Showing posts with label masjid di nganjuk. Show all posts
Showing posts with label masjid di nganjuk. Show all posts

Saturday, July 1, 2017

Masjid Agung Baitussalam Nganjuk

Masjid Agung Baitussalam Nganjuk tempak megah dari arah gapura

Masjid Agung Baitussalam Nganjuk merupakan masjid terbesar di kabupaten Nganjuk, sesuai dengan fungsinya masjid Agung Baitussalam dibangun dipusat pemerintahan kabupaten, lokasinya berdiri berada di sisi barat alun alun Nganjuk, berseberangan dengan Pendopo Kabupaten Nganjuk yang berada di sisi sebelah timur alun alun.

Uniknya, Masjid Agung Baitussalam kabupaten Nganjuk ini lokasinya bersebelahan dengan Rumah Tahanan Negara (Rutan) atau Penjara yang berada disebelah utara bangunan Masjid Agung. sehingga dari sudut tertentu anda dapat melihat menara dan atap masjid ini bersebelahan dengan menara pengawas penjara yang bentuknya senada.

Masjid Agung Baitussalam Kabupaten Nganjuk
Jl. Supriyadi, Kauman, Kec. Nganjuk
Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur 64411



Masjid Agung Baitussalam Nganjuk dibangun dua lantai dengan tetap mempertahankan langgam bangunan masjid Tradisional Khas Indonesia dengan atap limas atau atap tumpangnya yang bersusun tiga pada atap utama bangunan masjid. meski demikian di dalam masjid ini sudah tidak ditemui empat sokoguru melainkan ada berjejer soko dari beton segi empat penopang struktur atap dan lantai dua bangunan. Bangunan masjid ini juga dilengkapi dengan satu menara yang terpisah dari bangunan utama.

Di bagian dalam bangunan dirancang minimalis, sepi dari berbagai macam ornamen dan hiasan. Fitur yang paling menarik perhatian mata di dalam ruangan masjid ini adalah Mimbar kayunya yang tampak sudah cukup tua serta bagian mihrabnya yang menggunakan ukiran gobyok kayu jati yang tampak begitu indah.

Sekilas tentang Kabupaten Nganjuk

Kabupaten Nganjuk adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Jombang di timur, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kabupaten Madiun di barat. Pada zaman Kerajaan Medang, Nganjuk dikenal dengan nama Anjuk Ladang yaitu Tanah kemenangan. Nganjuk juga dikenal dengan julukan Kota Angin,

Mihrab dan Mimbar Masjid Agung Baitussalam Nganjuk

Berdasarkan peta Jawa Tengah dan Jawa Timur pada permulaan tahun 1811 yang terdapat dalam buku tulisan Peter Carey yang berjudul : ”Orang Jawa dan masyarakat Cina (1755-1825)”, penerbit Pustaka Azet, Jakarta, 1986; diperoleh gambaran yang agak jelas tentang daerah Nganjuk. Apabila dicermati peta tersebut ternyata daerah Nganjuk terbagi dalam 4 daerah yaitu Berbek, Godean, Nganjuk dan Kertosono merupakan daerah yang dikuasai Belanda dan kasultanan Yogyakarta, sedangkan daerah Nganjuk merupakan mancanegara kasunanan Surakarta.

Sejak adanya Perjanjian Sepreh 1830, atau tepatnya tanggal 4 Juli 1830, maka semua kabupaten di Nganjuk (Berbek, Kertosono dan Nganjuk ) tunduk dibawah kekuasaan dan pengawasan Nederlandsch Gouverment. Alur sejarah Kabupaten Nganjuk adalah berangkat dari keberadaan kabupaten Berbek dibawah kepemimpinan Raden Toemenggoeng Sosrokoesoemo 1. Di mana tahun 1880 adalah tahun suatu kejadian yang diperingati yaitu mulainya kedudukan ibukota Kabupaten Berbek pindah ke Kabupaten Nganjuk.

Dalam Statsblad van Nederlansch Indie No.107, dikeluarkan tanggal 4 Juni 1885, memuat SK Gubernur Jendral dari Nederlandsch Indie tanggal 30 Mei 1885 No 4/C tentang batas-batas Ibukota Toeloeng Ahoeng, Trenggalek, Ngandjoek dan Kertosono, antara lain disebutkan: III tot hoafdplaats Ngandjoek, afdeling Berbek, de navalgende Wijken en kampongs : de Chineeshe Wijk de kampong Mangoendikaran de kampong Pajaman de kampong Kaoeman. Dengan ditetapkannya Kota Nganjuk yang meliputi kampung dan desa tersebut di atas menjadi ibukota Kabupaten Nganjuk, maka secara resmi pusat pemerintahan Kabupaten Berbek berkedudukan di Nganjuk.***

Sunday, June 18, 2017

Masjid Al-Mubarok Berbek, Tertua di Kabupaten Nganjuk


Bangunan baru masjid Al-Mubarok di sisi depan menutupi seluruh nya bangunan asli yang berada dibelakangnya.


