Saturday, April 22, 2017

Masjid Tengku Di Pucok Krueng Pidie Jaya

Masjid Kembar, demikian masjid ini seringkali disebut oleh masyarakat muslim setempat karena ada dua masjid yang bersebelahan, aslinya masjid tua yang sebelah kiri foto di atas adalah Masjid Tengku Dipucok Krueng.

Masjid satu ini memang terlihat tak biasa, ada dua bangunan masjid yang berdiri bersebelahan dan masing masing berdiri kokoh dengan gayanya masing masing. Satu bangunan masjid tradisional Nusantara dari bahan kayu dan terlihat sudah berusia cukup tua dan satu lagi bangunan masjid dengan bahan beton berlanggam modern. Masjid di kabupaten Pidie Jaya, ini adalah Masjid Tengku Di Pucok Krueng atau juga dikenal dengan nama masjid kembar.

Sepintar lalu tak ada yang istimewa dengan masjid ini, namun keunggulan arsitektur Nusantara pada masjid ini teruji manakala gempa gumi 7 Desember 2016 berkekuatan 6,5 Skala Richter menghantam Kabupaten Pidie Jaya, menyebabkan banyak bangunan yang roboh ataupun rudak parah, termasuk bangunan masjid modern yang dibangun bersebelahan dengan masjid kuno ini pun turut mengalami kerusakan parah, namun tidak dengan Masjid Tua Tengku Di Pucok Krueng ini yang mampu berdiri tegar tanpa kerusakan berarti.

Masjid Tgk Dipucok Krueng
Jl. Raya lintas Banda Aceh-Medan, Simpang Beuracan
Kemukiman Beuracan, Gampong Kuta Trieng
Kecamatan Meureudu, Kab, Pidie Jaya
Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia


Mesjid Teungku Dipucok Krueng

Masjid itu dinamakan sebagai Masjid Tengku Dipucok Krueng yang merupakan nama gelaran kepada pembangunnya Tengku Muhammad Salim, adapula yang menyebutnya Tengku Abdussalam atau Abdussalim, yang semasa hidupnya dikenal luas dengan nama Tengku Dipucok Krueng, karena beliau tinggal di “hulu sungai” Pucok Krueng, sehingga dikenal luas dengan nama Tengku Dipucok Krueng.

Beliau merupakan seorang ulama dari Madinah (Saudi Arabia) dan ahli pertanian. Beliau datang ke daerah Meureudu bersama dengan Tengku Japakah dan Malem Dagang, dalam rangka mensyiarkan ajaran Islam.

Masjid ini berdiri di atas lahan wakaf dari warga setempat dengan biaya sebagian besar berasal dari hasil pertanian. Tengku Abdussalim sendiri dengan keahlian-nya membuka lahan persawahan seluas 50 hektar dan tanah perkebunan di lingkungan mesjid seluas 6 hektar yang dijadikan aset milik pengelola masjid atau lazim disebut Tanoh Meusara yang dikelola untuk kemakmuran masjid.

Kerusakan paska gempa bumi 7 Desember 2016

Pembangunan masjid ini dilaksanakan pada masa kekuasan Sultan Iskandar Muda (1607 -1636M), Dimulai sekitar tahun 1622 atas kesepakatan masyarakat Beuracan, masjid ini didirikan tak jauh dari sungai, dengan pertimbangan memudahkan dalam pengambilan air wudhu untuk bersuci. Pada tahun 1947 masjid ini direhab dengan memperindah bangunan tanpa mengubah bentuk semula, hanya menambah dinding bagian belakang (sisi barat).

Masjid Tengku Dipucok Kreung awalnya merupakan masjid satu-satunya sekawasan ini, sehingga selain digunakan warga Beuracan juga digunakan oleh warga ditiga kemukiman (desa) yakni kemukiman Ulim, Pangwa, dan Beuriwueh. Selain membangun mesjid di Beuracan, Tengku Abdussalim juga diketahui membangun tiga masjid lain-nya, yakni; Masjid Kuta Batei, Masjid Madinah dan Masjid di Lampoh Saka Kabupaten Pidie.

Pada tahun 1990 dengan pengawasan bidang Permusiuman Sejarah Kepurbakalaan Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Daerah Istimewa Aceh, Masjid Beuracan direhabilitasi dengan memberikan dinding kayu berukir pada sekeliling masjid dengan yang dikerjakan oleh Utoeh Aiyub Desa Grong-Grong Beuracan. Hal tersebut dilaksanakan pada masa Prof. Dr. H. Ibrahim Hasan, MBA menjabat Gubernur provinsi Daerah Istimewa Aceh saat itu.

Beliau juga menyumbang sebesar Rp. 10 juta untuk keperluan rehabilitasi dimaksud. Selain itu pada saat shalat di masjid Teungku Di Pucok Krueng, beliau sempat meminta kepada pengurus masjid untuk melestarikan bentuk dan keaslian masjid Tengku Dipucok Krueng karena menganndung unsur keunikan dan menjadi bukti sejarah umat Islam di kemukiman Beuracan dan sekitarnya.

Arsitektur

Masjid Tengku Dipucok Krueng,  memiliki tiga atap tumpang yang terbuat dari seng, dinding yang terbuat dari kayu. Kini kayu-kayu aslinya sudah diganti dengan kayu lain yang diukir dengan motif Aceh. Sebanyak 16 tiang kayu digunakan sebagai penopang atap bagian atas. Masing-masing tiang tersebut berbentuk segi delapan. Lantainya terbuat dari semen.

Interior Masjid Tua Tengku Dipucok Krueng.

Pada sisi barat bangunan inti terdapat bagian yang menjorok keluar yang difungsikan sebagai mihrab. Di dalamnya terdapat sebuah mimbar dari tembok semen dengan cat putih dan atap dari tirap/kayu dengan pola hias sulur-suluran dan bunga. Didalamnya juga terdapat sebuah bedug yang terbuat dari kulit sapi dan batang pohon lontar. Bedug itu biasanya digunakan ketika Ramadhan tiba.

Guci Antik

Di kompleks masjid ini terdapat sebuah guci besar yang terisi air. Meski saat diisi air itu kotor, namun setelah diambil kembali ke dalamnya, airnya sudah sangat jernih.  Guci tersebut kini disemen dan tertanam didalam tanah, hanya bagian leher dan mulut gucinya yang nampak,  namun kain putih dipasang sebagai pembatas dan kain penutup tersebut.

Menurut pengurus masjid guci tersebut sempat berpindah tempat, dan ada aturan, air dalam guci tersebut tidak boleh diciduk oleh perempuan yang sedang haid. Kalau sempat diciduk, esok harinya air dalam guci tersebut harus diganti, karena airnya telah berbau busuk.  Guci tersebut disemen oleh pengurus masjid selain karena riwayat yang menyebut bahwa guci tersebut seringkali berpindah sendiri namun yang pasti warga juga khawatir guci ini dicuri orang-orang yang suka barang-barang antik. ***

Referensi