Showing posts with label Masjid di Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Jawa Tengah. Show all posts

Saturday, May 24, 2025

Masjid Besar Al-Izhaar Kutoarjo

Masjid Besar Al-Izhar atau Masjid Agung Kutoarjo.
 
Masjid Besar Al-Izhar juga dikenal sebagai Masjid Agung Kutoarjo adalah masjid besar kecamatan Kutoarjo kabupaten Purworejo. Lokasinya berada di daerah Kauman, Kelurahan Kutoarjo, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo di sisi barat alun-alun Purworejo. Tak jauh dari pendopo kawedanan Kutoarjo / rumah dinas wakil Bupati Purworejo yang berada di sisi utara Alun-alun.
 
Dikenal juga sebagai masjid Agung Kutoarjo karena memang sebelum tahun 1936, Kutoarjo merupakan sebuah kabupaten sendiri dengan nama kabupaten Semawung didalam wilayah administratif karesidenan Begelen. Dari bentuk bangunannya, sepintas lalu Masjid Besar Al-Izhar atau Masjid Agung Kutoarjo ini sangat mirip dengan Masjid Agung Darrul Muttaqin Purworejo, baik bangunan masjidnya begitupun dengan menaranya.
 
Masjid Besar Al-Izhaar Kutoarjo
Masjid Agung Kutoarjo
Kembang Arum, Kutoarjo, Kabupaten Purworejo
Jawa Tengah 54251.
 

           
Ibukota kabupatennya berada di Kutoarjo sebelum kemudian dilebur kedalam wilayah kabupaten Purworejo. Itu sebabnya pola tata ruang pusat kotanya mirip dengan tata ruang sebuah ibukota kabupaten dengan alun-alun, pendopo dan Masjid Agung.
 
Sejarah Masjid Besar Al-Izhar Kutoarjo
 
Masjid Besar Al-Izhaar Kutoarjo dibangun pada 16 September 1887 oleh bupati R.A.A. Pringgoatmodjo di atas tanah wakaf K.H. Kastubi. K.H. Kastubi merupakan seorang penghulu yang berada di Kabupaten Semawung. Sejak diangkatnya K.H. Kastubi sebagai penghulu pada 1887, masalah pernikahan dapat terlayani bagi warga masyarakat Kutoarjo yang masih berdiri sendiri sebagai Kabupaten.
 
Untuk urusan perceraian juga sudah ada pejabat yang menangani. Dari berbagai pelayanan yang sudah ada. Muncullah pengadilan agama (PA) cikal bakal PA Purworejo. Dalam sejarah di era K.H. Abu Bakar, keturunan dari K.H. Kastubi, di masjid tersebut sudah berlaku tatacara perceraian pasangan suami isteri secara sah, baik segi agama maupun pemerintahan.
 
Renovasi masjid pada 1875 ini dilakukan putra R.A.A Pringgoatmodjo yang bernama R.A.A. Poerboatmodjo. Masjid Agung Al-Izhaar Kutoarjo yang masih berdiri kokoh dan megah ini, berdasarkan ketuaan bangunan maupun sisi historis lainnya, masjid ini dimasukkan ke dalam benda cagar budaya tidak bergerak dengan nomor inventarisasi: 11-06/Pwr/TB/27.
 
Masjid Besar Al-izhar Kutoarjo antara tahun 1890-1917.


Arsitektur Masjid Besar Al-Izhar Kutoarjo
 
Bila merujuk kepada foto dokumentasi masjid ini di museum Belanda tahun 1890-1917, bangunan awal masjid ini kini menjadi bangunan induk Masjid Besar Al-Izhar Kutoarjo. Tidak tampak perubahan signifikan pada bangunan induknya.
 
Bangunan masjid khas Indonesia dengan ciri utama atapnya berbentuk atap limas (kerucut) bertingkat ditopang dengan struktur tiang sokoguru yang dapat dilihat didalam ruangan masjid. Hanya sedikit perubahan pad bangunan induk dengan menambahkan sebuah kubah bawang ukuran kecil di puncak atap.
 
Disisi depan bangun induk ditambahkan dua bangunan tambahan berdenah persegi panjang, kemungkinan ditambahkan pada masa renovasi oleh  R.A.A. Poerboatmodjo. Penmbahan bangunan tambahan ini serupa dengan penambahan bangunan pendopo di sisi depan bangunan induk Masjid Agung Demak. Sebuah bangunan menara dari beton kini berdiri megah dihalaman masjid.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
Masjid Jenderal Besar Soedirman Purwokerto
Masjid Muhammad Cheng Ho Purbalingga
Masjid Agung Baiturrahman Sukoharjo
Masjid Agung Kendal
Masjid Agung Kebumen
Masjid Agung Rembang, Rembang
Masjid Tiban Gedongmulyo Lasem
 
Rujukan
 
https://manglayang.id/masjid-agung-kutoarjo/
http://kekunaan.blogspot.com/2012/09/masjid-agung-al-izhaar-kutoarjo.html
https://radarpurworejo.jawapos.com/wisata/2143331399/dibangun-bupati-ada-kantor-pengadilan-agama

Saturday, June 8, 2019

Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo, Jawa Tengah

Icon baru kabupaten Sukoharjo, Masjid Agung Baiturrahmah yang begitu megah, dibangun ulang menggantikan bangunan masjid agung sebelumnya di lokasi yang sama.

Masjid Agung Baiturrahmah adalah masjid agung kabupaten Sukoharjo di provinsi Jawa Tengah. Pembangunan masjid ini menghabiskan dana sebesar 32,4 milyar rupiah yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah. Dari total anggaran Rp32,4 miliar, antara lain untuk perencananan dan review Rp89 juta, proyek fisik Rp31,551 miliar dan untuk pengawasan dianggarkan Rp449,132 juta. Pembangunannya selesai pada ahir Desember 2017 yang lalu.

Masjid tersebut dibangun dua lantai memiliki daya tampung hingga 2600 jamaah. Lantai 1 digunakan bagi jamaah laki laki, mampu menampung sebanyak 1.750 jemaah sekaligus. Lantai 2 terdiri dari Kantor MUI, ruang rapat, perpustakaan, dan sekretariat remaja masjid. Lantai 3 untuk jamaah wanita yang menampung 850 jamaah.

Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo
Jl. Brigadir Jenderal Slamet Riadi, Johosari, Joho
Kec. Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57513



Masjid Agung Baiturrahman juga menyediakan ruang untuk marbot dan takmir masjid, ruang imam masjid dan disediakan juga lima kamar penginapan musafir. Masjid juga dilengkapi lift untuk memudahkan akses disabilitas. Lahan tempat masjid Agung Baiturrahmah ini berbentuk travesium terbentuk dari simpangan ke jalan Kutilang disebelah selatan masjid.

Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo dibuka untuk umum pada hari Jumat 4 April 2018. Pembukaan Masjid ditandai dengan peresmian yang dilakukan Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya. Dalam upacara peresmian tersebut Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya mengaku bersyukur pembangunan masjid kebanggaan warga Sukoharjo akhirnya selesai tepat waktu.

Dibangun dengan dana dari APBD kabupaten, Masjid Agung Baiturrahmah tampil begitu megah dan menawan menjadi kebanggaan bagi warganya.
Proyek Masjid Agung Baiturrahmah dikerjakan oleh PT Sinar Cerah Sempurna Semarang. Masjid dibangun di lahan seluas 7.713 meter persegi dengan luas bangunan 2.805 meter persegi. Untuk bangunan masjid seluas 2.565 meter persegi, gedung TK 195 meter persegi dan rumah imam 45 meter persegi. Masjid ini juga memiliki halaman dan taman yang luas dan sejuk sehingga bisa digunakan sebagai lokasi bersantai sejenak.

Dibangun dengan rancangan yang menawan dan cukup instagramable bagi para pengguna instagram karena kecantikan masjid ini. Megahnya bangunan masjid ini menjadikannya sebagai salah satu objek wisata pavorit warga di Sukoharjo. Keberadaan masjid ini menjadi ikon baru Kabupaten Sukoharjo. 

Arsitektur Timur Tengah

Masjid Baiturohmah dibangun dengan setuhan arsitektur Timur Tengah. Dua kubah bercat hijau kombinasi kuning telah terpasang di atap masjid, satu kubah di atap utama masjid sedangankan satu kubah lainny dipasang di atap beranda. Bangunan utama masjid dilengkapi dengan kubah utama ditapnya bewarna hijau dengan kombinasi warna kuning.Kubah yang ukurannya lebih kecil dengan warna yang sama dipasang diatas beranda masjid.

Aerial view Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo, tampak menjulang sendirian diantara bangunan bangunan lain disekitarnya.
Dua menara besar tinggi menjulang mengapit bagian depan masjid ini disisi kiri dan kanan. Sementara empat kubah lainnya yang lebih ramping ditempatkan di empat penjuru atap masjid mengapit kubah utama di bagian atap. Enam menara ini menyimbolkan rukun Islam.

Pembangunan masjid Agung Baiturrahman Sukoharjo ini menggantikan bangunan masjid agung yang lama di lokasi yang sama. Pada awal proyek pembangunan masjid, bangunan masjid agung yang lama dirobohkan dibongkar secara total untuk kemudian dibangun kembali dalam bentuk yang lebih megah seperti yang kita lihat saat ini. Bangunan sebelumnya justru merupakan bangunan dengan langgam nusantara dengan atap joglo.***

