Saturday, October 22, 2016

Masjid An-Nur Agats Asmat

Di atas papan. Sama seperti semua bangunan yang ada di kota Agats, Kabupaten Asmant, Masjid An-Nur inipun dibangun berbentuk rumah panggung dengan lantai papan.

Masjid An-Nur ini merupakan salah satu masjid di kota Agats yang merupakan ibukota Kabupaten Asmat di provinsi Papua. Bangunan masjid nya memang dibangun bertiang atau berbentuk rumah panggung dengan bahan dari kayu. Masjid An-Nur merupakan masjid utama di kota Agats kabupaten Asmat.


Beragam aktivitas setingkat kabupaten dilaksanakan di masjid ini seperti acara buka puasa bersama dalam rangkaian kegiatan safari Ramadhan pemda kabupaten Asmat pada bulan suci Ramadhan 1437H yang lalu. Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Asmat Elisa Kambu, S.Sos, Ketua DPD PKS Provinsi Papua/Anggota DPRP Papua, Asisten III Setda Asmat, Ketua PHBI Asmat, Kapolres Asmat, Pabung Asmat Kodim 1707/Merauke, Para Pimpinan SKPD Asmat, Danki Pamrahwan Asmat Yonif 755/Yalet, Para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh perempuan Kabupaten Asmat.

Tentang Kabupaten Asmat

Asmat adalah salah satu Kabupaten di provinsi Papua, sekaligus nama salah satu suku asli disana dengan kebuadayaannya yang sudah terkenal hingga ke mancanegara. Kabupaten Asmat beribukota di Agats, sebuah kota sangat unik karena kota ini dibangun diatas bilah bilah papan. Secara geografis wilayah kota Agats merupakan rawa rawa, itu sebabnya semua bangunan di kota ini kemudian dibangun sebagai rumah panggung termasuk bangunan fasilitas umum seperti kantor bupati, gedung sekolah, pasar, tempat ibadah, hingga jalan raya, semuanya dibangun berpanggung dengan lantai papan kayu. Bukan sembarang kayu yang digunakan tapi kayu pilihan yang tahan terhadap segala cuaca, yakni jenis kayu ulin atau kayu besi.

Masjid An-Nur dari sisi yang lain

Kota ini mulai dibangun oleh pemerintah Belanda pada sekitar tahun 1936-an yang awalnya difungsikan sebagai pos pemerintahan. Dulunya warga Asmat menyebut pos pemerintahan ini dengan Akat (yang berarti baik/bagus), namun karena lidah orang Belanda kesulitan menyebut kata ini, maka berubahlah menjadi Agats. Agat semakin ramai dan kini menjadi ibukota pemerintahan bagi kabupaten Asmat. Udara di Agats masih bersih dan bebas polusi, tak ada mobil disini dan kendaraan darat yang boleh beroperasi hanya sepeda motor dan sepeda termasuk gerobak.

Tanah di Agats memang berupa rawa-rawa berlumpur yang tidak cukup kuat dijadikan landasan bangunan. Wilayah Agats berupa rawa-rawa dengan ketinggian air mencapai satu meter. Pilihan kayu besi yang digunakan sebagai fondasi bangunan sangatlah tepat, karena kayu ini semakin ditancapkan ke dalam rawa, semakin lama akan semakin kuat. Oleh karena kuatnya kayu tersebut, maka terciptalah kota ini, kota yang sangat unik dengan arsitektur sederhana nan menakjubkan. Kabarnya, kini pemerintah setempat telah merintis jalan jembatan berkonstruksi beton selebar 3 meter. Sehingga diharapkan di tahun mendatang jalan-jalan utama di kota Agats akan terbuat dari beton menggantikan papan kayu yang selama ini dipakai.***

Pemandangan kota Agats dari udara. semua bangunan berdiri di atas lembaran papan. 

-----------------------

Baca Juga