Saturday, October 15, 2016

Masjid Raya Baiturrahim Singkil

Tertua di Singkil. Masjid Raya Baiturrahim Singkil merupakan masjid pertama dan tertua di kalbupaten Aceh Singkil

Aceh Singkil adalah salah satu kabupaten di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Kabupaten dengan sejarah yang cukup panjang. Di kabupaten ini ada satu masjid yang berkaitan erat dengan sejarah Singkil sudah berdiri sejak pertma kali Islam masuk dan berkembang di Singkil, yakni Masjid Baiturrahim Singkil. Masjid ini telah berdiri sejak 1836 Miladiah.

Masjid Agung Baiturrahim yang berada di Pusat Kota Singkil, Ibukota Kabupaten Aceh Singkil, adalah Masjid pertama dan yang paling tua. Sebelum bernama Masjid Agung Baiturrahim, masjid ini bernama Masjid Jamik Baiturrahim yang dibangun pada tahun 1256 H/1836 M di Singkil lama sebelum akhirnya dipindahkan ke Singkil baru pada tahun 1909.

Masjid Agung Baiturrahim sempat mengalami renovasi pada masa kolonial Belanda dan diperluas pada tahun 1953. Pada mulanya Masjid Agung Baiturrahim berukuran 17 m x 17 m dengan 1 kubah, lalu ukurannya berubah menjadi 20 m x 30 m yang ditambah dengan adanya 1 kubah kecil pada sebelah timur masjid. Pada tanggal 28 Maret 2005 Masjid Agung Baiturrahim mengalami kerusakan berat yang disebabkan oleh gelombang pasang dan gempa bumi.

Lokasi Masjid Raya Baiturrahim Singkil
Jl. M. Tahir Pasar, Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh


Lalu pada tanggal 7 Mei 2005 dibentuk Panitia Pembangunan Masjid Baiturrahim yang ditugaskan khusus untuk memperbaiki dan merehabilitasi masjid yang rusak supaya bisa dipergunakan sekaligus merencanakan pembangunan masjid baru sebagai pengganti masjid yang rusak. Desain baru dari bangunan masjid memiliki ukuran 37 m x 37 m dengan empat menara tinggi, empat menara kecil dan satu kubah yang besar.

Desain bangunan baru Masjid berukuran 37 x 37 m dengan 4 menara tinggi, 4 menara kecil dan satu kubah besar serta 4 Kubah kecil. Kubah besar, atap dan ornamennya diupayakan supaya terlihat mirip dengan bentuk masjid yang dibangun pada tahun 1909.

Sejarah Masjid Raya Baiturrahim Singkil

Merujuk kepada Buku Masjid Bersejarah di Nanggroe Aceh, diterbitkan oleh Bidang Penamas, masjid Raya Baiturrahim pertama kali dibangun sekitar tahun 1256 H/1836 M, pembangunan dilakukan oleh Raja Singkil di ibukota kerajaan Singkil (Singkil lama) dengan nama Masjid Jamik Baiturrahim. Konstruksinya dibangun dengan bahan kayu kapur, meranti laut, atap daun rumbia dan ijuk. Namun Informasi tentang masjid ini dalam catatan sejarah sangat sulit ditelusuri, apalagi Singkil lama sempat porak poranda di hantam gempa bumi dan tsunami (geloro laut) pada tahun 1883 M.

Sederhana dengan satu kubah allumunium di puncak atapnya

Peristiwa ini terjadi berbarengan dengan meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda yang memporak porandakan segalanya. Dari itu kita hanya bisa berasumsi bahwa raja di Kerajaan Singkil telah mengadopsi sistem pemerintahan Islam sesuai perkembangan kala itu. Tentunya kenyataan ini meniscayakan dibangunnya sebuah masjid induk sebagai tempat beribadah dan kegiatan kemasyarakatan lainnya, baik yang bersifat keagamaan maupun agenda kerajaan.

Orang Singkil tidak patah arang menghadapi bencana, maka atas titah raja, secara berangsur-angsur penduduk Singkil hijrah ke daerah baru (Singkil sekarang/Pondok Barö). Di tempat yang baru ini mereka memulai kehidupan dengan moto: “Selagi esok matahari masih terbit kehidupan akan terus berlangsung”. Di pusat Kota Singkil ini (Singkil Baru), juga dibangun sebuah masjid dengan nama yang lama, Masjid Jamik Baiturrahim.

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Raya Singkil di halaman bangunan masjid yang lama

Pada tahun 1328 H/1909 M, atas gagasan Perkasa Raja Singkil, Datuk Abdurrauf bersama rakyat membangun masjid yang lebih besar, menggantikan masjid lama yang tidak memadai lagi menampung jamaah. Masjid tersebut dibangun di sebelah timur rumah datuk dengan konstruksi bangunan dari kayu kapur, rasak, meranti, beratap seng, dan lantai beton. Masjid ini telah menggunakan kubah sebagai bagiannya, untuk menopang kubah, ditengah masjid didirikan sebuah tiang beton.

Arsitektur masjid, dekorasi, serta ornamen interior dan eksterior dari bahan kayu, diukir relif dan kaligrafi berciri disain Timur Tengah dan Melayu Kuno. Bersamaan dengan pembangunan masjid dibangun pula sebuah sumur bor di perkarangan masjid untuk kebutuhan bersuci. Sampai saat ini sumur bor tersebut masih berfungsi dengan baik walau sudah berusia lebih dari 100 tahun.

Tiang tiang pancang pondasi bangunan masjid baru di halaman Masjid Raya Baiturrahim

Pada saat kepemimpinan Datuk Abdul Murad, putra Datuk Abdurrauf, kepengurusan Masjid Jamik Baiturrahim dipimpin oleh H. Abdul Malik (Imam Pulo Pinang) sebagai imam, dan H. Umar sebagai khatib. Pada tahun 1942, saat Kepala Nagari dijabat oleh Aminuddin Sagu, kepengurusan masjid ini dipimpin oleh Imam Abdullah dengan dibantu oleh Imam Ilyas. Adapun jabatan khatib masjid dijabat oleh Khatib Ahmad.

Di era kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Singkil telah mengalami beberapa kali perubahan status, mulai dari kewedanaan hingga kabupaten. Namun status dan fungsi Masjid Baiturrahim tidak pernah berubah. Masjid ini tetap berfungsi sebagai masjid pemerintahan yang sangat berjasa dalam melahirkan dan mengisi pembangunan di negeri yang diberi nama Aceh Singkil ini.

Pembangunan Masjid Baiturrahim

Pada tanggal 25 Maret 2006, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baiturrahim oleh Pj. Gubernur Aceh, Mustafa Abu Bakar, disaksikan oleh H. Ismail Saleh Lubis, selaku ketua panitia pembangunan masjid. Acara tersebut menandai dimulainya pembangunan masjid Baru yang lebih megah bagi Kabupaten Singkil dengan nama Masjid Raya Baiturrahim Singkil. Lokasi pembangunannya mengambil tempat di halaman depan bangunan masjid lama. Masjid megah yang kini berdiri di Aceh Singkil adalah bangunan masjid yang mulai dibangun tahun 2006 tersebut.***

Baca Juga