Referensi


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Saturday, June 1, 2019

Masjid Muhammad Cheng Ho Purbalingga


Pertama kali Rosulullah S.A.W membangun masjid, hanya menggunakan material bangunan dari pohon kurma, pelepah dan daunnya, bangunan masjid yang teramat sederhana sebagai tempat berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah dan pusat ke-Islaman. Masjid yang kini berubah menjadi Mega Masjid dikebal dengan Masjid Nabawi. Di kemudian hari bangunan bangunan masjid bertebaran di muka bumi dibangun dengan beragam bentuk sesuai dengan adat dan tradisi muslim setempat. Masjid dengan Gaya Tiongkok yang mirip Kelenteng seperti Masjid di Purbalingga ini  menambah khazanah perbendaharaan rancangan masjid masjid di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Kabupaten Purbalingga provinsi Jawa Tengah. Salah satu kabupaten yang di anugerahi keindahan panorama alam gunung Slamet. Di kota ini sudah bermukim beberapa generasi etnis Thionghoa yang sudah menjadi bagian dari masyarakat disana, dalam keseharianpun mereka fasih berbahasa Jawa.

Sejak tahun 2011 yang lalu Purbalinga memiliki satu masjid unik yang dibangun oleh Muslim Thionghoa disana. Masjid dengan bentuk mirip Klenteng yang sangat khas. Menambah khasanah bangunan masjid serupa yang telah ada di tanah air, dan tentu saja menambah khasanah kekayaan arsitektur Masjid di Nusantara tercinta.

Masjid Muhammad Cheng Ho Purbalingga
Desa Selaganggeng Kecamatan Mrebet
Kabupaten Purbalingga, provinsi Jawa Tengah
Indonesia



Di beberapa kota di Indonesia yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Laksamana Cheng Ho sudah berdiri masjid serupa dengan nama yang sama, yakni di kota Palembang ibukota provinsi Sumatera Selatan, di Kota Jambi provinsi  Jambi, Pasururuan dan Kota Surabaya provinsi Jawa Timur dan di Kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan.

Selain dari masjid masjid tersebut, di Indonesia juga sudah berdiri masjid masjid dengan arsitektur mirip kelenteng namun tidak dengan nama Cheng Ho, diantaranya adalah Masjid Latze Pasar Baru Jakarta, masjid Lautze-2 di kota Bandung provinsi Jawa Barat, Masjid Tan Kok Liong di dalam komplek pesantren Ustadz Anton Medan di Cibinong provinsi Jawa Barat, dan Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.

Kesemua masjid yang bergaya bangunan tradisional Tiongkok tersebut tidak lantas berarti hanya boleh dipakai dan digunakan oleh Muslim Tionghoa saja. Tapi sebagaimana fungsi masjid, keseluruhan masjid tersebut dibangun untuk digunakan oleh seluruh kaum muslimin tanpa memandang suku, bangsa, ras, wana kulit, golongan dan lain sebagainya, sama halnya dengan Masjid Cheng Ho Purbalingga ini.

Megah dengan gaya kelenteng.
Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini mulai dibangun tahun 2005 sempat terhenti di tahun 2006 karena berbagai kendala, dan diresmikan enam tahun kemudian tepatnya tanggal 5 Juli 2011 bertepatan dengan 3 Sya’ban 1432H oleh H.A Zaky Arslan Djunaid selaku Ketua Umum Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) JASA

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai wadah kegiatan ke-Islaman dan dakwah bagi masyarakat muslimTionghoa terutama para mualaf di daerah Purbalingga. Muslim Thionghoa di Purbalingga ada sekitar 130-an orang mereka tersebar di 18 kecamatan, berdirinya masjid ini diharapkan bisa lebih memajukan Purbalingga khususnya dibidang dakwah Islam.

Sekilas tentang Laksamana Cheng Ho

Haji Muhammad Cheng Ho (1371-1435) memiliki berbagai varian nama diantaranya Ma He, Ma San Bao, Sam Po Bo atau Haji Mahmud Shams adalah seorang Laksamana Muslim dari kekaisaran ketiga Dinasti Ming. Beliau berasal dari suku Hui yang secara fisik mirip dengan suku Han, sempat ditangkap saat pasukan Dinasti Ming menaklukkan Yunan.

Masjid Muhammad Cheng Ho Purbalingga ini bukan satu satunya masjid dengan gaya bangunan Kelenteng, Masjid yang serupa juga sudah tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia.
Cheng Ho kemudian menjadi Laksamana armada angkatan laut dinasti Ming yang melegenda dengan perjalanan keliling dunia yang dilakukannya ke berbagai pelabuhan laut di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan hingga ke Afrika Timur dari tahun 1405 hingga tahun 1433. Dunia Internasional kini bahkan telah mengakui beliau sebagai pengeliling dunia pertama jauh sebelum para penjelajah Eropa manapun.

Perjalanannya ke berbagai kepulauan Nusantara meninggalkan jejak yang masih bisa ditemui hingga kini. Sebagai salah satu contoh, rekam jejaknya di wilayah barat pulau Jawa menjadi pembuka jalan bagi dakwah Islam di wilayah kerajaan Pajajaran. Disetiap perjalanannya Laksamana Cheng Ho selalu membawa mubaligh bagi para anggota ekspedisinya yang beragama Islam. Salah seorang mubaligh yang menyertai ekspedisinya bernama Syekh Hasanudin, dalam pelayaran pertama-nya ke Nusantara, Syech hasanuddin sempat singgah di wilayah Cirebon.

