Showing posts with label masjid wali songo. Show all posts
Showing posts with label masjid wali songo. Show all posts

Saturday, November 18, 2017

Masjid Tiban Wonokerso Wonogiri

Masjid Tiban Wonokerso saat ini.

Masjid Tiban Wonokerso diyakini dibangun wali dan lebih dulu dari pada Masjid Agung Demak. Bahkan, masjid kuno itu disebut sebagai maket atau model awal Masjid Agung Demak. Masjid Tiban Wonokerso diperkirakan dibangun pada Tahun 1479 Masehi. Hal itu dapat dilihat dari tanda berupa bentuk penyu di bagian atas masjid yang dapat di artikan angka 1401 Saka atau sama dengan 1479 Masehi.

Warga dusun tidak ada yang tahu secara pasti siapa yang membangun masjid itu dan kapan dibangun. Pasalnya, masjid itu lebih dulu ada dari pada dusun. Dahulu kawasan masjid merupakan hutan belantara. Menurut cerita, Masjid Wonokerso kali pertama ditemukan Ki Ageng Tugu atau Tuhu Wono bersama pengikutnya, Ki Agung Serang dan Kiai Gozali, saat membuka hutan di wilayah Sembuyan (Wonogiri selatan).

Masjid Tiban Wonokerso
Dusun Tekil Kulon (Wonokerso ) RT 001/RW 005,
Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57673


Sejarah Lisan Masjid Tiban Wonokerso

Cerita yang berkembang, Masjid Tiban dibangun para wali. Saat itu wali diberi tugas Raja Demak untuk mencari kayu jati pilihan sebagai bahan baku saka guru Masjid Agung Demak. Saat itu Walisongo dipimpin Sunan Kalijaga menelusuri Bengawan Solo menuju Hutan Jati Donoloyo. Sesampainya di suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon jati Walisongo memutuskan untuk menghentikan pencarian. lantaran mereka meyakini itulah Hutan Jati Donloyo yang dimaksud.

Di situ mereka membangun sebuah masjid sebagai tempat beribadah sekaligus tempat bermalam. Namun setelah mengetahui ternyata kayu jati yang mereka cari tak jua ditemukan. Akhirnya Walisongo sadar bahwa tempat tersebut bukan hutan jati yang selama ini dicari. Sepakat mereka meninggalkan tempat itu berikut Masjidnya. Dan masjid yang mereka tinggalkan itulah yang diyakini sebagai Masjid Tiban Wonokerso dan kemudian ditemukan oleh Ki Ageng Tugu.

Dalam kaitannya dengan sejarah Kabupaten Wonogiri, disebutkan bahwa Raden Mas Said atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa pernah suatu saat bersembunyi di bawah kolong masjid ini dari kejaran tentara Belanda. Hal ini membuat penjajah Belanda yang mengejarnya merasa kehilangan jejak.

Arsitektur Masjid Tiban Wonokerso

Bangunan Masjid Tiban Wonokerso masih orisinil, bentuknya mirip seperti bangunan rumah panggung yang dianjang, namun menyerupai Masjid Agung Demak dengan ukuran 7,5 x 7,5 meter. Semua sambungan kayu menggunakan pasak kayu jati bukan paku besi. Keempat ompak yang merupakan soko guru, semua terbuat dari pokok kayu jati. Antara satu dengan lainnya berbeda, baik bentuk maupun karakter batang kayu serta ukurannya.

Interior Masjid Tiban Wonokerso.

Dalam ruangan Masjid Tiban Wonokerso, terdapat sebuah mimbar kayu jati tua dengan ukiran unik. Di sana-sini terdapat simbolisasi kebesaran Islam bintang Oktagonsegi delapan. Ukiran yang sama banyak ditemui di tiap sambungan kerangka masjid.

Bentuk Kubahnya sangat unik dan berbeda dengan Masjid pada umumnya, Masjid Tiban Wonokerso memiliki Kubah berbentuk mahkota raja yang terbuat dari tanah. Walaupun dari tanah, sampai saat ini Kubah Masjid tersebut belum menampakkan kerusakan, meski dimakan usia dan didera panas maupun hujan.

