Showing posts with label Masjid di Sulawesi Selatan. Show all posts
Showing posts with label Masjid di Sulawesi Selatan. Show all posts

Sunday, June 22, 2025

Masjid Besar Taqwa Tompong Warisan Dari Masa Kerajaan Bantaeng

Masjid Besar Taqwa Tompong 
 
Masjid Besar Taqwa Tompong adalah masjid tua yang berdiri kokoh di Kampung Tompong, Kelurahan Letta, kecamatan Bantaeng kabupaten Bantaeng provinsi Sulawesi Selatan. Selain dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Butta Toa (julukan bagi daerah Bantaeng), masjid ini juga menjadi saksi bisu sejumlah pertemuan raja, pemangku adat dua belas, serta aktivitas penyebar agama Islam di Bantaeng, pada masa lalu.
 
Sebagaimana ditulis di papan nama dibagian depan masjid, Masjid Besar Taqwa Tompong dibangun pada 27 Rabiul Akhir 1302 Hijriah bertepatan dengan tanggal 8 Februarui 1885 Masehi pada masa kekuasaan Kerajaan Bantaeng, salah satu kerajaan yang pernah berdiri di Sulawesi Selatan. Masjid Besar Taqwa Tompong ini memiliki peninggalan masa lalu berupa Al-Qur’an tulisan tangan.
 
Masjid Besar Taqwa Tompong
Jl. Bete-Bete, Letta, Kec. Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan 92411
 
 
Sejarah Masjid Besar Taqwa Tompong
 
Masjid Besar Taqwa Tompong bermula dari sebuah langgar yang dibangun tahun 1885 atas prakarsa para pemangku adat dua belas atas persetujuan Raja Bantaeng, Karaeng Panawang (1877-1913), yang merupakan raja pertama Bantaeng. Langgar tersebut menjadi tempat beribadah umat Islam, dan melakukan pengajian, serta kegiatan-kegiatan penyebaran Islam.
 
Tempat ini juga kerap digunakan raja bersama para pemangku adat untuk melakukan pertemuan dan rapat. Langgar tersebut yang kemudian dibangun menjadi Masjid Besar Taqwa Tompong dalam kurun waktu 1887 – 1913.
 
Masjid Besar Taqwa Tompong sebelum dilengkapi kanopi beranda.

Bangunan Masjid ini berdiri diatas tanah wakaf dari La Bandu seorang sudagar
asal Wajo Kabupaten Sengkang yang menetap dan menikah dengan perempuan Bantaeng. Selain mewakafkan tanahnya. La Bandu juga turut mendanai pembangunan masjid ini yang dirancang oleh La Pangewa seorang arsitek yang didatangkan dari Bone oleh La Bandu.
 
Arsitektur Masjid Besar Taqwa Tompong
 
Bentuk dasar bangunan utama Masjid Besar Taqwa Tompong ini mirip dengan Masjid Tua Palopo dan Masjid Al-Hilal Katangka. Bagian yang paling khas dari masjid ini terdapat pada mastaka dipuncak atap masjid yang dihias dengan sebuah guci dari era Dinasti Ming – China.

Bangunan utamanya berdenah segi empat dengan atap limas bersusun tiga. Bangunannya sarat dengan simbol-simbol filosofis, Di dalam masjid ada empat pilar (sokoguru) beton berukuran 80x80cm, berarti empat sahabat Nabi Muhammad saw, yaitu Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab,Usman bin Affan, dan Ali Bin Abu Thalib.
 
Interior Masjid Besar Taqwa Tompong dengan empat pilar beton, mihrab dan mimbar.

Langit-langit masjid memiliki 17 balok rangka menandakan 17 rakaat sholat lima waktu. Lima pintu masjid menyimbolkan lima rukun Islam, dan enam jendela, menyimbolkan enam rukun iman. Sejak dibangun, bentuk masjid yang sarat filosofis tersebut tak pernah diubah.
 
Berdiri di atas lahan 857 meter persegi. Bangunan berukuran panjang 31,5 M x lebar 21 M x Tinggi 16 meter. Terdiri dari tiga lantai. Saat ini lantai  kedua dan ketiga tidak lagi difungsikan. Sebelumnya digunakan sebagai tempat belajar agama dan mengaji bagi anak-anak setempat, dan juga tempat muazin mengumandangkan azan.
 
Tinggalan masa lalu di masjid ini masih terdapat sebuah mimbar khutbah yang terbuat dari kayu bayam berukit dihiasi relief dan kaligrafi yang berasal dari Singapura, lalu juga ada Kitab Suci Al-Qur’an tulisan tangan dan dua perangkat pengeras suara untuk azan yang berbentuk seperti terompet terbuat dari kayu dan besi.
 
Masjid Besar Taqwa Tompong. Kiri atas : atap limas bersusun tiga. Kanan atas : Guci dari era dinasti Ming menjadi mastaka dipuncak atap masjid. Kiri bawah: tangga menuju lantai atas. Kanan bawah : lantai atas masjid yang terbuat dari kayu. 

Untuk mengurangi dampak cuaca dan mencegah kerusakan dan memudahkan perawatan, kini tembok masjid ini ditutup dengan tegel begitupun dengan empat pilar (sokoguru) yang berdiri ditengah ruangan masjid.
 
Dimasa kini masjid Besar Tampong telah dilengkapi dengan sebuah bangunan menara tinggi berdenah segi empat dengan atap juga berbentuk atap limas (kerucut) beberapa corong pengeras suara ditempatkan disana dibawah atap. Sehingga muazin tak lagi menyuarakan azan dari lantai tiga masjid ini.
 
Cagar Budaya
 
Masjid Besar Tampong juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX melalui Surat Keputusan Bupati Bantaeng nomor 410/406/VIII/2019.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
  
Rujukan
 
Arsitektur Masjid Tampong Sebagai Hasil Akulturasi / Sufyan, Jurusan sejarah dan kebudayaan islam fakultas adab dan ilmu budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta:
 

Sunday, June 8, 2025

Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone Takalar

Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone saksi bisu penyebaran Is;lam di Takalar.
 
Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone adalah salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan. Lokasinya berada di Dusun Sanrobone, Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, provinsi Sulawesi Selatan.
 
Lokasinya berjarak sekitar 45 kilometer dari Kota Makassar. Bahkan ada versi cerita mengatakan masjid ini lebih tua dari masjid paling tua yang diakui saat ini, Masjid Tua Katangka (1603 M), di Kabupaten Gowa.
 
Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone
Dusun Sanrobone, Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar, provinsi Sulawesi Selatan 92231
 
 
Masjid tua ini berdiri bersebelahan dengan komplek makam raja raja Sanrobone yang berada tepat di sisi selatan masjid menjadi penanda utama bahwa masjid ini memiliki keterkaitan sejarah dengan kerajaan Sanrobone yang pernah ada disana. Sisi barat atau bagian belakang masjid ini juga dipenuhi makam makam tua.
 
Arsitektur Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone
 
Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone diapit oleh dua ruas jalan raya di sisi barat dan timurnya. Sisi timurnya memiliki halaman yang cukup luas tempat dimana pintu utama berada. Masjid ini juga dapat diakses dari ruas jalan disebelah timurnya dengan melalui komplek pemakaman tua dibelakang masjid.
 
Bersebelahan dengan komplek makam para raja Sanrobone. Menariknya cungkup cungkup makam (bewarna putih dekat menara) bentuknya sama persis dengan cungkup makam para raja Gowa di komplek Masjid Tua Al-Hilal Katangka.

Terdiri dari bangunan utama dan satu menara tinggi ditambah dengan area tempat wudhu. Bangunan utama mesjid ini berdenah bujursangkar berukuran 10x10 meter dengan atap limas bersusun tiga sebagaimana bangunan khas masjid masjid Nusantara. Sekilas pandang tak terlihat kekunoan dari bangunan masjid ini mengingat seluruh bangunannya sudah didominasi bangunan beton.
 
Bangunan utama ini kemudian ditambahkan bangunan baru disisi depan-nya (sisi barat) dengan bangunan teras dan beranda menghadap ke pekarangan. berdasarkan rekaman foto foto yang ada, bangunan tambahan tersebut setidaknya ditambahkan setelah tahun 2017.
 
Sisi belakang Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone.

Bangunan utama masjid ini dibangun cukup tinggi dari permukaan tanah dilengkapi dengan enam anak tangga. Struktur atapnya ditopang oleh empat pilar beton (sokoguru) ditengah ruangan masjid. Sebuah mimbar kayu berukir dan sebuah beduk melengkapi masjid ini.
 
Sejarah Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone
 
Menurut penuturan bapak Abdul Rozak pengurus Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone, bahwa sejarah masjid ini dijelaskan didalam sebuah manuskrip berbahasa Makasar diseburkan bahwa pembangunnya adalah seorang pedagang dan ulama dari Minangkabau yang disebut masyarakat setempat sebagai Datu Mahkota atau Sultan Pagaruyung pada sekitar tahun 1012 Hijriah (sekitar tahun 1671-1672 Masehi).
 
Masjid Tua Baitul Maqdis Sanrobone tahun 2016 (akun google the viersi)

Pada saat pertama dibangun dengan luas 8 rafa x 8 rafa setara dengan 10x10 meter. Bangunan awalnya satu tiang, kemudian diubah menjadi empat tiang, dan ditahun 1900-an kembali dengan satu tiang dan kini kembali dengan empat tiang. Awalnya tiang masjid ini dari kayu ulin dengan atap dari daun lontar dan daun nipah.
 
Dijelaskan juga bahwa salah satu peninggalan dari era awal masjid ini adalah adanya sebuah sumur untuk menyediakan air bagi jemaah. Sumur tersebut masih digunakan hingga kini dan alhamdulillah airnya tak pernah kering mencukupi untuk kebutuhan jemaah.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Rujukan
 

Saturday, September 30, 2017

Masjid Agung Jeneponto, Sulawesi Selatan

Masjid Agung Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Jeneponto adalah salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Jeneponto Beribukota di Jeneponto. Secara geografis wilayah Kabupaten Jeneponto ini menghadap ke selat Flores di sebelah selatannya, disebelah utaranya berbatasan dengan kabupaten Gowa, di sisi barat berbatasan dengan kabupaten Takalar sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Bantaeng.

Sejak tahun 1976 kabupaten Jeneponto telah memiliki Masjid Agung yang cukup megah. beralamat di Jl. Lanto Dg Pasewang, Kelurahan Balang Toa, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi selatan.

Masjid Agung Jeneponto
Jl. Lanto Dg Pasewang, Kelurahan Balang Toa
Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto
Sulawesi selatan 92315



Masjid Agung Jeneponto ini dibangun di atas tanah wakaf seluas 3.455 meter persegi dan luas bangunan 1.200 meter persegi. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan menara tunggal yang mirip dengan mercusuar, sedangkan hampir seluruh bangunan masjid-nya di cat dengan warna putih.

Masjid Agung Jeneponto ini cukup megah ditambah lagi dengan halamannya yang cukup luas, nyaman untuk Jemaah yang datang ke masjid ini dengan kendaraan. bangunan masjid ini dibangun berlantai dua, ada tangga besar yang dibangun sebagai akses bagi Jemaah langsung ke lantai dua masjid.

Interior Masjid Agung Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Sebagai Masjid Agung Kabupaten, Masjid Agung Jeneponto ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di Kabupaten Jeneponto, termasuk sholat dua hari raya dan perayaan hari hari besar Islam tingkat kabupaten Jeneponto.

Dan sekali dalam setahun, masjid agung Jeneponto ini menjadi tempat pelepasan dan penyambutan Jemaah haji yang berasal dari kabupaten Jeneponto. Tak pelak setiap bulan haji, masjid ini dipadari oleh para pengantar dan penjemput Jemaah haji yang memadati masjid, meluber ke pekarangan bahkan hingga ke jalan raya.***
.
------------------------------------------------------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------------------
.
Referensi

Baca Juga



Sunday, August 20, 2017

Masjid Terapung Makasar

Masjid Amirul Mukminin Makasar di malam hari (foto dari ID oceanuslord @masjidinfo)

Masjid Terapung Makasar ini nama resminya adalah Masjid Amirul Mukminin, namun lebih populer disebut masjid terapung karena lokasinya yang berada di atas air di lepas pantai Losari Kota Makasar, Sulawesi Selatan. Masjid ini dibangun atas gagasan walikota makassar yang ingin memperkaya khasanah landmark Kota Makassar dan wisata religius di kota ini.
.
Masjid Amirul Mukminin dapat menampung sekitar 500-an Jemaah, berlantai tiga, ditopang oleh 164 tiang pancang dan mempunyai luas 1.683 meter persegi. Untuk lantai teras yang berada tepat di bawah kubah banyak digunakan warga untuk melakukan kegiatan rekreasi, semisal melihat sunset di Pantai Losari.

