Showing posts with label Masjid di Kalimantan. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Kalimantan. Show all posts

Saturday, April 26, 2025

Masjid Agung Al-Falah Mempawah

Masjid Agung AL-Falah Mempawah.
 
Masjid Agung Al-Falah adalah masjid agung di Kabupaten Mempawah provinsi Kalimantan Barat. Hadirnya Masjid Agung Al-Falah yang megah dan indah ini telah menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat Kabupaten Mempawah. Lokasi masjid ini berada di Jalan Raden Kusno, Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah.
 
Letaknya berada pada jalan utama di tengah Kota Mempawah sehingga setiap masyarakat akan melewatinya baik dari arah Kota Singkawang menuju Kota Pontianak ataupun sebaliknya.
 
Masjid Agung Al-Falah Mempawah
Jl. Raden Kusno No.84, Terusan, Kec. Mempawah Hilir
Kab. Mempawah, Kalimantan Barat 78912
 
 
Pembangunan barunya dimulai pada 24 Maret 2017 oleh Bupati Mempawah ketika itu, Ria Norsan, yang kemudian menjadi Wakil Gubernur Kalimantan Barat. Dan diresmikan penggunaannya pada hari Kamis 25 November 2021 oleh Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) sekaligus mantan wapres ke 8 dan ke 10, Dr. (H.C.) H. Muhammad Jusuf Kalla.
 
Peresmian masjid ini turut dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat dan juga ketua Dewan Masjid Indonesia Kalimantan Barat, Drs. Ria Norsan M.M., M.H (sebelumnya merupakan mantan Bupati Mempawah dua periode), dan Bupati Mempawah, H. Erlina S.H., M.H., Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono; dan Wakil Wali Kota Singkawang, H. Irwan mendampingi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI).
 
Interior Masjid Agung Al-Falah Mempawah.

Selain itu, acara peresmian juga dihadiri oleh da'i kondang asal Sulawesi Selatan, Ustaz Das'ad Latif, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Dakwah Dewan Masjid Indonesia;
 
Pembangunan Masjid Agung Al-Falah Mempawah
 
Masjid Agung Al-Falah yang kini berdiri dibangun dilokasi persis tempat dimana masjid agung sebelumnya berdiri, bangunan lama Masjid Agung Al-Falah telah dirobohkan karena kondisinya yang sudah tua. Pemkab Mempawah memutuskan untuk membangun baru masjid di atas tanah yang sama, dengan luas 48×48 meter persegi, sehingga bisa menampung 3.200 jemaah.
 
Masjid Agung Al-Falah Mempawah dulu & Kini.

Tinggi menara 41,6 meter, tinggi lantai pertama sekitar 4 meter, tinggi lantai kedua 8 meter, tinggi kubah utama 12 meter dan tinggi permukaan lantai dari lantai eksisting 1,2 meter. Selain itu, masjid juga dilengkapi dengan tempat wudhu yang refresentatif, halaman parkir yang luas, taman dan air mancur.
 
Konsep pembangunan Masjid Al-Falah, sejak awal sudah tampak memikat. Masjid ini juga difasilitasi dengan eskalator, dan juga sarana khusus untuk penyandang disabilitas.
 
Masjid Agung Al-Falah Mempawah dulu & kini.

Aktivitas Ramadhan
 
Aktivitas selama bulan suci Ramadhan di masjid ini cukup makmur dengan berbagai aktivitas dimulai dari ceramah Subuh dan kajian Dzuhur ini akan diisi oleh Ustadz-Ustadz yang ada di Kabupaten Mempawah.
 
Selain itu  di Masjid Agung Al-Falah akan turut dilaksanakan Itikaf 10 malam terakhir di bulan suci Ramadan. Selama bulan puasa, masjid juga menyelenggarakan buka puasa bersama bagi Jemaah yang hadir di masjid.***

Penandatanganan prasasti peresmian Masjid Agung Al-Falah Mempawah oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia Muhammad Jusuf Kalla pada 25 November 2021.
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga Artikel Masjid di Kalbar lainnya
 
 
Rujukan
 

Sunday, October 29, 2017

Masjid Agung Wahyu Al-Hadi Sampit – Kalimantan Tengah

Masjid Agung Wahyu Al-Hadi Sampit

Masjid Agung Wahyu Al-Hadi Sampit merupakan sebagai masjid terbesar di kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Sampit merupakan ibukota kabupaten Kota Waringin Timur (KOTIM) propinsi Kalimantan Tengah (KALTENG). Wilayah yang pernah tercabik cabik oleh pertikaian berbau SARA beberapa waktu lalu. Kini kota Sampit dan Kabupaten Kotim sedang menggeliat dalam proses percepatan pembangunan, salah satunya pembangunan Masjid Raya Islamic Center Sampit yang tidak saja menjadi pusat pengembangan Islam tapi bangunannya sendiri menjadi ikon baru bagi kota Sampit.

Lokasi Masjid Raya Sampit

Masjid Agung Wahyu Al-Hadi Sampit terletak di Jalan Sudirman KM 3.2 Sampit, Kabupaten Kota Waringin Timur, Propinsi Kalimantan Tengah. Lokasi Masjid agung ini berada di sekitar bundaran tugu peringatan tragedi tampit tahun 2000 silam. Tugu peringatan tragedi sampit di bundaran ini dibuat oleh suku Dayak dari kayu ulin yg diukir dan ditempatkan di tengah bundaran Jalan Jendral Sudirman yang menghubungkan Sampit Dengan Pangkalan Bun.

Masjid Agung Wahyu Al-Hadi Sampit
Jl. Jenderal Sudirman Km. 3.2, Mentawa Baru Hulu
Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur
Kalimantan Tengah 74312, Indonesia
Koordinat geografi 2° 32' 12.01" S  112° 54' 45.63" E



Pembangunan Masjid Agung Wahyu Al-Hadi Sampit

Pembangunan Masjid Raya ini diharapkan bisa menampung atau menjadi pusat pendidikan agama Islam bagi masyarakat Kotim. Karena sesuai program Masjid Agung Wahyu Al-Hadi Sampit sebagai wadah belajar bagi umat muslim di Kotim. Sebagaimana disampaikan oleh bupati Kotim Drs HM Wahyudi K Anwar.

Masjid Raya Sampit mulai dibangun pada tahun 2004 dimasa pemerintahan Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Kalimantan Tengah (Kalteng) Drs HM Wahyudi K Anwar. Dan diresmikan sendiri oleh beliau pada hari jumat 24 September 2010 di ahir masa jabatannya meskipun bangunan masjid ini belum selesai keseluruhan proses pembangunannanya.  Dalam acara peresmian Masjid Agung Wahyu Al-Hadi Sampit tersebut turut dimeriahkan oleh KH Zainudin MZ dan AA Gym serta penyanyi relegius Sulis.

Sampai tahun 2010 saat diresmikan proyek pembangunan masjid ini sudah menghabiskan dana sekitar 40 milyar rupiah. Dan masih membutuhkan dana tambahan lagi sekitar 8 milyar rupiah dari APBD Kotim tahun anggaran 2011 untuk menyelesaikan pembangunannya termasuk penambahan 2 tempat wudhu, pemasangan kusen jendela dan pintu yang di datangkan dari Jepara, Kaligrafi dan pengecatan. Proses tersebut mulai dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus dan selesai pada tangga 23 Desember 2011.

Referensi


Baca Juga


Saturday, October 21, 2017

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah Kuala Kapuas

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah Kabupaten Kapuas (foto dari IG @seputarmasjid)
Masjid Agung Al Mukarram Amanah merupakan masjid terbesar segaligus termegah di Kota Kapuas ibukota Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Terletak di jantung kota, tepatnya di Jalan Tambun Bungai, masjid ini dapat menampung hingga kurang lebih lima ribuan jemaah. Bangunan ini berarsitektur perpaduan gaya modern dan klasik, pada beberapa bagian bangunan dilengkapi  dengan interior dan aksesoris indah.

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah sudah berdiri sejak tahun 1990 diatas lahan seluas 25.554 meter persegi berstatus SHM dengan luas bangunan awal 300 meter persegi. Namun bangunan masjid megah yang kini berdiri merupakan hasil pembangunan tahun 2012.

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah
Jl. Tambun Bungai RT. 36 Kelurahan Selat Tengah
Kecamatan Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas
Kalimantan Tengah 73516



Lokasi masjid agung yang lama lokasinya berada di pelataran luas di depan bangunan Masjid agung saat ini, bangunan tersebut digunakan masyarakat muslim Kapuas sejak tahun 1990 hingga tahun 2012. Hingga awal tahun 2012 komplek masjid agung ini tampak sepasang masjid kembar karena bangunan masjid lama masih berdiri dan bangunan baru yang lebih besar sudah hampir selesai.

Menjelang bulan suci Romadhon 1433H/2012 Proses pembangunan masjid Al-Mukarram Amanah yang baru sudah mendekati penyelesaian dan sudah layak untuk digunakan, bangunan masjid yang lama di robohkan, dan di tahun 1433H/2012 untuk pertama kali ummat Islam Kapuas mulai menikmati sholat Tarawih hingga sholat Idul Fitri pertama di Masjid Agung yang baru tersebut. Pada hari Jum'at, 27 Juli 2012 masjid ini resmi digunakan untuk shalat Jum'at pertama di bulan Ramadhan 1433 H / 2012 M. 

Aktivitas Masjid Agung Al-Mukarram Amanah

Sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Al-Mukarram Amanah Kuala Kapuas ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di kabupaten tersebut termasuk menjadi pusat penyelenggaraan Sholat Idul Fitri dan Idul Adha yang dihadiri oleh para pejabat tingkat kabupaten hingga provinsi bersama dengan ribuan masyarakat muslim setempat.

Interior Masjid Agung Al-Mukarram Amanah Kapuas

Seperti yang dilaksanakan pada sholat Idul Fitri 1438H yang lalu yang jatuh pada tanggal 25 Juni 2017 dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Habib H Said Ismail Balghaits yang juga bertindak sebagai khatib, serta Kabag Kesra Pemda Kabupaten Kapuas, H Junaidi yang turut menyampaikan sambutan mewakili Bupati Kapuas.

