Sunday, December 24, 2017

Masjid Raya Rengat, Indragiri Hulu, Riau

Masjid Raya Rengat

Masjid Raya Rengat adalah masjid raya di kota kecamatan Rengat, kabupaten Indragiri Hulu, provinsi Riau. Masjid ini merupakan peninggalan dari Kesultanan Indragiri, pertama kai dibangun oleh Sultan Ibrahim berupa sebuah surau bersamaan dengan pembangunan Istana Kesultanan Indragiri di tahun 1786. Saat itu yang menjadi guru dan penyebar agama Kerajaan adalah Sayed Putih Al-Idrus.

Sultan Ibrahim adalah sultan Indragiri ke 18, beliau adalah putra dari Sultan Salehuddin Keramatsyah. Sultan Salehuddin merupakan sultan Kerajaan Indragiri yang ke- 16. Sebelum naik takhta, ia bemama Raja Hasan yang mulai berkuasa tahun 1735. Oleh karena Sultan Salehuddin dikenal seorang yang taat beragama, setelah meninggal oleh masyarakat dikeramatkan sehingga namanya menjadi Sultan Salehuddin Keramatsyah.

Masjid Raya Rengat
JL. Hang lekir, Kp. Besar Kota
Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu
Riau 29319 Indonesia


Ia mempunyai tiga orang anak. Anak tertua mendapat gelar Raja Kecik Besar Mambang yang kemudian naik tahta menjadi sultan Indragiri ke 17 sepeninggal ayahandanya, Putra kedua-nya bernama Raja Hasan yang kemudian menjadi Panglima Kerajaan pada saat Raja Kecik Mambang menjadi Raja.

Raja Kecik Besar Mambang menjadi sultan di Kerajaan Indragiri hanya beberapa tahun saja. Ia lebih senang menjadi penyebar agama Islam daripada menjadi raja, sehingga ia menyerahkan mahkota kerajaan kepada adiknya, Raja Ibrahim yang naik tahta menjadi Sultan Indragiri ke 18.

Sedangkan Raja Kecil Besar Mambang berdakwah menyebarkan Islam hingga ke Daik (sekarang masuk ke dalam wilayah provinsi Kepulauan Riau) hingga ahir hayatnya, Makam beliau berada di Masjid Bukit Cengkeh, beliau dikenal dengan gelar Sunan Inderagiri

Masjid Raya Rengat Sekarang dan Dulu

Sultan Ibrahim kemudian membangun istana di daerah Rengat yang kemudian dijadikan ibu kota Kerajaan Indragiri. Dan mendirikan surau disekitar tahun 1786. Pada tahun 1787, surau tersebut dirombak menjadi sebuah masjid. Setelah Sultan wafat, ia dimakamkan dalam masjid buatannya. Ketika Kerajaan Indragiri berhadapan dengan penjajah Belanda, masjid ini pun sering dijadikan tempat dalam menyusun kekuatan untuk mengusir Belanda.

Masjid yang berukuran 28 m x 27 m, mulanya terbuat dari kayu. Sejak berdiri sudah beberapa kali mengalami perombakan. Pada masa pemerintahan Sultan Indragiri ke 24 di tahun 1887 dilakukan penggantian seluruh papan kayu dengan batu. Kemudian pada masa pemerintahan Bupati Masnoer dilakukan pemugaran tahun 1970.

Masjid terakhir dipugar dan dipagar tahun 1990 sampai dengan bentuknya sekarang oleh Drs. H. R. Rifa`i Rahman, putra Rengat yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Provinsi Riau. Kemudian dibangun pula menara oleh Pemerintah Kabupaten Inderagiri Hulu.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga