Showing posts with label masjid di Bangka Belitung. Show all posts
Showing posts with label masjid di Bangka Belitung. Show all posts

Saturday, December 17, 2016

Masjid Al-Mukarrom, Masjid Jum’at Pertama di Pangkal Pinang

Dibangun tahun 1928, Masjid Al-Mukarrom Tuatunu, tempat penyelenggaraan sholat Jum'at pertama di kota Pangkal Pinang.

Masjid Al-Mukarrom merupakan salah satu masjid tertua di pulau Bangka terutama di kota Pangkal Pinang, berbagai sumber di dunia maya menyebut Masjid ini sebagai tempat pertama penyelenggaraan sholat Jum’at berjamaah di kota Pangkal Pinang, meski kabar tersebut belum dapat di validasi. namun keberadaan Masjid ini masih terawatt dan digunakan masyarakat muslim disana.

Didirikan tahun 1928, awalnya berada di tengah kampung tua atau kampung lama tuatunu, sekarang terletak persis di ujung kampung Tuatunu. belum ada informasi tambahan tentang lokasi masjid yang dimaksud, apakah terjadi pemindahan bangunan masjid dari lokasi lama ditengah kampung ke lokasinya saat ini atau karena jumlah penduduk yang bertambah ke satu sisi kampung saja sehingga membuat masjid ini kini seolah berada di ujung kampung.

Masjid Al Mukarrom
Jl. Tua Tunu Raya, Tua Tunu, Gerunggang
Kota Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung 33173



Secara umum, bangunan masjid Al-Mukarrom Tua Tunu ini terbagi menjadi dua bagian, yakni bangunan utama dan bangunan tambahan berupa pendopo terbuka dengan gaya bangunan yang lebih modern. Bangunan utama masjid berdenah persegi empat dinding tembok permanen dana tap bertingkat tiga. Satu kubah dari bahan metal berukuran kecil ditempatkan di ujung paling atas atap bangunan utama.

di bagian depan (timur) masjid terdapat Menara sederhana menggunakan kerangka besi tempat menempatkan pengeras suara. Disebelah Menara besi ini terdapat satu sumur tua lengkap dengan timba dan tiangnya. Sedangkan di sisi selatan masjid terdapat kulah atau bak penampungan air untuk berwudhu lengkap dengan gayungnya.***

(data di olah dari berbagai sumber)

Sunday, December 11, 2016

Masjid Agung Al Mabrur Tanjung Pandan

Berkubah hijau seperti kubah Masjid Nabawi

Masjid Agung Al-Mabrur adalah masjid agung Kabupaten Belitung yang berada di Kota Tanjung Pandan. Lokasi masjid ini berdiri merupakan pusat kota Tanjung Pandan, Ibukota Kabupaten Belitung, yang  juga merupakan lokasi yang memiliki keterkaitan sejarah yang sangat erat dengan berdirinya kota Tanjung Pandan.

Lokasi Masjid Agung Al-Mabrur berada di persimpangan Jalan Sudirman dan Jalan Sekolah berseberangan dengan Tugu Pendidikan (ditengarai dulunya merupakan semacam alun alun), SD negeri 9 Tanjung Pandan (dulunya merupakan Sekolah Rakjat – SR) yang merupakan salah satu sekolah tertua di Belitung. Salah satu ruas jalan di sebelah tugu pendidikan tersebut bernama Jl. Depati Rahat yang merupakan nama dari Depati Belitung.

Masjid Agung Al Mabrur  
Alamat: Jl. Sekolah, Tanjung Pandan
Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung 33411
Indonesia



Berawal dari Masjid Depati Saleh

Kawasan tempat Masjid Agung Al-mabrur ini berdiri adalah daerah yang dulu nya merupakan kawasan Huma (ladang yang luas) sehingga dikenal dengan nama Kampung Ume. Kampung tersebut pertama kali tahun 1854 dibuka oleh KA Mohammad Saleh sebagai Depati Depati Pulau Belitung dengan gelar Tjakraningrat IX (1854-1873).

Di tahun 1854 KA Mohammad Saleh memangku jabatan Depati menggantikan kakaknya, KA Rahat yang wafat di tahun tersebut, beliau yang kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Kampung Gunong (kini berada di sepanjang sisi selatan Jalan Merdeka Tanjung Pandan) ke Kampung Ume di ikuti oleh sebagian besar bangsawan Belitung, dan daerah itupun kemudian dikenal dengan Kampung Raje.

Berdiri di lokasi strategis di pertigaan jalan Sudirman, Sekolah dan Jl. Depati Rahad, pusat kota Tanjung Pandan

Di tempat ini, KA Mohammad Saleh membangun mesjid berbahan kayu, yang dikembangkan pada tahun 1868. Tahun 1870 dibangun kembali dengan bantuan pemerintah Kolonial Belanda, selesai tahun 1872. Mesjid Depati Saleh ini adalah cikal bakal masjid agung Al- Mabrur sekarang.

Meski letaknya terpaut cukup jauh dari komplek kantor butapi Belitung, sebagai masjid agung kabupaten masjid Agung Al-Mabrur ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di kabupaten Belitung, termasuk menjadi titik keberangkatan dan penyambutan Jemaah Haji dari Kabupaten Belitung. Calon / Jemaah Haji kabupaten Belitung akan berangkat dan kembali dari tanah suci melalui Embarkasi Haji Palembang, Sumatera Selatan.***

(data di olah dari berbagai sumber)

Saturday, June 11, 2016

Masjid Al-Ikhlas Sijuk Tertua di Belitung

MASJID KEMBAR dua bangunan bersebelahan dengan bentuk yang serupa menjadikan Masjid Al-Ikhlas di Desa Sijuk, pulau Belitung ini seperti bangunan kembar.

Masjid Al-Ikhlas di Desa Sijuk ini dibangun tahun 1817 dan merupakan masjid tertua yang masih ada dan masih asli di Pulau Belitung. Masjid pertama yang berdiri di Belitung konon dibangun di kaki gunung Parang Bulu di Membalong, namun tidak jelas benar kapan tahun berdirinya dan apakah masih ada sisa jejaknya. Masjid Al Ikhlas ini juga merupakan saksi sejarah perjuangan rakyat Belitung melawan Belanda, yang pada saat itu masjid ini menjadi pusat komando perjuangan rakyat Belitung.

Jl. Penghulu, Desa Sijuk, Kecamatan Sijuk 33451
Kabupaten Belitung, Propinsi Bangka Belitung


Masjid dengan arsitektur sederhana ini dikonservasi keasliannya hingga kini. Sebagian besar bangunannya menggunakan bahan kayu berdinding papan dengan cat warna coklat dengan atap limas berumpang dua. namun lantai masjid sudah diberi keramik lantai dan seluruh permukaan lantainya dipasang karpet sajadah. Mimbar kayu masjid yang kurus tinggi terkesan sangat sederhana, dan agak mistis, lantaran kain mori putih pucat yang menutup sisi kanan dan lantai mimbar, serta tiga buah bendera berbentuk segitiga yang juga berwarna putih menggantung di bagian depan. Sebuah tongkat putih yang biasa dipegang oleh khotib ketika berkhotbah tampak menyender pada sisi kiri mimbar.

Disebelah bangunan masjid terdapat bangunan aula pertemuan yang bentuknya hampir sama dengan bangunan masjid sehingga sekilas masjid Al-Ikhlas ini tampak seperti masjid kembar dua. Ukuran bangunannya tidak terlalu besar dengan denah bujur sangkar berukuran 8 x 8 meter. Mihrab masjid dibangun agak menjorok keluar dengan atap yang senada dengan atap bangunan utamanya, di bagian atas mihrabnya tertulis tanggal perbaikan masjid tersebut dalam aksara arab melayu “diperbaiki 1 Rajab 1370 Hijriyah”.

Di dalam Masjid Al-Ikhlas Sijuk

Sekitar 300 meter sebelah barat dari masjid kita akan melihat klenteng, menurut keterangan penjaga masjid dan klenteng dua tempat ibadah ini di bangun oleh orang Tionghoa pada tahun yang sama. Masjid adalah bangunan yang pertama selanjutnya baru Klenteng.
Dilihat dari bukti peninggalan sejarah kedua bangunan tersebut di atas digambarkan bahwa sejak dulu hingga sekarang ini kerukunan beragama di Belitung terjaga dengan baik, demikian juga keakraban antara penduduk Pribumi dan Tionghoa.

Keberadaan etnis Tionghoa di pulau Belitung ini sudah berlangsung sejak masa kesultanan Palembang. Di masa lalu wilayah Bangka dan Belitung merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Palembang. Sekitar tahun 1709, timah ditemukan di Pulau Bangka oleh orang-orang Johor. Setahun berikutnya tau tahun 1710 sumber-sumber Timah di Pulau Bangka dan Belitung dikelola oleh Kesultanan Palembang, untuk mengelola sumber Timah tersebut Sultan mendatangkan tenaga ahli pertambangan dari China.

Si timur Masjid Sijuk

Sejarah Islam di Sijuk
  
Pemerhati sejarah dan budaya Belitung Salim YAH menyampaikan teori yang lain tentang sejarah Islam di Belitung. Beliau mengatakan, pada abad ke-15 Sungai Sijuk diyakini menjadi pintu masuk rombongan panglima Ceng Ho. Sungai tersebut masih bisa dijumpai hingga kini. Jadi mungkin saja ada kaitan sejarah Islam di Sijuk dengan kedatangan Ceng Ho tersebut. Sungai Sijuk juga menyimpan panorama cantik pada bagian muaranya. Di sana terdapat pangkalan nelayan dan pantai pasir putih dengan hamparan batu granit. Tak jauh dari Sungai Sijuk juga terdapat Masjid Al-Ikhlas di Jalan Penghulu Desa Sijuk.

Menurut sumber yang lain, Islam masuk ke Belitung pada sekitar tahun 1520-an dengan datangnya seorang ulama asal Gresik bernama Datuk Mayang Gresik, menyusul keruntuhan Kerajaan Majapahit (1293 – 1500) yang digantikan oleh Kesultanan Demak (1475 – 1548). Datuk Mayang Gresik dikabarkan tinggal di Pelulusan, sekarang masuk Desa Nyuruk, Kecamatan Dendang, Belitung Timur.

Raja Majapahit, yang menguasai Belitung sejak 1293, mempercayakan kepemimpinan Belitung kepada panglima bergelar Rangga Yuda (Rangga Uda atau Ronggo Udo) dengan pusat pemerintahan di Badau. Belitung dibagi empat wilayah, yaitu Badau (Tanah Yuda / Singa Yuda, tempat raja), Buding (Istana Yuda, tempat pesanggrahan raja), Sijuk (Wangsa Yuda / Krama Yuda, tempat keluarga dan para abdi), dan Belantu (Sura Yuda, tempat suci atau keramat). Saat Datuk Mayang Gresik datang, yang berkuasa di Badau adalah Ronggo Udo yang ketiga.***