Masjid Amirul Mukminin
Jalan Penghibur No.289, Losari
Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90112


.
Nama dan Rancangan

Pada mulanya pada tahap rancangan masjid ini dinamai Masjid 99 Al Makazzary namun kemudian Masjid Amirul Mukminin lah yang kemudian disandangkan kepada masjid ini, meskipun kemudian masyarakat lebih menygenalnya sebagai masjid terapung makasar.
.
Rancangan awal masjid ini sempat menuai kontroversi dengan bentuk rancangan menara kembarnya yang menyerupai badik makasar, Namun kemudian rancangan tersebut di ubah dan realisasi pembangunannya menara masjidini memang tidak menyerupai Badik seperti yang banyak di kecam oleh para netizen.
.
Arstektur

Lantai paling atas masjid merupakan tempat khusus untuk para pengunjung yang ingin melaksanakan shalat sendiri yang lebih khusuk. Lantai kedua dari masjid dipergunakan khusus untuk jemaah wanita dan lantai bawahnya untuk shalat jemaah pria. Di lantai bawah itu juga terdapat tempat wudhu pria yang berada di sebelah kanan, sementara untuk para wanita berada di sebelah kiri masjid.

Masjid Amirul Mukminin Makasar di malam hari (foto dari dianmtaufik @masjidinfo)

Masjid "Amirul Mukminin" di Pantai Losari Makassar, dibangun pada masa walikota Ilham Arief Sirajuddin dan diresmikan oleh Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla pada tanggal 21 Desember 2012. Pak JK sendiri menyebut masjid ini sebagai Masjid Pantai karena lokasinya yang berada di pantai, bukan masjid terapung seperti kebanyakan orang menyebutnya.
.
Pak JK sendiri secara pribadi turut berkontribusi dalam pembangunan masjid ini dengan menyumbangkan dana sebesar dua koma satu milyar rupiah, selain dari beliau dana pembangunan masjid ini berasal dari swadaya masyarakat.
.
Penyebutan sebagai masjid terapung bagi masjid ini semata mata karena lokasinya pembangunannya yang berada di atas air meski dengan tiang tiang pancang, sehingga pada saat air pasang bangunan masjid ini tampak “seolah olah” terapung di permukaan air.
.
Bila anda penasaran untuk melihat masjid terapung sebenarnya, anda dapat berwisata ke pantai sari ringgung di provinsi Lampung, disana ada masjid yang benar benar terapung di tengah laut di teluk lampung karena memang dibangun diatas pelampung seperti bangunan rumah rumah rakit disekitarnya.
.
------------------------------------------------------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------------------
.
Referensi

Sunday, May 7, 2017

Masjid Agung Al-Munawwir Pinrang

Masjid Agung Al-Munawwir Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Masjid Agung Al-Munawwir adalah masjid agung yang berada di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid ini merupakan masjid utama di kabupaten tersebut, sesuai dengan fungsinya masjid ini berdiri di tengah tengah kota, bersebelahan dengan Komplek Kantor Bupati Pinrang, kantor DPRD Kabupaten Pinrang dan Monumen Lasinrang.

Lokasi masjid ini juga sangat strategis, di pertigaan ruas Jalan Jendral Sudirman dan ruas Jalan Bintang yang juga membentang hingga ke depan kantor Bupati Pinrang. Sehingga dapat dengan mudah di akses dari kedua ruas jalan utama tersebut. Masjid megah ini menjadi salah satu Ikon Kabupaten Pinrang.

Mesjid Agung Al Munawir
Jl. Jendral Sudirman, Macorawalie, Kec. Watang Sawitto
Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan 91212



Masjid ini dirintis dan dibangun oleh bapak Drs. H. Andi Nawir MP, Bupati Pinrang ke 13 yang menjabat selama dua periode dari tahun 1999-2009, dan nama masjid ini disebut Al-Munawwir juga mengabadikan nama belakang beliau. Sebelum masjid ini dibangun, aktivitas ke-Islaman di kabupaten Pinrang dipusatkan di Masjid Raya Pinrang.

Menariknya di masjid ini juga memiliki studio Radio Suara Bumi Lasinrang di gelombang 105,8 FM yang merupakan pemancar yang berfungsi sebagai mecusuar agenda pembangunan daerah kabupaten Pinrang yang memaparkan program program andalan yang saat ini direalisasikan oleh Bapak Bupati Pinrang, H. Andi Aslam Patonangi, SH,  M.Si, MH, sekaligus sebagai media hiburan, informasi dan edukasi dari cerminan budaya kearifan local yang dijabarkan ke pelosok pedesaan.

Salah satu acaranya adalah “dongeng anak sholeh” yang diasuh oleh bu guru Wahyuniar, S.Pd, M.Pd. acara tersebut memang ditujukan bagi pembentukan karakter anak anak balita melalui dongeng dan kisah kisah Islami yang disesuaikan bagi anak anak dan balita. Selain stasiun Radio Suara Bumi Lasinrang, Komplek Masjid Agung Al-Munawwir ini juga menjadi tempat berkantornya lembaga lembaga Islam kabupaten Pinrang.

Menara Tertinggi Masjid Agung Al-Munawwir di pelataran depan masjid juga menjadi menara pemancar Radio Suara Bumi Lasinrang.

Arsitektur Masjid Agung Al-Munawwir

Masjid Agung Al-Munawwir ini memiliki arsitektur yang menawan dengan memadukan arsitektur masjid modern dengan arsitektur Nusantara dan termpatan. Tidak ada kubah bundar di masjid ini. Atap utamanya menggunakan model atap limas yang lancip menjulang berdiri diatas platform struktur beton bersegi delapan, keseluruhan atap masjid ini pada dasarnya merupakan atap bersusun tiga seperti layaknya arsitektur masjid masjid Nusantara.

Empat buah menara mengapit empat penjuru masjid, kesemua menara tersebut dibangun serupa dan sebangun masing masing dilengkapi dengan balkoni sedikit mirip dengan balkoni di menara masjid Nabawi, sedangkan di ujungnya ditempatkan atap limas lancip sama seperti atap utama masjid. Selain empat menara tersebut, masjid ini juga dilengkapi dengan menara kelima yang paling tinggi dan sekaligus menjadi menara pemancar Radio Suara Bumi Lasinrang.

Ornamen di ujung atap masjid dan di ujung empat menara masjid ini cukup menarik dengan menempatkan tiga bentuk bundar seperi di gedung sate, baru kemudian di puncak tertingginya ditempatkan ornament bulan sabit. Uniknya, atap limas masjid dan atap limas di menaranya denahnya tidak dipasang lurus terhadap bangunan namun diputar 45 derajat.

Radio SBL dan salah satu menara masjid Agung Al-Munawwir diantara hijau pepohonan

Ruang dalam masjid ini terasa benar benar lega dengan ketiadaan tiang tiang ditengah ruangan utama. Ditambah lagi dengan sisi atasnya yang tidak diberi plafon memberikan kelegaan penuh di dalam masjid ini. Sebuah lampu gantung menjuntai di tengah tengah ruangan dari sisi bawah kubah limasnya.

Mihrab masjid ini cukup besar dengan latar belakang warna hitam, sementara mimbarnya tak kalah menarik, terbuat dari kayu dengan bentuk yang hampir serupa dengan ujung menara masjid ini. Tiang tiang besar penyanggah atap masjid ditempatkan di sisi luar area utama sekaligus menjadi penopang area mezanin (lantai dua) yang ditempatkan di sisi kiri dan kanan ruang utama.*** 

site visit & foto by Ridwan Muhmar, S.Ag (Pembina Wahana Studi Remus Pinrang)
also posted in bujanglanang

Friday, June 10, 2016

Masjid Agung Nurul Iman Kabupaten Barru

Kubah blendok berdenah segi empat menjadi vocal point bangunan masjid ini

Barru adalah nama salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Pangkep di bagian selatan, Soppeng dan Bone di Timur, Kota Pare-Pare di Bagian Utara, dan selat makassar di Bagian barat.  Kabupaten Barru berada di Jalan poros Makassar – Pare-Pare, dan jalan lintas trans Sulawesi. dari Kota Makassar, Jarak ke Barru sekitar 120 Km, bisa ditempuh sekitar 2-3 jam. Pusat pemerintahan Kabupaten Barru berada di Kota Barru, Kecamatan Barru.