Dalam pelayaran keduanya ke Nusantara, Syech Hasanudin dan rombongan mendarat di wilayah (yang kini dikenal sebagai) kabupaten Karawang di provinsi Jawa Barat yang pada saat itu masih menjadi wilayah Kerajaan Pajajaran. Syech Hasanudin bersama dengan Syech Bentong kemudian mendirikan pesantren yang dikenal dengan nama Pondok Quro dan Syech Hasanuddin dikenal dengan nama Syech Quro karena ke-mahiran-nya melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Dari pondok Quro itulah Islam kemudian menyebar ke wilayah Pajajaran dengan menikahnya Pangeran Jaya Dewata putra Mahkota Kerajaan Pajajaran dengan Subang Larang, salah satu santriwati dari Syech Quro.

Lapazd ALLAH di langit langit ruang utama masjid.
Bermula dari sana di kemudian hari berdirilah Kesultanan Cirebon melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, tak lama setelah berdirinya Kesultanan Demak dengan dukungan dari para Wali. Pendiri dan Sultan Pertama di Kesultanan Cirobon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang tak lain adalah cucu kandung dari Pangeran Jaya Dewata yang saat itu sudah menjadi Mahajara di Kerajaan Pajajaran dengan gelar Sri Baduga Maharaja yang dikenal juga dengan nama Pangeran Pamanah Rasa atau lebih dikenal oleh rakyatnya dengan sebutan Prabu Siliwangi.

Meski di wilayah Jawa Barat masyarakat nya lebih mengenal Syech Quro daripada Laksamana Cheng Ho sebagai tokoh pembawa Islam di wilayah tersebut namun tidak dapat dipungkiri besarnya peranan Sang Laksamana dalam mengantarkan Islam ke wilayah Jawa Barat khususnya dan Nusantara pada umumnya.

Maka wajar bila kemudian di berbagai tempat di Indonesia masyarakat muslim menghormati beliau dengan cara mengabadikan namanya sebagai nama bangunan masjid masjid yang juga dibangun dengan bentuk bangunan tradisional yang biasa ditemui di daerah asal beliau yang kini menjadi bagian dari wilayah Negara Republik Rakyat China.

Referensi


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga




Saturday, January 13, 2018

Masjid Agung Annur Banjarnegara

Masjid Agung Banjarnegara

Masjid Agung Annur adalah Masjid agung bagi kabupaten Banjarnegara yang berada di ruang jalan KH Ahmad Dalan no.07 Kauman, Banjarnegara, provinsi Jawa Tengah. Masjid agung ini pertama kali dibangun sekitar tahun 1865, semula berupa masjid kecil dengan ukuran 10 x 15 meter lalu di perbesar dan di bangun hingga ke bentuknya saat ini.

Masjid Agung Annur Banjarnegara ini berada di sisi barat alun alun Banjarnegara, berseberangan dengan kantor Bupati Banjarnegara yang berada di sisi timur alun alun. Posisinya yang berada di pusat kota menjadikan masjid ini tak hanya sebagai masjid tertua dan terbesar namun juga sebagai masjid utama di kabupaten Banjarnegara.

MASJID AN NUR BANJARNEGARA
Banjarnegara, Kutabanjarnegara, Kec. Banjarnegara
Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah 53418
Indonesia



Masjid Agung Annur Banjarnegara ini tampil mentereng dengan perpaduan dua gaya arsitektur; Arsitektur masjid modern dengan bangunan beton berkubah setengah bundar ditambah dengan satu bangunan menara terpisah dari bangunan masjid, sementara bangunan utamanya masih mempertahankan bentuk bangunan masjid tradisional khas Indonesia dengan atap limas bersusun tiga.

Presiden jumatan di Masjid Agung Banjarnegara

Hari Jum’at 16 Juni 2017, presiden Joko Widodo bersama rombongan menunaikan sholat Jum’at di masjid agung Annur Banjarnegara ini, setelah beliau melakukan perjalanan darat dari kabupaten Banyumas dalam rangkaian kunjungan kerja beliau ke provinsi Jawa Tengah.

Masyarakat begitu antusias terutama mereka yang bisa turut serta menunaikan shalat Jumat bersama Presiden. Sementara mereka yang tidak turut serta menjalankan ibadah itu menanti Presiden selesai menunaikan ibadah shalat Jumat. Banyak orang memadati Alun-Alun Banjarnegara untuk turut serta dalam acara itu.

Masjid Agung Banjarnegara (foto by IG @shenitasora)
Kampung Ramadan Kauman

Di bulan suci romadhan, Masjid Agung Annur Banjarnegara ini menggelar Kampung Ramadhan Kauman (KRK). Kegiatan tersebut akan digelar di sepanjang Jalan KH Ahmad Dahlan halaman Masjid Agung Annur Banjarnegara.
                                             
Dalam kegiatan ini, dimeriahkan berbagai acara, termasuk bazar takjil dan para UMKM Banjarnegara, juga menggelar lomba-lomba, mulai dari menggambar untuk anak usia dini, busana muslim, fotography, hingga lomba tek-tek religi. Pada sore hari juga ada puluhan lapak untuk pedagang kecil.

Referensi


Baca Juga




Sunday, January 7, 2018

Masjid Agung Kendal

Masjid Agung Kendal, di kabupaten Kendal, masjid tua yang sudah kehilangan bentuk aslinya.

Masjid Agung Kendal adalah masjid agung bagi kabupaten Kendal provinsi Jawa Tengah. Masjid ini terletak di Jalan Raya Barat berhadapan dengan pusat perkantoran pemerintahan Kabupaten Kendal, dan merupakan masjid tertua di Kabupaten Kendal, dibangun sekitar tahun 1493 Masehi bertepatan dengan tahun 1210 H oleh Wali Joko di masa kesultanan Demak. Angka tahun 1210 H ini terdapat pada bagian depan mimbar masjid ini.

Masjid tersebut dibangun oleh Raden Suweryo atau biasa dikenal dengan Wali Joko. Wali Joko merupakan salah satu santri Sunan Kalijaga, yang ditugasi untuk menyebarkan agama Islam di sekitar Kendal. Wali Joko yang memiliki nama kecil Jaka Suwirya adalah kakak-beradik dengan Sunan Katong.
Masjid Agung Kendal
Pakauman, Kendal, Kabupaten Kendal
Jawa Tengah 51319 Indonesia


Saat masih muda, Wali Joko bernama Pangeran Panggung, merupakan putra bungsu Prabu Kertabumi atau Prabu Brawijaya V dengan Permaisuri Dewi Murdaningrum, seorang putri dari Kerajaan Campa. Wali Joko masih memiliki hubungan darah dengan Raden Fatah, raja pertama Kesultanan Demak Bintoro. Di mana, Raden Patah adalah putra Prabu Kertabumi dengan Permaisuri putri Kerajaan Campa, Dewi Kian.

Bangunan awal Masjid Agung Kendal menyerupai Masjid Agung Demak, Luas bangunan waktu itu 27 x 27 meter, kini berukuran 50 x 50 meter dan sudah dibangun dua lantai. Sedangkan atapnya terbuat dari sirap (susunan kayu tipis) yang bersusun tiga. Tempat wudhu berupa kolah pendem yang mendapat aliran air dari sungai kendal yang dibuat oleh Wali Joko sendiri, letak kolamnya ada di depan masjid sebelah selatan utara makam Wali Joko.

Masjid Agung Kendal ini telah mengalami delapan kali renovasi. Sejumlah peninggalan asli bangunan dari Wali Joko adalah 16 tiang penyangga masjid dengan masing-masing berdiameter 40 centimeter. Peninggalan asli lainnya yaitu kusen, jendela dan daun pintu masjid. mimbar kotbah dan juga Maksuroh (tempat sholat bupati saat itu) yang terdapat di sebelah kiri mimbar. Tiang penyangga yang asli ada di bangunan utama, sekarang sudah dilapisi agar lebih kuat menjadi sekitar 60 cm. Dan sekarang tiang total menjadi 80 tiang.

Interior Masjid Agung Kendal. Mimbar, tiang tiang kayu dan maksurah di dalam masjid ini konon masih asli peninggalan dari Wali Joko.

Ramadhan hingga Musim Mudik

Di bulan suci, takmir Masjid Agung menyediakan makan dan minum untuk berbuka bagi semua lapisan masyarakat. Di bulan Ramadan takmir masjid juga menggelar pengajian kitab kuning. Banyak santri kalong atau santri pendatang mengaji di masjid ini setiap malamnya. Mereka datang dari beberapa wilayah di Kendal. Dan Seperti di masjid-masjid umumnya, pada Ramadan juga diisi dengan kegiatan tadarus.

Dengan lokasinya yang berada di jalur Pantura, Masjid Agung Kendal ini menjadi salah satu tempat istirahat pavorit para pemudik yang melintas. Para pemudik ini tidak saja mampir untuk menunaikan sholat namun juga untuk beristirahat melepas lelah dari yang sekedar ngaso sampai yang tertidur pulas di dalam maupun di teras masjid ini.

Makam di Komplek Masjid Agung Kendal

Di komplek Masjid Agung Kendal ini terdapat makam Wali Joko yang pada awalnya adalah rumah Wali Joko, yang berada di depan sebelah selatan Masjid Agung, di belakang masjid juga terdapat dua makam ulama. Yaitu makam Kiai Abu Sujak yang di era 1800-an adalah penghulu pertama Masjid Agung dan makam Wali Hadi yang meninggal pada 1930. Semasa hidup, Wali Hadi merupakan pengisi pengajian di masjid ini.