Masjid Al-Mubarok adalah saah satu masjid tertua dan bersejarah di kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Masjid ini juga biasa disebut dengan Masjid Yoni Al-Mubarok karena adanya Yoni Kuno di halaman masjid ini yang kemudian diubah suai menjadi sebuah jam matahari sebagai penunjuk waktu sholat. Selain itu masjid ini juga seringkali disebut sebagai masjid kanjeng Jimat merujuk kepada nama pembangunnya.

Masjid bersejarah ini terletak di Desa Ngrawen kecamatan Berbek, ±8km arah selatan kota Nganjuk. Kecamatan Berbek sendiri merupakan ibukota kabupaten Nganjuk, di kecamatan ini pula sejarah kabupaten Nganjuk bermula sebagai sebuah Kadipaten Berbek dibawah pemerintahan seorang adipati.

Masjid Al-Bubarik Berbek
no, Jl. Mayjen Supeno No.76, Ngrawan
Berbek, Kabupaten Nganjuk
Jawa Timur 64471


Masjid Al-Mubarok pertama kali didirikan tahun 1745 oleh Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sosro Koesoemo atau Kanjeng Jimat, Adipati Berbek pertama yang ditunjuk oleh Kraton Yogyakarta. Beliau berkuasa di daerah ini pada saat hampir seluruh penduduk nya masih memeluk agama Hindu dari era kekuasaan majapahit di kaki gunung Wilis.

Bukan mudah bagi beliau untuk berdakwah di daerah kekuasaannya tersebut, Penduduk lereng gunung Wilis yang sangat mempercayai agama peninggalan raja-raja terdahulu masih asing dengan Islam. Mereka lebih percaya kepada ajaran Hindu. Namun upaya sang adipati pada ahirnya membuahkan hasil hampir seluruh rakyat akhirnya memeluk agama baru itu.

Pada tahun 1745, Kanjeng Jimat mewakafkan sebidang tanah pekarangan miliknya yang dulu menjadi tempat peribadatan para pendahulunya di Desa Kacangan untuk didirikan sebuah Masjid yang kemudian diberi nama Masjid Al-Mubarok yang merupakan masjid pertama yang dibangun di wilayah kadipaten Berbek (kini menjadi Kabupaten Nganjuk).

Ruang mihrab dan mimbat tua di masjid Al-Mubarok Nganjuk

Sedangkan untuk rakyatnya yang tetap bersikukuh pada keyakinannya memeluk Hindu, Sang Adipati membuka lahan di lereng gunung Wilis sebelah sisi timur untuk memberikan hak hidup dan menjalankan ibadah bagi penduduk Hindu itu, tempat itu kini dikenal sebagai Dusun Curik, Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk.

Masjid pertama di Kadipaten Berbek (cikal bakal Kabupaten Nganjuk) itu hingga kini masih menyimpan peninggalan bersejarah di kompleksnya. Berupa batu Yoni, batu Asah dan Lingga. Menunjukkan bahwa dulunya adalah tempat ibadah agama para pendahulu Sang Adipati.

Arsitektur Masjid Al-Mubarok

Beberapa ornamen bersejarah di masjid ini diantaranya adalah Mimbar dari kayu jati berukir dibuat tahun 1758, bedug tahun 1759, atap masjid dari ijuk tahun 1760 yang pada akhirnya diganti sirap. Di halaman depan terdapat yoni yang sekarang difungsikan sebagai tempat untuk melihat dan menentukan waktu sholat. Di area masjid terdapat kompleks makam kuno Kanjeng Jimat yang selalu ramai dikunjungi peziarah utamanya malam jumat legi.

Dari sisi belakang tampak bangunan masjid nya yang masih beratap tumpang bersusun tiga.


Pada sisi kiri dan kanan Mihrab, terdapat Condro Kolo (tulisan yang menunjukkan watak bilangan) berbunyi "Adege Mesjid ing Toya Mirah" dengan Sengkalan "Toto Caturing Pandito Hamadangi" yang berarti Berdirinya Masjid di Tanah Ini 1745 H.

Ada cerita unik tentang Masjid yang didirikan Kanjeng Jimat Sosrokoesoemo ini. Pernah suatu ketika bedug yang ada di Masjid Al-Mubarok dipindahkan ke Masjid Jami' Nganjuk (Masjid Baitussalam). Namun keesokan harinya, bedug yang sudah ada sejak abad 17 itu kembali dengan sendirinya di Masjid Al-Mubarok. Wallahualam Bishawab.

Seperti halnya tempat-tempat religi bersejarah yang lain, Masjid Al-Mubarok sekarang selalu diserbu para jamaah, baik dari Nganjuk sendiri maupun dari luar kota. Mereka berbondong-bondong berziarah ke makam Kanjeng Jimat yang ada di komplek Masjid, lalu berdzikir dan berdo'a di Masjid.

Beduk di masjid Al-Mubarok Berbek
Nyoni yang kini menjadi jam matahari
Gapura makam Kanjeng Jimat

Referensi