Transportasi umum di Kota Barru dikenal dengan nama Pete’-Pete, nama lain dari Angkot (angkutan kota). Pete’-pete’ sendiri sebenarnya adalah bentuk penyebutan versi bugis dari kata PT yang merupakan singkatan dari Public Transportation. Singkatannya Bahasa Inggris, tapi kini terdengar seperti Bahasa bugis. Selaku ibukota kabupaten, Kota Barru adalah kota yang cukup nyaman bagi para pendatang masih sepi, kecil, hijau, rindang dan bersih, jauh dari ruwetnya lalu lintas,  polusi, dan kebisingan.


Masjid Agung Nurul Iman
Jl. Sultan Hasanuddin, Sumpang Binangae
Kec. Barru, Kabupaten Barru
Sulawesi Selatan - Indonesia

Di pusat kota Barru telah lama berdiri bangunan masjid Agung yang diberi nama Masjid Agung Nurul Iman. Masjid yang tidak terlalu besar seperti masjid masjid agung di kota kota besar. Bangunan masjid ini direnovasi total tahun 2013 yang lalu dengan rancangan minimalis modern, sementara disebelahnya sedang dibangun gedung Islamic Center kabupaten Barru. Alunan azan dari masjid ini mengalun ke seatero kota Barru tanpa gangguan bisingnya kendaraan.

Ruang sholat utama dan Mihrab Masjid Agung Nurul Iman, Barru

Masjid ini memiliki sedikit perbedaan dengan Masjid kebanyakan, bila biasanya tempat wudhu Masjid dibangun di luar,  tempat wudhu masjid ini berada di dalam Masjid.  Dari tempat wudhu, jemaah akan melewati ruangan besar di dalam Masjid sebelum masuk ke tempat sholat Utama. Tempat sholat utama, berada dalam ruangan yang berbeda lengkap dengan Mihrab dan mimbar. Untuk menuju ke ruang sholat utama harus melewati pintu menuju ke ruang sholat utama yang tidak begitu luas, tapi terlihat elegan dan mewah, Ruangan luas di luar ruang utama dipakai pada hari-hari besar, seperti sholat idul fitri, idul idha, dan sholat Jum’at.

Tak ada hiasan kaligrafi yang menghiasi dinding bagian dalam Masjid ini. Selain desain Minimalis, warna yang digunakan Di bagian dalam dan luar Masjid juga menggunakan warna warna natural di dominasi warna putih dengan sedikit warna hijau yang kurang menyala, warna putih di bagian plafondnya, begitupun dengan marmer yang digunakan di lantai dengan corak sederhana, sedangkan kubahnya juga dipoles dengan warna coklat. Bila dilihat dari luar, masjid ini seolah olah hanya satu lantai, tapi sebenarnya Masjid ini memiliki dua lantai, hanya saja lantai kedua itu tidak begitu luas.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Tuesday, May 3, 2016

Masjid Agung A.G. KH Abdul Rahman Ambo Dalle Kota Pare Pare

Tampak Menjulang karena memang dibangun diatas tanah yang berkontur lebih tinggi dari permukaan jalan, membuat masjid ini begitu tinggi dari jalan raya dan harus melalui sederetan anak tangga untuk masuk ke dalam masjid ini.
Kota Pare Pare merupakan salah satu Kota di Provinsi Sulawesi Selatan. Seperti kota dan kabupaten lainnya di provinsi Sulsel, Kota Pare Pare telah memiliki Masjid Agung dikenal dengan nama Masjid Agung Kota Pare Pare. Masjid Agung Kota Parepare diresmikan penggunaannya tanggal 11 Oktober 2013 oleh Walikota Parepare H.Sjamsu Alam. Masjid Agung disebut-disebut sebagai masjid terindah kedua di Sulsel setelah Al-Markaz Al –Islami, pembangunannya menelan anggaran Rp. 24 miliar. Anggaran ini bersumber dari APBD Kota Parepare.

Tahun 2015 Masjid Agung Parepare secara resmi berganti nama menjadi Masjid AG KH Abdul Rahman Ambo Dalle, sesuai dengan Surat Keputusan Wali Kota Parepare nomor 952 tahun 2015 tentang penetapan nama Masjid Agung AG. KH Abdul Rahman Ambo Dalle yang dibacakan pada Haul ke-19 wafatnya AG KH Ambo Dalle, di kompleks Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Lil Banat, Ujung Lare, Ahad 29 November 2015. Anre Gurutta (AG) K.H. Abd. Rahman Ambo Dalle adalah tokoh terkemuka di Pare Pare dan sekitarnya. semasa hidupnya beliau dikenal sebai seorang guru terkemuka. salah satu peninggalan beliau adalah Pondok Pesantren Darul Dakwah wal Irsyad (DDI) Lil Banat, Ujung Lare, yang masih berdiri hingga saat ini.