-----------------------------------------------------------------------------------
Follow& Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
-----------------------------------------------------------------------------------

Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Kendal 
http://jateng.tribunnews.com/2017/06/24/masjid-agung-kendal-jadi-alternatif-tempat-beristirahat-pemudik 
http://andrienuno.blogspot.co.id/2013/10/masjid-agung-kendal.html
http://regional.kompas.com/read/2012/08/13/21353077/Masjid.Berusia.512.Tahun.Itu.Masih.Berdiri.Kokoh 
https://www.sewarga.com/2017/09/12/sejarah-makam-wali-joko-di-masjid-agung-kendal/ 

Baca Juga

Langgar Al-Yahya Gandekan
Masjid Tiban Wonokerso Wonogiri
Masjid Agung Mujahidin Majenang
Masjid Agung Al-Mabrur Ungaran 

Saturday, January 6, 2018

Masjid Agung Kebumen


Masjid Agung Kebumen dengan bangunan utamanya beratap limas bersusun tiga ditambah bangunan pendopo di bagian depan satu menara yang sudah di moderenisasi.

Masjid Agung Kebumen adalah masjid agung bagi kabupaten Kebumen. Lokasinya berada di sisi barat alun alun kabupaten Kebumen. Sebagai masjid agung, lokasi masjid ini memang berada di pusat pemerintahan kabupaten Kebumen berdekatan dengan rumah dinas Bupati kebumen yang berada di sisi utara alun alaun dan kantor kantor pemerintahan daerah kabupaten Kebumen.

Masjid Agung Kebumen merupakan masjid tertua dan terbesar di Kebumen, berdiri di atas lahan seluas 4.397 meter persegi. Lahan masjid ini merupakan wanah wakaf dari Simbah K H Imanadi, Penghulu Landrat pertama Kebumen, sekaligus menjadi Imam Masjid tersebut. Masjid ini dibangun pada tahun 1838 M, selang 4 tahun kemudian dibangun serambi masjid yakni pada tahun 1258 H / 1842 M. Meskipun telah mengalami rehabilitasi dan penambahan fasilitas serta sarana fisik lain, namun bangunan utama / pokok Masjid baru mengalami pembangunan secara total pada tahun 2003 / 2004, dibangun berlantai 2 namun arsitekturnya tidak berubah, khas budaya Jawa-bentuk Joglo.

Masjid Agung Kebumen
Jl. Pahlawan No.197, Kutosari, Kec. Kebumen
Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah 54317





Masjid Agung Kebumen didirikan oleh KH Imanadi, putra Kiai Nurmadin atau Pangeran Nurudin bin Pangeran Abdurahman alias Kiai Marbut Roworejo pada tahun 1832. Kisah tutur menyebutkan bahwa KH Imanadi (1775-1850 M) adalah ahli fikih dan hukum ketatanegaraan yang ikut gigih membantu Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda, dan karena itulah ia kemudian ditahan oleh pemerintah kolonial.

Ketika Aroeng Bingang IV menjadi Adipati di Kebumen, KH Imanadi dikeluarkan dari penjara dan diangkat menjadi Penghulu Landrat pertama di Kebumen serta diberi hadiah tanah luas di barat Alun-alun Kebumen yang kini menjadi Dusun Kauman. Penghulu Landrat adalah jabatan semacam Kepala Kantor Departemen Agama dan Pengadilan Agama.

Interior Masjid Agung Kebumen

Pada 1832 sebagian tanah itu diwakafkannya untuk pembangunan masjid, yang sekarang menjadi Masjid Agung Kebumen. Empat tahun kemudian serambi masjid dibuat. Makam KH Imanadi ada di Dusun Pesucen, Desa Wonosari, Kecamatan Kebumen.

Masjid Agung Kebumen memiliki dua bedug. Satu yang besar berwarna hijau dan satu lagi yang kecil berwarna biru muda. Bedug yang besar bernama: Bedug Ijo Manung Sari, dibuat pada 15 Sya’ban 1422 H dan hanya dibunyikan untuk shalat jumat dan hari besar saja. Meskipun dibangun dengan arsitektur Nusantara dengan ciri atap limas bersusun, namun masjid Agung Kebumen ini juga dilengkapi dengan satu bangunan menara terpisah dari bangunan masjid.

Bangunan Masjid Agung Kebumen memiliki dua lantai. Ruangan utamanya ditempatkan di lantai dasar yang dibagi dua untuk Jemaah laki laki dan Jemaah wanita. Lantai atas masjid ini juga di peruntukkan bagi Jemaah laki laki. Selain di lantai dasar dan lantai dua, masih ada area sholat di luar masjid dan di dua serambi masjid. 

------------------------------------------------------------------
Follow& Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Saturday, December 23, 2017

Masjid Agung Rembang

Masjid Agung Rembang (foto IG @ndirmundir)

Masjid Agung Rembang adalah Masjid Agung Kabupaten Rembang provinsi Jawa Tengah, lokasinya berada di sisi barat alun alun kabupaten Rembang, di sisi selatan jalur pantura. Berdiri di atas lahan seluas 3.795 meter persegi dan dapat menampung sekitar 2.500 jamaah. Masjid Agung Rembang ini berada di kawasan yang menyatu dengan rumah dinas Bupati (sekarang Museum RA Kartini), alun-alun kota Rembang, dan terminal kota Rembang.

Cagar Budaya

Bangunan masjid Agung Rembang dan makam Pangeran Sedo Laut yang berada di komplek masjid ini termasuk cagar budaya yang dilindungi pemerintah dan mendapat perawatan terus dari pemerintah kabupaten melalui dinas pariwisata. Papan informasi yang menyatakan bangunan masjid adalah cagar budaya berada di depan masjid, di samping papan Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Rembang.

Masjid Agung Alun Alun Rembang
Jalan Gatot Subroto, Kutoharjo, Kec. Rembang
Kabupaten Rembang, Jawa Tengah 59219
Indonesia



Sejarah Masjid Agung Rembang

Belum diketahui secara pasti kapan bangun masjid Agung ini pertama kali dibangun namun diperkirakan dibangun pada tahun 1232 H atau 1814 M, sesuai dengan tulisan tahun yang terdapat pada prasasti yang terdapat di pintu masuk ruang utama masjid, meskipun belum diketahui dengan pasti angka tahun tersebut merupakan tahun pembangunan atau tahun perbaikan. Dan dalam perjalanan sejarah-nya, Masjid Agung Rembang telah mengalami banyak perbaikan.

Perbaikan masjid pernah dilakukan oleh Bupati Rembang Raden Adipati Djoyodiningrat yang kemudian beliau menetapkan masjid ini sebagai Masjid Kabupaten Rembang pada tahun 1239 H/1832M. Selanjutnya, masjid ini diperbaiki lagi pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Pratikto Kusuma atau dikenal dengan Pangeran Sedo Laut pada tahun 1884 M. Makam Pangeran Sedo Laut berada di sebelah barat masjid dan masih berdiri di tanah masjid.

Meskipun Masjid Agung Rembang mengalami beberapa kali perbaikan, bangunan induk atau bagian dalam masjid masih dijaga keasliannya. Setelah Indonesia merdeka di tahun 1945, Masjid Agung Rembang juga direnovasi beberapa kali.

Masjid Agung Rembang (foto IG @rosaputrie

Tahun 1966, masjid ini direnovasi oleh Bupati Adnan Widodo. Genting biasa diganti menjadi genting pres dan memasang huruf Allah di atas mustaka. Tahun 1970, Bupati S. Hadi Sunyoto membangun serambi depan dan pilar-pilar porselen bermenara.

Pada masa Bupati Sunyoto juga memperbaiki kayu penyangga atap yang rusak. Dana renovasi tersebut berasal dari Gubernur Jawa Tengah H. Moenadi dan swadaya masyarakat. Renovasi besar-besaran dilakukan pada masa Bupati Rembang Wachidi Rijono pada tahun 1997.

Pada waktu renovasi Wachidi Rijono ini, serambi masjid dirombak dan dibangun lagi seperti terlihat sekarang. Renovasi ini melibatkan partisipasi masyarakat Rembang termasuk dalam pengumpulan dananya. Melibatkan camat-camat se-Kabupaten Rembang dalam forum-forum pengajian.

Menara Masjid Agung Rembang yang terletak di sebelah utara masjid dengan tinggi 37 meter diresmikan oleh Bupati Rembang H Moch Salim pada 3 Maret 2012. Pembangunan menara ini direncanakan sejak 2008 atas usul Sekda Rembang H Hamzah Fatoni.

Masjid Agung Rembang dari arah alun alun (foto IG @orang_rembang

Komplek Pemakaman Adipati Rembang

Sebagaimana prototipe masjid kuno di Indonesia, kawasan masjid juga selalu menjadi kompleks pemakaman. Di belakang masjid (sebelah barat) terdapat bangunan cungkup model arsitektur Eropa yang cukup megah, dengan ketinggian batu sekitar 1 (satu) m, bangunan cungkup ini berbentuk segi delapan yang berpusat pada lima buah makam yang ada di dalamnya. Kompleks makam ini terkenal dengan sebutan makam Pangeran Sedolaut (Pangeran Sekarlaut), meskipun di dalamnya terdapat lima buah makam yang secara berjajar dari barat ke timur dan makam-makam tersebut adalah:

·         Makam Adipati Condrodiningrat dengan jirat dari semen & nisan berbentuk kurawal dari batu putih (1289 H);
·         Makam istri Adipati Condrodiningrat dengan jirat & nisan yang hampir sama makam suaminya (1291 H);
·         Makam R. Tumenggung Pratiktoningrat/ Kanjeng P. Sedolaut dengan jirat  dari susunan bata & nisan dari semen (tahun 1757 atau 1831 M);
·         Makam istri Kanjeng P.Sedolaut dengan jirat & nisan hampir sama dengan suaminya (tetapi tidak tertulis tahunnya);
·         Makam istri Patih Pati, yaitu Raden Ayu Sasmoyo dengan jirat  dan nisan hampir sama dengan istri P. Sedolaut; yang juga tidak tertulis tahun.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, December 17, 2017

Masjid Tiban Gedongmulyo Lasem

Masjid Tiban Gedongmulyo, Lasem atau kini dikenal dengan nama Masjid Nurul Huda

Menghalau Pengaruh Candu Dan Kisah Tidur Tergulung Tikar

Masjid yang satu ini oleh masyarakat setempat kerap dijuluki sebagai Masjid Tiban, karena tiba – tiba sudah berdiri. Masjid tersebut juga dipercaya untuk menetralisir pengaruh candu atau minuman keras yang merajalela pada masa itu.

Dipinggir Kali Bagan Lasem, ada pemandangan mencolok dari sebuah bangunan Masjid yang arsitekturnya tampak lain dibandingkan bangunan pada umumnya. Masjid tersebut berada di sebelah utara jembatan Kali Bagan, turut tanah desa Gedongmulyo Kec. Lasem, berhadap – hadapan dengan rumah kuno China Lawang Ombo dan klenteng Tjoe An Kiong Dasun, dipisahkan oleh aliran sungai.

Warga sekitar kerap menyebutnya sebagai Masjid Tiban, lantaran mendadak sudah berdiri di lokasi itu. Ada beberapa versi cerita turun temurun yang berkembang sampai sekarang. Ada yang memperkirakan Masjid itu merupakan peninggalan Sunan Bonang, tapi ada pula yang percaya bagian dari riwayat sejarah Sunan Langgar, salah satu murid Sunan Bonang.


Dalam buku cerita Kabupaten Rembang dikisahkan Masjid Tiban sengaja dipindahkan Sunan Bonang dari Sluke menuju ke pinggir Kali Bagan. Sunan Bonang sendiri gencar menyebarkan agama Islam pada abad ke XV. Riwayat lain mengisahkan Masjid berdiri ketika masa Nyai Ageng Maloka, ketika Islam menjadi agama resmi istana untuk pertama kali di Lasem.

Terlepas dari teka – teki keberadaan Masjid Tiban, namun di pintu masuk utama Masjid terdapat tulisan angka 1899. Tidak jelas apakah tahun pembuatan Masjid atau petunjuk lain. Yang pasti, Masjid itu adalah bangunan kuno, saksi sejarah berkembangnya agama Islam tempo dulu.

Pemerhati sejarah dari Padepokan Sambua – Lasem, Abdullah Hamid mengatakan dugaan itu dikuatkan oleh tebalnya dinding tembok, kemudian daun pintu berbahan kayu jati tua, bentuk kubah Masjid yang unik dan ada pula peninggalan mimbar kuno untuk khutbah, mirip mimbar Masjid peninggalan Sunan Bonang di desa Bonang.

Menurut Abdullah, Masjid Tiban berhadapan dengan rumah Lawang Ombo yang terkenal menjadi tempat penyimpanan candu, karena pada masa itu pendiri Masjid ingin mengurangi dampak pengaruh minuman keras yang kian meluas. Begitu ada Masjid, diharapkan pelan – pelan kaum mau berubah, sekaligus meninggalkan candu.

Masjid Tiban Gedongmulyo

Pria yang juga pengelola Universitas Terbuka Pokjar Lasem ini menambahkan kebetulan beberapa waktu lalu salah satu kubah menara Masjid Jami’ Lasem diganti. Kubah yang lama selanjutnya dihibahkan kepada Masjid Tiban Gedongmulyo – Lasem. Pihak takmir Masjid Jami’ mensyaratkan pemasangan kubah jangan sampai mengubah keaslian Masjid Tiban.

Seorang pengurus takmir Masjid Tiban desa Gedongmulyo, Dudi Hamdudi mengungkapkan hingga saat ini bangunan utama Masjid masih tetap dipertahankan keasliannya. Sedangkan sisi serambi dan samping Masjid, merupakan tambahan untuk perluasan.

Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Tiban menjadi pusat kegiatan. Mulai dari sholat tarawih, tadarus Alqur’an maupun pengajian. Dudi menimpali tiap masuk Masjid Tiban, umat diharapkan benar – benar niat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Muncul kepercayaan, barang siapa masuk Masjid itu hanya ingin tiduran, akan mengalami hal – hal aneh. Dudi yang rumahnya kebetulan bersebelahan dengan Masjid sudah dua kali mendapati seseorang tidur di dalam Masjid, berteriak – teriak minta tolong, lantaran sekujur tubuhnya tergulung tikar yang menjadi alas tidur. Bahkan salah satunya sudah berpindah posisi ke pinggir kali, depan Masjid. Dudi menganggap semua itu karena kekuasaan Allah SWT.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga