Saturday, June 11, 2016

Masjid Al-Ikhlas Sijuk Tertua di Belitung

MASJID KEMBAR dua bangunan bersebelahan dengan bentuk yang serupa menjadikan Masjid Al-Ikhlas di Desa Sijuk, pulau Belitung ini seperti bangunan kembar.

Masjid Al-Ikhlas di Desa Sijuk ini dibangun tahun 1817 dan merupakan masjid tertua yang masih ada dan masih asli di Pulau Belitung. Masjid pertama yang berdiri di Belitung konon dibangun di kaki gunung Parang Bulu di Membalong, namun tidak jelas benar kapan tahun berdirinya dan apakah masih ada sisa jejaknya. Masjid Al Ikhlas ini juga merupakan saksi sejarah perjuangan rakyat Belitung melawan Belanda, yang pada saat itu masjid ini menjadi pusat komando perjuangan rakyat Belitung.

Jl. Penghulu, Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk 33451
Kabupaten Belitung, Propinsi Bangka Belitung


Masjid dengan arsitektur sederhana ini dikonservasi keasliannya hingga kini. Sebagian besar bangunannya menggunakan bahan kayu berdinding papan dengan cat warna coklat dengan atap limas berumpang dua. namun lantai masjid sudah diberi keramik lantai dan seluruh permukaan lantainya dipasang karpet sajadah. Mimbar kayu masjid yang kurus tinggi terkesan sangat sederhana, dan agak mistis, lantaran kain mori putih pucat yang menutup sisi kanan dan lantai mimbar, serta tiga buah bendera berbentuk segitiga yang juga berwarna putih menggantung di bagian depan. Sebuah tongkat putih yang biasa dipegang oleh khotib ketika berkhotbah tampak menyender pada sisi kiri mimbar.

Disebelah bangunan masjid terdapat bangunan aula pertemuan yang bentuknya hampir sama dengan bangunan masjid sehingga sekilas masjid Al-Ikhlas ini tampak seperti masjid kembar dua. Ukuran bangunannya tidak terlalu besar dengan denah bujur sangkar berukuran 8 x 8 meter. Mihrab masjid dibangun agak menjorok keluar dengan atap yang senada dengan atap bangunan utamanya, di bagian atas mihrabnya tertulis tanggal perbaikan masjid tersebut dalam aksara arab melayu “diperbaiki 1 Rajab 1370 Hijriyah”.

Di dalam Masjid Al-Ikhlas Sijuk

Sekitar 300 meter sebelah barat dari masjid kita akan melihat klenteng, menurut keterangan penjaga masjid dan klenteng dua tempat ibadah ini di bangun oleh orang Tionghoa pada tahun yang sama. Masjid adalah bangunan yang pertama selanjutnya baru Klenteng.
Dilihat dari bukti peninggalan sejarah kedua bangunan tersebut di atas digambarkan bahwa sejak dulu hingga sekarang ini kerukunan beragama di Belitung terjaga dengan baik, demikian juga keakraban antara penduduk Pribumi dan Tionghoa.

Keberadaan etnis Tionghoa di pulau Belitung ini sudah berlangsung sejak masa kesultanan Palembang. Di masa lalu wilayah Bangka dan Belitung merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Palembang. Sekitar tahun 1709, timah ditemukan di Pulau Bangka oleh orang-orang Johor. Setahun berikutnya tau tahun 1710 sumber-sumber Timah di Pulau Bangka dan Belitung dikelola oleh Kesultanan Palembang, untuk mengelola sumber Timah tersebut Sultan mendatangkan tenaga ahli pertambangan dari China.

Si timur Masjid Sijuk

Sejarah Islam di Sijuk
  
Pemerhati sejarah dan budaya Belitung Salim YAH menyampaikan teori yang lain tentang sejarah Islam di Belitung. Beliau mengatakan, pada abad ke-15 Sungai Sijuk diyakini menjadi pintu masuk rombongan panglima Ceng Ho. Sungai tersebut masih bisa dijumpai hingga kini. Jadi mungkin saja ada kaitan sejarah Islam di Sijuk dengan kedatangan Ceng Ho tersebut. Sungai Sijuk juga menyimpan panorama cantik pada bagian muaranya. Di sana terdapat pangkalan nelayan dan pantai pasir putih dengan hamparan batu granit. Tak jauh dari Sungai Sijuk juga terdapat Masjid Al-Ikhlas di Jalan Penghulu Desa Sijuk.

Menurut sumber yang lain, Islam masuk ke Belitung pada sekitar tahun 1520-an dengan datangnya seorang ulama asal Gresik bernama Datuk Mayang Gresik, menyusul keruntuhan Kerajaan Majapahit (1293 – 1500) yang digantikan oleh Kesultanan Demak (1475 – 1548). Datuk Mayang Gresik dikabarkan tinggal di Pelulusan, sekarang masuk Desa Nyuruk, Kecamatan Dendang, Belitung Timur.

Raja Majapahit, yang menguasai Belitung sejak 1293, mempercayakan kepemimpinan Belitung kepada panglima bergelar Rangga Yuda (Rangga Uda atau Ronggo Udo) dengan pusat pemerintahan di Badau. Belitung dibagi empat wilayah, yaitu Badau (Tanah Yuda / Singa Yuda, tempat raja), Buding (Istana Yuda, tempat pesanggrahan raja), Sijuk (Wangsa Yuda / Krama Yuda, tempat keluarga dan para abdi), dan Belantu (Sura Yuda, tempat suci atau keramat). Saat Datuk Mayang Gresik datang, yang berkuasa di Badau adalah Ronggo Udo yang ketiga.***