Masjid tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan dilindungi UU No. 11/2011 tentang Cagar Budaya. Hingga sekarang tempat ini tetapdipakai untuk sentra peribadahan kaum muslim di sekitarnya.

Perbaikan Masjid Tiban Wonokerso

Masjid berstruktur panggung itu pernah diperbaiki pihak berwenang. Satu dari empat saka guru atau tiang masjid sudah diganti kayu jati yang bentuknya serupa dengan saka guru aslinya. Bagian ventilasi atas juga ditambahi struktur kayu berkaca. Selain itu atap yang sebelumnya kayu jati diganti genting. Selebihnya seluruh bagian masjid masih asli, seperti mimbar dan dinding.

Pada 1982 dibangun struktur tambahan bagian depan yang sekarang berfungsi sebagai teras masjid. Sampai kini bagian dalam Masjid Tiban tetap bisa digunakan beribadah. Banyak jemaah dari berbagai daerah.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, November 12, 2017

Masjid Jamik Tiban Babussalam Probolinggo Peninggalan Syekh Maulana Ishaq

Masjid Tiban Babussalam Probolinggo

Masjid Tiban di Probolinggo ini dipercaya masyarakat setempat merupakan bangunan masjid tempat Syekh Maulana Ishaq melakukan Syiar Islam. Syech Maulana Ishaq, adalah ulama yang mengislamkan Samudera Pasai dan Blambangan, menikah dengan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu. dari pernikahan itu lahir seorang putera, bernama Ainul Yaqin atau Raden Paku yang dikenal dengan gelar Sunan Giri.

Masjid ini juga dipercaya hadir begitu saja dan warga sekitarnya tidak ada yang tahu kapan masjid tersebut dibangun, tiba tiba sudah berdiri kokoh di lokasi tersebut, dan karena itu masjid ini disebut masjid tiban. diperkirakan masjid ini sudah ada sejak tahun 1600-an (abad ke 17).

Masjid ini bukan satu satunya yang disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban karena tidak tahu siapa dan kapan dibangunnya dan dipercaya hadir begitu saja, sekonyong konyong dan tiba tiba. Selain masjid ini ada banyak masjid lainnya yang juga disebut masjid Tiban seperti Masjid Tiban di Pasuruan, Masjid Tiban Pangkah (gresik), Masjid Sunan Bonang di desa Bonang, Masjid Tiban Gedongmulyo atau Masjid Tiban di pinggir Kali Bagan desa Gedongmulyo Kec. Lasem, dan lain lainnya.

Masjid Jami' Tiban Babussalam
Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Pilang
Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo
Jawa Timur 67212 Indonesia



Masjid Tiban Babussalam ini kini terdiri dari dua bangunan, yakni bangunan asli yang berada di sisi barat dan bangunan masjid baru di sisi timur yang dibangun kemudian. masing masing dua bangunan ini memiliki bentuk dan gaya arsitektur yang sama sekali berbeda.

Bangunan asli atau bangunan lama Masjid Tiban Babussalam ini berukuran 9 x 9 meter dan berbentuk masjid tradisional Nusantara dengan atap limas bersusun dengan tembok dinding dari batu paras, sedangkan bangunan baru yang berada di sebelah timurnya merupakan bangunan masjid dengan rancangan modern berukuran sekitar 900 meter persegi.

Masjid ini diyakini sebagai tempat Syekh Maulana Ishaq melakukan Syiar Islam, hingga ke Banyuwangi. Hingga kini bangunan lama Masjid selalu didatangi warga untuk melakukan wisata religi.

Masjid Tiban Babussalam Probolinggo

Rancangan Masjid Tiban Babussalam

Rancang bangun Masjid Tiban tersebut juga masih menggunakan cara-cara kuno, seperti tembok pada bagian atap, menggunakan batu padas putih dan tidak memakai paku logam melainkan dari paku kayu, untuk merakitkan kayu satu dengan kayu yang lain.

Penyangga dalam Masjid, menggunakan kayu jati berukuran 40 kali 40 senti meter, dan di atasnya ada beberapa ukiran sederhana dan ventilasi. Di belakang Masjid, ada sebuah batu lempeng yang berukuran besar. Konon, batu tersebut dibuat Syekh Maulana Ishak untuk berkhotbah menyebarkan agama Islam.

