Showing posts with label Masjid di Pati. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Pati. Show all posts

Saturday, May 6, 2017

Masjid Jami' At-Taqwa Tawangrejo dan Mastaka 5 Abad

Masjid Jami' At-Taqwa Tegalrejo sebelum renovasi.

Tawangrejo adalah sebuah desa di kecamatan Winong, kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lokasinya berada sekitar 10 KM ke arah tenggara dari pusat kota Pati. bila melalui ruas jalan Raya Pati Gabus dengan kendaraan pribadi sekitar 20~30 menit. Di desa ini terdapat sebuah masjid berusia tua yang memiliki hubungan erat dengan masjid tertua di kabupaten Pati, Masjid Baiturrohim Gambiran, di dukuh Gambiran Desa Sukoharjo, Kecamatan Margorejo.

Saat ini Masjid At-Taqwa sedang dalam proses renovasi dan perluasan seiring dengan kebutuhan Jemaah. Rencananya masjid ini akan dibangun dua lantai, namun tetap mempertahankan struktur bangunan lama-nya sebagai sebuah kearifan demi menghargai perjuangan dan amal jariyah dari kaum muslimin sebelumnya yang telah membangun masjid tersebut.

Masjid At Taqwa Tawangrejo
Jl. Gabus Winong, Desa Tawangrejo, Kec. Winong
Kabupaten Pati, Jawa Tengah 59181
Indonesia



Mastaka Berusia 5 Abad dari Masjid Baiturrohim Gambiran

Bagian paling bersejarah pada Masjid Jami’ At-Taqwa di desa Tegalrejo ini adalah bagian mastaka masjidnya. Mastaka atau mahkota masjid adalah ornamen hias yang diletakkan di ujung atap utama masjid. Bagi saudara saudara muslim kita di gugus kepulauan Maluku, mastaka merupakan bagian sakral dari sebuah masjid dan proses pemasangannya pun melalui sebuah prosesi khusus, dan di Maluku Mastaka masjid disebut sebagai Tiang Alif.

Mastaka masjid Jami At-Taqwa di desa Tegalrejo ini menurut sejarahnya merupakan mastaka asli dari Masjid Baiturrohim di dukuh Gambiran yang merupakan Masjid tertua di kabupaten Pati yang kemudian dipindahkan ke Masjid Jami desa Tegalrejo di sekitar tahun 1885. sedangkan masjid Gambiran sendiri dibangun tahun 1445 oleh Mbah Cungkrung. Konon mastaka tersebut dibuat sendiri oleh Mbah Cungkrung dari tanah liat.

Mastaka masjid Jami' At-Taqwa yang berasal dari Masjid Baiturrohim Gambiran, Masjid tertua di Kabupaten Pati. Mastaka ini diperkirakan telah berumur lebih dari lima abad atau seusia dengan umur Masjid Baiturrohim Gambiran.

Pada masa itu Dukuh Gambiran dengan Masjid Baiturrohimnya merupakan pusat pengembangan Islam di wilayah kabupaten Pati, begitu banyak orang yang datang kesana untuk belajar Islam kepada Mbah Cungkrung yang mengajar di Masjid Tersebut termasuk para pemuda dari Desa Tegalrejo, yang kemudian menjadi pelopor penyebaran Islam di Kampung halaman mereka.

Disebutkan bahwa Masjid Baiturrohim Gambiran mengalami proses renovasi di masa pemerintahan Bupati Pati Kanjeng Raden Ario Candrahadinegoro di tahun 1885. Renovasi dan perbaikan terhadap masjid Baiturrohim tersebut termasuk juga mengganti atap dan mastaka masjid dan diganti dengan yang lebih besar. Pada mulanya, mastaka tersebut diminta oleh salah seorang santri yang berasal dari Desa Winong dan kemudian dipasangkan di masjid Jami Desa Winong, namun nahas, tak lama setelah pemasangan mastaka, masjid desa Winong ambruk. Mastaka tersebut kemudian dipindahkan ke Masjid Jami Desa Tegalrejo dan bertahan hingga kini.

Renovasi Masjid Jami' At-Taqwa Tawangrejo.

Desa Tawangrejo sejak masa itu hingga saat ini merupakan salah satu pusat pengembangan agama Islam di kabupaten Pati. Tawangrejo yang jauh dari pusat kota memiliki beberapa madrasah mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah (SD) hingga Madrasah Aliyah (SMA). Masyarakat sekitar Kecamatan Winong berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke madrasah-madrasah di Desa Tawangrejo. Beberapa kali masjid Tawangrejo direnovasi, tetapi kubah tetap dipertahankan sebagai bentuk pengakuan dan pengingat bahwa perkembangan agama Islam berasal dari Gambiran, warga Tawangrejo juga mengakui Mbah Cungkrung merupakan leluhur mereka.

Sejak tahun 2016 yang lalu Masjid Jami’ At-Taqwa Tegalrejo ini mengalami proses renovasi kesekiankalinya, namun kali ini proses renovasi dilakukan besar besaran dan rencananya akan dibangun dua lantai. Mastaka asli masjid ini pun kemudian di turunkan dengan hati hati untuk kemudian akan dipasangkan lagi di puncak atap utama masjid setelah proses renovasi selesai dilaksanakan.

Sebagai sebuah masjid Jami Desa, Masjid Jami At-Taqwa Tawangrejo ini menjadi tempat pelaksanaan upacara pelepasan dan penyambutan Jemaah haji dari desa Tawangrejo, dan acara tersebut sudah mentradisi di desa ini. Para Jemaah calon haji yang akan berangkat di lepas oleh karib kerabat, tokoh masyarakat dan para alim ulama di masjid ini, demikian pula penyambutan kedatangannya.

Bagian dalam Masjid Jami' At-Taqwa sebelum di renovasi
Masa depan Masjid Jami' At-Taqwa Tegalrejo. 

Referensi




Sunday, April 30, 2017

Masjid Baiturrohim Gambiran, Tertua di Kabupaten Pati

Masjid Baiturrohim Gambiran, pada masanya merupakan masjid utama di Kabupaten Pati sebelum kemudian pusat Ke-Islaman berpindah ke Masjid Agung Baitunnur. Prasasti pembangunan Masjid Agung Baitunnur masih tersimpan di masjid ini.

Masjid Baiturrohim Gambiran ini merupakan salah satu masjid tertua di Jawa Tengah, khususnya di wilayah kabupaten Pati. Riwayat masjid ini juga bersinggungan erat dengan sejarah Masjid Agung Baitunnur Pati. Tonggak sejarah Masjid Agung Baitunnur Pati tersebut berupa sebuah prasasti pembangunannya justru tersimpan di masjid Gambiran Baiturrohim ini. Meskipun kurang populer, tidak berada dipusat keramaian serta bukan masjid berukuran besar, Masjid Gambiran Baiturrohim ini merupakan Masjid Tertua di Kabupaten Pati.

Gambiran, tempat masjid ini berada, disebut sebut sebagai pusat penyebaran dan pengembangan Islam di Wilayah Pati di abad ke 19. Gambiran merupakan salah satu pedukuhan di Desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati. Di Gambiran, berdiri sebuah Masjid tua yang masih berdiri kokoh hingga kini dan beberapa komplek pemakaman muslim berusia tua.

Masjid Gambiran Baiturrohim, Pati
Dukuh Gambiran, Desa Sukoharjo, Kec. Margorejo
Kabupaten Pati, Jawa Tengah 59163
Indonesia



Saat ini Masjid Gambiran berdiri, berhadapan dengan Gedung TPQ Miftahul Huda, di sebelah di sisi utara bangunan masjid terdapat makam kuno para mendiang penghulu Kabupaten Pati sedangkan di sisi selatannya terdapat gedung Yayasan Baiturrohim. Masjid menjadi penanda pertama kali Islam masuk di wilayah Pantura Kabupaten Pati.

Masjid Tertua di Kabupaten Pati

Usia Masjid ini sampai saat ini telah berumur lebih dari lima abad. Itu jika dilihat dari tahun pembuatan yang tertuang dalam Prasasti Gambiran, yakni 9 Oktober 1445 yang oleh penduduk dikatakan sebagai Masjid wali. Keberadaan Masjid Baiturrohim di Desa Gambiran ini merupakan bukti sejarah tentang penyebaran agama Islam di wilayah Pati. Dari Masjid inilah, Islam akhirnya berkembang pesat ke seluruh pelosok desa di Kabupaten Pati. Adalah Mbah Cungkrung yang merupakan tokoh penyebar Islam di kabupaten Pati yang disebut sebut sebagai pembangun masjid ini pertama kali.

Bangunan asli Masjid Baiturrohim Gambiran.

Masjid Gambiran memiliki arsitektur kuno, beratap limas bersusun, seperti Masjid Agung Demak dan Masjid Cirebon. ada empat soko guru di tengah tengah ruang dalam masjid sebagai penopang struktur atap, dilengkapi dengan jendela yang berada di depan dan di belakang, serta di samping. Bangunan asli masjid ini awalnya terbuat dari kayu, baru pada tahun 1885 dipugar menggunakan bangunan tembok.

Disamping kiri Masjid terdapat sebuah kolam yang berfungsi sebagai tempat berwudhu. Dahulu, ketika Masjid Gambiran masih digunakan sebagai tempat untuk menikah, maka para penganten sebelum memasuki Masjid, terlebih dahulu membasuh kakinya di kolam, sehingga sampai saat ini keberadaan kolam ini tetap dipertahankan. Sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Gambiran, Masjid ini dahulu pernah menjadi Masjid besar kabupaten Pati. 

Komplek makam Keluarga Penghulu Kauman Pati, disamping Masjid Baiturrohman Gambiran.

Telah banyak perubahan yang terjadi pada bangunan Masjid Baiturrohim ini, antara lain atap yang dahulu terbuat dari ijuk kini telah diganti dengan genteng tanah, dinding yang sebelumnya dari kayu kini berubah menjadi tembok semen serta lantai yang kini sudah berkeramik. Meski demikian masih ada sisa-sisa bagian asli yang dapat ditemukan di Masjid ini.

Antara lain bentuk atap bersusun, Mimbar khotib yang terbuat dari jati kuno juga masih utuh seperti aslinya serta tabung bedug di halaman Masjid yang tetap terawat hingga sekarang. Selain itu, pintu dan jendela yang dibuat dari pahatan alat pertukangan kuno juga masih asli seperti semula.

Renovasi Masjid Baiturrohim Gambiran

Sementara sebuah catatan dengan huruf Arab di atas pintu depan. Catatan tersebut biasa disebut “Prasasti Gambiran” menyebutkan pada tahun 1885 Masjid Gambiran direnovasi oleh Bupati Pati Kanjeng Raden Ario Candrahadinegoro. Dalam renovasi ada sesuatu yang sangat mendasar, yakni pergantian kubah. Dan kubah yang diganti kemudian dipasangkan pada masjid Tawangrejo. Berikut ini bunyi Prasasti Gambiran selengkapnya:

DUA PRASASTI. Prasasti pembangunan Masjid Agung Baitunnur ditempatkan di atas jendela, dan Prasasti Gambiran tentang renovasi masjid ini ditempatkan di atas pintu. Foto Kiri bawah adalah mihrab dan mimbar Masjid Baitrurrohman Gambiran.

Penget pendamelanipun Masjid Dusun Gambiran Distrik Nagari Pati, panuju Panjenenganipun Bupati Nagari Kanjeng Gusti Pangeran Hariyo Condro Hadinagoro rider daerah saking Nadherland seloyo soho medali jenis songsong gelap + Penghulu Imam Nagari Pati Mas Haji Thoyib

Awit nduduk siti ing dinten Kamis Wage tanggal 29 Dulhijah tahun Za’ Hijrah Nabi 1302 warsa Jawi 1807 utawi tanggal 9 Oktober 1885 lan dadosipun pindah wau masjid ing dinten Jumat Kliwon tanggal 27 Jumadil Akhir tahun Dal Hijrah Nabi 1303 warsa Jawi 1808 utawi tanggal 2 April 1886.

Beberapa meter dari lokasi Masjid terdapat makam tokoh Islam yang dikenal dengan nama Mbah Cungkrung. tokoh yang menyebarkan agama Islam di Gambiran. Selain Beliau, tokoh tokoh lain yang menyebarkan Islam di Gambiran termasuk Mbah KH Muhammad Hendro Kusumo, Mbah Kyai Sholeh, Mbah Murtomo.***

Referensi



Saturday, March 18, 2017

Masjid Agung Baitunnur Pati, Jawa Tengah

Berdiri megah menghadap ke Alun Alun Kota Pati di Jawa Timur, Masjid Agung Baitunnur ini merupakan salah satu karya arsitek kawakan Prof. Muhammad Nu'man.

Masjid Agung Baitunnur merupakan masjid agung Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Lokasinya beada di sisi barat alun alun di pusat kota Pati, tempat yang lebih dikenal dengan nama Simpang lima. Di sisi utara alun alun kota Pati ini berdiri terdapat Kantor Bupati Pati dan Gedung DPRD Kabupaten Pati. Masjid ini juga dilengkapi dengan Gedung Islamic Center Kabupaten Pati yang berada di bagian belakang masjid, terhubung teras dan kolam yang beralaskan tatanan batu batu kerikil yang memberikan efek refleksi telapak kaki bagi siapa saja yang melaluinya.

Hampir keseluruhan bangunan masjid ini mengkombinasikan dengan apik apik antara marmer putih pada lantai dan dinding bagian depan yang berpadu dengan ornamen kayu berwarna coklat. Masjid Agung Baitunnur ini merupakan salah satu karya dari maestro arsitek Indonesia, Prof. Muhammad Nu’man yang dikenal luas dengan karya karyanya termasuk Masjid Indonesia di Bosnia Herzegovina, Masjid Agung At-Tien, Masjid Islamic Center Jakarta dan masih banyak lainnya.

Masjid Agung Baitunnur Pati
Pati Kidul, Kec. Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah 59114
situs resmi : masjidagungpati.com



Sejarah Masjid Agung Baitunnur Pati

Masjid Agung Baitunnur Pati dibangun pertama kali oleh Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro yang bernama asli Raden Bagus Mita. Yang berkuasa tahun 1829-1895 M. Pembangunan Masjid Baitunnur ini dimulai pada tahun 1261 H atau 1845 M sebagaimana dijelaskan dalam prasasti berbentuk kaligrafi milik Masjid Agung Baitunnur Pati yang sekarang berada di Masjid Gambiran. Kaligrafi tersebut berbunyi: “ibtidaa’u binaa’i hadza al-masjid fii sanah 1261 H / 1845 M”. (artinya: Awal Pembangunan Masjid ini adalah pada Tahun 1261 Hijriyah bertepatan dengan Tahun 1845 Masehi)

Dahulu Atap Masjid berundak seperti Masjid Agung Demak dan masjid-masjid kuno di Jawa Tengah yang dibangun oleh para wali, berupa atap limas (seperti piramida) bersusun atau berundak undak yang terdapat di rumah-rumah jawa kuno, bentuk atap seperti itu memang merupakan bentuk khas masjid masjid tua tanah Jawa yang kini sudah menjadi ciri khas arsitektur masjid Nusantara.

Kemudian pada tahun 1289 H / 1969 M atau 124 tahun seteah pembangunannya, masjid Agung Baitunnur Pati direnovasi. Sebagaimana dijelaskan pada Tulisan Arab di sebelah kiri Prasasti Kaligrafi yang sama yang berbunyi “tajdiid wa tausii’u hadza al-masjid fii sanah 1389 H / 1969 M” (artinya: renovasi dan perluasan Masjid ini adalah pada Tahun 1389 Hijriyah yang bertepatan dengan Tahun 1969 Masehi), Pada masa itu Kabupaten Pati berada dibawah kekuasaan A.K.B.P. Raden Soehargo Djojolukito (menjabat tahun 1967-1973 M).

Perjalanan metamorfosis Masjid Agung Pati

Bentuk bangunan masjid berubah, atap masjid yang sebelumnya tanpa kubah kemudian memiliki kubah di atasnya. Atap berundak masjid masih dipertahankan. Menara depan masjid yang sebelum renovasi berdiri gagah sudah tidak tampak lagi.

Rancangan Prof. Muhammad Nu’man

Pada tahun 1979 masjid Agung Baitunnur Pati direnovasi untuk kedua kalinya di akhir Jabatan Bupati Kol. Pol. Drs. Edy Rustam Santiko (menjabat Bupati dari Tahun 1973-1979 M). Pembangunan Selesai pada tahun 1980 M yang pada saat itu Bupati Pati dijabat Kol. Inf. Panoedjoe Hidayat. Desain masjid pada renovasi kedua ini dilakukan oleh Nu’man dari ITB Bandung. Desain Masjid Agung Baitunnur Pati berubah total dari desain sebelumnya.

Desain Masjid Agung Pati yang sebelumnya berundak dan berkubah, setelah direnovasi pada 1979 M, atap Masjid tidak lagi berundak dan juga tidak lagi berkubah. Rancangan bangunan Masjid tersebut terkesan desain minimalis dan bertahan sampai sekarang ini. Sebuah menara tunggal kini juga berdiri kokoh dan menjulang disamping bangunan utama masjid.

Interior Masjid Agung Pati, Lain dari pada yang lain.

Mimbar Kuno Masjid Agung Baitunnur

Masjid Agung Baitunnur Pati juga memiliki mimbar unik dan kuno yang berumur sekitar 160 tahun. Mimbar ini adalah hadiyah atau pemberian Raden Adipati Aryo Condro Adinegoro 9 tahun setelah pembangunan Masjid. Di dalam mimbar tersebut terdapat prasasti bertuliskan huruf Arab Pegon.

Bunyi teks pada Prasasti tersebut adalah: “yasa dalem kanjeng raden hadipati harya tjandra adhinegara ing mimbar masjid negari pati punika (wulan) jumadal awwal (tahun) dal (tahun) alfun wa mi´ataini wa sab’una (1270 H) utawi (wulan) januari tahun 1854 M”

(artinya: karya/pemberian Kanjeng Raden Adipati Aryo Condro Adhinegoro berupa mimbar Masjid Negara Pati pada Bulan Jumadil Awwal tahun Dal tahun seribu duaratus tujuh puluh hijriyah (1270 H) bertepatan dengan Bulan Januari tahun 1854 M).

Referensi