Lokasi dan alamat Masjid Agung Pare Pare

JL. Jendral Ahmad Yani km 2, Ujung Baru
Soreang, Kota Pare-Pare Provinsi Sulawesi Selatan


Masjid Agung Parepare dapat diakses dari dua jalan, yakni Jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan poros Parepare-Kabupaten Sidrap, dan Jalan PDAM yang berada tepat di belakang masjid. Masjid berlantai tiga ini dapat menampung sekitar 2000 jemaah sekaligud ditambah dengan area pelatarannya yang diperkirakan dapat menampung hingga 3000 jemaah.

Fasilitas Masjid Agung Pare Pare

Masjid Agung Pare Pare dilengkapi fasilitas aula serba guna di lantai dasar yang dapat menampung sekitar 500 orang, full AC dan diperuntukan untuk acara-acara berskala besar, seperti pernikahan dan acara penting lainnya di Kota Parepare. Masjid ini juga memiliki ruang underground yang diperuntukkan untuk tempat berkantor bagi organisasi-organisasi Islam di Parepare. Masih di area underground yang berdekatan dengan tangga masuk, disiapkan puluhan toilet laki-laki, dan tempat berwudhu sebanyak 40 buah di sisi kanan dan 40 buah di sisi kiri.

Setiap pengunjung yang datang ke masjid ini terlebih dahulu melewati area berwudhu sebelum mendaki puluhan anak tangga menuju bangunan utama masjid. Tempat berwudhu yang sangat representatif juga dapat ditemukan di bagian belakang masjid untuk jamaah yang masuk melalui akses jalan PDAM. Masjid ini menjadi landmark Kota Parepare dan diharapkan dapat menjadi salah satu daya tarik bagi warga luar daerah berkunjung ke Parepare. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Parepare, dapat menjadi alternatif lain pemerintah kota dan masyarakat Parepare dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan ke-Islaman bersakala besar yang selama ini lebih banyak dilaksanakan di Islamic Centre.

Empar menara di empat sudut bangunan ditambah satu menara terpisah dari bangunan utama.

Arsitektural Masjid Agung Pare Pare

Masjid Agung Pare Pare dilengkapi empat menara di empat sisi bangunannya, Luas bangunan utama 1,764 meter persegi (42 meter x 42 meter), terdiri dari tiga lantai. Sementara ruang underground 750 meter persegi (25 x 30). area parkir Masjid ini dapat menampung 30 mobil di areal parkir bawah, dan 40 mobil untuk areal parkir bagian atas. Rancangan masjid ini akan dilengkapi dengan Satu Menara lagi dengan tinggi hingga 60 meter terpisah dari bangunan masjid. Hanya saja Menara tersebut runtuh di bulan Oktober 2014 yang lalu dan hingga saat tulisan ini di posting, perbaikan menara tersebut masih berlangsung.

Secara arsitektur, Masjid Agung Parepare mengadopsi tiga konsep masjid besar di tanah air, yakni Masjid Agung Kota Surabaya, Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, dan Masjid Agung Kalimantan Timur. Untuk konsep menara dan ruang shalat utama, mengambil contoh Masjid Al Markaz Al-Islami Makassar. Sementara untuk kubah utama mengadopsi  Majid Agung Surabaya. Sedang untuk Masjid Kalimantan Timur yang diadopsi  adalah pemanfaatan landskap ruang.

Ornamen masjid dibuat khas ala timur tengah. Selain itu, di setiap sudut tiang tertuliskan lafaz Allah, Arrahman dan Arrahim. Sedangkan di  dalam lingkaran kubah masjid terdapat kaligrafi Asmaul Husna. Masjid ini dikerjakan PT Nindya Karya Divisi V Makassar selama tiga tahun, menghabiskan anggaran sebesar Rp. 24 miliar. Masjid Agung Pare Pare dibangun dengan memanfaatkan kontur tanah yang berada di atas ketinggian sekitar 13 meter dari jalan raya dan 70 meter dari atas permukaan laut.

------------ooo000ooo------------

Baca Juga 



Monday, April 25, 2016

Masjid Islamic Center Dato Tiro Bulukumba

Masjid Dato' Tiro dari arah laut

Bulukumba adalah salah satu Kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan. Sejak tahun 2014 kabupaten Bulukumba sudah memiliki Masjid Agung yang juga Islamic Center dengan nama Masjid Islamic Center Dato’ Tiro. Nama masjid ini diambil dari nama tokoh penyebar Islam di kawasan Bulukumba.

Bangunan masjid megah ini diresmikan oleh Bupati Bulukumba, H. Zainuddin Hasan pada malam tanggal 1 Ramadhan 1435 H (28 Juni 2014), acara peresmian yang dilangsungkanmalam hari tersebut dihadiri masayarakat muslim Bulukumba yang tumpah ruah memenuhi masjid sekaligus mengikuti pelaksanaan shalat tarawih pertama di masjid tersebut berkapasitas lima ribu jemaah tersebut.


Suasana masjid terasa adem dari lantai marmer yang dingin dengan hembusan angin segar dari jendela-jendela besar di sisi kiri kanan masjid. Pada saat diresmikan penggunaannya oleh Bupati Bulukumba, bangunan masjid ini belum rampung 100% pembangunan fisiknya termasuk pemasangan plafon yang belum selesai seluruhnya, pengecatan, pembangunan menara, pemasangan ornamen di dalam masjid, taman serta pembenahan lahan parkir kendaraan yang masih dalam tahap penyelesaian. Namun sudah layak untuk digunakan oleh muslim disana yang sudah menanti 10 tahun penyelesaian pembangunan masjid tersebut.

Kemegahan nya dari dekat
Hadirnya Masjid Islamic Center Dato Tiro yang beralamat di jalan Sultan Hasanuddin Bulukumba ini seketika menjadi ikon baru Bulukumba dan ramai menjadi pembicaraan sebagai salah satu bukti kota yang tengah giat membangun, mengalahkan ketenaran tempat-tempat wisata sebelumnya termasuk objek wisata pantai pasir putih Bira, pantai Samboang, wisata adat Kajang, pembuatan perahu pinisi Tana Beru, ataupun pusat perbelanjaan termegah di Bulukumba Mall Mega Zanur sekalipun.

Masjid Islamic Center Bulukumba menjadi pusat kegiatan keagaaman di Bulukumba, termasuk pendidikan Al Quran, dakwah islami, pengajian rutin, penyelenggaraan kegiatan Hari Raya Islam dan kegiatan-kegiatan keagaamaan lainnya.***


Monday, May 28, 2012

Masjid Terapung Makassar Pertama di Indonesia


Masjid 99 Al Makazzary, merupakan tempat wisata religi di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Dimana, masjid ini terapung di Pantai Losari yang banyak orang duduk santai di halaman sambil menikmati sunset.


Masjid 99 Al Makazzary merupakan masjid terapung pertama di Indonesia yang terletak di Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Masjid yang melambangkan Asmaul Husna baru didirikan dari dana sumbangan dermawan yang mampu menampung 500 jemaah. Masjid ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Makassar yang melambangkan makna keislaman, kebesaran dan kebanggaan.

Asmaul Husna melambangkan angka 99 dan Al Makazzary melambangkan salah seorang imam besar Masjidil Haram Syekh Yusuf. Dengan nama 99 Al Makazzary, masjid dengan biaya Rp 6 miliar bisa didirikan dan dana yang terkumpul hingga kini baru Rp 2 miliar. Keunikan Masjid 99 Al Makazzary berlantai 3 berdiameter 45 meter ini terletak di timur laut Pantai Losari yang berhadapan dengan rumah jabatan Wali Kota Makassar di Jl Penghibur, terlihat dari atas membentuk angka 99.

Terdapat dua kubah berdiameter 9 meter yang dibawahnya pengunjung dapat menggunakan tempat bersantai dan beristirahat dengan embusan angin pantai. Masyarakat bisa naik ke atas kubah yang melalui dua tangga samping yang mengelilingi masjid. Bangunan dengan memadukan konsep modern, kontemporer dan islami, Masjid 99 Al Makazzary terlihat indah berdiri di atas permukaan laut.

Makanya, meski pembangunan masih berlangsung, masyarakat banyak berdatangan melihat keindahan masjid sambil menunggu tenggelamnya matahari (sunset) dengan menikmati makan an khas Makassar, Pisang Epek yang kemudian menjalankan shalat magrib berjamaah.

Sumber : travel.kompas.com



------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga