan Masjid ini pun selesai serta diresmikan oleh Tuanku Sultan Abdul Aziz lebih kurang tahun 1894. Pada tahun 1924 renovasi dilakukan untuk merubah kubah yang ada dimasjid. dan sampai sekarang ini kubah tersebut tidak dilakukan renovasi lagi. Pada tahun 1990-an renovasi dilakukan terhadap lantai tras masjid begitu pula dengan pembangunan menaranya.

Denah Masjid Raya Binjai, dari Dokumen Surat Ukur Tanah

Tentang Kesultanan Langkat

Kesultanan Langkat bermula dari pembentukan kerajaan Langkat oleh Panglima Dewa Shahdan, atau Deva Shahdan, atau Datuk Langkat yang merupakan seorang panglima perang kerajaan Aru. Beliau secara resmi mendirikan kerajaan Langkat di bagian utara kerajaan Aru pada tahun 1670 setahun setelah kerajaan Aru melepaskan diri dari kekuasaan Kesultanan Aceh tahun 1669M. Status kerajaan kemudian di ubah menjadi kesultanan oleh Raja Kahar yang merupakan penguasa ke empat pada tanggal 12 Rabiull Awal 1163 Hijriah bertepatan dengan tanggal 17 Januari 1750 Miladiah. Langkat mencapai kemakmuran dengan ditemukannya ladang minyak di Pangkalan Brandan.

Kejayaan Kesultanan Langkat berahir kelam di tahun 1946 ketika revolusi sosial yang motori oleh PKI meluluhlantakkah kesultanan kesultanan melayu di Sumatera Timur termasuk kesultanan Langkat yang berpusat di Tanjung Pura. Dalam tragedi kelam itu turut menjadi korban di eksekusi massa adalah salah seorang bangsawan Langkat, Pahlawan Nasional, Tokoh sastrawan pujangga Baru Tengku Amir Hamzah yang kemudian di makamkan disekitar Masjid Azizi bersama mendiang para Sultan dan Bangsawan Langkat lainnya.***

Baca Juga


Referensi


Sunday, September 4, 2016

Masjid Agung Rantauprapat

Masjid Agung Rantau Prapat - Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara

Rantau Prapat merupakan ibukota Kabupaten Labuhanbatu di provinsi Sumatera Utara, sebelumnya Rantau Prapat berstatus sebagai sebuah kota Administratif namun kemudian status tersebut dihapuskan tahun 2003 karena tidak memenuhi persyaratan untuk ditingkatkan menjadi sebuah daerah otonom. Secara administratif, Rantau Prapat merupakan sebuah Kelurahan di dalam wilayah Kecamatan Rantau Utara. Dari Kota Medan dapat dicapai dengan Kereta Api Selama 6 jam perjalanan.

Rantau Prapat dilintasi oleh Jalan Lintas Sumatera, juga dilintasi oleh Sungai Bilah. Nama Sungai ini juga merupakan nama kesultanan yang pernah eksis disana pada masa penjajahan Belanda yakni Kesultanan Bilah. Sekitar tahun 1930-an Kesultanan Bilah membangun empat masjid dari dana sisa pungutan pajak. Salah satu masjid tersebut adalah Masjid Raya Rantau Prapat yang kini dikenal dengan nama masjid Agung Rantau Prapat.

Alamat Masjid Agung Rantauprapat
Jl. Ahmad Yani No.156, Rantauprapat
Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu
Sumatera Utara, Indonesia



Masjid Terbaik se-Sumut 2014

Masjid Agung Rantau Prapat ini memperoleh gelar sebagai masjid terbaik tingkat provinsi Sumatera Utara periode 2013-2014. Dengan prestasi tersebut masjid ini mendapatkan bantuan sebesar Rp. 100 Juta rupiah dari Pemkab Labuhan batu sebagaimana disampaikan oleh Bupati H Tigor Panusunan Siregar saat safari Ramadan ke masjid tersebut. Bantuan itu sekaligus untuk memenuhi permohonan dari pengurus badan kemakmuran masjid yang telah mengharumkan dan memakmurkan Masjid Agung itu.

Selain memberikan bantuan untuk perluasan masjid agung, pemkab Labuhanbatu juga memprogramkan pemberian honor kepada para guru ngaji sebagai bagian dari program Pemkab setempat yang bertajuk “Labuhanbatu Mengaji". Pemkab setempat bahkan menghimbau kepada para orang tua untuk mendorong anak anaknya untuk datang ke masjid untuk belajar mengaji. Dengan prestasi tersebut masjid Agung yang kini dipimpin oleh ketua BKM, H Hamid Zahid berhak untuk mewakili Sumatera Utara di tingkat nasional tahun 2015.

Masjid Agung Rantau Prapat 

Dibangun dengan dana sisa pungutan pajak

Berdasarkan cerita turut masyarakat setempat Masjid Agung Rantau Prapat pada awalnya dibangun pada masa kerajaan Billah berkuasa di Labuhanbatu di masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1930-an. Pembangunan masjid ini merupakan inisiatif dari pihak kesultanan Billah yang kala itu Kesultanan Bilah diberi kewenangan oleh pemerintah Kolonial Belanda untuk memungut pajak (Balasting) kepada masyarakat di wilayah Labuhanbatu.

Hal ini berkaitan dengan strategi Belanda agar mereka tetap bisa membina hubungan baik dengan Kerajaan Melayu maupun Kesultanan Bilah yang ada di Labuhanbatu Raya. Sejalan dengan itu, pemangku Kesultanan Bilah berhasil memungut pajak yang dianggap cukup baik. Kesultanan Bilah kemudian memiliki inisiatif untuk mendirikan sebuah masjid sebagai tempat beribadah umat Muslimin Rantauprapat.

Konon, dari sisa lebih pungutan pajak di Labuhanbatu, pihak Kesultanan menggunakannya sebagai modal awal untuk membangun empat unit masjid sekaligus. yakni Masjid Raya Rantauprapat (kini menjadi Masjid Agung), Masjid Kulauh Hulu (sekarang Kabupaten Labuhanbatu Utara), Masjid Kota Pinang (sekarang Kabupaten Labuhanbatu Selatan), serta sebuah Masjid Raya di daerah Pesisir Pantai, Kecamatan Labuhan Bilik.

Dari arah jalan raya

Keempat masjid ini memiliki ciri khas yang hampir mirip, baik dari sisi ornamen maupun bentuk kubah. Meski perkembangan pembangunan begitu pesat pada zaman sekarang, Masjid Raya Rantauprapat masih tetap mempertahankan keaslian bangunannya, seperti yang terlihat di kubah utama yang masih terbuat dari kayu sekaligus menjadi langit-langit bangunan masjid tersebut.

Masjid Agung Rantauprapat berdiri di atas tanah seluas 4.855 meter persegi yang lahannya berasal dari wakaf Sultan Bilah melalui anaknya yang masih hidup, Tengku Su’if, berdasarkan Sertifikat Tanda Bukti Hak (STBH) Nomor 599 tertanggal 25 November 1991. Pengelolaan masjid ini ditangani oleh Kantor Kementerian Agama di Labuhanbatu.

Bentuk kubah masjid ini terdiri dari tiga buah. Dimana, satu kubah sebagai menara utama yang paling tinggi yang posisinya berada di bagian belakang. Sementara dua lainnya terdapat di pintu menuju masuk masjid. Di pintu pagar juga terdapat dua menara layaknya seperti Masjid Raya Al- Maksum di Kota Medan. Simbol suku Melayu masih melekat dengan dominasi warna kuning pada masjid, meski telah terdapat warna hijau pada bagian kubahnya.

Dalam perkembangannya, masjid tersebut kini juga telah memiliki klinik kesehatan dan madrasah yang berada di dalam kompleks masjid. Sejak zaman Belanda nama masjid ini  Masjid Raya. Tapi sekitar Tahun 1986 di-ubah menjadi Masjid Agung Rantau Prapat***

Baca Juga


Saturday, September 3, 2016

Masjid Agung Kabanjahe Kabupaten Karo

Masjid Agung Kabanjahe, kabupten Karo, Sumatera Utara

Kabanjahe adalah ibukota dari Kabupaten Karo di provinsi Sumatera Utara. Lokasinya berada di ketinggian dataran tinggi Karo, di kawasan Bukit Barisan. Kota ini berjarak lebih kurang 77 km dari kota medan, Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Kabanjahe dan Kabupaten Karo yang berada di ketinggian antara 600 hingga 1400 mdpl, di anugerahi landscape alam pegunungan yang menawan dengan udara yang sejuk berkisar antara 16 sampai 17° C.

Di dataran tinggi Karo berciri khas daerah buah dan sayur. Di daerah ini juga bisa kita nikmati keindahan Gunung berapi Sibayak yang masih aktif dan berlokasi di atas ketinggian 2.172 meter dari permukaan laut. Arti kata Sibayak adalah Raja. Berarti Gunung Sibayak adalah Gunung Raja menurut pengertian nenek moyang suku Karo. Kabupaten Karo saat ini di zaman dahulu merupakan bagian dari Kerajaan Aru.

Masjid Agung Kabanjahe

Masjid ini berdiri megah di tengah kota Kabanjahe. Masjid agung Kabanjahe terletak di persimpangan jalan ke Medan, Sidikalang, Pematang Siantar dan Kutacane (propinsi aceh), sehingga tempatnya sangat strategis. Masjid Agung Kabanjahe merupakan masjid terbesar di Kabanjahe. Letaknya di lokasi yang mayoritas warganya non muslim, maka masjid ini menjadi obat dahaga warga muslim yang membutuhkan tempat untuk menjalankan ibadahnya.

Alamat Masjid Agung Kabanjahe
Jl. Meriam Ginting, Kabanjahe, Kabupaten Karo
Sumatera Utara - Indonesia



Presiden SBY Berkunjung ke Masjid Agung Kabanjahe

Di tahun 2014 Masjid Agung Kabanjahe menjadi salah satu tempat pengungsian warga terdampak erupsi Gunungapi Sinabung. Kamis, 23 Januari 2014 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Bersama Ibu Ani Yudhoyono Melakukan Kunjungan Ke Masjid Agung Kota Kabanjahe Untuk Bertemu Dengan Para Ulama Setempat dan menanyakan kondisi para pengungsi pasca erupsi Gunung Sinabung, Sekaligus meresmikan selesainya Masjid yang awalnya bernama Masjid Raya yang sebelumnya direnovasi dan menelan biaya Rp. 2,8 milyar Rupiah.

Kedatangan Presiden SBY ke masjid Agung Kabanjahe atas usulan pihak Ketua Panitia Pembangunan sekaligus Ketua Badan Kemakmuran Masjid ini, H Mulia Purba, melalui Menteri Kehutanan Dr MS Kaban,MSi.