Sunday, April 23, 2017

Masjid Baitul Musyahadah Banda Aceh

Masjid dengan kubah ini di kota Banda Aceh ini dikenal dengan nama Masjid Teuku Umar karena bentuk kubahnya yang dirancang seperti Kopiah Khas Aceh yang biasa dipakai oleh Pahlawan Nasional dari Aceh, Teuku Umar.

Masjid Baitul Musyahadah adalah salah satu masjid yang berada di kota Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh. Lokasinya berada di Jalan Teuku Umar, Desa Geuceu Kayee Jato, kota Banda Aceh, sekitar 3 km dari masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, dapat dicapai dengan mudah menggunakan moda angkutan kota yang di Banda Aceh terkenal dengan sebutan Labi Labi.

Masjid ini lebih dikenal dengan nama Masjid Teuku Umar/ Masjid Kupiah Meukeutop dikarenakan bentuk kubahnya yang mirip dengan “Kupiah Meukuetop”, Kopiah atau peci tradisional Aceh yang kerap digunakan oleh pahlawan nasional Teuku Umar sewaktu memimpin perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Dengan arsitektur yang unik ini tak mengherankan jika masjid ini menjadi salah satu daya tarik dari kota Banda Aceh.

Masjid Baitul Musyahadah
Jl. Teuku Umar, Geuceu Kayee Jato
Banda Raya, Kota Banda Aceh
Aceh 23232 Indonesia


Meskipun terletak di samping pusat perbelanjaan Suzuya Mall, tak membuat pesona etnik dari masjid ini memudar. Kupiah meukotop sendiri memiliki arti filosofi yang cukup mendalam bagi masyarakat Aceh. Terutama dalam melambangkan reusam (aturan adat), adat istiadat, hukum Islam, dan juga qanun (peraturan daerah). Selain itu, masjid ini juga dipilih masyarakat setempat dalam melambangkan kegigihan perjuangan pahlawan asal Tanah Rencong, Teuku Umar.

Berawal Sebagai Masjid Al-ikhlas

Masjid Baitul Musyahadah pada awalnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat muslim setempat dengan nama Masjid Al Ikhlas pada tahun 1989. Kemudian diubah namanya menjadi Masjid Baitul Musyahadah pada tahun 1993. Rancangan masjid ini ditangani oleh seorang cendekiawan terkemuka di Aceh, Ali Hasjmy.

Beliau merancang masjid ini berdenah segi lima sebagai gambaran dari rukun Islam yang harus diamalkan oleh seluruh jemaah masjid. Bentuk segilima juga tentu saja merupakan perlambang dari Pancasila, dasar Negara Republik Indonesia. Bentuk dasar segi lima masjid ini terlihat dengan jelas bila dilihat dari udara.

Nuansa tradisional Aceh bertaburan di masjid ini, dari bagian luar, kubah berbentuk kopiyah Meukuetop di atap masjid ini memang dibangun dan diberi ornamen sesuai dengan hiasan pada kopiyah asli tradisional masyarakat Aceh tersebut. Kubah yang sama berukuran kecil juga ditempatkan di dalam masjid di bagian atas mimbar.

Sisi Mihrab di dalam Masjid Baitul Musyahadah

Dari segi arsitektur Masjid Baitul Musyahadah dibangun dua lantai yang ditopang dengan puluhan tiang besar dan kokoh. Bila dilihat dari luar, masjid yang berdiri di lahan sekitar 3 Ha ini memiliki beberapa fasilitas. Seperti tempat whuduk laki-laki dan perempuan yang representatif dan lahan parkir yang luas. Ornamen-ornamen khas Aceh banyak dipajang di dinding depan Masjid Baitul Musyahadah.

Selain itu, masjid ini juga memiliki pintu unik yang terbuat dari besi. Ada empat buah pintu Aceh (Pintoe Aceh) dalam ukuaran besar. Dua di samping kiri mihrab dan dua lainnya di samping kanan. Empat Pintoe Aceh yang melambangkan adat keacehan posisinya kontras terpajang di dinding utama masjid dalam balutan kuningan.

Sesaat menjejakkan kaki di depan pintu masuk, langsung merasakan suasana berbeda. Adem, nyaman dan syahdu. Lantainya yang beralaskan marmer berkualitas tinggi, memberi rasa dingin dan segar di kulit. Di bagian mihrab latar belakangnnya di cat warna hijau. Ada tulisan “Allah” dalam bahasa Arab berukuran besar di sisi dalam mihrab. Tak jauh dari mirab ada satu mimbar, meski tampak tak terlalu besar, namun warna dan ukirannya sangat indah. Ada juga dua buah “jam berdiri” di sisi kanan dan kiri mihrab.

Masjid Baitul Musyahadah dari samping.

Sebagai sarana publik, Masjid Baitul Musyahadah punya fungsi sosial kemasyarakatan. Masjid ini sering juga dipakai sebagai tempat melangsungkan pernikahan, kegiatan Isra’ Mikraj, kenduri sampai menjadi tempat persinggahan jamaah tabligh. Bahkan di beberapa sudut pintu keluar, kerap terlihat beberapa pria bersorban dengan pakaian gamis menajajakan berbagai barang dagangannya.

Dalam kesehariannya, masjid ini juga dipakai untuk mendirikan shalat jamaah lima waktu. Untuk mendukung kegiatan itu, pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) telah menetapkan jadwal imam dan muazin. Salah satu imam yang juga kerap memimpin shalat jamaah adalah Ustaz Zamhuri Al Hafiz, yang merupakan imam Masjid Raya Baiturrahman.

Masing masing ada sekitar tujuh orang imam dan muazin yang menjalankan tugasnya secara bergantian Masjid Baitul Musyahadah juga menjalankan beberapa kegiatan berwawasan keislaman seperti pengajian. Misalkan ada pengajian fiqih, yang digelar pada Senin malam. Pengajian ini diasuh Ustaz Thamlica Hasan Lc. Pengajian yang sama untuk ilmu tauhid juga dilakukan pada Kamis malam di bawah asuhan Ustaz Samsul Bahri M Ag.

Selain program wawasan keislaman, juga ada beberapa kegiatan keorganisaian lainnya yang berada di bawah BKM. Seperti taman kanak-kanak alquran (TKQ), taman pendidikan alquran (TPQ) dan ta’limul qur’an lil-aulad (TQA) serta baitul mal. Semua oraganisasi ini bermarkas di Masjid Baitul Musyahadah.***

Referensi