Selain itu, ada sebuah sumur tua dan tanaman yang ada di sekitar masjid bisa menyembuhkan segala macam penyakit, maka tak jarang banyak musyafir yang selalu berkunjung ke Masjid tersebut.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga




Saturday, August 12, 2017

Masjid Sunan Muria

Komplek Makam dan Masjid Sunan Muria di puncak bukit muria.

Masjid Sunan Muria merupakan Masjid yang dibangun oleh Sunan Muria di puncak Bukit Muria sekitar 18 KM sebelah utara Kudus, Jawa Tengah. Kini masjid ini berada di komplek makam Sunan Muria. Lokasi masjid ini yang berada di ketinggian bukit Muria, membutuhkan upaya lebih bagi siapa saja yang hendak kesana. Rata rata mereka yang daaing ke masjid ini adalah para peziarah ke Makam kanjeng Sunan Muria yang merupakan salah satu dari Sembilan tokoh Wali Songo yang berada di lokasi yang sama.

Bukit Muria kini tidak sekedar tempat ziarah melainkan juga telah menjadi lokasi wisata karena memang menyuguhkan pemandangan yang cukup indah dari puncak bukit muria. Untuk mencapai lokasi pada ketinggian 600-800 meter ini pengunjung harus menapaki jejeran anak tangga mendaki yang teramat panjang.

Masjid Sunan Muria
Komplek Makam Makam Sunan Muria
Colo, Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59353, Indonesia


Jalan mendaki yang ditempuh memiliki kemiringan kurang lebih 25 hingga 35 derajat jalan mendakinya tertata rapih dari bebatuan dan dibuat undak-undakan anak tangga, Namun juga tersedia jasa ojek motor mengantar para  peziarah ke lokasi. 

Di sepanjang kanan kiri jalur pendakian juga banyak berdiri warung-warung kelontong. Mereka menjajakan berbagai macam barang dagangan. Mulai dari pakaian, sayur mayur, buah-buahan, makanan siap santap hingga botol-botol kosong air mineral.

Di gunung ini juga terdapat air terjun Montel yang cukup indah, beraneka jenis tanaman anggrek, aneka sayur, aneka buah, aneka umbi, makanan khas pecel dan sejumlah kerajinan dari kayu yang dijajakan oleh para pedagang di kiri kanan jalur menuju ke Masjid dan makam Sunan Muria. Di seputar Masjid dan makam Sunan Muria, kini juga sudah tersedia penginapan, tempat peristirahatan, warung makan dan minuman.

Tangga naik ke puncak bukit menuju makam dan Masjid Sunan Muria di Bukit Muria 

Komplek Masjid dan Makam Sunan Muria di Gunung Muria ini merupakan bagian terpadu dari kawasan wisata Colo dan kini dikembangkan oleh pemerintah sebagai lokasi objek wisata religi dan pada bulan Januari 2017 pemerintah setempat merencanakan membangun rest area bagi para pwziarah ke sana. Pembangunan tersebut termasuk menata kawasan ini untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.

Komplek masjid dan makam Sunan Muria di puncak gunung Muria ini selalu ramai dikunjungi peziarah setiap harinya. Pada hari hari besar Islam, pengunjung bahkan mencapai ribuan orang perharinya memadati tempat ini dan rela mengantri cukup panjang untuk berziarah sejak dimulai dari rute pendakian.

Interior Masjid SUnan Muria

Kunjungan Gusdur

Sampai tulisan ini dimuat, tercatat Presiden Republik Indonesia ke empat, KH Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur menjadi satu satunya presiden Republik Indonesia yang pernah berziarah ke makam dan Masjid Sunan Muria ini. Beliau berziarah kesana pada 13 April 2011.

Kunjungan Gus Dur Ke Makam dan Masjid Sunan Muria ini sebagai bagian dari rangkaian kunungan kerja beliau ke Demak. Sebelumnya beliau melaksanakan sholat Jum’at berjama’ah di Masjid Agung Demak, berdialoh dengan para petani juga menyempatkan diri bertemu dan berdialog dengan Tokoh spiritual muda Habib Jafar Assegaf serta Kiai Syaro’ni.

Referensi

Kompas terbit 14 April 2011

Baca Juga


Saturday, July 22, 2017

Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak

Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak merupakan bangunan tua bersejarah yang berada disisi timur Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu Demak, sementara kebanyakan peziarah masuk lewat selatan maka masjid ini mungkin seringkali terlewati. Akses masuk ke dalam Masjid bisa melalui lorong samping yang menuju ke Makam Sunan Kalijaga, atau lewat depan dengan menaiki sejumlah undakan.

Jika peziarah datang dari sisi timur ini, mereka bisa berwudlu di masjid, shalat sunat di sana, baru kemudian pergi berziarah ke makam dan sudah dalam keadaan suci. Masjid ini terlihat lebih kecil dibanding Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dan Masjid Agung Demak, dua masjid dimana Sunan Kalijaga ikut terlibat dalam pembangunannya.

Masjid Sunan Kalijaga
Desa Kadilangu, Kecamatan Demak Kota
Kabupaten Demak



Masjid Sunan Kalijaga di Kadilangu ini pada awalnya memang dibangun dimasa Sunan Kalijaga masih hidup sekitar tahun 1532, kala itu masih berupa Surau kecil. Setelah Sunan Kalijaga wafat dan digantikan oleh puteranya yang bernama Sunan Hadi (putera ketiga), surau tersebut disempurnakan bangunannya hingga berupa masjid seperti terlihat sekarang ini.

Pembangunan oleh Sunan Hadi dilakukan pada tahun 1534H sebagaimana disebutkan di sebuah prasasti yang terdapat di atas pintu masjid sebelah dalam yang berbunyi : "Meniko titi mongso ngadekipun masjid ngadilangu hing dino Ahad Wage tanggal 16 sasi dzul-hijjah tahun tarikh jawi 1456, (ini waktunya berdiri Masjid Kadilangu pada hari Ahad Wage tanggal 16 bulan Dzul-hijjah tahun tarikh Jawa 1456).

Masjid Kadilangu ini sudah beberapa kali mengalami perbaikan di beberapa bagian, sehingga banyak bagian bangunannya yang sudah tidak asli, terutama bagian luarnya. Selain tergolong masjid tua, masjid ini memiliki keunikan yang lain yakni mustaka yang atapnya mirip dengan berbagai masjid lama seperti Masjid Agung Demak, Masjid Agung Kauman Semarang serta banyak lagi, atap limasan itu bersusun dua. Di kubah terpasang pengeras suara yang difungsikan untuk mengumandangkan azan agar terdengar hingga ke pelosok daerah.

Interior Masjid Sunan Kalijaga

Di bagian serambi masjid terdapat dua buah beduk yang berfungsi sebagai penanda masuk waktu shalat. Dari dua beduk itu salah satunya yang berada di sebelah kiri masjid merupakan peninggalan Sunan Kalijaga. Bedug bersejarah itu hingga saat ini masih kuat dan terlihat kokoh. Di ruangan utama masjid terdapat empat saka guru atau tiang masjid yang semuanya masih asli dan terbuat dari kayu jati. Begitu pula pintu dan jendela masjid masih utuh dari kayu jati belum diganti.

Empat sokoguru penyangga atap berwarna kuning bergaris hitam di sudutnya, polos tanpa ornamen. Hanya bagian pengimaman yang terlihat cukup menarik dengan ornamen suluran yang anggun. Ruang utama Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu terlihat relatif sederhana, dengan, mimbar kayu jati dengan ukiran cantik, dan sejumlah lampu gantung.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Jauharotun Nafis diketahui bahwa arah kiblat masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak diketahui kemelencengannya sebesar 8,42 derajat. Tetapi respon tamir terhadap kemelencengan arah kiblat masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak kurang, karena menurut pandangan tamir masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak bahwa ijtihad Sunan Kalijaga dalam menetapkan arah kiblat tidaklah sembarangan, yakni menggunakan laku spiritual yang pasti tepat dan harus diikuti tanpa ada keraguan. Wallahu a’lam bishshowwab.***