Salah satu keunggulan masjid ini pada saat adzan waktu sholat berkumandang, suara adzannya disiarkan secara langsung via radio masjid Agung Al Mukarram Amanah Kapuas FM dengan frekuensi sendiri.

Masjid Berprestasi

Di tahun 2016 yang lalu Masjid Agung Al-Mukarram Amanah kabupaten Kapuas meraih prestasi predikat terbaik pertama dalam ajang lomba Masjid Percontohan Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Dan meraih juara kedua masjid percontohan untuk tingkat nasional.

Masjid Agung Al-Mukarram Amanah saat sedang dibangun, di latar depan adalah bangunan masjid Agung yang lama, kini sudah dirobohkan dan menjadi halaman depan dan kolam.

Hal tersebut tak lepas dari peran pemerintah Kabupaten Kapuas yang memberikan dukungan untuk pembangunan bidang keagamaan di Kabupaten Kapuas, kabupaten yang mempunyai motto sebagai kota AIR (Aman Indah Ramah) yang memiliki semboyan Tingang Menteng Pananjung Tarung (berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat).

Selain bangunannya yang megah dan berprestasi tingkat nasional, masjid ini juga tak pernah sepi Jemaah di setiap waktu sholat tiba, apalagi selama bulan suci romadhon yang Jemaah tarawihnya tetap padat hingga ke penghujung bulan suci. Sholat Tarawih di masjid ini dilaksanakan 11 roka’at.

Seperti masjid masjid lainnya, selama bulan suci Romadhon Masjid Agung Al-Mukarram Amanah ini juga menyelenggarakan acara berbuka puasa bersama, Salat Tarawih, tadarus Alquran, qiyamul lail pada malam ganjil, pesantren Ramadan dan kultum tarawih. Acara ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan puasa.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga

Sunday, April 16, 2017

Masjid Agung Al-Mu'awwanah Sanggau

Masjid Agung Al-Muawanah Kabupaten Sanggau setelah di renovasi.

Masjid Agung Al-Muawanah adalah masjid agung kabupaten Sanggau, Kalimantan Timur. Bangunan masjid yang kini berdiri merupakan hasil dari proses renovasi total terhadap bangunan masjid sebelumnya di lokasi yang sama. Proses renovasi masjid ini memawakan waktu sekitar tiga tahun, dimulai tahun 2013 dan hasilnya memang sangat membanggakan bagi muslim Kabupaten Sanggau.

Proses pembangunan masjid baru ini terbilang cukup unik karena dilaksanakan dengan “mengurung” bangunan masjid agung lama dengan struktur bangunan baru di sebelah luar dan tanpa menghentikan aktivtias rutin yang berjalan di masjid tersebut. Pada saat struktur bangunan baru telah terbentuk tampak sebuah pemandanganyang unik, bangunan masjid yang lama terkurung seluruhnya di dalam struktur bangunan yang baru.

Masjid Agung Al-Mu'awwanah Sanggau
Jl. H. Abbas, Tj. Sekayam, Kelurahan Ilir, Kec. Kapuas
Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat 78516


Bangunan baru Masjid Agung Al-Muawanah Sanggau ini dibangun dengan arsitektur masjid masjid modern dilengkapi dengan kubah besar dan bentuk menara yang tidak terlalu tinggi ditempatkan di ke empat sudut atapnya, warna cat kuning sebagai khas warna Melayu, mendominasi bangunan masjid ini. Total ada tujuh kubah di atap masjid ini terdiri dari satu kubah utama berdiamter 9 meter dan tinggi 11 meter, empat kubah dipasang di ke empat penjuru atap dan dua kubah lagi di tempatkan di atas beranda. Seluruh kubah masjid ini menggunakan bahan enamel di bagian luarnya. 

Ketika memasuki ruang utama masjid, akan terasa sekali suasana kekhusukan nan pastinya kemegahan masjid ini. Ruang Imam yang luas, berpadu dengan begitu indah dengan mimbar khotbah disampingnya menampilkan pemandangan syahdu. Enam tiang penyangga berbahan beton juga nampak kokoh dan indah dengan hiasan dekoratif. Begitu juga dengan lampu ruangan yang semakin menampakkan kemegahan, keindahan sekaligus kesejukan masjid ini.

Masjid Agung Al-Muawanah Sanggau saat di renovasi.

Dipenghujung tahun 2016 yang lalu tepatnya pada hari Jum’at 21 Oktober 2016 Masjid Agung Al-Muawanah Sanggau ini mendapatkan tamu kehormatan dengan kehadiran Syekh Ali Jaber untuk memberikan tausiah pada acara Tabligh Akbar di Masjid tersebut. Kedatangan beliau begitu dinanti oleh warga muslim Sanggau dan tak pelak, masjid agung yang masih gress ini tumpek plek oleh Jemaah yang dating dari berbagai penjuru, untuk menghadiri acara tersebut dan untuk berjumpa dan melihat langsung Syekh Ali Jaber.

pada peristiwa langka Gerhana Matahari Total yang terjadi pada hari rabu 9 maret 2016 yang lalu, masjid Agung Al-Muawanah Sanggau ini menjadi salah satu tempat di Indonesia yang menjadi tempat penyelenggaraan sholat kusuf atau sholat gerhana. Meski telah diperluas dan ditambahkan area lantai dua, nyatanya masjid ini masih tak mampu menampung seluruh Jemaah yang hadir di ruang dalamnya. ***.

Sumber Dana Pembangunan

Kelancaran proses renovasi masjid Agung Al Muawanah tidak terlepas dari partisipasi seluruh masyarakat kabupaten Sanggau maupun unsur pemerintah. Pemerintah Kabupaten Sanggau tercatat sudah 3 kali mengucurkan dana APBD untuk pembangunan masjid ini. Begitu juga dengan para PNS di Kabupaten Sanggau juga telah memberikan infaq dari penghasilan yang diterima. Belum lagi para donatur yang beramal baik secara terang-terangan ataupun tidak mau disebutkan namanya turut memberikan kontribusi untuk kelancaran pembangunan masjid.

Interior Masjid Agung Al-Muawanah Sanggau

Referensi



Saturday, April 15, 2017

Masjid Jami’ Nanga Pinoh, Tertua di Melawi

Masjid Jami' Nanga Pinoh saat ini, masih bertahan dengan bentuk setelah rehab tahun 1938 dan 1972

Masjid Jami’ Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, berusia lebih dari satu abad. Masjid ini adalah masjid tertua di kabupaten Melawi. Dari segi sejarah, Masjid Jami’ merupakan salah satu situs sejarah penting yang ada di Melawi mengingat letaknya dan sejarahnya terkait dengan kedemangan (perwakilan kerajaan) Sintang di masa lalu. Kampung Liang tempat masjid ini berada juga terdapat sejumlah situs sejarah Taman Makan Pahlawan Raden Tumenggung Setia Pahlawan, seorang tokoh pahlawan nasional asli Melawi.

Dari tahun pembangunannya, Masjid Jami’ Nanga Pinoh ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Melawi. Peranannya sebagai pusat kegiatan dan peradaban Islam bertahan hingga hari ini. Mesjid Jami’ Nanga Pinoh yang terletak di Kampung Liang, Desa Tekelak Kecamatan Pinoh Utara dulunya merupakan pusat pengembangan Islam di kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Untuk mencapai Masjid Nanga Pinoh ini dari Kota Nanga Pinoh harus menyeberang menggunakan jasa penyeberangan perahu, yang biasa dimanfaatkan warga setempat.

Mesjid Jami’ Nanga Pinoh
Kampung Liang, Desa Tekelak Kec. Pinoh Utara
Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Indonesia.


Sejarah Masjd Jami’ Nanga Pinoh

Sesuai dengan dokumen dan cerita para pemuka-pemuka agama saat itu, Masjid Jami’ ini dibangun pertama kali di Kampung Liang tahun 1888, dan letaknya di Kampung (dusun) Liang, Desa Tekelak (saat ini masuk kecamatan Pinoh Utara), bukan di lokasinya saat ini. Bentuk Mesjid Jami’ pada awalnya (sebelum dipindahkan ke lokasi Mesjid yang baru sekarang). Masih menggunakan satu menara kubah yang terletak di depan pintu masuk Masjid Jami’

Masjid Jami’ tersebut mengalami tiga kali perpindahan lokasi. Kurang lebih setelah 50 tahun dibangun, kondisi masjid tersebut mengalami rusak berat dan kondisinya sudah tidak dapat diperbaiki kembali. Selain itu, lokasi masjid sudah semakin sempit karena perumahan masyarakat yang semakin padat dan tidak tertata.

Maka sesuai dengan mufakat para tetua dan pemuka agama, pada tahun 1938, Masjid Jami’ ini direhab total dan lokasinya dipindahkan sejauh kira-kira 500 meter dari posisi semula ke arah hulu Sungai Melawi. Posisi lokasi Masjid Jami’ tersebut, berada diantara perbatasan Kampung Liang dan Kampung Tekelak, lokasinya juga berada dipertigaan Sungai Melawi dan Sungai Pinoh, di tanah milik kerajaan dengan bentuk yang sama (posisinya di depan kantor Desa Tekelak).

Setelah itu, di tahun 1972 atau 34 tahun setelah pembangunan Masjid Jami’ di tanah kerajaan, Masjid Jami’ kembali direhab karena banyak bagian masjid yang mengalami rusak parah. Bagian pondasi bawah dan tiang-tiang mesjid sudah tidak dapat difungsikan kembali sehingga pemuka agama dan tokoh masyarakat yang dipimpin oleh H Aspar SE yang saat itu menjabat sebagai Kepala BPD Cabang Kalbar (bank Kalbar saat ini, red) wilayah Nanga Pinoh mengadakan mufakat untuk merehab kembali masjid tersebut.

Begini bentuk Masjid Jami' Nanga Pinoh sebelum tahun 1938, dan sebelum dipindahkan ke lokasi saat ini.

Rehab total yang dilakukan pada tahun 1972 akhirnya merubah bentuk Masjid Jami’ sekitar 50 persen dari bentuk semula. Lantai Mesjid terbuat dari beton di atas tanah dan Masjid Jami’ ini mengalami pergeseran 10 meter dari posisi semula. Di tahun 1993, Masjid Jami’ mendapatkan bantuan dari masyarakat, berupa bahan triplek, paku, kayu dan semen, dimana kayu dan triplek dipergunakan sebagai dek masjid serta merehab menara kubah masjid. Sedangkan bahan material seperti semen, dipergunakan masyarakat untuk membangun jalan dari pintu gerbang ke masjid, lantai luar, pintu gerbang serta pagar masjid. Sejak tahun 1972 posisi Masjid Jami’ tidak lagi mengalami perubahan serta sudah berkali-kali diperbaiki.

Tak banyak peninggalan sejarah yang tersisa dari bangunan masjid saat ini. Namun ada dua peninggalan bukti keberadaan masjid tertua di Melawi tersebut, yang masih dapat dijumpai. Pertama yakni mimbar khatib dan bedug. Secara kasat mata mimbar khatib masih kokoh. Mimbar masih difungsikan bagi khatib pada pelaksanaan salat Jumat. Tak banyak perubahan dari mimbar khatib tersebut, namun dahulunya dilengkapi anak tangga, sehingga agak lebih tinggi dari sekarang. Usianya sudah lebih dari 100 tahun. Sementara itu, bedug masjid juga masih dapat dijumpai di halaman masjid. Uniknya  tidak seperti bentuk beduk pada umumnya, namun beduk Masjid Jami bentuknya memanjang, menyerupai sebatang kayu, yang dijadikan bedug.

Aktivitas Masjid Jami’ Nanga Pinoh

Masjid ini sendiri, menjadi pusat kegiatan umat Islam yang ada di kabupaten Melawi. Di masa lalu, saat daerah lain belum memiliki mesjid, banyak masyarakat dari daerah lain seperti Tanjung Lay, Tanjung Paoh, Kebebu yang berada di daerah hulu sungai Melawi melaksanakan shalat Jumat di Masjid Jami’ ini, karena memang Masjid Jami’ ini masih merupakan masjid satu-satunya di Melawi. Mereka turun dengan cara mendayung sampan, sehingga saat shalat Jumat, di depan dermaga, banyak  sampan  yang berjejer.

Pada masa itu seluruh aktivitas kegiatan Islam di Melawi dipusatkan di Masjid Jami’ ini. Bahkan kelompok-kelompok tarbiyah berdatangan dari daerah di luar Melawi hingga dari semenanjung pulau Sumatera ke masjid tersebut. Saat ini, aktivitas masjid tersebut sama halnya dengan masjid lainnya yang berada di Melawi.

Apalagi di bulan Ramadani, Masjid Jami’ selalu dipadati dengan masyarakat yang melaksanakan shalat tarawih dan tadarusan. Selain ibadah shalat berjamaah dan shalat Jumat, juga ada pengajian dan majelis taklim. Dan saat ini juga TPA bagi anak-anak di sekitar Desa Tekelak juga sudah diaktifkan kembali.***

Referensi




Saturday, November 26, 2016

Masjid Terapung Oesman Al Khair Kayong Utara

Terapung. Masjid AGung Osman Al-Khair atau Masjid Kebaikan Oesman terlihat seakan akan mengapung di atas air laut di lepas pantai Sukadana kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Tak salah bila masjid satu ini telah menjadi objek wisata baru di kabupaten Kayong Utara sejak diresmikan. Tidak sekedar bangunannya yang memang menawan dipandang mata namun juga pemilihan lokasi tempatnya dibangun membuatnya memang menghadirkan keindahan yang tak ditemukan disemua bangunan masjid. Sebagian besar bangunan masjid berwarna putih itu dibangun di atas air laut, sehingga bangunan tampak melayang di atas air jika dilihat dari kejauhan. Tak pelak keindahan tersebut menjadikan masjid ini sebagai ikon baru Kayong Utara dan merupakan salah satu masjid termegah di Provinsi Kalimantan Barat.

Masjid Agung Oesman Al-Khoir nama masid ini, dibangun oleh di atas lahan wakaf dari Bpk Oesman Sapta Odang (Wakil Ketua MPR RI). Pembangunanya menghabiskan dana senilai Rp. 38 Miliar yang berasal dari dana patungan dari Oesman Sapta Odang sebesar Rp. 11 Milyar, dana corporate social responsibility (CSR) delapan BUMN sebesar Rp. 12 Milyar dan anggaran Pemerintah Kabupaten Kayong Utara dan swadaya masayarakat kayong Utara.

Masjid Agung Oesman Al-Khoir
Pulau Datok, Desa Sutera, Kecamatan Sukadana
Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat
Indonesia.


Pembangunan masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada Idhul Adha, Bulan Oktober 2012 yang juga turut dihadiri oleh Oesman Sapta Odang. Proses pembangunannya memakan waktu selama 3 tahun 7 bulan dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 15 Oktober 2016, ditandai dengan penandatangan prasasti. “Ini merupakan masjid terapung yang indah dan megah dengan latar belakang laut," demikian puji Presiden Jokowi saat peresmian.

Masjid Oesman Al-Khoir berukuran 50 x 50 meter dan mampu menampung hingga 3000 jemaah sholat sekaligus, sedangkan untuk acara tabligh akbar dapat menampung hingga 5000 jemaah sekaligus. Dibangun dengan gaya arsitektur yang unik, mengikuti desain arsitektur masjid di Arab Saudi. Namun, lebih spesifik interior dan eksteriornya, mengikuti masjid-masjid di Maroko. Sedangkan kaligrafi yang menghiasai interior masjid didesain oleh imam Masjid Agung Yogyakarta. Untuk membuatnya “mengapung” di atas air laut, tiang tiang pancang masjid ini ditancapkan hingga sedalam 23 meter.

Senja jatuh di Masjid Oesman

Tentang nama masjid ini, sebagaimana dijelaskan oleh Bupati Kayong Utara Hildi Hamid pemilihan nama “Masjid Oesman Al-Khoir” untuk masjid ini memang merujuk kepada nama dari Oesman Sapta Odang yang telah “berbaik” hati menghibahkan lahan untuk pembangunan masjid ini serta memberi bantuan dana pembangunan.

Keindahan Berbalut Makna

Makna Islami dan adaptasi budaya lokal, terakulturasi dalam arsitektur masjid ini. Masjid ini memiliki sembilan kubah. Ada satu kubah besar. Kubah ini menandakan Kubah Rasullulah. Ada kubah berjumlah empat. Maknanya, menandakan keempat Sahabat Rasul. Yaitu, Abubakar, Umar, Usman dan Ali. Empat kubah itu dikelilingi empat kubah lagi. Empat kubah ini menandakan empat mahzab. Yakni, Mahzab Hambali, Hanafi, Maliki dan Syafii. Total kubah berjumlah sembilan tersebut, melambangkan Wali Songo, penyebar agama Islam di Indonesia.


Presiden Joko Widodo saat peresmian Masjid Oesman Al-Khair di dampingi oleh Oesman Sapta Odang (sebelah kanan foto)

Filosofi lain, masjid ini terapung di laut. Hal itu menyiratkan makna, asal usul masyarakat Kayong Utara merupakan masyarakat pelaut. Masyarakat nelayan. Masyarakat bahari yang menjunjung tinggi filosofi kebahariannya. Artinya, suka dengan tantangan dan mendambakan kemajuan. 

Dan faktanya Peresmian Masjid Agung Kayong Utara oleh Presiden Joko Widodo juga merupakan bagian dari kunjungan beliau meresmikan Festival Bahari bertajuk “Festival Sail Selat Karimata” yang dipusatikan di Pantai Laut Datok, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Festival Sail ini adalah acara tahunan yang menjadi primadona bagi para anak muda pecinta traveling, dunia bahari, dan kegiatan sosial. ***

Saturday, September 24, 2016

Mesjid Raya Husnul Khatimah Kotabaru Kalimantan Selatan

Masjid Raya Husnul Khatimah

Masjid Raya Husnul Khatimah merupakan masjid raya di kabupaten Kotabaru, provinsi Kalimantan Tengah. Masjid dengan arsitektur masjid Nusantara beratap limas ini pertama kali dibangun dimasa Kotabaru dipimpin oleh H.M.R Husein selaku Bupati Kotabaru ke 9 yang menjabat pada periode 1985-1990. Sebagai masjid Raya Kabupaten Masjid Husnul Khatimah menjadi pusat aktivitas ke Islaman di Kabupaten Kotabaru, termasuk juga untuk aktivitas pelepasan dan penyambutan Jemaah Haji yang berasal dari Kabupaten Kota Baru.

Masjid Raya Husnul Khotimah
JL. Suryagandamana, Kelurahan Sebatung
Kecamatan Pulau Laut Utara, Kabupaten Kota Baru
Kalimantan Selatan 72111



Masjid Raya Husnul Khatimah ini dibangun dengan arsitektural sangat Indonesia, berupa bangunan Masjid beratap limas bersusun tiga. Struktur atapnya di topang dengan empat sokoguru yang berdiri ditengah tengah ruang utama masjid. Tidak hanya itu saja, bagian interior masjid ini juga di dominasi dengan bahan dari kayu termasuk tiang dan plaforn nya, menghadirkan nuansa yang sangat Indonesia di dalam masjid ini, susana yang tidak akan kita temukan di masjid masjid moderen. 

Saat ini, dibawah kepemimpinan Bupati H.Sayed Jafar,SH dan Wakil Bupati Ir.Burhanuddin, Masjid Raya Husnul Khatimah ini rencananya akan dibangun lebih besar, lebih bagus dan lebih indah dengan desain yang modern. Sebagaimana disampaikan oleh Bupati Sholat Isya berjamah di Masjid Raya Husnul Khatimah, Sabtu 21 Mei 2016. Sebuah panitia dari Institut 10 Nopember Surabaya dilibatkan dalam pembuatan Sketsa Proposal awal dalam pembangunan Masjid Raya Husnul Khatimah ini.

Interior Masjid Raya Husnul Khatimah

Aktivitas remaja masjid, Masjid Agung Husnul Khatimah ini diwadahi oleh organisasi yang disebut Pemuda Remaja Islam Masjid Agung Husnul Khatimah disingkat menjadi PRIMA HUSNUL KHATIMAH, yang di prakarsai oleh bapak MUKARRAM sebagai pelopor / penggagas Prima Husnul Khatimah ini Prima lahir pada tahun 1987.

Prima Husnul Khatimah sudah beberapa kali mengadakan kegiatan yang bersiafat sosial pada umumnya dan keagamaa khususnya. Aktivitas Remaja Masjid ini cukup aktif, salah satunya turut aktif di dunia maya dengan mempublikasikan aktivitas mereka di sebuah blog khusus di internet di alamat primaktb.wordpress.com. ***

-----------------

Baca Juga


Sunday, September 18, 2016

Mesjid Agung Riyadhus Shalihin Barabai

Taman Orang Orang Sholeh. Masjid Riyadus Sholihin Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. bila di Indonesiakan Riyadussholihin bermakna sebagai Taman Orang Orang Shaleh. sebuah nama yang indah tentu saja.

Masjid Agung Riyadhus Shalihin merupakan masjid agung bagi kabupaten Hulu Sungai Tengah, provinsi Kalimantan Selatan yang berada di Kecamatan Barabai selaku ibukota kabupaten. Itu sebabnya masjid ini juga seringkali disebut sebagai masjid agung Barabai. Masjid Agung Riyadussholihin Barabai ini pertama kali dibangun tahun 1966 berawal dari sebuah bangunan yang sangat sederhana namun secara bertahap dengan kekompakan muslim setempat Masjid Agung Riyadussholihin Barabai kini tampil megah di tengah kota Barabai.

Alamat Masjid Agung Riyadus Shalihin
Jl. H. Damanhuri Kelurahan Barabai Utara
Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Kalimantan Selatan 71315


Masjid ini sudah mendapatkan nomor ID dari Simas Kemenag dengan nomor ID 01.2.22.07.06.000001. Dengan luas bangunan 6400 meter persegi mampu menampung hingga 10 ribu Jemaah sekaligus. Masjid Agung Riadhus Shalihin adalah masjid terbesar yang berada di kota Barabai dan merupakan salah satu wisata religius kebanggaan warga Barabai.

Pembangunan Masjid Agung didasarkan dari niat Amirmachmud sewaktu menjadi Panglima Kodam X Lambung Mangkurat, dalam satu kesempatan kunjungannya ke Barabai, ia berniat mendirikan sebuah masjid dengan membeli sebidang tanah dengan harga Rp 1 Juta yang kemudian diwakafkan kepada Panitia Pembangunan Masjid. Niat untuk membangun Masjid dari Amirmachmud mendapat tanggapan positif dari banyak pihak.

Sealanjutnya Tuan Guru KH. Muhammad As’ad bin Haji Muhammad Yusuf (Ulama Muhaditsin) beserta tokoh masyarakat Hulu Sungai Tengah berinisiatif dan sepakat membentuk Panitia Pembangunan Masjid dngan susunan sebagai berikut :

Ketua Umum  : KH. Muhammad As’ad bin Haji Yusuf
Ketua I            : KH. Abdul Hamid Karim
Ketua II           : KH. Muhammad Dahlan ( Qadhi )
Sekretaris        : Haji Bihdar Rasyidi ( Sekda Hulu Sungai Tengah )
Bendahara       : H. Abdurrahman ( Komisaris Polisi )

Dalam pemufakatan diputuskan lokasi pembangunan Masjid “Riadhussalihin“ dipilih di tengah Kota Barabai dan semenjak itulah mengalir sumbangan warga masyarakat atara lain: Menerima subangan wakaf masyarakat sekitar berupa sawah guna perluasan lokasi, Menerima wakaf berupa uang dan bahan bangunan, Melaksanakan gotong royong selama berbulanbulan untuk mengambil bahan bangunan seperti pasir, tanah dan lainnya.

Interior Masjid Agung Riyadussholihin Barabai

besarnya keinginan masyarakat Kota Barabai untuk memiliki Masjid yang besar dan monumental di awali dengan sebuah bangunan darurat bertiang bambu, di atas hamparan pasir dan beratapkan daun rumbia pada awal tahun 1977 dimulailah shalat jum’at pertamakali di masjid tersebut yang bertindak sebagai Khatib Tuan Guru Haji Hasan Ahmad, imam Haji Djazuli dan Muazin oleh Haji Samsuni Shaleh.

Lokasi tanah Masjid Agung Riadhussalihin Barabai Sangat mendukung Untuk Pengembangan Masjid ke depan seperti penataan pekarangan, taman dan bangunan lainnya. Tanah Komplek Masjid ini sudah memiliki sertifikat resmi dengan Sertifikat Tanah Bukti Pemegang Hak Pakai Nomor 1 Tahun 1978 dengan gambar Sertifikat Nomor 148 1978 Kantor Agraria Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Berbagai pertimbangan Teknis dan adanya perhatian Pemerinta Kabupaten Hulu Sungai Tengah khususnya dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Masjid ini telah mengalami beberapa renovasi. Bantuan untuk pembangunan mengalir dari para donatur baik dari warga sekitar hingga luar daerah bahkan dari Presiden RI, Kementerian Agama RI dan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang mengalokasikan dana khusus untuk rampungnya pembangunan Masjid Agung.

Bantuan yang pernah diterima tahun 2000 sebanyak Rp. 2 Milyar, kemudian tahun 2005 sebanyak Rp. 3,8 Milyar dan tahun 2010 sebanyak Rp. 6,9 Milyar. Seiring waktu pembangunan Masjid Agung terus mengalami perubahan dan perbaikan, dari desain lama ke desain baru sehingga bangunan masjid sudah berlantai dua, megah dan indah. Perubahan juga terjadi bentuk depan masjid dan halaman depan masjid yang luas makin cantik dipadu ragam tanaman penghijauan dan penerangan lampu di setiap sudutnya.***

-----------------

Baca Juga


Saturday, September 17, 2016

Masjid Agung Nurussalam Tanah Bumbu

Artistik. Tampilan Masjid Agung Nurussalam di komplek perkantoran Pemkab Tanah Bumbu ini memiliki rancangan yang artistik dan tak biasa. 

Kabupaten Tanah Bumbu adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Sebelumnya kabupaten ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Kotabaru. Ibukota kabupaten terletak di Kelurahan Kelurahan Gunung Tinggi (dulunya bernama Desa Pondok Butun) kecamatan Batu Licin. Sedangkan sentra kegiatan usaha dan ekonomi berada di kecamatan Simpang Empat, yang dulunya juga merupakan bagian dari Kecamatan Batulicin. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 5.066,96 km² dan jumlah penduduk sebanyak 267.913 jiwa (Sensus 2010).

Pemekaran Kabupaten Tanah Bumbu dari kabupaten Kotabaru ditetapkan berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2003 tanggal 8 April 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan di Provinsi Kalimantan Selatan. Berdasarkan undang-undang tersebut, Kabupaten Tanah Bumbu selalu merayakan hari jadinya pada tanggal 8 April setiap tahunnya. Nama historis yang pernah digunakan untuk menyebut daerah kabupaten ini adalah Tanah Koesan – 1879 dan Tanah Bumbu Selatan.


7 Tahun setelah dibentuknya kabupaten Tanah Bumbu, di Batu Licin telah dibangun Masjid Agung kabupaten yang berada di dalam komplek pemerintahan Kabupaten Tanah Bumbu, di Kawasan Gunung Tinggi, Batu Licin. Masjid yang diberi nama Masjid Agung Nurussalam, diresmikan pada tanggal 25 April 2010 dengan luas keseluruhan mencapai 10.000 meter persegi berdaya tamping mencapai 10 ribu Jemaah.

Arsitektur Masjid Agung Nurussalam

Masjid tampak megah dengan bentuknya yang unik, kubah besar, serta dominasi warna biru cerah yang mencorong. Bentuk dasar bangunannya bulat, berbeda dengan kebanyakan masjid dan bangunan lain di Indonesia yang biasanya persegi. Di bagian luar, bentuk bundar masjid dihiasi bukaan yang menerobos masuk ke ruang utama masjid. Atap masjid yang berbentuk oval melancip bertingkat dua sekilas mirip bentuk atap depan Teater Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah dan Sidney Opera House.

Interior Masjid Agung Nurussalam Tanah Bumbu

Bukaan jendela dipisahkan menjadi empat sisi yang dibatasi oleh empat menara dinding dengan kubah kecil di atasnya membentuk empat sudut pada tubuh bangunan, sehingga terdapat pola empat sisi bukaan lancip. Pola ini sangat padu dengan kubah besar yang juga bulat dengan warna cerah senada. Bentuk bundar juga berpengaruh pada bagian dalam ruang masjid. Ruang utama ibadah terlihat berbeda dari ruang utama masjid pada umumnya. Ruang utama tampil lapang dan minimalis dengan dominasi putih dan jendela terawang yang mengelilingi ruang. Jendela terawang ini sekaligus berfungsi sebagai dinding.

Di lantai dua yang juga melingkar membentuk mezzanine, aksen jendela terawang diberi elemen hias kaca patri di bagian tengah. Pada siang hari, kaca tersebut akan merefleksikan cahaya alami matahari dari luar sehingga membentuk sorot cahaya yang eksotis. Secara keseluruhan, konsep dinding dengan model jendela terawang ini juga membuat pencahayaan dari luar bebas menerobos masuk. Dapat dikatakan, bangunan ini sedikit banyaknya telah menerapkan konsep bangunan hemat energi.***

---------------

Baca Juga