Showing posts with label Masjid Masjid Unik. Show all posts
Showing posts with label Masjid Masjid Unik. Show all posts

Sunday, July 16, 2023

Masjid Agung Al-Hidayah, Hagia Sophia-nya Kabupaten Malang

Masjid Agung Al-Hidayah Kabupaten Malang.

Masjid Agung Al-Hidayah di Kabupaten Malang ini mendadak mencuri perhatian warga karena bentuk bangunan-nya yang mirip dengan masjid Hagia Sopia di Istanbul Turki namun dalam ukuran yang lebih kecil. Lokasinya menyatu dengan komplek pondok pesantren Al-Hidayah di Dusun Bonowarih Desa Karangan, kecamatan Karangploso kabupaten Malang, provinsi Jawa Timur.
 
Masjid berwarna coklat ini tampak berdiri begitu menonjol dibandingkan bangunan bangunan yang ada di sekitarnya. Akses jalan menuju Masjid Agung Al Hidayah mudah dilalui oleh wisatawan yakni dari pintu tol Karangploso lurus terus ke arah Kota Batu, posisinya masjid tersebut ada di pinggir jalan sebelah kanan.
 
Masjid Agung Al Hidayah Malang
Dusun Bonowarih, Desa Karangan, Kecamatan Karang Ploso
Kabupaten Malang, Jawa Timur 65152
https://goo.gl/maps/UfSZ93yD3kXaniBg9
 
 
Sejarah masjid Agung Al-Hidayah Malang
 
Sejatinya masjid Agung Al-Hidayah ini sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda di komplek pondok pesantren Al-Hidayah, namun tidak diketahui dengan pasti tahun pembangunan masjid ini. Pendirinya adalah KH. Ismail Arif bin Paku Nego, beliau merupakan Tokoh agama pendiri Pondok Pesantren Al Hidayah, makamnya berada disisi barat Masjid Agung Al-Hidayah ini.
 
Pada awalnya bangunan masjid ini hanya berupa bangunan dari bahan bambu lalu diganti dengan batu bata pada renovasi tahun 1988. Tahun 2008 Masjid Agung Al Hidayah mengalami renovasi besar-besaran hingga ke bentuknya saat ini. Total renovasi besar besaran tersebut menghabiskan dana sekitar Rp. 8.5 Milyar bersumber dari jariah masyarakat. 

Bangunan masjid ini dirancang oleh Pak Tholib, beliau bukan seorang seniman dan bukan arsitek, kemampuannya merancang masjid diperoleh secara otodidak. Awalnya pengurus masjid hanya menginginkan bangunan masjid yang bagus dan unik. Kemudian ditunjukkan sebuah lembaran foto masjid Hagia Sophia yang diambil dari kalender. Pengurus pun akhirnya sepakat untuk membangun masjid serupa dalam foto tersebut.
 
Interior Masjid Agung Al-Hidayah Kabupaten Malang.

Saat renovasi besar-besaran pada 2008 bangunan masjid lama mulai dibongkar dan dibangun secara bertahap, karena selama proses pembongkaran dan pembangunan, masjid ini tetap digunakan untuk ibadah sholat. Renovasi tersebut memakan waktu hingga 10 tahun.
 
Arsitektur Masjid Agung Al-Hidayah Malang
 
Masjid Agung Al Hidayah terdiri atas tiga lantai, lantai pertama digunakan sebagai tempat wudhu, kamar mandi dan gudang. Lantai dua digunakan untuk tempat sholat utama dan tempat mihrab dan mimbar berada, sedangkan di lantai tiga juga digunakan tempat sholat serta kajian kajian islam. Ukuran bangunan masjidnya sendiri seluas 20 x 30 meter persegi diperkirakan mampu menampung hingga 700 jemaah sekaligus.
 
Kubah utama masjid didukung 16 kubah lebih kecil yang tersusun sedemikian rupa. Beberapa juga terlihat kubah separuh lingkaran yang berada di sudut-sudut puncak masjid. Masjid Agung Al Hidayah di Kabupaten Malang ini adalah memiliki menara tunggal setinggi 45 meter. Sedangkan dinding Masjid Agung Al Hidayah ini lebih didominasi oleh warna coklat
 
Masjid Agung Al-Hidayah Kabupaten Malang.

Saat memasuki Masjid Al Hidayah Jemaah akan menemukan ruangan masjid yang lapang dengan atap begitu tinggi ditopang oleh tiang-tiang penyangga beruikuran besar. Para pengunjung akan disambut dengan ukiran dan ornamen yang menarik dan layar televisi LED di area bawah bangunan. Ditambah dengan kaligrafi kaligrafi estetik menghiasi dinding dan sisi dalam kubah kubah masjid.
 
Objek Wisata Religi
 
Arsitektur dan interiornya yang mirip dengan Hagia Sophia berhasil mengundang perhatian masyarakat luas. Mereka biasanya menyempatkan diri berfoto selfie, selain menjalankan ibadah salat lima waktu. Sering kali juga digunakan tempat ijab kabul dan foto pranikah. Pasangan yang akan berfoto prewed atau menikah cukup mengajukan izin kepada pengurus setempat. Hanya saja harus tetap menjaga sopan santun dan adab di masjid.***
 
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Rujukan
 
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5556434/masjid-agung-al-hidayah-mirip-hagia-sophia-turki-di-malang-habiskan-rp-85-miliar
https://travelingyuk.com/masjid-al-hidayah-karangploso/296152/
https://kabarbanten.pikiran-rakyat.com/syiar/pr-596326361/destinasi-wisata-religi-masjid-agung-al-hidayah-malang-jawa-timur-mirip-arsitektur-hagia-sophia-di-turki
https://khazanah.republika.co.id/berita/qs09s1483/menengok-hagia-sophia-di-malang

 
Baca Juga
 
Masjid Agung An-Nur Kota Batu
Masjid Agung At-Taqwa Bondowoso
Masjid Agung Darussalam Bojonegoro
Masjid Agung Baitul Hakim Kota Madiun
Masjid Agung Baitussalam Nganjuk
Masjid Agung Baitur Rahman Ngawi
Masjid Agung Baitussalam

Sunday, July 28, 2019

Masjid Agung Nurul Islam Kota Sawahlunto

dibangun dari bekas pembangkit listrik tenaga uap, Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan

Masjid Agung Nurul Islam adalah masjid agung di kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Ditilik dari usia bangunannya masjid ini adalah salah satu masjid tertua di Indonesia, lokasinya berada di Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, provinsi Sumatra Barat. Lokasinya berjarak sekitar 150 meter dari Museum Kereta Api Sawahlunto.

Bangunan masjid ini pertamakali dibangun pada masa penjajahan Belanda ditahun 1894 sebagai gedung pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dan berubah fungsi menjadi masjid sejak tahun 1952. Menaranya yang setinggi 85 meter itu dulunya adalah cerobong asapnya kemudian dijadikan sebagai menara dengan tambahan kubah setinggi 10 meter.

Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto
Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar
Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, Indonesia



Kota Sawahlunto di Sumatera Barat dikenal sebagai kota wisata. Kota tua yang mulai didirikan pada tanggal 1 Desember 1888, seiring dengan ditemukannya tambang batubara di daerah itu di masa penjajahan Belanda. Explorasi batubara mulai dilakukan oleh Belanda pada tahun 1892. Kota ini berkembang menjadi pusat pertambangan. Infrastuktur kota dibangun sejak masa itu termasuk fasilitas pembangkit tenaga listrik, jalur kereta api, pemukiman dan sebagainya.

Perkembangan kota ini sempat seakan mati manakala penambangan batubara dihentikan. Kini kota tua Sawahlunto dikenal luas sebagai kota wisata, salah satu yang terbaik di Indonesia. Peninggalan masa lalu termasuk lorong lorong panjang tambang tambang bawah tanah seakan berkisah dalam sepi tentang perihnya penderitaan para pekerja paksa yang diperah tenaganya oleh penguasa Belanda untuk mengorek batubara dari perut bumi Sawahlunto.

DULU & KINI. Foto sebelah kiri adalah bangunan asli Masjid Agung Sawahlunto dimasa penjajahan Belanda berupa gedung pembangkit listrik tenaga Uap. Perhatikan cerobong asapnya yang kini berubah menjadi menara masjid pada foto sebelah kanan.

Masjid di Bekas PLTU

Pertumbuhan infrastruktur di Kota Sawahlunto yang dipicu oleh aktivitas pertambangan batu bara mengalami perkembangan pesat pada akhir abad ke-19. Eksploitasi batu bara mendorong masuknya transformasi teknologi uap ke Sawahlunto.

Sejalan dengan itu, untuk dapat menggerakkan berbagai mesin listrik pemerintah Hindia Belanda membangun pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dengan memanfaatkan aliran Batang Lunto di Kubang Sirakuak pada tahun 1894. PLTU ini menjadi PLTU pertama di Sawahlunto.

Cerobong asap yang sama, di foto kiri jelas terlihat cerobong asap PLTU dengan asap nya yang membubung, Dan di foto sebelah kanan cerobong tersebut difungsikan menjadi menara masjid. 
PLTU Mudik Air merupakan tempat penggerak utama peralatan dan mesin – mesin pertambangan, sumber penerangan kota, gedung, kantor serta rumah – rumah warga Sawahlunto. Namun mengingat debit air sungai yang berada di pinggir PLTU tersebut kian berkurang, pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun PLTU pengganti di Salak, Talawi pada tahun 1924 yang memanfaatkan aliran Batang Ombilin.

Bangunan PLTU di Kubang Sirakuak yang sudah tidak berfungsi lagi sempat dijadikan sebagai tempat perlindungan dan perakitan senjata oleh para pejuang kemerdekaan di Sawahlunto Pada masa Agresi Belanda I dan II, Pada saat mengalami peralihan fungsi banyak ditemukan sisa – sisa amunisi pada banker tersebut dan kini amunisi tersebut disimpan sebagai koleksi Museum Goedang Ransoem Sawahlunto.

Ekterior dan Interior Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto. 
Bangunan bekas PLTU itu pernah juga sebagai rumah hunian pekerja tambang batu bara Ombilin, sampai akhirnya berubah menjadi masjid sejak tahun 1952 dengan nama Masjid Agung Nurul Islam. Bekas cerobong asapnya yang kini sudah berubah menjadi menara tampak indah dimalam hari dengan cahaya cahaya lampu yang dipasang disana.

Bangunan utama masjid ini berukuran 60 × 60 meter dan memiliki lima kubah terdiri dari satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah dengan ukuran yang lebih kecil. Di bawah bangunan masjid terdapat lubang perlindungan yang sempat dipakai untuk tempat merakit senjata, granat tangan, dan mortir. Saat ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid berlantai dua ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat sekitar.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, June 23, 2019

Menilik Keindahan Sepuluh Masjid Terapung di Indonesia (Bagian 2)


Lima masjid "terapung" di posting kali ini adalah masjid yang berada di pulau Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga pulau Papua. Begitu kaya nya negeri kita dengan begitu beragam khasanah budayanya.

Melanjutkan posting sebelumnya tentang 10 Masjid Terapung di Indonesia (Bagian 1) berikut ini kami lanjutkan dengan 5 masjid terapung berikutnya yang ada di Indonesia, yang juga di urutkan berdasarkan tahun penyelesaian pembangunannya. Masih banyak lagi masjid masjid berkatagori terapung seperti yang sudah kami rangkum ini di Indonesia, terutama di wilayah wilayah yang memang menjadikan laut dan sungai sebagai sarana transportasi.

Seperti yang telah kami sampaikan dalam posting sebelumnya, mendirikan bangunan di atas air sudah merupakan keahlian dari sebagian masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu kala, sehingga dipastikan ada banyak sekali masjid masjid yang dibangun diatas air di seluruh wilayah Indonesia selain dari 10 Masjid yang sudah kami rangkum dalam dua posting ini.

6. Masjid Oesman Al-Khoir Kayong Utara (2016)

Masjid Oesman Al-Khair dibangun atas prakarsa dan di atas tanah hibah dari Oesman Sapta Odang, tokoh nasional yang juga tokoh masyarakat Kayong Utara dan Kalimantan Barat. Lokasi masjid ini menjorok ke laut di lepas pantai Sukadana, Kayong Utara.

Masjid Terapung Oesman Al Khair dibangun di atas lahan wakaf dari Oesman Sapta Odang. Sebagian bangunan masjid ini berada diatas laut dilepas pantai Sukadana. Pembangunanya menghabiskan dana senilai Rp. 38 Miliar yang berasal dari dana patungan dari Oesman Sapta Odang sebesar Rp. 11 Milyar, dana corporate social responsibility (CSR) delapan BUMN sebesar Rp. 12 Milyar dan anggaran Pemerintah Kabupaten Kayong Utara dan swadaya masayarakat kayong Utara.

Pembangunan masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada Idhul Adha, bulan Oktober 2012 yang juga turut dihadiri oleh Oesman Sapta Odang. Proses pembangunannya memakan waktu selama 3 tahun 7 bulan dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 15 Oktober 2016, ditandai dengan penandatangan prasasti.

7. Masjid Agung Lasusua, Kolaka Utara – Sulawesi Tenggara (2017)

Masjid Agung di Lasusua, Ibukota Kabupaten Kolaka Utara ini dibangun diatas lahan bekas rawa dan hutan dan disulap menjadi kawasan pusat pemerintahan kabupaten Kolaka Utara diatas lahan reklamasi. Kompleks ini menjadi fakta percepatan pembangunan kabupaten ini sejak dimekarkan menjadi daerah otonomi baru.

Masjid Agung Lasusua, nama resminya adalah Masjid Agung Bahrurrasyad Wal Ittihad, nama yang cukup sulit untuk dilafalkan dan diingat, itu sebabnya masjid megah di tepian laut ini lebih dikenal dengan nama Masjid Agung Lasusua, merujuk kepada tempat nya berdiri. Mulai dibangun tahun 2008 pada masa pemerintahan Bupati Rusdi Mahmud. Pertama kali di gunakan untuk penyelenggaraan sholat Idul Fitri pada tanggal 31 Agustus 2011 meskipun saat itu keseluruhan proses pembangunan masih berjalan. Bangunan masjid ini selesai pada bulan juni 2017.

Dibangun di atas lahan seluas  22.500 meter persegi, luas bangunan masjidnya mencapai 2500 meter persegi dan mampu menampung hingga 3000 jemaah. Pembangunan masjid ini memang cukup mengesankan, proses pembangunannya terintegrasi dengan pembangunan pusat pemerintahan kabupaten Kolaka Utara. Masjid agung ini berdiri di atas lahan reklamasi di lepas pantai Lasosua, tak hanya bangunan masjidnya, begitu juga dengan jaringan jalan raya yang membentang di sepanjang pantai disekitar masjid ini. Bila dipandang dari arah laut, masjid ini tampak seolah olah mengapung dipermukaan laut.

8. Masjid Terapung Amahami, Kota Bima – Nusa Tenggara Barat (2018)

Meski sempat menuai kontroversi dan penolakan dari sebagian masyarakat, Masjid terapung di lepas pantai Amahami kota Bima ini, kini menjadi ikon kota Bima dan kebanggaan masyarakat setempat.

Masjid terapung kota Bima atau Masjid Terapung Amahami adalah masjid yang berada di tepian pantai Amahami kota Bima, tepatnya berada di Jl. Sultan Muhamad Salahuddin, Belo, Kota Bima, provinsi Nusa Tenggara Barat. Pembangunan masjid ini dilaksanakan oleh pemerintah kota Bima dibawah pimpinan Walikota setempat HM. Qurais H. Abidin. meskipun sejak awal rencana pembangunan masjid ini mendapat penolakan bahkan kecaman keras dari beberapa pihak, namun masjid ini ahirnya dibangun dan kini menjadi salah satu Ikon kota Bima.

Pembangunan masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 10 April 2017 bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bima yang ke 15, dan sudah  mulai dapat digunakan pada ahir tahun 2017 yang lalu. Salah satu dasar pemikiran pembangunan masjid ini adalah bahwa masyarakat kota Bima terkenal sebagai masyarakat yang Islami, karenanya dengan dibangunnya masjid ini; ketika pertama kali masyarakat atau tamu luar daerah masuk wilayah Kota Bima, akan melihat berdiri kokoh sebuah masjid di pinggir laut Amahami, sebagai ikon kota Bima

9. Masjid Al-Alam Kendari (2018)

Masjid Al-Alam di teluk Kendari di wilayah kota Kendari ini boleh jadi merupakan mega proyek pembangunan masjid yang menyita begitu banyak biaya hingga ratusan milyar. Lokasi pembangunannya benar benar berada ditengah laut teluk Kendari. Untuk mencapai masjid ini dibangun ruas jalan hubung sejauh 1,6 KM dari bibir pantai kota Kendari.

Masjid Al-Alam Kendari, dibangun di tengah laut teluk Kendari di kota Kendari, provinsi Sulawesi Tenggara. Gagasan pembangunan masjid ini bermula dari ide Gubernur Sulawesi Tenggara Nurul Alam untuk menghadirkan masjid di tengah tengah teluk Kendari. Pada awalnya banyak yang menentang rencana tersebut, dan kini masjid tersebut menjadi kebanggaan warga Kendari dan Sulawesi Tenggara.

Proyek Masjid Al-Alam Kota Kendari dimulai tahun 2010, mulai dipakai tahun 2017 dan diresmikan tahun 2018. Masjid ini menjadi masjid pertama di Indonesia yang dibangun begitu jauh ditengah laut dan dalam ukuran yang cukup besar, meski sebelumnya telah ada masjid masjid serupa di tanah air. Jarak dari pantai kota Kendari ke masjid ini sekitar 1.6 KM dihubungkan dengan jalan akses yang sengaja dibangun untuk menghubungkan masjid ini dengan daratan kota Kendari.

10. Masjid An-Nur Agats Kabupaten Asmat, Papua

Agats, Ibukota kabupaten Asmat di provinsi Papua dikenal luas sebagai kota diatas papan. Di kota ini rumah penduduk, bangunan pemerintah termasuk kantor Bupati dan sebagainya semuanya dibangun diatas lantai papan bertiang kayu, karena memang wilayah ini senantiasa tergenang air. Jaringan jalan di kota ini pun merupakan susunan papan yang ditata diatas penyangga kayu. Sangat menarik, karena nyaris tak kan ditemukan di wilayah lain di Indonesia yang hampir semua bangunannya berada diatas papan.

Kota Agats merupakan ibukota kabupaten Asmat, provinsi Papua. Kota ini dikenal sebagai kota diatas papan karena sebagian besar bangunannya dibangun diatas air dengan di topang tiang tiang kayu dan berlantai papan. sama seperti semua bangunan yang ada di kota Agats, Masjid An-Nur Agats inipun dibangun berbentuk rumah panggung dengan lantai papan, dan pada saat air pasang naik, Masjid An-Nur Agats dan seluruh bangunan di kota ini seolah menjadi masjid dan bangunan terapung.

Masjid An-Nur Agats merupakan masjid utama di kota Agats kabupaten Asmat. Beragam aktivitas setingkat kabupaten dilaksanakan di masjid ini seperti acara buka puasa bersama dalam rangkaian kegiatan safari Ramadhan pemda kabupaten Asmat pada bulan suci Ramadhan dan lain sebagainya. Belum ada data tentang kapan masjid An-Nur Agats ini dibangun.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Saturday, June 22, 2019

Menilik Keindahan Sepuluh Masjid Terapung di Indonesia (Bagian 1)


Lima dari sepuluh masjid masjid terapung di Indonesia.

Masjid terapung diatas permukaan air merupakan pemandangan yang cukup unik dan menarik perhatian banyak orang. Dalam satu dekade belakangan ini pembangunan masjid masjid terapung mulai menjadi satu trend baru dalam pembangunan tempat ibadah ummat Islam tersebut. Pembuatan bangunan di atas air bukanlah hal baru bagi sebagian masyarakat Indonesia. 

Seperti kita ketahui masyarakat yang tinggal dipesisir dan yang tinggal disepanjang aliran sungai sudah zaman nenek moyang kota dahulu sudah terbiasa membangun tempat tinggal hingga tempat ibadah yang posisinya berada di atas air ditopang dengan tiang tiang penyanggah. Bahkan juga sebagian masyarakat membangun tempat tinggal yang benar benar terapung diatas air.

Istilah masjid terapung yang dimaksud disini tidak selalu bermakna bahwa bangunan masjid dimaksud benar benar terapung atau mengambang diatas air, melainkan dibangun dan berdiri diatas pondasi dan tiang tiang yang ditancapkan ke dalam air. Posisi bangunan masjid yang berada diatas air sehingga tampak seolah olah mengapung diatas permukaan air. Hanya saja memang ada juga sih masjid yang benar benar terapung dalam artian sebenanya. 

Berikut masjid masjid terapung di Indonesia versi singgahkemasjid. Kami rangkum 10 Masjid terapung yang ada di Indonesia, dan kami bagi dalam dua porting masing masing lima masjid terapung, di urutkan sesuai dengan tahun penyelesaian pembangunannya.

1. Masjid Raya Al-Munawwar Ternate (2010)

Dari tahun pembangunan nya Masjid Raya Al-Munawwar di Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara ini menjadi masjid megah pertama di Indonesia yang dibangun di atas air, dan bila dipanadang dari arah laut seluruh bangunan masjid ini seolah olah mengapung di permukaan air laut.
 
Masjid Raya Al-Munawaroh merupakan masjid yang dibangun oleh Pemerintah kota Ternate di bibir pantai kota Ternate, provinsi Maluku Utara. Masjid yang begitu menawan dipandang dari laut, dengan dua menaranya yang memang dibangun di laut, memberikan pemandangan yang begitu indah. Masjid Raya Al-Munawaroh kini menjadi landmark kota ternate. Bila dipandang dari arah laut masjid ini begitu menawan dengan gunung Gamalama di latar belakang.

Mulai dibangun pertengahan tahun 2003 dengan dana APBD hampir senilai 48 miliar rupiah, dan mulai dipakai pertama kali pada tanggal 6 Agustus 2010 dengan sholat jum’at berjamaah sekaligus takbir akbar menyambut bulan suci ramadhan 1431H, meskipun belum keseluruhan pembangunan masjid selesai di kerjakan.

2. Masjid Terapung Makasar (2012)

Nama resmi masjid terapung di lepas pantai Losari kota Makasar ini sebenarnya adalah Masjid Amirul Mukminin, namun masyarakat luas lebih mengenalnya sebagai masjid terapung Makasar.

Masjid Terapung Makasar ini nama resminya adalah Masjid Amirul Mukminin, namun lebih populer disebut masjid terapung karena lokasinya yang berada di atas air di lepas pantai Losari Kota Makasar, Sulawesi Selatan. Masjid ini dibangun atas gagasan walikota makassar yang ingin memperkaya khasanah landmark Kota Makassar dan wisata religius di kota ini.

Masjid Amirul Mukminin di pantai Losari Makassar, dibangun pada masa walikota Ilham Arief Sirajuddin dan diresmikan oleh Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla pada tanggal 21 Desember 2012. Pak JK sendiri menyebut masjid ini sebagai Masjid Pantai karena lokasinya yang berada di pantai, bukan masjid terapung seperti kebanyakan orang menyebutnya.

3. Masjid Arqam Bab Al Rahman Palu (2012)

Masjid terpaung kota Palu ini, kini tinggal kenangan. Kuatnya guncangan gempa di tahun 2018 yang lalu menghempaskan masjid ini hingga ambruk, dan sampai kini belum diperbaiki. Pemerintah setempat masih fokus menangani dampak bencana tersebut.

Masjid Terapung Arqam Bab Al Rahman  adalah masjid terapung yang terletak di kawasan teluk palu, kampung lere, Palu Barat, Sulawesi Tengah. masjid ini hanya berjarak 400 meter dari Jembatan Kuning atau Jembatan Palu Empat. Masjid terapung yang ukurannya tidak terlalu besar dilengkapi dengan kubah bewarna emas dan disinari beraneka warna lampu pada malam hari.

Masjid Terapung Arqam Bab Al Rahman ini dibangun tahun 2012 dan menjadi salah satu masjid pavorit warga sekaligus menjadi destinasi wisata menarik di kota Palu. Sayangnya masjid ini mengalami kerusakan parah, seluruh tiang penopangnya patah dan bangunan masjidnya ambruk dihantam gempa yang mengguncang Palu pada tanggal 28 September 2018 yang lalu, dan sampai saat tulisan ini dimuat, masih belum dibangun ulang.

4. Masjid Al-Aminah, Kabupaten Pesawaran - Lampung (2015)

Bila anda ingin menikmati sensasi sholat di masjid yang senantiasa bergoyang mengikuti irama ombak, Masjid Terapung Al-Aminah di pantai wisata Sari Ringgung, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung ini, layak anda coba. Masjid yang satu ini benar benar masjid terapung sebenarnya. Dibangun oleh penduduk nelayan diatas jejeran tong tong bekas untuk keperluan peribadatan mereka. Lokasinya yang berada di lepas pantai wisata membuat masjid ini menjadi salah satu tujuan pavorit wisatawan yang datang kesana.

Masjid Al-Aminah "Benar Benar" Terapung di Teluk Lampung lokasinya berada di tengah tengah laut teluk lampung, dilepas pantai wisata Sari Ringgung, di kabupaten Pesawaran, provinsi Lampung. Lokasinya yang benar benar terapung ditengah laut teluk lampung membuat pengunjung harus menggunakan perahu untuk mencapai masjid ini. Masjid ini dibangun oleh para nelayan muslim setempat untuk keperluan mereka beribadah.

Seiring dengan dibukanya pantai Sari Ringgung sebagai salah satu objek wisata dan semakin ramainya pengunjung yang datang kesana, masjid terapung ini pun kemudian menjadi salah satu objek wisata rohani yang menarik minat berbagai kalangan untuk berkunjung kesana. Masjid terapung Al-Aminah ini kemudian diresmikan sebagai objek wisata oleh Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri pada hari Kamis 4 Juni 2015.

5. Musholla Nurul Bahar, Probolinggo – Jawa Timur (2016)

Yang mirip kapal layar sedang berlayar itu adalah Mushola Nurul Bahar di dalam kawasan wisata mangrove di kabupaten probolinggo, provinsi Jawa Timur. Pengelola kawasan wisata ini sengaja membangun mushola ini untuk keperluan wisatawan muslim yang berkunjung kesana dan hasilnya, mushola yang dibangun diatas laut ini justru menjadi tambahan daya tarik objek wisata tersebut.

Musholla Diatas Laut Nurul Bahar adalah adalah Mushola di lepas pantai kawasan wisata hutan mangrove di kelurahan Mayangan, Kota Probolinggo provinsi Jawa Timur. Sekilas dilihat dari jauh, masjid ini menyerupai kapal layar yang sedang bersandar atau kapal layar sedang terdampar.

Bahan atap yang digunakan dari kain tenda berwarna putih yang didatangkan langsung dari Jerman. Sedangkan dinding dan lantai berbahan papan kayu kelapa. Selain itu, diperbagai sudut diberi dinding kaca, agar jamaah yang melaksanakan sholat atau ibadah lainnya benar-benar seperti berada di tengah laut. Masjid ini diresmikan pada tanggal 13 November 2016. (bersambung ke bagian 2).

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga