Showing posts with label masjid cheng ho. Show all posts
Showing posts with label masjid cheng ho. Show all posts

Saturday, June 1, 2019

Masjid Muhammad Cheng Ho Purbalingga


Pertama kali Rosulullah S.A.W membangun masjid, hanya menggunakan material bangunan dari pohon kurma, pelepah dan daunnya, bangunan masjid yang teramat sederhana sebagai tempat berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah dan pusat ke-Islaman. Masjid yang kini berubah menjadi Mega Masjid dikebal dengan Masjid Nabawi. Di kemudian hari bangunan bangunan masjid bertebaran di muka bumi dibangun dengan beragam bentuk sesuai dengan adat dan tradisi muslim setempat. Masjid dengan Gaya Tiongkok yang mirip Kelenteng seperti Masjid di Purbalingga ini  menambah khazanah perbendaharaan rancangan masjid masjid di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Kabupaten Purbalingga provinsi Jawa Tengah. Salah satu kabupaten yang di anugerahi keindahan panorama alam gunung Slamet. Di kota ini sudah bermukim beberapa generasi etnis Thionghoa yang sudah menjadi bagian dari masyarakat disana, dalam keseharianpun mereka fasih berbahasa Jawa.

Sejak tahun 2011 yang lalu Purbalinga memiliki satu masjid unik yang dibangun oleh Muslim Thionghoa disana. Masjid dengan bentuk mirip Klenteng yang sangat khas. Menambah khasanah bangunan masjid serupa yang telah ada di tanah air, dan tentu saja menambah khasanah kekayaan arsitektur Masjid di Nusantara tercinta.

Masjid Muhammad Cheng Ho Purbalingga
Desa Selaganggeng Kecamatan Mrebet
Kabupaten Purbalingga, provinsi Jawa Tengah
Indonesia



Di beberapa kota di Indonesia yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Laksamana Cheng Ho sudah berdiri masjid serupa dengan nama yang sama, yakni di kota Palembang ibukota provinsi Sumatera Selatan, di Kota Jambi provinsi  Jambi, Pasururuan dan Kota Surabaya provinsi Jawa Timur dan di Kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan.

Selain dari masjid masjid tersebut, di Indonesia juga sudah berdiri masjid masjid dengan arsitektur mirip kelenteng namun tidak dengan nama Cheng Ho, diantaranya adalah Masjid Latze Pasar Baru Jakarta, masjid Lautze-2 di kota Bandung provinsi Jawa Barat, Masjid Tan Kok Liong di dalam komplek pesantren Ustadz Anton Medan di Cibinong provinsi Jawa Barat, dan Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.

Kesemua masjid yang bergaya bangunan tradisional Tiongkok tersebut tidak lantas berarti hanya boleh dipakai dan digunakan oleh Muslim Tionghoa saja. Tapi sebagaimana fungsi masjid, keseluruhan masjid tersebut dibangun untuk digunakan oleh seluruh kaum muslimin tanpa memandang suku, bangsa, ras, wana kulit, golongan dan lain sebagainya, sama halnya dengan Masjid Cheng Ho Purbalingga ini.

Megah dengan gaya kelenteng.
Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini mulai dibangun tahun 2005 sempat terhenti di tahun 2006 karena berbagai kendala, dan diresmikan enam tahun kemudian tepatnya tanggal 5 Juli 2011 bertepatan dengan 3 Sya’ban 1432H oleh H.A Zaky Arslan Djunaid selaku Ketua Umum Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) JASA

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai wadah kegiatan ke-Islaman dan dakwah bagi masyarakat muslimTionghoa terutama para mualaf di daerah Purbalingga. Muslim Thionghoa di Purbalingga ada sekitar 130-an orang mereka tersebar di 18 kecamatan, berdirinya masjid ini diharapkan bisa lebih memajukan Purbalingga khususnya dibidang dakwah Islam.

Sekilas tentang Laksamana Cheng Ho

Haji Muhammad Cheng Ho (1371-1435) memiliki berbagai varian nama diantaranya Ma He, Ma San Bao, Sam Po Bo atau Haji Mahmud Shams adalah seorang Laksamana Muslim dari kekaisaran ketiga Dinasti Ming. Beliau berasal dari suku Hui yang secara fisik mirip dengan suku Han, sempat ditangkap saat pasukan Dinasti Ming menaklukkan Yunan.

Masjid Muhammad Cheng Ho Purbalingga ini bukan satu satunya masjid dengan gaya bangunan Kelenteng, Masjid yang serupa juga sudah tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia.
Cheng Ho kemudian menjadi Laksamana armada angkatan laut dinasti Ming yang melegenda dengan perjalanan keliling dunia yang dilakukannya ke berbagai pelabuhan laut di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan hingga ke Afrika Timur dari tahun 1405 hingga tahun 1433. Dunia Internasional kini bahkan telah mengakui beliau sebagai pengeliling dunia pertama jauh sebelum para penjelajah Eropa manapun.

Perjalanannya ke berbagai kepulauan Nusantara meninggalkan jejak yang masih bisa ditemui hingga kini. Sebagai salah satu contoh, rekam jejaknya di wilayah barat pulau Jawa menjadi pembuka jalan bagi dakwah Islam di wilayah kerajaan Pajajaran. Disetiap perjalanannya Laksamana Cheng Ho selalu membawa mubaligh bagi para anggota ekspedisinya yang beragama Islam. Salah seorang mubaligh yang menyertai ekspedisinya bernama Syekh Hasanudin, dalam pelayaran pertama-nya ke Nusantara, Syech hasanuddin sempat singgah di wilayah Cirebon.

Dalam pelayaran keduanya ke Nusantara, Syech Hasanudin dan rombongan mendarat di wilayah (yang kini dikenal sebagai) kabupaten Karawang di provinsi Jawa Barat yang pada saat itu masih menjadi wilayah Kerajaan Pajajaran. Syech Hasanudin bersama dengan Syech Bentong kemudian mendirikan pesantren yang dikenal dengan nama Pondok Quro dan Syech Hasanuddin dikenal dengan nama Syech Quro karena ke-mahiran-nya melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Dari pondok Quro itulah Islam kemudian menyebar ke wilayah Pajajaran dengan menikahnya Pangeran Jaya Dewata putra Mahkota Kerajaan Pajajaran dengan Subang Larang, salah satu santriwati dari Syech Quro.

Lapazd ALLAH di langit langit ruang utama masjid.
Bermula dari sana di kemudian hari berdirilah Kesultanan Cirebon melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, tak lama setelah berdirinya Kesultanan Demak dengan dukungan dari para Wali. Pendiri dan Sultan Pertama di Kesultanan Cirobon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang tak lain adalah cucu kandung dari Pangeran Jaya Dewata yang saat itu sudah menjadi Mahajara di Kerajaan Pajajaran dengan gelar Sri Baduga Maharaja yang dikenal juga dengan nama Pangeran Pamanah Rasa atau lebih dikenal oleh rakyatnya dengan sebutan Prabu Siliwangi.

Meski di wilayah Jawa Barat masyarakat nya lebih mengenal Syech Quro daripada Laksamana Cheng Ho sebagai tokoh pembawa Islam di wilayah tersebut namun tidak dapat dipungkiri besarnya peranan Sang Laksamana dalam mengantarkan Islam ke wilayah Jawa Barat khususnya dan Nusantara pada umumnya.

Maka wajar bila kemudian di berbagai tempat di Indonesia masyarakat muslim menghormati beliau dengan cara mengabadikan namanya sebagai nama bangunan masjid masjid yang juga dibangun dengan bentuk bangunan tradisional yang biasa ditemui di daerah asal beliau yang kini menjadi bagian dari wilayah Negara Republik Rakyat China.

Referensi


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga




Sunday, June 19, 2016

Masjid Cheng Hoo Jember

Balutan warna merah membalur hampir seluruh dinding bangunan Masjid ini seperti kebanyakan masjid bergaya Thionghoa lain nya yang ada di Indonesia. 

Masjid Cheng Ho Jember ini berada di Kelurahan Sempusari Kecamatan Kaliwates, Kota Jember, diresmikan, Minggu 13 September 2015 setelah tiga tahun pembangunan. Masjid ini menjadi Masjid Cheng Hoo kedelapan di Indonesia setelah Surabaya, Palembang, Pandaan, Purbalingga, Gowa, Samarinda dan Batam.. Keberadaan masjid itu selain untuk meningkatkan syiar Islam juga dapat menambah satu destinasi wisata lagi di Jember. Lokasi Masjid ini berada dibelakang kantor Kelurahan Sempusari, dan tak jauh dari pusat peebelanjaan Carrefour Jember.

Masjid Cheng Hoo Jember
Jl Hayam Wuruk, Kelurahan Sempusari
Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember
Propinsi Jawa Timur, Indonesia


Peresmian masjid itu dilakukan oleh Bupati Jember, MZA Djalal dihadiri oleh Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya Yu Hong, Dewan Penasehat Yayasan Haji MCheng Hoo Indonesia Bambang Sujanto, Ketua MUI Jember Prof Abdul Halim Subahar.

Menurut Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jember, H Muhamamad Laow Song Tjai selaku Ketua Pembangunan Masjid Cheng Hoo Jember pada saat diresmikan pembangunan masjid itu masih 95 persen. Namun sudah bisa dipergunakan oleh masyarakat Jember.

Masih menurut H Muhamamad Laow Song Tjai yang juga takmir Masjid Cheng Ho Jember ini, Masjid tersebut dibangun di atas tanah wakaf dari Pemerintah Kabupaten Jember. Beliau pun sangat berharap adanya pembinaan dari ulama untuk eksistensi syiar agama Islam, Sebab, masjid tersebut bukan milik kelompok tertentu, tapi milik semua umat Islam. Sementara itu Bupati Jember MZA Djalal menyampaikan apresiasi atas berdirinya masjid Cheng Hoo di Jember.

Ornamental Masjid Cheng Hoo Jember

Seperti masjid Cheng Ho pada umumnya, masjid Cheng Ho Jember juga mempunyai ciri khas tersendiri. Luas bangunan induknya 350 meter persegi. Disamping kirinya berdiri menara yang cukup besar dengan luas 350 meter persegi. Menara ini berdenah segi delapan melambangkan keberuntungan dengan ketinggian lima lantai yang berbentuk kelenteng serta didominasi warna merah. Menara yang bertingkat lima tersebut melambangkan Rukun Islam dan Pancasila.

Bangunan berukuran 11 x 9 meter. Angka 11 memiliki arti bahwa ukuran Ka’bah saat dibangun. Sedangkan angka 9 sebagai lambang Wali Songo, yang sngat berjasa besar dalam dakwah islam di Jawa.

Tanah kompleks masjid tersebut merupakan hibah dari Pemkab Jember, luasnya mencapai 5000 meter persegi, menjadikan luas kawasan masjid ini lebih luas dari Masjid Cheng Ho di Surabaya. Menurut Song Tjai, di sekitar masjid tersebut kelak akan dibangun Taman Kanak-kanak, lapangan olahraga, kantin, dan fasilitas lainnya.

Tampak depan Masjid Cheng Ho Jember.

Hal tersebut sejalan dengan harapan Bupati Jember – MZA Djalal yang berharap kelebihan luas tanah ini nantinya dapat dikembangkan, bukan hanya masjid namun juga bisa menjadi banyak hal. Misalnya menjadi pusat kajian islam, rekreasi dan pusat kewirausahaan. Dia berharap Masjid Cheng Hoo ini benar-benar dimanfaatkan dan juga menjadi pusat bagi masyarakat Tionghoa di Jember. Apalagi 10 persen dari jumlah penduduk Jember 2,5 juta jiwa adalah warga Tionghoa dan dari 10 persen itu, 250 orang diantaranya beragama islam.

Upacara peresmian masjid Cheng Hoo Jember ini ditandai dengan pengguntingan pita kemudian dilakukan penandatangan prasasti tanda peresmian, kemudian ditutup dengan sholat zuhur berjamaah yang diikuti oleh para jemaah yang membanjiri masjid tersebut bersama dengan Bupati dan segenap undangan lainnya.

Baca Juga



Friday, June 17, 2016

Masjid Cheng Hoo Kutai Kartanegara

Bangunan utamanya berbentuk bangunan masjid biasa, hanya saja warna dan ornamennya mayoritas menggunakan warna merah seperti bangunan kelenteng.

Masjid Muhammad Cheng Hoo atau dikenal Masjid Cheng Hoo juga ada di Kalimantan Timur (Kaltim). Masjid ini beralamat di pinggir jalan poros Balikpapan-Samarinda, KM 20, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Jika dari Balikpapan, letaknya di sebelah kiri jalan. Masjid Cheng Hoo Kukar menjadi destinasi bagi para musafir untuk beristirahat kala lelah datang. Lokasinya strategis, ditambah lagi area parkir yang luas, lingkungan masjid yang bersih serta berada di ketinggian, membawa rasa nyaman dengan angin sepoi-sepoinya. 

Corak warnanya sebagaimana Masjid Cheng Hoo yang memang banyak tersebar di Indonesia, yaitu perpaduan merah-kuning-hijau. Begitu pula dengan ornamen dan arsitektur indoor dan outdoor-nya. Yang agak berbeda, Masjid Cheng Hoo Kukar ini kubahnya tidak berkhas bangunan China, seperti Masjid Cheng Hoo di Surabaya. Kubahnya seperti halnya kubah masjid ‘biasa’. Bisa dikatakan, Masjid Cheng Hoo Kukar perpaduan antara arsitektur China dan Indonesia.

Jl. Soekarno-Hatta Poros Balikpapan-Samarinda, KM 20
Dusun Tani Maju, Desa Batuah RT 7 No. 11
Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan
Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar)
Propinsi Kalimantan Timur - Indonesia


Dalam laman humas.kutaikartanegarakab.go.id disebutkan, Masjid Cheng Hoo Kukar dibangun pada tahun 2006 dan selesai tahun 2007. Tanah bangunan masjidnya merupakan hasil swadaya dari masyarakat Batuah serta hibah dari Wili Susanto. Khusus untuk bangunan masjid merupakan bantuan dari H Muhammad Jos Soetomo, yang juga pembina masjid tersebut.

Adapun papan namanya bantuan dari Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak, sedangkan pagar merupakan bantuan sosial dari Pemkab Kukar. Masjid ini diresmikan oleh Wakil Bupati Kukar HM Guhfron Yusuf, mewakili Bupati Kukar Rita Widyasari, pada Ahad 9 September 2012.

Gerbang masjid Cheng Ho Kukar

Tradisi Ramadhan

Selama Bulan Suci Ramadhan, setiap hari, warga bergantian menyumbangkan makanan untuk buka puasa ke Masjid Cheng Hoo Kukar sebanyak 300 porsi makanan. Sudah berlangsung sejak 2012 dan menu yang tersaji di masjid ini berbeda setiap hari. Selain menyajikan hidangan berbuka berupa makanan ringan seperti buah, juga menyediakan hidangan santap malam bagi para jamaah. Setiap hari sekitar 250 orang berbuka di masjid ini. 

Setiap hari, warga bergantian menyumbangkan bukaan puasa ke Masjid Cheng Hoo Kukar. Warga yang mampu, biasanya sendirian saja membiayai buka bersama itu. Terkadang juga ada warga yang berkelompok menyumbang. Antuasias warga sangat besar dalam menyediakan makanan bagi jamaah yang berbuka puasa. Menu yang tersaji di masjid ini berbeda setiap hari. Mulai dari rawon, soto, sate, ayam bakar, ayam goreng, dan berbagai masakan lainnya. Semua disiapkan untuk menjamu para jamaah dan musafir yang hendak berbuka.***

Tuesday, July 31, 2012

Masjid Cheng Ho Akan jadi ikon Baru Kota Jambi

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Laksamana Cheng Hoo Jambi oleh Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, Minggu 22 Juli 2012.

Masjid Laksanama Cheng Hoo yang kini mulai dibangun akan menjadi salah satu ikon Kota Jambi, kata Gubernur Jambi Hasan Basri Agus.

"Masjid Laksamana Cheng Hoo ini bentuknya unik dan menarik, karena memadukan budaya Cina, Arab, dan Melayu Jambi. Saya harap masjid ini akan menjadi salah satu ikon Kota Jambi," katanya saat meletakkan batu pertama pembangunan masjid itu di Jambi, Minggu 22 Juli 2012.

Masjid Laksamana Ceng Hoo berlokasi di RT 17 Kelurahan Kenali Asam Bawah, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi dan dibangun oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jambi diharapkan akan menjadi salah satu objek wisata.

Gubernur juga berharap dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat sekitar untuk mewujudkan pembangunan masjid itu.

"Ini merupakan perbuatan yang sangat mulia guna mengembangkan agama, jangan ragu-ragu untuk membantu pembangunan rumah ibadah," katanya.

Pemerintah Provinsi Jambi juga membantu dana sebesar Rp100 juta, dan Gubenur secara pribadi juga akan membantu mewujudkan pembangunan masjid tersebut.

Diharapkan tempat ibadah itu juga akan menjadi tempat pendidikan agama bagi anak-anak yang ada di sekitar masjid, demikian juga bagi putra-putri anggota PITI.

Ketua Umum DPP PITI HM Ramdhan Effendi/Tan Kok Liong (Anton Medan) mengajak warga PITI untuk terus berjuang bahu membahu membangun Indonesia umumnya dan daerah Jambi khususnya, termasuk bersama warga masyarakat Tionghoa yang beragama non Muslim.

Ke depan DPP PITI berencana akan mengeluarkan kartu dan anggota kehormatan yang dapat dimiliki oleh masyarakat Tionghoa non Muslim, tujuannya tidak lain untuk sama-sama saling bahu membahu membantu pemerintah melaksanakan pembangunan.

PITI dideklarasikan pada 14 April 1961 di Jakarta oleh H Abdulkarim Oey Tjeng Hien, H Abdussomad Yap A Sing, Kho Goan Tjin. PITI tergolong cukup tua dan sejajar dengan NU dan Muhammadiyah. Saat ini PITI ada di 24 provinsi di Indonesia.

Sebelumnya Ketua DPW PITI Jambi HM Rusli Manaf SE/Huang Kang Tong dalam laporannya menyampaikan, dibangunnya Masjid Laksamana Cheng Hoo dalam upaya meningkatkan keimanan anggota PITI, disamping juga untuk pusat kegitan belajar (pengajian) anggota PITI yang ada di Jambi.

PITI Jambi berdiri sejak 2005, namun selama itu pula PITI Jambi belum memiliki tempat yang tetap untuk melaksanakan pengajian. Pengajian dilaksanakan dari rumah ke rumah, dan bila ada yang mencari PITI Jambi sulit ditemukan, karena belum memiliki sekretariat tetap.

"Selama ini pengajian kita laksanakan dari rumah ke rumah, dan bila ada yang mencari alamat PITI Jambi. Dengan dibangunnya masjid ini nantinya akan mudah," ujarnya.

Ia menyatakan, memilih nama Cheng Hoo karena sesuai sejarah Laksamana Cheng Hoo mempunyai andil besar bagi masuknya agama Islam di Indonesia, dan ini merupakan wujud penghormatan warga PITI terhadap perjuangan dan dakwahnya.

Masjid ini dibangun dua lantai dengan ukuran 20x20 meter diluar rencana pembangunan madrasah, asrama, dan sekretariat yang dibangun di lahan seluas 2.380 meter persegi.

Bangunannya sengaja memadukan budaya Tiongkok kuno pada bagian kap atas, sedangkan bagian tengah dimasukkan budaya Timur Tengah dan untuk bagian depan masjid merupakan budaya Melayu Jambi.

Sementara ini dana untuk membeli lahan dan rencana pembangunan masjid masih sepenuhnya berasal dari anggota PITI, ke depan warga PITI mengharapkan dukungan dan bantuan untuk mewujudkan sarana ibadah dan pendidikan ini, ujarnya.

Sebagaimana disarankan Gubernur Jambi, di lokasi masjid ini akan dibangun madrasah yang dapat menampung anak-anak belajar agama, tidak saja untuk anak-anak anggota PITI tapi juga untuk masyarakat sekitarnya.

Lokasi ini juga nantinya akan dilengkapai asrama guna menampung mualaf (pemeluk baru Islam) yang belum memiliki tempat tinggal, sekaligus tempat mereka memperdalam ilmu agama.

Saat ini PITI Jambi memiliki anggota seribu orang yang tersebar di kabupaten/kota di Provinsi Jambi, sedangkan yang di Kota Jambi ada 300 orang lebih.

Pada kesempatan ini juga dilakukan pengumpulan dana spontanitas dari undangan yang hadir, dan terkumpul uang sebesar Rp14 juta lebih.