Sunday, September 11, 2016

Masjid Raya Kotapinang Labuhanbatu Selatan

Masjid Raya Kota Pinang, Labuhan Baru Selatan, Sumatera Utara

Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) yang beribukota di Kota Pinang, Kota Pinang adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, yang baru dimekarkan dari Kabupaten Labuhanbatu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2008 pada 24 Juni 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, semasa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di Kotapinang telah lama berdiri sebuah masjid tua dan bersejarah yang dikenal dengan nama masjid Raya Kotapinang.

Masjid Raya Kotapinang merupakan masjid Raya Kabupaten Labuhanratu Selatan. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Kotapinang sekaligus sebagai masjid tertua di Kotapinang. Masjid Besar Kotapinang terletak di Jalan Masjid Raya, Kel. Kotapinang, Kec. Kotapinang. Kabupaten Labuhanratu Selatan, berjarak sekira 200-an meter dari lokasi Istana Kota Bahran di Jalan Istana. Masjid ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya. Dahulunya, masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Raja. Nama masjid ini diubah menjadi Masjid Besar.



Dua Versi Sejarah Masjid Raya Kotapinang

Tidak ada catatan resmi mengenai sejarah berdirinya Masjid Raya Kotapinang, wajar bila kemudian muncul dia versi sejarah lisan tentang pembangunan masjidi ini. Menurut masyarakat muslim di Kotapinang masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan Mustafa Alamsyah XII pada tahun 1800-an sebelum istana Kota Bahran di Jalan Istana didirikan. Saat itu Kesultanan Kotapinang yang bertahta di Jalan Bukit (kini lapangan MHB ) mulai mencapai kejayaannnya.

Sedangkan bila merunut sejarah lisan Masjid Agung Rantauprapat di Kabupaten Labuhanbatu, disebutkan bahwa Masjid Raya Kotapinang merupakan salah satu dari empat masjid yang dibangun oleh Kesultanan Bilah dari sisa hasil pungutan pajak. Empat masjid dimaksud adalah Masjid Raya Rantauprapat (kini menjadi Masjid Agung), Masjid Kulauh Hulu (Kabupaten Labuhanbatu Utara), Masjid Kota Pinang (Kabupaten Labuhanbatu Selatan), serta sebuah Masjid Raya di daerah Pesisir Pantai, Kecamatan Labuhan Bilik. Wallohuwa’lam.

Arsitektural Masjid Raya Kotapinang

Merujuk kpada penjelasan Tengku Idrus Mustafa als Aizuz Thafa Hamid yang merupakan ahli waris alm. Sultan Mustafa Sultan memang sengaja membangung masjid kerajaan ini dengan megah. Karena menurut prinsipnya hal itu lebih utama ketimbang kemegahan istananya sendiri. Di masjid ini pula Sultan dapat berinteraksi dengan masyarakat luas, karena sejak dibangun masjid ini terbuka untuk umum.

Bangunan Masjid terbagi atas ruang utama dan teras serta bangunan tempat wudhu yang terpisah dari bangunan induk. Ruang utama tempat salat, berbentuk prisma. Jika di lihat dari desain atapnya, gedung ini akan terlihat seperti burung layang-layang yang sedang terbang dari atas. Pada sisi kiblat terdapat serambi kecil yang menjorok keluar. Dari bagian belakang hingga sisi Selatan dan Utara masjid terdapat teras.

Jendela-jendela yang mengelilingi pintu beranda terbuat dari kayu dengan kaca. Berbeda dari kebanyakan masjid lainnya, Masjid Besar ini awalnya tidak memiliki banyak ornamen. Namun dalam beberapa tahun belakangan, oleh pengurus masjid kemudian masjid ini dihiasi berbagai ukiran dan kaligrafi di bagian dindingnya.

Dahulunya, di tengah-tengah masjid terdapat tangga yang digunakan sebagai jalan menuju kentongan di bagian atas atau kubah masjid. Kentongan tersebut digunakan untuk memberikan tanda masuknya waktu salat agar terdengar ke seluruh penjuru Kotapinang. Hal itu dilakukan karena pada masa itu belum ada alat pengeras suara. Kalaupun ada, aliran listrik juga belum tersedia. Setelah kentungan ditabuh, baru kemudian azan dikumandangkan.

Sejak dibangun masjid ini bentuknya tidak pernah diubah meski sudah dipugar. Hanya saja bagian jendela sudah berganti kaca, dulunya seluruh jendela masjid terbuat dari kayu. Masjid Raya Kotapinang didesain menampung 200-an jamaah. Selain ibadah salat lima waktu, masjid ini juga sering digunakan untuk melaksanakan salat I’ed dan hari besar Islam lainnya. Menurut penuturan warga setempat, dulunya usai salat hari raya Idul Fitri, Sultan Mustafa kerap membagi-bagikan uang kepada warga di tempat itu.

Baca Juga