Sunday, April 9, 2017

Masjid At-Taqwa Masjid Jamik Kerajaan Matan

Masjid At-Taqwa Ketapang, sebelum dipindahkan ke tempat ini dulunya merupakan Masjid Jami Kerajaan Matan.

Kerajaan Matan adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di wilayah kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kerajaan ini pada masa jayanya memiliki satu masjid Jami’ yang merupakan masjid resmi kerajaan Matan. Masjid tersebut berada di kelurahan kauman, kecamatan Benua Kayong, kabupaten Ketapang. Meski sudah tidak asli namun bangunan masjid ini masih terpelihara dan digunakan dengan baik oleh muslim setempat dan kini disebut dengan Masjid At-Taqwa.

Kini Masjid ini juga sudah kehilangan statusnya sebagai masjid kerajaan sehingga kini tinggal kenangan sebagai masjid panembahan di masa Kerajaan Matan. Meski merupakan masjid kerajaan pada masanya, masjid ini tidak dibangun berdekatan dengan istana kerajaan. Sejarawan Dardi D Has menyebut, ketika pusat pemerintahan Ketapang berpindah dari Tanjungpura ke Mulya Kerta, bentuk pemerintahan kesultanan berubah menjadi kerajaan yang bersifat sekuler, dan itu salah satu penyebab pembangunan masjid ini tidak berdekatan dengan istana kerajaan.

Masjid At-Taqwa
Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Kauman
Kecamatan Benua Kayong Kauman, Benua Kayong
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat 78821

 

Ketapang merupakan salah satu kota pertama yang kerap disebut sebagai pintu masuk tersebarnya Islam di Kalimantan Barat. Salah satu jejak sejarahnya adalah Masjid At-Taqwa ini. Awalnya letak Masjid Jami At-Taqwa persis di pinggir Sungai Pawan. Masjid tersebut begitu tinggi, layaknya bangunan-bangunan di masa lalu, di mana untuk mencapai lantai dasar masjid, harus menaiki tangga yang cukup tinggi, namun karena erosi, maka kemudian masjid tersebut dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi.

Pemindahan masjid tua ke lokasi sekarang, berlangsung pada tahun 1950. Relokasi itu dirintis ulama besar Kampung Kauman, yang cukup lama bermukim di Mekah, H. Muhammad Ali Usman. Setelah pembangunan masjid selesai, Usman sempat mengajar di Darul Ulum. Ia wafat di Bandung, Jawa barat, 30 Maret 1988.

Dalam catatan warisan budaya di Kerajaan Tanjungpura, masjid dibangun pada masa pemerintahan Panembahan H. Gusti Muhammad Sabran yang memerintah Kerajaan Matan di Mulia Kerta pada tahun 1876-1909. namun bagian asli dari Masjid ini hanya tersisa satu batang bekas tiang saja. dam sejak dipindahkan ke lokasi baru, namanya pun berubah dari Masjid Jami’ Menjadi Masjid At-Taqwa.

Dulu, Imam Masjid Jami Kerajaan Matan Kampung Kaum adalah H. Muhammad Yunus yang bergelar Imam Maharaje berasal dari Tanjungpura dan selaku Mufti yakni H. Abdul Madjid bergelar Mulfi Setie Oegame Matan yang diangkat tahun 1903 M(1323 H).

Masjid At-Taqwa pada zaman Kerajaan Matan merupakan masjid satu-satunya yang ada di Ketapang. Masyarakat muslim dari Kampung Negeri Baru, Kampung Mulya Kerta, Kampung Arab, Kampung Tuan-Tuan, Kampung Banjar, Kampung Sungai Kinjil, Kampung Baru, Kampung Sukabaru, Kampung Mulia Baru, Kampung Kantor, Kampung Tengah, Kampung Sampit, serta Panembahan Sabran melaksanakan Salat Jumat di masjid tersebut.

Panembahan Sabran memerintah Kerajaan Matan setelah menggantikan Pangeran Perdana Menteri atau Pangeran Jaya Anom (1833—1845). Gusti Sabran kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Tanjungpura ke Mulya Kerta pada 1876. Di sini kemudian terjadi perubahan nama dari Kesultanan Tanjungpura menjadi Kerajaan Matan dengan kepala pemerintahan seorang panembahan.***

Referensi